[OS] Doubting Heart

[OS] Doubting Heart

Gambar

Author : misskangen ‖ Length : One Shot ‖ Genre : Romance, Hurt ‖ Rating : General ‖ Main cast : Im Yoona ‖ Support cast : Choi Siwon ‖ Disclaimer : This story is mine instead of the plot and characteristics, but the casts are belongs to themselves and god.

Hello guys, it’s like ‘long time no see’ hehehe…

Sabar, hiatus memang belum berakhir, tapi aku kangen bikin FF. Berhubung sedang di landa stress dan galau jadinya aku buat FF gaje yang buatnya curi-curi waktu lowong di kantor. FF instan ini idenya dangkal banget, aku sampai susah tentuin genre nya. Maklum yaaa orang galau itu entah apa maunya… selamat membaca deh kalau gitu….

Doubting Heart

 

Tahukah kau apa yang disebut dengan bahagia? Aku rasa banyak orang akan menjawab bahagia adalah ketika kau mendapatkan apa yang kau inginkan sehingga kau merasa begitu gembira dalam menjalani hidupmu. Begitupun dengan aku, harusnya aku merasa sangat bahagia karena aku memiliki begitu banyak hal yang dianggap orang adalah sumber kebahagiaan. Materi aku punya, kasih sayang keluarga aku juga punya walau keluargaku bukan keluarga yang lengkap, dan satu lagi… masa depan. Orang bilang masa depanku jelas akan membuatku bahagia karena aku memiliki segalanya termasuk urusan pernikahan, aku telah memiliki seorang pria idaman yang menjadi tunanganku.

Lantas tahukah kau apa yang disebut dengan cinta? Sulit bagiku untuk menjelaskan apa itu cinta. Yang jelas kehadirannya yang aku rasakan di dalam hati, rasa yang membuatku begitu bahagia ketika ia tumbuh begitu saja tanpa sanggup aku mengaturnya.

Tapi tahukah kau kapan cinta itu terasa berbeda, bukannya menjadi suatu kebahagiaan malah mendatangkan keraguan, kecemasan, bahkan kepahitan dalam hatimu? Aku tahu dengan jelas kapan saat itu datang, karena aku sedang merasakannya sekarang. Aku mempunyai cinta yang telah ada sejak lama, bukan cintaku untuk keluargaku, tapi cintaku untuk seorang pria yang begitu kupuja.

Aku mengenal pria itu sejak lama, bahkan ketika aku masih duduk di bangku sekolah menengah. Saat itu ia adalah seorang mahasiswa sebuah universitas terkemuka di Korea. Ia adalah anak dari rekan bisnis kakekku. Pria itu sering diajak oleh ayahnya ketika mengunjungi rumahku dalam rangka pertemuan bisnis dan lain sebagainya. Aku tak pernah mau mengerti mengapa kakek sering membawa pekerjaannya ke rumah. Kakek sering memintaku menemani pria itu ketika ia datang sehingga tidak terlalu bosan dengan pembicaraan para tetua.

Aku melihatnya sebagai sosok pria muda yang tampan, gagah, gentle, dan sopan. Walaupun ia bukan tipe orang yang banyak bicara atau bertingkah luar biasa, tapi aku menganggap pribadinya menarik. Saat itu aku mulai menyadari dengan perasaanku padanya, aku menyukainya.

“Choi Siwon imnida..” pertama kali aku mendengar suaranya yang lembut dan manlysesuai dengan perawakannya. “Im Yoona imnida..” aku menjawab dengan malu-malu, menyadari diriku yang cukup gugup berada di dekat pria seperti dirinya. Ini pertama kali aku merasa tidak karuan dengan perasaanku saat bertemu dengan lawan jenis, biasanya aku bisa bersikap normal bahkan kepada siswa paling populer di sekolahku yang menjadi pujaan para siswi.

Aku berinisiatif mengajaknya mengobrol, ia menjawab semua pertanyaanku secara ringkas. Tadinya aku menganggap ia pelit sekali untuk mengeluarkan suara, tapi lama kelamaan ia mau juga berbicara sedikit panjang lebar kepadaku. Setidaknya ia mau bercerita tentang kesukaannya, hobinya, dan kegiatannya walau semua diungkapkan secara singkat dan padat. Aku merasa cukup senang berada di dekatnya, senyumannya yang memperlihatkan kedua lesung pipinya selalu sukses membuatku panas dingin tiap kali memandangnya.

Hari demi hari, bulan demi bulan berlalu. Aku dan dia semakin akrab, aku sudah memanggilnya dengan sebutan ‘Oppa’ bukan lagi panggilan dengan embel-embel kesopanan yang biasa digunakan. Terlebih usianya memang lebih tua 4 tahun dariku. Aku sering kali mencari banyak alasan untuk bertemu dengannya, termasuk untuk mengajariku belajar dan kuakui ia adalah guru yang baik. Aku tahu ia orang yang sibuk dengan segala kegiatan akademiknya, namun ia selalu bersedia meluangkan waktu untukku. Hal ini membuatku jadi besar kepala, aku merasa telah menjadi seseorang yang penting untuknya sehingga tanpa disadari perasaan sukaku padanya semakin nyata bahkan menjurus ke arah yang lebih dalam, yaitu cinta.

Aku begitu gembira saat ia memperkenalkanku kepada teman-temannya, tiga orang pria yang cukup tampan dan aku tebak mereka berasal dari keluarga berada. Mereka sangat ramah, hanya saja mereka lebih berisik dari pada Siwon Oppa. Jantungku berdetak begitu cepat ketika teman-temannya menanyakan apa hubunganku dengan Siwon. Tubuhku terasa dingin menunggu jawabannya, ia tersenyum malu dan menjawab “dia temanku dan sudah kuanggap seperti adik”. Seketika napasku sesak, hatiku terasa sakit  mendengar jawaban yang keluar dari mulutnya. Tapi bagaimanapun aku tak bisa marah ataupun protes, karena memang tidak ada hubungan lebih jauh antara aku dan dirinya, memang hanya sekedar teman. Namun aku tak pernah menganggap dirinya sebagai kakakku, karena dia bukan orang yang tepat untuk posisi itu.

Bukannya aku tanpa usaha untuk membuatnya melihatku, memperhatikan aku, bahwa aku bukan hanya sekedar gadis yang selalu ada di sampingnya untuk menemani harinya. Tapi aku adalah gadis yang memiliki perasaan ‘lebih’ padanya. Semua yang aku lakukan untuk menunjukkan perhatianku dan rasa sukaku padanya tampak berakhir sia-sia. Ia hanya menganggap perilakuku sebagai hal yang wajar dilakukan kepada teman ‘dekat’. Tentu saja aku kecewa dengan semua ini, sekali lagi aku berada pada titik nadir kebimbanganku akan perasaanku padanya.

~~0~~

Suatu saat ketika aku sudah tak lagi sanggup menahan gelora dalam hatiku, aku memutuskan untuk menyatakan perasaanku padanya. Saat itu ia datang menemuiku yang menunggunya di coffee shop tidak jauh dari kantor ayahnya. Aku terpukau dengan penampilannya, menggunakan setelan jas biru tua yang sangat rapi membuatnya terlihat pantas untuk menjadi seorang eksekutif muda yang sukses. Terlebih saat ia tersenyum padaku dan mengambil posisi duduk di depanku.

Mianhae, aku terlambat. Rapatnya baru saja selesai,” sesalnya padaku.

Ne, cheonma Oppa..” jawabku sambil tersenyum kecut menutupi kegugupanku.

“Mengapa kau ingin bertemu denganku disini?” tanyanya setelah menyesap espressonya. Aku memandangnya sekilas dan menarik napas untuk menenangkan hati.

“Karena aku merindukanmu,” jawabku dengan nada tenang yang dibuat senormal mungkin. Aku memperhatikan ekspresinya, ia hanya mengangkat sebelah alisnya kemudian tersenyum simpul. Tiba-tiba ia menjulurkan sebelah tangan dan mengacak pelan rambutku.

“Aigoo, uri Yoongie… baru dua minggu tidak bertemu kau sudah merindukanku,” gerutuannya yang begitu enteng membuatku mendongak dan menatapnya intens. “kenapa? Ada yang salah?” tanyanya lagi. Aku berusaha menelan salivaku yang terasa sulit sekali untuk melakukannya.

“Kerinduan ini bukan sekedar rindu, Oppa. Ini lebih dari sekedar ‘aku merindukanmu’. Aku begitu tak nyaman karena tak melihatmu selama beberapa hari, perasaanku tak tenang setiap kali aku mengingatmu. Tidakkah Oppa menyadari ada yang ‘lebih’ disini?” Aku melihat Siwon Oppa mengerutkan keningnya, ia masih menatapku dengan sorot mata tak mengerti.

“Aku…menyukaimu Oppa. Sudah lama aku memiliki perasaan lebih padamu. Aku sudah tak sanggup lagi untuk menyembunyikannya. Terserah apapun jawabanmu, aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku saja,” setelah itu aku menundukkan kepalaku tak lagi berani memandangnya langsung.

Aku mendengarnya menghela napas panjang, aku rasa ia sedang berpikir bagaimana seharusnya bersikap kepadaku. “Kau membuat ini jadi sulit, Yoona-yah. Aku tahu kedekatan kita jelas akan menimbulkan rasa yang lain. Tapi aku sendiri tidak tahu harus bagaimana, sepertinya aku tidak memiliki rasa yang sama denganmu. Tapi aku harap hal ini tidak membuat kita jadi berbeda dan menjauh.”

Aku sudah menyangka akan berakhir seperti ini. Aku ditolak olehnya, tentu saja aku kecewa. Aku ingin marah dan berteriak untuk mengeluarkan semua kekesalanku. Tapi aku menahannya, itu sungguh tidak pantas. Harusnya dari awal aku menyadari bahwa perasaanku hanya sepihak. Cintaku cuma bertepuk sebelah tangan.

Aku tersenyum miris, dan entah keberanian dari mana yang membuatku mendongak menatapnya, sambil berusaha keras menahan air mata yang ingin keluar. “Maafkan aku. Gara-gara aku menyukaimu semua jadi berubah. Sampai kapanpun kita tidak akan pernah sama lagi seperti dulu. Tidak akan ada lagi Siwon dan Yoona yang seperti dulu. Sekali lagi maafkan aku…”

Aku tak lagi mendengar suara dari mulutnya. Kami mengakhiri pertemuan itu dalam diam, dan akupun mengakhiri hari itu dengan menangis di kamarku. Sejak saat itu aku memberi sugesti kepada diri sendiri bahwa cintaku hanya cinta sepihak, ya… cinta yang bertepuk sebelah tangan. Hanya aku yang merasakannya, dan aku tidak boleh berharap untuk mendapat balasan darinya.

Mulai hari itu, aku dan Siwon jarang bertemu. Kami tak lagi sering membuat janji bertemu. Beberapa kali aku sempat bertemu, tapi hanya bertegur sapa saja. Tidak ada lagi obrolan atau candaan di antara aku dan dirinya. Aku seperti kembali ke titik nol, seperti aku pertama kali bertemu dengannya. Rasa canggung dan gugup kembali hadir dalam diriku, hanya saja kali ini semua disebabkan kekecewaanku atas penolakannya.

~~0~~

Aku ingin sekali melupakannya, melupakan perasaanku padanya. Aku menghindarinya, bertemu dengannya hanya akan membuatku semakin kacau. Beberapa minggu ini, aku mencoba berkencan dengan beberapa teman mahasiswa di kampusku. Mereka memiliki karakter yang berbeda-beda. Ada yang bisa membuatku senang, tertawa, terpukau, bahkan terpesona. Tapi ada juga yang membuatku muak dan bosan setengah mati. Kuakui mereka semua menarik, tapi tak satupun dari mereka yang bisa mengubah hatiku, tak satupun yang mampu memunculkan satu rasa yang ‘lebih’ pada diriku. Choi Siwon masih saja memenuhi kepalaku.

Aku terkejut saat sebuah mobil Audi R8 berhenti tepat di depanku saat aku hendak pulang dari kampus. Aku kenal betul siapa pemilik mobil itu, orang yang menjadi penyebab kegelisahanku selama ini. “masuklah Yoong, ada yang ingin aku bicarakan denganmu…”

Aku memaksakan diri masuk ke dalam mobilnya, dan duduk di sebelahnya. Sebenarnya aku tak ingin ikut dengannya dan kembali merasakan situasi canggung itu lagi. Tapi perasaanku yang mendorong agar aku mengikutinya, hingga aku bisa berada dekat lagi dengannya.

“Ada apa Oppa? Kenapa tiba-tiba sekali?” tanyaku membuka suara setelah beberapa waktu dilewati dengan kebisuan di dalam mobilnya. Tiba-tiba ia menepikan mobilnya dan berhenti di sebuah jalanan sepi. Aku menoleh padanya, memberi tatapan penuh tanya. Tidak biasanya ia bersikap seperti ini, layaknya satu kecemasan terpatri di wajahnya. Kini ia menoleh kepadaku, memandangku seperti mencari sesuatu yang salah di wajahku.

“Kau tahu bagaimana aku kan, Yoong??” Aku mengerutkan dahi tidak mengerti. Aku tak menjawab pertanyaannya. Dia mengulurkan tangannya dan memegang kedua bahuku. Lalu ia menatapku jauh ke dalam manik mataku. Aku tahu ia sedanng bersungguh-sungguh, karena ia bukan tipe orang yang suka seenaknya melemparkan candaan kepada orang lain.

“Kau tahu aku bukan orang yang suka berbasa-basi. Apapun itu dan pada siapapun aku berbicara.” Terangnya, aku hanya menganggukkan kepalaku. “Dan aku juga tidak ingin berbasa-basi padamu. Aku minta kau berhenti. Hentikan semua aksi kencan dengan teman priamu. Hentikan semua usahamu untuk melupakanku. Karena aku tidak menyukainya, aku tidak ingin kau terus melakukannya. Aku tidak bisa menerimanya.” Walaupun ia mengatakannya dengan suara pelan, tapi justru terdengar begitu lantang di telingaku.

Aku melebarkan mataku, ingin sekali aku menampar pipiku sendiri bahwa yang baru saja aku dengar darinya adalah kenyataan, bukannya mimpi di siang bolong. “A..apa maksudmu, Oppa?” suaraku kacau karena kegugupanku hingga aku harus meremas jariku sendiri untuk menghilangkannya.

“Jadilah kekasihku, tetaplah di sisiku. Aku tak bisa melihatmu dengan orang lain. Aku tidak nyaman melihatmu dekat dengan pria lain. Aku ingin kau berada di dekatku lagi. Bukan Yoona yang sengaja menghindariku, bukan pula Yoona yang tidak ingin melihatku. Jika memang harus memulai dari awal, asal tidak kehilanganmu aku akan lakukan apapun. Apapun itu…”

Aku memberanikan diri menyentuh wajahnya, mengelus lembut pipinya. Ia masih menatap mataku, sorot matanya yang dingin namun rapuh. Aku masih berpikir semua ini hanya adegan romantis sesaat yang hanya dijumpai di dalam film. Aku ingin meyakinkan diriku bahwa ia bersungguh-sungguh dengan semua kata-kata yang baru diucapkannya. Satu hal yang membuatku meragukannya, ia tidak sedikitpun menyentuh kata ‘suka’ atau ‘cinta’. Mungkinkah ada yang disembunyikannya? Mungkin tentang perasaannya padaku atau ini hanya sebuah keterpaksaan?

Aku menghambur ke pelukannya, memeluk erat tubuhnya. Ini pertama kalinya aku memeluknya dengan rasa yang berbeda, bukan hanya sekedar skinship di antara sepasang sahabat atau teman biasa. Hatiku terasa melayang ketika ia membalas pelukanku. “Tentu aku bersedia menjadi kekasihmu, Oppa. Gomawo… Saranghae…,”itu adalah saat pertama kali aku menyatakan cintaku padanya. Senyumku nyaris musnah ketika aku merasa tubuhnya menegang dalam pelukanku ketika ia mendengar kata cintaku. Aku hanya berusaha mengabaikannya, sebab ini masih kali pertama. Aku akan katakan lebih banyak lagi nantinya.

~~0~~

Aku menjalani hari-hariku dengan penuh kegembiraan sejak aku resmi menjalin kasih dengannya. Aku mempelajari setiap detail dirinya dan sikapnya dari hari ke hari aku bersamanya. Walaupun sibuk, ia selalu berusaha berkomunikasi denganku entah itu lewat telepon atau pesan singkat. Aku tahu persis dia bukan orang yang romantis yang suka mengumbar kata-kata mesra. Bahkan setahun kami berpacaran ia belum sekalipun pernah menyatakan cintanya padaku. Aku menjadi satu-satunya pihak yang selalu mencurahkan segenap perasaanku padanya. Aku menghujaninya dengan pujian maupun pernyataan sayang dan cinta. Ia hanya akan menanggapi dengan senyuman manis atau sekedar mengecup keningku.

Aku tidak pernah berani menyuarakan protesku padanya. Aku tak pernah ingin mengungkit soal keengganannya menyatakan kata cinta padaku. Aku tak ingin merusak momen kedekatanku dengannya, aku tak ingin kehilangan perhatiannya, dan aku tak ingin kehilangan dirinya. Biarlah aku terus merasakan keraguan dalam hati, biar saja aku merasakan bahwa hanya aku yang dimabuk asmara, biar saja aku merasakan cinta sepihak ini sampai seterusnya.

Hubungan kami yang berjalan hampir dua tahun ternyata mendapat perhatian khusus dari kedua keluarga. Kedua orang tua Siwon dan kakekku meminta kami segera meresmikan hubungan yang lebih serius. Selama ini kami tidak pernah berpikir jauh sampai ke arah pernikahan. Terlebih diriku, aku masih konsentrasi dengan kuliah dan tentunya aku juga meragukan Siwon Oppa sendiri. Aku meragukannya akan menyetujui ide pernikahan itu. Di luar dugaanku, Siwon Oppa menyetujuinya bahkan ia tidak sedikitpun mengeluarkan protes.

Aku tak menyangka semudah itu ia menerimanya, aku sendiri sedikit keberatan karena terkesan seperti perjodohan. Kakek menjelaskan bila tidak ada unsur perjodohan disini, yang ada hanya keinginan yang muncul sesuai kondisi. Para orang tua menganggap hubungan kami sangat baik hingga harus dilanjutkan ke jenjang yang lebih serius dalam satu ikatan. Akupun menyanggupi dan memang tak berhasrat menolak. Pertunanganpun dilaksanakan dan aku menyandang status sebagai tunangan Choi Siwon.

Tak berapa lama setelah acara pertunangan, Siwon pergi ke luar negeri untuk melanjutkan study nya. Awalnya sulit bagiku untuk melepasnya jauh ke Jerman, tapi semua ini demi kebaikannya dan perusahaannya kelak. Dua tahun aku tak bertemu dengannya, selama itu pula aku jarang berhubungan dengannya. Bisa dihitung dengan jari-jari di kedua tanganku berapa kali aku dan dia berkomunikasi. Jujur aku sangat merindukannya, hanya saja kondisi tidak memungkinkan untukku memaksanya pulang.

Ketika dua tahun itu berakhir dan ia kembali ke Korea, aku merasa sangat bahagia. Itu artinya pernikahanku semakin dekat. Hanya saja masih ada sesuatu yang mengusik ketenanganku saat aku kembali menatap wajahnya. Sorot matanya begitu dingin dan tidak ada lagi pelukan hangat untukku. Tidakkah ia merindukanku? Atau memang sampai saat ini aku masih jadi pihak yang terus merindukannya tanpa pernah ia memikirkanku sedetikpun?

Dua tahun bukanlah waktu yang sebentar untukku. Itu adalah masa-masa yang paling membuatku gelisah sepanjang hari. Gelisah menunggu kabar darinya, gelisah memikirkan dirinya. Tapi ketika ia kembali, aku merasa bertemu dengan orang lain.

Dulu ketika aku masih berstatus sebagai pacarnya, aku bisa dengan mudah mengajaknya berbicara maupun bersenda gurau dengannya. Saat itu sikapnya hangat padaku, walau ia memang terkesan kaku. Lantas mengapa saat ini aku mendapatkan dirinya yang berbeda, dirinya yang tak lagi melihatku sebagai Yoona yang menjadi temannya sejak lama. Tidak usah dulu memandangku sebagai kekasih atau tunangannya, bahkan ia menatapku seperti ia menatap orang asing.

~~0~~

“Oppa, apa yang sudah terjadi padamu?” aku memberanikan diri bertanya padanya ketika aku mencuri waktu berduaan setelah acara makan malam keluarga. “Apa maksudmu?” tanya nya kembali dengan nada sangat datar.

“Kau berubah, Oppa. Kau bukan lagi Choi Siwon yang ku kenal dulu. Kau bahkan tak sedikitpun melihatku sebagai diriku. Kau menganggap aku orang lain. Apa sebenarnya yang terjadi, apa yang membuatmu berubah seperti ini?” aku menunggu reaksinya dengan melempar tatapan sendu. Aku mendengar helaan berat napasnya. “Tidak ada.” Jawaban singkatnya membuat hatiku mencelos. Ia bahkan tak berusaha menenangkan aku yang sedang dilanda ketidakpastian.

“Mungkinkah sudah ada orang lain? Mungkin seseorang yang benar-benar kau sukai dan bahkan kau cintai?” hatiku terasa sakit saat mengucapkan pertanyaan itu. Ia kini menatapku masih dengan sorot mata dingin itu. Tatapannya begitu menusuk, membuat napasku sesak karena aku juga khawatir bila ketakutanku memang benar adanya.

“Kau tidak pernah berubah, Yoona-yah. Kau masih saja suka terlarut dalam dunia ketidakpastian yang kau ciptakan sendiri. Tidak bisakah kau mempercayai dirimu sendiri hingga kau bisa hidup tenang tanpa meragukan orang lain?” bukan hanya sikap dan tatapannya yang begitu dingin, bahkan kini kata-katanya mampu membuatku membeku.

“Ini bukan tentangku, Oppa. Ini tentangmu, tentang dirimu… aku hanya ingin tahu seberapa besar rasa yang kau miliki untukku. Entah itu hanya rasa suka karena aku tak berani menanyakan hal tentang cinta padamu. Atau mungkin justru kau membenciku, kau bersikap begitu baik selama ini hingga kau muncul dengan dirimu yang sesungguhnya,” air mataku menetes begitu saja saat mengatakan kalimat itu. Dari mataku yang berkaca-kaca aku masih dapat melihat jelas raut ketegangan di wajahnya dari rahangnya yang mengeras.

“Aku tak pernah membencimu, tidak pernah sedektikpun, Yoona-yah. Kenapa kau bisa berpikir seperti itu? Apa sebegitu lama kebersamaan kita kau tak juga bisa mengenalku, mengerti aku?” nada bicaranya sedikit melunak, tapi aku sama sekali tak melihat ketulusan disana.

“Tidak! Aku tidak mengenalmu, Oppa. Aku tidak pernah bisa mengenalmu. Aku merasa kau sangat jauh dan sangat sulit untuk kuraih. Bersamamu seakan menjadi mimpi yang selalu kuharap datang di setiap tidurku. Kau memang bersamaku, tapi hanya ragamu. Aku tak pernah tahu kemana jiwamu pergi, aku tak pernah tahu dimana hatimu kau tambatkan. Aku tak pernah merasa kalau aku berharga untukmu…” air mataku jatuh semakin deras, aku berusaha sekeras mungkin agar tak tersedu.

“lagi pula kenapa harus aku yang menjadi pihak yang mengerti dirimu… kau sendiri, pernahkah mencoba mengerti diriku? Pernahkah kau berpikir bagaimana perasaanku, atau setidaknya kau berusaha membuka hatimu untukku? Apa kau bisa memberiku jawaban yang pasti tanpa membalikkan kenyataan itu kepadaku, Oppa??”

Tidak ada reaksi darinya, bahkan ia tak menatapku. Pandangannya terlempar entah kemana. Aku hanya melihat ekspresi keras diwajahnya. Dia terlihat menahan emosi, mungkin ia ingin sekali marah atau meneriakiku dengan segudang makian. Tapi dia tidak akan melakukan itu, dia bukan orang seperti itu. Aku tahu persis karakternya yang satu itu. Tapi tidak dengan hal yang lainnya, semua masih begitu misteri bagiku.

“Aku rasa pembicaraan kita tidak akan mendapatkan titik temu saat ini. Sebaiknya aku pergi dulu, aku tidak melihatmu dalam kondisi yang baik untuk berdiskusi.” Aku bergegas pergi meninggalkannya tanpa menghiraukan lagi panggilannya. Kondisiku sedang kacau sekarang. Aku seperti baru saja meledakkan bom waktu yang telah lama ada dalam hatiku.

Aku kembali menangis, air mataku seakan sulit sekali berhenti. Tiba-tiba aku teringat pada nasihat sepupuku, Taeyeon. Ia miris melihat kondisi hubunganku dengan Siwon. Ia satu-satunya orang yang tahu bagaimana perasaanku dalam hubungan ini di saat orang lain mengira aku sangat bahagia memiliki kekasih seperti seorang Choi Siwon.

Taeyeon memintaku mempertimbangkan lagi bagaimana kelanjutan hubunganku ini. Ia tidak ingin aku larut dalam kegelisahan, ia ingin aku menjalin hubungan yang saling melengkapi bukannya cinta sepihak seperti yang kualami saat ini. Taeyeon memaksaku berpikir jauh ke depan, ia mengingatkanku bahwa dunia ini bukan hanya tentang Choi Siwon. Di luar sana masih banyak pria-pria dengan beragam karakter yang pasti bisa membuatku berpaling dan memulai yang baru.

Aku pikir Taeyeon benar, selama ini aku selalu saja sibuk dengan beragam angan dan pikiran tentang Choi Siwon. Pria itu sendiri bahkan tak pernah memikirkan aku. Aku mulai menemukan titik terang. Aku seharusnya tegas pada diriku sendiri, seharusnya pula aku menetapkan pendirianku bukannya terlunta-lunta pada ketidakpastian dan harapan palsu. Aku harus membuat keputusan, hal yang mungkin mengubah masa depanku nantinya.

~~0~~

Ini adalah hari dimana aku memantapkan diri pada keputusanku, aku telah berpikir panjang hingga aku menentukan pada satu hal. Bahwa hati bukanlah sesuatu yang bisa ditawar, siapapun tidak akan bisa menentukan kemana hatinya memilih. Tapi saat pilhan hatimu tak membuatmu bahagia, apakah kau akan mempertahankannya dengan segala kepahitan yang kau rasakan? Atau kau akan dengan senang hati melepaskannya dengan harapan kau mendapat ganti yang lebih baik lagi nantinya?

Aku sudah punya jawaban itu… aku memilikinya dan aku meyakini pilihanku itu.

Aku datang dengan kepercayaan diri padanya. Aku menemuinya di kantor tempatnya bekerja, di ruangan khusus miliknya. Ekspresi wajahnya cukup memberikanku tanda bahwa ia terkejut dengan kedatanganku. Aku mengumbar senyumanku, senyuman lebar yang telah aku atur dan kulatih sebaik mungkin agar aku terlihat sebagai wanita yang tegar.

“Yoona-yah, ada apa kau datang kesini? Kau kan bisa memintaku menemui di luar. Kita bisa memanfaatkan waktu makan siang untuk bersama…”

“Aku tidak akan melakukannya, Oppa.” Segera aku memotong kata-katanya. Ia menatapku, menungguku melanjutkan kalimatku.

“Aku tidak akan lagi melakukannya…”

“Melakukan apa? Aku tidak mengerti maksudmu, Yoona-yah.”

“Aku tidak akan lagi mengganggumu. Aku tidak akan lagi memaksamu menemuiku untuk alasan apapun. Aku tidak akan lagi mengemis perhatianmu. Dan aku sudah berhenti berharap untukmu, Oppa.” Kalimat yang sudah kuhapal dari rumah keluar dengan lancar, tanpa tersendat-sendat walau dadaku terasa sakit saat mengatakannya.

“Kau tidak boleh melakukannya, Yoona-yah…” ia berdiri dan mulai berjalan mendekatiku.

“Aku akan melakukannya, Oppa. Tidak ada yang bisa menghalangiku. Aku sudah lelah dengan semua ini. Aku lelah menjadi satu-satunya orang yang berusaha. Aku lelah bertahan dengan semua egoisme dalam diriku yang membuatku menuntut banyak hal darimu. Aku siap untuk mengakhiri semuanya…”

Siwon Oppa membeku, ia masih larut dalam kebisuannya. Hanya tatapan mata dinginnya yang masih terus menusukku. Aku berusaha mempertahankan senyuman palsuku. “jangan lakukan itu, Yoong. Aku mohon pikirkan lagi keputusanmu. Tidakkah kau ingin mendengar ceritaku, penjelasanku, perasaanku?”

Aku menggeleng pelan, “Tidak, Oppa. Kau tidak perlu repot melakukannya. Berhentilah berpura-pura seakan kau menginginkanku ada di sisimu. Tidakkah kau merasa lelah terus bersikap seperti itu? Dan aku juga tidak lagi punya alasan untuk memikirkannya kembali, tidak ada satupun alasan, Oppa.”

Aku menarik keluar cincin pertunangan yang melingkar di jari manisku. Aku memandanginya untuk yang terakhir kali sebelum meletakkannya dengan santai di atas meja kerjanya. “Walaupun kita telah berakhir, aku tetap berharap kau akan mendapatkan yang terbaik untukmu Oppa. Siapapun dia, sayangilah wanita itu. Berikanlah dia cintamu, jangan sampai apa yang terjadi padaku terulang padanya. Aku pergi, semoga kau berbahagia.” Aku berbalik memunggunginya, berjalan menjauh menuju pintu keluar. Aku tak ingin bayangan ia memanggilku kembali menggantung di atas kepalaku.

“Apakah ini adil? Kau memutuskan secara sepihak, ini tidak bisa diterima.” Suaranya membuat langkahku berhenti tepat sebelum aku menarik gagang pintu. Aku tak menoleh padanya.

“Bukankah selama ini aku menjalani cinta sepihak, jadi bila aku memutuskannya secara sepihak maka itu sudah adil, bahkan sangat adil bagiku. Kau bukanlah pihak yang akan dirugikan dari hal ini.” jawabku dengan suara lantang.

“Tidak bisakah kau tinggal, sebentar saja. Setidaknya dengarkan dulu penjelasanku.” Tanyanya dengan suara lembut. Aku menghela napas panjang, situasi ini sulit sekali berakhir cepat.

“Tidak bisa, Oppa. Kalau aku melakukannya maka aku akan goyah. Aku tidak mau itu terjadi.” Aku segera membuka pintu dan pergi meninggalkannya… meninggalkan semua angan dan harapanku bersamanya, meninggalkan semua impian yang ingin kurajut bersamanya. Kini berganti dengan mencari harapan baru. Semoga di luar sana akan kutemukan sosok yang bisa menjadi sandaran hatiku yang rapuh, hatiku yang telah lama menderita tekanan cinta sepihak. Aku ingin meraih kebahagiaan, tanpa ada sesuatu yang mengganjal perasaanku hingga aku tak lagi berselimutkan kegundahan dan kegelisahan setiap hari.

FIN

Bagaimana cerita ini?? Ada yang ikutan galau kayak aku ga?? *readers: ga ada!!!

Aku membuat cerita ini ketika teringat dengan seseorang yang pernah menyebut sebuah filosofi yang unik, yaitu filosofi ‘cinta pohon kelapa’ alias ‘aku cinta, dia ga apa-apa’. Agak aneh sih tapi jelas maksudnya apaan kaannn…

Readers, jangan lupa komennya yaa… mian kalau ending cerita tidak sesuai harapan, sekali lagi maklumilah orang yang sedang dirundung stress dan galau #kaburrrrr

NB: Thanks to Echa yang sudah meluangkan waktu buat posting FF galau ini en yang sedang bergembira dengan CF baru YoonWon, especially to all nited!! Mari kita syukuran tujuh hari tujuh malem!!! (harusnya bikin ff yg happy happy dong, kan Niteds lagi Happy..sama2  :)

Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

119 Komentar

  1. aku nggk tau mau kesel sama siapa nih..
    sebenernya wonppa itu suka nggak sih sma yoong eonni ??? knapa juga yoong eonni nggak mau dengerin penjelasan dari wonppa ???
    sequel dong author, jebal..
    sekalian sukuran atas yoonwon yang maen cf bareng😀

    Balas
  2. anastasya salsabila

     /  April 17, 2013

    Galaauuuu😦 tapi apa ya penjelasannyaa?? Penasaraannnnn😀

    Balas
  3. Nisa Adja

     /  April 17, 2013

    Sebenarnya sikap dan perasaan Siwon Oppa ke Yoona itu bagaimana dan knpa Yoona juga tdk mau mendengar penjelasan dulu Siwon Oppa siapa tahu dia mau ngungkapin perasaanya.

    Balas
  4. wah endingnya kok masih bikin penasaransih sama perasaan siwon oppa yang sebenernya
    Ffnya keren banget
    Ffnya misterius gini
    kasih squelnya dong thor hehheeh *ngarep
    Ffnya bagus banget like3🙂

    Balas
  5. NYESEKkK T.0.T
    aish,kesel ma w0npPa knapa jd 0rang KAKU bgt 0.0
    hem . .y0ongNie~
    @ikuttmpenganbrengNITEDS🙂

    Balas
  6. fredina

     /  April 22, 2013

    kenapa siwon oppa jahhat banget
    kasihan yonna oenni

    Balas
  7. Yulisa

     /  April 23, 2013

    Aduuuhh…
    Ada ap???
    Knp???
    Ap yg trjdi???
    Yoonwon knp gak brstu????

    Balas
  8. YoonWon05

     /  April 24, 2013

    yoona eonni pasti sakit bgt yah cinta bertepuk sblh tangan. #poor eonni
    knpa eonni ga dengerin penjelasan wonpa?
    siapa tau wonpa punya alasan yg kuat.

    thor, hrus wajib kudu musti bikin sequelnya pokoknya. Yoonwon harus bersatu.

    Balas
  9. kimy

     /  Mei 5, 2013

    nggantung kaaaan kesel

    Balas
  10. miyoon

     /  Juni 28, 2013

    Sad ending:( AGAIIN

    Balas
  11. nandita oktaviani

     /  Juni 30, 2013

    Aku bingung sbenernya siwon oppa itu suka gk sihh sama yoona unnie kasian kan kalo cintanya bertepuk sebelah tangan sama siwon oppa

    tapi tetep seru kok

    Balas
  12. aat yoonwon

     /  Juli 9, 2013

    Ada apa sebenarnya dengan wonppa??

    Balas
  13. Akhyla YoonWonited

     /  Agustus 14, 2013

    Huaaaaaa…. Nyesel ku baca ff ini😦 aku kira bakal happy ending trnyata d’luar duga’an ;( tp gimana pun jg ff.y ttp keren koq ,salut ama yg bikin ff ini. udh buat gue galau😦

    Balas
  14. Sequel napeh eonn… Ngegantung ;( #nyesekModeOn ;(

    Balas
  15. Haduuuuhhhh…
    Jadi sedih juga kalo mereka putus…
    Sbnernya siwon juga knp siiih… kok dingin amat jadi orang….

    Balas
  16. Lee Ayuri Nited

     /  September 23, 2013

    ini mah ceritanya ngegantung thor, siwon oppa kan blum jelasin alasannya apa?? jadi dibuat sekuel-lah😉

    Balas
  17. hana grez

     /  September 23, 2013

    lumayan deh.. tpi buat sequelnya donk thor.. pasti lebih klop…

    ditunggu yah thor…

    Balas
  18. hach aku harus blang apa misskangen? smua kata2ku udh habis bngung mau konen apa.,
    author misskangen emng terdaebak bikin ff

    Balas
  19. Raya

     /  Oktober 30, 2013

    Thor aq ampe nangis mbacanya bisa Gɑ̤̈ athor bikin sequel nya….????

    Balas
  20. nunung

     /  November 28, 2013

    Ini apa ini haduh kenapa siwon oppa ditinggal begitu saja haduh jadi galau bacanya

    Balas
  21. Aigoo… cinta sepihak ???
    apakah ini yang namanya cinta sepihak, kurasa bukan dehh…
    wonppa itu sebenernya juga mencintaimu yoongie, buktinya dia gak rela kamu kencan sama teman” priamu, wonppa cuma gak tau bagaimana cara untuk menunjukkannya sama kamu..

    Balas
  22. aat yoonwon

     /  Maret 12, 2014

    Menggantung wonppa kau knpa?

    Balas
  23. Kim Eun Kyo

     /  Maret 28, 2014

    Ahhh aku Ųϑãђ baca tapi dibaca lagiiii assik nihh ª∂a̲̅ sequelnya yaaa baca dulu ϑě°˚˚°eếh

    Balas
  24. any

     /  Mei 7, 2014

    Aku agak pusing baca nih cerita. Kenapa siwon ini g ngomong aja sih perasaan yg sebenernya cinta ato tidak sama yoona. Kalo gini akukan jadi g bisa tidur krn baca cerita yg ngegantung.

    Balas
  25. Dede

     /  Mei 17, 2014

    Aduh kasian yoona harus mengalami patah hati,semoga siwon cepet sadar klu selama ini dia salah.dan yoona semoga dia tidak mengalami sedih yg berlarut larut.

    Balas
  26. Mia

     /  Juli 13, 2014

    Eah ending xa ko’ gitu sih,

    Balas
  27. Anah sanggy sonelf

     /  Agustus 20, 2014

    Sbnarnya prasaan wonppa ke yoona itu gimana?
    Penasarn

    Balas
  28. Galau bangeeet…suka nyesek deh klo ujungnya yoonwon Ga bersatu..

    Balas
  29. Cinta sepihak apa cinta Yoona sprti cinta pohon kelapa
    aduh… Endingnya kurang puas ni
    masanya mereka gk bersatu, kenapa wonppa tega bgt ya ma Yoona. Tpi tunggu dlu sbnarnya Wonppa itu mw ngomong penjelasan apa sama Yoona apakah ini masalah hatinya jg tpi sayangnya Yoona sudah terlanjur menghentikan tunangan mereka.

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: