[FF] Y Saranghae (Chapter 12 – Good Bye My Love)

ys

[FF] Y Saranghae (Chapter 12 – Good Bye My Love)

Title : Y Saranghae – Good Bye My Love

Type : Sequel

Author : Choi Hyun Mi/Twitter: @Nita_Rahayu22

Main Cast : Choi Siwon, Im Yoon Ah, Lee Donghae

Other Cast : Kwon Yuri, Cho Kyuhyun, Etc……

Genre: Romance , Sad,

Rating : PG 15+

Backsound: Good Bye My love By Super Junior M

[[]]

 

“Aku pergi bukan karena aku membenci mu, bukan karena aku tak mencintai mu, tapi aku pergi karena aku ingin melihat mu bahagia bersamanya,  Y Saranghae”

 

Pintu gereja itu terbuka secara perlahan, alunan music  menjadi pengiring sang pengantin wanita. Puluhan pasang mata menatap mempelai pengantin wanita yang perlahan berjalan menuju altar tempat dimana calon suami menantinya. Decak kagum para tamu undangan melihat mempelai wanita yang begitu cantik, bak seorang putri dari negeri dongeng.

“Mereka serasi sekali…” bisik salah seorang tamu undangan.

Tak henti-hentinya kata-kata pujian serta kekaguman terucap dari mulut para tamu undangan yang melihat mempelai wanita semakin dekat menghampiri mempelai pria yang berdiri dengan senyum mengembang di wajahnya.

Setelah pengantin wanita sampai di altar, para tamu undangan pun kembali duduk. Tak berapa lama, sang pendeta yang akan mengikat mereka dalam sebuah ikatan pernikahan juga sudah siap.

“Lee Donghae  apakah kau bersedia menjadi suami bagi Im Yoona, mencintainya dalam ke adaan suka maupun duka, sehat maupun sakit. Dan apakah kau bersedia menjadi suami yang baik, serta akan membahagiakan Im Yoona dan akan tetap mencintanya hingga ajal menjemput”

Donghae tersenyum lalu melihat Yoona yang juga menatapnya dari tadi.

“Yah aku bersedia…” ucap Donghae berintonasi jelas.

“Dan Im Yoona apakah kau bersedia menjadi istri bagi Lee Donghae, mencintainya dalam ke adaan suka maupun duka, sehat maupun sakit. Dan apakah kau bersedia menjadi istri yang baik, serta akan membahagiakan Lee Donghae dan akan tetap mencintainya hingga ajal menjemput”

Yoona sedikit menundukan kepalanya, kedua tangannya mengepal serta matanya terpejam. Kembali untuk kesekian kalinya Siwon muncul di benaknya.

“Im Yoona, meskipun kau tak bersama ku. Meskipun kau bukan milik ku, aku akan tetap mencintai mu. Terimakasih, terima kasih kau telah memberikan banyak kenangan indah dalam hidup ku. Hiduplah bahagia bersamanya, aku akan tetap mencintai mu..”

“Yoona Saranghae…”

Perlahan Yoona kembali membuka matanya lalu berkata “Aku bersedia” di iringi dengan linangan air mata yang tak bisa ia tahan. Seketika saja riuh tepuk tangan para tamu undangan menandakan jika sepasang sejoli ini sudah resmi menjadi sepasang suami istri.

Donghae menyematkan cincin bertabur mutiara di jari manis Yoona, lalu menatapnya. “Kau menangis?” tanya Donghae. Yoona menganggukan kepalanya. “Apa kau menangis karena bahagia?” tanya Donghae lagi. Sebenarnya Donghae sudah bisa menebak jika ini bukanlah air mata kebahagiaan bagi Yoona.

Yoona menganggukan kepalanya, pipinya basah di banjiri dengan air mata yang tak bisa ia tahan. Donghae memegang bahu Yoona, menatap mata jernih Yoona yang kini penuh dengan gumpalan-gumpalan air mata.

“Terima kasih, terima kasih. Saranghae Yoona…” ucap Donghae namun seperti sebuah bisikan. Kemudian, Donghae mendaratkan sebuah kecupan di bibir Yoona. Hanya sebuah kecupan singkat yang Donghae berikan, inilah ciuman pertama mereka. Ciuman pertama yang mungkin akan menjadi kenangan paling berkesan bagi Donghae karena di lakukan di hari paling bersejarah dalam perjalanan hidupnya.

[]

Siwon berdiri memandang gereja di depannya. Suara tepuk tangan yang ternyata terdengar sampai ke luar membuat Siwon mengetahui artinya. Dengan perasaan sakit, Siwon membalikan badannya lalu perlahan meninggalkan gereja itu. Tak bisa di pungkiri, bagaimana pun Siwon juga manusia, dia punya hati dan perasaan. Meskipun Siwon berusaha menerima semuanya, tapi tetap saja hatinya merasakan sakit yang menyesakan dadanya. Air matanya pun keluar, meskipun Siwon sudah berusaha menahannya tapi tetap tak bisa.

[]

Yoona POV

Malam ini, aku sudah berada di kediaman Donghae. Sebelumnya aku memang sudah memutuskan akan tinggal di sini setelah aku menikah dengannya. Di kamar yang lumayan cukup luas ini, hanya ada aku seorang. Donghae, tadi dia pergi keluar “Ada sesuatu yang ingin ku beli” ujarnya sebelum pergi tadi. Aku tak menayakan lagi, mekipun aku penasaran apa yang akan dia beli selarut ini.

Setelah selesai membereskan baju-baju ku ke dalam lemari, aku merebahkan tubuh ku di ranjang lalu meraih sebuah buku yang berada di atas nakas. Untuk membunuh waktu, aku membaca buku tersebut. Ku buka-buka setiap halaman dari buku itu, namun tiba-tiba aku ingat sesuatu. Sepertinya aku pernah melihat buku ini sebelumnya.

Ku lihat cover dari buku ini, dan benar saja. Ini adalah novel yang pernah ku baca. Dan seingatku Donghae pernah menunjukan novel ini pada ku beberapa tahun silam tepatnya saat kita duduk di bangku SMA.

 

Flashback…

Yoona melangkahkan kakinya menuju taman belakang sekolah, seperti biasa dia akan menghabiskan waktu istirahatnya untuk tidur di tempat sepi itu. Tapi, langkah Yoona terhenti saat melihat seorang murid laki-laki yang sedang duduk di kursi tempat biasanya dia bersama Siwon. “Siapa dia?” pikir Yoona dalam hati. Lalu kembali melangkahkan kakinya menuju murid pria tersebut.

“Maaf kau siapa?”tanya Yoona saat sudah berdiri di depan siswa tersebut.

Donghae….siswa tersebut, menengadahkan kepalanya menatap Yoona.

“Kau siapa?” tanya Donghae balik. Yoona menghela nafas lalu duduk bersebelahan dengan Donghae

“Ini tempat ku kenapa kau kemari?” tanya Yoona dingin.

“Tempat mu? ini taman belakang sekolah lagi pula aku juga siswa disini” jawab Donghae sekenanya lalu kembali membaca buku.

“Untuk apa kau datang kemari?”tanya Yoona lagi masih dengan nada dinginnya.

“Merenung” jawab Donghae singkat. Mendengar jawaban Donghae, Yoona menolehkan kepalanya kesamping melihat Donghae yang masih membaca buku, Yoona sedikit mengintip buku yang sedang Donghae baca.

“Kau itu laki-laki, kenapa baca novel seperti itu” ketus Yoona lalu kembali menatap lurus kedepan.

“Ceritanya bagus, menyentuh, dan…cerita di novel ini seperti kehidupan ku” jawab Donghae masih fokus membaca.

“Seperti kehidupan mu? Setauku cerita di novel itu mengisahkan tentang seorang laki-laki yang kehilangan orang-orang tercintanya lalu dia mengidap penyakit yang sangat mematikan” tutur Yoona panjang lebar.

“Iya kau benar” jawab Donghae singkat.

“Jadi…kau juga punya penyakit mematikan?” tanya Yoona yang sudah mulai tertarik dengan arah pembicaraan ini.

“Aniya, aku tidak punya penyakit apa pun. Hanya saja, aku selalu di tinggal oleh orang-orang yang ku cintai” jawab Donghae yang membuat ekspresi Yoona berubah murung.

“Memangnya kau di tinggal siapa?”

“Ayah ku sudah meninggal dan itu membuatku sangat terpukul” jawab Donghae lalu menutup  novel tersebut dan menatap lurus ke depan.

“Kalau begitu kita senasib, ahh ….tidak aku lebih parah dari mu” ujar Yoona lalu kembali menatap lurus ke depan.

“Maksud mu?” tanya Donghae memalingkan pandangannya pada Yoona.

“Kedua orang tua ku sudah tidak ada, mereka berdua sudah meninggal saat aku berusia 8 tahun. Aku pikir hal seperti itu tidak akan terjadi lagi padaku, ternyata aku salah, aku di tinggalkan oleh seseorang yang amat sangat ku cintai. Dia…pergi meninggalkan ku tanpa sepatah katapun, ataupun ucapan perpisahan. Bahkan…saat aku mengejarnya ke bandara, dia sama sekali tak menoleh pada ku padalah aku yakin dia pasti mendengar ku. Tapi aku sadar, hidup ku tak tergantung olehnya dan sekarang aku mulai bisa menerima kenyataan bahwa ini yang terbaik untuk diri ku dan dirinya”

Donghae terkesima mendengar penuturan dari Yoona yang seakan menyadarkannya dari keterpurukan selama ini.

“Kau….” Yoona memalingkan pandangannya kearah Donghae lalu melihat name tag yang terpasang di blazer Donghae.

“Lee Donghae, kau itu laki-laki, kau harus bangkit dari kesedihan kalau kau terus seperti ini mungkin ayah mu akan sedih di surga sana. Percayalah ini yang terbaik, kehidupan mu berjalan dan akan banyak sekali cerita-cerita yang akan kau lalui…jadi bangkitlah…” lanjut Yoona lalu menunjukknya sebuah senyum penuh semangat. Tapi, Donghae hanya diam sambil terus memandanginya.

End of Flasback

 

Aku masih ingat dengan jelas saat-saat itu, novel yang berjudul “A Short Journey “ini adalah novel kesukaan Donghae. Novel yang bercerita tentang seorang pria yang di tinggalkan orang yang di cintainya, lalu pria tersebut mengidap sebuah penyakit yang mematikan lalu karena penyakit itu pria tersebut meninggal.

“Kenapa Novel ini masih tersimpan?” kembali ku buka halaman-demi halaman novel tersebut lalu aku menemukan secarik kertas yang terselip. Saat aku akan mengambilnya, tiba-tiba seseorang merebutnya dari tangan ku.

“Donghae Oppa..”ucapku kaget. Donghae menyembunyikan novel itu di balik tubuhnya lalu berlalu meninggalkan ku.

“Kenapa Oppa, aku ingin membaca novel itu?” ujar ku yang mampu menghentikan langkahnya.

“Ini sudah malam kau tidurlah duluan…” jawabnya lalu keluar dari kamar.

Aku hanya bisa menghela nafas setelah dia pergi, kenapa sikapnya tiba-tiba berubah padaku. Dia seperti bukan Donghae yang ku kenal selama ini. Apa dia marah karena novel itu ku ambil? Tapi, rasanya tidak mungkin, dia bukanlah orang yang seperti itu, marah hanya karena sesuatu yang sepele.

Kepala ku terasa pening, tubuhku juga terasa lelah. Aku segera menarik selimut lalu kembali tidur. Ini adalah malam pertama kami, namun entah kenapa dia malah menyuruh ku tidur terlebih dahulu. Ada apa sebanarnya dengan Donghae?

End Of Yoona POV

 

 

 

Author POV

Pagi sudah menyongsong, sang raja siang sudah mulai menampakan dirinya yang gagah di ufuk timur. Sinarnya yang hangat, membuat kota Seoul pagi ini terasa nyaman untuk di nikmati. Jarum jam sudah menunjukan pukul 9 lebih 25 menit, namun Siwon masih meringkuk di balik selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Gedoran suara pintu dari tadi tak mengusik tidurnya sama sekali. Para pelayan rumah sudah bergantian untuk membangunkannya pagi ini, tapi sayang Siwon tetap tak membuka pintu kamarnya.

Ny Choi berjalan menuju kamar Siwon yang berada di lantai 2, setelah mendapat laporan dari kepala pelayan Han jika Siwon tak mau keluar dari kamarnya, Ny Choi terlihat murka. Kini, wanita lanjut usia itu yang harus turun tangan membangunkan Siwon.

“Choi Siwon buka pintunya…” teriak Ny Choi.

“Choi Siwon kau dengar aku, cepat buka pintunya” gertak Ny Choi berintonasi tegas.

Ny Choi menghela nafas lalu kembali bersuara “Jika kau tidak mau membuka pintunya, terpaksa pintunya akan di dobrak…” ucap Ny Choi memperingati. Namun, masih belum ada sahutan dari dalam.

Untuk beberapa saat Ny Choi diam, menunggu jawaban dari Siwon. Namun, sepertinya tak ada tanda-tanda jika Siwon akan membuka pintu. Kesabaran Ny Choi sudah diambang batas. Dia segera memerintahkan para pelayan pria untuk segera mendobrak pintu.

Dengan susah payah, akhirnya pintu kamar Siwon berhasil di buka. Ny Choi dengan langkah arogannya melangkah memasuki kamar putra bungsunya itu.

“Ayo cepat bangun, bukankah sekarang kau ada rapat dengan investor dari Jerman…” suara tegas Ny Choi menggema di kamar yang sangat luas itu.

“Choi Siwon….”

“Pergilah…” sahut Siwon di balik selimut. Ny Choi membulatkan matanya, meresa tak di hormati anaknya.

“Apa ku bilang? Kau mengusirku…?”

Siwon yang ternyata sudah bangun segera bangkit dari tidurnya.

“Apa kau puas, apa kau puas telah membuat hidup ku hacur? Apa kau puas, karena wanita yang ku cintai telah pergi meninggalkan ku dan menikah dengan orang lain? APA KAU PUAS?”

Amarah Siwon meledak seketika, matanya memerah mengisyaratkan jika dia benar-benar sudah tak bisa mengontrol emosinya bahkan di depan ibunya sendiri.

“Jadi kau seperti ini karena wanita itu? Jadi kau menyiksa diri mu karena wanita miskin itu? Bahkan sekarang, kau tidak pernah bersikap hormat padaku Choi Siwon? Aku ini ibu mu, aku yang telah melahirkan mu” suara Ny Choi begitu jelas terdengar.

“Benarkah kau ibuku?” tanya Siwon matanya mulai berkaca-kaca.

“Tanggal berapa aku lahir? Apa makanan kesukaan ku? Apa hobi ku? Sejak usia 5 tahun aku pernah sakit, sakit apa aku? Olahraga apa yang ku sukai? Aku menyukai musim apa? Apa kau tahu itu semua?” tanya Siwon.Perlahan air matanya mulai turun.

“Kau tidak tahu kan? Karena selama ini kau hanya sibuk dengan pekerjaan mu di luar, kau tak pernah memperhatikan ku, kautak pernah memberikan kasih sayang pada ku. Tapi, kau hanya memberikan ku materi yang berlimpah. Bukankah begitu? Kau juga tak pernah memperdulikan ku, selalu bertindak semau mu tanpa memikirkan perasaan ku. Aku bukan boneka yang harus selalu kau atur dan kau amati setiap saat. Jadi pantaskan kau ku panggil ibu? Sementara kau lebih kejam dari seorang ibu harimau?

Dada Ny Choi sesak mendengar setiap untaian kata yang putranya sendiri ucapkan untuknya,tangannya mengepal. Matanya menatap Siwon dengan padangan yang sulit di artikan. Sebenarnya, Ny Choi tak menyangka jika Siwon akan mengatakan ini padanya.

Terjadi keheningan untuk sesaat, Siwon turun dari ranjang lalu masuk ke kamar mandi. Setelah berdebat sepagi ini dengan ibunya membuat Siwon semakin tak bersemangat untuk masuk kerja seperti biasanya. Sementara itu, Ny Choi masih diam di tempat semula. Kata-kata Siwon masih terngiang-ngiang jelas di pikirannya, itu membuatnya menjadi tak bisa bicara apapun karena memang benar selama ini dia selalu bersikap seperti itu pada semua anaknya, Siwon maupun Taeyeon.

 

**

Siwon termenung di meja kerjanya, laptopnya yang sudah menyala dari tadi tak ia gunakan. Lembar kerja excelnya pun masih kosong belum di isi satu kolom pun. Siwon hanya bertopang dagu dengan tatapan kosong. Memikirkan sesuatu, namun entah apa.

Suara ketukan pintu sekatika membuyarkan lamunannya, Siwon terperanjat kaget lalu menyuruh orang di balik pintu itu untuk masuk. Tak berapa lama, munculah Sunhwa sekretaris barunya yang menggantikan Yoona.

“Sajangnim, ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda” ucap Sunhwa. Siwon mengerutkan keningnya heran “Siapa?” tanya Siwon lalu seseorang muncul di balik pintu. Seketika saja wajah Siwon sedikit berseri melihat seorang wanita paruh baya hadir di depannya.

“Bibi, ada perlu apa bibi kemari…?” Siwon bangkit dari duduknya menghampiri wanita yang ia panggil bibi itu.

“Bibi bawakan makan siang untuk mu, kau pasti belum makan siang kan?” ujar wanita itu siapa lagi kalau buka Bibi Lee, Ibu Donghae.

“Kebetulan sekali aku belum makan, Sunhwa-ssi tinggal kan kami…” ujar Siwon pada sekretarisnya itu. Sunhwa menurut lalu menutup pintu ruangan Siwon.

“Ayo duduk ..” ajak Siwon lalu duduk berhadapan dengan Ny Lee.

“Jadi kau belum makan siang Siwon-ahh?” tanya Ny Lee sembari membuka kotak makanan yang di bawanya.

“Belum bi, oh yah tumben sekali bibi kemari. Dan dari siapa bibi tahu kantor ku…?”

“Tadi saat makan siang Donghae menyuruh bibi mengantarkan makan siang untuk mu, katanya kau suka lupa makan kalau sibuk bekerja apa itu benar?” tanya Ny Lee menatap Siwon yang terlihat kaget.

“Nde…?” jawab Siwon gugup.

“Siwon-ahh jaga lah makan mu, pekerjaan mu sangat menguras tenaga dan pikiran. Kalau kau tidak makan nanti kau sakit.” Tegur Ny Lee. Siwon hanya tersenyum canggung.

“Lalu siapa yang mengantarkan bibi kemari?” tanya Siwon lagi penasaran.

“Donghae, tadi setelah makan siang Donghae mengantarkan bibi. Sekalian dia mau pergi ke sekolah lagi untuk mengajar anak-anak melukis” jawab Ny Lee lalu menyerahkan kotak makan siang pada Siwon.

“Begitukan?” tanya Siwon tersenyum canggung.

“Oh yah Siwon-ahh kenapa waktu pernikahan Donghae dan Yoona kau tidak ada? Di pemberkatan kau tidak ada, di resepsi kau juga tidak ada. Padahal bibi ingin sekali kau datang, tapi Donghae bilang katanya kau sedang di Jinan. Mengurus pekerjaan disana. Apa itu benar?” seketika Siwon membelalakan matanya, menatap Ny Lee kaget.

“Wae Siwon-ahh?” tanya Ny Lee bingung melihat ekspresi Siwon.

“Jinan?” tanya Siwon bingung.

“Nde, Donghae bilang kau sedang di Jinan, jadi kau tidak bisa datang ke resepsi pernikahan..” jawab Ny Lee lagi yang semakin membuat Siwon bingung.

“Oh nde, aku memang sedang di Jinan saat itu…” jawab Siwon ragu.

“Pantas saja, ya sudah makanlah yang banyak…” ucap Ny Lee tersenyum.

“Nde..” jawab Siwon. Sebenarnya dia bingung apa yang sebenarnya terjadi, padahal pada saat hari pernikahan Donghae, jelas-jelas Siwon berada di Seoul.

“Jinan? Kapan aku ke Jinan?”pikir Siwon bingung.

[]

Sebuah mobil berhenti tepat di depan gedung pencakar langit itu, Ny Choi keluar setelah pintu di buka oleh supir pribadinya. Dia berjalan memasuki gedung itu dengan di kawal beberapa pelayannya.

Setiap langkahnya menjadi perhatian para karyawan yang berpapasan dengannya, mereka memberikan salam hormat tak terkecuali dengan Lee Teuk, menantunya yang tak pernah ia anggap juga memberi hormat padanya. Lee Teuk menatap ibu mertuanya itu yang kian menjauh “Ada apa dia kemari?” batin Lee Teuk bingung.

Ny Choi sampai di lantai tempat dimana ruangan Siwon berada, dia berbalik ke belakang menghadap dua orang pelayannya.

“Kalian tunggulah disini, aku akan masuk. Kotak bekalnya berikan pada ku..” salah satu dari pelayan itu memberikan kotak bekal makan siang yang sedari tadi di tentangnya kepada Ny Choi.

Ny Choi kembali melangkahkan kakinya untuk menemuin Siwon, dengan maksud akan memberikan bekal makan siang untuk Siwon. Sebelumnya Ny Choi tak pernah melakukan ini, ini adalah kali pertama dalam hidupnya mengantarkan makan siang untuk putranya, Siwon.

Perlahan Ny Choi memutar knop pintu, namun saat akan masuk Ny Choi mendengar Siwon berbicara dengan seseorang.

“Bibi, kenapa bibi tahu makanan kesukaan ku kimchi dan sup rumput laut..?”

“Donghae yang mengatakannya, tadinya bibi pikir kau suka makanan-makanan  barat. Karena kau pernah tinggal di Jerman. Tapi rupanya, kau juga suka makanan Korea”

“Meskipun aku lama tinggal di Jerman, aku kan  tetap orang Korea. Aku lahir di Korea, dan aku di besarkan di Korea. Jadi, mana mungkin aku tidak menyukai makanan Korea. Apalagi Kimchi…”

“Oh Jinjjayo? Apakah Kimchi buatan bibi ini enak?”

“Ini sungguh enak bi, aku belum pernah makan Kimchi seenak ini. Lain kali apa bibi mau buatkan lagi untuk ku ?”

“Tentu saja, apa pun akan bibi buatkan untuk mu. Cepat makanlah yang banyak…”

“Nde, gomawo…”

 

Ny Choi perlahan menutup pintunya dengan tangan bergetar, matanya berair. Ny Choi tidak percaya jika ternyata selama ini hubungannya dengan Siwon memang benar-benar jauh, selama ini dia tidak mengetahui makanan kesukaan Siwon. Bahkan sekarang makanan yang ia bawa pun salah.

Dengan berat hati Ny Choi pergi lagi tanpa memberikan makanan itu pada Siwon, kedua pelayannya pun heran melihat orang yang mereka hormati sekarang terlihat rapuh.

[]

Sampai di mobil, Ny Choi masih membayangkan serta mengingat percakapan Siwon dengan seorang wanita yang tak ia kenal. Tadi, ia melihat Siwon begitu menikmati makan siangnya. Tadi juga ia melihat Siwon tersenyum begitu tulus pada wanita itu, senyum yang tak pernah Ny Choi liat sebelumnya dari putranya itu.

Tak terasa air mata Ny Choi luluh sudah, dia menyeka air matanya tanpa sadar. “Aku memang bukan ibu yang baik untuk mu. Maafkan ibu Siwon…” batin Ny Choi. Kembali dia menyeka air mata yang membanjiri pipinya.

 

[]

Siwon POV

Sepulang bibi Lee, aku melamun memikirkan perkataan yang di ucapkannya tadi. Perkataan tentang aku pergi ke Jinan pada hari pernikahan Donghae dan Yoona. Padahal sudah jelas, pada hari itu aku tak pergi kemana-mana. Bibi Lee bilang jika dia tahu dari Donghae. Donghae? Ada apa sebenarnya dengan dia, sejak pertama kali bertemu dia sudah bersikap baik padaku. Padahal saat itu aku sama sekali belum bertemu dengannya, bahkan aku tidak mengenalnya. Tapi, dia menghampiriku dan mengajak ku berkenalan. Dia bersikap seolah-olah sudah lama mengenal ku.

Sebenarnya kecurigaan ini sudah muncul saat aku  pertama kali bertemu dengannya, sikapnya yang bersahabat. Pribadinya yang ramah membuat aku semakin tak mengerti. Ditambah lagi dengan sekarang, dia berbohong pada ibunya jika aku pergi ke Jinan pada hari pernikahannya. Padahal terakhir kali kami bertemu adalah beberapa minggu sebelum dia menikah, yaitu bertemu di bar. Apa yang sebenarnya terjadi?

Suara ketukan pintu mengalihkan lamunan ku, aku berbalik. Ku lihat Lee Teuk Hyung masuk dengan membawa beberapa tumpukan kertas di tanganya.

“Ini hasil rapat tadi…” ujarnya menyimpan berkas-berkas tersebut di meja kerja ku.

“Oh yah tadi ibu kemari, apa kau bertemu dengannya?” tanya Lee Teuk Hyung.

“Ibu? Kapan?”

“Tadi, tadi dia kemari. Ku kira dia ingin bertemu dengan mu. Apa kalian bertengkar lagi?” tanya Lee Teuk Hyung yang sepertinya sudah bisa menebak. Aku hanya menganggukkan kepala menjawab pertanyaannya.

“Aku tidak bisa ikut campur dalam masalah mu, oh yah nanti pulanglah ke apartement ku. Kita makan malam bersama” lanjut Lee Teuk Hyung sebelum pergi.

“Baiklah Hyung…” jawab ku. Tak berapa lama Lee Teuk Hyung menghilang di balik pintu.

Setelah Lee Teuk Hyung lenyap di balik pintu, aku kembali memikirkan tentang Donghae. Orang yang selalu bersikap baik pada ku, namun aku selalu merasa jika ada sesuatu di balik kebaikannya selama ini. Sesuatu yang sepertinya harus aku cari apa alasannya, tidak mungkin dia bersikap seperti itu padaku, menganggap ku sebagai temannya bahkan saudaranya. Lee Donghae siapa kau sebenarnya?

End Of Siwon POV

 

Author POV

Siwon mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, kaca jendela mobilnya sengaja ia buka setengah agar angin sore masuk menyegarkannya. Saat ini ia sedang menuju apartement Taeyeon, untuk makan malam bersama seperti pesan Lee Teuk tadi siang. Namun, Siwon mampir sebentar ke mini market untuk membeli sesuatu yang Taeyeon pesan.

Siwon membuka pintu mini market, suasana mini market cukup lengang  hanya ada beberapa pembeli. Siwon berjalan menuju deretan minuman serta makanan ringan. Tak sengaja ia menambark seseorang.

Brakkk…

Keranjang belajaan orang tersebut jatuh ke lantai, Siwon segera berjongkok untuk mengambilnya.

“Maafkan aku, aku tidak sengaja…” ucap Siwon menyerahkan keranjang belanjaan tersebut.

“Terima kasih…” ujar orang itu lalu menatap wajah Siwon.

“Yoona…” ucap Siwon tanpa sadar. Ternyata orang yang dia tabrak adalah Im Yoona.

Untuk beberapa saat terjadi kecanggungan, Yoona memegang keranjang belanjaannya dengan kepalan kuat. Menatap ke lantai, tak berani hanya untuk sekedar menatap Siwon sedetik pun.

“Senang bertemu dengan mu lagi, bagaimana kabar mu?” tanya Siwon yang entah kenapa membuat Yoona merasakan sesak lagi di dadanya.

Perlahan Yoona mengangkat lagi kepalanya, mata jernihnya kini bertemu dengan mata elang milik Siwon. Siwon terpaku, begitu juga Yoona. Ini adalah pertemuan yang pertama kalinya setelah Yoona berstatus sebagai istri orang lain. Siwon menunduk sambil tersenyum miris “Seharusnya kita tidak bertemu bukan?” ujar Swon perih. Yoona hanya bisa diam sambil menahan dirinya agar tidak menangis.

“Kalau begitu aku pergi, aku akan menganggap jika hari ini kita tidak bertemu” lanjut Siwon lalu melangkahkan kakinya menjauh meninggalkan Yoona yang masih berdiri.

Tanpa sadar Yoona mengeluarkan lagi air matanya, ini semua terlalu meyakitkan untuknya. Bahkan ini lebih menyakitkan dari sebelumnya, Siwon pergi meninggalkannya. Dan sekarang hubungan mereka pun tak sedekat dulu.

“Maafkan aku Siwon….” ucap Yoona lalu berbalik menatap nanar punggung Siwon yang mulai tak terlihat.

 

Yoona POV

Pertemuan yang menyakitkan, aku tak bisa membohongi perasaan ku sendiri jika aku masih belum bisa mengubur perasaan ku padanya. Meskipun sekarang aku sudah berstatus sebagai istri Donghae, tapi ternyata aku tak bisa melupakan sosoknya.

Saat tadi aku melihatnya, sorot matanya yang selalu tajam berubah menjadi teduh saat melihatku. Apa pernikahan ku ini benar-benar menyakitkan untuknya? Tapi semua ini sudah berakhir, kini aku dan dia tidak bisa bersama. Seberapa besar cinta kita, tapi sekarang aku sudah menjadi milik orang lain.

End Yoona POV

 

Author POV

Yoona sedang membereskan tempat tidurnya, satu minggu sudah dia berstatus sebagai istri dari Donghae. Tapi selama itu juga Donghae belum pernah menyentuhnya sekali pun, ini membuat Yoona gusar sekaligus heran apa yang sebenarnya terjadi pada Donghae. Mereka tak pernah melakukan malam pertama seperti halnya pengantin baru, jangankan malam pertama Donghae saja selalu pulang larut malam. Yoona pernah menanyakan hal ini sebelumnya, namun Donghae hanya menjawab “Ini bukan saatnya, bersabarlah..” jawab Donghae yang membuat Yoona malu. Karena Yoona merasa Donghae menganggapnya tak sabaran.

Pintu kamar mandi terbuka, Yoona melihat Donghae yang tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk. Yoona terus memperhatikan gerak-gerik Donghae dengan seribu pertanyaan di benaknya.

“Waeyo Yoona-yaa?” ucap Donghae tiba-tiba. Ternyata dia menyadari Yoona memperhatikannya.

“Oppa, ada sesuatu yang ingin ku tanyakan pada mu…” jawab Yoona.

Dongahe menghentikan aktivitasnya lalu duduk di samping Yoona “Katakanlah…” ujar Donghae tersenyum.

“Apa aku punya salah pada mu?” tanya Yoona menatap manik mata Donghae.

“Anio..” Donghae menggeleng sambil mengelus kepala Yoona.

“Tapi kenapa aku merasa Oppa menjauh dari ku, apa aku punya salah? Katakanlah?” ujar Yoona yang tak bisa menahan rasa penasarannya.

“Anio, kau tidak salah apa-apa…” jawab Donghae. Yoona tak puas mendengar jawaban yang selalu sama di ucapkan Donghae.

“Lalu kenapa selama kita menikah Oppa tak pernah menyentuh ku? Oppa terkesan menjauh dari ku, aku merasa tidak berguna menjadi seorang istri. Katakankah Oppa apa salah ku. Agar aku bisa  memperbaikinya sekarang…” Yoona tak bisa menahan buliran air matanya yang turun tak kendali. Dia menangis, setelah mengeluarkan unek-uneknya pada Donghae selama ini.

Donghae tersenyum lalu membawa Yoona kedalam dekapannya.

“Kau tidak salah apa-apa, aku yang salah. Sudahlah, sebaiknya kau tidur saja..” hanya kalimat itu yang mampu Donghae ucapkan. Sebenarnya dia juga sakit melihat Yoona menangis karena dirinya seperti ini.

“Aku tak bisa menjawabnya sekarang, tapi nanti kau akan mendapat jawabannya Yoona-yaa.” Batin Donghae.

[]

Siwon menghentikan mobilnya di sebuah cafe, dia keluar dari mobilnya lalu masuk kedalam cafe tersebut. Siwon mengedarkan pandangannya untuk menemukan orang yang tadi menghubunginya lewat sms.

“Choi Siwon…” teriak seseorang yang duduk di meja yang berada di dekat jendela. Siwon membalikan badanya lalu tersenyum membalas senyuman orang itu. Lalu berjalan mendekati orang tersebut.

“Bagaimana kabar mu, Choi Siwon si kapten basket sekolah…” orang tersebut mengulurkan tangannya pada Siwon.

“Kabar ku tidak begitu baik, bagaimana kabar mu Shim Changmin si Shiksin…” balas Siwon pada teman lamanya, Changmin.

“Seperti yang kau lihat, aku baik..” jawab Changmin lalu menyunggingkan senyumannya yang di balas oleh Siwon.

[]

Satu jam sudah berlalu, Siwon dan Changmin sudah banyak berbagi cerita seputar kehidupan mereka selama 7 tahun tidak bertemu. Canda dan tawa mengiringi obrolan kedua sahabat yang sudah lama tak bersama ini.

“Sudah lama kita tak bermain basket bersama, bagaimana kalau kapan-kapan kita bermain basket lagi..”

“Kau yakin? Ku rasa kau tidak akan bisa mengalahkan ku…” cibir Siwon sembari tersenyum.

“Aisss saat kau pindah sekolah, kau tahu siapa yang menggantikan mu menjadi kapten basket sekolah kita?”

“Siapa?” tanya Siwon penasaran.

“Siapa lagi kalau bukan si Taecyeon….” jawab Changmin.

“MWO? Ku kira kau hahahahha….” tawa Siwon seketika pecah mendengar jawaban konyol dari sahabatnya itu.

“Tubuh mu saja yang tinggi, tapi kemampuan mu di bawah rata-rata..” cibir Siwon lagi sambi tertawa renyah.

“Siwon, bagaimana hubungan mu dengan Yoona sekarang?” tanya Changmin hati-hati.

Siwon segera menghentikan tawanya mendengar pertanyaan Changmin yang membuat moodnya sedikit memburuk.

“Aku sudah tak ada lagi hubungan dengannya…” jawab Siwon tersenyum miris.

“Benarkah? Lalu bagaimana dengan mu sekarang?”

“Aku tidak tahu, tapi aku tidak bisa terus berdiam diri disini. Sepertinya aku akan kembali ke Jerman…” ucap Siwon lagi.

“Kapan kau kembali ke Jerman?”

“Satu Minggu lagi…”

“Kau merelakan Yoona untuk Donghae?”

“Meskipun aku tidak rela, tapi semuanya sudah berakhir. Aku tidak bisa membuatnya kembali padaku, dia sudah menjadi milik orang lain..” jawab Siwon sambil menerawang mengingat sosok Yoona yang amat ia cintai. Changmin menatapnya dengan tatapan nanar lalu berkata dalam hati “Jika seandainya kau tahu Donghae mengidap kanker otak. Mungkin kau akan merelakan Yoona sepenuhnya”

[]

Donghae tengah mengajar anak-anak bagaimana cara melukis, senyumnya yang tulus, sikapnya yang lembut, membuat anak-anak nyaman belajar bersamanya. Tak mundah memang mengajar anak-anak yang notabene lebih suka bermain dari pada belajar, tapi dengan penuh kesabaran Donghae mengajarkan mereka. Saat Donghae memberi masukan pada seorang anak laki-laki berusia 9 tahun, tiba-tiba dia tak bisa melihat dengan jelas. Donghae juga kembali merasakan seluruh tubuhnya kaku.

“Songsaengnim, anda tidak apa-apa?” ucap anak itu khawatir melihat kondisi Donghae.

“Yah aku tidak apa-apa…” jawab Donghae sambil memejamkan matanya.

“Oh Tuhan kepala ku…” batin Donghae yang kembali merasakan nyeri di kepalanya.

“Songsaengnim….”

“Songsaengnim….”

“Songsaengnim….”

Kini semua murid-muridnya sudah mengelilinya, Donghae mencoba membuka matanya lagi. Tapi sayang kini dia tak bisa melihat apa-apa. Semuanya tiba-tiba terlihat gelap..

“Songsaengnim….”

“Songsaengnim….”

“Songsaengnim….”

“Songsaengnim….”

Perlahan suara teriakan itu juga mulai pelan Donghae dengar, dan kini dia tak bisa mendengar suara murid-muridnya memanggilnya. Semuanya sunyi….semuanya gelap. Donghae pun jatuh ke tanah.

[]

Dokter Jung berjalan tergesa-gesa di koridor dengan wajah panik, setelah mendapat kabar jika Donghae kembali jatuh pingsan, Dokter Jung segera berlari menuju UGD tempat dimana Donghae dibawa. Jantungnya berdebar cepat, karena takut terjadi sesuatu pada Donghae.

Dokter Jung masuk ke ruang UGD, di sana Donghae sedang di tangani seorang suster. Namun, Suster itu segera menyingkir setelah Dokter Jung datang. Dengan cekatan, Dokter Jung segera mengambil peralatan medisnya untuk memeriksa kondisi Donghae.

“Siapakan ruang perawatan, dia tidak apa-apa…” ucap Dokter Jung pada suster di belakangnya.

Dokter Jung menatap nanar Donghae yang terbaring lemah tak berdaya, wajahnya yang pucat di hiasi dengan selang oksigen untuk membantu pernapasannya.

“Bertahanlah Donghae, bertahanlah…” ucap Dokter Jung seperti sebuah bisikan. Tanpa terasa air matanya keluar tak terkendali.

[]

Siwon berjalan di lorong rumah sakit, dia sudah melakukan cek up kesehatan pada Dokter Kang. Akhir-akhir ini Siwon memang merasa kurang enak badan, ternyata dia hanya kelelahan sekaligus kurang istirahat. Saat berjalan di koridor, Siwon bertemu dengan rombongan suster yang membawa seorang pasien dari ruangan UGD. Siwon tak memperhatikannya, karena dia tengah mengotak-ngatik ponselnya.

Mereka berpapasan, pasien yang di dorong itu adalah Donghae yang akan di pindahkan ke ruang perawatan. Sayang, Siwon tak menyadarinya. Dia terus berjalan sampai akhirnya Donghae masuk ke ruangan perawatan yang sudah disediakan.

[]

Deringan telpon menggema di rumah itu, Ny Lee yang tengah membersihkan kaca merasa terganggu akan suara telpon itu yang terus nyaring terdengar. Ny Lee menghentikan sejenak pekerjaannya lalu meraih gagang telpon.

“Yeoboseo…”

“Apa ini benar dengan kediaman rumah Tn Lee Donghae?”

“Nde benar, ini siapa?”

“Ini dari rumah sakit, bisa anda datang kemari?”

“Mwo? Rumah sakit? Apa terjadi sesuatu pada Donghae?”

“Kami tidak bisa memberitahukan sekarang, sebaiknya cepat anda kemari..”

Ny Lee melepaskan gagang telpon tanpa sadar, lalu berteriak memanggil Yoona yang sedang berada di halaman belakang.

“Yoona-ah..Yoona-ah…kemarilah…” panggil Ny Lee dengan suara bergetar.

Dengan tergopoh-gopoh Yoona sedikit berlari menghampiri ibu mertuanya itu.

“Ibu, ada apa?” tanya Yoona bingung.

“Ayo kita ke rumah sakit sekarang. Donghae masuk ke rumah sakit…”

“M…mwo…Donghae Oppa, kenapa dia?” tanya Yoona kaget.

“Ibu tidak tahu, sekarang kita pergi ke rumah sakit…” dengan perasaan takut serta panik, Ny Lee dan

Yoona segera berlari keluar untuk pergi ke rumah sakit.

[]

Yoona memegang tangan Ny Lee begitu erat, kini mereka berdua berjalan di lorong rumah sakit. Menuju ruangan dimana Donghae berada. Gelisah, gusar serta cemas inilah perasaan yang kini mereka rasakan. Meskipun, mereka belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Donghae.

Saat mereka akan masuk, Dokter Jung baru saja keluar dari ruang perawatan. Ny Lee kaget melihat siapa yang kini berada di hadapannya, tapi Dokter Jung terlihat tenang.

“Jung Sin, benarkah kau Jung Sin?”ucap Ny Lee tak percaya.

Dokter Jung menganggukkan kepalanya “Syukurlah kalian sudah datang..”

“Apa yang terjadi dengan anak ku?” ucap Ny Lee panik.

“Kalian berdua ikutlah aku, ada sesuatu yang ingin ku bicarakan…” Dokter Jung memimpin jalan di ikuti Ny Lee dan Yoona dari belakang.

[]

Ny Lee dan Yoona menatap penuh tanya pada sebuah amplop berukuran besar di hadapan mereka saat ini, Ny Lee menatap Dokter Jung seolah bertanya “Apa ini?” tapi tak ada jawaban dari Dokter Jung.

Akhirnya, Yoona mengambil amplop tersebut lalu mengambil sesuatu di dalamnya. Ternyata isi dari amplop itu adalah sebuah ronsenan otak dan selembar  kertas. Yoona membuka lipatan kertas tersebut lalu membacanya secara teliti.

“Kanker otak?” ucap Yoona pelan. Ny Lee tersentak kaget lalu merebut kertas tersebut dari tangan Yoona.

“Kanker otak? Apa ini? Jung Sin cepat katakan apa yang terjadi dengan Donghae. Apa yang terjadi dengan putra ku?” ucap Ny Lee berteriak histeris.

“Donghae mengidap kanker otak” satu kalimat Dokter Jung yang membuat air mata Yoona meleleh sekatika. Begitu pula dengan Ny Lee yang sudah terisak menangis.

“Tidak, ini tidak mungkin. Ini tidak mungkin…” ucap Yoona menggeleng-gelengkan kepalanya lalu pergi dari ruangan Dokter Jung.

[]

Yoona berjalan tergopoh-gopoh menuju ruangan dimana Donghae di rawat, airmatanya dari tadi tak henti-hentinya terus membanjiri kedua pipinya. Tak percaya, kaget, semua rasa itu bergejolak di dalam dirinya. Yoona membuka pintu dengan kasar, Donghae yang kala itu sedang membaca buku segera tersadar akan kehadiran Yoona.

Yoona diam mematung di ambang pintu melihat Donghae yang terbaring di ranjang, wajahnya yang pucat berusaha menampakan senyum padanya. Dengan keberanian, akhirnya Yoona mendekati Donghae.

“Kenapa kau membohongi ku?” tanya Yoona lirih.

Donghae bangun dari tidurnya, dia masih belum bersuara.

“Kenapa kau membohongi ku?” tanya Yoona lagi yang sudah semakin serak.

“Yoona-yaa, jangan menangis aku tidak apa-apa..” ucap Donghae menampakan senyum di paras pucatnya. Senyum yang  selalu sama.

“Tidak apa-apa? Bagaimana bisa kau bilang tidak apa-apa? Bagaimana bisa?” ucap Yoona lagi.

“Sungguh aku tidak apa-apa, ku mohon jangan menangis…” Donghae berniat turun dari ranjang, tapi dia merasakan seluruh tubuhnya kaku kembali. Donghae tetap berusaha untuk menggerakan kakinya, tapi tetap tak bisa. “Ada apa ini…?” batin Donghae.

Yoona yang menyadari ada keanehan pada Donghae segera mendekati Donghae “Oppa, kau tidak apa-apa?” tanya Yoona khawatir.

Donghae menatap Yoona, lalu mengusap air mata di pipinya. Kemudian dia menggelangkan kepalanya  menjawab kecemasan Yoona. Donghae menatap mata bening Yoona yang penuh dengan gumpalan-gumpalan air mata yang menyesak keluar. Lalu Donghae berkata dalam hati.

“Sepertinya aku akan lumpuh Yoona, aku tak bisa menggerakan kaki ku lagi. Maaf karena aku tak bisa menjadi suami yang sempurna untuk mu….”

“Oppa, katakanlah sesuatu. Ada apa?” Yoona mengguncang bahu Donghae sedikit kasar.

“Aku tidak apa-apa Yoona-yaa….”

Jawab Donghae lagi lalu membawa Yoona ke dalam pelukannya. Seketika saja Yoona tak bisa mengontrol air matanya, semakin tak terkendali saat dirinya memeluk Donghae yang lemah. Yoona tak bisa menerima kenyataan pahit ini, mengetahui jika Donghae selama ini tersiksa karena penyakit yang bersarang di tubuhnya.

[]

Malam datang, waktu pun sudah larut. Jam di dinding sudah menunjukan waktu tengah malam. Tapi, ternyata Donghe belum bisa menutup kedua matanya. Di lihatnya, Yoona yang terbaring di sofa. Donghae melukis senyum tipis di wajah sendunya. Donghae kembali melamun, menatap langit-langit kamar yang terang. Pikirannya menerawang jauh entah kemana.

Tiba-tiba suara pintu terbuka menyadarkan kembali Donghae dari lamunannya, dia menoleh. Ternyata ibunya yang datang.

“Ibu, ibu belum tidur?” tanya Donghae tak kala wanita paruh baya itu sudah berada di sisinya.

“Bagaimana ibu bisa tidur, semantara ibu memikirkan mu…” jawab Ny Lee lalu memegang tangan hangat Donghae.

“Ibu, aku tidak apa-apa. Cepat tidurlah…” titah Donghae. Tapi Ny Lee malah menggelengkan kepalanya.

“Donghae-ah, tadi ibu sudah berkonsultasi dengan Dokter Jung. Kau akan segera menjalani operasi, Dokter Jung berjanji akan menyelamatkan mu…” ucap Ny Lee memberi semangat.

Donghae tersenyum “Ibu, meskipun aku menjalani operasi tapi jika waktunya aku harus pergi. Maka aku akan pergi..”

“Donghae-ah…” mata Ny Lee mulai berkaca-kaca.

“Ibu, ini semua sudah takdir ku. Mungkin waktu ku tak lama lagi, jadi biarkan aku menikmati waktu ku yang singkat bersama mu dan bersama Yoona…”

“Donghae-ah, cukup ayah mu yang meninggalkan ibu. Apakah kau akan tega meninggalkan ibu juga…”

“Ibu…”

“Apa pun akan ibu lakukan untuk menyelamatkan mu, jika perlu ibu mau menukar posisi dengan mu. Ibu mau, tapi nyatanya tak bisa Donghae. Kenapa Tuhan begitu kejam pada mu ”

Raut wajah Donghae tak bisa di sembunyikan, di terlihat sedih melihat ibu yang amat di cintainya kini sedang menangisi nasibnya yang malang. Tapi, Donghae pun tak tahu harus berbuat apa. Karena ini semua memang sudah suratan sang Maha Kuasa kepadanya. Tanpa sadar Donghae menyeka air matanya yang tanpa terkendali keluar begitu saja.

“Ibu, tolong jangan menangis…” batin Donghae dalam hati.

[]

Siwon membuka lemari pakaiannya, lalu mengambil sebuah koper berukuran cukup besar di sudut bawah lemarinya. Kemudian, dia mengeluarkan beberapa pakaiannya lalu memasukannya ke dalam koper tersebut. Setelah di rasa cukup, Siwon menutup kopernya lalu duduk di tepi ranjang. Siwon lalu meraih sebuah amplop berwarna putih lalu membuka isinya, ternyata itu adalah tiket menuju Jerman.

Siwon mengambil tiket itu, beberapa menit dia diam sambil berpikir apakah keputusannya tepat untuk kembali lagi ke Jerman. Meskipun Siwon masih merasa bimbang, tapi akhirnya dia sudah membulatkan tekad untuk kembali lagi ke Jerman.

Siwon kembali meletakan amplop tersebut ke tempat semula, lalu merebahkan tubuhnya.

“Selamat tinggal Im Yoona…” ucap Siwon sambil menerawang sosok Yoona.

[]

Lima hari sudah Donghae di rawat di rumah sakit, dan selama itu pula dengan setia Yoona selalu berada di sampingnya dari mulai matahari merangkak naik, hingga turun kembali keperaduannya. Tidak hanya Yoona, Ny Lee, Ny Jung, Krystal ataupun Changmin juga selalu menjenguk Donghae.

Donghae melihat jam di dinding yang sudah menunjukan pukul 5 sore, kini dia sendiri. Yoona sedang pulang ke rumah untuk mengambil makan malam. Donghae merasa jenuh, karena seharian ini dia hanya berbaring di ranjang tanpa melakukan apapun. Akhirnya Donghae memutuskan untuk turun dari ranjang, lalu duduk di sofa.

Donghae mengambil beberapa lembar kertas dan sebuah pena dari dalam tas miliknya lalu mulai menulis sesuatu disana.

Satu jam berlalu, Donghae melipat kertas tersebut. Lalu memasukan kertas itu ke dalam tasnya kembali. Lalu dia menampakan senyum tipis di wajah pucatnya “Mungkin aku egois, maafkan aku Yoona….” ucap Donghae dengan mata berkaca-kaca.

[]

Pagi kembali menyapa bumi kota Seoul, mentari tak seperti biasanya menyapa setiap pagi. Kini dia bersembunyi di balik awan tak menampakan dirinya. Siwon menengadahkan kepalanya melihat cuaca yang tidak bersahabat hari ini. Sedetik kemudian terdengar desahan dari bibirnya.

“Tuan Muda, anda yakin akan berangkat hari ini?” ucap salah seorang pelayan rumahnya.

“Emmm, sepertinya akhir-akhir ini cuaca kurang bersahabat. Ahhh kita pergi saja sekarang..” jawab Siwon lalu membalikan tubuhnya menghadap pelayan tersebut.

“Baiklah, kalau begitu saya akan siapakan mobil sekarang…”

“Ne, cepatlah…”

[]

Yoona menerobos orang-orang yang tengah berjalan di koridor rumah sakit, saat ini dia tak memperdulikan omelan orang-orang yang menegurnya karena bersikap tak sopan. Kini, yang Yoona khawirkan hanya Donghae, Donghae dan Donghae. Setelah mendapat kabar dari Ny Lee Yoona segera berlari dari rumah menuju rumah sakit.

Yoona membuka kasar pintu  ruangan dimana Donghae berada, Yoona berjalan pelan melihat sosok Donghae yang tengah berbaring. Wajah pucatnya di hiasi dengan senyuman yang tak pernah berubah sedikit pun.

“Maaf aku terlambat..” ucap Yoona serak karna air matanya terus turun sejak tadi.

Donghae kembali tersenyum, kemudian dia menggeleng lemah. “Anio, kau tidak terlambat..” ucap Donghae dengan sisa tenaganya.

Yoona meraih tangan hangat Donghae, menatap mata suaminya ini dengan buliran-bliran air mata yang jatuh tak terhenti. Begitu juga dengan Donghae, menatap Yoona dengan penglihatannya yang mulai pudar. Tapi, Donghae bersikap tak terjadi apa-apa dengan kedua matanya.

“Yoona tetaplah disisi ku, hanya sebentar saja…” ucap Donghae lemah lalu menggenggam tangan Yoona erat. Yoona menatap Ny Lee dan Dokter Jung secara bergantian, keduanya mengangguk menyetujui permintaan Donghae.

“Oppa, bertahanlah. Jika kau mau bertahan, aku berjanji akan menjadi istri yang baik untuk mu. Kita bangun keluarga yang bahagia, bukankah itu harapan mu…” ucap Yoona namun Donghae tak dapat mendengarnya dengan jelas.

Satu jam yang lalu Donghae di nyatakan kritis, kanker yang bersarang di otaknya sudah menyebar luas. Mengganggu sarap-sarap tubuhnya, pendengarannya, penglihatannya, gerak anggota tubuhnya. Semua sudah di vonis lemah, bahkan Donghae sudah tak dapat menegakan tubuhnya lagi. Dia sudah di nyatakan lumpuh. Namun, entah mengapa Donghae masih bersikap tak terjadi apa-apa. Dia masih tersenyum meski seluruh tubuhnya sudah di nyatakan lumpuh, bahkan bisa jadi Donghae menjadi buta ataupun tuli.

Changmin yang mengetahui kondisi Donghae kian memburuk, segera berlari mengajar Siwon ke bandara. Changmin memang sudah mengetahui jika hari ini Siwon akan pergi ke Jerman. Sambil menyetir, Changmin berusaha menghubungi Siwon. Tapi, sayang Siwon mematikan ponselnya.

“ARGHHHH….. Kau akan menyesal jika kau pergi sekarang Siwon…”

Teriak Changmin prustasi lalu nambah kecepatan mobilnya.

[]

Sementara itu, mobil yang membawa Siwon ke bandara telah sampai. Siwon turun di dampingi salah seorang pelayan yang membawa kopernya. Tapi, tiba-tiba Siwon menghentikan langkah kakinya. Dia seperti teringat akan sesuatu hal.

“Tuan Muda, anda tidak apa-apa?”

“Euh, nde aku tidak apa-apa…” jawab Siwon berusaha tersenyum lalu kembali berjalan.

“Kenapa perasaan ku tidak enak…” gumam Siwon cemas.

[]

Changmin menghentikan mobilnya saat sudah sampai di bandara, dia segera berhambur keluar lalu berlari masuk kedalam berharap bisa menemukan Siwon lalu membawanya ke rumah sakit. Changmin terus berlari, dia naik ke lantai dua, mencari Siwon dengan sisa waktu yang semakin sempit.

“Oh Tuhan…”

Changmin kembali berlari menuju lantai dasar, menuju kursi tunggu para penumpang. Saat dia berjalan tiba-tiba tak sengaja matanya melihat Siwon yang tengah berjalan. Changmin segera berlari mengejar Siwon.

“Choi Siwon….Choi Siwon….” Changmin berteriak dengan sisa tenaga yang ia punya lalu berlari menghampiri Siwon.

 

Siwon POV

“Choi Siwon….Choi Siwon….”

Tiba-tiba ku dengar seseorang memanggil nama ku, aku segera berbalik melihatnya. Ternyata Dia Changmin. Ada perlu apa dia memanggil ku. Pikir ku. Changmin berlari menuju dimana aku berada, ku lihat dia mengatur nafasnya sebelum bersuara.

“Siwon, ku mohon kau jangan pergi….ku mohon…” ucap Changmin tiba-tiba yang semakin membuat aku tak mengerti.

“Apa maksud mu?”

“Donghae, sekarang dia kritis. Tak ada waktu lagi, jika kau tak mau menyesal cepat ikut aku..” Changmin menarik tangan ku lalu menyeretku untuk mengikutinya.

“Apa sebenarnya yang kau katakan, aku tak mengerti…” ku hempaskan dengan kasar tangan Changmin yang memegang tangan ku.

“Cepat katakan, aku tak punya banyak waktu..”

Perlahan Changmin membalikan badannya menghadap ku, ku lihatnya matanya mulai berair seperti akan segera menangis, aku menatapnya menunggu jawaban.

“Dia mengidap kanker otak…” ucap Changmin pelan. Tapi perkataannya itu terasa menusuk gendang telinga ku, aku berusaha mencerna kembali kalimat yang baru saja ku dengar. Berharap ini semua tak benar, berharap “Dia” yang Changmin maksud bukan Donghae melainkan orang lain.

“Tak ada waktu lagi, Donghae sekarang kritis. Aku menyusul mu kemari, hanya ingin memberi tahukan ini. Tak ada kesempatan lagi Siwon, ku mohon kau jangan pergi”

Benar saja, “Dia” yang Changmin maksud adalah Donghae. Saudara ku. Tidak. Donghae yang bilang aku adalah saudaranya. Ternyata inilah jawaban dari kegundahan yang ku rasakan akhir-akhir ini, Donghae ternyata mengidap kanker otak. Ini sungguh sangat menyesakan untuk ku, bagaimana bisa aku tidak peka akan hal seperti ini. Bagaimana mungkin selama ini aku menikamnya dari belakang, diam-diam ingin merebut Yoona darinya sementara dia. Dia menderita. Inikah alasan di balik sikap baik Donghae pada ku, inikah alasan sikap bersahabat Donghae pada ku?

End of Siwon POV

 

Author POV

Yoona masih memegang eret tangan Donghae, menangis di depan namja ini. Menatap mata sendu nan hangat yang selalu terpancar dari Donghae. Donghae yang kini sudah di nyatakan lumpuh tak dapat menggerakan kakainya, kini hanya tangannya yang bisa ia gerakan itu pun sangat lemah. Tapi Donghae berusaha mengusap air mata di pipi Yoona. Donghae memang tak bisa melihat Yoona menangis, apalagi menangis karena dirinya..

“Oppa bertahanlah….bertahanlah demi aku ku mohon….”isak tangis Yoona kian terdengr di rungan ini. Meskipun tidak hanya dirinya yang merasakan kesedihan akan kondisi Donghae yang sudah benar-benar lemah.

[]

Siwon membanting pintu mobil lalu segera berlari menuju ruangan Donghae berada, nafasnya memburu dan terdengar jelas di lorong rumah sakit yang sangat hening. Di belakang, Changmin mengekori dengan berlari mengejarnya. Siwon menghentikan langkahnya, tak kala berhenti di sebuah ruangan yang di dalamnya ada Donghae. Siwon memutar knop pintu lalu membuka pintu itu sedikit, kemudian dia kembali menutupnya.

“Kenapa kau tidak masuk?” tanya Changmin. Siwon menggelang. Dia lebih memilih melihat Donghae dari balik kaca. Ini semua Siwon lakukan, karena merasa bersalah pada Donghae.

Changmin yang sepertinya mengerti perasaan Siwon, menemani Siwon menyaksikan semuanya dengan jelas melalu kaca jendela yang tak tertutup

[]

 

Untuk kesekian kalinya Donghae kembali menyeka air mata di pipi Yoona, lalu dia tersenyum. Senyum yang selalu ia berikan pada Yoona, sebuah senyuman hangat dan penuh kasih sayang.

“Yoona-yaa, terima kasih telah menami hari-hari terakhir ku dengan indah….”

“Yoona-yaa, terimakasih telah memberikan ku kenangan selama 7 tahun, dan terima kasih telah mengajari ku arti cinta yang sesungguhnya.

“Yoona-yaa, terima kasih kau telah bersedia menjadi pendamping hidup ku”

“Yoona-yaa,  maafkan aku karena aku tak bisa menjadi suami yang terbaik mu, dan maafkan aku karena aku tak bisa memberikan mu kebahagiannya yang sesungguhnya…”

“Yoona-yaa  aku minta satu permintaan , maukah kau melakukannya?” tanya Donghae pelan. Yoona menganggukkan kepalanya.

“Katakanlah “Aku mencintai mu Oppa.”  Aku ingin mendengarnya sebelum aku benar-benar pergi” pinta Donghae di barengi dengan keluarnya krystal-krystal bening dari kedua sudut matanya.

“Aku mencintai mu Oppa…” ucap Yoona di sela-sela isakannya..

Donghae tersenyum “Bisa kau ulangi, aku ingin mendengarnya sekali lagi…”

“Aku mencintai mu Oppa….”ucap Yoona lagi.

“Aku mencintai mu Oppa, bertahanlah ku mohon…”

“Sekali lagi, katakanlah..” pinta Donghae semakin pelan.

Donghae mengetahui jika selama ini hanya ada Siwonlah yang berada di hati Yoona, maka dari itu dia ingin mendengar untuk terakhir kalinya Yoona mengatakan mencintainya meskipun pada kenyataannya dia mengetahui jika dia tak ada di hati Yoona.

“Aku mencinta mu Oppa, maafkan aku. Maafkan aku, aku benar-benar minta maaf. Sungguh aku menyesal maafkan aku…” ucap Yoona semakin terisak, sepertinya dia sudah menyadari kesalahan-kesalahan yang telah ia perbuat pada Donghae selama ini, mulai dari menjadikan Donghae sebagai pelariannya. Berpura-pura mencintai Donghae, menghiyanati cinta tulus yang Donghae berikan untuknya yaitu berselingkuh dengan Siwon. Itu semua membuat Yoona semakin merasa bersalah dan akhirnya dia sudah menyadarinya. Meskipun sudah terlambat.

“Saatnya aku pergi, selamat tinggal. Yoona Saranghae….” ucap Donghae sangat pelan. Perlahan genggaman tangannya yang erat melemah. Donghae telah menutup mata, menutup untuk selama-lamanya. Dia telah pergi, menghadap Sang Maha Pencipta di tempatnya-Nya yang lebih indah.

Seketika saja tangisan histeris memech kesunyian, Ny Lee tersengkur di lantai menyadari jika putra kesayangannya telah pergi untuk selamanya. Isakan juga mulai terdengar dari Dokter Jung, yang sama-sama harus merelakan Donghae yang sudah ia anggap sebagai putranya harus pergi secepat itu menghadap sang pencipta.

“Oppa irona, OPPA….OPPA PALLI IRONA….DONGHAE OPPA  KAU JANGAN BERCANDA..PALLI IRONA…OPPA….Oppa jangan tinggalkan aku..jangan tinggalkan aku…”

Yoona mengguncang-guncang tubuh Donghae yang sudah tak bernyawa itu dengan histeris, sekarang tak akan ada lagi sosok namja hangat, penuh pengertian, tulus, baik, mencintainya serta menyayanginya. Kini Donghae sudah pergi, dia sudah tenang di alam sana.

[]

Siwon tersungkur ke lantai, lututnya terasa lemas. Matanya memandang lantai dengan tatapan kosong, perlahan air matanya turun membasahi kedua pipinya. Siwon tampak belum bisa percaya jika Donghae akan pergi secepat ini, ini semua benar-benar di luar dugaannya.

Tiba-tiba Siwon kembali teringat masa-masa saat bersama Donghae, mulai dari pertemuan pertama mereka sampai dengan pertemuan terakhir mereka di sebuah bar kala ini. Itu semua masih terekam dengan jelas di memori Siwon,

“Donghae, berarti selama ini kau…” Siwon tak dapat melanjutkan ucapannya. Airmatanya terlanjur tumpah sudah, air mata penyesalan serta air mata kehilangan bercampur menjadi satu. Siwon menyembunyiakan wajahnya, isakannya kian terdengar jelas di lorong yang sunyi sepi ini.

“Maaf, maafkan aku, maafkan aku Donghae-yaa,,” ucap Siwon di sela-sela isakannya.

“Sudahlah Siwon, dia sudah pergi. Biarkan dia tenang…” ucap Changmin menenangkan. Sebenarnya dia juga sangat terpukul atas kehilangan Donghae, salah satu sahabat terbaiknya.

“Bagaimana mungkin dia pergi secepat ini, bagaimana mungkin? Aku menyesal Changmin, aku benar-benar menyesal”

Changmin berjongkok, menepuk-nepuk bahu Siwon berusaha untuk menenangkan Siwon yang perasaannya benar-benar sedang kacau saat ini.Changmin juga memangis, menangis karena kehilangan sosok sahabat yang amat sangat baik. Lee Donghae dia telah pergi untuk selamanya.

 

Cintaku Cintaku Cintaku

Ucapkan selamat tinggal,  maka kesedihan mu akan berkurang

Sampai berjumpa lagi, sampai bertemu nanti Selamat tinggal

Dengan berjalannya waktu kau akan dapat dengan mudah melupakanku…

Good Bye My Love ~~~~~

 

 

To Be Countinued

Akhirnya beres juga chapter penuh emosional ini >< ini adalah chapter terpanjang……dari semua chapter ff galau yang rumit dan penuh liku ini -_-

Bagi yang sudah pendapatkan PW chapter 11, tapi merasa belum meninggalkan jejak? Hayooo cepat tinggalkan jejak, di chapter-chapter sebelumnya juga jangan lupa tinggalkan jejak. Karena ada kemungkin chapter 13 aku proteksi lagi, dan hanya Good Readers-lah (Yang selalu meninggalkan jejak di semua chapter tanpa kecuali) yang akan mendapatkan PW. Jadi bersiaplah smsan dengan ku lagi. Hehehe..

Tapi itu masih rencana, berharap tidak ada siders lagi yang kelayapan(?) di YWK malu atuh ckckckck…So tinggalkan jejak, jika tak mau aku proteksi…

Aku tunggu komentar, kesan-kesan kalian tentang chapter ini. Semoga chapter ini tidak mengecewakan. 🙂 Terima kasih *Bow

Note: Maaf jika Chapter ini berasa baca ff YoonHae heheheh….. yang penting ini ff YoonWon kan? Cuman ada rasa YoonHae dikit…kekeke untuk kakak Echa hehehhe makasih eonni udah post ff ku peluk cium {} :* (sama2, peluk balik 🙂 )

Tinggalkan komentar

170 Komentar

  1. VynnaELF

     /  Juli 30, 2013

    Part ini menguras air mata banget…
    Mulai dari siwon yg bisa merelakan yoona…sampai donghae yg pergi…
    Huwaaaa…daebak!

    Balas
  2. dina

     /  Agustus 5, 2013

    Krn ​ƍäª dpt PW tuk chapter 11..makanya lgsng baca chapter 12…sedih banget…donghae oppa…kasian…yoong yg tabah dan donghae eomma..jgn bersedih lama2…chapter 13..​ƍäª sabar tuk bacanya…

    Balas
  3. Rara

     /  Agustus 22, 2013

    Sumpah derai air mata bnget ney ff,
    aplgi pas siwon didepan gereja, nyesek bnget
    crta yg bgus bngettt nita

    Balas
  4. KieWonkyu

     /  Agustus 24, 2013

    ouh siwonie kamu bnr” ngeluarin uneg” sma ibumu ,mdh”an dia sadar atas prlakuannya slma ini …
    wah ini chaptr sma bkn glaunya sma chptr 11 ,, mlai dari siwon yg udh ngrelain yoona wlau sulit ,, tpi knpa donghaenya hrs mninggal ? bnr” kraktr donghae dsini aku suka …

    Balas
  5. Merisa Hermina putri

     /  September 20, 2013

    OH MY GOD !! Sakit banget tuh pasti jadi siwon , kalo aku jadi siwon aku tarik yoona trus aku bawa lari

    Kalo aku jadi yoona , aku pasti udah melarikan diri sama siwon !! Gak mikirin deh gimana donghea , yg penting yoona harus sama siwon *Maaf Donghae Oppa

    Balas
  6. rayna

     /  Desember 8, 2013

    Krn ƍäª dpt PW tuk chapter 11..makanya lgsng baca chapter 12…sedih banget…donghae oppa…kasian…yoong yg tabah dan donghae eomma..jgn bersedih lama2…chapter 13.. ƍäª sabar tuk bacanya…

    Balas
  7. tia risjat

     /  Maret 10, 2014

    aduh,, ga tega liat haeppanya ih.. tapi mau gimana lagi, takdir author mengatakan lain.
    terus hidup yoona selanjutnya gimana? siwon gimana? well, meskipun kesannya berbahagia di atas kepergian (?) haeppa, tapi yoonwon bakalan bersatu kan?

    Balas
  8. dede

     /  Maret 18, 2014

    tolong rumah ku banjir gara2 2hari 1mlm q nangis baca ff ini.benat2 menguras persedian air mataku!!! kenapah yoona harus nikah sama donghae kasian siwon.tp klu yoona milih siwon kasian donghae.ciapa tg punya tisyu minta donk stok tisyu drumah q habis?

    Balas
  9. ndashof

     /  April 1, 2014

    sungguh sangat mengharukan

    Balas
  10. nina

     /  Mei 4, 2014

    hiks hiks…
    no comnent..
    hiks hiks

    Balas
  11. umu

     /  Juli 2, 2014

    ;(

    Balas
  12. Ass,,,oeni aku dah sering minta pw tp terus gagal trus,pdhal aku dah sering tinggalin jejak.
    Kasihan banget donghae cinta yg suci dbawa smp mati,kasian yoona yg jd janda kembang dah nkah tp blum disentuh sedikitpun ma donghae,semoga ibu siwon dpat berubah.

    Balas
  13. Dahlia GaemGyu

     /  Juli 31, 2014

    yoona jd janda,,, miris bgtsih nasibnya donghae

    *belum dpt PW chapter 11

    Balas
  14. Mia

     /  Agustus 2, 2014

    Donghae oppa kasian sekali knpa ga’ sembuh aja trus nikah deh sma jesica eonni

    Balas
  15. Bener” nguras air mata baca :_( ,mantep bgt ffx ,walaupun d awal cerita agak bingung&g’ faham hehehe

    Balas
  16. marsiah

     /  Maret 1, 2015

    Donghae meningal lalu apa yoonwon akan bersatu atau siwon oppa tetap akan pergi ke jerman meningal kan yoona lagi dengan kesendirianya yg telah di tingal donghae suaminya yg telah pergi untuk selama2nya.

    Balas
  17. kalo mimin blg ini ff trpanjang tapi seiring prjalanan pembacaan kyak gk pjg kok serasa keg pendek aja, apa mungkin krn ceritanya yg menyedihkan 😥 min minta pass chapter 11nya dong. Aku sdh sms

    Balas
  18. raratya19

     /  Oktober 20, 2015

    goodbye, aku ga nyangka rnyata yoona dan donghae jadi nika, terus nasib yoona nanti bgmana?

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: