[OS] FIRST AND LAST

(OS) FIRST AND LAST

JUDUL:  FIRST AND LAST

Type: OS

Author: yoonwonfp

Genre: Romance, sad

Rating: PG(15+)

Main cast: Choi Siwon, Im Yoona

Disclaimer:

Guys, Ini OS Pertamaku. Aku harap kalian suka ya… Sebenernya idenya juga muncul tiba-tiba. Haha.. I’m sorry kalo ada typo. N the last is, tolong comment ya..

Oh iya, ff Familynya akan aku update setelah UN y. Hehe.. Sabar y.. 2 or 3 weeks more^^. N mohon doanya untuk UN y… N untuk yg akan UN juga JIA YOU YA! Fighting! GBU ALL.. And THX..

“Menjadi pendampingmu adalah kebahagiaan terbesarku”

“Pada saat ini, tanggal 21 Agustus 2013, tepat pada pukul 15.00 pengadilan tinggi Seoul, menyatakan saudara Choi Siwon dan saudara Im Yoona telah dinyatakan berpisah atau bercerai. Keputusan ini mutlak dan tidak bisa diganggu gugat.”

TOK..TOK…TOK..

Ketukan palu yang berbunyi 3 kali membuat semua orang yang berada di dalam ruangan pengadilan terdiam. Tak ada satu orang pun dari mereka yang bisa berkomentar dengan keputusan hakim. Satu persatu dari mereka mulai melangkah pergi keluar dari ruangan dengan kecewa dan meninggalkan 3 orang yang masih duduk di ruangan.

Walaupun masih ada 3 orang dalam ruangan ini, namun ruangan ini tetaplah sunyi. Tak ada satu suarapun yang keluar dari antara mereka. Donghae yang dari tadi duduk di belakang mulai berjalan ke depan dan mengampiri Yoona yang duduk berseberangan dengan Siwon.

“Yoong, Oppa keluar dulu, nanti kalau kau sudah mau pulang hubungi Oppa saja.”Bisik Donghae pelan di telinga Yoona.

Siwon hanya bisa menghela napasnya panjang melihat adegan yang baru saja dilakukan oleh mantan istrinya dan calon suami istrinya. Walaupun ini bukan pertama kalinya dia melihat adegan seperti ini di depan matanya, tapi hatinya tetap saja sakit melihat wanita yang masih sangat dicintainya berkhianat di depannya.

“Kita baru saja bercerai beberapa menit yang lalu. Tak bisakah mereka tak melakukan itu di depanku..”Lirih Siwon dalam hatinya.

“Ani Oppa.. Aku juga sudah mau pulang. Kajja…”Jawab Yoona pada Donghae. Yoona berdiri dari kursinya kemudian mengambil tasnya dan menarik tangan untuk keluar bersamanya.

Sebelum Yoona dan Donghae keluar dari pintu, Siwon yang dari tadi diam membuka suaranya.

“Lee Donghae, tunggu sebentar.”Kata Siwon kemudian segera bangun dari kursinya dan menghampiri Donghae yang menatap Siwon bingung.

“Ada yang ingin kubicarakan sebentar. Bisakah kau ikut denganku?”

Sebelum menjawab permintaan Siwon, Donghae menatap Yoona yang berdiri di sampingnya. Yoona menggelengkan kepalanya seakan mengatakan untuk menolak permintaan Siwon.

“Tenang saja. Aku tidak akan memukul atau membunuh calon suamimu. Aku hanya mau membicarakan beberapa hal.”Kata Siwon dingin menatap Yoona yang masih memegang tangan Donghae.

“Yoong, boleh?”Tanya Donghae pada Yoona yang mendapat  anggukan pelan dari kepala Yoona.

“Baiklah.. Oppa pergi sebentar dengan Siwon. Kalau kamu lelah, pulanglah dulu, kamu pakai saja mobil Oppa. Nanti Oppa pulang sendiri.”Kata Donghae sambil mengeluarkannya kunci mobilnya dan memberikannya pada Yoona.

“Neh, Oppa..”

——————————

“Kau menang Lee Donghae.”Lirih Siwon sambil menyenderkan tubuhnya di tembok gedung itu dan menatap kosong lantai-lantai putih di bawahnya.

“Siwon… Mianhae…”

“Huh.. Sudahlah. Setidaknya aku sudah pernah menang darimu. Walaupun aku tidak yakin apakah dulu 2 tahun lalu benar-benar bisa disebut kemenanganku?”

Donghae benar-benar merasa bersalah sekarang. Dia tidak bisa menjawab pernyataan Siwon. Sebagai seorang sahabat, ingin sekali dia memeluk Siwon dan menepuk pundaknya memberinya kekuatan.Tapi, apakah benar dia seorang sahabat bagi Siwon. Dia sadar dia telah menghancurkan kehidupan sahabatnya, orang yang selama ini selalu menemaninya. Tapi apa daya, saat ini dia juga harus menyelamatkan nyawa seseorang, maka bukan tak mungkin dia harus menyakiti sahabatnya bukan?

“Hae, sejujurnya aku masih tak percaya kalau laki-laki yang Yoona maksud adalah dirimu. Aku pikir setelah dia memilihku kau sudah melupakannya. Tapi, ternyata aku salah bukan.”

“Siwon, aku tidak tahu harus berkata apa. Aku hanya bisa minta maaf, walaupun mungkin permintaan maafku tidak bisa diterima.”

“Sudahlah.. Pada intinya, inilah keputusannya. Meninggalkanku dan pergi denganmu.. Jadi walaupun aku kecewa, aku juga tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa memintamu untuk menjaganya baik-baik..”

“Neh.. Aku tahu. Aku akan berusaha.”

“Oh iya. Bacalah kertas ini. Ini adalah hal-hal yang dia sukai. Walaupun kau calon suaminya, tapi aku yakin ada beberapa kebiasaannya yang tak kau ketahui. Karena itu, aku berharap kertas ini bisa membantumu.”Kata Siwon sambil menyerahkan sebuah kertas dari saku celananya dan menyerahkannya pada Donghae.

“Ah.. Kau tidak perlu melakukan ini..”

“Ani. Aku hanya tidak ingin melihat pernikahan kalian harus berakhir seperti aku. Aku harap ini pernikahan terakhir kalian. Dan satu lagi, tolong berikan cincin ini pada Yoona…”Lanjut Siwon sambil melepaskan cincin yang terpasang di jari manis tangan kanannya.

“Siwon-ah.. cincinmu itu lebih baik kau simpan saja. Aku dan Yoona tidak akan mempermasalahkannya.”

“Ani.. Cincin ini seharusnya menjadi pengikat aku dan dia tapi sekarang aku dan dia sudah tidak terikat oleh apa-apa.”

“Neh. Aku mengerti Siwon. Tapi, kenapa kau mau aku memberikannya pada Yoona? Kenapa tidak kau buang saja?”

“Haha.. Kau tahu, cincin ini melambangkan hatiku. Dari sejak menikah hatiku sudah menjadi miliknya. Kalau aku membuang hatiku sendiri, aku akan mati bukan? Aku hanya ingin memberikan ini kepadanya. Tolong katakan padanya, aku hanya menginginkannya menyimpan cincin ini. Dan, katakan terima kasih padanya, karena sudah mengisi hatiku selama ini. Bisa menikah dengannya adalah kebahagiaan terbesarku, dan jujur, bercerai dengannya adalah kegagalan terbesarku…”

“Siwon-ah, aku tidak mungkin mengatakannya. Kau katakan langsung saja padanya..”

“Ani. Aku mohon. Anggaplah ini permintaanku yang terakhir. Lagipula setelah ini kita hanya akan seperti orang asing bukan? Jadi untuk yang terakhir kali anggaplah aku temanmu. Dan yang terakhir, Lee Donghae, walaupun aku marah, cemburu, dan mungkin kita bisa menjadi musuh tapi aku sejujurnya aku tidak pernah bisa membencimu. Aku bodoh bukan? Karena itu, aku mohon sebagai sahabatmu tolong bahagiakan Yoona, jangan kecewakan dia. Jadilah suami yang baik baginya. Dan.. Jadilah yang terakhir baginya.. Gomawo untuk semuanya Hae. Khususnya terima kasih untuk menjadi sahabatku, walaupun pada akhirnya aku harus kecewa padamu…”

Donghae menatap punggung Siwon yang pergi dari hadapannya. Mendengar setiap kata-kata yang keluar dari mulut Siwon benar-benar membuatnya bersalah. Rasanya dia ingin memutarbalikkan waktu dan menolak permintaan Yoona. Donghae terus merutuki dirinya kesal. Dia mulai menangis dan ingin rasanya dia memukul tembok di hadapannya. Dia benar-benar menyesal. Dia sadar bahwa dia telah menghancurkan temannya sendiri.

Setelah menangis, Donghaepun segera menghapus air matanya dan berjalan. Namun, betapa terkejutnya dia saat melihat Yoona yang sedang duduk menangis di sudut tembok yang tak jauh darinya.

“Yoong, kenapa kau disini?”Tanya Donghae kemudian duduk di samping Yoona.

“Apa kau mendengar pembicaraanku dangan Siwon?”Lajut Donghae yang mendapat anggukan pelan dari Yoona yang masih menangis.

“Oppa, kenapa Siwon Oppa tidak membenciku?”

“Yoong, kau tahu sifat Siwon. Sejujurnya, aku juga bingung kenapa dia bilang tidak bisa membenciku. Tapi, itulah sifat Siwon. Dan, bukankah itu yang membuat kau mencintainya dan aku juga menjadi sahabatnya?”

“Neh. Karena aku mencintainya. Bahkan aku sangat mencintainya… Samapai kapanpun aku akan terus mencintainya…”

“Neh. Aku tahu. Ambillah cincin ini dan kertas ini.”

“Apa aku harus menerimanya?”

“Yoong, aku rasa tanpa perlu aku jelaskan kau sudah mendengar dari mulutnya sendiri bukan? Jadi ambillah. Setelah itu, sisanya keputusanmu..”

“Baiklah, gomawo Oppa.”

“Oh iya, bukankah kita harus ke rumah sakit Yoong?”

“Neh.. Aku lupa.. Ayo Oppa… Kajja.”

Malam yang semakin larut tak membuat Yoona dapat menghetikan air matanya yang sedari tadi keluar dari mata indahnya. Tangannya terus memegang cincin yang tadi dia terima dari Donghae, sahabatnya. Cincin yang memiliki kenangan terindah dalam hidupnya. Terutama karena kata-kata yang didengarnya dari mantan suaminya. Tak pernah dalam pikirannya, Siwon masih terus mencintainya walaupun dia sudah menyakitinya seperti itu.

Seorang wanita paruh baya membuka pintu di hadapannya dan masuk ke dalam kamar keponakannya. Dia meletakkan nampan yang dibawanya di atas meja kemudian ia berjalan menuju ranjang tempat Yoona menangis, dengan perlahan dia membelai rambut Yoona dengan sayang. Memang bukan pertama kalinya Yoona menangis, hanya saja dia tahu hari ini pasti hati Yoona saat ini lebih sakit karena hari inilah hari perceraiannya.

“Yoona-ya, kamu makan dulu ya sayang…”

“Imo, aku tidak lapar.”

“Sayang, tapi kamu belum makan apa-apa dari siang. Bagaimana kalau nanti kamu sakit?”

“Tidak apa-apa Imo. Aku kan sudah sakit… Jadi aku rasa tidak ada gunanya aku makan.”

“Tapi penyakitmu bisa bertambah parah sayang.”

“Baguslah kalau tambah parah, Imo. Dengan begitu aku bisa cepat mati..”

“Yoona-ya! Kamu jangan bicara seperti itu!”

“Wae? Aku memang ingin secepatnya mati.”

“Sayang, Imo mohon jangan bicara seperti itu. Kamu tidak akan mati. Arra?”

“Andaikan aku tidak akan mati, mungkin hidupku akan baik-baik saja sekarang. Tapi, kenyataannya tidak Imo. Kalaupun pengobatanku berhasil,tidak ada gunanya aku hidup. Aku benar-benar ingin mati sekarang..”

“Yoona-ya, Imo mohon kamu jangan seperti ini. Imo hormati keinginanmu untuk berpisah dengan suamimu, karena Imo pikir dengan begitu kamu mau menjalani pengobatan sayang. Tapi, kalau memang kamu sampai seperti ini lebih baik Imo  menghubungi suamimu  dan memberitahu dia tentang penyakitmu.”

“Suami? Dia bukan suamiku lagi. Aku sudah tidak punya suami lagi. Menyedihkan bukan?”

“Sayang, kalau memang dia bukan suamimu lagi, kenapa kau harus menangisinya?”

“Entahlah Imo. Aku hanya merindukannya. Sangat merindukannya…”

“Yoona-ya, Imo mohon kau jangan seperti ini terus. Lihatlah, banyak orang yang menginginkan kesembuhanmu saat ini, appa, eommamu, Imo, dan Donghae Kamu harus berjuang melawan penyakitmu.”

Perkataan yang diucapkan Imonya, membuat Yoona yang sedari tadi frustasi mulai memiliki semangat hidup. Dia sadar perkataannya barusan telah membuat Imo yang beberapa tahun ini merawatnya menangis. Dia segera memeluk Imonya.

“Imo, aku minta maaf.. Mianhae.. Hanya saja aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Rasanya terlalu sakit Imo. Aku tidak kuat…”

“Sayang, percayalah. Tuhan tidak pernah memberikan kita pencobaan yang melebihi kekuatan kita. Imo yakin kamu pasti bisa melaluinya. Percayalah..”

“Aku harap aku bisa. Tapi, bagaimana kalau aku gagal? Bagaimana kalau aku tidak kuat?”

“Kamu pasti kuat. Imo yakin.. Percayalah. Tuhan selalu punya waktu yang terbaik sayang…”

“Neh. Gomawo Imo.”

“Ya sudah. Sekarang kita makan dulu ya..”

“Neh..”

Wanita paruh baya itu dengan tersenyum segera mengambil sepiring nasi dan lauk yang telah disiapkannya untuk Yoona. Dengan senang hati, dia mulai menyuapi Yoona.

“Imo, aku bisa makan sendiri. Imo istirahat saja.”

“Sayang, hari ini biarkan Imo yang menyuapimu ya. Besok kamu tidak akan tinggal bersama Imo lagi, jadi hari ini Imo mau bermanja-manaja denganmu. Bolehkan?”

“Haha.. Tentu saja boleh Imo.. Aku jadi ingat saat Imo melakukan ini pada waktu aku akan menikah. Saat itu Imo menangis semalaman. Haha…”

“Neh.. Sudahlah. Ayou, buka mulutmu..”

Yoona pun mulai menerima suapan dari Imonya. Namun setelah beberapa suapan, perutnya seakan berputar ingin mengeluarkan makanan yang tadi diterimanya. Karena, merasa mual, Yoona langsung berdiri dari ranjangnya dan berlari menuju kamar mandi. Dalam sekejap, segala makanan yang tadi dimakannya langsung keluar dari mulutnya begitu saja.

“Sayang, kau kenapa?”Tanya Imonya sambil mengelus punggung Yoona.

“Aku tidak tahu Imo. Beberapa hari ini perutku tidak beres.”

“Pasti karena kamu telat makan. Imo kan sudah bilang, kamu jangn sampai lupa makan. Penyakit maagmu kambuh lagi kan…”

Setelah memuntahkan seluruh makanannya, Yoona langsung membaringkan dirinya di tempat tidurnya. Dia meremas perutnya yang sedikit sakit. Tubuhnya benar-benar lemas saat ini.

“Sayang, obat maagmu ada di mana?”

“Obat maagku tidak ada Imo. Aku sudah lama tidak membelinya. Sudahlah, aku tidak apa-apa. Aku rasa ini juga karena aku terlalu lelah.”

“Ya sudah, Imo akan membuatkanmu teh ya…  Setelah itu kamu tidur ya sayang.”

“Yoona-ya, kalau besok kau masih muntah, kau harus ke dokter. Arra?”

“Neh.. Imo tidak usah khawatir. Aku pasti akan berusaha menjaga diriku…”

“Yoong, kamu harus menjaga dirimu. Jangan lupa memberi kabar pada Imo. Arra?”

“Neh, Imo. Aku pasti akan sering menghubungi Imo.”

“Yoona-ya, Imo hanya mempunyai satu pesan padamu… Mulailah kehidupanmu yang baru di sana.”

“Neh. Aku akan memulai lembaran hidupku yang baru”

JEPANG

Siang ini, cuaca di Jepang tampak cukup dingin mengingat saat ini telah memasuki musim gugur. Pemandangan bunga sakura yang berjatuhan mewarnai ibu kuta Jepang ini. Yoona yang sedari tadi berada di dalam taksi terus tersenyum melihat pemandangan indah di musim kesukaanya ini. Setidaknya pemandangan ini mengobati sedikit sakit di hatinya saat ini.

Yoona segera keluar dari taksi yang membawanya menuju sebuah rumah yang berada di kawasan perumahan mewah yang terletak di Kota Tokyo ini. Dia tersenyum menatap rumah yang begitu dia rindukan. Dia segera menekan bel yang terdapat di samping pintu berukuran besar itu. Tak harus menunggu lama, pintu pun di buka oleh seseorang pelayan.

Yoona tersenyum ketika masuk ke dalam rumahnya. Rumah ini tak memiliki banyak perubahan. Barang-barang antic tetap saja berjejer mengelilingi rumah ini. Foto-foto keluarga besarnya pun tampak mewarnai pemandangan rumah yang luas ini. Hanya saja foto itu terlihat bertambah seperti terakhir kali dia lihat. Suasana dalam rumah yang besar itupun tampak seperti biasanya, sunyi. Yoona mulai berjalan untuk mengelilingi ruangan-ruangan itu. Dan, langkahnya terhenti saat melihat sebuah ruangan yang memiliki cat warna berbeda dari pintu-pintu yang lain. Bahkan di depan pintu itu tertulis sebuah nama yang sangat asing baginya.

“Im Jung Woo?”Gumam Yoona sembari menatap nama yang ada di hadapannya.

Karena penasaran, Yoona membuka pintu yang tidak terkunci itu. Dan betapa terkejutnya ia melihat 1 orang yang sangat dia rindukan berada di dalam ruangan itu.

“Eonni!”Teriak Yoona kemudian berlari kecil menghampiri Eonninya yang sedang duduk di sofa yang terdapat di ruangan kecil ini.

“Omo! YOONA!”

“Bogoshippo!”Yoona langsung memeluk orang di hadapannya ini.

Belum sempat mereka menyalurkan kerinduan mereka, tiba-tiba saja suara tangisan dari seorang bayi kecil harus menghentikan kegiatan mereka. Sang eomma, Tiffany langsung bangkit dari kursinya dan menghampiri ranjang bayi kecil yang terletak tak jauh dari mereka. Dengan perlahan, Tiffany mengambil bayi itu dan menggendongnya. Setelah bayi laki-laki itu tenang dan mulai tertidur, Tiffany meletakkan bayi itu dengan lembut ke atas ranjangnya kembali. Setelah itu dia menghampiri Yoona dan menarik tangan gadis itu keluar kamar agar putranya tak terganggu.

“Yoona-ya, kapan kau datang?”Tanya Tiffany sambil menyesap segelas teh di hadapannya.

“Aku baru saja datang Eonni..”

“Mwo? Lalu kenapa kau tidak bilang akan datang hari ini? Lalu tadi kau datang sama siapa?”

“Aku kan mau memberi surprise. Tadi aku naik taksi. “

“AISH.. Kau ini… Lain kali kalau ada apa-apa beritahu Eonni..”

“Iya.Iya.. Oh iya, apa Eomma ada eonni?”

“Eomma sedang pergi bersama Appa. Mungkin nanti malam baru pulang..”

“Oh iya, apa anak bayi tadi itu anak Eonni dan Oppa?”

“Neh, Itu anak Eonni. Umurnya sudah 5 bulan”

“Oh.. Pantas saja. Lalu apa Oppa di kantor?”

“Iya.. Seperti biasa…”

Setelah berbincang dengan Tiffany, Yoona masuk ke dalam kamar dan mengistirahatkan dirinya. Tadi pagi entah kenapa dirinya muntah lagi saat memakan sarapan. Sejujurnya, saat ini perutnya sedikit sakit. Namun, Yoona pikir itu hanya akibat dia telat makan dan kurang istirahat. Karena itu, sebelum beristirahat, Yoona meminum 1 tablet obat maag, setelah itu dia langsung menidurkan dirinya di  ranjangnya.

Seorang wanita paruh baya dengan tersenyum membuka pintu kamar putrinya yang selama ini kosong. Dengan tersenyum dia melangkahkan dirinya menuju ranjang putrinya yang sedang tidur. Namun, betapa terkejutnya dia saat melihat wajah putrinya yang pucat dan berkeringat dingin. Dia memanggil-manggil nama putrinya, tapi dia sama sekali tak mendapat jawaban sama sekali. Yang didengarnya hanyalah rintihan sakit dari mulut putrinya. Tangannya pun menyentuh kening putrinya, dan dia menyadari bahwa saat ini oputrinya benar-benar demam tinggi. Dia langsung memanggil suaminya dan anaknya yang laki-laki, Nickhun untuk membawa Yoona ke rumah sakit.

Di rumah sakit, ketiga orang itu, terus menatap dokter yang sedari tadi memeriksa Yoona. Mereka sudah tahu tentang penyakit kanker rahim stadium 2 yang diderita Yoona, hanya saja mereka sama sekali tidak menyangka bahwa penyakitnya separah ini. Dan bahkan dapat menghilangkan kesadarannya.

“Apa di sini ada suaminya?”Tanya dokter kepada ketiga keluarga Yoona.

“Mian.. Suaminya tidak di sini. Tapi kami semua keluarganya. Aku Oppanya.”

“Oh.. Kalau begitu apa anda bisa ke ruanganku sebentar?”

“Neh.. Baiklah..”

Nickhunpun meninggalkan kedua orang tuannya dan mengikuti dokter yang berjalan di di depannya menuju ruangan dokter itu.

“Apa Anda sudah tahu kalau adik anda terkena kanker rahim?”

“Neh. Saya sudah tahu. Dan, dia akan menjalankan terapinya sebentar lagi. Ada apa?”

“Jadi Anda sudah tahu, lalu mengapa Adik anda tetap hamil?”

“MWO? Hamil?”

“Neh, dan dia hampir keguguran. Untung saja kalian cepat membawanya kemari, jika tidak mungikin dia sudah keguguran..”

“DIa.. Hamil..? Dokter yakin?”

“Neh.. Aku yakin.. Dan yang paling membahayakan saat mengecek tubuhnya, kami menyadari bahwa ada kandungan magnesium hidroksida di dalam tubuhnya. Seharusnya dalam keadaan hamil, dia tidak boleh meeminum obat sembarangan, itu dapat membahayakan janinnya.”

“Ah.. Neh.. Tapi  dok, adik saya kan ada kanker di rahimnya, apakan tidak bermasalah jika dia hamil?’

“Justru itu yang tadi saya tanyakan. Seharusnya dia tidak boleh hamil. Karena dia tidak mungkin bisa menjalankan terapi. Saya sarankan, akan lebih baik jika janiin dalam kandungannya digugurkan, supaya adik anda bisa sembuh.”

“MWO? Digugurkan?”

“Iya… Kalau tidak  adik Anda tidak akan bisa menerima pengobatannya. Dan, jika dia tetap mengandung, nyawanya dan nyawa bayinya pun terancam.”

“Tapi, apakah tidak ada cara lain?”

“Tidak. Sebenarnya saya pernah menangani beberapa pasien yang mengalami kondisi serupa, dan beberapa darin mereka tetap memilih mempertahankan janinnya dan hanya 1 dari sepuluh orang yang bisa melahirkan bayinya dengan selamat.”

“Baiklah, saya akan diskusikan dengan adik saya dulu. Lalu  bagaimana keadaanya sekarang?”

“Saat ini kondisi tubuh dan kandungan adik Anda masih rendah. Jadi saya sarankan untuk beristirahat di rumah sakit.. Bagaimana?”

“Neh.. Tolong lakukan yang terbaik untuk Adik saya.”

Matahari yang bersinar terang di langit membuat seorang Im Yoona mulai membuka matanya dan menyesuaikannya dengan ruangan yang berbau obat-obatan ini. Yoona berusaha untuk mendudukan dirinya dan turun dari atas ranjang. Tapi, tubuhnya masih benar-benar lemah saat ini. Bergerakpun rasanya masih sangat sulit, karena perutnya yang masih sedikit sakit. Akhirnya di a memutuskan untuk berbaring di tempat tidur.

Sesosok wanita tiba-tiba saja masuk ke dalam kamarnya, dan membuat mata Yoona langsung berbinar menatap orang yang sangat dirindukannya. Menyadari Yoona yang sudah terbangun sang Eomma langsung menghampiri Yoona dan duduk di samping ranjang putrinya, membelai wajah anaknya dengan tatapan sendu.

“Eomma kenapa?”

“Ani.. Kamu sudah merasa baikan sayang?”

“Sudah Eomma, walaupun perutku masih sedikit sakit.”

“Yoona-ya, kamu akan menjalankan terapi kan?”

“Neh, Eomma. Dan rencananya terapiku akan dimulai  besok. Wae?”

“Yoona-ya, ada yang mau Eomma bicarakan denganmu. Tapi Eomma harap, kamu tetap mau menjalankan terapi..”

“Neh Eomma, katakanlah..”

“Yoona-ya, kamu hamil sayang..”

“HAMIL?”

“Neh.. Usia kandunganmu sudah 2 bulan sayang.”

“Eomma tidak bercanda?”

“Ani. Kemarin kau masuk rumah sakit karena kau hampir keguguran sayang. Tapi, untunglah itu tidak terjadi.”

“Bagaimana mungkin? Aku kan ada kanker rahim. Bagaimana mungkin aku bisa hamil? Itu mutahil Eomma.”

“Sayang, ingat tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.”

Berita yang baru saja didengar oleh Yoona membuat tubuhnya benar-benar terguncang. Dia menangis sejadi-jadinya di pelukan Eommanya. Anak yang selama ini dia nantikan dalam bahtera rumah tangganya bersama Siwon akhirnya telah diberikan oleh Tuhan. Seorang malaikat kecil tanpa dia sadari telah tumbuh dalam rahimnya.

Tapi tangis bahagianya berubah menjadi tangisan sedih mendengar perkataan Eommanya yang menyarankan untuk menggugurkan janin yang ada dalam kandungannya saat ini. Karena jikalau dia mempertahankan bayi ini, dia tidak mungkin bisa menjalankan terapinya.

“Eomma, aku tidak mungkin menggugurkannya.. Dia darah dagingku..”

“Sayang,tapi janin ini dapat membahayakan dirimu sayang.”

“Tidak, aku akan menjaganya Eomma.”

“Tapi sayang..”

“Aku mohon Eomma tolong hargai keputusanku… Sebagai wanita, Eomma juga pasti akan melakukan hal yang sama kan? Aku mohon mengertilah Eomma.”

Semenjak Yoona mengetahui dirinya hamil, dia lebih menjaga tubuhnya. Sehingga tanpa sadar keluarganya mulai mendukung keputusan Yoona. Mereka tahu betapa bahagianya Yoona mengetahui seorang bayi kecil tengah tumbuh di dalam rahimnya, walaupun pada kenyataanya kebahagiaanya tidak lengkap mengingat sosok Siwon yang tak ada di sampingnya.

Walaupun Yoona tampak bahagia, tapi tak jarang dia melamun seorang diri atau bahkan menangis. Semenjak dia hamil, kerinduannya akan sosok Siwon semakin besar. Hampir setiap malam Eommanya maupun Tiffany mendengar Yoona memanggil-manggil Siwon dalam tidurnya. Setiap kali mereka melihat Yoona menangis, mereka juga akan ikut menangis. Bagaimana tidak, seharusnya hamil merupakan masa-masa di mana seorang istri membutuhkan perhatiannya dari seorang suami, tapi nyatanya Yoona tidak bisa mendapatkannya. Bahkan dia harus menanggung rasa sakitnya seorang diri.

Tak jarang penyakit Yoona kambuh, dam membuatnya harus keluar masuk rumah sakit dan mengancam nyawanya juga bayi dalam kandugannya. Hal ini membuat semua anggota keluarganya memutuskan untuk menyewa serang suster untuk Yoona kemanapun dia pergi. Walaupun Yoona merasa berlebihan, tapi Yoona juga tidak bisa menolak mengingat kondisi kandungannya yang tergolong lemah karena penyakitnya. Bahkan di rumahnya pun disediakan bebrapa peralatan rumah sakit, seperti infus, suntikan, dan lain-lain, agar jika penyakitnya kambuh dia bisa langsung di tangani. Hal ini tentu saja membuat seluruh anggota keluarganya khawatir dengan kondisi Yoona yang menurun. Dan, mereka tahu betul akar masalahnya. Semuanya karena Yoona sangat membutuhkan Siwon.

Sudah beberapa kali keluarganya berniat untuk memberitahu Siwon tentang kondisi Yoona, tapi selalu saja terhalang oleh Yoona. Tapi semakin lama keluarganya semakin takut melihat kondisi Yoona yang melemah, bahkan sudah 2 kali Yoona mengalami pendarahan. Dan, setiap kali dia sakit pasti Yoona memanggil manggil Siwon.

“Nickhun, pergilah ke Korea. Ceritakanlah pada Siwon tentang keadaan Yoona. Eomma benar-benar sudah tidak tahan melihat keadaan Yoona. Semakin tua kehamilannya, keadaannya semakin lemah. Adikmu itu semakin hari semakin sering menangis.”

“Baiklah Eomma. Aku akan bicara dengan Siwon.”

Seorang pelayan di sebuah rumah yang besar di Seoul langsung membuka pintu begitu mendengar suara bel yang berbunyi cukup kencang.

“Annyeonghasaeyo, ada yang bisa saya bantu?”Sapa pelayan itu sambil membungkukkan badannya.

“Oh.. Saya Nickhun. Saya mau bertemu dengan Choi Siwon. Apa dia ada?”

“Mianhae. Tuan muda sedang tidak ada di tempat. Apa ada pesan yang ingin disampaikan?”

“Kalau begitu, kapan dia pulang?”

“Entahlah, terkadang dia bisa tidak pulang beberapa hari. Saya juga tidak tahu.”

“Ah, kalau begitu apa di rumah ini ada Appa atau Eommanya?”

“Oh. Nyonya besar ada di dalam. Apa Anda ingin bertemu dengannya?”

“Iya.. Bisa?”

“Baiklah, masuklah. Saya akan memanggil Nyonya.”

Nickhun pun masuk ke dalam rumah yang besar itu dan duduk di sofa yang terdapat di ruang tamu itu sambil menunggu Eommanya Siwon datang. Ketika Eommanya datag, Nickhun langsung berdiri dan memberi hormat. Belum sempat dia mengucapkan kata apa-apa Ny Choi langsung mengusirnya. Tentu saja itu dikarenakan dia merasa Yoona telah mengkhianati Siwon.

“PERGI KAU! Aku tidak sudi menerima keluarga kalian di rumah ini!”

“Bibi, aku minta maaf.. Aku benar-benar minta maaf. Tapi, saat ini aku harus menjelaskan sesuatu. Aku mohon dengarkanlah dulu.”

“Apa yang harus aku dengarkan! Sudahlah pergi saja! Dan jangan panggil aku bibimu!”

“Baiklah, Ny Choi, kau harrus mendengarkanku. Ini menyangkut cucumu.”

“Cucu? Cucu siapa? Aku tidak mempunyai cucu.”

“Yah, tentu saja Anda tidak mengetahuinya. Saat mereka bercerai Yoona baru mengetahui dirinya hamil.”

“Haha. Kau gila ya? Lalu kenapa kau datang ke sini? Lebih bak kau datang saja ke rumah keluarga Lee. Bukankah adikmu itu selama ini selalu bermain dengan laki-laki bermarga Lee itu!”

“Ny. Choi. Saya akan menjelaskan dari awal. Sebenarnya adik saya, Im Yoona sama sekali tidak pernah berpacararan ataupun selingkuh dengan Lee Donghae. Mereka hanyalah teman dan tidak lebih!”

“HAHA.. Kau yakin? Apa kau tahu di depan mataku sendiri adikmu itu mengatakan kalau dia ingin bercerai dari anakku dan menikah dengan Donghae. Bahkan mereka sendiri mengaku telan berpacaran lama.”

“Ny Choi, sebenarnya adikku bercerai dengan anak Anda bukan karena dia mencintai ataupun berselingkuh dengan laki-laki lain. Tapi, dia memilih berpisah dengan anak Anda karena dia mengidap penyakit kanker rahim.”

“MWO? Kanker?”

“Iya. Kankernya saat itu sudah stadium 2. Saat itu dokter mengatakan kalau dia harus menjalani terapi, bahkan bisa saja rahimnya di angkat. Dan dokter mengatakan kankernyalah yang menyebabkan dia susah hamil bahkan kemungkinan besar dia tidak bisa mengandung. Tentu saja hal ini membuatnya sedih. Tapi hal yang membuatnya tertekan adalah karena dia tahu, sebagai satu-satunya keluarga Choi, tentu saja Siwon harus mempunyai keturunan. Dan, tekanan itu yang membuat adik saya memutuskan untuk bercerai dengan Siwon.”

“MWO? Lalu kenapa dia tiba-tiba hamil?”

“Sebenarnya dokter pun kaget. Tapi, nyatanya dia hamil. Dan, memang kata dokter ada beberapa orang yang mengalami masalah serupa.”

“Lalu, usia kandungannya sudah berapa bulan?”

“Sudah 6 bulan.”

“Lalu, pengobatannya bagaimana?”

“Selama ini dia tidak boleh menjalankan terapi, karena bayi dalam kandungannya. Jadi saat ini dia harus lebih memerhatikan kandungannya.”

“Tapi apakah penyakitnya tidak berpengaruh pada kandungannya?”

“Tentu saja berpengaruh. Kalau penyakitnya sedang kambuh dia harus langsung minum obat dan disuntik. Karena itu kami menyewa seorang suster untuk menjaganya. Dia juga sudah 2 kali pendarahan dan beberapa kali keluar masuk rumah sakit. Sebenarnya kandungannya benar-benar lemah, bahkan sudah beberapa kali kami menasihati dia untuk menggugurkan janinnya, tapi dia menolak.”

“MWO? Ya Tuhan.. Bagaimana bisa? Lalu  sekarang keadaannya bagaimana?”

“Jujur, semakin tua kandungannya, keadaanya semakin lemah. Bahkan makanannya yang dimakan pun terkadang dimuntahkannya. Dan sebenarnya akar permasalahannya hanya ada satu, Siwon.”

“Maksudmu?”

“Dia sangat merindukan Siwon. Semenjak dia hamil, dia sering menangis seorang diri. Bahkan kalau dia sedak kesakitanpun dia sering memanggil-manggil Siwon. Jadi sebenarnya tujuanku ke sini, aku ingin Siwon untuk bertemu dengan Yoona, setidaknya mungkin bisa mengobati kerinduan Yoona sedikit. Bagaimanapun, Siwon juga ayah dari bayinya. Kalaupun Siwon tidak mau mengakuinya aku juga tidak apa-apa. Hanya saja setidaknya tolong lakukan untuk Yoona. Aku dan keluargaku benar-benar tidak tahan melihat kondisi Yoona.”

“Aigoo.. Kenapa Yoona harus memilih bercerai? Seharusnya dia membicarakannya pada kami. Baiklah, nanti kalau Siwon sudah pulang aku akan menceritakan padanya.”

Di dalam sebuah meja bar, Siwon terus meneguk gelas-gelas yang berisi minuman wine ke dalam mulutnya. Minuman yang dia rasa dapat menghilangkan permasalahannya walau hanya beberapa menit. Ingin rasanya dia melupakan kejadian beberapa bulan lalu yang membuatnya harus berpisah dengan orang yang begitu dicintainya. Permintaan yang keluar dari mulut Yoona seakan menghancurkan semua masa depannya.

————–FLASHBACK——————

Saat itu tepat hari Minggu dan hari itu merupakan hari perayaan pernikahan mereka yang kedua. Seperti tahun lalu, Siwon sudah merencanakan sebuah surprise Yoona istrinya. Siwon sudah merencanakan sebuah acara makan malan yang romantic di tengah-tengah kesibukan mereka.

Siwon berencana untuk menjemput Yoona. Tapi entah kenapa Yoona berkata kalau dia ingin bertemu Siwon di rumah saja. Beberapa hari ini memang Yoona sedikit aneh. Sikapnya seakan berubah menjadi dingin. Yoona tidak lagi mau menunggu Siwon pulang, dia tidak pernah lagi mencium ataupun memeluk Siwon. Dia juga tidak lagi mau dijemput oleh Siwon. Dan, tentu saja Siwon berharap malam ini dapat memperbaiki hubungan mereka.

Tapi, sayang malam yang seharusnya menjadi malam yang indah hancur seketika ketika melihat Yoona yang tiba-tiba saja melayangkan surat cerai di hadapan Siwon yang baru saja tiba. Siwon yang melihat surat di hadapannya hanya bisa tercengang.

“Yeobo, apa maksudnya ini?”

“Aku ingin kita bercerai.”

“Bercerai? Kau tidak salah?”

“Ani. Aku ingin kita berpisah. Aku sudah tidak tahan hidup bersamamu.”

“Yeobo, kau pasti bercanda kan?”

“Ani. Cepatlah tanda tangan. Aku hanya membutuhkan tanda tanganmu.”

“Tapi apa alasannya? Apa salahku?”

“Ani. Kau tidak salah apa-apa. Hanya saja aku tidak mencintaimu lagi, Choi Siwon. Aku akan menikah dengan laki-laki lain. Laki-laki yang beberapa tahun ini juga mengisi hari-hariku. Dan, dia mengajakku menikah.”

“MWO? Maksudmu apa IM YOONA?”

“Aku rasa, aku sudah tidak bisa berbohong lagi. Selam ini aku memang berselingkuh dengan seorang lelaki.”

“Siapa lelaki itu?”

“LEE DONGHAE..”

“MWO? Donghae?”

“Neh.. Mungkin kau tidak menyangkanya bukan? Bukankah kalian berdua dulu mengejarku? Dan, aku baru sadar kalau aku salah. Ternyata aku lebih menyukainya dari padamu. Dan, aku baru menyadari kalau aku tidak pernah mencintaimu saat kita menikah. Dan, karena dia mengajakku menikah, maka aku harus berpisah denganmu.”

“Kau kira segampang itu kau katakan ingin bercerai?”

“Neh. Nyatanya memang segampang itu.”

“IM YOONA! KAU GILA!”

“Kau boleh anggap aku gila! Tapi cepat tanda tangan ini!”

“Baiklah! Aku akan tanda tangan! Sekarang juga!”

Dengan emosi Siwon langsung mengambil pen yang ada di saku jasnya dan menandatangani kertas itu. Setelah itu dia langsung melempar kertas itu kepada Yoona yang berdiri di hadapannya dan tangan kanannya langsung menampar pipi kiri Yoona.

“Im Yoona, ini adalah pertama kalinya dan terakhir kalinya aku menamparmu.”

Semenjak hari itu mereka sama sekali tak bertemu dan berkomunikasi hingga hari perceraian mereka. Dan, tentunya hari itu adalah hari yang paling menykitkan bagi dirinya karena haru sberpisah dengan perempuan yang begitu dicintainya. Perempuan yang selalu mengurusnya selama 2 tahun ini. Perempuan yang selalu memeluknya, memberi kehangatan dan kekuatan untuknya, perempuan yang selalu membuat hidupnya berwarna.

Semenjak itu, kehidupannya berubah total. Siwon tidak lagi menjadi seorang yang setia. Dia selalu bermain dengan wanita. Tubuhnyapun tidak pernah terurus. Hidupnya sudah benar-benar berantakan. Kehidupannya sekarang hanyalah kantor dan bar. Padahal, semenjak dia mengenal Yoona, dia tidak pernah pergi ke bar.  Tapi sekarang, Setiap pagi hingga larut malam dia akan bekerja di kantor tapi setelah itu dia akan menghabiskan waktunya di bar untuk sekedar minum atupun sekedar bermain dengan wanita untuk melupakan masalahnya sejenak.

—————-FLASHBACK END——————–

Suara deringan HP yang berbunyi di mejanya tak juga dihiraukannya. Dia hanya turus meneguk gelas-gelas itu, berharap dia akan segera mabuk. Namun nyatanya, dia tidak mabuk. Mungkin karena dia terrlalu sering meminumnya, sehingga wine-wine itu tidak membawa khasiat apa-apa. Yang ada hanyalah membuat lambungnya sakit karena dia belum makan apa-apa sejak pagi.

“Tuan, maaf, dari tadi HP tuan bunyi. Apa tuan tidak mau mengangkatnya? Siapa tahu ada yang penting?”

“Angkat saja kalau kau merasa terganggu..”

Pelayan tersebut menatap samping kiri kanan mejanya yang merasa terganggu oleh HP Siwon, akhirnya dengan perasaan sedikit bersalah dia mengankat HP Siwon yang terus berdering.

“Annyeonghasaeyo, apa benar ini Choi Siwon?”

“Neh. Betul. Ada yang bisa saya bantu?”

“Kalau boleh tahu sekarang dia ada di mana?”

“Oh. Sekarang dia sedang ada di Club X-Gangnam.”

“Oh, baiklah. Bilang padanya untuk menunggu 20 menit. Ada yang mau bertemu dengannya, penting.”

“Baiklah.”

Siwon sama sekali tidak peduli akan pesan yang disampaikan oleh pelayan yang tadi mengangkat teleponnya. Bahkan dia sama sekali tidak bertanya atau bahakan ingin tahu siapa yang ingin bertemu dengannya. Dia hanya terus menikmati minuman-minuman di hadapannya sampai tiba-tiba 2 orang laki-laki menepuk pundaknya dan membuatnya terkejut.

“Apa yang kalian lakukan di sini? Aku tidak mengenal kalian.”Tanya Siwon dingin tanpa mau menatap Donghae dan Nickhun yang berdiri di hadapannya.

“Siwon-sshi, ada yang ingin kami bicarakan denganmu…”

“Aku kan sudah bilang aku tak mengenal kalian.”

“Siwon-ah, aku mohon. Ini benar-benar penting. Ini menyangkut Yoona dan juga anaknya. Ani, maksudku anak kalian…”

“HAHA.. Apa maksudmu? Anak? Aku tidak punya anak..”

“Siwon-sshi, aku mohon dengarkan aku dan Donghae sekali ini saja. Setelah itu, kamu mau percaya atau tidak terserah padamu.”

Walaupun awalnya Siwon menolak, tapi akhirnya dia mendengarkan setiap kata-kata yang keluar dari mantan sahabatnya, dan mantan kakak iparnya. Dan, dia benar-benar tidak menyangka akan apa yang telah terjadi. Bagaimana mungkin dia selama ini bisa tidak mengetahui kalau Yoona mengidap penyakit yang begitu mengerikan bahkan yang lebih mengejutkan lagi adalah Yoona tengah mengandung anak yang selama ini mereka nanti-nantikan? Buah cinta mereka.. Sungguh semuanya sulit dipercaya.

Perlahan-lahan Siwon membuka pintu kamar di hadapannya. Dan hatinya benar-benar merasa sakit dalam sekejap menatap Yoona yang dia kenal sekarang terbaring tak berdaya dengan beberapa peralatan medis di tubuhnya. Dia berjalan dan segera duduk di samping ranjang itu. Ditatapnya Yoona yang terbaring lemah di hadapannya. Wajahnya tampak pucat pasi. Rambutnya yang tak lagi seindah dulu.  Tubuhnya yang tampak kurus dengan perutnya yang membesar. Siwon tak lagi mampu menahan air matanya. Sungguh, hatinya bahkan lebih sakit dibandingkan ketika dia bercerai dengan Yoona. Bagaimana mungkin Yoona memilih mengorbankan nyawanya sendiri demi bayi mereka?

Diraihnya tangan Yoona yang dingin dan dikecupnya lembut tangan yang selama ini dia rindukan. Dan dia menyadari sesuatu, cincin pernikahan mereka tak pernah lepas dari jari manis mungilnya. Disentuhnya wajah Yoona yang memucat dan tampak kurus dengan sayang. Perlahan-lahan dia mengarahkan wajahnya yang penuh dengan air mata ke wajah cantik Yoona. Diciumnya lembut bibir manis istrinya yang selama ini dia rindukan. Dia terus menempelkan sampai tak menyadari bahwa air matanya telah membasahi wajah Yoona dan membuat Yoona terbangun dari tidurnya dan membuka matanya.

Yoona sangat terkejut melihat sosok di hadapannya.Walaupun dia tidak melihat dengan jelas. Tapi dia bisa merasakannya melalui sentuhan bibirnya dan suara isakan tangis yang dikeluarkan laki-laki itu. Tanpa berpikir panjang, Yoona membalas ciuman lembutnya dan air mata juga mulai keluar dari matanya.

Menyadari Yoona yang telah terbangun, Siwon pun melepaskan bibirnya dan wajahnya menatap Yoona yang tengah terisak. Tanpa berkata apa-apa, Siwon menggerakkan kedua tangannya dan menghapus air mata di wajah Yoona dan membuat gadis itu mengeluarkan suara serak di telinga lelaki itu.

“Bogoshippo..”Lirih Yoona yang membuat Siwon tersenyum kecil kemudian berbisik pelan di telinga Yoona dengan kata-kata yang sama.

“Jangan menangis lagi. Kau tahu aku paling tidak mau melihatmu menangis..”

“Neh..”

“Yoona-ya, kenapa kau tidak pernah memberitahuku kalau kau sakit dan malah bercerai denganku?”

“Mianhae Oppa.. Dokter bilang kalau aku menjalankan terapi, aku juga tetap akan sulit hamil. Dan, bagaimanapun aku tahu kau harus mempunyai keturunan. Jadi aku rasa bercerai denganmu adalah yang terbaik, dengan begitu kau bisa menikah lagi dan mempunyai keturunan. Mianhae..”

“Pabo. Apa kau kira aku menikah denganmu karena aku ingin mempunyai anak? Kalau memang begitu, kenapa aku tidak menikah dengan sembarang orang saja.. Aku menikah denganmu karena aku mencintaimu.”

“Mianhae.. Aku tahu aku salah.”

“Lalu kenapa saat kau hamil kau tidak memberitahuku?”

“Aku sudah menyakitimu Oppa. Aku tidak mau lagi mengganggu kehidupanmu. Lagipula dokter juga tidak yakin waktu itu kandunganku akan bertahan lama.”

“Yoona-ya, Oppa boleh bertanya sesuatu?”

“Neh.. Wae?”

“Kenapa kau mau mempertahankan anak ini? Padahal kan kita sudah bercerai, terutama anak ini kan membahayakan dirimu.”

“Oppa, kau tahu waktu aku mengetahui aku hamil rasanya aku benar benar bahagia. Doa yang selalu aku naikkan akhirnya terjawab juga. Apakah mungkin dengan begitu aku menggugurkannya? Lagipula dia ini darah dagingku. Dan tentunya karena aku merasa dia adalah hadia yang kau berikan Oppa, hadiah yang akan membuat semangat hidupku kembali dan yang membuatku tidak akan pernah melupakanmu.”

“Yoona-ya, gomawo.. Aku benar-benar tak menyangka kau akan berpikir seperti itu. Mianhae selama ini Oppa menganggap kau mengkhianati Oppa. Mianhae..”

“Gwenchanna. Ini semua salahku Oppa.”

“Saranghae, Im Yoona”

“Nado, Choi Siwon.”

Sudah seminggu sejak Siwon menemani Yoona di Jepang, kesehatan Yoona membaik. Walaupun terkadang penyakitnya masih mengganggunya, tapi setidaknya tidak sesering dan separah dulu. Siwon selalu menemani Yoona ke rumah sakit atau kemanapun Yoona pergi. Pekerjaannya pun hanya diurusnya lewat internet dan teleponnya. Baginya sekarang konsentrasinya hanyalah Yoona dan calon bayi mereka. Setiap malam Siwon akan selalu tidur di kamar Yoona dan mengelus bahkan berbicara dengan calon bayi yang berada di dalam perut Yoona yang membuat Yoona terkekeh melihat tingkah Siwon.

Seperti saat ini, Siwon tampak berbaring di kaki Yoona yang sedang menyenderkan dirinya pada dinding kasur sambil bermain-main dengan bayi yang ada dalam kandungan Yoona yang Yoona sendiri tak mengerti. Sementara Yoona dengan senang hati menyuapi Siwon apel yang tadi dipotongnya.

“Yeobo, besok kau benar-benar akan pergi?”

“Neh.. Yeobo. Aku harus pergi. Pekerjannku benar-benar menumpuk, tapi aku berjanji akan secepatnya kembali.”

“Baiklah Yeobo… Tapi jangan lama-lama ya..”

“Iya. Kau harus jaga diri baik-baik. Arra? Jangan lupa minum obat dan harus banyak istirahat. “

“Iya.. Oppa juga jangan lupa makan.”

“Iya.. Dan aegi-ya, kamu juga jangan nakal. Arra? Jangan menendang perut Eommamu terlalu kencang. Kasihan dia.. Nanti kalau Appa pulang, Appa akan bawakan boneka barbie yang banyak untukmu.”Kata Siwon sambil mengelus dan mencium perut Yoona yang tentunya mendapat sentilan kecil dari Yoona.

“Kau ini ada-ada saja. Memang dia mengerti apa yang kau bicarakan? Haha. Lagipula kenapa kau dengan seenaknya saja membeli Barbie, bagaimana kalau ternyata dia namja?”

“Tapi aku menginginkan anak perempuan. Jadi nanti aku bisa melihat banyak wanita cantik di rumah. Hehe”

“YAH! Kau pervert!”

“Bukankah itu lebih baik dari pada aku melihatnya di luar? HAHA?”

“YAH! Kau ini! Aku jadi penasaran, dari tadi ketika kau bermain main dengan perutku apa yang kau bicarakan padanya?”

“Kau benar-benar ingin tahu? Kau yakin?”

“Neh. Aku ingin tahu.”

“Baiklah sini telingamu..”

“Aku hanya bilang padanya, untuk jadi sepertimu. Aku hanya mengatakan padanya kalau dia mempunyai Eomma yang hebat dan cantik. Jadi dia harus menyayangimu dan harus kuat seperti anak-anak yang lain.”Bisik Siwon di telinga Yoona yang membuat wajahnya bersemu merah seketika.

Belum sempat Yoona menjauhkan wajahnya, Siwon langsung mengangkat wajahnya dan mencium bibir Yoona dengan sayang dan mendapat balasan dari Yoona. Setelah itu mereka menghabiskan waktu mereka sebelum berpisah dengan satu sama lain.

Yoona terus menatap HP yang berada di sampingnya yang tidak juga berdering. Dia hanya bisa mendengus kesal karena Siwon tak juga menghubunginya. Padahal janjinya setiap hari dia akan menghubunginya, tapi nyatanya ini sudah seminggu. Sudah beberapa kali Yoona menghubungi HP Siwon, tapi tak pernah diangkat. Pikiran burukpun mulai menghampirinya, mulai dari sibuk hingga yang terburuk kecelakaan, atauu bahkan mungkin Siwon memang mau meninggalkannya. Hal ini tentu saja membuatnya sedih terlebih lagi bayi dalam kandungannya yang sepertinya selalu merindukan ayahnya setiap malam. Karena semenjak Siwon tak ada, setiap malam bayinya selalu saja menendang perut Yoona yang membuat Yoona meringis kesakitan dan tidak bisa tidur dengan nyenyak.

“Huh.. Kenapa dia juga tidak menghubungiku? Atu mungkin sekedar mengirimku SMS? Menyebalkan.”Gumam Yoona sebal.

Tiba-tiba saja kedua matanya menjadi gelap dan itu membuatnya terkejut. Dia sadar pasti ada orang yang mengerjainya. Berkali-kali dia bertanya, tapi tak juga ada yang menjawabnya, hingga dia terdiam dan mencoba menghirup aroma dari tubuh orang di belakangnya.

“Choi Siwon! Lepaskan aku! Cepat!”

“Yeobo-ya, wae? Bukankah kau merindukanku?”

“Aku tidak merindukanmu! Sudahlah aku mau masuk ke dalam. Kau pergi saja. Aku tidak mau melihatmu.”

Siwon menatap punggung Yoona yang mulai berjalan mendahuluinya. Dia pun langsung berlari kecil dan menghadang Yoona agar berhenti dan memeluk tubuh Yoona.

“Bogoshippo yeobo.. Jeongmal.”Kata Siwon lembut sambil mengelus rambut Yoona tapi sayangnya dia sama sekali tak mendapat respon apapun dari Yoona.

“Yeobo, waeyo?”Tanya Siwon lagi dan tetap mendapat tatapan dingin dari Yoona.

“Kau pergi saja. Aku tidak mau melihatmu Choi Siwon.”Kata Yooa ketus.

Yoona pun mulai melangkah pergi tapi tiba-tiba saja prutnya merasakan hentakan yang cukup keras sehingga membuatnya langsung berhenti dan dan meringis kecil kemudian mengelus perutnya pelan. Siwon yang menyadari keadaan Yoona, langsung berlari menaiki tangga dan menghampiri Yoona yang masih menerima tendangan kecil dari perutnya yang membuatnya tidak bergerak dan wajahnya memucat.

“Yeobo, waeyo? Apa ada yang sakit?”Tanya Siwon khawatir.

Yoona hanya menggelengkan kepalanya pelan. Siwon langsung membantu memegang lengan Yoona dan menaiki sisa tangga yang ada. Dia langsung membantu Yoona berbaring di tempat tidur dan memberikannya segelas air hangat.

“Yeobo-ya, kau kenapa?”

“Ani. Seperti biasa, dia menendang perutku. Hanya saja kali ini lebih keras. Sepertinya dia tidak setuju jika aku bertengkar denganmu. Huh.”

“Wae? Kau marah padaku?”

“Neh.. Aku marah padamu. Sangat.”

“Waeyo?”

“Kenapa kau tidak menghubungiku sama sekali selama kau di Korea?”

“Ah.. Itu.. Aku lupa.. Aku benar-benar sibuk. Mianhae.. “

“Pabo! Alasan apa itu? Bukankah kau yang bilang kau akan menghubungiku setiap hari? Kau pembohong.”

“Yeobo, aku benar-benar sibuk. Mianhae.”

“Huh. Sibuk apa kau? Sampai-sampai memberi kabar padaku saja tidak bisa. Sudahlah. Aku mau tidur. Keluar sana..”Kata Yoona ketus sambil menutupi dirinya dengan selimut.

“Yoona-ya, mianhae. Jeongmal. Jangan marah lagi ya.. Aku akan keluar.”Kata Siwon kemudian melangkahkan kakinya keluar kamar Yoona.

Yoona yang baru bangun dari istirahatnya langsung beranjak dari tempat tidurnya dan keluar kamar. Betapa terkejutnya ia ketika melihat seluruh keluarganya sedang berkumpul di ruang tamu. Tapi, langkahnya terhenti melihat Eomma dan Appa Siwon yang juga tengah hadir di sana. Ada sedikit keraguan mendekati mereka mengingat waktu dulu Eomma Siwon pernah menampar bahkan menghinanya karena mengira Yoona benar-benar berselingkuh dengan Donghae. Eomma Siwon yang menyadari kehadiran Yoona langsung berdiri dari tempat duduknya dan mendekati tempat Yoona berdiri.

“Yoona-ya, Eomma minta maaf.. Mianhae..”Katanya lembut sambil memeluk tubuh Yoona.

“Neh.. Eomma.. Gwenchanna..”Kata Yoona tersenyum.

Yoona segera duduk di samping Eomma dan Appanya sementara Siwon duduk di samping Appa dan Eommanya. Sejujurnya, Yoona sedikit bingung melihat Eomma dan Appa Siwon ada di sini, tapi dia mengurungkan niatnya untuk bertanya.

“Eomonim, Abeonim, hari ini kedatanganku kemari adalah karena aku ingin melamar Yoona.”Kata Siwon sambil tersenyum menatap Yoona dan kedua orang tuanya.

Mendengar pernyataan Siwon, kedua orang tua Yoona tersenyum begitu juga dengan orang tua Siwon. Tapi tidak dengan Yoona, wajahnya menegang seketika. Dia tampak berpikir sesuatu kemudian dia bangun dari tempat duduknya tanpa berkata apa-apa. Semua orang yang di situ tampak bingung. Tapi tidak dengan Siwon. Dia tetap diam di tempat duduknya sambil melihat ke tempat Yoona pergi. Setelah melihat Yoona keluar menuju taman, Siwon segera berdiri dan menuju tempat Yoona.

Dilihatnya Yoona yang sedang duduk di sebuah bangku panjang dan menangis. Siwon langsung berjongkok di depan kursi itu dan memegang kedua tangan Yoona.

“Yoong, hari ini Oppa ingin melamarmu. Apa kau mau menerimaku?”Tanya Siwon sambil menatap wajah Yoona.

“Oppa. Aku tak bisa..”

“Waeyo? Bukankah kau masih mencintai Oppa?”

“Aku masih mencintaimu. Tapi…. Aku tak bisa menikahimu…”

“Tapi kenapa sayang? Katakan pada Oppa..”

“Aku.. Bagaimana kalau penyakitku tidak bisa sembuh Oppa? Bagaimana kalau nanti saat aku melahirkan aku tidak bisa selamat? Bagaimana kalau…”Ucapan Yoona terhenti ketika bibir Siwon menyentuh bibirnya dan menciumnya lembut.

“Yoong, kalaupun itu semua terjadi, Oppa tetap ingin menjadi orang yang ada di sampingmu. Oppa ingin menjadi pendampingmu sampai akhir. Yoong, aku mohon, jadilah istriku untuk kedua kalinya.”

“Tapi bukankah Oppa akan kembali ke Korea?”

“Oppa sudah meminta izin pada Appa untuk memindahkan Oppa. Jadi Oppa akan mengurus usaha yang di sini. Nanti kalau anak kita sudah bisa ke Korea, kita baru akan pindah ke Korea.”

“Tapi..”

“Tidak ada tapi-tapian. Lagipula sepertinya kau memang menerimanyakan?”
“Mwo? Maksud Oppa?”

“Lihatlah, cincinmu saja tidak pernah dilepas. Itu artinya kau memang selalu menjadi istriku kan?”

“Kalau kau sudah tahu begitu, kenapa malah melamarku lagi?”

“Aku hanya ingin kita mengulanginya lagi dan mendaftarkan pernikahan kita lagi sebelum anak kita lahir.”
“Baiklah Oppa.”

Pernikahan Yoona dan Siwon yang kedua kalinya memang diadakan sangat sederhana. Hanya orang-orang terdekatnya yang diundang. Pernikahan merekapun hanya diadakan di sebuah gereja kecil dan di sebuah restoran kelas atas. Tapi kebahagiaan jelas terpancar dari seluruh keluarga yang hadir di sana.

Semenjak Siwon dan Yoona menikah lagi, mereka memilih untuk tetap tinggal di rumah Yoona dikarenakan Siwon yang tidak mungkin meninggalkan Yoona sendiri jika sedang bekerja. Kehidupan merekapun tampak lebih bahagia, terutama karena menantikan kelahiran anak pertama mereka. Tak jarang Eomma Siwon juga mengirim makanan dari Korea untuk Yoona. Semuanya tampak lebih baik.

Tapi tidak untuk Yoona. Sebenarnya semakin tua kandungannya penyakitnya juga semakin parah. Dia sering sekali menangis seorang diri menahan sakitnya. Dia sebenarnya merasa dirinya semakin lemah. Hanya saja dia tidak berani mengatakan hal ini kepada Siwon. Dia tahu saat ini Siwon pun masih harus menyesuaikan dirinya dengan pekerjaannya. Hal ini membuatnya tak ingin mengganggu Siwon.

Yoona membuka pintu kamar yang ada di samping kamarnya. Kamar yang didesain sederhana oleh Siwon dan dirinya. Yoona menaruh sebuah buku dan sebuah kotak kecil di ranjang kecil yang telah disiapkannya untuk putrinya kelak. Air mata mulai jatuh dari mata indahnya. Dia tidak bisa menahannya lagi. Entah kenapa akhir-akhir ini perasaannya tidak baik. Keadaan perutnyapun semakin parah. Dia semakin sering merasakan sakit.

Beberapa hari ini, dia sering muntah-muntah. Tapi dia tidak pernah memberitahukannya kepada anggota keluarganya. Seperti hari ini, dia muntah-muntah lagi di kamarnya. Setelah meminum obatnya, dia langsung beristirahat. Tapi, sayangnya perutnya seakan menolaknya. Bayinya terus menendang-nendang perut Yoona dan membuat Yoona sedikit ketakutan. Tapi, ketakutannya benar-benar terjawab ketika menyadari telah mengalir darah segar dari kakinya. Yoona benar-benar berteriak dia benar-benar ketakutan. Dia berusaha bangun dari ranjangnya dan terus memegang perutnya yang kesakitan. Perlahan-lahan dia berjalan menuju pintu. Dengan susah payah dia membuka pintu kamarnya. Air mata terus mengalir dari matanya, tubuhnyapun bergetar hebat. Dia terus memanggil-manggil nama Eomma dan Eonninya dengan suara paraunya. Bahkan dia hanya bisa duduk dan menyenderkan tubuhnya di dinding berharap seseorang menolongnya.

“OMO! Yoona!”Teriak Tiffany yang sedang menggendong putranya melihat Yoona yang berdarah.

Tiffany langsung berlari menuju tempat Yoona dan menghampiri Yoona yang tampak kesakitan.

“Yoona-ya, waeyo?”Tanya Tiffany khawatir.

“Eonni, appo.. Perutku benar-benar sakit…”

“Iya.. Iya.. Sabar ya. Eonni akan menghubungi suamimu dan rumah sakit.”

Tiffany langsung mengambil HPnya dan menghubungi ambulans. Setelah itu dia langsung menghubungi Siwon dan juga Eommanya. Tiffany juga memanggil pelayan untuk membantu Yoona kembali ke kamarnya agar Yoona bisa bersender di ranjang sambil menunggu ambulans.

Tanpa menunggu lama, Siwon tiba. Raut wajahnya benar-benar khawatir. Dia langsung berlari ke kamarnya, dan menghampiri Yoona yang sedari tadi bersama Tiffany. Dilihatnya istrinya yang tengah kesakitan,  bajunya yang telah penuh dengan darah merah segar.

“Fanny-ah, apa ambulansnya belum tiba?”

“Entahlah. Aku juga tidak tahu.”

“Fanny, batalkan saja. Aku harus membawa Yoona ke rumah sakit sekarang. Bisa-bisa darahnya habis.”

Akhirnya Siwon langsung menggendong Yoona ke dalam mobilnya. Dia membiarkan Tiffany yang menyetir, karena dia belum begitu tahu daerah Jepang. Dia membiarkan Yoona berbaring dalam pangkuannya. Dia terus berbicara pada Yoona agar kesadaran Yoona tidak menurun. Tangannyapun terus menyentuh wajah Yoona sambil sesekali mengelus perut Yoona.

Setibanya di rumah sakit Siwon langsung menggendong Yoona ke dalam ruang UGD agar dia segera ditangani dokter. Dia sama sekali tidak peduli dengan bajunya yang tengah berlumuran darah. Yang ada dalam pikirannya hanyalah Yoona dan bayinya. Siwon benar-benar lemas. Dia hanya bisa menatap pintu tempat istrinya tengah di periksa. Ketakutan merasuki dirinya dalam seketika. Kehadiran seluruh anggota keluarganya pun sama sekali tidak membantunya.

Ketakutan Siwon bertambah setelah mendengan pernyataan dokter.  Bagaimana tidak, dokter menyatakan kalau Yoona harus melahirkan sekarang di saat usia kandungannya masih berusia 7 bulan. Dokter mengatakan, Yoona sudah kehilangan banyak darah, dan itu membuatnya tak mungkin mempertahankan kandungannya lebih lama lagi. Terutama karena penyakitnya. Siwon hanya bisa pasrah mendengar apa yang dokter katakan. Tapi yang membuatnya takut, adalah ketika dokter mengatakan bahwa Yoona harus melahirkan secara normal. Bagi Siwon, saat ini Yoona benar-benar lemah. Itu adalah yang tidak mungkin. Tapi mendengar dokter mengatakan kalau dioperasi maka kemungkinan besar rahim Yoona harus diangkat dan kemungkinan besar anaknya akan meninggal dalam rahim Yoona jika dioperasi.

Siwon melangkahkan kakinya menuju ruangan tempat Yoona sedang berbaring. Digenggamnya tangan Yoona yang dingin dan tanpa sadar dia benar-benar menangis di depan Yoona. Dia benar-benar takut kehilangan Yoona.

Mendengar dirinya harus melahirkan secara normal membuatnya terkejut. Dia sendiri tidak yakin apakah dirinya akan kuat. Tapi kemudian dia menyentuh wajah Siwon kemudian tersenyum kecil dan menganggukan kepalanya seakan dia sudah  siap akan apapun yang akan terjadi.

Yoona terus mengatur napasnya sementara Siwon terus menggegam erat tangan Yoona. Sesekali tangannya menghapus air mata dan keringat yang keluar dari wajah cantiknya. Kata-kata manis selalu diucapkannya di telinga Yoona.

“Yeobo.. Aku.. Benar-benar.. sudah tidak kuat.”

“Yeobo, kau pasti bisa. Percayalah..”

“Ayo! Ny. Choi. Terus… Terus..”

Yoona terus berusaha mendorong bayi dalam perutnya agar keluar. Melihat Yoona yang sudah semakin melemah membuat Siwon semakin khawatir. Matanya terus memperhatikan beberapa suster dan seorang dokter yang mendiskusikan sesuatu. Dia melihat seorang suster yang mulai menekan perut Yoona, dia mulai mndorong perutnya perlahan hingga semakin kencang yang berhasil membuat Yoona menangis histeris. Siwon yang melihatnya hanya bisa menggenggam erat dan mencium tangannya berusaha menyalurkan kekuatannya. Sungguh, dia benar-benar tidak tega melihat kondisi Yoona.

Ketakutan Siwon terhenti saat melihat Yoona yang berhenti berteriak dan dia mengalihkan pandangannya pada sosok dokter yang tengah menggendong seorang bayi kecil yang masih berlumuran darah. Namun ada sesuatu yang membuatnya khawatir, tangisan bayinya tidak terdengar sama sekali. Dokter dan suster tampak sibuk menepuk hingga menyuntikkan sesuatu pada tubuh bayi mungil itu. Tak lama Siwon mendengar tangisan yang cukup pelan dari bayinya, wajahnya seakan mencerah seketika.

“Yeobo-ya, itu bayi kita! Kau dengar?”Kata Siwon tanpa mengalihkan pandangannya pada dokter yang menggendong bayinya. Karena tak mendapat jawaban apa-apa Siwon mengalihkan pandangannya pada Yoona

Dan, betapa terkejutnya dia saat melihat wajah Yoona yang tersenyum kecil tapi matanya menutup sempurna. Seakan kedamaian tengah menghampirinya. Berulangkali Siwon memanggil-manggil Yoona, tapi sayangnya tak ada jawaban sama sekali. Dokter yang sedari tadi menangani bayinya langsung menyerahkan bayi itu kepada suster dang menangani Yoona. Setelah memerikasa Yoona,  dokter itu langsung mengambil alat kejut jantung dan meletakkannya di atas tubuh Yoona. Berulangkali dinyalakan alat itu, tapi sepertinya sama sekali tidak membuahkan hasil.

“Tn. Choi, saya minta maaf..Istri anda sudah pergi”Kata dokter sambil menepuk pundak Siwon.

“Maksud dokter?”

“Saya rasa Anda tahu maksud saya. Relakanlah istri Anda.”

“Anda sedang bercanda kan?”

“Ani.. Saya akan memberikan waktu untuk Anda dan keluarga Anda. Dan bayi Anda seorang permpuan. Karena kondisinya yang lemah, kami harus menaruhnya di ruangan incubator.”

“Kami permisi”Ujar sang dokter sambil melangkah keluar berma suster-suster dari ruangan itu.

Siwon terus menatap wajah Yoona yang terlihat damai. Disentuhnya wajah Yoona dengan tangannya. Dia bahkan mengecup bibirnya lembut dan keningnya. Tangisan juga keluar dari matanya, persis seperti ketika mereka bertemu 2 bulan yang lalu. Hanya saja saat ini Yoona sama sekali tidak membuka matanya atau bahkan membalas ciumannya.

“Yoona-ya, gomawo telah menjadikan aku suamimu. Menjadi suaminmu adalah kebahagiaan terbesarku. Aku yakin kau pasti berrbahagia di surga. Percayalah sutau hari nanti kita pasti bertemu, aku janji. Tolong berikan aku kekuatan untuk melepasmu. Dan aku berjanji kau adalah satu-satunya istriku. Selamanya.. Gomawo.. Saranghae Im Yoona…”Ucap Siwon lembut kemudian mengecup lembut bibir mungil Yoona dan membiar air mata membasahi wajahnya. Setelah itu dia menutupi tubuh Yoona dengan selimut putihnya.

“Selamat tinggal Im Yoona..”

Hari ini Siwon tampak bahagia. Dia dan Eommanya berjalan menuju ruangan yang berisi bayi-bayi mungil yang ada di hadapannya. Hari ini dia akan membawa pulang seorang bayi mungil  yang telah 1 bulan ini menetap di rumah sakit. Tubuh bayi itu tampak lebih kecil mengingat dia hanya berusia 7 bulan di dalam rahim ibunya. Bayi yang diberi nama Choi Eun Hye adalah bayinya dan Yoona. Eun Hye yang berarti anugrah adalah nama yang sengaja diberikan Yoona dan Siwon untuk putrinya kelak. Mereka tahu kalau Eun Hye bisa ada di sini hanyalah karena anugrah Tuhan semata.

Dengan senyuman khasnya dia menggendong bayi mungil itu menuju kamar yang memang disiapkannya untuk putri mereka. Saat dia ingin meletakkan tubuh putrinya, betapa terkejutnya ia karena menyadari bahwa ada 1 buku tebal dan satu kotak mungil di atas ranjang putrinya itu. Dengan perlahan Siwon memindahkan barang-barang itu ke meja dan meletakkan Eun Hye yang tengah tertidur.

Siwon segera mengambil buku itu dan membukanya perlahan. Dan betapa terkejutnya melihat isi buku itu. Buku itu adalah buku yang sengaja Yoona sedia untuk Eun Hye. Di buku itu, terpampang foto-foto Eun Hye yang masih berada dalam kandungan. Dia tidak pernah menyangka kalau Yoona akan menyiapkan semua ini untuk putrid mereka. Dia terus membalikan halaman-halaman buku itu hingga ada sebuah tulisan yang membuatnya menangis.

 

29 Januari 2013

Sayang, ini Eomma. Eomma yakin saat kamu membaca surat ini mungkin Eomma tidak ada di sampingmu. Mianhae, kalau Eomma tak bisa menemanimu bermain, belajar, berbelanja, atau bahkan sekedar mendengarkanmu bercerita seperti anak-anak yang lain. Eomma benar-benar minta maaf. Tapi bolehkan Eomma memintamu beberapa hal? Eomma mohon jadilah anak yang baik, jangan kecewakan Appamu. Buatlah dia bahagia. Eomma tidak akan memaksamu untuk menjadi siapapun, karena Eomma yakin kamu pasti lebih baik dari siapapun. Jadilah dirimu sendiri. Jadilah anak yang kuat. Jangan lupa untuk terus berdoa. Karena dari situlah kekuatan kita. Eun Hye ya, Eomma yakin, mungkin terkadang kamu marah karena tak seperti orang lain yang bisa melihat Eommanya.  Tapi, Eomma mohon jangan pernah menyalahkan keadaan ataupun menyalahkan Tuhan. Eomma benar-benar bahagia memilikimu di dalam rahim Eomma. Bisa melahirkanmu dengan selamat adalah kebahagiaan terbesar Eomma. Walaupun Eomma tidak bisa melihamu, tapi Eomma berjanji doa Eomma akan selalu menyertaimu. Eomma menyayangimu Choi Eun Hye^^….

Siwon menutup buku itu dan hendak mengembalikannya ke meja tapi tiba-tiba saja sebuah surat jatuh dari buku itu. Diambilnya surat itu lalu dilihatnya bahwa surat iru ditujukan padanya. Maka Siwonpun membuka surat itu.

29 Januari 2013

Yeobo, sebenarnya aku menulis surat ini karena beberapa hari ini perasaanku tidak enak. Entah kenapa rasanya aku akan segera pergi.

Yeobo, gomawo telah mengisi hari-hariku selama ini. Terima kasih telah menjadi sahabatku dan pendampingku selama ini. Bisa menjadi istrimu adalah kebahagiaanku. Dan mengandung anakmu adalah kebahagiaan terbesarku. Seumur hidupku aku tidak pernah menyesal telah memilihmu sebagai suamiku. Sekalipun aku sekarang tiada, aku mohon jangan pernah menyalahkan keadaan. Aku harus pergi karena memang itu sudah kehendak Tuhan. Yeobo, Aku mohon jagalah putri sebaik-baiknya. Jangan menyakitinya. Dia adalah satu-satunya hal yang bisa aku berikan kepadamu. Anggaplah dia sebagai penggantiku untuk menemanimu. Dan, kalau kau memang mau menikaah lagi, menikahlah. Hanya saja carilah seseorang yang memang menyayangi Eun Hye dengan segenap hatinya. Dan satu lagi, bukalah isi kotak itu dan tolong pakaikan itu pada Eun Hye. Aku hanya ingin itu menjadi hadiah pertamaku dan terakhirku untuknya. Dan aku mohon, mulailah lembaran yang bari dengan putri kita. Doaku akan selalu menyertai kalian.

Yeobo, gomawo Untuk semuanya.. Aku minta maaf jika pernah menyakiti hatimu. Mianhae… Saranghaeyo Choi Siwon..^^

 

Air mata Siwon mengalir sudah di atas kertas itu. Dibukanya kotak kecil, dan diambilnya sebuah kalung kecil berbentuk hati, dilihatnya foto yang terpampang seseorang yang sangat dirindukannya.  Perlahan-lahan dipakaikannya kalung itu pada bayi mungil yang tengah tertidur.

“Eun Hye-ya, ini adalah hadiah dari Eommamu. Kamu menyukainya kan?”Tanya Siwon sembari menatap Eun Hye yang masih tertisdur dengan damai.

“Yeobo, aku berjanji padamu aku akan menjaga Eun Hye, putri kita. Sama sepertimu, nyawapun akan kuberikan padanya. Aku berjanji padamu, akan mendidiknya dan mencintainya. Bagiku dia adalah penggantimu, orang yang akan menjadi satu-satunya di hatiku, yang akan mewarnai hidupku. Berbahagialah Yeobo sampai nanti kita bertemu lagi… Saranghae Im Yoona.”

THE END

THX N GBU

PLEASE COMMENT^^

Pos Sebelumnya
Tinggalkan komentar

142 Komentar

  1. senpai

     /  Desember 30, 2013

    ya ampun hidungku sesakk kerena mampet dari tangisanku… Benar” sediih…

    Balas
  2. hiks..hiks…… so sweeetttt…… (tp sedih banget)

    Balas
  3. Sukses buat aku mewek …..
    Bner2 nyesek, so sweet emg, banget, banget mlah. Tp ttep aj, rasanya gak rela Yoona pergi …….
    Daebbak thor …!!
    hikz, hikz, (lanjut nangis lagi)

    Balas
  4. zahrania

     /  April 9, 2014

    huhuhu…sdih bgt..
    yoona hbat bgt bsa brthan smpai akhir dan mmprjuangkan ptrinya..trharu bgt dg pngrbnan yoona..

    Balas
  5. Hiks..hiks..
    So sweettt bgt wonpa..
    kasian yoong eonnie harus berkorban demi aegi nya..
    Love YoonWon YongWonhie

    Balas
  6. merry choi

     /  Juli 25, 2014

    :”( berhasil membuat air mataku turun.. daebak author :’)

    Balas
  7. sial ni bsa dblg cmpuran sad end ma happy end

    sbel npa yoona mati
    huwaaaaa sdih

    Balas
  8. Kau harus bertanggung jawab min. Aku gak bisa berhenti menangis😥

    Balas
  9. Mewek ni thor tanggung jawab,,,sumpah kata2ny itu ;-( nyeesss bgt. Feelny berasa bgt. Author daebakk

    Balas
  10. sad ending.. jd pengen ikutan nangis..

    Balas
  11. Choi Han Ki

     /  Oktober 27, 2014

    Yaampun hatiku sesak membaca ff ini… Menahan air mata yg mau jatuh #lebay tapi ff ini bener2 menyentuh bgtt perjuangan seorang ibu demi melahirkan buah hatinya walaupun nyawa taruhannya…

    Balas
  12. “Aaaa,,, sukses ceritanya buat aku nangis😥,,, kenapa yoona harus pergi??? Aaa,,nyesek baca,,,”
    “Daebak daebak buat authornya”

    Balas
  13. hiiks hiiks hiiks … aaaaaaaa sdih bgt critax … yoong eonni bner2 daebak … hiiks hiiks hiiks ;-( ;-( …

    Balas
  14. sella mvp

     /  Desember 30, 2014

    huaaaahhh sedih bangettt..

    Balas
  15. mia rachma

     /  Januari 9, 2015

    bikinnnnn mellow bgt siii thor. yoona kerennnn, ibu sejatii bgt. ceritanyaaa daebakkk!!!

    Balas
  16. amalia an

     /  Mei 5, 2015

    haduuhhhh ……bikin mewek ceritanya. berasa kayak kejadianx ada didpn mata.
    feelx dalam bener….keren ceritax.

    Balas
  17. Sdh bgt thor yoona akhirnya mnggl.tp untg bayi mrk slmt

    Balas
  18. Aulia Mustiva

     /  Juni 10, 2015

    Aq sampai nangis…terharu banget

    Balas
  19. Dwi Swarnita

     /  Juni 24, 2015

    Kenapa sad ending sihhh .. air mata gue meleleh gitu aja yaallah thor.. pas baca surat itu ngenak banget di hati . .. hikssa mantap ceritanya .. berhasil buat readersnya menangis 😂😂

    Balas
  20. mia

     /  Oktober 22, 2015

    😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭

    Balas
  21. nytha91

     /  Oktober 22, 2015

    sad ending banget thor…huhuhu…perjuangannya yoona bener” daebak!! feel sama konfliknya dpt banget..ditunggu FF selanjutnya ^^

    Balas
  22. Omonaaaa ff ini bikin kamar kebanjiran!!! Ddaebaaakkk!!

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: