[3S] Need Jealousy (Chapter 1/3)

Cover NJ

Author                                     : misskangen

Length                                     : 3 Shots

Genre                                      : Romance, Drama

Rating                                     : PG 17

Main Cast                                : Im Yoon Ah (SNSD), Choi Siwon (Super Junior)

Support Cast                           : Im Seulong (2AM), Tiffany Hwang (SNSD), Kim Jaejoong (JYJ), Kwon Yuri (SNSD)

Disclaimer                               : Cerita ini adalah fiktif dan murni karangan penulis. Bila terdapat kesamaan cerita dengan kehidupan nyata maka itu suatu kebetulan semata. A little inspirated by [MV] Joo – Bad Guy.

 

Annyeong…

Seseorang yang katanya mau hiatus malah munculin satu FF gaje…. Yah mau bagaimana lagi, kalau punya tangan yang selalu gatal pengen ngetik tiap ada ide yang seliweran di kepala. Ni cerita udah terpikir dari beberapa bulan yang lalu gegara lihat MV nya Joo – Bad Guy. Entah kenapa bisa terbayang menggantikan Chansung dengan uri Siwon Oppa. Hanya saja, aku masih enggan buat melanjutkan ketikan dan publish nya.

Kalau begitu silahkan readers baca dan semoga dapat menikmati ceritanya. Like and Comment juga ditunggu yaa…

 

NEED JEALOUSY : PART 1

 

 

Yoona POV

Selamat atas kehamilan anda, Nyonya Choi…

Saya harap anda bisa menjaga kehamilan anda dengan baik, hindari stres, dan konsumsilah makanan yang sehat.

 

Kata-kata dokter itu masih terus terngiang di telingaku. Harusnya kabar kehamilanku menjadi sesuatu yang membahagiakan untukku maupun suamiku. Tapi semua tidak begitu. Semua bertolak belakang dengan harapanku dan impianku. Yah.. hanya sebuah impian. Biasanya setiap wanita yang sudah menikah akan merasa sangat berbahagia ketika mendapati dirinya sedang mengandung buah cinta pernikahannya. Tapi aku justru semakin terlarut dalam dilema.

 

Bagaimana mungkin aku tak merasa risau bila aku harus menerima kenyataan aku sedang mengandung di saat pernikahanku berada di ujung tanduk. Padahal kehadiran seorang bayi telah lama dinanti. Dua tahun cukuplah bagiku dan suamiku untuk selalu bersabar menunggu kedatangan malaikat kecil di tengah keluarga kami. Namun saat kedatangannya kini pun terancam dengan perpisahan kedua orangtuanya, bahkan sebelum ia benar-benar hadir ke dunia.

 

Aku meremas surat keterangan dokter yang menyatakan kehamilanku. Aku mencoba mengumpulkan kekuatan dan kepercayaan diriku untuk melakukan apa yang memang harus kulakukan. Aku memasukkan gumpalan kertas itu ke dalam handbag yang kubawa. Mataku jauh menatap pada sebuah pintu bercat putih, pintu apartemen milik seorang wanita yang menjadi penyebab kehancuran rumah tanggaku. Mataku seolah mampu menembus pintu dan melihat apa yang ada dibaliknya. Aku seakan melihat dengan jelas bahwa suamiku, sedang berada di dalam sana, bercengkrama dengannya, dan bersenda gurau dengannya – dengan wanita itu.

 

Flashback

 

“Kalau kau bersikap seperti ini terus, selalu kalah dengan kecemburuanmu, maka aku pun tak bisa berbuat banyak. Lama kelamaan aku merasa lelah sekali menghadapimu, dirimu yang terlalu kekanakkan dan cemburuan. Memangnya kau tak bisa bersikap dewasa sedikit saja?” hardikannya terdengar begitu keras ditelingaku. Sekali lagi aku bertengkar dengannya karena aku kembali melakukan protes terhadap kedekatannya dengan seorang wanita. Aku memang mengenal wanita itu, Tiffany Hwang. Wanita itu adalah teman kuliah suamiku. Aku sudah tak menyukainya sejak awal. Tatapan matanya selalu menyiratkan kebencian dan ketidaksukaan terhadapku. Dulu aku sering mengeluh bila suamiku lebih memilih menghabiskan waktu dengan Tiffany daripada menemaniku yang notabene adalah kekasihnya. Dia selalu menganggap Tiffany adalah gadis yang menyenangkan karena memiliki selera dan hobby yang sama dengannya.

 

Aku sudah berusaha keras mencoba menghalau rasa tidak nyaman – terserah bila ingin menyebutnya kecemburuan – terlebih suamiku selalu mampu meyakinkanku bahwa aku adalah satu-satunya wanita yang dicintainya dan ada dalam hatinya. Aku selalu percaya dengan semua ucapannya. Walau terkadang Tiffany terang-terangan menyatakan ketertarikannya terhadap kekasihku, tentu saja hal itu tanpa sepengetahuan pria itu. Beberapa kali aku mencoba mengungkapkan kelicikan wanita itu, tapi Siwon – kekasihku – tak pernah mau mendengarkan kata-kataku. Siwon kembali menuduhku sebagai seorang pencemburu.

 

Wanita itu sempat menghilang setelah kelulusan kuliah. Aku merasa lega dengan kepergiannya yang membuatku begitu nyaman menjalani hidupku bersama Siwon. Aku dan Siwon memutuskan untuk menikah di usia muda setelah menyelesaikan kuliah. Kedua orang tuaku sempat menentang keras keinginanku. Mereka menganggap aku mengambil keputusan dengan terburu-buru dan masih labil dalam masa transisi kedewasaan. Berbeda dengan orang tua Siwon yang menyambut baik rencana pernikahan kami. Terlebih kedua orangtua Siwon sudah cukup lama mengenalku mulai dari awal masa pacaranku dengan Siwon, dan aku juga dekat dengan ibu Siwon. Akhirnya aku berhasil meyakinkan kedua orangtuaku dengan bantuan ibu Siwon, orangtuaku hanya berharap aku takkan menyesali keputusanku untuk cepat-cepat menikah.

 

Begitulah, pernikahanku berjalan cukup sempurna, memiliki suami yang penyayang dan keluarga mertua yang begitu perhatian membuatku merasa menjadi istri yang paling beruntung di dunia. Hanya satu kekurangan, yaitu anak. Walaupun menikah di usia yang terbilang muda, aku dan suamiku tak berniat menunda memiliki momongan. Tapi apa daya selama dua tahun pernikahan yang ku jalani selama itu pula kami masih harus bersabar untuk mendapatkannya.

 

Penantian itu harusnya tak menjadi beban, tapi kehadiran wanita itu setelah menghilang cukup lama kembali mengusikku. Entah kenapa aku merasa terancam dengan kedatangannya. Hal itu semakin diperburuk dengan intensitas pertemuan suamiku dengan wanita itu. Dengan dalih ada kerja sama bisnis, aku tak mampu melarang pertemuan itu. Aku tak mau menuduhnya berselingkuh, karena jauh di dalam hati aku masih memiliki kepercayaan terhadapnya. Namun, siapa yang akan tahan bila terus-terusan menjadi wanita nomor dua yang di dahulukan oleh suami sendiri. Suamiku bahkan lebih memilih menghabiskan waktu dengannya daripada merayakan ulang tahunku. Lama kelamaan aku tak bisa lagi menahan setiap kegundahan dalam hati. Kekesalan membawaku pada protes keras di setiap kesempatan aku bertemu dengannya. Hingga terucap kata-kata yang membuat duniaku seakan runtuh begitu saja.

 

“Aku sudah tidak tahan lagi dengan semua keluhanmu. Berapa kali aku mengatakan aku tidak ada hubungan khusus dengan Tiffany, dan dia juga bukan wanita licik seperti yang kau katakan. Aku muak denganmu yang selalu saja cemburu pada wanita yang dekat denganku. Kau sangat egois, hanya mementingkan dirimu dan kenyamananmu. Asal kau tahu, aku juga punya duniaku sendiri dan aku juga ingin larut di dalamnya tanpa ada seorangpun yang menggangguku, termasuk dirimu!” Kata-kata kasarnya sungguh mencabik-cabik hatiku. Mungkin aku memang egois, tapi itu semua adalah ungkapan kegundahan hati seorang istri yang takut kehilangan suaminya. Pembelaan diri yang kulontarkan pun seakan tak berguna, karena tak sedikitpun ia mau mendengarkanku.

 

“Aku rasa lebih baik kalau kita berpisah. Dengan begitu kita bisa saling introspeksi diri, dan tidak mengulangi kesalahan lagi di masa depan. Aku akan mempersiapkan perceraian kita, aku harap kau bisa menerimanya.” Aku hancur seketika, aku tak menyangka ia akan semudah itu mengucapkan kata ‘cerai’. Air mataku pun tak dapat lagi ku tahan.

 

“Semudah itukah kita berpisah? Tidak bisakah lagi kau mempertimbangkan keputusanmu?” Suaraku pelan, menahan sedu sedan tangisanku. Hatiku sakit sekali karena hanya mendapat gelengan pasrah darinya.

 

Flashback End

 

Aku masih berdiri di depan pintu bercat putih itu, aku mengumpulkan keberanian sehingga aku mampu masuk ke dalam sana. Aku ingin menuntut hakku sebagai seorang istri – mungkin calon mantan istri – dari suaminya yang masih saja betah mencari kedamaian dengan wanita lain.

 

Aku memencet bel dan mengetuk pintu dengan tak sabar, menunggu seseorang membuka pintunya. Tak berapa lama terdengar suara kunci yang dibuka, dan kenop pintu yang bergerak. Aku yakin jika yang berada dibalik pintu adalah Tiffany. Dengan sekuat tenaga aku menendang pintu itu sebelum sempat terbuka sempurna sehingga membuat seseorang yang berada dibelakangnya jatuh terpelanting ke lantai. Segera aku masuk melewati Tiffany yang masih terbaring di lantai, mendapati Siwon duduk di sofa. Sepertinya ia tidak kaget dengan kedatanganku menilik pandangannya yang begitu dingin menusukku.

 

Siwon bangkit dari duduknya, berjalan menuju tempat Tiffany terbaring, dan langsung membangunkannya. Pemandangan itu  begitu menjijikkan dan ingin sekali rasanya aku mencakar wajahnya dan menjambak rambutnya. Namun aku telah bertekad menahannya, aku punya tujuan datang kesini, yaitu memohon pada Siwon untuk mempertimbangkan keputusannya untuk yang terakhir kali. Ya… untuk yang terakhir kali, karena setelah ini semuanya akan jelas pada hasil akhirnya.

 

Ketika Siwon dan Tiffany berjalan melewatiku, dengan segera aku berlutut. Aku  tak menghiraukan lagi harga diriku yang mungkin akan tercabik-cabik tak berharga karena perbuatanku. Semua ini kulakukan demi rumah tanggaku dan masa depan anakku kelak. “Oppa…” panggilanku tak menuai jawaban, hanya pandangan mengejek Tiffany yang kudapat.

 

“Oppa, maafkan aku. Maafkan semua keegoisanku. Aku mohon kembalilah padaku. Aku mohon pikirkan lagi keputusanmu untuk berpisah. Oppa, jebal…” Aku sudah mempertaruhkan semuanya dengan menanggalkan harga diri. Aku tak peduli bahwa aku telah mempermalukan diriku sendiri. “apa yang kau lakukan? Kau pikir dengan berlutut dihadapanku maka aku akan membatalkan keputusanku. Aku sudah kehilangan dirimu yang tak lagi lembut dan bisa bersikap begitu manis. Yoona yang kulihat sekarang adalah Yoona yang kasar dan dingin. Kau bahkan berani menyakiti sesama wanita. Tidakkah kau menyadari itu?”

 

Jadi selama ini Siwon sudah menganggapku berubah seperti layaknya wanita yang dikatakannya, kasar dan dingin. Kurasa otaknya sudah dicuci oleh kata-kata Tiffany yang manis bagai madu padahal semuanya hanyalah racun mematikan. “kau salah besar bila menganggapku seperti itu. Aku begini karena takut kehilanganmu. Aku juga sangat mencintaimu. Oppa, lihatlah aku… dengarkanlah aku, aku harap kau tidak tuli karena semua perkataan Tiffany padamu.”

 

“Aku semakin yakin kalau kau sudah berubah. Aku juga mencintaimu, tapi rasa cinta itu seperti tidak ada artinya bila kau tidak mempercayaiku. Lebih baik kau pergi dari sini, dari pada muncul lagi masalah baru akibat kesabaranku yang sudah habis.” Hatiku remuk, hancur berkeping-keping. Dia tak lagi memandangku, dia bahkan lebih memilih wanita lain dibanding diriku, istrinya. Kalau begitu ini memang sudah berakhir. Aku putuskan untuk tak memberitahukannya tentang keadaanku. Biarlah aku sendiri yang akan menjadi orang tua, anakku tetap bisa hidup walau tanpa kehadiran ayahnya.

 

-0-

 

Dua bulan kemudian, ketukan palu perceraianku pun telah dibunyikan. Akhirnya kisah hidupku yang indah bagai dongeng telah berakhir dan berganti dengan lembaran baru yang hanya ada aku dan calon anakku di dalamnya. “Aku harap kau bisa menjalani hidupmu dengan baik. Sebisa mungkin hindari mencari masalah. Ingatlah bahwa rasa cinta itu masih ada untukmu dalam hatiku, tapi dengan terpaksa harus dihilangkan dan dilupakan sejalan dengan kita yang tak lagi bersama.”

 

Aku hanya memandanginya dengan tatapan hampa. Kata-kata itu harusnya bisa membuat luka yang lebih dalam, tapi hatiku sudah seperti mati rasa. Aku tak lagi mencoba mempedulikan apa yang dikatakannya. Aku sudah menganggap akhir cerita ini sudah saatnya tutup buku, cukup sampai disini. “Kau benar, aku mengingatnya untuk melupakannya. Selamat untuk kehidupan kita yang baru. Aku harap tak seorangpun dari kita yang akan menyesalinya.” Nada dingin jelas terdengar dari kata-kataku. Aku berlalu meninggalkannya, meninggalkan semua tentangnya termasuk rasa cintaku padanya. Hanya satu yang tak bisa kuhapus, benihnya dalam rahimku. Aku sangat menyayanginya, karena ia adalah anakku. Biarlah nanti ia hidup tanpa mengenal ayahnya, itu sudah cukup untukku.

 

Saat aku mengepak semua barang milikku dari rumah Siwon, aku mendapati ibu Siwon memandangku sendu, dengan air mata di pipinya. Dia memelukku, mengelus punggungku seakan berat melepaskanku. “Kau yakin akan pergi? Lalu siapa yang akan menemaniku nanti? siapa yang menemaniku belanja, memasak, bahkan bergosip. Aku pasti akan sangat kehilanganmu, Yoona-yah.”

 

“Eomoni, mungkin jodoh kita hanya sampai disini. Aku harap Eomoni tetap kuat dan selalu bahagia. Kelak pendamping Siwon Oppa yang baru akan bisa menggantikanku menemani belanja, memasak, dan bergosip.” Aku mencoba memasang wajah yang tersenyum di depan mantan ibu mertuaku. “Tidak, aku hanya ingin kau yang jadi menantuku. Bukan yang lainnya. Kau jangan pernah mencoba menyembunyikan rasa sakit itu. Aku tahu kau sangat terluka dengan semua ini. Siwon sungguh keterlaluan dan kau juga begitu saja menuruti kekeraskepalaannya.”

“Eomoni… janganlah larut dalam kesedihan. Berjanjilah Eomoni akan selalu bahagia, ne..” aku memegang tangannya untuk terakhir kali. “Kau juga harus hidup dengan baik, Yoona-yah,” tangannya membelai rambutku begitu lembut, memperlihatkan ketulusan dan kasih sayang. Aku memutuskan untuk pergi menjauh dari semua kenanganku bersama Siwon. Aku akan memulai hidup yang baru ditempat yang akan menghindarkanku untuk bertemu dengannya. Aku akan mencoba menata hidupku lagi dan berbahagia dengannya.

 

Yoona POV End

-0-

5 Tahun Kemudian…..

Seorang wanita muda terlihat sedang menangis di depan pintu sebuah rumah yang tampak sangat besar dan mewah. Tak berapa lama muncul seorang wanita paruh baya, menatap wanita muda itu dengan kerutan di keningnya. “Siapa kau? Mengapa kau menangis di depan rumahku?” Tanya wanita paruh baya itu. Melihat seseorang menyapanya, wanita muda itu langsung menggenggam tangan si wanita paruh baya. “Ahjumma, aku mohon restui hubunganku dengan Siwon Oppa. Aku sangat menyukai Siwon Oppa, aku juga mencintainya. Ahjumma, aku mohon yakinkan Siwon Oppa untuk terus bersamaku.”

 

“Hei, aku bahkan tidak kenal siapa kau, seenaknya saja kau memintaku merestui hubunganmu dengan putraku. Apa sebenarnya yang kau inginkan, eoh?” hardik ibu Siwon yang merasa bingung sekaligus kesal dengan wanita tersebut. “Namaku Shin Ji Min, aku adalah kekasih Siwon Oppa yang baru saja diputuskannya dua hari yang lalu. Aku memohon pada Ahjumma agar menasehati Siwon Oppa, katakan padanya bahwa aku sangat mencintainya.”

 

Siwon yang muncul dari dalam rumah langsung menarik lengan wanita itu, menjauhkannya dari sang ibu. “apa yang kau lakukan disini? Aku rasa tidak ada apa-apa lagi antara kau dan aku.” Siwon memandang nanar wanita itu, membuat nyalinya ciut. “Oppa, aku tidak mau berpisah denganmu. Aku tidak mau…” wanita itu menangis, tapi ekspresi keras di wajah Siwon tak juga berubah. “Kau itu bukan tipeku, seorang wanita penggoda yang begitu gampang terpesona pada pria-pria tampan. Kau sama sekali tidak masuk kriteria. Jadi sebaiknya kau segera pergi dari hadapanku. Kau tidak akan pernah mendapatkan apa yang kau inginkan!” Siwon segera menarik ibunya masuk ke dalam rumah dan menutup pintu rumah dengan keras.

 

“Kau semakin lama semakin membuatku pusing. Apa kau tidak bosan sering bergonta-ganti pasangan. Ini sudah lima tahun sejak kau bercerai dengan Yoona, kau bahkan tak pernah berniat serius dengan semua wanita yang kau kencani. Eomma benar-benar tidak habis pikir!” ibu Siwon begitu saja mengeluarkan semua keluhannya. Wanita paruh baya itu berlalu meninggalkan Siwon begitu saja yang masih berdiri terpaku, tanpa mendengar satu katapun keluar dari mulut putra tunggalnya itu.

 

Siwon POV

 

Sudah selayaknya Eomma bersikap begitu skeptis tiap kali ada wanita yang mengaku patah hati karena perbuatanku. Aku memang dalang di balik semua kekesalan Eomma yang beberapa kali didatangi oleh wanita-wanita yang tak dikenalnya dan meminta Eomma untuk memberi restu hubungan mereka denganku. Tentu saja Eomma menjadi begitu frustasi, aku tak sekalipun bersikap manis pada tiap wanita yang datang dengan tujuan yang sama.

 

Begitulah, setelah resmi bercerai 5 tahun yang lalu kini duniaku terasa kosong. Seperti tidak ada satu hal pun yang menjadi tujuanku dalam melakukan sesuatu. Semua berjalan begitu saja, tidak ada kesan khusus yang akan membuat hatiku merasa senang atau bahagia. Hidupku seakan dibalik dari kondisi normalnya, membuatku ingin kembali pada hidupku yang dulu jauh sebelum perceraianku dengan Yoona.

 

Yoona, dia adalah sosok wanita yang begitu lekat dengan hidupku. Begitu lama berpacaran hingga memutuskan untuk menikah, hanya ada dirinya dalam hatiku. Tak pernah terpikir bagiku untuk membagi cinta dengan wanita lain. Sampai suatu ketika Yoona mengeluh dengan waktuku yang sering tersita akibat kebersamaanku dengan seorang wanita.

 

Tiffany, dia adalah seorang teman yang kukenal sejak duduk di bangku kuliah. Menurutku ia adalah wanita yang fleksibel dan sangat menyenangkan dijadikan teman, bahkan aku sering mengungkapkan keluh kesahku padanya. Tapi semua itu tak kusangka justru menjadi awal kerenggangan hubunganku dengan Yoona. Seringkali terjadi kesalahpahaman antara aku dan Yoona akibat keseringanku bertemu dengan Tiffany. Beberapa kali ia memergokiku dalam keadaan yang mengecewakan dan sulit dibantah bila ia tak cemburu walau sesungguhnya hal itu memang murni salah paham. Aku selalu berusaha untuk meyakinkan Yoona bahwa dirinyalah yang menjadi satu-satunya wanita yang kucinta, biasanya aku merasa lega karena ia selalu mempercayaiku.

 

Kesalahan besar telah kulakukan ketika aku selalu menutup telinga saat Yoona kembali mengeluhkan kedekatanku dengan Tiffany. Logikaku selalu saja menolak keinginannya agar aku menjauhi Tiffany. Aku selalu menganggap bahwa Yoona sudah terbakar api cemburu hingga sulit mengendalikan emosinya sendiri. Akupun menjadi begitu tolol saat tak mampu lagi bertahan atas semua sikap kritisnya, hingga memutuskan untuk berpisah dengannya. Hal itu yang kini sangat kusesali karena begitu mudahnya muncul niat untuk menyingkirkan dirinya dari hidupku dan mempengaruhi jalan pikiranku.

 

Setelah perceraian itu, Yoona menghilang dari hidupku dan dari hadapanku. Tak pernah lagi aku melihatnya, bahkan untuk sekedar mengetahui kabarnya terasa begitu sulit. Tiffany juga seketika berubah setelah perceraian itu. Yang membuatku semakin kesal dan ingin membencinya ketika dengan entengnya Tiffany mengatakan bahwa ia menyukaiku dan telah lama menunggu kesempatan untuk bersama denganku. Aku bisa menyimpulkan bahwa selama ini memang Tiffany telah berkonspirasi, berusaha menjauhkan aku dari Yoona hingga aku berpisah dengannya. Aku begitu marah dan tak kuasa menghalau kebencianku terhadapnya dan terhadap diriku sendiri. Seandainya aku mau mendengarkan kata-kata Yoona saat ia mengatakan bahwa Tiffany adalah wanita yang licik. Dan sekarang kebodohan dan ketololanku telah membuatku sangat jauh dari Yoona. Aku telah kehilangannya, aku kehilangan separuh hatiku, dan aku juga sangat merindukannya kembali di sisiku.

 

Beberapa tahun ini aku mencari keberadaan Yoona yang entah dimana rimbanya. Yoona menghilang seperti ditelan bumi. Aku beberapa kali berusaha mengorek informasi dari kakak tirinya, Yuri. Tapi Yuri kekeuh mengatakan tidak tahu dimana keberadaan Yoona. Yuri tampak masih menyimpan rasa kesal padaku karena telah menyia-nyiakan adiknya. Informasi lain yang kudapat dari kekasih Yuri sekaligus sahabatku, Jong Woon, bahwa Yoona pergi bersama ayah kandungnya ke luar negeri, tapi tidak jelas negara mana yang menjadi tujuannya.

 

Aku sadar peluang untukku bertemu Yoona sangat kecil, terlebih aku tak tahu harus mengejarnya kemana. Aku hanya bisa berharap suatu saat aku bertemu dengannya. Aku ingin meminta maaf padanya dan kalau bisa aku juga ingin memperbaiki hubunganku dengannya.

-0-

 

“kau tahu kalau mereka sedang sibuk membicarakan seorang desainer cantik yang baru saja membuka butiknya tak jauh dari kantor pusat HDS?” Kim Jaejoong berbisik padaku ketika baru saja menyelesaikan meeting. Jaejoong adalah klien sekaligus rekan kerja yang mulai akrab denganku setelah beberapa bulan belakangan menjalin kerja sama. Dia tahu bahwa aku seorang duda, dan dia juga tahu beberapa kali aku mengencani wanita yang berbeda lantas mencampakkan mereka begitu saja. “Kau harus coba menemuinya, siapa tahu dia adalah type-mu, yah… setidaknya yang mendekati karakter mantan istrimu.” Aku memutar bola mata mendengar sindirannya. Jaejoong tahu persis kalau aku masih begitu terobsesi dengan mantan istriku, hingga tak ada satupun wanita yang menarik bagiku untuk mengisi kekosongan dalam hatiku.

 

“Baiklah… aku akan lihat dulu seperti apa rupanya..” seringaiku sambil bercanda. “Ch, kau ini harus gerak cepat. Aku dengar wanita itu seorang janda, walaupun begitu banyak pria yang tertarik padanya. Selain cantik, katanya juga seksi.” Aku tergelak mendengar celotehan Jaejoong. “Lantas, mengapa tak kau saja yang mendekatinya? Apa karena ia janda hingga kau mundur sebelum berperang?” Jaejoong terlihat sedang berpikir dan kemudian tersenyum. “Bukan begitu. Aku hanya ingin melihatmu dulu, apa kau tertarik dengannya atau tidak. Jika kau memang tak tertarik, maka aku akan maju mendekatinya.” Dasar Jaejoong, bilang saja ia tidak percaya diri bersaing denganku.

 

Aku menuruti Jaejoong untuk datang ke butik itu, sebuah butik yang baru saja berdiri. Ukurannya cukup besar dan terkesan mewah. Dari dinding-dinding kaca yang tembus pandang aku melihat beberapa wanita begitu antusias memilih koleksi pakaian yang ada disana. Aku dan Jaejoong masih berdiri sekitar lima puluh meter dari butik itu, saat sebuah mobil sedan hitam memasuki lokasi parkir di depan butik. Jaejoong menunjuk pada seorang wanita yang baru keluar dari mobil itu, seorang wanita dengan postur tubuh yang proporsional dan rambut panjang berwarna cokelat. “Lihatlah, wanita itu yang kumaksud. Dia cantik kan.” Mataku langsung terbelalak, tak percaya bahwa takdir telah mempertemukanku kembali dengannya. Wanita itu, si Janda cantik yang jadi perhatian pria adalah Im Yoona. “kau yakin dia orangnya?” aku mencoba memastikan pada jaejoong. “Tentu saja. Kenapa, kau tertarik padanya?” tanya Jaejoong penasaran. “Ya Tuhan.. Jaejoong, wanita itu adalah Yoona, mantan istriku!” seruku padanya. “Apa? Kau serius? Kalau begitu kebetulan sekali kau sedang mencarinya. Ckckck, pantas saja kau tak tertarik wanita lain, bila mantan istrimu secantik itu.”

-0-

Dengan tidak sabar aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam butik, mencari sosok seorang wanita yang telah lama kucari keberadaannya. Jaejoong sengaja membiarkanku pergi sendirian, katanya ia tak ingin mengganggu acara temu kangen antara aku dan Yoona. Mataku mengitari setiap sudut ruangan butik itu. Ruangan itu tertata begitu rapi dan sedap dipandang, dan ada begitu banyak model pakaian yang dipajang disana. Aku masih ingat bahwa Yoona mempunyai impian menjadi seorang desainer yang punya butik sendiri. Jadi selama ini ia pergi ke suatu tempat untuk mengembangkan bakatnya di bidang desain. Kalau begitu mungkin selama ini dia berada di Paris atau Milan, kota yang terkenal dengan fashionnya. Yoona pernah mengatakan suatu saat ia ingin mendatangi kota-kota itu. Bodoh sekali aku, selama ini kenapa kedua kota itu dan pernah muncul di kepalaku. Dengan begitu aku pasti bisa menemukan Yoona lebih cepat.

 

Akhirnya aku menemukan Yoona duduk di sebuah bangku tunggu, sedang berbicara dengan seorang wanita – kurasa wanita itu adalah karyawan butik melihat seragam yang dikenakannya. Yoona terlihat tersenyum, sepertinya ada pembicaraan akrab dengan karyawannya. Aku merindukan senyuman itu, senyuman yang sudah 5 tahun tidak pernah kulihat lagi. Senyuman itu selalu tampak jelas menggambarkan karakter Yoona yang sangat ramah dan lembut. Aku merindukan semuanya, semua tentang dirinya.

 

“ehemmm… Lama tidak bertemu, apa kabar Yoona-yah,” Aku nekad mendekatinya dan menginterupsi pembicaraannya. Yoona mengalihkan pandangannya padaku, ekspresi terkejutan tergambar jelas di wajahnya. Aku menunggunya bereaksi, Yoona masih terlihat sedang menata emosinya bahkan mungkin ia masih shock melihat kemunculanku dihadapannya. Sepertinya ia juga tak menyadari bahwa karyawan yang tadi berbicara dengannya telah beranjak pergi dari hadapannya.

 

“Siwon Oppa… apa kabar?” Yoona membungkukkan badannya sedikit, mencoba bersikap formal aku pikir adalah hal paling tepat untuk saat ini. “Aku baik.” Senyumku terkembang begitu saja. Saat ini yang sedang kucoba lakukan adalah membuang situasi kaku antara  aku dan  Yoona membungkukkan badannya sedikit, mencoba bersikap formal aku pikir adalah hal paling tepat untuk saat ini. “Aku baik.” Senyumku terkembang begitu saja. Saat ini yang sedang kucoba lakukan adalah membuang situasi kaku antara  aku dan Yoona. “Ne, apa yang kau lakukan disini? Apa kau ingin melihat koleksi busana disini?” tanyanya masih begitu kikuk. “Tidak, aku datang hanya untuk menyapamu. Lima tahun tak bertemu sepertinya banyak yang telah berubah..” aku tak sanggup melanjutkan kata-kataku, karena aku memang sedang diliputi rasa takut. Aku takut mendengar banyak hal darinya, mungkin saja ia sudah menikah lagi dan telah mampu memusnahkan diriku dari hatinya.

 

“Tentu saja. Yang lalu biarkanlah berlalu. Siapapun seharusnya tak usah berharap lagi pada kenangan masa lalunya, because life must go on. Aku benar kan?” Aku tersenyum, mengangguk tanpa ketulusan. “Ya, kau benar.” Yoona memang benar, akulah orang yang tak pernah bisa melanjutkan hidupku tanpa bayangan masa lalu. Masa-masa indah yang kujalani bersama dirinya.

 

“Nona Im, kakak anda sudah datang dan menunggu anda di lobby” suasana tegang itu berakhir ketika salah seorang karyawan butik memberi laporan kedatangan seseorang pada Yoona. “maaf Oppa, aku sedang sibuk. Semoga lain kali kita bisa mengobrol lagi.” Yoona segera pamit meninggalkanku yang masih berdiri, mencoba memahami situasi. Aku yakin Yoona sengaja secepatnya menghindariku karena suasana hatinya pasti sulit menerima kehadiranku yang sangat tiba-tiba. Tapi bagiku ini bukan suatu hal tiba-tiba, karena aku telah lama menunggu momen pertemuanku dengan Yoona kembali.

 

Saat aku berjalan menuju pintu keluar, tak sengaja aku melihat Yoona yang terburu-buru mengajak Yuri – kakak tirinya – masuk ke dalam sebuah ruangan. Aku juga melihat seorang anak perempuan kecil yang dituntun oleh Yuri. Aku sama sekali tidak pernah melihat anak itu. Walau hanya sekilas melihatnya, aku tahu bahwa gadis kecil itu memiliki wajah yang cantik. Gadis kecil itu terlihat manis dengan gaun berwarna baby pink yang dikenakannya. Siapa dia? Aku yakin walaupun dia datang bersama Yuri, tapi dia bukan anak Yuri. Jong Woon dan Yuri belum menikah, dan aku tak pernah tahu Yuri hamil hingga mempunyai anak.

 

“Suatu kejutan kau ada disini, Siwon-ssi.” Aku cukup kaget dengan satu tepukan di bahuku. Aku menoleh, mendapati seorang pria dan wanita berdiri di hadapanku. “Oh, Seulong-ssi. Aku tak menyangka bertemu denganmu disini.” Aku mengulurkan tanganku padanya, dan ia menyambutnya. Seulong adalah kakak kandung Yoona, sekaligus temanku semasa SMA. Aku memang tidak begitu akrab dengannya walau kami sempat berhubungan ipar. Seulong adalah salah satu orang yang menolak pernikahanku dengan Yoona, selain ayah dan ibu kandung Yoona, serta ayah tiri Yoona. Tentunya ia beranggapan bahwa saat itu adiknya masih terlalu muda untuk kunikahi. Aku jarang bertemu dengan Seulong, karena ia lebih memilih tinggal di luar negeri. Kemungkinan besar selama ini juga Yoona tinggal bersamanya.

 

“Perkenalkan ini istriku, Nam Gyuri dan putraku Im Soo Hae,” Aku ingat dengan istrinya, dulunya dia adalah seorang pramugari. Aku menghadiri pesta pernikahan mereka setahun sebelum pernikahanku sendiri. “Annyeong, Choi Siwon imnida…” Aku memperkenalkan diri pada anak dan istrinya. Entah kenapa tiba-tiba aku merasa iri dengannya. Seandainya aku masih bersama Yoona mungkin aku juga akan seperti dirinya. Mempunyai keluarga yang lengkap. “Wah.. anakmu sudah besar ya. Berapa usianya?”

 

“Ne.. minggu depan ulang tahunnya yang ke tujuh.” Aku benar-benar iri padanya. Dia memiliki seorang putra yang hampir berusia tujuh tahun. Ia mampu mempertahankan pernikahannya, sedangkan aku… karena guncangan sedikit saja fondasi rumah tanggaku langsung roboh. Ini semua mungkin karena pernikahan di usia muda. Tapi bukankah Seulong menikah di usia yang sama denganku, lantas mengapa aku tidak bisa seperti dirinya?

 

“Abeoji…” aku mendengar teriakan seorang anak perempuan yang berlari menghampiri Seulong dan langsung memeluknya. Anak itu adalah gadis kecil yang kulihat bersama Yuri dan Yoona tadi. “Oh Soo Jin-ah, where were you going? We’re looking for you.” Aku mengalihkan tatapanku pada gadis kecil itu, ia tersenyum memperlihatkan lesung pipinya. Ia terlihat sangat cantik, dan wajahnya mengingatkanku pada Yoona. “Mianhae Abeoji, I was playing with Aunt just now.

 

“kau juga punya anak perempuan yang sangat cantik Seulong-ssi. Tapi aku rasa dia lebih mirip Yoona.” Aku tidak begitu memperhatikan ekspresi wajah Seulong saat itu karena aku terlalu sibuk mengagumi kecantikan gadis kecil yang berdiri di dekatku. “Benarkah? Kau jeli sekali menilai kemiripan wajah Soo Jin dengan Yoona, Siwon-ssi. Karena aku juga beranggapan seperti itu.” Aku mendongak, menatapan Seulong. Aku melihatnya tersenyum. Hanya saja senyuman itu terasa asing bagiku. Aku merasa Seulong memiliki maksud lain dari kata-katanya, bahkan dari tampilan senyumannya. Namun, aku tidak tahu apa itu….

 

To be Continue…

 

Segitu dulu ya untuk bagian satu… gimana ceritanya?? Please jangan dibandingkan dengan Intrigue ya, ceritanya kan udah beda. I need comment to continue the story…

Semoga reader yang menyukai cerita ini bisa bersabar menunggu kelanjutannya. Karena proses pengetikan mungkin terhalang jadwal hiatus wkwkwkwk….

 

Tinggalkan komentar

139 Komentar

  1. liza faiza

     /  Agustus 22, 2013

    aigoo tiffany jdi pngganggu lg…knapa yoonwon mesti cerai apalg wktu thu pas saat yoona hmil…..
    But skrang mreka ktemu lg sbg janda and duda….ya ampun anax kcil tdi anax nya yoonwon yaaa…..lox iya knapa manggil oppa nya yoona abeoji???….
    Mw lanjut ke part 2,…

    Balas
  2. liza faiza

     /  Agustus 22, 2013

    aigoo tiffany jdi pngganggu lg…knapa yoonwon mesti cerai apalg wktu thu pas saat yoona hmil…..wonppa nya juga agx nyebelin masa lbih mlih menghbis kan wktu breng fany drpada ma yoona….
    Dan skrang kmu mlah galau cerai ama yoona….
    But skrang mreka ktemu lg sbg janda and duda….ya ampun anax kcil tdi anax nya yoonwon yaaa…..lox iya knapa manggil oppa nya yoona abeoji???….
    Mw lanjut ke part 2,…

    Balas
  3. mutiarananda

     /  September 13, 2013

    ih udh lama ya ff ini hahahaha padahal udh pernah bacaaa tp tetep keren!

    Balas
  4. ckckck cma seumur jagung merridnya
    ayo balikan lg..

    keep.create author

    next next
    (kejar tayang baca smua story dari awal 2013)

    hehehe

    Balas
  5. aat yoonwon

     /  November 1, 2013

    Jadi sebal ne di awal ceritanya gara2 wonppa milih bercerai dengan yoong apalagi masalahnya karena tiffany, tapi akhirnya wonppa menyesal dengan dengan keputusannya

    Balas
  6. aat yoonwon

     /  November 1, 2013

    Jadi sebal ne di awal ceritanya gara2 wonppa milih bercerai dengan yoong apalagi masalahnya karena tiffany, tapi akhirnya wonppa menyesal dengan dengan keputusannya. Tu balasannya

    Balas
  7. aprilyoonwon

     /  Desember 17, 2013

    Wonpa tga bnget knnpa gk bs prcya sma yoonie.. skrng nysel kan…
    Daebakk jdi pnsran crit’a kya gmna..

    Balas
  8. Waaahh ceritanya sangat menarik! Jadi penasaran sama kelanjutan ceritanya?
    Saya baru disini,saya boleh minta PW chapte 2 dan 3 nya ya eonni,please……

    Balas
  9. rayoongsimba

     /  Maret 20, 2014

    Hahaha good chingu maaf sebelumnya soalnya baru sempet kirim comentnya
    Semangat chingu buat ff yoonwonnya

    Balas
  10. okty

     /  April 11, 2014

    Ah agak sedikit terlambat menemukan ff daebak ini, aq suka jalan ceritanya, yah setidaknya saya tau apa yg yoona rasakan trhadap kedekatan fany sama siwon hehehehe #curcol. Aq pamit k chapter selanjutnya ne!!! Hhehehehe

    Balas
  11. any

     /  Mei 16, 2014

    Aku seneng banget kalo cerita yoonwon pake orang ke 3 nya tiffany. Feelnya pasti dapet. Asal jgn endingnya sama tiffany aja. Bagaimanapun, seorang istri pasti punya feeling kalo ada perempuan yg berniat merebut suaminya. Tp suami sering2nya g percaya kalo dibilangin jgn deket2. Mungkin karna si suami merasa g punya rasa sama tuh wanita jd menganggap si istri berlebihan. Nah, disini authornya pinter nuangin dalam cerita bikin yg baca sampe nyesek.

    Balas
  12. apa so jin itu anak siwon sama yoona ya ??
    moga2 iya ..

    Balas
  13. Jahat bgt Tiffany gak nyangka dia punya niat busuk sama si won, kenapa si won begitu bodohnya mempercayai tmnnya itu, gara2 dia tdk mendengarkan kata2 Yoona akhirnya mereka berpisah. Wonppa terlalu egois. Dan akhirnya menyesali dirinya sendiri, tpi stlh 5 thn kemudian akhirnya mereka dipertemukan kembali. Lantas apakah mereka akan bersatu lg, tpi sayangnya blom tau bahwa dia jg mempunyai anak dari Yoona
    ceritanya gregetan bgt…

    Balas
  14. wiwin

     /  September 21, 2014

    O o kren,gra”cemburu.

    Balas
  15. azzryia noer hayyati

     /  Januari 4, 2015

    Yaaaaa aq ketinggalan br baca ff ni skrg…. Jgn2 soo jin itu anaknya yoona and siwon ya????? Lanjuuuttt

    Balas
  16. mia rachma

     /  Januari 9, 2015

    yahhhhh nyesel kannn wonpa cerai ma yoona? malahhh jadi playboy sekarag.

    Balas
  17. annyeong
    jalan ceritanya bagus, tapi kenapa siwon oppa tidak percaya sama istrinya sendiri. padahal yoona eonni begitu sayang, sampai berlutut untuk mempertahankan rumah tangganya. sedih bacanya sampai ingin nangis. tak sabar buat baca kelanjutannya

    Balas
  18. si tyaak

     /  Desember 8, 2015

    Ijin baca .seru bgt ceritanya

    Balas
  19. Aigoo siwon oppa kok jahat banget sih , ya jelas lah feeling yoona lebih jauh tau , kasian yoona😦 itu anakmuu siwon oppa hahaha

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: