[OS] Love in Logical Way

Cover LiLW

Author : misskangen ‖ Length : One Shot ‖ Genre : Romance, Hurt ‖ Rating : General ‖ Main cast : Im Yoona ‖ Support cast : Choi Siwon, Kim Taeyeon, Lee Jonghyun ‖ Disclaimer : This story is mine instead of the plot and characteristics, but the casts are belongs to themselves and god.

 

Annyeong semua readers tercinta…

Aku datang menghadap para readers dengan FF yang diharapkan kehadirannya sebab ini adalah sekuel dari Doubting Heart. Setelah membaca komentar readers yang pada minta dibuat sekuelnya jadi aku harus berpikir keras untuk mencari ide ceritanya hingga harus mengabaikan hutang-hutang FF ku yang lain untuk sementara…

Selamat membaca dan semoga readers menyukai ceritanya….

 

LOVE IN LOGICAL WAY

 

“kau baik-baik saja, Yoong?” satu tepukan di bahunya membuat Yoona tersadar dari lamunannya. Ia menoleh pada seorang gadis yang sudah mengambil posisi duduk di sebelahnya. Yoona menghela napas berat, lalu menggeleng pelan. “mana mungkin aku baik-baik saja. Aku baru saja memutuskan hubungan dengan tunanganku. Kau pikir bagaimana kondisiku sekarang, Eonni?”

 

Taeyeon mengangguk-angguk mengerti, gadis itu spontan mengacak rambut Yoona pelan, “Aku yakin kau bisa melewatinya. Kau kan sudah pertimbangkan hal ini masak-masak, jadi aku rasa kau sudah seharusnya siap dengan situasi seperti ini. Apa kau sudah berbicara dengan kakek soal pembatalan pertunanganmu?”

 

Yoona kembali menggelengkan kepalanya, “aku belum siap disidang kakek. Aku masih menunggu waktu yang tepat dan saat aku benar-benar siap untuk mengungkapkannya pada kakek.” Jawab Yoona lemah. Taeyeon mengerti dengan kondisi psikologis sepupunya itu saat ini. Yoona jelas sedang patah hati, tapi justru kondisi ini lebih baik dari pada status cinta sebelah pihaknya.

 

“Apa Siwon menghubungimu setelah kejadian kemarin kau memutuskannya?” tanya Taeyeon pelan-pelan, takut Yoona bereaksi berlebihan. “Ne, dia beberapa kali menghubungiku tapi aku tak pernah mengangkat telepon darinya. Yang aku tahu ia ingin bertemu denganku lewat pesan singkat yang dikirimnya.”

 

“Lalu kau tidak pergi menemuinya?” Yoona menatap Taeyeon dalam, sambil berpikir dengan keputusannya. “Tidak, aku tidak mau bertemu dengannya.”

“Kenapa seperti itu?” Taeyeon mengerutkan dahinya.

“Kau tahu dengan jelas bahwa aku masih mencintainya, Eonni. Aku tidak ingin pertemuanku dengannya hanya akan membuatku ragu dengan keputusanku dan pada akhirnya akan membuatku merasa sakit lagi.” Taeyeon menganggukkan kepalanya, mengerti dengan maksud Yoona.

 

“Hei, YoonTae!!” teriak seorang pemuda yang berlari menuju ke arah Yoona dan Taeyeon. Pemuda itu berhenti tepat di depan mereka, tersenyum lebar sambil mengacungkan sebelah tangan. “Akhirnya aku menemukan kalian disini. Sedari tadi aku mencari di sekitar perpustakaan dan kantin, ternyata kalian malah bersantai di taman kampus.”

 

“Ada apa kau mencari kami, ah.. aku yakin kau hanya mencari Yoona, bukannya mencariku. Benarkan, Jonghyun-ssi??” pertanyaan Taeyeon hanya dijawab cengiran oleh Jonghyun. “Baiklah, aku mengerti. Kalau begitu aku pulang duluan Yoona-yah. Selamat bersenang-senang.” Taeyeon bangkit dan segera meninggalkan kedua orang itu. “Yak, Eonni. Kenapa tidak pulang bersama saja??!!” teriakan Yoona tidak ditanggapi oleh Taeyeon yang sudah menjauh dari posisi Yoona sekarang.

 

“Hei Yoona, apa kau sudah makan siang? Aku belum makan sama sekali sejak pagi, ayo temani aku makan di kantin kampus…” ajak Jonghyun sambil menarik tangan Yoona, sementara gadis itu tak mampu menolak dan mau tidak mau menerima tawaran pemuda itu.

 

“Aku perhatikan belakangan ini kau sering melamun dan wajahmu terlihat murung. Apa kau ada masalah?” tanya Jonghyun setelah menyelesaikan makannya. Yoona sedari tadi hanya menontonnya makan tanpa berniat memesan makanan juga. “Benarkah begitu? Aku baik-baik saja…” jawab Yoona tak yakin.

 

“Yaahhh.. kau tidak perlu membodohiku. Kita berteman sudah lebih dari dua tahun, aku cukup mengenalmu ketika kau sedang mengalami sesuatu yang tak menyenangkan, Nona Rusa. Apa ada hubungannya dengan tunanganmu? Bukankah ia sudah kembali dari Jerman, seharusnya kan kau merasa senang bisa sering bertemu dengannya lagi.” Gerutuan Jonghyun membuat Yoona menatapnya dalam. Jonghyun yang mendapati tatapan tak biasa itu mengerutkan keningnya.

 

“Kenapa bisa seperti ini, Lee Jonghyun? Kenapa kita yang baru mulai berteman dua tahun yang lalu, justru kau lebih mengerti aku. Bahkan kau bisa tahu keadaanku hanya dengan melihat ekspresi wajahku? Sementara dia yang sudah lama kukenal, tak sedikitpun memahami diriku?” Jonghyun terpaku dengan pertanyaan Yoona, kini gantian dia yang menatap Yoona.

 

“Apa yang kau maksud ‘dia’ adalah tunanganmu?” Yoona mengangguk mantap. “Kalau soal itu, aku juga tidak tahu jawabannya. Yang aku tahu hanyalah aku mengenalmu seperti aku mengenal diriku sendiri. Mungkin dua tahun adalah waktu yang singkat, tapi selama itu pula sudah cukup bagiku untuk memahami dirimu,” jawab Jonghyun dengan mudahnya.

 

“Kenapa bisa seperti itu? Bagaimana mungkin secepat itu kau merasa bahwa diriku seperti dirimu, Jonghyun-ssi?” Jonghyun terlihat susah payah menelan salivanya, pria itu terkesan menyesali perkataannya tadi.

 

“Oh, soal itu… aku mmm… sejujurnya aku punya perasaan khusus padamu. Aku menyukaimu Yoona-ssi. Tapi aku tahu kau sudah mempunyai tunangan yang sangat kau cintai, jadi aku tak ingin mengganggu hubunganmu dengan tunanganmu. Lupakan saja soal ini, aku mengerti kalau ini suatu kesalahan, aku berharap kau tetap mau berteman denganku tanpa harus memikirkan tentang perasaanku..” pengakuan Jonghyun membuat Yoona terdiam. Ia tak menyangka bahwa pria yang telah menjadi teman baiknya selama dua tahun ini memiliki perasaan padanya.

 

“Maafkan aku karena menjadi begitu tidak peka, Jonghyun-ssi. Seandainya dia bisa sepertimu yang memahamiku dengan baik, aku pasti akan merasa bahagia bersamanya.” Yoona berbicara sambil menunduk, memainkan sedotan minumannya yang sudah habis.

“Apa itu artinya aku masih punya kesempatan?”

“Mwo??”

“Ah tidak.. aku hanya meracau, tolong jangan hiraukan perkataanku barusan..”

 

~~**~~

 

“Aku rasa Jonghyun menyukaimu, Yoong.” Taeyeon berbicara sambil membolak-balik majalah fashion di kamar Yoona. “Jika seperti itu kau harusnya memandang positif hal ini sebagai kesempatan yang bagus…”

“Kesempatan apa, Eonni?”

“Tentu saja kesempatan untuk membuka hati kepada pria lain. Sudah cukup selama ini kau hanya berotasi pada seorang Choi Siwon. Sekarang hubunganmu sudah berakhir dengannya, itu artinya kau bebas melakukan apa saja dengan siapa saja.”

“Kau benar soal itu, Eonni. Tapi aku justru tak ingin menyakiti Jonghyun bila dia hanya kujadikan sebagai pelarian saja. Jonghyun itu pria yang sangat baik, tidak mungkin aku sengaja mempermainkannya hanya untuk kesenanganku.” Sahut Yoona seraya menyisir rambutnya di depan cermin, tapi matanya tampak tidak fokus pada hal yang sedang dilakukannya.

 

“Tapi tidak ada salahnya mencoba, Yoong. Aku yakin Jonghyun tidak akan keberatan…” kata-kata Taeyeon diinterupsi oleh ketukan di pintu kamar Yoona. “Masuklah,” perintah Yoona pada si pengetuk pintu.

“Agassi, tuan muda Choi datang dan menunggu anda di bawah. Dia bilang ada hal penting yang harus dibicarakan dengan anda,” terang asisten rumah tangga Yoona.

“Temuilah dia, Yoong. Dia sengaja datang kesini untuk menemuimu. Aku rasa ini saatnya kau memperjelas statusmu dengannya,” Taeyeon bangkit dari posisi berbaringnya dan mendorong Yoona sampai ke pintu.

“Tapi aku tidak siap, Eonni…” keluhan Yoona hanya ditanggapi Taeyeon dengan tatapan mengancamnya.

 

Yoona memaksakan diri menemui Siwon di ruang tamu. Pria itu masih dengan penampilannya yang modis ala eksekutif muda, berdiri memunggungi Yoona. Kepercayaan diri seolah tidak berpihak pada Yoona, dia berjalan ragu untuk mendekati Siwon. “Ada apa kau mencariku, Oppa? Bukankah semua sudah berakhir, tidak ada hal yang perlu dibicarakan lagi.”

 

Siwon memutar tubuhnya menghadap kepada Yoona. Ekspresinya tegang dan sikap pria itu tetap terlihat begitu dingin. “Ini belum berakhir, Yoona-yah. Tidak semudah itu kau memutuskannya, karena kau belum mendapat persetujuanku.”

Yoona menyeringai, tentu saja ia tidak lupa bahwa Choi Siwon adalah pria paling konsisten dengan keputusan maupun perjanjian layaknya bisnis yang dijalaninya. “terserah kau menganggapnya seperti apa, tapi bagiku semua sudah berakhir sejak aku melepaskan cincin sialan itu,” sejenak pandangan Yoona mengarah pada tangan kiri Siwon, ia dengan jelas melihat cincin pertunangannya masih melingkar di jari pria itu.

 

“Karena itu aku datang kesini, aku ingin mengembalikan cincin yang kau sebut ‘sialan’ itu kepada pemilik sahnya. Aku tidak bisa melepasmu begitu saja, Yoona-yah. Ada banyak hal yang membuatku harus mempertahankan semua ini. Kau harusnya mendengarkan aku dulu, bukannya langsung membuat keputusan begitu saja. Kalau kau mengenalku tentu kau akan paham dengan situasi yang kualami Yoona-yah.”

 

“Ya, kau benar. Justru karena aku tak lagi mengenalmu hingga aku memutuskan untuk menjauhimu. Kau adalah pria paling egois dan paling dingin yang pernah kutemui. Kau memang menyentuhku tapi aku tak pernah merasakan kehangatan oleh sentuhanmu. Kau memang memandangku tapi aku tak pernah merasakan ada perhatian dalam tatapanmu. Semua hanya kepura-puraan, semua palsu. Semua itu sudah cukup bagiku untuk berhenti berharap pada pria sepertimu,” umpat Yoona dengan penuh emosi.

 

“Jadi itu penilaianmu terhadapku selama ini, Yoona-yah? Aku sadar bahwa aku sudah kehilangan Yoona yang selalu tersenyum tulus untukku. Aku kehilangan Yoona yang selalu memenuhi hariku dengan segala ocehannya. Dan aku juga kehilangan Yoona yang selalu menyatakan cinta padaku…”

“Aku memang bukan lagi Yoona yang kau sebut itu. Dan kata cinta itu tak lagi pantas untukmu. Cintaku hanya terbuang sia-sia, aku hanya melakukan tindakan bodoh dengan mencintai pria sepertimu yang tidak pernah menyadari pengorbananku. Yang ku tahu kau hanyalah pria yang peduli pada diri dan dunianya sendiri, tidak lebih dari itu!”

 

Siwon berjalan mendekati Yoona, mengeliminasi jarak antara mereka. Tiba-tiba saja tatapan Siwon berubah, matanya memperlihatkan kekecewaan dan ada rasa sakit disana. Jantung Yoona terasa berdesir ketika matanya tertumbuk pada tatapan pria itu.

 

“Apakah kau akan percaya kalau aku mengatakan aku mencintaimu, Yoona-yah? Apakah kau akan menerima kata-kata cintaku begitu mudahnya jika aku mengumbarnya saat ini, Yoona-yah?” Tatapan Yoona mengeras, ia mencoba menghalau perasaan bahagia dan datangnya harapan yang merayap dalam hatinya.

 

“Ch, tentu saja tidak. Karena hal itu tidak akan pernah terjadi. Kau bukan tipe orang seperti itu, Choi Siwon-ssi.” Nada suara Yoona terdengar begitu galak. Siwon mengulurkan tangannya, memegang kedua bahu Yoona. Siwon masih menatap Yoona jauh ke dalam manik matanya.

 

“Kau terdengar jelas sangat mengenal karakterku, Im Yoon Ah. Aku tahu kau terluka karena sikapku, dan aku sama sekali tak pernah berusaha untuk memperbaikinya. Aku menyadari hal itu. Setidaknya, kau harus memberiku kesempatan dan waktu agar kau melihat bahwa aku tidak sepenuhnya seperti apa yang kau bayangkan.” Rayu Siwon pada Yoona.

 

“Tidak… sudah cukup aku tertekan karena perasaanku sendiri terhadapmu, Oppa. Aku tidak ingin lagi jatuh ke lubang penderitaan itu. Aku lelah dan aku ingin istirahat, sebaiknya Oppa pulang saja.” Yoona menepis kedua tangan Siwon dari bahunya dan pergi meninggalkan Siwon menuju kamarnya tanpa sedikitpun menoleh lagi kepada pria itu. Yoona kembali menangis di kamarnya, dan Taeyeon tidak bisa berbuat banyak untuk menghiburnya.

 

~~**~~

 

Yoona POV

 

Hatiku masih terasa sakit dengan situasi ini. Meskipun kejadiannya sudah dua hari yang lalu tetapi rasa sesak di dalam dadaku belum juga sirna. Siwon Oppa kembali membuatku jatuh tersungkur dengan kehadirannya yang begitu lantang berkata-kata seolah memberiku satu harapan bahwa ada celah di hatinya untukku. Aku berusaha sekeras mungkin untuk menyangkal semua itu. Aku tak ingin lagi hidup di atas harapan palsu, aku ingin hidup dalam realita.

 

Aku mencoba ikuti saran Taeyeon Eonni untuk mulai membuka hati. Memang tidak ada salahnya bila aku mendekati Jonghyun. Selama ini aku merasa cukup nyaman bersamanya. Aku sedikit merasa menjadi orang jahat karena aku menjadikan Jonghyun sebagai pelarianku. Tapi aku akan mencoba memberi pengertian kepada Jonghyun bahwa ini semata usahaku untuk melupakan Siwon.

 

“Jadi kau benar sudah putus dengan tunanganmu?” tanya Jonghyun ragu ketika kami berada di tepi sungai Han setelah seharian menghabiskan waktu bersama. Aku sengaja mengatur acara kencan dengan Jonghyun. Ini kali pertama aku berkencan dengan pria lain setelah aku melepas status ku sebagai tunangan Choi Siwon.

 

“Aku harap juga begitu,” jawabku tak yakin. Aku mendengarnya menghela napas panjang. Sulit sekali bagiku untuk memandangnya dalam situasi kikuk seperti ini.

“Apa itu artinya kau sedang berselingkuh denganku?” aku mengangkat kepalaku, menoleh padanya dan menatapnya sambil menyipitkan mata.

“Enak saja kau menuduhku berselingkuh. Kau kan tahu semua ini kulakukan untuk membunuh perasaanku padanya.”

 

“Lantas kau memilihku sebagai mangsa pelarianmu, begitu?” leherku tercekat tak mampu menjawab pertanyaannya. “hahaha… kau tak perlu takut hingga wajahmu sepucat mayat begitu. Aku rasa ini bukan ide buruk, Im Yoon Ah!!” Jonghyun memperlihatkan cengiran khasnya, tapi tetap saja aku merasa tak enak dengannya.

 

“Mianhae, Jonghyun-ssi. Aku merasa menjadi tokoh antagonis yang sangat jahat karena sudah memperalatmu seperti ini. Jeongmal mianhae…” aku kembali menundukkan kepalaku, aku memang merasa sangat bersalah padanya. Aku merasakan satu tangan Jonghyun di kepalaku, membelai lembut rambutku. Kudongakkan kepalaku, memberanikan diri melihat wajahnya. Pria itu tersenyum, senyuman tulus yang membuatku merasa nyaman.

 

“kau tidak perlu merasa bersalah sebesar itu, Yoona-ssi. Aku paham dengan kondisimu saat ini, aku tidak keberatan. Anggap saja kau memberiku kesempatan untuk mendekatkan diri padamu, sambil berharap suatu saat kau akan memandangku sebagai seseorang yang berarti untukmu.” Aku tersenyum mendengar ungkapan hati Jonghyun. Aku bahkan membiarkan Jonghyun menyentus pipiku, mengelusnya berulang-ulang seolah ia adalah kekasihku yang berhak melakukan hal seintim itu.

 

“Walau aku tak mengenalnya, tapi aku berani menilai bahwa pria itu sangat bodoh. Dia sudah melakukan kesalahan besar dengan menyakiti perasaanmu sejauh ini. Gadis sebaik dirimu tidak seharusnya diperlakukan seperti itu, dia seharusnya…”

 

“Seharusnya seperti apa? Membelai rambut dan wajahnya dengan begitu mesra?” tiba-tiba suara seseorang memotong kalimat Jonghyun. Kami berdua sontak menoleh ke arah suara itu dan aku hampir mati terkejut karena mendapati Siwon Oppa berdiri tak jauh dari kami. Dengan sedikit ketergesaan dia berjalan mendekati kami. Dia menarik tanganku dengan kasar untuk menjauhkanku dari Jonghyun. Tubuhnya yang tinggi menjulang menutupi pandanganku dari Jonghyun.

 

“Kau tidak sepantasnya menyentuh tunangan orang seenak hatimu!” aku membelalakkan mataku mendengar kalimat sarkasme Siwon pada Jonghyun.

“Tunangan? Bukankah kalian sudah berakhir? Kau tidak lagi punya hak untuk mengaturnya, tuan muda!” Aduh… tak kusangka Jonghyun membalasnya dengan nada skeptis.

“Kau salah besar kalau menganggap kau memiliki kesempatan untuk mendapatkan gadis ini. Sejak awal ia milikku, maka sampai kapanpun akan tetap menjadi milikku. Aku tidak akan membiarkan siapapun mencoba merebutnya dariku. Jadi sebaiknya kau berhenti berharap dan menjauh dari tunanganku!” ancaman Siwon membuatku merinding. Ini pertama kalinya aku melihatnya bersikap kasar dan protektif.

 

“Benarkah begitu? Aku rasa orang yang kau sebut ‘tunanganmu’ itu tidak sependapat denganmu. Kau sudah dianggap sebagai pria dingin yang tak berperasaan olehnya. Harusnya kau menyadari hal itu. Yoona memang tidak pantas untukmu, dia terlalu berharga untuk kau jadikan pajangan semata…”

Bukkk!!! Satu tinju Siwon melayang ke wajah Jonghyun dan membuat pria itu terhuyung ke belakang. “Oppa, apa yang kau lakukan, eoh??!!!” teriakku sambil berusaha menolong Jonghyun. Namun usahaku sia-sia saat Siwon menarik kasar tanganku hingga aku sama sekali tak dapat meraih tubuh Jonghyun.

“Mulai sekarang berhenti mencampuri urusanku. Kau urus saja dirimu sendiri atau kau akan menyesal karena sudah berani berurusan denganku!!” emosi begitu jelas tergambar dari suaranya saat ia kembali mengancam Jonghyun. Bahkan tatapan matanya begitu keras dan sangar.

 

“Yak, lepaskan tanganku. Kau sudah menyakitiku, Oppa. Lepaskan aku… aku tak mau ikut denganmu!!” teriakku ketika ia menarikku secara paksa masuk ke dalam mobilnya yang terparkir tak jauh dari lokasi kami berdiri. Namun ia sedikitpun tak bergeming dengan keluhanku. Mau tidak mau aku ikut dengannya, duduk di jok mobil bagian belakang. Ia memang sering membawa sopir pribadi sehingga ia dengan mudah menahanku di sampingnya. Aku mencoba melepaskan tanganku yang mulai terasa perih dan aku yakin kini warnanya sudah memerah karena cengkeraman tangannya yang kekar.

“aku harap kau bisa tenang bila kau ingin aku mengendorkan cengkeraman tanganku ini. Tapi jangan harap aku akan melepaskannya!” hardiknya padaku yang mencoba berbagai cara untuk lari darinya. 

 

Aku menarik napas sedalam mungkin mencoba menenangkan emosiku. Aku merasakan genggaman tangannya tak lagi begitu erat di pergelangan tanganku, tapi ia tak juga melepaskan tangannya dari sana. Aku meliriknya berulang kali, pria itu masih tetap dalam posisi duduk tegak dengan wajah dan pandangannya lurus ke depan. Jantungku berdetak cepat, aku tidak tahu apa yang sudah terjadi padanya. Ini pertama kalinya aku melihat Siwon mengeluarkan emosinya begitu lantang di depan orang lain. Tapi aku sama sekali tak berminat untuk mengetahui lebih jauh perihal masalahnya, situasi ini sudah cukup membuatku kesal dengan perlakuan kasarnya pada Jonghyun dan pemaksaannya padaku.

 

Saat mobilnya berhenti, ia segera keluar seraya menarikku bersamanya. Ia masih saja memaksaku mengikuti kemana ia pergi. Yang aku tahu sekarang ia membawaku ke apartemen pribadi miliknya. Apartemen ini termasuk tempat yang paling jarang kujamah. Walaupun berstatus sebagai tunangannya, ia hanya mengizinkanku beberapa kali datang ke tempat ini. Aku rasa ia memang tak ingin aku terlalu jauh masuk ke zona privacy nya.

 

“Oppa, lepaskan tanganku!! Kenapa kau membawaku kesini??!!!” teriakku saat ia memaksaku masuk ke kamar tidurnya. Dia melepaskan tanganku sedikit menghempaskannya hingga aku terhuyung merapat ke dinding. Aku berbalik dan menatapnya tajam, mataku terasa panas seperti ada sesuatu yang memaksa keluar. Aku melihatnya membuka jas birunya dan dengan seenaknya mencampakkan jas tersebut ke atas ranjang di sebelahnya. Pria itu terlihat sedang marah dari gestur tubuh dan ekspresi wajahnya. Ia berkecak pinggang dan berjalan mendekatiku.

 

“jadi secepat itu kau mencari penggantiku? Semudah itu kau berkencan dengan orang asing? Aku rasa kau ingat dengan jelas kalau aku belum menyetujui ide burukmu untuk berpisah. Aku tidak akan melepasmu semudah itu, Yoona-yah.” Oh, baiklah jadi orang ini sudah mulai menunjukkan taringnya padaku. Ini pertama kalinya ia berbicara dengan nada tinggi dan begitu mengancam terhadapku.

 

“Ide buruk? Ini adalah gagasan terbaik yang pernah kumiliki. Berpisah denganmu adalah keputusan paling berat, tapi justru yang terbaik bagiku. Dan Jonghyun, ia bukan orang asing. Ia temanku dan ia juga menyukaiku. Ia bersikap begitu manis padaku dan tidak pernah mengecewakanku!” balasku sambil berteriak.

 

“Bersikap manis? Jadi itu yang kau inginkan.. pria yang bersikap manis, eoh?” ia berjalan semakin mendekatiku hingga jarak tubuhnya denganku tinggal beberapa senti saja. “Sikap manis seperti apa yang kau inginkan, apa seperti ini…??” tiba-tiba ia merapatkan tubuhnya dan membuatku terkejut ketika bibirnya mendarat di bibirku. Aku membelalakkan mataku, menyadari bahwa ini kali pertama ia menciumku tepat di bibir. Jantungku berdetak cepat saat kurasakan lumatan demi lumatan bibirnya semakin menuntut dan meminta lebih. Tubuh kami menempel erat hingga aku kesulitan bernapas. Rasa takut mulai menjalariku mengingat ia sangat memaksa dalam perlakuan ini.

 

Aku mencoba mendorongnya tubuhnya, sekuat tenaga memukul bahunya dan berusaha melepaskan ciumannya. Ia tak bergeming dengan usahaku dan semakin memperdalam ciumannya. Aku mulai kehabisan napas dan kakiku mulai terasa lemas. Ia menyadari tenaga tubuhku yang mengendur hingga ia melepaskan cengkeramannya. Mataku terasa semakin panas dan aku memandangnya dengan sorot keterkejutan dan kebencian.

 

“Apa yang kau lakukan?!! Kau tidak sepantasnya melakukan hal itu!!” pekikku.

“Aku berhak melakukannya karena aku tunanganmu. Bukankah ini yang kau inginkan, eoh?” balasnya dengan nada sama tinggi. “Ch, tidak! Aku tidak menginginkannya. Aku tidak ingin kau melakukan itu!!” satu tangannya menarikku dan menghempaskan tubuhku ke ranjang yang ada di belakangnya.

 

Dia membungkuk di atas tubuhku, hampir menindih tubuhku. Kedua tangannya menahan tanganku di sisi kepalaku Ia mendekatkan wajahnya, menatapku dengan ekspresi keras di wajahnya. Aku mencoba melepaskan diri dengan mengangkat tubuhkan dan lenganku yang ditahannya, tetapi terasa sia-sia karena ia jauh lebih kuat dariku. “Yak, apa yang kau inginkan? Lepaskan aku, Oppa!!”

 

“Bagaimana menurutmu? Aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya… kau lah yang memaksaku melakukannya!!”

“Mwo? Kau sudah gila, aku tidak pernah mmmpphh…” kata-kataku terhenti saat bibirnya kembali membungkam mulutku, menciumiku dengan kasar. Menggigit dan melumat bibirku hingga ia mampu memasukkan lidahnya ke dalam mulutku. Aku meronta mencoba melepaskan diri. Aku tidak tahu setan apa yang sudah merasukinya hingga ia berubah menjadi menakutkan dan bersikap sangat kasar seperti ini. Ia tidak hanya menciumku dibibir tetapi kini beralih ke pipi hingga ke leherku. Aku tak berhenti berusaha melepaskan diri, bahkan air mataku kini sudah jatuh mengalir deras. Aku takut dia melakukan sesuatu yang buruk terhadapku.

 

Ia melepaskan tekanannya terhadapku setelah mendengarku menangis tersedu-sedu. Aku menangis sambil menutup wajah dengan kedua tanganku. Masih jelas rasa perih dipergelangan tanganku tapi tak kuhiraukan. Aku tak percaya Choi Siwon, pria yang selama ini kuhargai sebagi pria terhormat, kupuja sebagai pria yang bertata krama dan sopan, dan kucinta sebagai pria idaman kini berubah menjadi seseorang yang tidak kukenal.

 

Sekarang aku melihatnya sebagai seorang pria yang kasar dan tak berperasaan. Ia bukan lagi pria dengan sejuta misteri dari sikapnya yang kaku. Kini ia adalah pria yang telah menyerah pada emosinya. Aku duduk sambil menekuk lututku dan membenamkan wajahku diantara lututku. Aku masih menangis sesenggukan. Aku tak ingin menatap wajahnya, hal itu hanya membuatku semakin takut.

 

“Yoona-yah…. Maafkan aku. Aku benar-benar lepas kendali. Aku terlalu emosi dengan kondisi ini. Aku menyesal telah berbuat seperti itu, aku benar-benar khilaf,” Siwon mencoba menyentuhku, dan aku spontan bergerak menepisnya dan menjauh darinya. “jangan sentuh aku!” suaraku terdengar bergetar karena tubuhku yang juga gemetaran.

 

Dia beringsut mendekatiku, pelan-pelan mencoba menyentuh tanganku. Dengan lembut ia meremas tanganku dan mengelusnya seolah ingin memberikan ketentraman. “Yoona-yah, kau seharusnya mendengarkan aku. Kau seharusnya bisa memahamiku. Kau tahu dengan jelas bahwa diriku bukanlah pria yang bisa dengan mudah mengungkapkan semua perasaannya. Aku bukan orang yang mudah mengucapkan kata-kata manis untukmu.”

 

Aku mendongak dan langsung tertumbuk pada tatapan matanya yang sendu. Sesekali ia menunduk hingga yang terlihat hanya bulu matanya yang tebal membingkai di atas tulang pipinya.

“Aku memang sangat kaku, aku bukan orang yang romantis. Aku juga sulit menunjukkan perhatianku untukmu. Jujur, aku merasa sangat jahat dan begitu buruk karena terkesan mengabaikanmu. Aku juga merasa begitu berdosa karena tak bisa memberikan balasan nyata atas perasaanmu kepadaku. Tapi…” aku masih berkonsentrasi mendengarkan setiap kata-katanya. Dia berbicara sedikit terburu-buru, mungkin karena hatinya yang sedang gundah. Dia terlihat menarik napasnya sebelum melanjutkan kalimat yang ingin diucapkannya.

 

“Tapi kau harus tahu bahwa aku… aku tak bisa menerima keputusanmu untuk berpisah denganku. Aku tak sanggup kau menjauhiku. Sudah cukup aku menahan kegelisahan selam dua tahun tak melihatmu. Aku menahan keinginan untuk menghubungimu karena aku takut aku akan kalah dengan kerinduanku hingga aku nekat meninggalkan tugasku. Aku kesulitan kembali beradaptasi ketika bertemu lagi denganmu. Aku takut kau membenciku karena aku telah mengabaikanmu selama aku berada di luar negeri.”

 

Aku menggeleng pelan, “Aku sama sekali tidak membencimu, Oppa…” suaraku terdengar sangat pelan.

“Aku menyadari bahwa aku sudah menunjukkan sikap yang salah karena bersikap arogan terhadapmu ketika kau memutuskanku. Aku merasakan sakit di dadaku ketika mendapatkan tatapan dinginmu. Kau yang biasanya bersikap hangat dan manja tiba-tiba menjadi keras dan dingin. Aku sangat takut kau tidak lagi menjadi Yoona-ku yang biasa, aku takut kau tak lagi menjadi Yoona-ku yang mencintai dan menyayangiku…”

 

“ ‘Yoona-ku’??” aku memotong kalimatnya, kata itu sungguh membuat hatiku membuncah senang.

“Ne.. Yoona-ku. Kalau kau beranggapan kau mengalami cinta sebelah pihak itu sama sekali tidak benar. Aku… mencintaimu Yoona. Aku sudah sejak lama merasakannya, bahkan pada saat pertama kali kau mengungkapkan perasaanmu padaku. Tapi entah kenapa logika dan hatiku tak mau bekerja sama dan sepakat dengan satu kata. Aku menjadi ragu dengan hati dan perasaanku sendiri. Aku terlalu bodoh untuk terus terkungkung dalam sikap kaku yang kumiliki.”

 

Mataku melebar, merasa tak percaya aku mendengar kata itu darinya. Satu kata yang telah kutunggu selama bertahun-tahun. Akhirnya aku mendengar ungkapan hatinya dengan telingaku sendiri. “Oppa, kau sungguh-sungguh?”

 

Ia mengangguk lembut, tersenyum singkat dan tatapannya tak lagi sendu. “Inilah aku yang sesungguhnya. Aku telah membuang semua ego dan mengumpulkan segenap keberanian untuk mengatakannya padamu. Aku sungguh mencintaimu, Im Yoon Ah. Hanya dirimu, tak ada yang lain. Kecemburuanku terlalu besar untuk melihatmu dengan pria lain. Aku terlalu takut kehilanganmu. Aku mohon jangan tinggalkan aku, tolong tarik kembali keputusanmu untuk berpisah. Tetaplah di sisiku, Yoona-yah.”

 

Tanpa pikir panjang aku menghambur ke pelukannya sesaat setelah ia menyelesaikan penjelasannya. Aku ingat adegan ini ketika ia memintaku untuk meninggalkan semua teman kencanku dulu karena ia tak sanggup melihatku dengan orang lain. Aku mendekap tubuhnya erat, air mataku kembali jatuh tetapi kali ini adalah air mata bahagia.

 

Mianhae, Oppa…”

“Tidak, kau tidak bersalah dalam hal ini Yoona-yah. Akulah yang seharusnya dihukum karena kesalahanku yang telah membuatmu merasa tersiksa dengan sikapku yang terus mengabaikanmu.” Bisiknya di telingaku seraya membelai rambutku.

arasso.. Saranghae, Oppa…

Nado Saranghae, Jagiya…” aku tersenyum lebar, ini pertama kalinya ia memanggilku dengan panggilan sayang. Kata itu terdengar begitu manis keluar dari mulutnya. Malam itu aku mengabiskan waktu di apartemennya. Anggap saja sebagai perayaan aku kembali kepadanya, ke pelukannya. Saat itu adalah kali pertama aku tidur di ranjangnya, merasa hangat dan nyaman dalam pelukannya. Tapi jangan berpikiran aneh, kami tidur dengan pakaian lengkap. Choi Siwon bukanlah seorang pria mesum yang suka memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Aku bahkan telah melupakan tindakan kasarnya beberapa saat yang lalu.

 

~~**~~

 

Tiga hari berlalu, aku masih larut dalam euforia kisah cintaku yang baru. Kisah cinta yang mulai dibangun kembali dengan pria yang sama, masih pria yang menjadi idamanku dan pujaanku sejak bertahun-tahun yang lalu. Taeyeon sering kali menggeleng-geleng kepala melihat perubahan sikapku yang tidak lagi uring-uringan karena kandasnya hubungan cintaku seperti dulu.

 

“Aku turut bahagia dengan kenyataan yang sudah terungkap, Yoong. Aku harap kau bisa menjalani hidupmu lebih baik dan lebih bahagia lagi ke depannya. Chukkae!!” binar mataku memang tak mampu disembunyikan saat Taeyeon eonni memberiku ucapan selamat atas cintaku yang tak lagi bertepuk sebelah tangan.

 

Sementara Jonghyun, aku merasa sangat bersalah padanya. Aku seperti memberi harapan palsu padanya, dan dalam waktu singkat aku menarik harapan itu di depan matanya. Tapi Jonghyun adalah pria yang sangat pengertian. Perasaannya padaku begitu tulus hingga aku merasa sangat berdosa padanya, “Aku sudah tahu akan begini akhirnya. Aku paham betul dengan situasi ini. Sejak dulu hanya ada Choi Siwon di matamu dan di hatimu. Sampai kapanpun akan sangat sulit bagi siapapun untuk menggantikan posisinya. Chukkae Yoona-ssi, semoga kau selalu berbahagia dengan pilihan hatimu.” Oh…Jonghyun, aku juga berharap kau akan segera menemukan kebahagiaanmu. Seorang gadis yang mampu membalas perasaanmu, bukan seperti diriku yang telah membuatmu menunggu dalam ketidakpastian.

 

Yoona POV End

 

Yoona terburu-buru turun dari kamarnya menuju ruang tamu setelah mendapat laporan kedatangan Siwon dari asisten rumah tangganya. Yoona merasa senang dengan kedatangan Siwon tapi juga heran karena tidak ada konfirmasi terlebih dahulu darinya.

 

“Oppa, ada apa kau kesini? Kau tidak memberitahuku terlebih dahulu. Ah… kau mau mengajakku berlibur ya? Inikan hari minggu…” Yoona bergelayut manja di lengan Siwon. Pria itu seperti biasa bersikap wajar dan kaku.

 

“Tidak. Aku kesini untuk urusan lain, bukan ingin mengajakmu liburan.” Yoona menggembungkan pipinya, merasa kecewa karena sama sekali tidak mengetahui maksud Siwon datang ke rumahnya. “Aku sedang menunggu kakekmu, sebaiknya kau hilangkan wajah cemberutmu itu. Kau terlihat aneh…”

 

Yoona melepaskan pegangan tangannya dari lengan Siwon. Dengan kesal ia memandang Siwon sambil menyipitkan matanya, “Jadi Oppa datang hanya untuk urusan bisnis, eoh?”

“Ini lebih dari urusan bisnis!” Yoona semakin kesal dengan Siwon. “Ya sudah, aku kembali ke kamar saja!!” rajuk Yoona ingin pergi tapi Siwon menahan tangannya. “Tetaplah disini, aku juga ada urusan denganmu.”

 

Yoona berbalik menghadapnya dan menatapnya dengan serius. “Kemarin ada sesuatu yang terlupa. Aku harus mengembalikan cincin ini pada pemiliknya” Yoona melihat sebuah cincin yang disodorkan oleh Siwon, cincin pertunangan yang telah dilepaskannya beberapa waktu lalu. Siwon mengambil tangan kiri Yoona, kemudian menyematkan kembali cincin itu di tangannya. “Dengan demikian, jelas sudah statusmu. Jangan pernah berpikir untuk melepaskan cincin ini lagi. Arrachi??

 

Yoona tersenyum lebar dan mengangguk, “Arasso…” Siwon juga ikut tersenyum sambil mengacak pelan rambut Yoona. “aku tinggal menyelesaikan urusanku dengan kakekmu,”

“Memangnya sepenting apa urusanmu dengan kakek?” tanya Yoona penasaran.

“Ini penting sekali. Aku ingin mengajukan pernikahan kita agar dipercepat dari rencana sebelumnya,”

“Mwo??!!!” pekik Yoona.

Wae?” Siwon mengerutkan keningnya.

“Aku tidak mau secepat itu. Aku saja belum sering berkencan denganmu. Kita saja belum pernah berpacaran secara real. Kuliahku juga belum selesai! Pokoknya aku menolak idemu… urungkan niatmu bertemu kakek!” pekik Yoona.

“Dasar kau ini polos sekali, kita kan bisa berpacaran dan berkencan setelah menikah. Pasti lebih real seperti yang kau inginkan. Aku yakin kakek akan mendukung gagasan ini.” Siwon dengan enteng memojokkan Yoona.

“Tidak.. tidak.. tidak… Yak, Choi Siwon kapan kau bisa lebih romantis hah? Kau menyebalkan!!” umpat Yoona yang hanya dibalas senyum separuh oleh Siwon.

 

FIN

Finish….

Jadi begitulah kisah cinta pohon kelapa ini berakhir…

Bagaimana sodara-sodara?? Maafkan saya jika anda merasa tidak puas, tapi beginilah plot yang sudah saya ciptakan…

Tunggu kehadiran FF yang menjadi hutang-hutang saya… hehehe

 

NB: Thanks to Echa, sudahlah… akhiri saja kegalauanmu… SeoWon itu ga ada apa-apanya… yang penting YoonWon masih jadi couple favorit sugen, oceeee…. *hug and kiss from Medan* (sama2 kakk, huhuhuu pengen moment mereka lagi..tapi percaya YoonWon jauh lebih banyak pnya moment yang kita tidak ketahui hihihi 🙂 )

Tinggalkan komentar

137 Komentar

  1. nunung

     /  November 28, 2013

    Wah suka banget ada lanjutan ff our lovenya bagus2 I suka…….

    Balas
  2. Sequelnya bagus eonn, aq suka apalagi kalau misalnya sampe pada pernikahan yoonwon 🙂
    tapi tanpa adanya itupun udah dipastikan yoonwon bakalan bahagia selamanya…

    daebak eonn 😀

    Balas
  3. aat yoonwon

     /  Maret 12, 2014

    Astaga tengkar lagi

    Balas
  4. Giilla bgus bgt deh sumpah

    Balas
  5. Kim Eun Kyo

     /  Maret 28, 2014

    Aahhhhh so sweetttttttt thorr tapi wonppa ♏α̣̣̥S̤̥̈̊ϊђ rada kaku

    Balas
  6. erin

     /  April 4, 2014

    kasihan amat si jonghyun *puk puk jonghyun
    tapi sequel yg keren kok thor! ceritanya nggak terlalu terkesan dipaksain kaya sequel2 hasil paksaan lainnya *lol
    happy endingnya disusun rapi sesuai plot, enak juga bacanya.. daebak lah 🙂

    Balas
  7. Dede

     /  Mei 8, 2014

    Wah seru.tapi kenapah engga dceritain smpe mereka menikah dan punya anak pasti lebih menarik.

    Balas
  8. Dede

     /  Mei 17, 2014

    Wah ahinya yoonwon berbaikan dan kembali lgh.coba ceritanya smpe mereka menikah pasti lebih seru.

    Balas
  9. Mia

     /  Juli 13, 2014

    Kisah cinta yg aneh

    Balas
  10. Any

     /  Juli 14, 2014

    Ternyata udah pernah baca os ini. Tapi g apa2kan baca lagi thorrr…

    Balas
  11. Cha'chaicha

     /  Oktober 23, 2014

    bagus”….

    Balas
  12. dedewjasmin

     /  Desember 9, 2014

    Kirain siwon engga sk sm yoona…eh ternya dia orng yg engga bsa ngomong dngn kata2 tp setidak nyatunjukan dngn dengan perhatian……tp ahirnya mereka kmbli bersama.

    Balas
  13. Kirain tadinya YW tak bersatu
    ternyata emg benar cinta Yoona tak seperti Pohon Kelapa
    endingnya benar2 mengharukan ya

    Balas
  14. GUA KAKU terdiam (?) melihat mereka omonaa kirain mereka kagak bersatu untung ajalah ^^ happy end

    Balas
  15. ish yoonwon2. kelakuannya. pacarannya keren. kombinasi yg baikk

    Balas
  16. Agny_k

     /  Agustus 16, 2015

    Untung aja mereka bersatu lagi…
    Nice ff ^ ^

    Balas
  17. Fitria

     /  Desember 6, 2016

    Butuh sequel ceritanya bagus banget 👍
    Siwon oppa ternyata romantis jg hehehe

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: