[FF] My Silly Engagement (Chapter 5)

Cover MSE New

Author             : misskangen

Type                : Sekuel

Genre              : Romance, family

Rating             : PG 17

Main Cast        : Im Yoona, Choi Siwon

Support Cast   : Kwon Yuri, Seo Joo Hyun, Lee Donghae, Byun Baekhyun, Jung Hye Ri (OC)

Disclaimer       : Cerita ini adalh fiktif dan murni karangan penulis. Semua cast meminjam nama-nama idol Korea. Apabila terdapat kesamaan cerita dengan kehidupan nyata, maka itu adalah kebetulan semata.

 

Kali ini bela-belain posting FF sekuel yang dah hampir berlumut ga muncul-muncul lanjutannya. Ide juga lagi mampet ampe ada scene yang garing… maklum ga bakat ngelawak… Semoga masih pada inget jalan cerita sebelumnya, kalo dah pada lupa review aja dengan membaca ulang part sebelumnya. ^^

Selamat membaca….

 

CHAPTER V

 

Siang itu setelah selesai melakukan bimbingan dengan dosennya, Yoona menyusul Hyeri dan Seohyun ke kantin kampus. Yoona duduk di kursi tepat di depan kedua sahabatnya duduk. Wajah Yoona terlihat sedikit ditekuk. Sambil menggembungkan pipinya Yoona memasang posisi duduk malas dengan menopang dagunya di atas meja. Hyeri dan Seohyun saling melemparkan tatapan penuh tanya, hingga akhirnya mereka berdua serentak mengedikkan bahunya tanda tak tahu.

 

“Kenapa wajahmu ditekuk dua belas begitu Yoong?? Apa proposal penelitianmu ditolak oleh Dosen Park lagi??” Seohyun buka suara. “Ani… soal proposal penelitian semua sudah beres. Dua minggu ke depan aku segera berangkat ke Pulau Nami,” jawab Yoona datar.

 

“Berapa lama kau akan berada disana? Kami pasti akan kesepian…” sahut Hyeri. “Mungkin sekitar dua sampai tiga minggu, tergantung penelitianku bisa diselesaikan lebih cepat atau tidak.” Jawab Yoona masih dengan nada datar. “Ahh… tapi kalaupun aku lama berada disana setidaknya aku bisa menghindari si Kuda untuk beberapa saat. Anggap saja sekalian liburan kan… wah, kenapa baru terpikir sekarang ya..” tiba-tiba saja Yoona berubah lebih bersemangat. Kedua temannya memandang penuh tanya.

 

“Siapa yang kau maksud Kuda, Yoong?” tanya Seohyun.

“Siapa lagi kalau bukan Tuan Muda Choi yang super menyebalkan itu!” mata Yoona berapi-api ketika menyebut nama Siwon. Hyeri dan Seohyun terperanjat dengan jawaban Yoona.

 

“Kenapa kau menyebutnya Kuda? Aku pikir dia adalah namja yang sangat tampan. Oooohh.. mungkinkah itu panggilan sayangmu untuknya??” goda Hyeri pada Yoona. “Berhentilah terpesona padanya, Hyeri. Kau tidak tahu betapa menyebalkannya seorang Choi Siwon. Aku selalu saja dibuat emosi tiap berada di dekatnya.” Yoona berkilah.

 

“Benarkah, emosi setiap saat atau terpesona setiap saat??”

 

“Yak, hentikan olokanmu itu. Kau tahu sendirikan kalau aku tak menyukainya. Aku akui dia memang punya wajah yang tampannya di atas rata-rata…”

 

“Tuh kan… aku bilang juga apa, kau sudah terpesona padanya,” potong Hyeri. “Aku belum selesai bicara Hyeri, stop menginterupsi untuk sementara waktu. Aku bilang dia memang tampan tapi kan kalian tahu kalau sejak dulu aku sudah menyukai seseorang. Dan seseorang itu juga tidak kalah tampan.”

 

“Kali ini seharusnya kau yang berhenti Yoong. Berhentilah memikirkan Pengacara Lee, ingatlah kalau kau sudah bertunangan. Lagipula belum tentu Pengacara Lee juga menyukaimu,” Yoona memberi tatapan galak pada Seohyun yang sudah berani mengeluarkan pendapat penuh kontroversi.

 

“Aku setuju dengan Seohyun. Kau cuma beberapa kali bertemu dengan pengacara Lee, itupun secara kebetulan. Pertama kali kau bertemu dengannya kan ketika acara peresmian kantor cabang Seorim Group yang dipimpin kakakmu di daerah Ilsan. Setelah itu kau tak pernah bertemu dengannya secara intens,” tambah Hyeri.

 

“Kalau pertemuan pertamaku dengan Donghae Oppa di acara peresmian kantor Seulong Oppa itu memang benar, saat pertama melihatnya aku langsung menyukainya. Aku mencari informasi tentangnya dari kenalan Seulong Oppa, dan aku berhasil mendapatkan banyak keterangan. Kalian tahu sendirikan bila aku sudah mengeluarkan jurus rayuan maut, siapapun pasti takluk!” Yoona terlalu bersemangat hingga memperlihatkan tawa aligatornya. Sedangkan Hyeri dan Seohyun hanya geleng-geleng kepala melihatnya.

 

“Asal kalian tahu, aku punya rahasia. Aku tak pernah menceritakan pada kalian sebelumnya,” kata Yoona sambil melirik ke kiri dan ke kanan.

“Rahasia? Aigoo… kau ini payah, masa kau tak mau berbagi rahasia itu pada kami,” gerutu Hyeri. “Entah kenapa justru aku bersyukur tidak menceritakannya pada kalian. Karena kalian mulai berani menusukku dari belakang.”

 

“Yak, kau ini tega sekali berkata seperti itu. Sebegitu sulitkah memaafkan kami? Kami janji tidak akan jadi pengkhianat lagi,” rayu Seohyun sambil mengangkat dua jarinya.

“Baiklah… kali ini kalian aku maafkan. Tapi kalian harus berjanji tak lagi merecoki perjalanan kisah cintaku, apapun yang terjadi anggaplah kalian tidak tahu apa-apa,” ancam Yoona. “Benarkah kau ingin seperti itu? Lama-lama kau sudah seperti pujangga cinta. Aku harap kau tidak akan pernah menyesali segala keputusanmu kedepannya, Yoong,” kata Seohyun bijak.

 

“Ckckck, Im Yoona…. kau ini sudah banyak kemajuan soal asmara ya, sampai kami tak boleh ikut campur. Kami pasti mengerti… dan itu artinya aku tak lagi harus merekomendasikanmu masuk ke dalam kelompok yang aku ikuti,” tiba-tiba Hyeri berkata sesuatu yang aneh. “Apa maksudmu dengan kelompok yang kau ikuti Hyeri-ah?? Aku tidak terlalu tertarik mengikuti organisasi kampus,” jawab Yoona.

 

“Tapi, kelompok ini berbeda. Aku rasa siapapun pantas masuk ke dalamnya. Tadinya aku berpikir kau masih pantas bergabung ke sana. Karena disana dipenuhi orang-orang sepertimu.”

“Heii.. Hyeri, kalau bicara harus jelas. Im Yoona hanya ada satu, dan itu cuma aku. Tidak ada yang bisa menyamai diriku!” sergah Yoona penuh percaya diri. “Memangnya organisasi apa sih, Hyeri? Aku juga penasaran nih…” timpal Seohyun.

 

“HIMACAS” jawab Hyeri pendek. “Hah? Aku baru dengar namanya,” Seohyun dan Yoona saling berpandangan. “Tentu saja kalian tidak akan tahu. HIMACAS itu kepanjangan dari Himpunan Mahasiswa Cacat Asmara. Hanya saja itu satu kelompok yang invisible” jawaban Hyeri sontak membuat Yoona dan Seohyun tertawa terpingkal-pingkal.

 

“Aku pikir kau pantas digolongkan ke situ Yoona”

“Enak saja. Aku ini cukup berpengalaman.”

“Benarkah?? Bukannya kau tidak pernah punya pacar??” cibir Hyeri. “Aku memang tidak pernah punya pacar. Tapi beberapa kali aku sudah berkencan dengan orang yang sama.’

“Mwo?? Kau berkencan dengan siapa? Kami tidak pernah tahu. Ohh.. jadi itu rahasia yang kau bilang tadi.” Yoona mengangguk. “Dan.. orang itu adalah Donghae Oppa!!!” Yoona mengatakannya dengan penuh semangat. “alaaahh.. paling juga kau sendiri yang menggapnya sebagai kencan, pengacara Lee cuma menganggap jalan-jalan biasa yang kebetulan terjadi,” Seohyun ikut mencibir Yoona.

 

“Ya… terserah kalian mau beranggapan apa, masa bodoh. Ya sudah, pulang yuk. Aku tidak membawa mobilku, jadi aku akan naik bus saja.” Yoona berjalan mendahului kedua sahabatnya.

 

-0-

 

Beberapa meter mendekti halte, sebuah mobil sedan mewah lewat di samping mereka berjalan. Mobil itu tak sengaja menyipratkan air yang tergenang di jalan kepada ketiganya. “Arrrggghhh….” ketiganya menjerit kesal. Mobil itu pun berhenti, dan seorang namja pemiliknya keluar menghampiri mereka. “I’m sorry ladies, aku tak tahu kalau ada genangan air di situ.” Mereka bertiga masih sibuk membersihkan pakaian mereka yang terciprat air. Yoona yang merasa sangat kesal mendongakkan kepalanya dan bersiap mengeluarkan segala kekesalannya terhadap sang pemilik mobil. Tapi aksinya tak jadi dilakukan setelah Yoona terkejut melihat siapa yang berdiri di depannya.

“Donghae Oppa..”

“Yoona-ssi…”

 

Keduanya masih terdiam karena terkejut atas pertemuan yang tak terduga. Masing-masing masih berdiri terpaku, tersenyum kaku satu sama lain. Seohyun dan Hyeri pun menyadari situasi tersebut. “Ehemm… kau Pengacara Lee kan? Wah.. tidak menyangka bertemu denganmu disini,” Seohyun membuka suara dan membuat kedua orang itu tersadar dari lamunannya.

 

“Ah, Nee… Aku Pengacara Lee Donghae. Senang bertemu kalian lagi,” sejenak Donghae menoleh pada Seohyun dengan senyum kikuk dan tak lama ia kembali memandang Yoona. Sedangkan yang dipandang sekarang masih salah tingkah, dengan tergesa-gesa membenarkan rambutnya yang sama sekali tidak berantakan. “Omo.. Donghae Oppa, kau sudah kembali dari luar negeri… Aku tak menyangka secepat itu,” kata Yoona yang masih berlagak terkejut. “Begitukah? aku pikir aku sudah terlalu lama di London dan aku senang sekali telah kembali ke Korea.” aku Donghae. “Oh..” hanya kata itu yang diucapkan Yoona.

 

“Oh ya, soal yang tadi maaf sekali. Aku benar-benar tidak sengaja. Sebagai permintaan maaf aku akan mengantarkan kalian. Memangnya kalian mau kemana?” Mereka bertiga tidak ada satupun yang menjawab. Satu sama lain saling melirik. “Sebenarnya aku dan Hyeri mau ke toko buku. Tapi Yoona mau pulang, lebih baik antarkan dia saja,” kata Seohyun sambil menarik Yoona dan mendorongnya ke arah Donghae. “Eh, bukannya kalian juga….” kata-kata Yoona setelah mendapat tatapan Seohyun yang seolah berkata ‘diamlah-dan-cepat-lakukan’.

 

“kalian serius tidak ingin aku antarkan?” Donghae ingin memastikan kepada Seohyun. “Ne.. kami akan pergi sendiri saja. Terima kasih untuk tawarannya” Hyeri ikut memberikan jawaban diikuti anggukan Seohyun. “Baiklah kalau begitu aku akan antarkan Yoona pulang. Sampai jumpa. Kkaja Yoona-ssi,” Donghae berjalan menuju mobilnya diikuti Yoona. Sesaat kemudian Yoona menoleh ke belakang. “kalian gila..” kata Yoona tanpa suara dengan tangannya yang membentuk garis di atas dahi. “Selesaikan masalahmu dengannya!” jawab Seohyun mendikte tiap kata tanpa suara juga.

 

-0-

 

Selama perjalanan menuju rumah, Yoona dan Donghae awalnya masih terdiam. Masing-masing sibuk memikirkan kalimat yang ingin diutarakan. Keduanya masih merasa sangat canggung karena selama beberapa tahun tidak bertemu.

“Bagaimana kabarmu, Yoona-ssi?” akhirnya Donghae berani mengeluarkan suara.

“kabarku baik, Oppa… aku rasa sudah saatnya Oppa berhenti memanggilku dengan embel-embel –ssi dibelakang namaku.” Kata-kata Yoona terdengar masih canggung.

“Oh, kenapa begitu?’

“Bukan karena apa-apa, aku hanya merasa tidak nyaman saja. Bukankah kita sudah saling mengenal?” Yoona menggigit bibir bawahnya, sedikit menyesali perkataannya.

“Ne, kau benar. Aku tidak tahu apa sebabnya sehingga merasa begitu kaku seperti ini,” Donghae mengusap tengkuknya untuk menyembunyikan kegugupan.

“Mungkin karena kita lama tak bertemu, jadi seperti baru kenal satu sama lain.” Yoona tersenyum tanpa memandang Donghae.

Tak terasa mereka telah sampai di depan gerbang rumah Yoona. Mobil Donghae berhenti sebelum sempat masuk ke perkarangan rumah.

“Mengapa berhenti disini?” tanya Donghae sesaat setelah menghentikan laju mobilnya. Yoona menghentikan kegiatannya yang berusaha membuka pintu mobil Donghae.

“Maaf Oppa, aku belum bisa mengajakmu masuk ke dalam. Ayahku sedang ada di rumah, kalau beliau melihatku pulang dengan seseorang yang belum dikenalnya pasti aku akan diinterogasi panjang lebar. Dan saat ini aku masih belum siap menghadapinya,” sesal Yoona pada Donghae.

Memang benar kalau Yoona takut diinterogasi oleh ayahnya, tapi saat itu Yoona tahu pasti bahwa ayahnya sedang berada di luar negeri. Yoona hanya tidak ingin Yuri atau ibunya tahu kalau Donghae yang mengantarnya pulang, bukan tunangannya sendiri. Yoona sedang malas mendengar omelan dari ibu dan kakaknya, jadi ia tak mau mengambil resiko telinganya menjadi panas sehingga membatalkan niatnya menawarkan Donghae singgah ke rumah.

“Baiklah. Lain kali aku akan datang sebagai tamu yang baik ke rumahmu,” jawab Donghae dengan senyuman manis yang kontan membuat Yoona melting seperti es krim.

 

Yoona berjalan masuk ke dalam rumah sambil tersenyum-senyum sendiri. Ia masih mengenang pertemuannya dengan Donghae. Yoona sangat tidak menyangka akan secepat itu bertemu dengan Lee Donghae, seseorang yang disukainya dan yang sedang ditunggu kepulangannya. Sepertinya untuk sejenak Yoona lupa dengan statusnya sebagai tunangan namja lain yang bukan Lee Donghae sendiri.

 

Yuri yang melihat Yoona masuk ke rumah merasa sangat heran dengan sikap Yoona. Bahkan Yoona tak menyadari bila Yuri berjalan dibelakangnya mengikuti sampai masuk ke kamar Yoona. Yuri makin bingung karena penasaran melihat tingkah dongsaengnya yang semakin aneh, masih tersenyum-senyum sendiri sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang.

“Aku harap kau tidak butuh pergi ke psikiater, saeng-ah!” tegur Yuri yang membuat Yoona terkejut. “eonni, sejak kapan kau ada di kamarku?”

Yuri menepuk pelan dahinya, merasa kesal dengan tingkah sang adik yang baru menyadari kehadirannya. “Kau bahkan tidak sadar aku mengikutimu dari tadi. Memangnya apa yang sedang kau pikirkan, eoh? Kau tidak kehilangan kewarasanmu karena dipaksa bertunangan dengan Choi Siwon kan?”

Ekspresi Yoona mendengar nama Siwon langsung berubah, “Ahhh baru sebentar aku melupakan orang itu, kau malah mengingatkannya lagi. Lama-lama kau juga menyebalkan, eonni!”

“Mwo? Memangnya aku salah telah menyebut namanya di depanmu, kau ini sensitif sekali bila berkaitan dengan Choi Siwon. Apa kau sudah jatuh cinta padanya?”

“hah??!! Darimana kau bisa menyimpulkan aku sudah jatuh cinta padanya? Itu tidak masuk akal!!” sergah Yoona.

“Apa kau tidak sadar kalau kau selalu memikirkan Choi Siwon?”

“Kapan aku bilang aku sedang memikirkannya?”

“Tadi, kau bilang ‘baru sebentar saja aku melupakannya’. Itu kan artinya selama ini dia selalu ada dalam pikiranmu.” Sejenak Yoona terdiam, menelaah setiap kata-kata kakaknya. Sepertinya tidak seluruhnya apa yang dikatakan Yuri salah, Choi Siwon memang acap kali hadir dalam pikiran Yoona. Tapi Yoona masih berusaha menampik kenyataan itu.

“Tidak seperti itu, kau sudah salah tafsir. Bagaimana mungkin aku jatuh cinta padanya?” Yoona mencoba berdalih. “Itu adalah kemungkinan yang sangat besar akan terjadi. Seiring berjalannya waktu, semakin sering kau bertemu dengannya maka lambat laun perasaan itu akan muncul! Apalagi melihat tingkah Siwon yang sangat romantis padamu, kau pasti semakin sulit menolaknya.” Yoona mengerucutkan bibirnya, merasa kesal dengan pernyataan Yuri. Yoona takut bila yang dikatakan Yuri menjadi kenyataan, karena Yoona mulai menyadari kehadiran Choi Siwon yang sedikit demi sedikit mengubah jalan hidupnya.

“Terserah kau saja, eonni. Sudah sana pergi, aku tadi mendengar klakson mobil Jong Woon Oppa. Nanti dia terlalu lama menunggumu di bawah!”

“dari mana kau tahu kalau itu suara mobil tunanganku?”

“hanya feeling tahuuu!!” Yoona melempar sebuah bantal, dan Yuri sukses mengelak karena sudah membuka pintu kamar beranjak keluar dari sana.

 

-0-

Tiiinnn…tiiinnnn…

Suara klakson terdengar dari pekarangan rumah Yoona dari sebuah mobil Jaguar hitam yang sangat mewah. Milik siapa lagi kalau bukan Choi Siwon, tunangan Yoona yang sedang menjemput sang kekasih.

 

Yoona yang memang sudah menunggu sedari tadi menghampiri mobil itu dengan wajah cemberut. Ibunya hanya geleng-geleng kepala melihat perilaku putri bungsunya. Sang ibu sudah lelah sedari tadi memberi nasehat pada Yoona dalam rangka mempersiapkan diri untuk menghadap calon mertua. Tapi Yoona sendiri kelihatan sangat tidak tertarik dan hanya menunjukkan wajah malas dengan khotbah ibunya.

 

“mengapa wajahmu cemberut begitu? Apa kau takut bertemu dengan ayahku?” sapa Siwon begitu Yoona masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelahnya. “Memangnya ayahmu menakutkan, Oppa? Aku tidak berpikir sejauh itu, hanya saja aku tidak siap harus bertemu dengannya secepat ini. Aku khawatir ayahmu akan bertanya panjang lebar tentang perkembangan hubungan kita.” Siwon tergelak melihat ekspresi Yoona ketika mengatakan alasan kegundahannya.

 

“Memangnya kenapa dengan hubungan kita, bukankah semua berjalan lancar. Bahkan besokpun kita sudah siap untuk menikah.” Siwon mencoba kembali menggoda Yoona. Satu pukulan melayang ke lengan Siwon akibat membuat Yoona kesal. “Yak, kau ini sudah kebelet menikah ya?? Kau pikir aku mau buru-buru menikah denganmu, teruslah berharap Siwon-ssi.”

 

“Hei.. kenapa malah memukulku! Aku sedang mengemudi, bagaimana bila aku kesakitan hingga kehilangan konsentrasi, eoh?” protes Siwon pada Yoona. “Salah sendiri kau berbicara yang tidak-tidak.”

 

Akhirnya mereka tiba di sebuah restoran Jepang, di pusat kota Seoul. Beberapa kali Yoona berdehem, membersihkan tenggorokannya. “Berhentilah melakukan sesuatu yang memperlihatkan kegugupanmu, Yoona. Bersikaplah yang wajar, jadilah dirimu sendiri. Ayahku tidak akan memprotesmu, kau tenang saja.” Siwon mencoba mengurangi kegugupan Yoona. “Jinja? Baiklah. Aku pegang kata-katamu.”

 

Anyeonghaseyo, joneun Im Yoona imnida” Yoona memperkenalkan diri kepada calon mertuanya, Presdir Choi Kiho. “Ne… duduklah, Yoona-ssi.”

 

Yoona dan Siwon duduk bersandingan dan berhadapan dengan Presdir Choi. Posisi duduk Yoona terlihat sangat kaku dan tegang, Yoona merasakan kalau kegugupan masih terus melingkupinya. Siwon yang menyadari ketidaknyamanan Yoona berninisiatif memberi satu sentuhan padanya, mengelus punggungnya. Yoona bukannya merasa lega malah menjadi merinding dengan apa yang dilakukan Siwon sehingga ia menoleh pada Siwon dan menatapnya seolah berkata ‘hentikan-itu-bodoh!’. Siwon tersenyum singkat dan kembali menghadapkan pandangannya pada sang Ayah.

 

“Sepertinya kalian mulai akrab, itu artinya perjodohan ini tidak sepenuhnya memusingkan kalian kan..” senyum terpatri di wajah Presdir Choi dan membuat Siwon terperanjat. Bagaimana mungkin ayah bisa tersenyum begitu tulus pada Yoona, sedang padaku hal itu adalah satu keajaiban, batin Siwon. Yoona hanya membalas pernyataan calon mertuanya dengan senyum kecut yang dipaksa.

 

Beberapa saat kemudian semua menu pesanan telah di antar ke meja mereka. Ketiganya makan dalam keheningan, sibuk dengan pikiran masing-masing. Saat sedang menyantap dessert, Presdir Choi kembali buka suara dan menanyakan banyak hal pada Yoona. Presdir Choi kerap kali bertanya tentang kehidupan keluarga Yoona, kuliahnya, hobinya, dan sebagainya. Yoona menjawab dengan jawaban seadanya dan seperlunya. Yoona masih merasa gugup. Hal itu terlihat dari tangan kanannya yang menggenggam sendok dengan gelisah, dan tangan kirinya yang meremas gaun di atas pangkuannya.

 

Tiba-tiba Yoona merasakan genggaman tangan Siwon pada tangannya yang terkepal di atas pangkuannya. Siwon dapat merasakan betapa dingin tangan itu. Yoona pun membalas menggenggam tangan Siwon, dan mendapatkan kehangatan dari sana. Sedikit demi sedikit kegugupan Yoona menghilang.

 

“Yoona, tahukah kau bahwa aku menyukai western food buatan ibumu? Dulu semasa kuliah, aku dan ayahmu sering menggoda dan merayunya agar memasakkan kami makanan yang enak,” kata Presdir Choi lagi. “Jinja? Jadi Aboenim sudah lama mengenal ibuku?” Yoona merespon dengan cukup antusias.

 

“Ne, aku bahkan mengetahui bagaimana kisah cinta orangtuamu. Aku begitu iri pada ayahmu ketika ia mengatakan akan segera menikahi ibumu. Padahal saat itu aku belum memiliki kekasih atau pasangan. Karena itu aku bersikeras ingin menikahkan putraku kelak dengan putri ayahmu. Aku harap kalian akan memiliki kisah cinta yang indah juga, dan tidak berakhir begitu saja sepertiku…”

 

“Abeoji cukup! Hentikan, kau membuat Yoona semakin gugup karena kata-katamu.” Tiba-tiba Siwon memotong perkataan ayahnya. Yoona menoleh kepada Siwon, mendapati ekspresi keras di wajah tunangannya.

 

“Memangnya apa yang sudah kulakukan Siwon-ah? Apakah suatu hal yang salah bila aku ingin lebih dekat dengan calon istrimu?” Presdir Choi berbalik menatap dingin pada Siwon. “Bukan begitu maksudku, Abeoji. Aku hanya tidak ingin Abeoji terobsesi dengan kisah cinta yang indah karena masa lalu yang menyakitkan. Jangan tawarkan Yoona pada harapan palsu, aku tak bisa membiarkannya.” Jawab Siwon tak kalah dingin. Yoona merasakan genggaman Siwon mengeras di tangannya.

 

“Aku tahu hubungan kita tak begitu baik. Tapi buka berarti kau harus menunjukkannya Siwon-ah, bahkan di depan tunanganmu sendiri. Justru kau yang membuatnya bingung dengan sikapmu.” Presdir Choi menghela napas berat, Siwon hanya diam, sementara Yoona merasa aura dingin sangat lekat di antara mereka. Akhirnya, acara pertemuan keluarga itupun berakhir, dengan ending yang sangat mengecewakan karena ditutup dengan tatapan dingin ayah dan anak.

 

-0-

 

Yoona POV

 

Syukurlah acara pertemuan pertamaku dengan calon mertua alias Ayah Siwon telah berakhir. Jujur saja aku sangat lega, tapi di sisi lain aku juga merasa penasaran. Siwon dan ayahnya terlihat sangat canggung. Suatu kondisi yang aneh mengingat hubungan mereka adalah ayah dan anak. Aku tak bisa membayangkan bila hubunganku dengan Appa seperti itu, karena selama ini aku terkenal paling manja di rumah.

 

Aku terus memperhatikan ekspresinya, masih datar sama seperti saat pertama ia masuk ke mobil dan mengemudi dengan penuh konsentrasi. Tidak biasanya ia begitu dingin seperti ini, mungkin juga dia tidak tahu aku sedang memperhatikannya.

 

“Oppa…” panggilku dengan sedikit nada manja. “Hmm…” hanya jawaban itu yang keluar dari mulutnya. “Oppa… boleh aku tanya sesuatu?” suaraku terdengar pelan. “Apa?” lagi-lagi jawaban singkat darinya.

 

“Aku perhatikan sepertinya hubunganmu dengan Abeonim canggung dan disharmonis, benarkah begitu? Apa penyebabnya?” Aku menunggu jawabannya dengan sedikit kekhawatiran bila ia akan marah dengan pertanyaanku.

 

“Belum saatnya kau tahu soal itu. Kau tidak perlu memikirkannya.” Aku ternganga mendengar jawabannya. Aku pikir ia akan marah, ternyata ia lebih memilih bersikap skeptis. “Oppa, menurutku tidak baik bila hubunganmu dengan Abeonim terus-terusan seperti itu. Bagaimanapun ia ayahmu, sudah seharusnya seorang anak….”

 

“kau tidak mengerti apapun, jadi berhentilah berkomentar. Dan aku juga tak butuh nasehatmu!” Aku terpukau untuk kedua kalinya, terpukau dengan sikapnya yang dingin berubah menjadi galak. Dia bahkan tidak menoleh padaku ketika mengucapkan kata-kata itu. Matanya masih terus memandang lurus ke depan, ke arah jalan raya. Dia masih sibuk dengan stir kemudi mobilnya.

 

“Aku kan cuma memberikan pendapat, kenapa begitu saja membuat Oppa marah.. Aku kan hanya ingin mengingatkanmu agar bersikap lebih baik pada orang tuamu sendiri. Aku mengenalmu sebagai seorang pria yang sopan santun walau terkadang kau menyebalkan. Tapi mengapa kau malah jadi aneh dan terkesan sangat angkuh bila berhadapan dengan ayahmu sendiri. Oppa, sebenarnya apa yang….”

 

Citttt…..

Suara decitan ban akibat rem mobil yang dipaksa berhenti tiba-tiba terdengar dan menghentikan kata-kataku. Aku kaget setengah mati, aku melemparkan pandangan kesal padanya. “turunlah!” Apa maksudnya mengatakan itu, bahkan raut wajahnya terlihat sedang emosi.

 

“Kenapa aku harus turun, inikan masih jauh dari rumah!” jawabku dengan nada tinggi. “Ayo cepat turun. Telingaku panas mendengar ocehanmu yang tidak penting itu. Bukankah sudah kukatakan aku tak perlu nasehatmu? Sekarang lebih baik kau turun dari mobilku!” Dia mengucapkan semua itu dengan begitu dingin dan tidak sedikitpun ada candaan disana. Aku memandangnya dengan tatapan kesal.

 

“Apa yang kau tunggu lagi?” Dengan kesal aku membuka pintu mobil dan keluar dari sana. Aku membanting pintu mobilnya begitu keras. Segera ia memacu mobilnya meninggalkan aku sendirian di pinggir jalan. Aku menghentakkan kakiku beberapa kali, mencoba menghilangkan rasa kesalku. “Dasar kuda jelek!! Awas kau, tunggu pembalasanku!!” Umpatku sepanjang jalan, biar saja orang mengiraku sudah gila.

 

Aku berjalan dengan penuh kekesalan. Sudah 10 menit aku berjalan dan menunggu taksi, tapi tak ada satupun yang lewat. Begitu pula dengan bus, aku tidak tahu rute bus mana yang ada di daerah ini yang bisa mengantarku samapi rumah. Walau cuaca malam ini cukup cerah, tapi di daerah sekitarku berjalan kaki sangatlah sepi. Berkali-kali aku menoleh ke kanan, ke kiri, dan ke belakang. Takut bila ada sesuatu atau seseorang yang berniat jahat padaku.

 

Aku mempercepat jalanku, walau kakiku mulai terasa pegal karena high heels 7 cm yang kugunakan. Aku terkejut ketika mendengar suara klakson dari sebuah motor sport berwarna putih yang berjalan pelan di disampingku. Awalnya aku mencoba tak mempedulikannya, aku terus saja menunduk dan melanjutkan jalanku. “Yoona..!!”

 

Satu panggilan membuatku menghentikan langkah. Aku menoleh pada sosok yang mengendarai motor sport itu. Motor itu juga berhenti, dan si empunya pun membuka helmya yang juga berwarna putih. Aku menyipitkan mataku, menunggu wajah yang muncul di balik helm itu. Syukurlah, ternyata dia bukan orang jahat.

 

“Baekhyun!!” Aku berteriak pelan dan bergerak mendekatinya. “Hei, Yoona. Apa yang kau lakukan sendirian di tempat seperti ini? Dimana mobilmu?” Baekhyun langsung menghujaniku dengan pertanyaannya.

 

Pletakk!!! Satu jitakan kulayangkan ke kepalanya. “Yak! Kau ini membuatku takut saja. Aku kira kau orang jahat. Aku tidak perah melihat motormu yang satu ini.” Baekhyun terlihat masih mengelus-elus kepalanya yang tadi kujitak. “kau ini suka sekali memukul kepalaku! Tentu saja kau tak pernah melihatnya, ini kan Motor Sport Ducati milikku yang paling baru. Kau belum menjawab pertanyaanku. Sedang apa kau disini?”

 

“Arrgghhh.. yang jelas aku sedang berjalan kaki dengan perasaan dongkol!! Aku ingin pulang, cepat carikan aku taksi!” Aku mendorong-dorong bahunya agar segera pergi menuruti permintaanku. “Untuk apa kau mencari taksi, aku kan bisa mengantarmu pulang dengan motor baruku.” Katanya sambil mengelus motor barunya yang kilat. “Kau gila! Aku kan sedang memakai gaun, tidak keren kan kalau naik motor. Kalau gaun ku melambai tertiup angin bagaimana??” protesku pada Baekhyun.

 

“Ah, itu sih bisa diatur. Ini kau pakai saja jaketku, setelah itu duduklah dengan posisi senyaman mungkin di belakangku. Jangan lupa pegangan ya…!” Ia memberikan jaketnya untuk kupakai dan aku segera mengikuti semua instruksinya. Akhirnya aku dapat tumpangan untuk pulang setelah sempat terlunta-lunta di jalanan. Lebih baik kikuk begini daripada aku tak juga sampai ke rumah.

Yoona POV End

 

Siwon POV

Emosiku sudah reda sekarang. Entah kenapa setiap kali aku berdebat dengan ayahku maka semua hal menjadi rumit. Mood ku yang berubah buruk lantas membuat kekacauan bagi lingkungan di sekitarku. Baru saja aku melakukannya lagi. Kali ini yang jadi korban adalah Yoona, tunanganku. Dia pasti menganggapku orang paling menyebalkan di dunia karena sikapku tadi. Bahkan lebih parahnya dia pasti marah dan itu akan membuatku lebih kacau nantinya.

 

Susah payah aku menata sikapku tiap berada di dekatnya. Aku tak ingin dinilainya sebagai pria yang dingin, arogan, atau menyebalkan. Tapi seakan semuanya gagal begitu saja. Bagiku sangat sulit mendapatkan perhatiannya. Gadis itu sudah membuatku berpikir puluhan kali setiap aku ingin melakukan sesuatu atau membuat keputusan. Kurasa aku memang sudah terpengaruh pada kehadirannya di hidupku. Sepertinya yang dikatakan Donghae kalau aku sudah jatuh cinta dan berubah karenanya adalah benar.

 

Bodoh sekali aku begitu mudahnya membiarkan Yoona pulang sendiri. Padahal jelas aku bertanggung jawab mengantarnya sampai ke rumah, karena orangtuanya tahu Yoona pergi bersamaku. Bagaimana bila keluarganya mendapati Yoona pulang sendirian tanpa diriku? Bahkan lebih buruknya bagaimana bila sesuatu yang buruk menimpanya dalam perjalanan pulang, apalagi ini sudah jam 9 malam.

 

Pikiran itu membuatku panik. Aku memutar balik mobilku, ke tempat dimana aku menurunkan Yoona secara paksa. Aku tak lagi menemukannya disana, aku masih mengemudikan mobilku pelan, mataku menyusuri sepanjang trotoar. Aku berharap masih menemukannya disana. Tak jauh dari posisi mobilku aku melihat Yoona sedang berbicara dengan seorang pemuda pengendara motor sport. Kelihatannya mereka akrab, dan aku sendiri juga tak mengenal siapa pria yang bersamanya.

 

Aku melihat Yoona memakai jaket pria itu, kemudian naik membonceng di belakangnya. Satu rasa tidak suka muncul di hatiku ketika melihat Yoona memeluk pria itu, walaupun tujuannya sebagai keamanan berkendara. Tetap saja akal pikiranku menolak semua itu.

 

Dari kejadian ini aku mulai menyadari bahwa ada begitu banyak saingan bagiku. Mereka semua telah mengantri panjang dibelakangku menanti kesempatan untuk mendekati Yoona. Sedikit saja aku membuat kesalahan, maka aku akan dengan mudah tersingkir dari persaingan itu. Padahal jelas aku memiliki posisi di atas angin di antara semua pesaingku. Sekarang yang harus kupikirkan adalah bagaimana meminta maaf pada Yoona, dan mengubah pandangannya terhadapku, agar ia melupakan semua sikap burukku padanya.

 

TBC

 

Selesai deh bagian lima… aku rasa di chapter ini ga ada yang menarik, semuanya garing #eh

Sekarang terserah gimana readers mau berkomentar, tetap ditunggu reaksi anda semuaaa…

Tinggalkan komentar

137 Komentar

  1. Kim Eun Kyo

     /  Februari 22, 2014

    Kasiaannn yoong eonni

    Balas
  2. tia risjat

     /  Maret 2, 2014

    cie..cie.. jadi ceritanya wonpa ga mau kehilangan yoona nich? Entah itu karena hasrat untu7k menang dalam persaingan atau apa, tapi yang jelas tetep ga mau yoona diambil orang kan? Ayo oppa berjuanglah untuk terus merebut hati yoona, hwaiting!!!

    Balas
  3. hanna lee

     /  Maret 13, 2014

    Sebenernya siwon oppa sama ayahnya ada masalah apaya? Kenapa emosi bgt gitu? Ah jd penasaran next chapt oenni daebak!hihi

    Balas
  4. ff ny keren bnget,, seru, pnasaran sma kelanjutannya.

    Balas
  5. Rhiiyoonah

     /  April 24, 2014

    Woonpa cemburu nich,,,yoona dket ama yg lain…trus gmna low ama donghae…wah,ribet jg ni..next ya,thor

    Balas
  6. Dahlia GaemGyu

     /  Juni 14, 2014

    wonppa bisa cemburu juga ya

    Balas
  7. rita octaria

     /  September 10, 2014

    hhhh siwon oppa mulai cemburu buta…. knpa hibungan siwon oppa dan appany g akur… lanjut onnie

    Balas
  8. Hubungan Yoonwon msh aja di selangi pertengkaran, kpn Yoona membuka hatinya ni sama wonppa. Tapi ni cerita seru jg ya, benar2 ngakak aku bacanya

    Balas
  9. Woon oppa tega bgt nurunin yoona dijln,…

    Balas
  10. Dwi Sivi Fatmawati

     /  November 5, 2014

    huu wonpa ini tega amat tah sma yoona eonni smpk ditinggal di tengah jalan pdahal kan cman nanya aja…

    Balas
  11. nina

     /  November 14, 2014

    yakkkkkk wonppa knpa kmu ninggalin yona djln sendrian,, tega bgt lu bg…

    Balas
  12. Siwon Oppa kau sungguh tega -_- Ohh Baekhyunie kau bangga sekali dengan Motor Sport Ducati terbarumu itu :3

    Balas
  13. Waaaah siapa lg tuh, banyak sekali ksatria kereen disekitar yoona, jd pengen hihihi…. (ngarep .com)

    Balas
  14. Novi

     /  Februari 11, 2015

    Kasian yoona d turunin d jalan…
    Next thor klnjutannya…
    Penasaran tingkat akut… ^^

    Balas
  15. My labila

     /  April 9, 2016

    kyaaaaa itukan baekhyun exo *nunjuk dari jauh* eh maksudnya sepupunya yoona.

    Balas
  16. Sebener’a siwon dan ayah nya ada masalah apasihh¿ kok emosi bgt smpe2 nyuruh yoona turun dri mobil dan ninggalin dia di tengah jalan..grrrrrrr disni siwon agak nyebelin😒

    Balas
  17. Nhiina

     /  Juni 18, 2016

    Sbenarnya apa masalah daddy dan Tn.Choi…
    Kenapa sikap mereka dingin ketika saling bertemu???
    Ais!!Daddy jahat sekali..
    Untung ada baekhyun kalo gga mommy mungkin akan nyasar :v

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: