[OS] Roman Picisan

cover OS roman picisan

Roman Picisan

by

Nurul_Choi

Main Cast : Super Junior’s Siwon & SNSD’s YoonA || Sub Cast : SNSD’s Sooyoung, SNSD’s Tiffany & 2PM’s Nichkhun ||  Genre : Romance, Drama & Life || Length : Oneshot || Rating : PG 13 || Disclaimer : Inspired by Quiterie’s “Sticky Note”

Note : Jangan menilai buku hanya dari sampulnya saja, dan ketika author yang berbicara; jangan menilai cerita hanya dari judulnya saja^^ Yesungdahlah~~ Teukkidot!!

ð  Happy Reading

 

Siwon menyapukan pandangannya ke penjuru ruang. Matanya tak menemukan sosok yang menjadi objek pencariannya. Kelas telah dimulai lima belas menit yang lalu oleh Dosen Jang. Namun sosok itu belum juga menampakkan batang hidungnya. Dengan gusar dan perasaan gundah beberapa kali Siwon memandang kearah pintu kelas. Mata obside-nya terus bergerak antara memperhatikan pelajaran yang disampaikan oleh Dosennya dengan pintu kelas. “Apa dia tidak masuk hari ini? Apa dia sakit?” Siwon membatin, memikirkan kemungkinan buruk yang bersarang di otaknya. Selang beberapa menit terdengar gesekan pintu itu terbuka, menimbulkan bunyi dencitan kecil. Siwon mendongakkan kepalanya, bernafas lega setelah mengetahui siapa gerangan yang berada di balik pintu itu.

Mianhaemnida Sonsengnim, aku terlambat.” Gadis itu membungkukkan badannya, wajahnya menunjukkan penyesalan. “Tadi ban mabilku bocor dan harus ke bengkel terlebih dahulu,” lanjutnya masih dengan beberapa kali membungkukkan badan. Dosen Jang menghela nafas sejenak sebelum mejawabnya. “Arra, duduklah! Lain kali usahakan jangan pernah terlambat lagi pada saat kelasku,” kata Dosen Jang memperingati. Gadis itu memanggutkan kepalanya. Ia kemudian berjalan kearah tempat duduknya.

Siwon tak henti memperhatikannya sedari tadi. Mulai dari saat gadis itu masuk kelas hingga duduk di kursinya. Gadis itu menghela nafas panjang, mengeluarkan notebook-nya kemudian menatap kedepan. Secara refleks Siwon mengulum senyum, melihat wajah gadis itu pagi ini sudah menjadi vitamin baginya. Sungguh menggelikan bukan?

~[]~

 

Siwon berjalan dengan menenteng tas laptopnya menuju taman kampus. Ia duduk di salah satu bangku bercetkan hijau tua, dibawahnya teduhnya pohon maple. Tangannya mulai bergerak membuka raslating tas kemudian mengeluarkan benda persegi empat dari dalamnya. Ini memang telah menjadi rutinitasnya selama kurang lebih empat tahun belakangan ini. Sekedar untuk mencari inspirasi guna bahan skripsinya atau untuk menghindar dari kebisingan kampus. Atau bahkan untuk alasan tersendirinya.

“Yoona, astaga! Kemana saja kau? Sedari tadi aku mencarimu..” Siwon menegakkan tubuhnya, matanya bergerak kearah seberang. Disana, berdiri dua orang gadis yang juga sama sepertinya, duduk di bangku taman. Hanya saja gadis yang dipanggil Yoona tadi lebih dulu duduk disana sementara gadis yang satunya lagi baru saja datang dan langsung mencecar sahabatnya itu dengan wajah kesal serta berkacak pinggang.

“Kau seperti tak mengenalku saja Mi Young-ssi,” jawab Yoona tak mengalihkan pandangannya dari bahan bacaannya. Wuthering Heights karya Emily Bronte, salah satu karya sastra yang dinobatkan sebagai ‘Novel Cinta Tragis Paling Terkenal Sepanjang Masa’. Siwon menarik sudut bibirnya. Ia tahu gadis itu-Yoona, memiliki selera baca yang tinggi terhadap  novel.

Inilah yang menjadi alasan sesungguhnya, acap kali ia duduk disini bertemengkan laptop sebagai pelindungnya. Memerhatikan gadis itu, mengurung waktu hanya untuk mengamatinya membaca novel di bangku taman kampus. Tujuh tahun lamanya ia mengagumi gadis itu semenjak duduk di bangku SMA. Ah, ani ani! Mencintai lebih tepatnya. Entah bagaimana gadis itu telah menarik perhatiannya sejak kali pertama mata obside-nya menatap mata bening Yoona. Gadis itu dengan mudahnya telah menempati singgasanah di hatinya. Oh, ayolah! Cerita ini tak hanya terjadi dalam novel-novel atau drama bahkan film saja. Ini yang terjadi pada Choi Siwon, pria berkacamata yang diam-diam menyimpan rasa pada gadis cantik nan anggun layaknya peri, Im Yoon Ah.

Terdengar konyol bukan, ketika kau jatuh cinta pada seseorang hanya dalam pandangan sekejap? Namun begitulah adanya cinta. Siwon jatuh cinta pada gadis itu, gadis yang bahkan tak pernah diajaknya bicara. Tak pernah saling menyapa sekalipun berpapasan.

Seperti sebuah filsafah yang ditulis oleh Oscar Wilde dalam bukunya, terdegar ringan namun menusuk hati. “Seperti dua kapal yang berpapasan sewaktu badai, kami telah saling bersilang jalan satu sama lain tapi kami tidak membuat sinyal. Kami tidak mengucapkan sepatah katapun karena kami tidak punya apapun untuk dikatakan. Romantis? Memang. Tapi terkadang kenyataan romansa yang ada dalam benak setiap orang tidak seindah mimpi-mimpi. Bahkan nyaris tak menyentuh khayalan”

Siwon tersenyum getir mengingat filsafah itu. Ia kembali mencuri pandang terhadap dua gadis tadi. “Jangan panggil aku Mi Young! Please, call me Tiffany, Fany! Right?” Tiffany kembali mencecar Yoona. Gadis pemilik eyes smile itu memang tidak suka di panggil dengan nama koreanya. “Ah, iya. Aku menemukan ini tertempel di lokermu.” Tiffany menyodorkan sebuah sticky note ke Yoona. Dengan berat hati nan enggan melepaskan pandangannya dari bacaannya, Yoona menolehkan pandangannya. Melirik sticky note berwarna biru dongker.

“Padang tak bertepi, seperti itulah senyummu. Tak ada batasan untuk setiap senyum indahmu. Jadi, tetaplah tersenyum jika dunia bahkan tak seperti yang kau ingini.” Yoona mengulum senyum membaca tulisan itu. Gadis itu kemudian menyelipkannya pada halaman novel. “Kajja kita ke kantin! Tiba-tiba saja aku lapar.” Masih dengan sisa senyumnya, Yoona menarik tangan Tiffany membuat gadis itu terlonjak. “Ya ya ya! Aku ada janji dengan Nichkhun Oppa. Ya! Im Yoona!” Tiffany berontak namun sama sekali tak di indahkan oleh Yoona.

Diam-diam Siwon melukis sebuah senyum di bibirnya. Sampai kedua gadis itu tak lagi terjangkau oleh pandangnya, ia masih saja membiarkan lengkungan indah itu menghias di bibirnya. Ia tak menyadari bahwa ada sosok gadis yang sudah duduk disampingnya. Sambil menopang dagu, gadis itu mengamati Siwon dan mengikuti arah pandang Siwon. Kemudian ia menggelengkan kepala tak percaya.

‘Pletak!’

“Aw…” Siwon mengaduh, mengusap kepalanya. Pandangannya beralih kearah samping. Siapa gerangan yang dengan seenak jidatnya menjitak kepalanya?

“Apa yang kau lakukan?” tanyanya lebih mengarah pada bentakkan. Orang yang ditanya bukannya menjawab malah melengos, memilih untuk memasukkan tangannya kedalam bungkus potato lalu memakan snack kentangnya dengan acuh. “Ya! Sooyoung-ah! Kenapa kau memukul kepalaku? Kau lupa, aku ini Oppa mu!” Siwon memandang kesal Sooyoung, adik satu-satunya yang hanya beda satu tahun dibawahnya.

Oppa sendiri? Apa yang Oppa lakukan disini?” Sooyoung berkata dengan entengnya. Air muka Siwon tiba-tiba berubah menjadi keruh. “Aku tahu apa yang Oppa pikirkan.” Sooyoung menatap kakak semata wayangnya itu dengan tatapan iba. Ia merangkul pundak Siwon dan meninju dada Siwon. “Hei bung! Katakan yang sejujurnya padanya! Dia berhak tahu atas perasaanmu. Kau tidak bisa bersembunyi dalam tempurung terus. Ini bukan negeri seribu satu malam yang segalanya dapat terjadi hanya dengan sihir. Apa kau tidak menginginkannya membalas cintamu? Siapa tahu saja dia juga memeliki rasa yang sama denganmu. Dan ada kemungkinan kalian bisa bersama.” Siwon menaikkan sebelah alisnya kemudian tersenyum tipis membalas ucapan Sooyoung. Gadis itu bak seorang perantau cinta yang telah berpengalaman. Padahal berkencan saja belum pernah tapi sudah berani mengeluarkan dalih seperti itu.

“Sudah selesai? Kalau begitu, ayo pulang! Nanti Eomma mengkhawatirkan bayi kecil  bermulut Ahjumma ini…” Siwon mencubit gemas pipi chubby Sooyoung, membuat gadis tinggi semampai itu mengaduh keras dan memukul tangan Siwon. “Appoyo!” Sooyoung mengelus pipinya yang memerah kemudian memincingkan matanya menatap Siwon. Pria berkaca mata itu hanya tersenyum geli lalu mengacak-acak anak rambut Sooyoung. “Ya! SimBabo!”

~[]~

 

Pagi itu layaknya pagi-pagi sebelumnya, entah berapa pagi sebelumnya yang tak dapat terhitungkan. Siwon mengeluarkan spidol merah dari dalam tasnya. Kemudian ia mengambil sticky note dari saku celana jeans-nya. Dengan senyum bertengger di bibirnya, tanganya mulai tergerak menari-nari di atas sticky note dengan spidol merahnya. Menciptakan untaian kata dan membentuk rangkai kalimat. Siwon menempelkan ibu jarinya di bibir kemudian menempelkan sticky note ke sebuah loker. Ia tersenyum puas memandang tulisannya sendiri.

“Bunga, jangan biarkan mahkotamu jatuh dari kelopaknya. Biarkan si kumbang datang menhampiri, menyesap madumu agar kau tak harus layu karna bosan.” Siwon menoleh kesamping. Terhenyak ketika seseorang membaca tulisannya. Takut jikalau gadis yang ia kagumi menangkap basah ulahnya. Ia belum siap jika gadis itu mengetahui bahwa selama ini dialah yang menempelkan puluhan bahkan ratusan sticky note ke lokernya.

Siwon menghembuskan nafas lega-berlebihan bahkan, ketika melihat siapa yang tengah berdiri di sampingnya. “Sungguh ironis. Seorang pria yang hanya berani mengutarakan perasaannya lewat sticky note, tidakkah itu terdengar layaknya seorang pecundang?” Sooyoung menggelengkan kepalanya, miris mengetahui fakta bahwa kakaknya masih saja melakukan hal konyol terlebih kuno di jaman seperti ini hanya untuk menjadi pengagum rahasia seorang gadis. Oh, betapa malang gadis itu. Tidak pernah mengetahui siapa yang selama ini memenuhi lokernya dengan berjuta kalimat-kalimat singkat bak pujangga yang tengah di mabuk asmara. Hidupnya pasti dihantui rasa penasaran. Setidaknya itulah simpulan dari Sooyoung untuk gadis yang membuat kakaknya sampai menggila.

Siwon memutar bola matanya, jengah dengan ucapan Sooyoung. Ia jadi merutuki dirinya sendiri. Mengapa ia terlalu bodoh menceritakkan permasalahannya mengenai hal ini pada Sooyoung jika tahu akibatnya seperti ini. Sooyoung bahkan melebihi kecerewetan ibu mereka ketika dirinya tak kunjung tidur saat malam. Dan sangat berlebehihan bukan? Sebenarnya dia itu anak lelaki atau perempuan? Kenapa ibunya itu selalu menyamakan dirinya dengan Sooyoung. Membuat kepala berdenyut saja.

Dengan senyum dipaksakan, Siwon merangkul pundak Sooyoung. “Adik manis, lebih baik kita beli lolipop saja yah. Tidak baik bayi kecil berkeliaran di sekitar sini.” Siwon menarik pundak Sooyoung, menuntunnya untuk segera pergi dari tempat itu sebelum si pemilik loker datang. “Ya! Aku bukan bayi, Oppa!” Siwon menghiraukan teriakan Sooyoung dan terus menyeretnya pergi beranjak.

Tepat ketika Siwon dan Sooyoung berbelok di sebuah lorong, dari lorong lain seorang gadis berjalan dengan tawa renyah, pandangannya tak beralih dari I-Phone dalam genggamannya. Sampai pada loker tempatnya berada, ia tak kunjung mengalihkan pandangannya. Ia membuka loker itu tanpa menyadari adanya sticky note yang tertempel disana. Usai mengambil buku yang dicarinya, Yoona menutup keras lokernya. Mengakibatkan secarik kertas persegi itu jatuh melayang. Dengan dahi bekerut, Yoona memungut sticky note itu. Ia kembali tersenyum cerah ketika membaca kata demi kata dalam catatan kecil itu. “Sebenarnya siapa pengirim kalimat-kaliamat ini?” Ia bergumam, memikirkan seperti apa orang yang selama empat tahun terakhir ini menempelkan sticky note ke lokernya. “Siapapun orangnya. Aku akan sangat senang jika ia mau menemuiku.” Yoona tersenyum geli. Bagaimana jikalau pengagum rahasianya itu secara terang-terangan menampakkan diri? Akan seperti apa wajah orang itu? Yoona menggelengkan kepala ketika wajah Kang Ho Dong, salah satu mc di acara veriety show berkelebat di otaknya.

~[]~

 

Jemarinya dengan lincah bergerak di atas keyboard. Matanya tak teralihkan dari laptop yang setengah jam lalu terus dipandanginya. Sesekali mata bertemeng lensa itu mengambil pandang pada buku tebal di pangkuannya. Siwon baru akan mengetik lagi ketika ia mendengar sapaan seseorang, “Hai….” suara lembut nan halus itu sangat familiar di telinganya. Dengan perasaan ragu, ia mendongak. Jantungnya berpacu berkali lebih cepat dari biasanya. Aliran darahnya mendesir. Orang itu, ah ani! Gadis itu, ani ani! Peri berwujud manusia lebih tepatnya. Saat ini dia tengah berada tepat di depan Siwon, menyunggingkan senyuman manis membuat Siwon sulit untuk menelan ocha-nya.

“Boleh aku duduk disini?” Ia menunjuk bangku Siwon, tempat kosong di dekat Siwon. Pertanyaan itu seketika membuyarkan Siwon dari ketercengangannya. Dengan susah payah, Siwon berusaha untuk bersikap senormal mungkin, menghilangkan rasa gugupnya. “Emm.. ah eng…” nadanya bergetar, tubuhnya tak terkontrol untuk tak bergetar. “Mianhae, tapi tempatku biasa duduk sedang di pakai meeting oleh mereka.” Yoona menunjuk bangku taman di seberang, tak begitu jauh dari tempatnya. Siwon tersenyum geli, menhan tawa mengetahui ‘mereka’ siapa yang dimaksud oleh gadis ini. Sekumpulan burung merpati yang mematu-matuk mulutnya di bangku itu.

“Jadi… apa kau mengizinkanku duduk?” tanya ulang Yoona. Siwon kembali memandang Yoona, bagaimana bisa ia akan menolak hal itu? Tentu saja tidak!

Siwon menganggukkan kepala sebagai jawaban dengan menyunggingkan senyum terbaik yang ia punya. Meski yang tercipta hanyalah senyum tipis, itu karna dia terlalu gugup. Dengan senyum reka Yoona duduk tepat di samping Siwon. Gadis itu membuka tas selempengannya kemudian mengeluarkan sebuah novel dari dalamnya.

Sementara Yoona sibuk dengan dunianya sendiri. Tanpa ia ketahui beberapa kali Siwon mencuri-curi pandang menatap gadis itu. Siwon merasa akan sangat bodoh jika pada kesempatan ini tak digunakannya untuk mengeluarkan sepatah katapun pada gadis ini. Lalu apa yang harus ia katakan? Menanyakan nama? Haruskah? Padahal ia sudah tahu nama gadis itu bahkan sejak masuk SMA. Lantas apa? Menanyakan hobi? Warna kesukaanya? Makanan favoritnya? Ah, mengapa sangat sulit mengawali sebuah pembicaraan?

“Apa kau suka membaca?” Siwon terhenyak, gadis itu baru saja memulai pembicaraan diantara mereka. Choi Siwon! Betapa pecundang dirimu ini!

“Emm… sedikit,” jawabnya dengan susah payah, menetralkan sikapnya. “Tapi aku cukup tahu tentang novel yang kau baca!” semprot Siwon, bicara tanpa jeda juga sangat cepat. Yoona mengernyit, menatap aneh pria berkacamata di depannya ini. “Kau bicara apa?” tanyanya bingung. Siwon kembali merutuki dirinya sendiri. Ada apa dengannya? Bicara seperti itu saja sampai segugup itu. Benar-benar payah!

“Emm… aku.. cukup tahu jalan cerita novel yang kau baca.” Dalam hati Siwon bernafas lega. Satu kaliamat berhasil diselesaikannya dengan sedikit lancar. Setidaknya tak seburuk yang tadi.

Yoona menatap Siwon sejenak, sejurus kemudian ia meledakkan tawanya. Pria berkacamata itu giliran yang mngernyit bingung. Apa yang lucu?

“Kau… apa yang kau tertawakan?” tanyanya dengan nada lebih rileks. “Kenapa kau lucu sekali, di tiap awal kau bicara selalu saja ‘emm…’ apa itu tradisi tata bicaramu?” di sela-sela tawanya, Yoona melontarkan pertanyaan yang membuat Siwon bertambah bingung. Benarkah seperti itu? Itu berarti ia kentara gugup?

Hanya dengan sepersekian detik, Siwon terpaku melihat tawa Yoona. Lihat, bagaimana gadis ini tertawa! Ia tak hanya tertawa untuk dirinya sendiri namun juga mengajak orang lain untuk ikut tertawa ketika melihatnya sebahagia ini. Membuat hati tentram hanya dengan melihat tawanya, seakan mengangkat beban berat dalam tubuh Siwon. Ah, Im YoonA, kau memang peri tak bersayap, dewi bumi yang sempurna.

~[]~

 

Nichkhun berjalan dengan membawa dua cafe latte di tangannya, menuju kearah dua gadis yang tengah bercengkrama di bangku taman kampus. Dengan dahi berkerut, Nichkhun memandang aneh sosok pria berkacamata ketika ia melewati sebuah bangku taman tak jauh dari tempat dua gadis tadi. Nichkhun mengikuti arah pandang pria berkacamata itu, pandangannya tetuju pada Yoona. Semakin membuat Nickhun menngernyit ketika pria itu tersenyum geli. Memang apanya yang lucu?

Nichkhun baru akan meleggang pergi, mengacuhkan pria aneh ini ketika tak sengaja pandangan mereka bertemu. Seperti maling yang tertangkap basah, Siwon segera menghapus senyum yang tergambar di bibirnya kemudian mengalihkan pandangannya dari Nichkhun. Sementara Nichkhun buru-buru melanjutkan jalannya menuju kearah Yoona dan Tiffany.

“Kenapa lama sekali, Oppa?” Tiffany bergelayut manja pada lengan Nichkhun. Pria itu tersenyum simpul. “Maafkan Oppa. Tadi masih antri, sayang,” katanya sambil memberikan secangkir cafe latte pada Tiffany.

Yoona memutar bola matanya, melihat adegan sepasang kekasih di depannya itu. “Oh, ayolah! Jangan ber-lovey dovey di depanku Tuan Horvejkul dan Nyonya Horvejkul yang terhormat,” katanya dengan berdecak kesal. “Aigoo apa kau cemburu, tidak bisa bermesra-mesraan dengan tunanganmu?” goda Tiffany masih dengan posisi memeluk lengan Nichkhun.

“Tidak! Tidak ada gunnya!” Yoona merebut cafe latte milik Nichkhun dan langsung meminumnya. “Ya ya ya! Itu punyaku nona omnivora!” Nichkhun berkata kesal namun tak digubris oleh Yoona karna gadis itu malah lanjut membca novelnya. Tiffany tertawa renyah melihat tingkah sahabat serta kekasihnya itu. Sudah menjadi tradisi jika mereka bertemu pasti akan beradu mulut. “Hei.. Yoong, bagaimana kabar tunanganmu?” tanya tiffany kembali pada pembicaraan serius. Yoona menghela nafas sejenak kemudian mengangkat bahu tanda tak tahu atau bahkan tak peduli.

“Kau ini bagaimana? Sebentar lagi kan pesta pertunangan kalian,” kata Tiffany mengingatkan. “Aku tahu.” Yoona menjawab seadanya. Tak sengaja sebuah sticky note jatuh dari halaman novelnya. Yoona memungut dan mengamatinya. Tulisan dari Tuan loker. Dan tanpa ia sadari sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah lengkungan indah.

Oppa, kenapa sedari tadi kau melihat ke belakang? Ada apa?” pertanyaan Tiffany membuat Nichkhun maupun Yoona beralih dari objek awal mereka. “Euh? Em… tidak, hanya saja pria itu kuperhatikan sedang mengawasi kita.” Tiffany dan Yoona mengikuti arah pandang Nichkhun, menemukan seorang pria yang tak memperlihatkan wajahnya karna terhalang oleh laptop. “Memangnya siapa dia?” tanya Tiffany beralih memandang Nichkhun. “Dia Choi Siwon, anak dari Choi Kiho. Salah satu orang penting di kampus ini. Dia, bukankah satu jurusan denganmu, Yoong? Bukankah dia juga satu sekolah denganmu ketika SMA?” tanya Nichkhun pada Yoona yang tak mengalihkan pandangannya dari pria dari balik laptop itu. “Benarkah? Kemarin aku sempat mengobrol dengannya tapi lupa menanyakan namanya. Dia anak yang pendiam,” kata Yoona kemudian beralih memandang Nichkhun dan Tiffany.

~[]~

Siwon baru saja sampai di halte bus dengan berlarian dari gerbang kampus. Ia sedikit membersihkan jaketnya lantaran hujan yang sudah mengguyur kota Seoul sejak dua jam yang lalu. Malam ini nampaknya akan dihiasi dengan rintik hujan, melihat sebagaimana deras air langit turun. “Apa bis tidak beroprasi saat hujan? Kenapa tidak juga ada bis yang lewat?” gumam Siwon. Ia menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya, menciptakan kehangatan untuk dirinya sendiri. Beberapa saat kemudian, seorang gadis dengan dress biru sebatas lutut, berlari dari arah gerbang kampus kemudian berteduh di halte bus yang sama dengan Siwon. Rambutnya sudah basah oleh air hujan, bajunyapun ikut basah kuyup. Siwon menoleh kearah gadis itu. “Yoona-ssi,” panggilnya. Yoona memutar kepalanya kearah sumber suara. “Oh, kau?” Yoona tersenyum lembut menyambutnya.

“Sedang apa kau?”

“Tentu saja menunggu bis. Mana ada orang menunggu pesawat di halte,” jawab Yoona dengan nada gurauan. Siwon mengulum senyum. Gadis itu selalu saja bisa mencairkan suasana. Dan ‘lagi’ ia menyesalkan tidak mengenal dekat Yoona lebih awal. Siwon baru akan melontarkan pertayaan ketika melihat tubuh kecil Yoona mengigil, wajahnya trlihat pucat. “Gwanchana?” Siwon mendekat kearah Yoona. “Kenapa dingin sekali…” Yoona bergumam dengan bibir bergetar. Siwon melepaskan jaketnya kemudian memakaiakannya ke pundak Yoona. Entah dorongan dari mana atau secara refleks, Siwon menggosok-gosok punggung tangan Yoona. Berharap gadis itu mendapatkan kehangatan. Dengan mata sayu, Yoona mendongak menatap Siwon. Ia tersenyum simpul. “Gomawo,” katanya dengan suara pelan. Siwon hanya menatapnya sekilas kemudian melanjutkan kegiatannya. Ia juga menggosokkan telapak tangannya kemudian menempelkan pada pipi Yoona. Gadis itu pasti kedinginan.

Sekelebet Siwon melihat sebuah taxi lewat. Tak membuang waktu ia langsung menghentikan taxi itu.

“Termakasih banyak. Jaketmu akan ku kembalikan besok.” Yoona berkata ketika ia sudah duduk di bangku belakang dalam taxi. Siwon yang berada di luar taxi hanya mengangguk, tak memedulikan derasnya hujan yang mengguyur seluruh tubuhnya. “Ah, iya pria berkacamata. Siapa namamu?” Siwon menyunggingkan senyum miring. Sejak perbincangannya dengan Yoona hari itu hingga saat ini Yoona belum juga tahu siapa namanya. “Aku tak keberatan jika kau memanggilku pria berkacamata.” Siwon memberikan senyum tulusnya. Mungkin ia akan mrnganggap panggilan itu merupakan panggilan khusus dari Yoona yang ditujukan untuknya.

“Tapi sangat tidak adil bukan….”

Ahjussi, tolong antarkan gadis ini sampai rumahnya.” Siwon memotong ucapan Yoona. Ia tak ingin terus berdebat yang pada akhirnya ia tak tega untuk bersikukuh dengan gadis yang dicintainya ini. Sopir taxi itu mengangguk. Yoona mempoutkan bibirnya namun tak melawan. Siwon memandang taxi itu perlahan berjalan menjauh darinya. Ada perasaan sedih juga senang. Sedih karna ia tak dapat dikenal oleh gadis itu, namanya bahkan tidak diketahui gadis itu namun ia juga senang. Setidaknya malam ini ia bisa menyentuh kulit lembut Yoona. Siwon memandang tangannya dengan senyum mengembang kemudian mengusap-usapnya. Sedetik kemudian dengan wajah tegang ia memasukkan tangannya ke dalam T-shirt hitam yang ia kenakan. “Ya! Tanganku kena hujan,” katanya kesal, mengetahui jejak sentuhannya pada pipi Yoona terguyur oleh air langit.

“Hei…..!” mendengar seseorang berteriak membuat Siwon mendongak. Yoona melambaikan tangan dari dalam taxi itu, kepalanya menyumbul keluar dari jendela mobil. “Aku tahu namamu. Kau, Choi Kiho kan?” Yoona berteriak dengan jarak agak jauh dari Siwon. Pria berkacamata itu sudah akan menyunggingkan senyumnya ketika mendengar Yoona mengetahui namanya, namun pudar seketika saat Yoona menyebutkan nama yang salah. Itukan nama ayahnya.

“Senang bertemu denganmu, Kiho-ssi.” Masih dengan senyum mengembang Yoona melambaikan tangannya. Siwon terhenyak dengan gerak refleks ia balas melambaikan tangan dan tersenyum reka. “Nde, Yoona-ssi.” Dalam senyum itu ada sejuta harapan. Harapan gadis itu dapat dengan fasih menyebutkan namanya, harapan bahwa gadis itu dapat melihat eksistensinya bukan sebagai orang lain namun lebih dari itu.

~[]~

 

‘Hachiiiing!’

‘Hachiiing!’

Siwon menggosokkan telunjuknya pada hidung. Sudah tiga hari ini ia mengidap flu dan demam, tak kunjung sembuh padahal ia merasa sudah rutin meminum obat. “Kemana Sooyoung? Kenapa kuliahnya lama sekali?” Siwon bergumam dari balik selimut tebal yang membungkus tubuhnya. Perutnya serasa lapar. Tadi ada pelayan rumah yang memberinya makanan tapi ia tidak mau, ia hanya mau makan ketika sakit, jika itu buatan Nyonya Choi atau Sooyoung. Karna Ayah dan Ibunya sedang pergi mengunjungi kakeknya di Busan terpaksa ia hanya dapat mengandalkan Sooyoung.

‘Brak!’

Siwon menyumbulkan kepalanya dari balik selimut, kesal dengan orang yang tiba-tiba mendobrak pintu kamarnya. Benar-benar tidak tahu tata krama. “Ya! SooSikhshin, kenapa membanting-banting pintu orang? Kau pikir….”

Oppa… hosh… hosshh….” Sooyoung berkata dengan nafas terengah, tangannya bertumpu di lutut. Membuat Siwon mengerutkan dahi. “Wae?”

“Yoona, Im Yoona….”

Ye, ada apa dengannya? Bicara yang jelas Soo..” Siwon semakin geram karna adiknya itu tak juga melanjutkan ucapannya. “Pesawatnya akan terbang tiga puluh menit lagi..”

Mwo?” Siwon terbelalak mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Sooyoung. “Hari ini ia akan pindah ke belanda,” jelas Sooyoung yang sudah lebih menormalkan kerja jantungnya. Setelah mendapat kabar kepindahan Yoona, Sooyoung tak membuang waktu lagi. Ia langsung bergegas pulang dan memberitahukannya pada Siwon.

Siwon terdiam beberapa saat. Hatinya kalut, pikirannya tak menentu. Membayangkan Yoona, gadis yang dicintainya pergi begitu saja tanpa sepatah kata. Bahkan sebelum ia sempat mengungkapkan perasaannya selama tujuh tahun ini.

Oppa! Apa yang kau lakukan? Cepat kejar dia dan nyatakan perasaanmu padanya sebelum terlambat!” Sooyoung memekik, kesal dengan respon yang diberikan Siwon. Seperti tersadar dari lamunannya, Siwon menyibakkan selimutnya kemudian berlari keluar kamar.

Siwon menghentikan sebuah taxi yang melaju di depannya. “Incheon Airport,” katanya yang langsung dingguki oleh supir taxi. Dalam perjalanannya, ada semburat kegelisahan menghampirinya. Untaian doa ia panjatkan agar pesawat yang ditumpangi Yoona belum take off.

~[]~

 

Sementara itu ditempat berbeda namun dengan waktu yang sama, dua orang gadis tengah berpelukkan di tengah kebisingan orang-orang yang mau pergi juga baru datang dari luar negeri. Mungkin ini akan menjadi pelukan hangat terakhir yang dapat mereka rasakan. Tiffany menitikan air mata, sulit baginya jauh dari Yoona. Sahabat yang sudah ia anggap sebagai saudara sendiri. “Ya! Jangan menangis! Kenapa kau cengeng sekali, huh?” Yoona menghapus air mata Tiffany kemudian mengusap pelan pundak gadis itu. “Aku akan sangat merindukanmu, Yoong. Beritahu aku saat pernikahanmu nanti. Aku pasti akan datang ke Belanda,” ujar Tiffany masih dengan mata yang banjir oleh air mata. Yoona mengangguk, air matanya juga jatuh dari pelupuk mata. Yoona beralih menatap Nickhun. Hari ini hanya mereka berdua yang mengantarkannya ke bandara. Kedua orangtuanya telah lebih dulu terbang ke negeri kincir angin itu.

“Jaga baik-baik bayi kecilku ini! Dia sangat sensitif, jadi kau harus banyak bersabar untuk menghadapi sikap manjanya.” Yoona menepuk-nepuk bahu Nichkhun. Pria itu hanya mampu memanggutkan kepala. Matanya ikut basah namun tak sampai menetes. Biar bagaimanapun Yoona adalah sahabatnya jauh sebelum ia bertemu dengan Tiffany.

Yoona menarik nafasnya dalam. Menghirup kuat udara Seoul untuk kali terakhirnya. Ia tak tahu kapan ia akan menginjakkan kaki di tanah kelahirannya lagi. “Aku berangkat. Sampai jumpa..” Yoona memaksakan senyumnya untuk kedua sahabatnya. Ia menarik koper besarnya, berbalik dan mulai berjalan. Nichkhun merangkul Tiffany, ia tahu kekasihnya itu pasti berat melepas kepergian Yoona.

Sebelum benar-benar masuk ke area calon penumpang pesawat, tiba-tiba saja Yoona menghentikan langkahnya. Kepalanya menoleh kebelakang, matanya mencari-cari seseorang. Entah siapa sebenarnya yang ia harapkan datang sebelum ia benar-benar meninggalkan negara ini. Tuan lokerkah? Atau si pria berkacamata?

~[]~

 

Dengan nafas tersenggal Siwon berlari dari lantai satu menuju roftoop gedung dengan menggunakan tangga darurat. Sialnya ketika ia sedang terburu-buru, taxi yang ditumpanginya tiba-tiba saja mogok. Sementara ia tak lagi memiliki waktu yang cukup untuk sampai di bandara.

Siwon terengah-engah begitu sampai pada lantai paling atas sebuah gedung pencakar langit, salah satu gedung tertinggi di kota Seoul. Tepat ketika ia berhasil menegakkan tubuhnya. Sebuah pesawat meluncur, lepas landas dari arah bandara Incheon.

“Im Yoona….!” Siwon berteriak dengan menempelkan tangannya yang dibuat melingkar- sebagai pengeras suara, tepat di bibirnya. ”Aku mencintaimu! Apa kau dengar? AKU MENCINTAIMU!” ia berteriak sekuat yang ia bisa. Meski ia tahu gadis yang telah duduk dalam bangku pesawat itu takkan bisa mendengar pernyataannya. Setidaknya ia ingin mengutarakan perasaan yang terpendam itu. Perasaan yang ia miliki sendiri. Perasaan yang mendorongnya merangkai kata hanya utnuk gadis cantik di seberng bangku taman kampus. Perasaan seorang pria berkacamata kepada gadis peri tak bersayap. Perasaan yang membuatnya mengetahui apa arti cinta yang sesungguhnya. Dan perasaan yang tak terbalaskan.

Perlahan matanya mulai terpejam, merasakan setetes bulih bening mengalir dari sudut matanya. Semilir angin musim semi menerpa wajahnya. Menyeruak hingga rongga dada. Tangannya tergerak merogoh saku celana, mengeluarkan sebuah sticky note berwarna biru dongker. Mata itu masih terpejam. Ia hanya mengikuti irama angin dan seruan hati kecilnya. Perlahan namun pasti genggaman pada sticky note itu mulai memudar. Memudar, memudar dan memudar.. sampai tangannya terbuka lebar. “Im Yoona.. Saranghaeyo, by Choi Siwon (pria berkacamata dan juga Tuan loker, si pengagum rahasiamu)” Hembusan angin musim semi membawa secarik kertas mungil itu ikut bersamanya. Pergi dari genggaman Siwon, entah kemana angin akan menuntun arah kertas itu.

Tujuh tahun cintanya apakah harus ia hapus begitu saja? Tidak! Siwon tidak akan melupakan perasaan cinta tujuh tahun pada peri tak bersayap itu. Biarlah ini menjadi diary kisah cintanya. Siwon tidak akan menolak jika kelak takdir kembali mempertemukan mereka. Sebagai jiwa yang baru dan ia harap kali itu ia tak lagi menjadi pria pecundang yang hanya dapat bersembunyi dari balik lensa kacamata, hanya dapat menjadi bayang peri tak bersayapnya. Ia cukup menyesali waktu dimasa lalu, ketika banyak kesempatan menyatakan perasaannya namun tak pernah ia gunakan.

Ah, Siwon cukup tahu arti cinta dari kisah ini. Ia sudah bisa benafas lega meski sesak di dada tak dapat terobatkan. Ia menghirup dalam hembusan angin musin semi. Cinta memang tak harus memiliki. Kau tahu apa yang bisa merusak rasa sayangmu? Rasa ingin saling memiliki yang begitu dahsyat. Itulah yang menciptakan rasa ego. Dan setelah saling memiliki, semua akan terasa hambar. Jelas Siwon tahu betul arti kata itu. Ia mulai belajar dari sini, tak perlu harus memilikinya jika menginginkan ia bahagia. Seseorang pernah berkata bahwa bagian terbaik dari sebuah hubungan adalah sebelum hubungan itu benar-benar terjadi. Dan Siwon hanya ingin menjaga hal itu. Ia mencintai Yoona dengan caranya sendiri, yang tak dapat diraskan bahkan dilihat oleh orang lain. Sesederhana itu.

Terkadang kisah cintamu menyerupai kisah roman picisan yang tertayang di tv dengan gambaran percintaan yang sangat klise dan pasaran. Sangat mudah ditebak akhirnya, dan itulah yang terjadi. Sama halnya ketika kau membaca buku favoritmu berulang-ulang kali. Kau sudah tahu pasti akhirnya seperti apa bukan? Namun kenapa tetap kau baca?

Karena jalinan takdir cerita romansa yang picisan sesederhana itu, sesimpel itu. karena cinta tak harus memiliki.

Dan jauh dari tempat Siwon berada. Disebuah gedung kampus pada sebuah ruang. Sebuah sticky note berwarna merah muda tertempel di loker dengan bertuliskan, “Hai Tuan loker, aku ingin mengucapka terimakasih padamu. Terimakasih atas kalimat-kalimat indah yang selalu kau tulis untukku. Sungguh sebuah sanjungan manis bagiku menemukan sosok sepertimu yang mau repot menulis untaian kata indah itu. Dan maaf karena aku tak dapat membalas satupun kalimat-kalimat indahmu. Aku bukanlah seseorang yang pandai merangkai kata^^ sekali lagi terimaksih banyak. Aku sempat kecewa ketika tiga hari sebelum keperginku, tak ku temukan lagi kalimat-kalimat itu. Tapi ya sudahlah aku sangat senang mendapat teman sebaikmu. Kuharap kelak aku dapat mengenalmu lebih dekat^^ Yoona.”

Tak jauh dari loker itu, tepat empat loker darinya juga tertempel sebuah sticky note berwarna merah muda. “Annyeong.. apa kabar pria berkacamata? Apa kau sakit setelah malam itu? hmm… sayang sekali padahal aku ingin mengembalikkan jaketmu sekaligus minta maaf. Aku salah memanggil namamu malam itu. Haha.. mianhae ne, Choi Siwon-ssi?^^ Aku pernah berharap jika saja kau adalah Tuan lokerku haha… betapa bodohnya pikiran itu. aku takkan berfikiran seperti itu lagi^^ ah iya, aku ingin mengucapkan terimakasih padamu. Terimakasih untuk malam itu, mungkin jika tidak ada kau aku bisa mati kedinginan. Dan yah, kuharap selamanya kau bisa menjadi sahabatku meski baru mengenal kepribadianmu tapi aku yakin kau adalah sosok dengan pribadi hangat^^ semoga harimu menyenangkan pria berkacamata. Sahabatmu, Yoona.

Angin musim semi bertiup agak kencang. Masuk dari luar kedalam ruang itu. Turut menerbangkan dua sticky note berwarna merah muda yang sama, dari pengirim yang sama dan sebenarnya ditujukan untuk orang yang sama pula. Angin musin semi yang tak ingin diganggu oleh gugurnya perasaan cinta membawa ketiga sticky note itu terbang pada arah yang sama. Menyembunyikan sebuah fakta dari dua insan itu.

Ini sebuah pilihan. Siwon telah memilih untuk memendam perasaannya selama tujuh tahun itu sementara Yoona telah memilih untuk menutup segala kemungkinan dan memilih untuk meneruskan pertunangannya. Kau tahu, terkadang memang seseorang ditakdirkan untuk dipertemukan lalu tumbuh benih cinta di antara mereka namun pada hakekatnya mereka tidak ditakdirkan untuk bersama. Hal-hal diluar kendali manusia.

Mungkin untuk saat ini Siwon dan Yoona tak dapat menyatukan cinta mereka namun bisa saja di kehidupan mendatang mereka ditakdirkan untuk bersama.

~FIN~

 

Cuap-cuap author: Dan saya tahu ini os saya yang paling hancur dan sangat tidak disukai oleh para readers, iyakan? Hahaha….. mau bagaimana lagi ini udah ada di otak. Dan ehem.. ehem.. ide cerita memang udah pasaran. Kemarinpun bunda uchie udah meluncurkan[?] cerita semacam ini. Emang kita sehati kok haha😀 #plak! Ini juga sayang banget rasanya kalo dibuang jadi yah seperti inilah hasilnya. Pengetikkan semalam jadi menjelang UN. Oh iya, sekaligus saya mau minta doanya benar-benar minta doa buat kelancaran UN >,< yang mau UN juga saya doain kok. Sama-sama saling mendoakan yah semoga LULUS 100% *Amiiiiiiiiiiiiiiinn…..

Jangan hanya karna ending-nya kaya gini readers jadi benci saya yah^^ sepertinya memang saya paling sering bikin ff gantung[?] ++ sadding yang tentu sangat tidak mengenakkan. Tapi tenang saja, pasca UN saya akan membayar kekesalan kalian dengan sebuah cerita yang pasti gak bikin kalian galau+mengutuk saya lagi^^ tapi hanya OS and longstory *maybe* ada juga project ff yang bakal saya luncurkan hasil garapan saya dengan teman sekelas. Dia juga author, seorang YoonAddict^^  tunggu aku seminggu lagi yah… *PD akut -___-

Oke, komentar sangat ditunggu^^

Buat Echa eonni makasih udah mau post cerita ini^^ (sama2🙂 )

paii_ paii #tebar kiss :*

Tinggalkan komentar

122 Komentar

  1. Yulisa

     /  April 19, 2013

    Yaaahhh…
    Knp yoonwon tak brstu… T.T
    Wonppa knp gak nyta.in cnta ma yoonnie siiihhh…

    Balas
  2. Maharani Ayu Sagita

     /  April 20, 2013

    #big hug you back so tight ><

    Sure, always love you too much. LOVE MUCH❤

    Tentu Saeng, sama-sama.
    You're welcome. :*
    Speechless to me?
    Ah… i maybe speechless to you twice even more than it. Hehe

    FIGHTING for everything.
    Success!❤

    Balas
  3. Saeng aku mulai ngga suka nih sma ffmu, kenapa blakangan ini klo ngga nggantung ya sad ending sih alurnya -______-
    Gantungin jga nih saeng nulul u,u

    Jgan sering2 ya njejelin ff nggantung sm sad ending lgi. Bisa2 aku melankolis idupnya apahubungannyacoba?
    Yoonwon lg bahagia jdi plis tlg bgt aku mohon bkin yg happy endingan!!! #nuntut

    Yah, scra pnulisan udh baguss🙂

    Balas
  4. Saeng aku mulai ngga suka nih sma ffmu, kenapa blakangan ini klo ngga nggantung ya sad ending sih alurnya -______-
    Gantungin jga nih saeng nulul u,u

    Jgan sering2 ya njejelin ff nggantung sm sad ending lgi. Bisa2 aku melankolis idupnya apahubungannyacoba?
    Yoonwon lg bahagia jdi plis tlg bgt aku mohon bkin yg happy endingan!!! #nuntut

    Yah, scra pnulisan udh baguss🙂

    Balas
  5. Saeng aku mulai ngga suka nih sma ffmu, kenapa blakangan ini klo ngga nggantung ya sad ending sih alurnya -______-
    Gantungin jga nih saeng nulul u,u

    Jgan sering2 ya njejelin ff nggantung sm sad ending lgi. Bisa2 aku melankolis idupnya #apahubungannyacoba?
    Yoonwon lg bahagia jdi plis tlg bgt aku mohon bkin yg happy endingan!!! #nuntut

    Yah, scra pnulisan udh baguss🙂

    Balas
  6. huaaaahhh…. knpa g bsa brstu,sdih bgt…

    Balas
  7. lia yoonwonited

     /  Mei 17, 2013

    bgusss ffnya eon
    daebakk

    Balas
  8. i'm sure

     /  Mei 23, 2013

    hua, kenapa nggantung ….

    Balas
  9. Jung Eun Soo

     /  Juni 20, 2013

    Ini ceritanya gantung.. Tapi saya belom baca Nothing Impossible (sekuelnya)..
    Ceritanya sad ending, cinta yang tak terbalaskan 😦
    Kasian Siwon.. Mungkin sebenernya Yoona suka tuh sama ‘Tuan Loker’ atau ‘Pria berkacamata’, tapi dia gak tau kalo itu ya Siwon..
    Tapi beneran, cerita ini gantung banget.. Kirain, Yoona bakal kabur dari bandara terus tiba-tiba muncul di belakang Siwon atau nggak sticky note nya Siwon yg dia tulis terakhir terbang ke arah Yoona.. Eh ternyata nggak ._.

    *maaf reader satu ini nyepam pol-polan*

    Balas
  10. Kasihan…;( knpa nggak di nyatain aja perasaannya,jdinyakan hilang kesempatan buat mencintai yoona seutuhnya…;(

    Balas
  11. kata-katanya mengharukan!! :’) mian cuman bisa comment segini T^T aku gatau mau comment apa lagi di FF daebakk ini kkk~ ditunggu FFnya..

    Balas
  12. miyoon

     /  Juni 28, 2013

    Sad ending lagi ;(

    Balas
  13. aat yoonwon

     /  Juli 9, 2013

    Napa endingnya kayak gini sedih karena YOONWON gk brsatu

    Balas
  14. sad ending😦

    Balas
  15. Wahhh terharu bacanya
    Daebakk thorr

    Balas
  16. kerennn jarang banget ff yg kayak gini
    keep writing chingu

    Balas
  17. yahhh sad ending😦

    Balas
  18. Gak ada bosan” nya deh baca ff ini.aku suka kaliiii baca ff ini

    Balas
  19. Raya

     /  Oktober 28, 2013

    wahh min end yang tdk dharapkan sequel don minn…… tapi daebakk koq

    Balas
  20. nunung

     /  Desember 2, 2013

    Ini kog gini ya ceritanya sedih banget…..cinta tak tersampaikan

    Balas
  21. Ini kata katanya keren banget thor

    Balas
  22. lala/ind

     /  Januari 24, 2014

    sedih bacanya. Moga2 sekuelnxa happy ending.. Pokoknya yw hrs bersatu

    Balas
  23. Riwoon

     /  Februari 14, 2014

    Kisah yg baru yg bkin pnasaran… Wonpa yg mistirius untuk yoona yg periang bak peri tak bersayap… Semoga ada waktu lain yg bisa menyatukan kisah mereka …:)

    Balas
  24. aat yoonwon

     /  Maret 12, 2014

    Kata2nya keren banget

    Balas
  25. Dwifumi

     /  Maret 30, 2014

    kata-kata yg bgtu indah ..
    bagus sekali thor … Daebakk …

    Balas
  26. Any

     /  Mei 16, 2014

    Kenapa gantung gini akhirnya, sad end bagi yoonwon. bikin galau hidupku nih

    Balas
  27. Mia

     /  Juli 13, 2014

    Knp yoonwon xa ga’ bersatu

    Balas
  28. hanna lee

     /  Juli 20, 2014

    Huaaaa galau bacanya oenn pengenya mereka bersatu :’) tp aku suka bgt sm pemakaian kata2nya puitis sm enak di baca oenn daebakk^^

    Balas
  29. Cha'chaicha

     /  Oktober 30, 2014

    Bagus

    Balas
  30. Kasihan bgt wonppa cintanya bertepuk sebelah tangan
    sayangnya di cerita ini mereka tak bersatu pula
    benar2 sangat menyedihkan

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: