[2S] You’re My Love Story (Chapter 1/2)

memories-yoonwon_副本

Tittle               : You’re My Love Story

Author            : Tika Pink / Tika Sheila EverlastingFriend

Email/Twitter : tika_pinky@rocketmail.com / smantikalove@gmail.com / @SangRa_ELF (Mention For Follback)

Main Cast      : Im Yoona, Choi Siwon

Other Cast     : Stella Kim, Jessica Jung, Lee Dong Hae

Genre             : Romantic, Sad or as Your self ^^

Length            : Two Shoot

Rating             : PG + 15

 

 

Annyonghaseyo yeorobeun ^^ … Hi Hi Hi, aku menyapa lagi sambil membawa sebuah ff baru yang idenya lagi-lagi dadakan, datang tiba-tiba nyempil di otakku untuk kusajikan pada kalian (Padahal ff yang lain blom kelar #plakk~ author aneh) Hohoho ^o^

Ok, buat yang mampir jangan lupa RCL yaw. Kalau nggak nanti bintitan loh matanya gara-gara jadi SIDERS #gubrak

Oh ya, maafin kalau ff ini nggak menarik, ancur dan banyak typonya. Tapi semoga kalian suka dech Readersku tercinta. Mu mu mu mmmuac ^,* #plakkk~author makin aneh #abaikan … hahahaha ^o^

 

#Happy Reading#

 

Author Pov

“Yaa, kenapa kau menangis seperti ini hanya karna namja yang tidak penting seperti itu? Sebaiknya kau putus saja dengannya!” kata Yoona kesal saat Stella sahabatnya selesai menceritakan rasa sakit dan kecewa karna namja yang dicintai sahabatnya lagi-lagi seperti menggantungkan perasaannya. Yoona memang tidak mengenal apalagi pernah bertemu dengan namja itu yang Yoona tahu hanya nama namja itu. Tapi Yoona juga tak bisa menerima kalau sahabatnya harus digantungkan perasaan cintanya seperti itu oleh namja yang tidak terlalu penting seperti itu. Dan sekaligus Yoona juga sudah jera mendengar keluhan-keluhan dan tangisan-tangisan Stella tentang namja yang telah dipacarinya selama beberapa bulan belakangan ini. Yoona heran kenapa sahabatnya yang cantik dan banyak di taksir oleh namja-namja keren itu sampai bisa begitu jatuh cintanya pada namja yang satu itu.

Choi Siwon. Begitulah namja itu sering di sapa. Yoona memang bersahabat dengan Stella dan dia tahu semua namja yang pernah berkencan dengan Stella. Tapi yang satu ini, Yoona sama sekali tak punya gambaran apa-apa. Fotonya pun tak ada di handphone Stella sehingga Yoona tak pernah tahu rupa namja itu. Kata Stella Siwon tak pernah mau di ajak berfoto dan dia melarang Stella untuk mengambil fotonya. Yoona jadi meragukan apa jangan-jangan namja itu sama sekali tidak tampan dan tidak menarik. Tapi yang membuatnya heran Stella bisa begitu cintanya.

“Yoong, aku sama sekali tidak sanggup jika aku harus putus dengannya. Aku sangat mencintainya.” Isak Stella.

“Tapi dia sepertinya hanya ingin mempermainkanmu! Lihat saja selama kau berpacaran dengannya kau sudah lebih dari 20 kali datang padaku sambil terisak-isak seperti ini. Sebenarnya apa sich yang kau lihat darinya?”

“Aku tak tahu. Yang aku tahu aku hanya mencintainya dan tak ingin berpisah dengannya. Tapi … tapi dia selalu membuatku bingung. Dia kadang tak pernah menggubris pesan dan telfonku. Dia sering mengabaikanku. Aku juga tidak ingin tersiksa dalam ketidakpastian ini. Tapi aku tidak sanggup jika harus putus dengannya!”

“Yaa, Stella Kim … kau itu gadis yang cantik dan popular di kampus. Banyak namja yang seratus kali lebih baik dari namja itu dan menginginkanmu. Jadi kau tidak perlu sesedih ini hanya karna namja yang tidak bertanggung jawab dan pengecut seperti Siwon itu.”

“Nado molla Yoong kenapa aku bisa seperti ini!”

“Jadi apa yang ingin kau pilih? Tetap bertahan dengan namja itu, merasakan sakit karna perasaanmu terombang-ambing dan selalu berada dalam ketidakpastian seperti ini? Atau mengakhiri hubunganmu dengan namja itu, merasakan sedikit sakit karna perpisahan tapi kau bisa bernafas lega dan bebas lagi?” tanya Yoona memberikan pilihan pada Stella. Entah kenapa Yoona begitu kesal dengan permasalahan cinta Stella kali ini. Dia benar-benar tidak bisa menerima kalau ada namja yang begitu tega mempermainkan perasaan seorang yeoja seperti ini. Kebanyakan namja yang hidup di jaman modern ini suka mempermainkan wanita. Itulah sebabnya dia memilih untuk menutup diri dari namja-namja yang mencoba mendekatinya. Karna dia tahu banyak namja yang hanya manis diawalnya tapi ujung-ujungnya selalu pasti akan menyakiti. Tapi bukan berarti Yoona menganggap semua namja itu jahat. baginya hanya secuil saja namja di dunia ini yang bisa benar-benar tulus mencintai.

Stella memikirkan sejenak pertanyaan Yoona itu yang lebih terkesan seperti sedang memberikan perintah padanya untuk memilih. Jessica tidak ada di sini untuk memberikan nasihatnya. Tapi kalaupun Jessica ada, dia yakin Jessica juga akan mendukung pendapat Yoona. Lagipula dia memang sudah terlalu lelah.

“Baiklah, mungkin sebaiknya aku memang harus mengakhiri hubunganku dengannya.” Putus Stella akhirnya sambil mendesah pelan. Yoona tersenyum.

“Memang itu yang harus kau lakukan! Aku akan ada di sini untuk selalu menghiburmu dan aku yakin kalau Sicca juga sudah pulang dari California, dia pasti akan merasa lega karna kau telah berpisah dengan namja itu. Karna aku dan Sicca sebagai sahabatmu tak pernah ingin kau tersakiti hanya karna namja yang tidak tulus mencintaimu.” Ucap Yoona sambil merangkul Stella.

“Mana handphonemu?” tanya Stella seraya mengulurkan tangannya meminta handphone Yoona. Yoona menatapnya heran.

“Untuk apa?”

“Untuk menellfon Siwon oppa dan mengakhiri hubunganku dengannya karna aku takut jika aku melakukan hal itu saat berhadapan dengannya, aku akan goyah dan akhirnya menarik keputusanku.”

“Tapi kenapa harus memakai handphoneku?”

“Karna handphoneku tertinggal di rumah. Kau tidak lihat tampangku saat ini saja sangat memprihatinkan.” Kata Stella frustasi.

Yoona melirik sahabatnya itu. Benar, penampilan Stella saat ini begitu kacau. Hanya memakai piyama dan sebuah sweeter. Stella memang datang tiba-tiba di malam yang larut ini ke rumah Yoona. Mungkin karna dia sudah tidak sanggup lagi menahan kesedihannya karna merasa tidak diberikan kepastian. Yoona mendesah. Lalu dia menyodorkan handphonenya pada Stella.

Stella menerima handphone Yoona dan mulai menekan beberapa angka dan menghubunginya. Sejenak terdengar nada bahwa telfon itu sedang disambungkan. Lalu akhirnya terdengar suara seorang namja menjawab telfon itu.

“Yoboseyo?” sapa namja itu sopan.

Yoona melihat Stella mencoba menarik nafas dengan susah. Tapi kemudian Yoona menekan pundak Stella untuk meyakinkan sahabatnya itu.

“Yoboseyo?” suara namja itu terdengar lagi. Yoona yang duduk di samping Stella bisa mendengar suara maskulin itu.

“Op … oppa … ini aku, Stella!”ucap Stella agak sedikit berat.

“Stella?” tanya namja itu dengan nada seperti orang yang tak mengenal Stella.

Mwoya? Apa namja itu tidak mengenali suara dan nama pacarnya sendiri? Atau namja itu seorang playboy yang mempunyai teman kencan dengan nama yang sama? Pikir Yoona.

“Ne. Aku … aku hanya ingin … aku ingin mengatakan kalau aku … aku ingin hubungan kita berakhir! Aku ingin kita putus oppa!” akhirnya kalimat itu meluncur dari mulut Stella meski dengan susah payah.

“Baiklah. Terserah kau!” jawab namja itu bahkan tak perlu berpikir beberapa saat yang membuat Stella mengatupkan matanya menahan perih dan sebulir air bening mengalir dari matanya.

Yoona mengernyit. Namja itu, ucapan namja itu benar-benar membuat emosinya naik. Berarti namja itu memang tidak menganggap Stella berarti untuknya. Dari ucapannya, namja itu sudah menunjukkan pada Yoona dengan jelas bahwa dia tidak mencintai Stella. Lalu kenapa namja itu malah meminta Stella untuk menjadi pacarnya? Brengsek!

Yoona segera merampas handphonenya dari tangan Stella dan mengambil alih pembicaraan.

“Yaa, namja brengsek! Kau memang tak punya perasaan! Aku memang senang akhirnya sahabatku meminta putus denganmu tapi aku tidak menyangka kau mengiyakan dengan begitu saja tanpa berpikir panjang! Kalau kau memang tidak mencintainya kenapa kau memintanya untuk menjadi kekasihmu? Dasar kau namja brengsek! Sok playboy! Aku yakin kau takkan pernah mendapatkan cintamu di masa depan! Kau terlalu hina jika harus merasakan cinta! Jangan pernah lagi kau muncul di hadapan sahabatku! Mimpi pun kau tak boleh datang lagi padanya! Brengsek! @#%$@^&!^!^&*!$@!^!& >.<” ujar Yoona ketus dan penuh amarah. (ok, author gk pintar bersumpah serapah #plakk).

“Yoong!” tegur Stella mencoba menghentikan Yoona yang menghujat Siwon. Tapi Yoona mengabaikannya.

“Nuguseyo? Kenapa kau ikut campur dalam urusan kami?” tanya namja itu. Nada suaranya memang tampak tenang dan stabil tapi Yoona yakin kalau saat ini namja itu sedang menahan emosinya.

“Kau tidak perlu tahu siapa aku seperti aku yang tak ingin tahu siapa dirimu! Yang jelas aku sangat tak bisa menerima kau menyakiti dan mempermainkan peraaan sahabatku seperti ini! aku bersyukur karna tidak pernah kenal dan bertemu denganmu! Kalau aku pernah bertemu denganmu mungkin aku sudah menghajarmu. Dasar namja brengsek…!!!” ketus Yoona dengan suara tinggi lalu mengakhiri sambungan telfon itu dengan kasar.

“Yoong …???!!!” Stella memanggilnya lirih. Nafas Yoona masih naik turun menahan emosinya.

“Kau memang tidak seharusnya bersama dengan namja brengsek seperti itu! Bersyukurlah karna kalian sudah putus dan jangan pernah memikirkan dia lagi!” ucap Yoona tegas pada Stella. Lalu dia masuk ke kamar mandi sambil masih mengumpat-ngumpat Siwon dengan kesal.

Stella mendesah pelan. Dia merasa sedih tapi dia pikir ini mungkin memang jalan yang terbaik. Dia harus melupakan Siwon. Namja pertama yang berhasil membuatnya jatuh cinta.

***

One Year Later

Telfon Yoona berdering dengan nyaringnya di samping bantalnya. Mengusik tidurnya yang nyaman. Siapa sebenarnya yang menelfon larut malam begini?

Yoona meraba-raba handphonenya dan masih dengan malas dia menjawab telfon itu.

“Yoboseyo?” tanyanya dengan nada agak lirih karna dia merasa masih setengah tertidur.

“Im Yoona-ssi … ???” terdengar sebuah suara maskulin seorang namja dari telfon itu. Yoona mengernyit merasa tak mengenal suara itu. Diliriknya display handphonenya dan disana hanya tertulis beberapa digit angka yang berarti bahwa itu nomor yang tidak terdaftar di kontak handphonenya.

“Nugusinji?” tanyanya ingin tahu siapa penelfon misterius itu, dan kenapa menelfonnya larut malam seperti ini.

“Jadi benar namamu adalah Im Yoona?”

“Ne. Kau siapa dan kenapa menelfonku larut malam seperti ini?” Yoona meras tidak perlu berbicara dengan formal dengan penelfon itu. Karna dari suara di telfon itu, sepertinya orang itu tidak jauh lebih tua darinya. Lagipula dia juga kesal jika ada yang mengganggu tidurnya apalagi kalau hanya untuk hal yang tidak penting.

“Ahh, mianhaeyo jika aku mengganggumu. Aku hanya penasaran dengan sebuah nomor asing yang tertera di handphoneku dan aku juga tidak tahu kenapa aku bisa tertarik sehingga aku mencari tahu nomor ini dan ternyata nomor ini terdaftar atas nama Im Yoona. Aku jadi semakin penasaran sehingga menelfonmu!” jawab suara itu dengan nada yang begitu tenang. Entah kenapa tiba-tiba Yoona merasa pernah mendengar suara namja dengan nada seperti itu. Tapi dia tidak begitu ingat. Lagipula dia masih mengantuk. Otaknya tidak bisa bekerja dengan maksimal hanya untuk mengingat suara itu.

“Mwo? Kau sampai harus mencari tahu seperti itu? Apa kau mengenalku? Sebenarnya kau siapa?” tanya Yoona penasaran.

“Aku tidak mengenalmu tapi aku juga heran kenapa nomor handphonemu bisa ada di handphoneku. Mungkin kita bisa berkenalan secara langsung nanti. Entah kenapa setelah menelfonmu aku jadi ingin bertemu denganmu! Tapi setidaknya aku ingin memberi tahu namaku dulu padamu agar jika aku menghubungimu lagi kau sudah bisa memanggilku dengan namaku. Namaku Andrew Choi.”

Yoona sadar namja itu hanya orang iseng yang ingin lebih mengenalnya. Mungkin namja itu adalah salah satu namja yang mengejar-ngejarnya seperti ini. Tapi yang membuat Yoona tidak nyaman suara namja itu begitu tenang dan terkesan mengintimidasi. Dan entah kenapa dia juga menjadi begitu penasaran. Tapi Yoona mencoba menekan rasa penasarannya. Ini hanya telfon iseng dari salah satu namja yang ingin masuk ke hidupnya.

“Ahh, salam kenal Andrew-ssi. Tapi jika kau ingin menghubungiku lain kali tolong sesuaikanlah waktumu. Kalau kau tidak ada kepentingan lagi, aku ingin segera mengakhiri percakapan yang mengada-ngada ini dan kembali melanjutkan tidurku yang terganggu.” Kata Yoona dingin.

“Ahh, jeongmal mianhae. Aku hampir saja melupakan kalau aku telah mengusik dan mengganggumu. Baiklah, tapi apa kita bisa bertemu besok malam? Aku hanya ingin mengenalmu langsung dan kau tenang saja, aku bukanlah orang jahat. Aku baru pulang dari Amerika dan aku belum begitu punya banyak kenalan di Korea. Entah kenapa aku melihat nomormu dan tertarik untuk mengajakmu berteman. Jika kau tidak keberatan. Aku bisa datang ke rumahmu secara resmi sehingga kau tidak perlu ragu dan mencurigaiku. Aku hanya ingin punya teman di Korea.”

“Dan dari berjuta-juta orang yang ada di Korea, kau memilihku untuk menjadi temanmu?” tanya Yoona mengernyit. “Oh ya Tuhan, namja ini begitu terkesan mengada-ngada dan tak tahu mencari alasan. Apa dia pikir aku gadis bodoh? Atau dia yang bodoh?” tambah Yoona dalam hati.

“Ne. Menemukan nomor handphonemu yang tertera dengan misterius di ponselku membuatku merasa ini seperti takdir yang telah diatur Tuhan. Jadi bagaimana? Apa aku bisa bertemu denganmu?”

Suara itu semakin membuat Yoona penasaran. Ketenangan dari suara itu seolah mengusiknya ingin mencari tahu. Setelah berpikir beberapa saat akhirnya Yoona menjawab pertanyaan yang cenderung seperti tawaran itu.

“Baiklah.”

“Jinjjayo?” namja itu mencoba memastikan. Yoona membayangkan mungkin namja itu tak punya ekspresi. Karna suara namja itu sejak tadi terjaga ketenangannya. Bahkan saat memastikan jawabannya.

“Ne. Sekarang, aku ingin tidur lagi. Selamat malam!” ucap Yoona. Tanpa menunggu jawaban dari lawan bicaranya, Yoona langsung menutup percakapan secara sepihak. Dia bertanya-tanya dalam hati. Merasa penasaran dengan pemilik suara tenang itu yang mengaku bernama Andrew Choi.

“Andrew Choi? Aku belum pernah mendengar nama itu! Tapi suara itu sepertinya pernah aku dengar. Tapi kapan dan di mana?” Yoona mencoba berpikir dan mengingat-ngingat. Tapi dia sama sekali tidak bisa menemukan jawabannya. Meski begitu dia begitu yakin dia pernah mendengar suara itu. Namun Yoona tidak ingin terlarut dalam pikirannya hanya untuk namja yang tidak dikenalnya. Lalu mungkin karna dia masih mengantuk, dia pun kembali tertidur.

 

Di lain tempat tepatnya di sebuah mansion yang begitu mewah, seorang namja menggenggam ponselnya dengan erat. Sebuah senyum kecut tersungging di sudut bibirnya.

“Tidak berubah. Masih ketus dan suka menutup telfon secara sepihak dengan tidak sopan. Im Yoona, aku sungguh tidak sabar untuk bisa bertemu denganmu! Aku sudah menunggu satu tahun hanya untuk bisa bertemu denganmu! Melihatmu secara langsung dan dari dekat! Senang berkenalan denganmu Im Yoona-ssi!” gumam namja itu tersenyum sambil melirik handphonenya. Dan di sana tertera beberapa digit angka yang tadi baru saja dihubunginya. Nomor handphone Im Yoona yang telah sengaja dia simpan selama setahun ini hanya untuk menunggu waktu yang tepat untuk bisa bertemu dengan yeoja yang tak pernah dilihatnya langsung itu tapi telah sanggup membuatnya mempunyai sebuah obsesi tersendiri di dalam hatinya.

“Aku akan menunjukkan padamu kalau anggapanmu tentangku dulu adalah sebuah kesalahan! Aku, Choi Siwon bukan orang yang bisa menerima diketusi oleh orang lain apalagi oleh seorang yeoja!” gumamnya lagi.

Author Pov End

***

Yoona Pov

“Kau mendapat telfon misterius semalam?” tanya Jessica. Aku hampir lupa kalau hari ini Jessica dan Stella akan menginap di rumahku. Jessica minggu depan akan bertunangan dengan Donghae oppa dan sebelum hari yang sibuk untuk mempersiapkan acara itu datang, dia ingin bersama sahabat-sahabatnya dan mereka memutuskan apartemenku adalah tempat yang tepat. Sejak mulai bekerja beberapa bulan yang lalu aku memang memutuskan untuk hidup mandiri dan tinggal di sebuah apartement yang dekat dengan tempat kerjaku. Meski apartement ini masih dibeli dengan uang orangtuaku.

“Oo. Dan sejak tadi pagi dia tidak pernah berhenti mengirimiku sms ingin mengajakku bertemu. Kau bisa lihat sendiri di handphoneku.” Keluhku. Aku merasa sedikit terganggu dengan pesan-pesan singkat itu. Tapi ada rasa penasaran yang juga ikut merasuki pikiranku sehingga membuatku merespon pengirim pesan itu.

“Andrew Choi?” tanya Jessica memastikan. Dia sedang membaca sms-sms itu.

“O. Apa kau mengenalnya?” tanyaku. Dia menggeleng dengan ragu.

“Entahlah. Tapi rasanya aku pernah mendengar namanya. Bagaimana kalau kita coba mencarinya di internet? Mungkin saja profilnya ada.” Usul Sicca. Benar, kenapa aku tidak kepikiran hal itu. Saat ini hampir semua informasi bisa di dapatkan di dunia social net. Aku mengangguk. Kemudian aku duduk di samping Sicca yang sudah menyalakan notebook-ku yang terletak di meja dan mulai membuka internet. Dia pun men-searching nama namja itu. Dan akhirnya kurang dari 30 detik hasilnya pun mulai muncul. Sicca meng-klik hasil yang paling di atas.

“Oh My God …!!!” seru Sicca tertahan saat melihat sebuah artikel bisnis yang di kliknya dan menunjukkan profil Andrew Choi beserta foto namja itu. Sontak saja aku menatapnya.

“Wae? Apa kau tahu siapa dia?” tanyaku penasaran. Dia menatapku dengan dramatis.

“Dia … Dia … Choi Siwon … mantan pacar Stella …!” aku terbelalak.

“Mwo? Choi Siwon?” tanyaku memastikan. Sicca mengangguk. Aku kembali menatap layar notebookku dan memperhatikan foto namja yang sedang tersenyum dingin itu. Jadi namja ini adalah Choi Siwon?!

Aku membaca topic utama artikel itu.

Choi Siwon atau juga dikenal dengan nama Andrew Choi adalah putra mahkota dari kerajaan bisnis Hyundai Group, perusahaan nomor satu di Korea Selatan!!!

Kemudian aku mencoba membuka hasil pencarian yang lain. Mencoba mencari tahu apakah ada namja lain yang bernama Andrew Choi selain namja itu dan ternyata nihil. Hanya namja itu yang muncul di berbagai hasil pencarian.

“Jadi namja yang menelfonku semalam itu sebenarnya Choi Siwon?” gumamku lebih untuk memastikan pada diriku sendiri.

“Ada apa dengan Choi Siwon?!” suara itu sontak saja membuatku dan Sicca sedikit tercekat. Dengan pelan aku dan Sicca menoleh ke belakang dan entah sejak kapan tanpa aku dan Sicca sadari, Stella sudah berada tepat di belakang dan menatap layar notebookku kemudian menatapku dan Sicca bergantian. Terlambat untuk mengelak.

Setelah melihat artikel itu aku sebenarnya tak ingin Stella tahu apalagi melihat wajah namja itu lagi. Tapi ternyata itu tak perlu dilakukan karna Stella malah sudah melihat semuanya. Mau tidak mau aku harus menjelaskan padanya.

“Jelaskan padaku!” ucapnya seakan tahu jalan pikiranku. Dia lalu duduk di sofa yang berhadapan denganku dan Sicca. Aku menatap Sicca dan dia mengangguk tanda bahwa dia setuju kalau aku harus mengatakannya pada Stella.

Aku menarik nafas dan menghembuskannya dengan berat. Lalu aku pun mulai menjelaskan padanya mulai dari telfon misterius semalam dan sms-sms seperti yang aku ceritakan pada Sicca. Stella juga membaca sms-sms yang di kirimkan namja yang bernama Andrew Choi atau Choi Siwon itu di ponselku. Aku bisa mengamati mimic wajah Stella yang seakan masih menyimpan kesedihan. Ya, meski sudah putus dengan namja itu selama kurang lebih setahun, Stella sepertinya masih menyimpan perasaan pada namja itu. Karna setelah putus dengan namja itu, sampai saat ini Stella tidak berkencan dengan siapapun lagi.

“Jadi apa kau ingin menemuinya?” tanya Stella. Aku yakin dia juga pasti sudah membaca sms balasanku karna setting sms di handphoneku tersusun seperti percakapan chatting dan di sana jelas-jelas aku mengatakan bahwa aku bersedia bertemu dengan namja itu. Dia hanya ingin memastikan saja.

“O. Gwenchana?” tanyaku. Aku khawatir karna Stella seakan murung. Tapi dia akhirnya menatapku dan tersenyum meski aku tahu senyum itu terkesan dipaksakan. Dia mengangguk.

“Terserah kau saja, Yoong! Gwenchana! Dia hanya bagian dari masa laluku dan tak ada hubungan lagi denganku!” jawabnya. Aku menatapnya lebih lekat lagi mencoba mencari tahu kedalaman hati sahabatku itu. Tapi aku sama sekali tidak bisa membacanya.

“Kau tenang saja Stella. Aku akan menemuinya hanya karna aku penasaran dengan sosok namja itu yang sebenarnya.” Ucapku santai. “Dan mungkin memberikan sedikit pelajaran padanya. Sicca, apa kau mau ikut denganku?” lanjutku lagi sambil menatap Sicca.

“Aku?” tanya Sicca menunjuk dirinya sendiri sambil menatapku heran. “Kenapa kau ingin mengajakku?”

“Aku penasaran kenapa dia tidak mengenalkan dirinya dengan namanya yang sebenarnya. Nama yang kita kenal. aku juga merasa nomor handphoneku memang sudah ada di handphonennya dan dia hanya berpura-pura tidak tahu, mencari alasan yang sangat tak masuk akal hanya karna ingin berkenalan denganku. Aku tak tahu apa maksud dan rencana namja itu sebenarnya. Tapi aku akan pastikan aku tidak akan tertipu olehnya apalagi terperangkap oleh rencana namja itu. Aku akan membuatnya merasa bahwa sebenarnya dia tertangkap basah dan akan memberinya pelajaran karna sudah berani mengusikku. Jika dia licik, maka aku akan lebih licik lagi!” ucapku sambil tersenyum kecut. Stella dan Sicca menatapku lekat.

“Yaa, sebenarnya apa yang kau rencanakan di kepalamu yang kecil itu?” tanya Sicca.

“Aku tak merencanakan apa-apa. Hanya sekedar tindakan antisipasi saja. Aku ingin melihat bagaimana reaksinya jika melihatmu. Bukankah sewaktu dia berpacaran dengan Stella, kau pernah berkenalan dengannya langsung. Jadi dia pasti mengenalimu dan aku ingin melihat reaksinya. Apa dia akan langsung terus terang atau malah tetap berbohong dengan memakai nama Andrew. Dan kalau dia memilih untuk tetap berpura-pura dan tidak mengutarakan maksudnya yang sebenarnya kenapa dia menelfonku, maka aku juga akan berpura-pura tidak tahu apa-apa tentangnya. Padahal jelas-jelas namanya sudah banyak disebut di berbagai artikel dan majalah bisnis. Aku hanya heran kenapa aku baru melihat artikel-artikel itu sekarang. Apa selama ini namja itu menyembunyikan diri?”

“Dia memang tidak pernah suka di ekspos. Kau ingat kan aku pernah cerita kalau dia tidak pernah mau aku memotretnya apalgi berfoto bersamanya.” Ujar Stella.

Aku mengernyit acuh. “Well, aku tidak sabar ingin tahu orang seperti apa dia sebenarnya sehingga mampu membuatmu begitu mencintainya!”

“Yoong, terserah apa yang ingin kau lakukan. Tapi jangan mengungkit lagi kisah pedihku bersamanya.” Ucap Stella murung. Aku menjadi merasa bersalah.

“Mianhae! Aku hanya merasa penasaran!” kataku pada Stella. Jauh di dalam hatiku aku ingin benar-benar membuat namja yang bernama Choi Siwon itu juga akan merasakan sakit yang pernah dia torehkan pada sahabatku.

Yoona Pov End

***

Author Pov

Yoona turun dari mobil tepat di depan pintu cafe yang merupakan tempat yang telah dia dan Siwon sepakati untuk bertemu.

“Yoong, kau yakin harus melakukan ini? Kau tahu aku tidak terlalu pintar berakting.” Kata Sicca sebelum Yoona melangkah masuk.

“Tentu saja kita harus melakukannya. Setelah memarkir mobil, kau benar-benar harus masuk. Aku akan menunggumu di dalam.” Kata Yoona penuh penekanan sehingga Jessica mengangguk.

“Arasso!” lalu Jessica menjalankan mobilnya untuk mencari tempat parkir.

Saat di dalam Yoona mulai sibuk menyapukan matanya mencari sosok yang bernama Andrew atau Siwon itu. Sesuai dengan isi sms yang dikirimkan namja itu beberapa saat lalu, namja itu mengatakan bahwa dia akan memakai kemeja berwarna biru dan duduk di meja nomor tujuh. Yoona melihatnya. Tampak namja itu sedang sibuk melihat layar ponselnya. Dan benar, wajah namja itu persis dengan yang dilihatnya di foto yang ada di artikel itu. Yoona menghembuskan nafasnya pelan. Lalu berjalan menghampiri namja itu.

“Andrew-ssi?” tanya Yoona berpura-pura memastikan. Namja itu menoleh dan langsung berdiri saat melihat Yoona di depannya.

“Ne. Apa kau Im Yoona-ssi?” tanyanya.

Mwoya? Apa namja itu memang belum pernah melihatnya atau sedang berpura-pura. Pikir Yoona. Tapi kemudian dia mengangguk sambil tersenyum.

“Ne, annyeonghaseyo! Im Yoona imnida!”Yoona memperkenalkan diri sambil sedikit membungkuk formal. Siwon membalasnya.

“Ne. Aku Andrew Choi. Senang bisa berjumpa denganmu!” balas namja itu sambil mengulurkan tangannya ingin berjabat tangan. Dengan setengah hati Yoona menjabat tangan itu sepintas.

“Silahkan duduk!” kata namja itu mempersilahkan Yoona. Yoona mengangguk dan duduk di depan namja itu. Lalu seorang pelayan menghampiri meraka dan menyerahkan daftar menu ke tangan Yoona dan Siwon. Mungkin namja itu sudah menginstruksikan pada pelayan bahwa dia baru akan memesan saat temannya datang.

“Kau mau pesan apa? Silahkan pilih sesukamu!” kata Siwon bersikap akrab.

Yoona pun memasang senyum manisnya.

“Aku menunggu temanku dulu.”

“Teman?” Siwon mengernyitkan alisnya penuh antisipasi dan tertangkap oleh Yoona.

Dengan pura-pura merasa bersalah Yoona pun tersenyum menanggapinya.

“Ne, tadi sahabatku datang ke rumahku saat aku mau kesini. Mianhaeyo, aku tidak sempat mengatakan padamu. Tapi aku tak bisa menolak saat dia mengatakan ingin mengantarku dan ikut bersamaku. Dia sedang memarkirkan mobil. Nah itu dia …” jelas Yoona lalu menunjuk ke arah pintu saat melihat Jessica berjalan masuk untuk menghampiri mereka. Siwon ikut melihat ke arah yang ditunjuk Yoona dan meski hanya sepintas Yoona bisa menangkap raut keterkejutan di wajah Siwon saat melihat Jessica. Tapi namja itu segera menutupinya dan Yoona pun berpura-pura sambil tersenyum. Dia melambaikan tangan pada Jessica dan beberapa saat kemudian Jessica sudah berada di depan mereka dan duduk di kursi di samping Yoong. Dengan sengaja Jessica belum melirik Siwon sesuai yang telah mereka rencanakan.

“Ahh, kenapa memarkir mobil perlu waktu yang lama untukmu?” tanya Yoona.

“Yaa, kalau kau bisa lebih cepat kenapa bukan kau saja yang memarkirkannya tadi?!” balas Jessica masih tak melirik Siwon. Yoona berpura-pura merungut kesal. Lalu kembali menoleh pada Siwon.

“Ahh, mianhaeyo Andrew-ssi! Kenalkan ini temanku Jessica dan Sicca-ya ini Andrew Choi!” kata Yoona sambil memperkenalkan Jessica dan Siwon. Dan sesuai rencana, Jessica baru menoleh saat itu untuk melihat Siwon yang tampak diam dengan wajah dinginnya.

“Ne, aku Jessi…ca …” Sicca langsung menutup mulutnya dengan salah satu tangannya seperti orang terkejut. “Omona, kau bukannya …?”

“Ne? Apa kau mengenalku?: tanya Siwon berpura-pura seperti baru melihat Jessica. Dan Yoona tahu itu.

“Apa kau tidak mengenaliku? Kau Siwon kan?” tanya Jessica.

“Siwon? Nugu? Ahh, mianhaeyo, namaku bukan Siwon tapi Andrew.” Jawab namja itu sambil tersenyum.

“Benarkah? Tapi kau sangat mirip dengannya!” kata Sicca masih dengan tatap menyelidik. Tapi namja itu tersenyum dan menggeleng.

“Siwon? Maksudmu namja yang pernah berkencan dengan Stella?” tanya Yoona dengan mimic yang meyakinkan.

“O. Aku pernah bertemu dengannya saat mengantarkan Stella dulu. Apa namamu bukan Siwon?” Jessica lagi-lagi meneliti wajah Siwon. Siwon merasa sedikit risih tapi dia tetap berusaha tetap tenang.

“Aku tak tahu siapa yang kau katakan mirip denganku. Tapi namaku adaah Andrew dan aku baru sekali ini bertemu denganmu jadi tidak mungkin aku mengenalmu!” kata namja itu dengan nada yang tenang.

Yoona tersenyum dalam hati. “Jadi kau memilih untuk tetap berbohong Choi Siwon? Baiklah! Aku akan menanggapinya!” batin Yoona.

***

Setelah pertemuan siang itu Yoona sempat berpikir bahwa namja yang bernama Choi Siwon atau Andrew Choi atau siapapun namanya itu tidak akan berani lagi mengajaknya bertemu lagi. tapi ternyata dugaannya meleset. Namja itu masih terus menghubunginya dan selalu berkunjung menemui Yoona.

Yoona kesal tapi dia juga penasaran sebenarnya apa maksud dan keinginan namja itu sampai ingin mendekatinya. Seperti malam ini, dia ingin menghadiri acara pertunangan Jessica. Tapi namja itu juga mendapat undangan yang ternyata dari pihak Donghae, tunangan Jessica. Jessica, Yoona dan Stella sama sekali tidak tahu kalau ternyata namja itu merupakan kenalan Donghae. Dan malam ini dia menjemput Yoona untuk datang bersamanya, sebagai pendampingnya. Bahkan namja itu mengirimkan sebuah gaun yang luar biasa cantik. Yang dibuat dari bahan sutra berwarna pink berkilau dengan butiran Kristal kecil di beberapa bagian dari gaun yang indah itu. Gaun itu sangat cocok dan kontras di tubuh Yoona yang ramping dan putih. Menjuntai dengan indah di tubuhnya seakan gaun itu memang hanya dibuat untuknya. Yoona yakin Siwon membeli gaun itu dari seorang perancang yang terkenal dan dengan harga yang mahal. Selain itu Siwon juga melengkapinya dengan sepasang high heels senada dan cocok dengan gaunnya. Yang membuat Yoona heran, kenapa dua barang itu begitu pas dipakainya. Sepertinya Siwon memang tahu ukuran tubuhnya.

Yoona membuka pintu saat bel apartementnya berbunyi. Di depannya kini berdiri sosok Siwon yang mengenakan kemeja biru yang ditutupi dengan jas warna putih bersih yang begitu pas ditubuh namja itu. Yoona sedikit terpesona dengan ketampanan namja itu.

“Pantas saja Stella jatuh cinta setengah mati pada namja ini. Namja ini memang tampan!” gumam Yoona dalam hati. Tapi segera disingkirkannya pikiran anehnya itu. Dia tidak boleh terpesona pada namja di depannya itu. Namja itu adalah namja yang pernah menghancurkan hati Stella, sahabatnya.

“Kau sudah siap?” tanya Siwon pada Yoona. Dia sangat terpesona melihat yeoja yang sangat cantik berdiri di hadapannya. Ternyata gaun dan high heels yang dipilihnya memang sangat pas di tubuh yeoja itu.

“Ne. Kajja!” kata Yoona mengangguk. Lalu dia keluar tanpa lupa menutup pintu.

Siwon menunjukkan lengannya memberi isyarat agar Yoona menggamitnya. Yoona menatapnya ragu tapi setelah beberapa saat akhirnya Yoona menggamitnya dan mereka berjalan bersama dengan langkah yang teratur menuju ke depan apartemen di mana mobil Siwon menunggu. Setelah membukakan pintu mobil untuk Yoona, diapun ikut menyusul masuk dan mengemudikan mobilnya menuju tempat pesta di selenggarakan.

Sebenarnya dia bisa saja menggunakan limousine untuk ke pesta itu tapi Siwon lebih suka hanya berduaan saja di mobil dengan Yoona tanpa diganggu oleh siapapun. Makanya dia lebih memilih membawa mobil audi silvernya yang hanya mempunyai dua tempat duduk. Seakan di mobil itu tidak ada tempat untuk orang lain selain dia dan Yoona. Karna memang sebenarnya belum ada seorangpun yeoja yang pernah diajaknya naik mobil kesayangannya ini dan dia memang sudah berniat sejak beberapa bulan yang lalu hanya Yoona lah yang akan diajaknya naik di mobilnya ini. Sejak hari di saat pertama kali Yoona berbicara dengan ketus padanya ditelfon, dia memang sudah mempunyai rencana tersendiri untuk yeoja itu. Rencana yang pasti akan dilakukannya dan mungkin malam ini adalah waktu yang tepat. Perlahan dia menyunggingkan senyum misterius di wajahnya.

***

Pesta itu di adakan di salah satu hotel bintang lima. Tampak banyak tamu yang datang menghadiri acara itu. Yoona melangkah dengan canggung sambil menggamit lengan Siwon. Perasaannya sedikit risih karna dia tahu Stella juga ada di pesta ini. Berjalan dengan namja yang pernah dicintai sahabatnya begitu dekat seperti ini membuatnya tidak nyaman. Dia takut akan menyakiti Stella. Dan benar saja, saat tatapannya mendapati sosok sahabatnya itu sedang berdiri di sudut ruangan sambil menatapnya dengan tajam. Entah itu tatapan marah, cemburu, sakit atau heran, yang jelas seketika itu juga Yoona merasa tidak enak hati.

Sebenarnya dia sudah mengatakan pada Stella dan Jesica kalau Siwon memintanya untuk datang bersama dan dia sudah meminta persetujuan mereka terutama Stella. Saat itu Stella memang menyetujuinya, tapi tetap saja Yoona tidak nyaman. Tanpa sadar dia menekan pelan lengan Siwon dengan tangannya. Dia menatap Stella merasa bersalah.

“Mianhae …” ucapnya tanpa bersuara pada Stella. Hanya menggerakkan bibirnya saja dan dia melihat dengan perlahan Stella mengangguk. Lalu sahabatnya itu membalikkan badannya dan menghilang di kerumunan tamu. Yoona mendesah.

“Yoona-ssi, kau kenapa? Apa kau baik-baik saja?” tanya Siwon yang merasa mimik wajah Yoona agak aneh dan murung. Yoona menatapnya dan tersenyum.

“Ne, aku baik-baik saja!” ucap Yoona. Lalu mereka menghampiri Jessica dan Donghae yang juga sedang menyalami beebrapa tamu yang mengucapkan selamat pada mereka.

“Andrew-ssi, kau akhirnya datang juga!” sapa Donghae saat Siwon dan Yoona berhadapan dengan mereka. “Yoong?” tanya Donghae heran saat mengenali yeoja yang digandeng Siwon adalah Yoona. Dia menatap Jesica lalu kembali menatap Siwon dan Yoona.

“Ne, anyyonghaseyo oppa!” sapa Yoona seraya tersenyum.

“Kalian? Apa kalian …?”

“Aku memintanya untuk menjadi pasanganku Donghae-ssi! Bagaimana? Bukankah kami serasi?” tanya Siwon dengan senyum sumringahnya. Yoona menatapnya sepintas sedikit tak suka saat mendengar namja itu mengatakan bahwa mereka sangat serasi. Lalu dia menatap Jesica seakan mereka berdua saling berbicara melalui isyarat mata yang hanya dimengerti oleh mereka menanggapi pernyataan itu.

“Ne. Kalian benar-benar sangat serasi. Ahh, Yoong, aku tak menyangka kau mengenal dan berpasangan dengan Andrew kesini. Bahkan Sicca tak pernah menceritakan padaku bahwa kau tengah dekat dengan seorang namja saat ini.” ujar Donghae seraya menatap pasangan di depannya lalu tunangannya secara bergantian.

“Hmm, sebenarnya aku juga baru mengenalnya belakangan ini oppa!” jawab Yoona. “Aku memang baru mengenalnya langsung beberapa waktu belakangan ini. tapi aku sudah mengenal nama aslinya jauh sebelum ini.” imbuh Yoona dalam hati.

“Stella dimana?” tanya Yoona sengaja yang membuat Siwon menatapnya seketika. Tapi segera berusaha agar tetap tenang.

“Mungkin dia sedang berbaur dengan tamu yang lain.” Jawab Donghae. Yoona mengangguk paham dan tersenyum. Tapi Siwon mulai merasa sedikit tidak nyaman setelah Yoona menyebut namja itu.

“Apa Yoona sengaja ingin menyinggung nama yeoja itu di depannya?” batin Siwon sambil menatap Yoona menyelidik saat yeoja itu sedang asyik berbicara dengan Jesica.

~ ~ ~

Pesta pertunangan itu berlangsung dengan begitu hikmat dan penuh aura kebahagiaan. Yoona sengaja tidak berdiri di dekat Jesica karna dia ingin menjaga perasaan Stella. Meskipun sebenarnya dia ingin menyaksikan sesi pertukaran cincin itu dari dekat di samping sahabat-sahabatnya itu. Tapi dia tidak mungkin mengabaikan Siwon yang menggamit tangannya dengan posesif seakan dia adalah gadis milik namja itu. Mendapati hal itu, yoona hanya bisa merutuk dalam hati merasa kesal. Ingin rasanya Yoona mendamprat namja itu saat itu juga. Tapi sebelum dia tahu alasan namja itu berbohong dan mendekatinya, Yoona masih akan berusaha menahan diri.

“Siwon-ssi, aku ingin mengenalkanmu pada salah satu sahabatku. Dia yeoja yang sangat cantik.” Kata Yoona sambil menatap Siwon lalu menggamitnya untuk menghampiri tempat di mana Stella berada. Tapi namja itu tak bergeming dan malah menahan tangannya. Yoona menatap namja itu heran tapi dalam hatinya dia sedikit puas atas reaksi Siwon sekarang. Namja itu terlihat sedikit gusar.

“Waeyo?” tanya Yoona. Siwon menatapnya.

“Aku ingin bicara dulu denganmu. Berdua dan tenang!” kata Siwon tegas. Lalu menarik Yoona agar mengikutinya dan baru melepaskan Yoona saat mereka berada di balkon samping aula pesta yang tenang tanpa ada orang lain selain mereka. Angin sejuk berhembus, mepermainkan rambut panjang Yoona yang terurai dengan pelan.

“Ada apa?” tanya Yoona. Mereka berdiri saling berhadapan dan tangannya masih di dalam genggaman Siwon yang erat.

“Aku ingin mengakui satu hal padamu. Mungkin kau sudah tahu dan sekarang sedang berpura-pura tidak tahu atau kau memang tidak tahu. Tapi aku tidak perduli dan ingin mengatakannya sendiri.” Ujar Siwon. Yoona menatapnya lekat.

“Aku sebenarnya adalah Choi Siwon!” ucap namja itu kemudian. Yoona tersenyum dalam hati tapi dia tidak sedikitpun berekspresi di depan Siwon.

“Akhirnya namja ini mengaku juga” batin Yoona.

“Yeoja ini tidak terkejut dan tidak tersenyum. Tak ada ekspresi. Aku lebih menyimpulkan bahwa dia memang sudah mengetahuinya.” Pikir Siwon.

“Aku adalah namja yang pernah kau maki saat di telfon setahun yang lalu karna aku telah menyakiti sahabatmu.”

Yoona masih tetap diam. Maka Siwon melanjutkan.

“Nomor ponselmu bukan tertera secara misterius di ponselku tapi aku memang sengaja menyimpannya sejak saat itu agar aku bisa menghubungimu lagi. Ani, sebenarnya secara tidak langsung yang menyimpannya di ponselku mengingat dia seringkali menghubungiku dengan memakai nomor itu jika dia sedang sedih karnaku dan dia juga pernah mengatakan bahwa itu nomor sahabatnya padaku. Sebelum menghubungimu aku juga sudah memastikannya dengan sedikit bersikap lancing menyelidikimu. Kita memang tidak pernah bertemu dan pertemuan di café itu memang awal pertemuan kita. Tapi sejak kau memakiku di telfon waktu itu, aku sudah memutuskan untuk menemuimu, mengenalmu secara mendalam. Dan setelah bertemu denganmu di café, dekat denganmu beberapa waktu belakangan ini, membuatku menginginkanmu. Aku tahu aku seharusnya tidak mengatakan seperti ini dan ini terkesan tidak tahu malu mengingat aku pernah menyakiti sahabatmu dan kita baru lama saling mengenal secara langsung tapi aku selalu yakin akan perasaanku. Aku percaya pada perasaanku padamu sejak awal. Perasaan ini sudah ada sejak lama dan aku semakin yakin saat bertemu denganmu. SARANGHANDA IM YOONA-SSI!!!” ujar Siwon mantap.

Yoona mengernyit dan mendengus kesal.

“Mwo? Mworago? Sarang?” Yoona tersenyum kecut lalu kembali mendengus kesal. Dia lalu menghempaskan tangan Siwon dari tangannya dengan kasar.

“Yaa, ibayo Choi Siwon-ssi atau siapapun namamu … apa yang kau pikirkan sampai dengan berani mengungkapkan kau mencintaiku padahal kau adalah orang yang aku benci karna telah menyakiti sahabatku? Apa kau ingin menjebakku dan membuatku jatuh seperti sahabatku? Apa kau pikir aku segampang itu?”

“Ani. Aku tidak menganggapmu seperti itu. Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa begitu saja mencintaimu. Yang aku tahu hatiku langsung bergetar saat aku mendengar suaramu dan semakin yakin saat aku bertemu denganmu. Kau juga membuatku tidak tahan terus menyembunyikan kebenaran ini darimu. Ada di sampingmu saat ini membuatku serasa tidak nyaman karna harus berbohong.”

“Kenapa kau berbohong padaku? Kenapa kau mendekatiku? Apa karna kau ingin balas dendam karna aku memakimu waktu itu? Apa kau ingin membalas dendam karna aku menghasut Stella agar putus denganmu?”

“Aku memang mendekatimu tapi bukan untuk itu. Aku justru bersyukur karna kau membuat kami putus dengan lebih cepat. Karna aku memang tak mencintai Stella. Berada di dekatnya saja aku tak pernah nyaman.”

“Lalu kenapa kau memacarinya jika kau tidak mencintainya?” Yoona mulai marah tapi dia tidak boleh terbawa emosi menghadapi namja seperti Siwon.

“Kami tidak berpacaran. Aku dan dia memang sering bertemu tapi aku tidak pernah memintanya untuk jadi pacarku. Dia lah yang menyatakan dan menganggap kalau kami pacaran.”

“Lalu kenapa kau diam saja dan memberikannya harapan?”

“Aku juga tidak pernah memberinya harapan. Aku juga tidak tahu kenapa dia bisa punya salah paham terhadapku. Aku tidak tega menyatakan dan menyakitinya secara langsung. Aku benci melihat gadis menangis di depanku sampai akhirnya kau yang membuat hal itu menjadi mudah. Saat hari dia menelfon dan meminta berpisah aku merasakan kelegaan yang luar biasa. Tapi kau ikut bicara dan memakiku. Kau membentakku dan mengatakan bahwa aku tidak pantas untuk dicintai dan mencintai karna aku tak mengerti cinta. Maka sejak saat itu aku memutuskan kau adalah orang yang akan aku cintai dan akan kubuat mencintaiku dan mencari tahu apa makna cinta itu bersama-sama. Dan aku semakin yakin karna berada di dekatmu aku selalu merasa getaran aneh menjalari tubuhku. Aku nyaman dan senang karna bisa dekat denganmu. Aku mencintaimu dan akan membuatmu mencintaiku, Im Yoona …!!!” ucap Siwon lantang, tegas dan mantap. Yoona hanya bisa menatapnya tak percaya kalau namja itu bisa seperti itu.

Tanpa mereka ketahui ada seorang yeoja yang ikut mendengarkan percakapan mereka itu di balik dinding sambil menahan tangis.

***

TO BE CONTINUED

 

Author said : Ok, sebenarnya ff ini rencananya hanya akan menjadi OS tapi ternyata akan terlalu panjang jika hanya jadi OS. Maka aku memutuskan untuk membuatnya menjadi 2S saja. Meski ff ini ancur, gaje, feelnya gk dapat dan banyak typo, Aku tetap mengharapkan readers sekalian tidak pernah bosan dengan karyaku dan bersedia mengisi kolom komentar yang tersedia dengan pendapat kalian untuk ff ku kali ini. Aku akan sangat senang jika komentar itu imajinatif sehingga aku bisa semangat untuk melanjutkan ffku baik ini, dan beberapa judul lainnya untuk kupersembahkan kepada kalian sebagai bentuk rasa syukurku dan betapa kalian sangat berharga untukku, para readers. Kalian ingin aku menyajikan cerita yang menghibur dan bisa kalian nikmati, maka hargailah karyaku dengan tidak pelit memberikan RCL’nya. Don’t be silent readers, ya ya ya *,^

Buat Resty, Nurull, dan semua saeng-saeng yang lagi menghadapi UN, belajar dan berdoa serta teliti baca soalnya yaw. Fighting ^o^

Big Hug untuk Echa yang udah mau publish ffku lagi, Kak Uchie, Kak Rindu, July, Mutti, Fanny dan tentunya semua readers yang selalu mendukungku dalam dunia per-ffan dan membuatku semakin mencintai uri YoonWon. Aku lagi-lagi bersyukur karna bisa berteman dengan kalian. Niteds Fighting ^.^ Nomu kamsahaeyo yoreubeun J (#hugback )

 

See you in next chapter. Kamsahabnida ^^

 

Tika Pink ^^

Tinggalkan komentar

162 Komentar

  1. Anita harahap

     /  November 22, 2014

    Uhhuuu siwon oppa lantang bgt ngungkapin perasaanny.. dan yg lg nguping pasti stella..

    Balas
  2. Aku masih bingung, siwon mau ngejebak young atau memang mencintai nya stulus hati??😀

    Itu yang ngintip pasti stella deh!🙂

    Izin baca next chapter ne😉 gumawo!🙂

    Balas
  3. Dan aku bener2 suka bgt sama semua karya author, aku baru tau di fb

    Balas
  4. Siapa yeoja itu ? Stella kah ?
    Aku kira tadi’a wonppa playboy soal’a pas stella mnta pts tanggapan’a biasa ajh , ternyata ini krna stella menganggap mereka pcrn pdhl tidak ..
    hhh~ penyataan cinta wonppa bikin aku senyum2 gaje haha😀

    Balas
  5. Dirin panggaliningtyas

     /  Februari 18, 2015

    Kayaknya itu Stella deh,kasihan juga ya dia tp salahnya dia jg…
    Siwon oppa keren ya…
    Yoona eon jg diam-diam menghanyutkan hehe…
    Pokoknya ff-mu keren eon:-)…
    Ijin baca next chapnya ne:-)…

    Balas
  6. titien

     /  Maret 14, 2015

    akankah yoona eonni menerima siwon oppa,daebakk eonni q suka ma alur ceritanya.

    Balas
  7. viana

     /  Maret 27, 2015

    trima,,trima,,trima,,,ayo yong trima cintanya siwon,,,
    itu siwon serius gak sih suka yoonanya? dari awal kaianya siwon keliatan senyummya gmna gtu apa jngn2 hanya mau balas dendamm ke yoona,,oohh,jangaannnn,,
    lanjutt lg ya kak bacanua
    semangatt!!

    Balas
  8. Susi

     /  April 12, 2015

    Sejak awal baca langsung tertarik sama ff ini dari alur ceritanya yang menarik bagus,, 👍Hehe kira-kira stela bakal benci ga ya sama yoona setelah ini,,, ??? Siwon di maki aja udah langsung tertarik,,, gimana klo yoona nya bersikap lembut sama dia!! Makin klepek-klepek tuh dia nya…😄 __________________

    Balas
  9. Nur khayati

     /  Juni 2, 2015

    Trnyata Siw0n & Stella gk pacaran, Stella.a aja yg ngaku pacar.a Siw0n & Stella jg masih cinta sama Siw0n,.
    Siw0n udah lama trtarik & langsung jatuh cinta sama Y00na, tp kyk.a butuh prjuangan nih dgn Y00na yg ngerasa gk enak sama Stella,,
    Lanjut baca next chap.,^_^

    Balas
  10. mywon_407

     /  Juni 26, 2015

    Kasian sma stella yg udah salah paham sma siwon…
    Kyaknya perjuangan siwon untuk bersama yoona bakalan berat nih, apalagi sepertinya stella masih cinta sma siwon, pasti yoona ngerasa ga enak sma stella…

    Balas
  11. YoongNna

     /  Februari 9, 2016

    Msh pnsarn koq bsa siwon langsung cinta aja ma yoona..
    Pliis siwon jgn nnti mainin yoona mdh2n bner2 apa yg diktakanya bhwa dia jatuh cinta ma yoona..

    Balas
  12. ayana

     /  April 30, 2016

    OMG… siwon nyatain cinta ma yoona, diterima nggak ya? trus siwon serius ato cuma mau mainin yoona? yang denger dibalik tembok itu stella kan. trus kelanjutan persahabatan yoona ma stella gmn?
    duh banyak pertanyaan yang muncul di otakku, daripada penasaran mending langsung baca chapter selanjutnya.,

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: