[3S] Need Jealousy (Chapter 2/3)

Cover NJ

Author                                     : misskangen

Length                                     : 3 Shots

Genre                                      : Romance, Drama

Rating                                     : PG 17

Main Cast                                : Im Yoon Ah (SNSD), Choi Siwon (Super Junior)

Support Cast                           : Im Seulong (2AM), Tiffany Hwang (SNSD), Kim Jaejoong (JYJ), Kwon Yuri (SNSD), Park Yoochun (JYJ)

Disclaimer                               : Cerita ini adalah fiktif dan murni karangan penulis. Bila terdapat kesamaan cerita dengan kehidupan nyata maka itu suatu kebetulan semata.

 

Annyeong haseyo…. Aku ingin sekali tertawa atau nyengir kuda karena berhasil menghasilkan satu FF di masa yang katanya lagi hiatus, kekekeke ^^ adakah yang merindukanku?? (pede amat!!) Berhubung ada waktu luang, dan ide berseliweran plus gentayangan jadinya aku ga sabar buat ngetiknya, jadi deh begini hasilnya….

Selamat membaca ya…

 

NEED JEALOUSY : PART 2

 

Gadis kecil itu terlihat begitu manis, bergelayut di kaki Seulong. Tangan mungilnya memainkan pita biru kecil yang terlihat indah di bagian rok dress yang dipakainya. Mata Siwon masih lekat memperhatikannya, masih tetap mencermati setiap bagian pada diri gadis kecil itu. Baru beberapa detik saja melihatnya, Siwon seakan terhipnotis dengan kehadirannya, hingga perhatian Siwon hanya tertuju pada gadis kecil itu.

 

“Soo Jin-ah, perkenalkan dirimu pada teman Abeoji,” kata Seulong pada Soo Jin, tapi anak itu terlihat ragu. “is it okay, Abeoji?” tanya Soo Jin sambil mendongak pada Seulong. “Don’t worry, he’s my friend. He isn’t a bad guy.” Siwon mengerutkan keningnya melihat gelagat yang ditunjukkan Seulong dan Soo Jin. Seulong menyadari bila Siwon pasti bingung dengan keadaan itu.

 

Mianhae, Siwon-ssi. Ibu Soo Jin selalu mengingatkannya tidak boleh sembarangan bergaul dengan orang asing,” perkataan Seulong membuat Siwon menoleh pada Gyuri, istri Seulong. Gyuri hanya memberikan senyuman kikuk pada Siwon. “Now, introduce yourself dear!” Seulong memegang bahu Soo Jin dan menghadapkannya pada Siwon. Kemudian Soo Jin tersenyum manis, memperlihatkan kedua lesung pipinya. Siwon terkesiap melihat ekspresi wajah Soo Jin yang membuatnya seakan melihat Yoona kecil tersenyum padanya.

 

Annyeong, Jeoneun Im Soo Jin imnida. I’m 4 years old and I love dancing also singing.” Soo Jin begitu menggemaskan ketika memperkenalkan dirinya pada Siwon. “Choi Siwon imnida. Kau boleh memanggilku Siwon Ahjussi.” Siwon berjongkok, menyamakan tinggi tubuhnya dengan Soo Jin. Keduanya saling berbagi senyuman, siapapun yang melihatnya pasti mengira mereka akrab sekali seperti telah saling mengenal begitu lama. Tanpa Siwon sadari, Gyuri memandang khawatir pada Seulong. “Kau yakin tidak apa-apa?” bisik Gyuri pada suaminya. Seulong mengangguk pelan menjawab pertanyaan istrinya.

 

“Soo Jin-ah, what are you doing there? Come to aunty please…” suara melengking Yuri tiba-tiba memecah momen akrab Siwon dan Soo Jin. Merasa dipanggil oleh bibinya, Soo Jin mencari asal suara itu dan mendapati bibinya melambaikan tangan di depan sebuah pintu kaca. “Ne aunty, I’m coming. Bye, uncle…”Soo Jin melambaikan tangannya pada Siwon dan segera berlari menuju tempat Yuri berdiri. Pandangan Siwon terus mengikutin pergerakan Soo Jin hingga gadis kecil itu masuk ke dalam ruangan bersama Yuri.

 

“Siwon-ssi, maaf kami harus segera menemui Yoona. Lain kali kita bertemu dan ngobrol bersama.” Pamit Seulong pada Siwon. “Ne, sampai jumpa Seulong-ssi.” Siwon pun segera keluar dari butik milik Yoona dengan perasaan aneh yang tak dimengertinya.

 

Yoona POV

 

Aku sungguh terkejut, tiba-tiba melihatnya muncul dihadapanku, di butikku sendiri. Hal ini memang sudah kuperkirakan akan terjadi, tapi seharusnya tidak secepat ini. Baru dua bulan aku kembali dari Paris setelah selama lima tahun berdomisili disana. Kalau bukan ayah tiri dan ibuku yang memaksaku untuk kembali ke Korea, aku akan dengan senang hati tetap tinggal di Paris.

 

Paris, kota yang berjuluk ‘City of Light’ itu telah menjadi saksi bisu bagaimana perjuanganku memulai kehidupan baru pasca perceraianku dengan Siwon. Aku berusaha keras menata dan menyusun kembali kepingan hatiku yang hancur karena perceraianku yang begitu menyakitkan. Di kota ini juga aku melahirkan dan membesarkan Soo Jin, putriku dari hasil pernikahanku dengan Siwon. Tapi selama itu pula aku tak pernah memberitahunya bahwa ia memiliki anak dariku.

 

Paris, juga menjadi saksi bagaimana aku memulai karirku sebagai desainer pemula. Setelah melahirkan Soo Jin, aku berjuang mati-matian untuk belajar dan mengembangkan bakatku di bidang desain pakaian. Aku sangat berterima kasih pada ayah kandungku yang begitu gigih memberiku semangat dan dukungan selama masa sulit. Ayahku tak pernah mengungkit kehidupanku di masa lalu, ia bahkan tak pernah menanyakan perihal niatku untuk memberitahu Siwon terkait kelahiran anaknya. Aku merasa cukup nyaman dengan semua itu.

 

Aku meminta seluruh keluargaku yang tinggal di Korea untuk tutup mulut tentang keberadaanku saat itu. Aku sungguh beruntung karena mendapat dukungan penuh dari seluruh keluargaku. Yuri, saudara tiriku bahkan sering mengunjungiku ke Paris. Terkadang ia datang dengan segudang cerita tentang kehidupan Choi Siwon selepas aku pergi. Aku menangkap nada sinis dan ketidaksukaannya dari setiap ceritanya tentang Siwon. Aku paham betul kalau Yuri sangat kesal dengan Siwon atas perceraianku.

 

Dulu Yuri sudah seperti suporter garis keras bagi hubunganku dengan Siwon. Bahkan ia sempat berdebat kusir dengan Seulong Oppa saat sebagian besar keluarga menolak rencana pernikahanku dengan Siwon. Tapi dengan kejadian perceraian itu dan penyebab yang dianggap terlalu sepele olehnya, sekarang Yuri bersikap begitu skeptis pada Siwon. Beberapa kali Jong Woon, tunangan Yuri, menegurnya agar tak berlarut-larut bersikap seperti itu. Tapi sepertinya Yuri masih sulit menghilangkannya, ia mengaku masih bersikap dingin pada Siwon.

 

Ketika aku kembali ke Korea, ayah tiri dan ibuku sudah mempersiapkan segalanya. Termasuk butik yang mereka bangun sebagai hadiah kepulanganku ke Korea. Awalnya aku ragu untuk kembali karena aku tak ingin berhadapan lagi dengan masa laluku. Tapi kedua orangtuaku bersikeras dan terkesan sangat memaksa agar aku kembali tinggal bersama mereka. Keinginan mereka untuk dekat dengan Soo Jin tak dapat kuabaikan. Mereka beralasan kalau lebih baik Soo Jin tinggal di Korea, dari pada tinggal di luar negeri dan hanya mengenal keluarga Seulong Oppa sebagai relasinya.

 

Akhirnya aku memutuskan kembali ke Korea dengan terus berharap agar aku bisa jauh-jauh dari segala sesuatu yang berkaitan dengan Choi Siwon. Aku merasa takut semua hal yang sudah kutata sebaik mungkin akan kembali rusak dengan kehadirannya dalam hidupku lagi. Aku takut perasaanku yang sudah hampir mati rasa kembali hidup untuknya. Bagaimanapun Siwon adalah ayah kandung Soo Jin, aku tak bisa menolak kenyataan itu. Suatu hari nanti aku harus membuka tabir rahasia itu, tapi tidak sekarang. Tidak dalam waktu dekat, karena satu dan lain hal sehingga aku belum siap untuk melakukannya.

 

Hari ini, ketika aku bertemu dengannya untuk pertama kali setelah lima tahun berpisah, rasa takut tiba-tiba menjalariku hingga ingin sekali aku berlari dan menyembunyikan diriku darinya. Aku ingin sekali lagi menghilang dari pandangannya, menghindarinya sejauh mungkin. Saat ia menyapaku, lidahku terasa kelu. Aku berusaha bersikap setenang mungkin dan sewajar mungkin. Aku tak ingin dianggap dia berpikir bahwa aku merindukannya atau bahkan ingin bertemu dengannya.

 

Aku terselamatkan ketika seorang karyawanku memberitahukan kedatangan Yuri. Tapi aku teringat bahwa Yuri sedang membawa Soo Jin. Aku buru-buru meninggalkan Siwon dan menyusul Yuri. Aku memaksanya agar segera masuk ke dalam ruang pribadiku agar Siwon tidak melihat Soo Jin. Aku takut Siwon menyadari sesuatu bila melihat Soo Jin, apalagi kalau bukan kemiripanku dengan putriku.

 

“Yak, kau ini kenapa langsung menyeretku ke sini, eoh?” protes Yuri ketika dengan sigap aku menariknya dan Soo Jin masuk ke ruanganku. “Mianhae, aku terpaksa Eonni. Kau tahu di luar ada Siwon, aku tak ingin ia melihat Soo Jin. Tidak untuk sekarang ini.” Jawabku tegas.

 

“Mwo? Apa yang dilakukan orang itu disini?” tanya Yuri dengan nada tinggi. Aku mengangkat bahuku cepat, “Entahlah. Yang jelas dia terlebih dahulu menyapaku. Aku hanya berbicara beberapa kalimat saja dengannya sebelum kau datang.” Soo Jin terlihat bingung mendapatiku dan Yuri berbicara serius dan terkesan panik. Aku membelai rambutnya, berharap ia tak terpengaruh dengan kepanikanku saat ini. “Kenapa kau terlihat kesal begitu, sayang?”

 

Mommy, I wanna play with Soo Hae Oppa.” Jawab Soo Jin sambil mengerucutkan bibirnya. “Ne, sebentar lagi Oppa mu segera datang, okay…” rayuku pada Soo Jin, dan dia menganggukkan kepalanya. Putriku memang penurut, aku juga sangat mengaguminya. Soo Jin adalah segalanya bagiku, kebahagiaan Soo Jin adalah prioritas utama untukku.

 

“Apa yang akan kau lakukan sekarang Yoong? Siwon sudah tahu kau kembali ke Korea. Kau tahukan selama kau di Paris, dia tidak bosan-bosannya menanyakan keberadaanmu padaku. Padahal aku sudah menyertakan sikap sarkasme tiap kali ia menemuiku, tapi sepertinya ia pantang menyerah.” Yuri menatapku intens, sabar menunggu jawaban yang sedang kupikirkan.

 

“Untuk waktu dekat ini aku akan berusaha menghindarinya. Aku tak ingin sering-sering bertemu dengannya.” Yuri terlihat tidak puas dengan jawabanku. “Bagaimana kau akan menghindarinya? Kau jauh di Paris saja, dia tak lelah mencari informasi. Kini kau ada di depan matanya, jelas ia akan berusaha terus menemui. Aku yakin dia masih begitu mencintaimu, tidak… terobsesi padamu lebih tepatnya.” Sebegitu yakinnya Yuri jika Siwon masih memiliki perasaan padaku. Aku hanya memandanginya heran, tak juga memberi jawaban. Yuri memutar bola matanya, kesal dengan kebisuanku. “Aku tahu kau menganggapku berlebihan soal itu. Tapi bagaimana bila kenyataannya seperti itu, apa yang akan kau lakukan?”

 

Spontan aku mengedikkan bahuku, “Molla.. aku belum ada bayangan soal itu. Yang jelas aku akan mencegahnya bertemu dengan Soo Jin dulu. Omo! Dimana Soo Jin??” Pandanganku mengitari ruangan itu, mencari keberadaan Soo Jin, dan aku melihat pintu ruangan yag terbuka. “Soo Jin pasti keluar. Oh, tidak.. bagaimana kalau Siwon masih di luar.” Sekarang aku jadi panik lagi. “Ya sudah, biar aku yang mencarinya…” sahut Yuri yang bangkit dari posisi duduknya, keluar ruangan mencari Soo Jin.

 

-0-

Beberapa saat kemudian, Seulong Oppa bersama anak dan istrinya menyusul masuk ke ruanganku setelah Yuri kembali membawa Soo Jin. Seulong Oppa dapat melihat dengan jelas kepanikan di wajahku. “Aku yakin ekspresi panik itu karena kehadiran Siwon kan..” Seulong Oppa mengambil posisi duduk di sebelahku, kemudian menatapku.

 

“Dengarkan Oppa, kau tidak boleh menunjukkan rasa takutmu di depannya. Kau harus tenang, tak perlu memikirkan masa lalu. Anggap saja bahwa Siwon adalah teman lama yang sudah beberapa tahun tidak bertemu denganmu. Bersikaplah senormal mungkin, Yoona-yah.” Seulong Oppa berusaha memberiku nasehat, aku sendiri masih berusaha mencernanya dan berpikir apakah aku mampu melakukannya.

 

“Itu sulit Oppa. Walaupun lima tahun sudah berlalu, kenangan buruk itu masih saja berputar ulang dalam ingatanku. Sangat sulit untuk menghapus semua kenangan tentang dirinya, sangat sulit Oppa…” suaraku terdengar semakin kecil, ingin sekali aku menangis tapi tidak ada air mata yang keluar.

 

“Kesulitan menghapus kenangannya tidak berarti kau masih mencintainya atau mengharapkannya kan, Yoong?” aku mendongak melihat Gyuri Eonni yang mencecarku dengan pertanyaan yang sulit dijawab. “Ani… aku tak lagi mencintainya, tidak Eonni…” jawabku tanpa keyakinan.

 

“Benarkah? Tapi mengapa aku merasakan sesuatu yang berbeda bila melihat ekspresi wajahmu itu?” timpal Yuri membuatku terdiam membatu. Aku menelan salivaku dengan susah payah, tapi tak juga menjawab pertanyaan Yuri.

 

“Lantas apa yang kau takutkan, Yoona-yah??”

“Kenyataan bahwa dia adalah ayah kandung Soo Jin yang membuatku cemas. Suatu saat bila dia tahu Soo Jin adalah putrinya, aku takut sekali ia akan mengambil Soo Jin dariku. Hal itu yang membuatku tidak bisa membiarkan Soo Jin berada di dekatnya…” jawabku lirih.

 

“Kau benar kalau Siwon akan mengenali putrinya. Tadi dia sempat melihat Soo Jin.” Aku kaget dengan pernyataan Seulong Oppa barusan. “Apa maksudmu dia mengenali Soo Jin, Oppa?” Seulong Oppa bertukar pandang sejenak dengan istrinya, lalu menghela napas sebelum menjawabku. “Tadi Siwon sudah bertemu dengan Soo Jin. Dia jelas melihat kemiripan Soo Jin denganmu, hanya saja dia mengira Soo Jin putriku karena memanggilku dengan sebutan Abeoji.”

 

“kalau begitu biarkan dia terus dalam kesalahpahaman itu, Oppa. Menurutku itu lebih baik,” Yuri menyuarakan pendapatnya secara bulat dan aku mengangguk setuju dengannya. “Bagaimanapun kau tak bisa terus-terusan menyembunyikan fakta ini, Yoona-yah. Suatu saat ia akan mengetahui kebenarannya.” Kembali Gyuri Eonni mengingatkanku pada berbagai kemungkinan yang akan terjadi di masa depan.

 

“Kalau begitu aku kan berusaha menjauhkan Soo Jin darinya, apapun caranya. Kalaupun suatu ketika ia tahu kebenarannya, maka saat itu pula tidak ada yang bisa dilakukannya.” Kataku dengan nada dingin hingga mendapat tatapan dari tiga orang dewasa yang ada di dalam ruangan ini. “Itu memang hak mu. Tapi apapun yang kau lakukan, Oppa harap tidak akan membuat Soo Jin kecewa.” Sahut Seulong Oppa. Aku mengalihkan tatapanku pada Soo Jin yang sedang asyik bermain dengan Soo Hae. Aku merasa telah berbuat sesuatu yang buruk karena berencana memisahkannya dari ayah kandungnya.

 

Yoona POV End

 

-0-

 

Siwon POV

Pertemuanku pertamaku dengan Yoona setelah 5 tahun terpisah begitu singkat. Aku kecewa karena hanya sempat berbicara beberapa kalimat saja dengannya. Kami bertatap muka tapi dipenuhi dengan kegugupan dan kekakuan. Aku merasa Yoona sengaja menghindariku dengan tingkahnya yang buru-buru pergi meninggalkanku saat seseorang memberitakan kedatangan saudaranya. Tidak hanya itu yang membuatku penasaran dan terus berpikir pasca kedatanganku ke butik miliknya, Seulong dan seorang anak bernama Soo Jin juga.

 

Ada sesuatu pada anak itu yang membuatku merasa tidak nyaman, seperti ada perasaan aneh yang mendorongku untuk mencari tahu lebih banyak soal Seulong dan keluarganya, terutama Soo Jin. Yaa… Im Soo Jin, wajahnya yang begitu mirip dengan Yoona berhasil menarik perhatianku. Entah hal apa yang membuatku begitu ingin berdekatan dengannya. Bukankah dia putri Im Seulong? Lantas mengapa hati kecilku meragukan itu… Apa sebenarnya yang kupikirkan, mengapa aku jadi tidak bisa tenang begini?

 

“jadi bagaimana pertemuanmu dengan mantan istrimu yang cantik itu, Siwon-ssi?” suara Jaejoong mengejutkanku hingga lamunanku pun berakhir. Aku menggeleng lemah tanpa mengeluarkan suara. “Apa itu artinya tidak berjalan seperti yang kau harapkan?” Jaejoong menatapku sambil membulatkan matanya. “Ya.. begitulah,” jawabku singkat. “Kenapa ‘begitu’? Ah… apa dia sudah menikah lagi, atau sudah punya pacar baru? Atau kau malah diusir olehnya?” Aku menatap kesal pada Jaejoong. “Jaejoong-ssi, aku hanya akan menjawab ‘entahlah’.” Jawabku dengan nada dongkol. “Lantas kenapa kau marah? Aku kan cuma bertanya. Jadi, kau menyerah begitu saja, kalau begitu aku akan mendekatinya..”

 

“Tidak boleh! Kau jangan seenaknya menyentuhnya, aku tidak akan membiarkanmu melakukannya!” hardikku pada Jaejoong. Mudah sekali dia mengatakan ingin mendekati Yoona, aku benar-benar tak menyukai ide itu. “Memangnya kau siapa? Kau kan hanya seorang mantan suami. Aku rasa kecemburuanmu pada mantan istri tidak pada tempatnya.” Jaejoong menyertai kata-kata itu dengan suara tawa mengejek. Aku memberinya tatapan mematikan, seketika Jaejoong menyadarinya dan berhenti tertawa. “Daripada kau uring-uringan dan  melamun tidak jelas, lebih baik kau pergi menemuinya lagi. Lakukanlah pendekatan lagi, siapa tahu dia masih punya perasaan padamu.”

 

“Aku juga inginnya seperti itu. Tapi, apa mungkin Yoona mau memaafkanku setelah apa yang kuperbuat 5 tahun yang lalu?” Jaejoong menepuk bahuku seolah memberi semangat. “Kau tidak akan tahu sebelum mencoba kan? Aku rasa tidak ada salahnya kalau kau berusaha meyakinkannya bahwa kau menyesali perilaku burukmu di masa lalu.” Aku menghela napas panjang. Jaejoong benar, aku memang harus berusaha memperbaiki hubunganku dengan Yoona. Semoga saja aku belum terlambat.

 

-0-

 

Aku kembali mendatangi butik milik Yoona setelah menyelesaikan semua pekerjaanku. Kali ini aku memarkirkan mobilku di tempat parkir butik, tidak lagi dari kejauhan. Aku bertekad akan melakukan segala cara agar ia mau memaafkanku dan kalau bisa menerimaku kembali. Aku sadar hal ini tidak akan mudah. Tapi aku tahu Yoona adalah wanita yang berhati lembut dan penyayang. Dia adalah sosok wanita yang sempurna, hanya aku lah pria bodoh yang melepasnya begitu saja dan itu semua adalah kesalahanku sendiri.

 

Belum sempat keluar dari mobil, aku melihat Yoona keluar dari butiknya bersama seorang pria menuju sebuah mobil SUV yang terparkir tak jauh dari mobilku. Aku membatalkan niatku keluar dari mobil dan tetap mengamati kegiatan mereka. Yoona ikut masuk ke dalam mobil itu. Tanpa pikir panjang aku memutuskan mengikuti mobil itu kemanapun ia pergi. Melihat Yoona pergi bersama seorang pria membuatku merasa tidak nyaman dan tentu saja tidak suka. Apalagi pria itu adalah seseorang yang kukenal, Park Yoochun.

 

Yoochun, dia adalah temanku semasa SMA. Kami berteman cukup dekat karena berada dalam kelas yang sama maupun kegiatan ekstrakurikuler yang sama. Kami sering berbagi cerita tentang banyak hal termasuk soal gadis yang kami sukai. Tapi justru hal terakhir itu yang menjadi penyebab kerenggangan hubunganku dengannya. Yoochun menganggapku seorang pengkhianat setelah aku menjadi kekasih dari gadis yang disukainya. Sebelum hal itu terjadi, Yoochun mengungkapkan padaku bahwa ia menyukai seorang gadis dan meminta bantuanku untuk berdekatan dengan gadis itu. Sayangnya sebelum Yoochun mengatakan padaku perihal perasaannya, akupun memiliki rasa terhadap gadis yang sama. Aku tak bisa berbuat apa-apa kecuali menyanggupi permintaannya.

 

Ketika aku mencoba mendekati gadis itu untuk Yoochun, perasaanku jadi tak karuan. Sulit sekali bagiku untuk melakukannya karena gadis itu juga membuat perhatianku teralih padanya. Gadis itu berpikir bahwa tujuanku mendekatinya karena akulah yang menyukainya, bukan karena permintaan Yoochun. Aku nekad menyatakan perasaanku sendiri pada gadis itu dan tak disangka ia menerimanya. Aku senang, tapi aku juga merasa bersalah. Aku merasa menjadi teman yang paling jahat di dunia. Aku tak pernah mengatakan pada gadis itu tentang perasaan Yoochun. Aku juga tak pernah mengungkapkan hubunganku dengan gadis itu pada Yoochun. Sampai akhirnya Yoochun sendiri yang mengungkapkan maksud hatinya pada gadis itu. Tentu saja gadis itu menolak dengan alasan telah memiliki kekasih, yaitu aku.

 

Yoochun sangat marah padaku karena aku sudah mengambil langkah lebih cepat darinya, dan menusuknya dari belakang. Aku menjelaskan perihal perasaanku yang sama dengannya pada gadis itu, namun ia tak dapat menerimanya. Sejak saat itu hubungan kami memburuk. Kami tak lagi saling bertegur sapa. Setelah tamat SMA aku dengar ia kuliah di luar negeri, jadi aku juga tak pernah bertemu dengannya. Kini kami bertemu lagi dan kali ini sepertinya situasi yang hampir sama kembali menjadi background kisah hidup kami. Entah ini takdir atau karma, yang jelas gadis itu –yang dulu menjadi awal retaknya hubungan kami- akan kembali menjadi pusat perhatian dan permasalahan kami. Karena gadis itu adalah… Im Yoona, mantan istriku yang masih kucintai sekaligus wanita yang sedang berada dalam satu mobil bersama Yoochun.

 

Aku masih terus mengikuti mereka. Kepalaku masih terus berpikir tentang hubungan yang mungkin terjalin di antara mereka. Aku benci ketika satu prasangka hadir dalam benakku bahwa mereka telah menikah. Susah payah aku membuang prasangka itu hingga aku harus meremas stir kemudi mobilku. Mobil Yoochun terlihat berbelok memasuki gerbang yang terbuka menuju sebuah pekarangan rumah mewah. Aku tahu betul bila rumah ini adalah milik orangtua Yoona dan Yuri. Aku menghentikan mobilku pada posisi yang aman untuk mengamati mereka dari kejauhan. Ketika mereka keluar dari mobil, aku melihat Soo Jin keluar dari rumah dan menyambut kedatangan keduanya. Soo Jin terlihat sangat gembira ketika Yoochun menghadiahkannya sebuah boneka Micky Mouse. Yoona mengelus kepala Soo Jin dan anak itu membalasnya dengan satu pelukan. Aku tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan, yang jelas mereka terlihat akrab dan saling melempar senyuman. Hal ini semakin membuat panas dalam hatiku semakin menjadi-jadi. Akhirnya ketiganya masuk ke dalam rumah, aku tak punya pilihan lain selain pergi dari tempatku sekarang. Bagaimanapun aku tak akan bisa masuk ke dalam, karena kini aku adalah orang asing untuk keluarga itu.

 

Dalam perjalanan satu pikiran muncul di kepalaku, lagi-lagi soal anak yang bernama Soo Jin. Anak itu adalah putri Seulong, namun sepertinya sangat akrab dengan kedua bibinya – Yoona dan Yuri. Selain itu, Yoochun juga tampak dekat dengan anak itu. Mungkinkah dengan mendekati Soo Jin maka aku dapat mendekatkan diri kembali dengan Yoona? Aku rasa tidak ada salahnya bila aku mencoba akrab dengan anak itu, lagi pula Soo Jin adalah anak yang manis dan aku seperti punya rasa khusus terhadapnya. Baiklah, itu artinya aku harus punya strategi jitu untuk mewujudkan hal itu.

 

-0-

Dua hari kemudian aku mendatangi butik Yoona, tentunya aku pergi kesana dengan segudang tujuan dan rencana. Aku beruntung, saat memasuki butik yang terlihat ramai pengunjung itu Soo Jin terlihat sedang duduk memandangi orang-orang yang lalu lalang di antara koleksi pakaian yang dipajang. Soo Jin tampak sangat lucu dengan pose duduk sambil menopang dagunya dengan kedua tangan dan bibirnya yang dikerucutkan, persis seperti Yoona bila sedang kesal. Aku belum melihat keberadaan Yoona, jadi kurasa ini saatnya aku mendekati Soo Jin. Aku berjalan ke arahnya dan berhenti di depannya. Aku menyodorkan boneka Rillakuma yang sengaja kubawa untuk merayunya. Ia mengambilnya dan tersenyum padaku. “Oh, You’re coming again uncle..

 

“Annyeong Soo Jin-ah, kau terlihat kesal. Apa yang terjadi?” Soo Jin menggembungkan pipinya, ia sangat lucu sekali. “Here, My mom is always busy. She has no time to play with me.” Aku berjongkok menyamakan tubuhku dengannya. “Jadi kau kesal karena ibumu sibuk. Lalu dimana ia sekarang?” Satu tangannya menunjuk ruangan berpintu kaca buram. “She’s in that room with Aunty.” Katanya masih dengan nada kesal. “Soo Jin-ah, apa kau selalu berbahasa Inggris? Kau bisa berbahasa Korea kan?” tanyaku padanya, dan dia mengangguk. “Ne, aku bisa berbahasa Korea. Hanya saja aku lebih bagus bila berbahasa Inggris.” Soo Jin tersenyum lebar memperlihatkan gigi putihnya yang tersusun rapi. “Bagaimana kalau uncle yang menemanimu bermain?” Sontak wajahnya menjadi ceria, ia berdiri dari duduknya dan menghambur memelukku. “Thank you uncle! You are mmm… handsome uncle!!” Aku membalas pelukannya yang terasa lembut dan manis, “Handsome uncle, eoh?

 

Soo Jin melepaskan pelukannya, lalu memegang kedua pipiku. “Yeah, I will call you handsome uncle, because you are handsome, uncle!” aku tertawa mendengar penjelasan Soo Jin. “Aigoo, how can a little girl like you knows what handsome is?” Aku membelai rambutnya dan lagi-lagi ia tersenyum. “Because my mom said that I’m a smart girl!” kata Soo Jin dengan nada riang, sepertinya rasa kesal anak itu sudah menghilang.

 

“Soo Jin-ah, what are you doing there? Go and find Hong Ahjumma in my room!” mendengar suara Yoona, Soo Jin segera berlari dan masuk ke dalam ruangan. Anak itu sepertinya penurut sekali, bahkan dengan perintah bibinya. “Apa yang kau lakukan disini, Oppa? Aku rasa kita tidak punya janji bertemu atau urusan apapun!” Aku berdiri ketika ia sampai di dekatku, menatapnya serius.

 

“Tentu saja aku kesini dengan tujuan tertentu. Ada yang ingin kubicarakan denganmu.”

“Soal apa? Tidak ada lagi masalah di antara kita.”

“masih ada, aku yakin masih ada. Ini soal hati.” Jawabku penuh keyakinan.

“Hati?? Ch, kita sudah berakhir lima tahun yang lalu, tidak ada yang harus diungkit lagi. Aku tidak percaya kau begitu percaya diri datang kesini dan berbicara soal hati, Oppa.” Hardik Yoona dengan nada ketus.

“Aku tahu aku sudah membuat kesalahan sangat fatal dengan perceraian kita lima tahun yang lalu. Dan aku sangat menyesal sampai seandainya aku bisa memilih kematian aku akan dengan senang hati datang padanya. Tapi aku tahu itu bukan jalan keluar. Karena itu aku datang padamu untuk meminta maaf.” Kataku dengan nada setulus mungkin. Aku melihat ekspresi keras terukir di wajahnya. Yoona masih tetap dalam kebisuannya, apakah ia sedang mempertimbangka untuk memaafkanku?

 

“Bukankah semua telah berakhir, tidak ada yang perlu disesali. Kita sudah berada pada jalan kita masing-masing. Aku rasa siapapun tak lagi berhak mencampuri urusan kita sendiri. Karena itu aku harap Oppa mengerti, jadi sebaiknya Oppa tak usah menemuiku lagi.” Yoona segera beranjak pergi tapi aku menahan dengan memegang tangannya.

 

“tidak bisa semudah itu, Yoona-yah. Aku yakin Yuri sudah mengatakan padamu bagaimana usahaku selama ini untuk menemukanmu. Aku melakukannya karena kau sangat menyesal hingga aku begitu terpuruk. Aku tak bisa melupakanmu karena aku masih sangat mencintaimu. Tidak bisakah kau merasakannya? Aku masih sangat mencintaimu, Yoona-yah.” Mendengar kata-kataku Yoona berbalik dan memandangku dengan tatapan dingin.

 

“Kau menyesal? Bukankah aku juga pernah mengatakan lima tahun yang lalu agar jangan ada satupun pihak yang menyesali kejadian ini, tapi ternyata kau malah melakukannya. Apa kau tahu bagaimana hancurnya perasaanku lima tahun yang lalu, setelah dengan mudahnya kau mencampakkan aku hanya karena kehadiran wanita lain? Kau bahkan tidak sedikitpun mau mendengarkan kata-kataku apalagi penjelasanku. Dan sekarang begitu mudahnya kau mengatakan masih mencintaiku. Kau kejam sekali, Oppa… kau tidak punya perasaan!”

 

“Aku juga hancur, Yoona-yah. Aku hancur ketika aku menyadari aku telah melakukan kekeliruan dan aku malah kehilanganmu. Aku berusaha mati-matian bertahan hidup menit demi menit tanpa kehadiranmu di sisiku. Aku menjalani hidup seperti tanpa tujuan. Aku tahu semua itu takkan pernah cukup untuk menebus semua kesalahanku. Tidak bisakah sedikit saja kau melihatku, melihat bagaimana aku berusaha keras untuk mengubah keadaan. Aku yakin kau masih Yoona yang dulu, Yoona yang lembut dan memiliki hati sebening embun.”

 

Yoona menyeringai jijik kepadaku, “Yoona yang dulu sudah mati, Oppa. Sudah lama mati ditelan waktu dan keadaan. Kau tidak akan pernah lagi menemukan Yoona yang lembut yang memiliki hati sebening embun. Tidak ada lagi… yang ada hanya Yoona dengan segenap ambisi dan usaha  untuk membuang masa lalu dan melupakannya ibarat ampas yang tak lagi berharga.”

 

“Aku mohon, Yoona-yah. Aku mohon padamu…” suaraku semakin mengecil menutupi rasa sakit dihatiku dari kata-kata yang baru diucapkannya. “Aku tidak bisa…” Yoona akhirnya pergi meninggalkanku tanpa aku bisa menanhannya lagi. Aku melangkah berbalik meninggalkan butik dengan langkah lunglai. Kini aku tahu seberapa jauh kebencian Yoona padaku.

 

Di tempat parkir aku disapa seseorang. Aku memang berharap untuk bertemu dan berbincang dengannya, tapi kau rasa saat ini bukanlah waktu yang tepat. “Siwon-ssi, lama tidak bertemu. Kau terlihat begitu kacau. Apa yang terjadi?” Yoochun mendekatiku sambil mengumbar senyumnya yang terlihat tidak tulus.

 

“Yoochun-ssi, senang melihatmu disini. Tidak terjadi apa-apa, aku hanya merasa lelah. Justru sepertinya kau terlihat bersemangat datang ke sini.” Jawabku malas. “kau merasa lelah? Apa kau lelah karena usahamu untuk kembali pada Yoona gagal lagi? Tentu aku akan bersemangat datang ke sini, apalagi melihatmu dengan ekspresi seperti itu. Sepertinya langkahku untuk mendapatkan Yoona semakin mendekati kenyataan. Kau sudah kehilangan kesempatanmu untuk berbaikan dengannya.” Aku melemparkan pandangan tidak suka yang dibalas tatapan licik oleh Yoochun.

 

“Kata siapa aku sudah kehilangan kesempatan? Kesempatan itu masih ada, dan itu masih terbuka lebar. Karena aku yakin Yoona masih memiliki rasa cinta untukku.” Yoochun menyeringai sangat kentara sedang mengejekku. “Benarkah? Aku pastikan itu tidak akan terjadi. Kalau dulu kau pernah merebutnya dariku, maka sekarang giliranku merebutnya darimu. Aku tidak akan membuang kesempatanku begitu saja untuk mendapatkan wanita yang kuinginkan, tidak lagi gagal karena pria tak bertanggung jawab sepertimu.” Ingin sekali aku memukul wajahnya, tapi aku menahan emosiku sekuat tenaga dengan mengepalkan tanganku di sisi tubuhku. “Silahkan kalau kau ingin berusaha, Yoochun-ssi. Tapi kau harus menyadari, bila dulu aku bisa selangkah lebih maju darimu dan memenangkan persaingan, maka kali ini aku juga akan mendapatkannya.” Aku bergegas masuk ke mobilku dan meninggalkan pelataran parkir itu.

 

-0-

 

Sudah beberapa minggu ini aku menjalankan usahaku dalam mendekati Yoona kembali, salah satunya adalah mendekati Soo Jin. Aku tahu Yoona sangat dekat dengan keponakannya itu. Beberapa kali aku melihat Yoochun terlihat akrab dengan Soo Jin dan aku sangat tidak suka dengan pemandangan itu. Ingin sekali rasanya aku menarik Soo Jin agar berada sangat jauh dari Yoochun. Tapi aku tak ingin memperkeruh keadaan dengan muncul dihadapan Soo Jin ketika ada Yoochun.

 

Aku sering mendatangi sekolah Playgroup tempat Soo Jin belajar, tentu saja tanpa sepengetahuan siapapun. Hanya beberapa kali aku berpapasan dengan pengasuh Soo Jin, Hong Ahjumma. Aku berhasil meyakinkan wanita paruh baya itu bahwa kau bukan orang yang berniat jahat pada Soo Jin. Aku juga memintanya agar tak mengatakan pada siapapun soal pertemuanku dengannya di sekolah Soo Jin. Dari intensitas pertemuanku dengan Soo Jin, aku merasa semakin dekat dengannya. Tapi aku tak pernah membahas soal Yoona dengannya – belum saatnya. Setiap momen yang aku lewati dengan Soo Jin terasa begitu menyenangkan seolah Soo Jin adalah putriku sendiri yang sudah lama ku tunggu kehadirannya dalam hidupku.

 

Soo Jin betah sekali memanggilku dengan sebutan handsome uncle, aku tidak pernah keberatan karena Soo Jin mengucapkan kata itu dengan ekspresi paling manis yang pernah kudapati dari seorang anak. Lama kelamaan aku seperti melihat ada diriku dalam diri anak itu, tapi aku buru-buru menepisnya. Bagaimanapun itu tidak mungkin karena Soo Jin adalah putri Im Seulong.

 

-0-

Aku merasa ragu untuk hadir ke acara pesta ulang tahun putra sulung Im Seulong di sebuah restoran makanan cepat saji. Disana aku akan bertemu dengan keluarga Im, tentu saja Yoona akan muncul bersama Yoochun. Satu situasi yang paling ingin kuhindari adalah bertemu saat mereka sedang bersama. Tapi aku tak bisa menolak keinginan hatiku untuk datang ke acara itu. Aku mendapat sambutan hangat dari Seulong dan istrinya, tapi aku juga mendapat tatapan dingin dari keluarga Im yang lainnya. Aku mengambil posisi duduk agak menjauh di belakang tamu-tamu. Aku mengamati dari kejauhan bagaimana kebahagiaan keluarga itu merayakan ulang tahun Im Soo Hae. Aku membayangkan bila aku memiliki seorang anak pasti aku akan merayakannya juga dengan penuh kebahagiaan seperti itu. Soo Jin terlihat sangat senang ketika mendapat potongan kue dari kakaknya. Aku hanya sedikit merasa aneh karena Soo Jin lebih sering bersama Yoona dan bermanja-manja dengannya daripada berdekatan dengan orang tuanya di pesta itu.

 

Saat acara hampir selesai aku beranjak ke toilet. Aku masih saja menyendiri di tengah pesta yang harusnya berbagi kebahagiaan dengan siapapun yang diundang. Satu hal yang membuatku sedikit lega adalah aku sama sekali tak melihat kehadiran Yoochun di acara itu. Apapun alasan ketidakhadirannya aku tak peduli, aku hanya mensyukuri bahwa aku tak perlu menguras hati akibat kecemburuanku padanya.

 

Saat aku keluar dari toilet, melihat Soo Jin sendirian terlihat kebingungan. Aku menghampirinya, “Soo Jin-ah, what are you doing here?” Soo Jin menatapku dan menghela napas. “What a relief uncle, I lost my way to find mommy.” Aku tersenyum, ternyata Soo Jin hanya kesasar mencari ibunya. “Soo Jin-ah…” aku mendengar suara Yoona memanggilnya, “Oh, that’s my mom” Soo Jin berlari menuju suara Yoona. Aku bersembunyi dan mencoba mengintip, memastikan bahwa yang barusan datang adalah Yoona. Ternyata benar, Soo Jin sedang memeluk Yoona.

 

Kejadian itu membuatku semalaman terjaga, aku sulit tidur karena terus terngiang dengan peristiwa itu. Kenapa Soo Jin memanggil Yoona dengan sebutan ‘Mommy’, bukannya ‘Aunty’ seperti Soo Jin memanggil Yuri. Aku jadi berprasangka kalau Soo Jin adalah anak Yoona, apalagi kemiripan mereka sangat nyata. Tapi aku jadi memikirkan siapa ayah Soo Jin, mungkinkah Yoochun? Tidak, tidak mungkin. Atau mungkin Soo Jin adalah putriku, anak yang sengaja disembunyikan Yoona dariku? Aku harus memastikan semuanya.

 

Keesokan harinya aku sengaja datang menemui Soo Jin di sekolahnya. Aku belum melihat Hong Ahjumma datang menjemputnya jadi aku datang lebih dulu menemui Soo Jin. “Soo Jin-ah, May I ask something?” Soo Jin mengangguk. “Do you know what your mom’s name is?” Soo Jin mengernyitkan dahinya, “of course I know, My mom is Im Yoona..” Aku bagaikan tersambar petir mendengarnya, jelas aku sudah menebak hal ini tapi tetap saja aku terkejut. “So, what is your dad’s name?” Wajah Soo Jin berubah cemberut. “I don’t know, I never meet my dad.” Jawaban ini lebih mengejutkan lagi, Soo Jin bahkan tidak pernah bertemu dengan ayahnya. “So, Im Seulong isn’t your dad?” Soo Jin mengangguk mantap. “Mom told me to call him Abeoji, but grandma said that he is not my dad.” Dari semua kata-kata Soo Jin, semua puzzle seolah bersatu dengan sendirinya. Mulai dari awal pertemuan aku melihat Soo Jin, wajahnya yang mirip Yoona, perasaanku yang begitu bahagia di dekatnya, hingga umur Soo Jin sendiri semuanya begitu cocok. Soo Jin memang putri Yoona, itu artinya kemungkinan besar Soo Jin adalah putriku. Lima tahun yang lalu kemungkinan Yoona pergi dalam keadaan hamil, tapi ia tak memberitahuku karena permasalahan kami. Hatiku ingin sekali melompat kegirangan dengan semua ini. Tapi aku berpikir untuk membuat satu bukti nyata, memastikan bahwa semuanya memang benar bahwa Soo Jin adalah anak kandungku.

 

“Soo Jin-ah, Hong Ahjumma isn’t coming yet. What about you’re going with me?” Soo Jin terlihat sangat gembira dari binar matanya. “Where will we go, handsome uncle?” Aku tersenyum lebar sambil mengacak pelan rambutnya. “Wherever we will get happiness, dear!” Soo Jin langsung menarik tanganku. “Let’s go, handsome uncle!!

Siwon POV End

 

-0-

 

Yoona POV

 

Masih saja sering terngiang ditelingaku kalimat demi kalimat yang diucapkan Siwon saat dibutik beberapa minggu yang lalu. Ekspresi wajahnya yang begitu tersiksa masih juga terbayang di kepalaku. Aku menjadi gelisah karena semua. Dari dulu ingin sekali aku membencinya, melupakannya dan membunuh rasa cintaku untuknya. Sekuat apapun aku menyangkal aku tak bisa memungkiri bahwa memang rasa itu masih ada. Tapi aku masih dalam proses untuk menghilangkannya.

 

Seharusnya akan menjadi lebih mudah, sedikit lagi aku berhasil seandainya ia tak lagi muncul dihadapanku dan malah mengungkapkan perasaannya padaku. Semuanya seolah membuka luka lama sekaligus mengetuk kembali pintu yang telah kututup rapat sejak beberapa tahun yang lalu. Bahkan pertemuanku kembali dengan Yoochun Oppa ketika aku masih tinggal di Paris mulai terasa canggung. Mungkin hanya aku saja yang merasakannya. Padahal aku sudah berusaha menerima kehadirannya disisiku bahkan untuk mengisi posisi sebagai ayah Soo Jin. Tapi semuanya seakan kacau balau, ayah kandung Soo Jin sendiri telah muncul dan berdiri di hadapannya, walau Soo Jin tak mengetahui itu. Aku belum bisa memberi tahu dan membuka rahasia ini, aku masih dilanda kebimbangan dan kecemasan dengan situasi yang mungkin muncul setelah rahasia itu terbuka. Aku belum siap seandainya Siwon nantinya meminta haknya sebagai ayah Soo Jin dan malah mengambil Soo Jin dariku. Tidak, aku tak bisa kehilangan Soo Jin, lebih baik aku mati jika hal itu terjadi.

 

“Maaf, nona ada berita buruk,” tiba-tiba Hong Ahjumma datang dengan wajah ketakutan. “Berita buruk apa? Cepat katakan Hong Ahjumma!!” Wanita paruh baya itu terlihat ingin menangis, “Soo Jin… Soo Jin hilang, ia tidak ada di sekolah ketika aku datang menjemputnya.” Jantungku tiba-tiba berdetak kencang dan terasa sakit. “Mwo!! Ahjumma, bagaimana mungkin kau kehilangan pengawasan pada Soo Jin??!!” teriakku yang membuat wanita itu terkejut. “Kata guru sekolahnya, ia dijemput oleh seorang pria.” Kata Hong Ahjumma membuatku menyipitkan mata. “Seorang pria, siapa?” aku berpikir keras mungkinkah Seulong Oppa atau Yoochun Oppa??

 

Aku bergegas menghubungi keduanya, namun aku semakin takut karena keduanya memiliki jawaban yang sama bahwa Soo Jin tidak bersama mereka. “Mungkin Soo Jin sedang bersama pria yang disebutnya sebagai handsome uncle…” Hong Ahjumma mengatakannya dengan nada takut setengah mati. “handsome uncle? Siapa dia??” aku pernah mendengar Soo Jin menyebut nama itu, tapi aku tak pernah mengambil pusing soal itu sebelumnya. “Ia pria yang kerap mengunjungi Soo Jin ke sekolah, nona.” Lututku lemas, kepalaku pusing. Aku dilanda kepanikan hingga sulit berpikir. Siapa pria itu dan apa maunya? Apa dia berniat buruk ingin menculik Soo Jin?? Tidak, ini tidak boleh terjadi…. Ya Tuhan, lindungi Soo Jin-ku…

 

To Be Continue…

 

Bagaimana???? Kalau seandainya readers jadi galau gegara baca nih FF, mianhae… idenya segitu doang. Atau ada yang ga puas sama cast nya?? Mohon dimaafkannya hanya itu wajah yang sedang muncul di kepalaku (halaaahhh). Kalo ceritanya jadi gaje, harap jangan salahkan aku.. salahkan pada waktu dan ketidaksabaranku untuk mengahdirkan lanjutannya lebih cepat dari jadwal (eaaakkkk).

So… so.. so… jangan lupa komennya ya readers ku sayang….

NB : Thanks to Echa yang telah meluangkan waktu posting FF ini di sela-sela kesibukannya sebagai mahasiswa ^^ (You’re welcome kakk:) )

 

Pos Sebelumnya
Tinggalkan komentar

141 Komentar

  1. Deer yoongie

     /  April 3, 2013

    Wahh, sesuai harapanku….
    Ada peran ke3nya.
    Dan yg jdi peranny youchun oppa,,,bukan hae pa kyuppa.
    Msalahnya stiap baca ff psti yg jdi peran ke3ny pasti mereka…,
    Aduh wonppa jangan maen bawa soo jin donk..
    Kan kasian yoongie jdi panik..
    Thor jngan nympe siwon pengen ngambil soo jin..
    Kalaupun mau ngambil harus rujuk dlu ama eommany y..
    Hehehehe, fighting author.
    Cepet lanjutt ne.

    Balas
  2. kezia

     /  April 4, 2013

    Ga sabar sma lanjurannyam.
    Jgn lma” y thor..
    Gomawo

    Balas
  3. aat yoonwon

     /  April 4, 2013

    lanjutkan author ne bnar2 bkin pnsran

    Balas
  4. moga aja masalah diantara yoonwon cepet diselesaikan dan yoona kembali lagi sama siwon beserta anakny,lanjut thor ga pake lama semangat

    Balas
  5. u,u soojin dan siwon akrab yeiii, batin anak dan ayah itu kuat*sotau*-_- duh yoona eomma jgn sama yoochun lah ya sama siwon aja~ /pukpuk yoona/jan galau eomma keep strong^^*ahahangawur. udah ah nanti makin ngawur komennya-_-v eonnie next part harus klimaks ya ceritanya oke oke:)

    Balas
  6. emang ikatan batin ayah dan anak itu sangat kuat yah..
    fighting wonppa, bkin yoong eonni luluh ma wonppa😀
    pnasaran nih sma klanjutannya

    Balas
  7. deka

     /  April 15, 2013

    Author chapter 3nya pliss😥 update soon

    Balas
  8. siwon oppa klo mao bwa so jin harus nya minta ijin dlu donk…

    Balas
  9. Kikang

     /  Juni 19, 2013

    Wahh.. Ffnya keren.
    Siwon bawa” soo jin tanpa permisi lo ya:)
    tapi seru kok thorr
    tetap semangat:)

    Balas
  10. soo jin diajak main sama ayahnya tanpa bilang ke ibunya -_- jelas aja yoong bakal panik.

    Balas
  11. KieWonkyu

     /  Juli 25, 2013

    memang kalo batin ayh n ank itu kuat ,, n siwon udh bsa mngira” kalo soo jin adlh anknya ,,,tpi knpa msti bawa soo jin gx blang dlu sma eommanya atau pngashnya ,, jdinyakn yoonanya panik ..

    Balas
  12. Unhibitedly

     /  Agustus 18, 2013

    kayaknya wonppa dah mulai curiga kalo soo jin tuh anaknya,, apalagi setelah denger soo jin manggil yoongie dengan sebutan mommy,,,hoho

    Balas
  13. liza faiza

     /  Agustus 23, 2013

    annyeong eonni…udah bca part 2 nie….
    Rahasia bsar sbntar lg akan terungkap ni….
    Oh ya waktu awal2 bca part ini aku gx trlalu suka krn ada flashback yg sdikit2 muncul stlah yoonwon cerai….serasa pngen2 di cpetin biar bgian itu cpet abiss…
    Tpi mkin kebwah makin seru apalg wonppa udah tau lox eomma nya soo jin yoona…
    Lnjut ah Q mw baca part 3 nya…smoga happy ending!

    Balas
  14. wuiii..g sabaran bca lanjutannya

    keep create author

    Balas
  15. ferfect,,
    crta nya sangat menakjubkan,, bikin penasaran,, aku harap happy ending,,

    Balas
  16. okty

     /  April 11, 2014

    (“˘͡ε ˘͡”) huft ayolah yoong jangan begitu, ntu soojin butuh sosok bapaknya, jangan egois bgitu #ngomelsendirian semoga yoong dibukain pintu hatinya hehehehehe #ngacir k part selanjutnya

    Balas
  17. any

     /  Mei 16, 2014

    Orang ke 3nya sekarang yoochun. Siwon harus diberi shok terapi dulu jgn jadi yoona jgn keburu nerima siwon lagi.

    Balas
  18. alhir.nya siwon tau kalo so jin itu anak.nya ..
    semoga yoona sama siwon balik jadi keluarga utuh sama so jin ..

    Balas
  19. amalia an

     /  Desember 30, 2014

    Wah aq bru bc yg 3S ini ternyata itu seru n bagus ceritanya. ….
    Semoga aja yoona bsa maafkan siwon apalagi klo setelah siwon tau ttg anakx dan yoona. Berharap mereka balikan.

    Balas
  20. mia rachma

     /  Januari 9, 2015

    semogaaa yoona ma wonpaa rujukkk lagiii. kkasian soojin ga punyaa papah

    Balas
  21. Plis yoonwon balikan😦 yoona maafin siwon oppa, and siwon oppa bener2 nebus kesalahany buat yoona.. Kasian soo jin. Its okay yoona yoojin sama appanya pasti dibalikin hehehe

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: