[OS] Nothing To Lose (Intrigue Siwon’s Side)

nothing to lose

Author                                     : misskangen

Length                                     : One Shot

Genre                                      : Romance, Drama

Rating                                     : PG 17

Main Cast                                : Choi Siwon (Super Junior), Im Yoon Ah (SNSD)

Support Cast                           : Im Seulong (2AM), Shim Changmin (TVXQ), Park Jung Soo (Super Junior), Kim Taeyeon (SNSD)

Disclaimer                               : Cerita ini adalah fiktif dan murni karangan penulis. Bila terdapat kesamaan cerita dengan kehidupan nyata maka itu suatu kebetulan semata.

 

Annyeong….

Author gaje dan suka bikin kesal datang lagi….

Setelah dihujani komentar yang penuh permintaan sekuel dari Intrigue, akhirnya aku baru bisa publish side story nya dulu. Seluruh plot diambil dari sudut pandang Siwon alias Siwon POV. Ceritanya ga beda jauh sama Intrigue, hanya saja beberapa scene akan membuka rahasia bagaimana seorang Choi Siwon bisa menyukai Im Yoona dan bagaimana penilaian Siwon terhadap Yoona.

Langsung ajahhh check it out and happy reading all….

 

NOTHING TO LOSE

 

Kata orang hidup itu penuh warna, maka menurutku hidup memang penuh warna dan beragam warna itu bisa kau dapatkan ketika kau memiliki banyak hal termasuk uang dan kekuasaan. Banyak orang yang mengatakan uang bukanlah segalanya, tapi tak sedikit pula orang yang tak bisa menampik bahwa uang dan kekuasaan adalah hal yang paling dicari dan ingin mereka miliki. Adapula orang yang mengatakan bahwa meskipun kau memiliki segalanya tapi bila kau tak memiliki satu rasa yang disebut ‘cinta’ maka semua akan terasa hampa. Aku juga tak bisa menyalahkan para pujangga cinta yang dengan naifnya mengeluarkan satu fatwa bahwa cinta lebih dari segalanya, bahkan kau juga tak bisa membandingkannya dengan harta kekayaan.

 


Kata orang hidup itu adalah pilihan, maka menurutku hidup memang sebagaimana kau memilih untuk menjalankannya. Terserah padamu apa yang akan kau lakukan pada hidupmu sehingga kau merasa bahwa hidupmu sudah seperti apa yang kau mau. Lantas bagaimana bila kau terlahir dengan segala keterbatasan yang ada, apakah harapan menjadi satu-satunya harta yang bisa kau andalkan? Lantas ketika justru kau terlahir dengan segala kelebihan, apakah kau akan menggunakan semuanya hanya untuk kesenanganmu tanpa memikirkan baik-buruknya untuk dirimu sendiri?

 

Aku tak bisa – belum bisa menjawabnya. Aku adalah pria yang terlahir dalam segala kelebihan. Apapun yang aku miliki jelas membuat orang-orang disekitarku merasa termarjinalisai walau aku sama sekali tak berniat melakukan itu pada mereka. Harta, kekuasaan, wajah yang tampan, bahkan secara fisik aku dianggap begitu sempurna oleh mereka. Karena anggapan sebagian besar orang yang aku temui hampir sama, maka akupun harus beradaptasi dengan itu semua. Sebagai hasil penyesuaian diri, muncullah seorang pria dengan segenap kecongkakkan dalam dirinya yang terkadang membuat siapapun akan merasa terintimidasi dengan kehadirannya. Pria itu adalah aku, Choi Siwon.

 

Aku terlahir ditengah kemewahan dan kejayaan Hyundai Group, salah satu perusahaan terbesar di Korea yang membawahi beberapa usaha komersil, termasuk hotel, resort, dan bla bla bla. Aku sendiri sudah cukup ruwet untuk mengingat semua itu. Sebagai anak tunggal, mau tak mau aku harus mewarisi dan melanjutkan semuanya, semua hal yang dimiliki ayahku selaku pemilik Hyundai Group. Sejak kecil aku sudah disodori begitu banyak hal tentang perusahaan termasuk pengenalan terhadap berbagai aset yang dimiliki oleh ayah. Aku menikmati semua fasilitas yang diberikan ayah, dan aku memang orang yang tidak pernah berhadapan dengan yang namanya ‘kesulitan materi’. Semuanya itu membuatku terbiasa sehingga aku tumbuh dengan karakter paling buruk yang bisa dikatakan orang awam, apalagi kalau bukan arogan.

 

Aku menikmati semua yang kumiliki, termasuk untuk bersenang-senang. Aku suka menghadiri pesta-pesta, terkadang aku yang akan membuatnya kapanpun aku inginkan. Pesta itu adalah pesta yang bergelimang kemewahan karena semua tamu yang datang berasal dari kalangan elite. Pria dan wanita semua sama saja, mereka hanya akan membicarakan bagaimana mereka mendapatkan kesenangan dari berbagai hal seperti bisnis, uang, sex, dan barang-barang mewah berlabel terkenal. Apalagi untuk kalangan wanita, mereka itu punya karakter yang nyaris sama. Sama-sama menyukai segala bentuk keindahan fisik yang dimiliki, termasuk seberapa banyak mereka bisa menggaet pria-pria yang levelnya di atas mereka.

 

Aku adalah salah satu pria yang suka bermain-main dengan wanita cantik. Semua wanita yang kukenal dari berbagai pesta yang kuhadiri tak pernah menyembunyikan ketertarikan mereka padaku. Aku sangat menyadari hal itu, dan aku memanfaatkannya untuk mendapatkan kepuasaan tersendiri. Biasanya aku mengencani wanita-wanita itu paling lama dua minggu, setelah aku merasa bosan maka aku dengan mudahnya mencampakkan mereka sesuka hati. Tentu saja tidak ada wanita yang mau diperlakukan begitu gampangnya oleh seorang pria, tapi aku tak pernah mau ambil pusing dengan keluhan para wanita yang telah menjadi ‘mantan’ku itu. Aku tak peduli apa yang akan terjadi selanjutnya pada mereka semua, itu adalah urusan mereka sendiri.

 

Jika ada yang bertanya apa saja yang kulakukan selama berkencan dengan mereka, maka aku akan menjawab semuanya sama seperti yang dilakukan oleh pasangan lainnya. Aku merayu, menggoda, bahkan melakukan skinship termasuk berciuman. Tapi jangan harap aku akan mengajak mereka tidur denganku, karena aku tidak akan pernah mengizinkan mereka menyentuh ranjangku bahkan menginjakkan kaki di dalam kamarku. Orang boleh menyebutku brengsek atau apapun itu, tapi untuk urusan tempat tidur hanya akan ada satu wanita yang akan mendapatkan posisi itu kelak.

 

Karena begitu populernya aku di kalangan wanita-wanita kaum jetset maka akupun mendapat banyak julukan, mulai dari Cassanova sampai Don Juan. Terserah mereka mau berpendapat apa, bagiku yang terpenting mereka tidak mengganggu hidupku maupun kesenanganku. Karena dengan segala yang kumiliki aku menjadi layaknya seorang penguasa yang bisa melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang kuinginkan, termasuk membuat perhitungan kepada pihak-pihak tertentu yang kuberi label ‘pengganggu’ atau ‘pecundang’. Dan aku tak pernah gagal melakukan semua rencanaku.

 

“Sampai kapan kau mau terus seperti ini?” kalimat itu terus saja muncul setiap kali aku bertemu dengan Jung Soo hyung, salah satu sahabatku. Aku menaikkan sebelah alis menanggapi pertanyaannya. Aku tahu kalau yang dimaksudkannya adalah ‘sampai kapan kau akan bermain-main dengan para wanita yang bahkan kau hanya memiliki ketertarikan palsu kepada mereka?’

 

Terkadang aku hanya tertawa mendengarnya lagi-lagi menanyakan hal itu. “Bukankah kau dulu juga sepertiku, hyung?” aku suka berbalik menantangnya, tapi jawabannya lantas membuatku memutar bola mata. “Semua sudah berbeda. Aku sudah memiliki Taeyeon, dan dia adalah segalanya bagiku.” Baiklah, Taeyeon telah mengubahnya dalam sekejap. Istri yang didapatkannya dari perjodohan di luar dugaan telah menghapus semua sifat nakalnya sebagai seorang pria dewasa.

 

“Siwon-ah, kau terlalu dikuasai oleh hawa nafsumu. Aku takut kau akan terjebak dalam situasi yang bisa merusak semua citramu,” kali ini Shim Changmin, sahabatku lainnya yang memberi komentar pedas bagiku. “apa maksudmu?” tanyaku cuek, seolah tak tahu maksudnya. “Wanita-wanita itu, mungkin salah satunya yang kau kencani memiliki misi khusus untuk membuatmu jatuh pada lubang keterpurukkan akibat perbuatanmu sendiri!” Changmin terkadang memang suka berlebihan, aku tahu dia khawatir tapi sesungguhnya itu tidak perlu karena aku sangat tahu apa yang kulakukan.

 

“Ternyata ke-playboy-an mu sudah sampai pada taraf yang mengkhawatirkan, Siwon-ah!” kata Changmin yang menggeleng-gelengkan kepala, kesal karena menganggap aku sama sekali tak peduli dengan peringatannya bila melihat ekspresi santaiku pada setiap ocehannya.

 

“Aku harap suatu saat kau bisa menemukan wanita yang tepat untuk menaklukanmu, Siwon-ah!” Jung Soo hyung lagi-lagi mengeluarkan satu harapannya bagiku. Aku mengerutkan kening lalu tertawa. “Semoga saja hyung!” Changmin menambahkan sehingga aku makin tertawa terbahak-bahak. Aku sedang menertawai diriku, mencoba menanyakan pada diriku sendiri mungkinkah harapan itu akan terwujud?

 

Pikiranku langsung melayang pada satu kejadian dimana aku bertemu dengan seorang wanita pada sebuah pesta topeng. Pesta itu hanyalah sebuah pesta topeng biasa yang diadakan rutin setiap tahunnya oleh alumni sebuah universitas di Seoul. Aku tak pernah merasa tertarik datang ke acara seperti itu meskipun beberapa kali mendapat undangan untuk menghadirinya. Tapi saat itu seperti ada suatu dorongan rasa penasaran yang membawaku sampai ke lokasi pesta. Aku melihat sekeliling, semua tamu semuanya terlihat biasa saja tidak ada yang berlebihan. Mereka berdandan layaknya permintaan panitia acara. Dengan dress code yang telah ditentukan berupa cerita negeri dongeng dan tentu saja memakai topeng. Aku jadi berpikir ini pesta topeng atau pesta kostum, sungguh kekanakkan sekali!

 

Aku datang dengan kostum biasa saja, aku tidak tertarik mengikuti dress code nya. Aku cukup memakai tuxedo dengan bahan beludru coklat tua yang pasti terlihat cukup mewah bila melihat mereka memandangiku dengan tatapan kagum, tapi tentu saja mereka tak mengetahui siapa diriku dibalik topeng yang kukenakan. Siapapun pasti bisa mengenali wajahku karena seringnya liputan tentang diriku ada di dalam siaran televisi ataupun di majalah-majalah.

 

Di saat semua mata setiap orang yang kulewati tertuju padaku, aku mendapati seorang wanita berdiri di sudut lantai dansa. Wanita itu memakai gaun berwarna kuning seperti kostum yang digunakan oleh Belle from Beauty and The Beast dan topeng dengan warna senada. Dia berdiri menghadap ke lantai dansa yang diterangi lampu sedikit redup dengan tambahan sinar berwarna-warni yang membuatnya terkesan romantis. Aku mendekatinya dan memperhatikan setiap gerak-geriknya. Wanita itu memandang seolah sedang mengawasi seseorang di lantai dansa. Entah siapa yang diawasinya, mungkin seseorang yang diharapkannya mengajak berdansa.

 

“Apa yang dilakukan wanita cantik sendirian di saat semua orang sedang berdansa?’ Aku menghampirinya dan langsung menyapanya. Kini ia menatapku dengan tatapan keterkejutan, tapi ia langsung dapat mengendalikan dan kembali rileks. Mata itu memiliki sesuatu yang membuatku seakan terhanyut di dalamnya. Mata itu seolah bersinar begitu terang di tengah lampu yang berpendar redup. Bibir tipisnya yang berwarna pink tertarik menunjukkan satu senyuman yang membuat wajahnya walaupun sebagian tertutup topeng menjadi kelihatan begitu indah. “bukan apa-apa. Aku sedang tidak tertarik untuk berdansa.” Suaranya terdengar seperti lonceng di telingaku menambah indah alunan musik waltz yang sedang dimainkan.

 

“Benarkah? Kalau begitu aku menawarkan diriku untuk berdansa denganmu?” aku mengajukan satu tanganku menunggu sambutannya. Ia hanya memandang sekilas tanganku, tapi tak kunjung mengulurkan tangannya menyambut ajakanku. “Bukankah sudah ku katakan aku tidak tertarik untuk berdansa. Lagipula aku tak mengenalmu, aku tak akan tahu bila kau memiliki satu tujuan tersembunyi dibalik tawaranmu itu. Maaf lebih baik aku pergi dari sini.” Jawabannya membuatku terperangah, jelas ini pertama kalinya aku ditolak mentah-mentah oleh wanita. Mungkinkah topeng sialan yang menutupi wajahku telah menyamarkan pesonaku hingga tak sedikitpun wanita itu memiliki ketertarikan padaku. Apalagi aura wanita itu terasa begitu dingin padaku, wanita macam apa yang tidak sedikitpun berminat untuk berdansa di tengah pesta yang sudah sebegitu baik dirancang untuk para pasangan yang sedang dimabuk asmara. Terlebih penolakannya yang begitu santai membuatku penasaran dan menebak-nebak tentang dirinya, bahkan sempat terlintas dipikiranku kalau wanita itu minder karena ia hanyalah seekor itik buruk rupa.

 

Aku mengikutinya sampai ke sebuah balkon yang menghadap ke taman belakang ballroom yang berhiaskan lampu-lampu dan berbagai warna bunga-bungaan. Wanita itu berhenti di depan pagar balkon yang terbuat dari besi tempa, aku harap dia tak menyadari kehadiranku yang beberapa meter berdiri dibelakangnya, mengawasi dari sisi pintu yang terbuka. Aku melihat punggungnya naik turun seperti memaksa untuk menghirup banyak udara. Tangannya mengipas-ngipas menghilangkan gerah di sekitar lehernya.

 

Seperti merasa begitu risih, ia memaksa membuka topeng yang ia kenakan lalu mengibaskan topeng itu layaknya sebuah kipas yang terbuat dari kertas. Aku terpukau pada wajahnya, walau sebagian besar terlihat dari sisi kanan tapi wajah itu mampu mencuri perhatianku. Pendaran cahaya yang menimpa wajahnya menambah keelokan sosok itu. Ternyata aku salah besar telah mengiranya seekor itik buruk rupa. Dia bahkan jauh lebih baik dari seorang Belle atau Cinderella. Tapi mengapa keangkuhan yang tergambar dari sosok itu justru membuatku tertarik, dan yang lebih mengherankan lagi aku lebih menikmati pemandangan dihadapanku ini daripada pesta itu sendiri.

 

“Yoona… Yoona…” Aku mendengar suara seorang wanita semakin mendekati tempatku berdiri, aku segera memutar tubuhku mencoba bersembunyi di balik pintu mengawasi dari celah yang ada, sesaat kemudian aku melihat wanita berambut pirang yang masih lengkap memakai topeng menghampirinya. “Yak.. Im Yoona, aku mencarimu kemana-mana. Kau ini cepat sekali menghilang.” Wanita yang dipanggil pun berbalik dan jelaslah kini wajahnya terlihat olehku. Satu kata yang bisa mendeskripsikannya – Sempurna. Wanita itu tersenyum dan semakin memperlihatkan wajahnya yang hanya berbalut make up tipis. “Mianhae, aku merasa tidak nyaman ketika seseorang muncul dan menggagalkan pengamatanku pada Sung Han, jadi aku kesini sekaligus mencari udara segar.” Hiruk pikuk dari dalam ballroom mulai terdengar, sepertinya sudah memasuki acara puncak. Kedua wanita itupun buru-buru kembali masuk ke dalam ballroom, mereka tampaknya memang tak menyadari keberadaanku disana. Malam ini aku menjadi Choi Siwon, seorang pengamat wanita yang telah terang-terangan menolakku tanpa memandang wajahku sekalipun. Tapi satu hal yang bagus, aku tahu bahwa namanya adalah Im Yoona.

 

Selepas pertemuan pertamaku malam itu, aku masih saja teringat padanya. Ternyata wanita itu piawai mencuri perhatian, bahkan tanpa berniat untuk mencari perhatian itu sedikitpun. Aku merasa sangat bodoh karena terus berpikir bahwa yang kualami saat itu adalah ketertarikan sesaat yang kemudian hari pasti akan hilang dengan sendirinya. Tapi saat ini bahkan sudah lewat dua bulan sejak malam pesta topeng itu, tapi wajahnya masih sering terlintas di kepalaku. Ah, mungkin karena aku begitu menyukai berdekatan dengan wanita-wanita cantik hingga mudah bagiku mengingat wajah eloknya.

 

-0-

Sebagai seorang penerus perusahaan besar sudah seharusnya kesibukan adalah makanan sehari-hariku. Berbagai jadwal yang telah diatur begitu rapi oleh Sekretaris Lee terkadang membuatku bosan hingga aku memaksa menyempatkan diri datang ke sebuah klub hanya untuk menghilangkan kejenuhanku. Terkadang aku menjadi begitu malas menghadiri pertemuan bisnis dengan klien termasuk menghadiri acara charity. Sebuah acara yang disuguhkan untuk membangun citra diri yang baik di mata publik, tapi bagiku terkesan sedikit munafik.

 

Tak disangka keenggananku menghadiri acara charity terbayar cukup mahal karena aku bertemu lagi dengan wanita itu, Im Yoona. Dia datang bersama sepasang pria dan wanita yang berpenampilan anggun dan terkesan berkelas. Seingatku acara ini dihadiri oleh perwakilan dari perusahaan-perusahaan ternama di Korea, itu artinya wanita itu bisa jadi salah satu karyawan perusahaan itu atau mungkin juga anak pemilik perusahaan.

 

Mataku tak lepas dari dirinya, masih terus memandangnya dengan segenap rasa penasaran memenuhi kepalaku. Dia terlihat begitu anggun dengan gaun berwarna peach berbalut blazer berwarna pastel. Kini wajahnya terlihat lebih jelas dengan cahaya lampu yang terang benderang, semakin memperbesar peluang siapapun untuk mengagumi keindahannya. Wanita itu terkesan ramah, tersenyum tulus dengan siapapun yang mengajaknya berbicara, terkadang berbisik-bisik manja dengan pria disebelahnya. Siapa pria itu? Tiba-tiba saja muncul satu kesan tak menyenangkan dalam kepalaku yang tak menyukai ada orang lain disampingnya. Sebenarnya apa yang terjadi pada diriku, apakah satu kegilaan telah memenuhi otakku sehingga aku tertarik pada satu wanita hanya dalam tempo satu malam?

 

“Apa kau kenal siapa orang-orang yang duduk di meja itu?” aku hanya mengarahkan tatapanku pada posisi keberadaan mejanya, menunggu jawaban Sekretaris Lee. “Mereka adalah perwakilan dari Imsan group, pria itu adalah Im Seulong direktur pelaksana sekaligus putra pemilik Imsan Group.”

 

“Lalu siapa wanita yang bersamanya?” lanjutku, tapi Sekretaris Lee masih terdiam sepertinya dia sedang berpikir mengenai tujuanku menanyakan hal itu karena ia tahu seperti apa diriku bila menginginkan seorang wanita. “Sajangnim, aku rasa…”

 

“Aku hanya ingin tahu siapa mereka, tidak ada maksud apa-apa.” Aku memotong kalimatnya dengan sedikit kebohongan, agar kelak ia tak menginterupsi lagi. “Baiklah, wanita yang berada di sebelah kanannya adalah istrinya, dan disebelah kiri adalah adiknya.” Aku mengangguk mendengar penjelasan Sekretaris Lee, pria ini sepertinya sangat mengenal karakterku hingga hanya memberikan informasi sebatas status saja mengenai kedua wanita itu. Setidaknya aku sudah tahu bahwa Im Yoona adalah adik pria itu, walau tak berarti diluar sana tidak ada pria-pria lain yang ingin mendekatinya.

 

Aku kembali tidak beruntung saat aku mencoba menanyakan keberadaannya kepada Im Seulong setelah basa-basi yang panjang dan membosankan ketika sesi coffee break. Seulong mengatakan bahwa Yoona harus pulang lebih dulu karena ada beberapa urusan yang harus diselesaikannya. Sebegitu sibukkah wanita itu, hingga aku kembali tak bisa lebih lama berdekatan dengannya dalam atmosfir yang sama?

 

Salah satu keberuntunganku sebagai Choi Siwon adalah menjadi sosok yang memiliki cukup banyak peluang untuk memaksakan keinginanku pada orang lain. Beberapa minggu ini disela-sela kesibukanku yang padat, aku selalu meminta Sekretaris Lee mengirim orang untuk menyelidiki latar belakang Im Yoona. Berulang kali Sekretaris Lee menanyakan maksudku melakukannya, tapi aku hanya perlu menekankan kalau dia tak perlu ikut campur, hanya helaan napas panjang yang terdengar sebagai aksi protes darinya.

 

-0-

Ibarat takdir yang tak bisa diubah, aku harus menjalani tanpa bisa mengeluhkan cara untuk menghindarinya. Bayangkan saja, Ayah memintaku mengambil alih sebuah proyek besar yang harus bekerja sama dengan perusahaan lain dan nama perusahaan itu sukses membuatku tersedak teh hangat yang kuminum. Senyum terkembang dari bibirku saat-saat menunggu kedatangan Im Jong Suk, Presdir Imsan Group. Tidak disangka aku akan langsung bertemu dengan ayah Yoona, wanita yang telah membuatku seperti kehilangan rotasi selama beberapa minggu ini.

 

Proses negosiasi berjalan lancar, kesepakatan demi kesepakatan pun dibuat. Setelah beberapa kali bertemu dan berdiskusi aku punya penilaian tentangnya, Tuan Im adalah orang yang sangat ramah dan bijaksana. Aku merasa beliau adalah sosok yang sangat hangat, dan mempunyai senyuman tulus. Yoona pasti begitu bahagia memiliki ayah seperti beliau.

 

Suatu ketika ide gila itu muncul begitu saja di kepalaku, tak menunggu banyak pertimbangan aku langsung mengungkapkan keinginanku untuk memperistri Im Yoona, putri bungsu Tuan Im. Sesaat aku sempat menyesali kebodohanku yang tak memikirkan lebih jauh efek yang akan timbul. Seketika ekspresi wajah Tuan Im berubah, antara kesal, marah, kecewa, dan sebagainya.

 

“Aku tahu ini sangat mendadak dan aku yakin anda pasti sangat terkejut. Tapi aku sudah cukup lama memperhatikan putri anda, jadi aku punya keyakinan bahwa aku cukup pantas menjadi menantu anda.” Saat itu adalah saat dimana aku merasa kepercayaan diriku jatuh terbanting hingga sulit sekali mengembalikannya ke tempat semula. Apakah seperti ini yang dirasakan setiap pria saat meminta izin orangtua seorang gadis yang ingin dimilikinya? Panas dingin tiba-tiba menggerayangi tubuhku menunggu reaksi yang akan dilontarkan Tuan Im mengingat ekspresi wajahnya yang semakin sulit kuartikan.

 

“Dalam kapasitas apa hingga kau begitu percaya diri menginginkan putriku menjadi pendampingmu? Aku tak pernah tahu putriku mengenalmu bahkan mungkin sampai menyukaimu, apalagi mengingat predikatmu yang begitu populer sebagai seorang playboy.” Kata-kata Tuan Im sukses membuatku tertohok, sekali lagi embel-embel playboy yang kusandang seperti menjadi batu sandungan untuk mencapai tujuanku.

 

“Putrimu memang tak mengenalku, tapi kami pernah bertemu walau dia tak menyadarinya. Tapi aku menyukainya, dia terlihat begitu berbeda di mataku. Bukankah jika terjadi suatu pernikahan akan semakin mempererat ikatan antara Hyundai dan Imsan?” jawabku tanpa pikir panjang.

 

“jadi itukah yang kau pikirkan? Aku beritahu satu hal, Siwon-ssi. Aku tak akan pernah menjual putriku berapapun harganya dan apapun tujuannya. Aku hanya ingin putriku bahagia. Jika bukan denganmu maka dengan orang lain. Sepertinya aku harus mendiskusikan ulang masalah perjodohan ini dengan ayahmu. Kau seakan terlihat sebagai pria tak bertanggung jawab dengan jawaban yang kau berikan, dan aku tak mau putriku malah menderita karenamu.”

 

Apa? Perjodohan? Aku tidak salah dengar kan… Aku sempat merasa shock dengan perkataan Tuan Im terkait jodoh-menjodohkan antara Ayahku dengannya. “Apa maksud anda dengan perjodohan?”

 

“Kau tidak pernah tahu kalau aku dan Ayahmu berniat menikahkanmu dengan putriku Yoona?” Aku menggeleng pelan tak berdaya. “Sungguh mengejutkan! Aku tak percaya kau juga se-naif itu Siwon-ssi.” Tuan Im meninggalkanku begitu saja tanpa ada sedikitpun niat menjelaskan kata-katanya padaku. Aku terdiam dan duduk terpaku, aku terlalu kebingungan untuk sekedar mencegah kepergiannya.

 

Begitulah kejadian setahun yang lalu, pertama kali aku mengetahui perjodohan itu justru dari mulut Tuan Im. Saat kutanyakan pada ayah, beliau tidak memberi jawaban tapi malah memberi satu ultimatum padaku, “Sebaiknya kau introspeksi dirimu sendiri. Jika memang menginginkan wanita itu, maka kau harus berusaha keras. Kau akan sulit mendapatkannya karena dia punya sikap yang bertolak belakang denganmu.” Hanya itu yang dikatakan ayah. Aku paham maksudnya, ayah memang sudah tahu semua yang terjadi antara aku dan Tuan Im. Aku tak bisa mengambil keputusan, dan begitu saja meninggalkan dunia yang selama ini aku jalani hanya untuk mendapatkan satu wanita.

 

-0-

 

Berita mengejutkan datang setelah beberpa hari aku kembali dari perjalanan bisnis ke Amerika. Im Jong Suk – Presdir Imsan – meninggal dunia dan berita itu cukup menghebohkan karena desas desus yang muncul akibat kematiannya yang sedikit mencurigakan. Tuan Im ditemukan kolaps di ruang kerjanya. Vonis dokter menetapkan bahwa Im Jong Suk terkena serangan jantung mendadak. Banyak gosip yang beredar bahwa kematiannya adalah sebuah konspirasi dan usaha pembunuhan oleh anak angkatnya. Aku tak tahu menahu apa yang terjadi sebenarnya, tapi kabar itu jelas mengejutkan banyak orang.

 

Aku menghadiri tempat persemayaman jenazah Tuan Im bersama ayahku. Ruangan itu memiliki dekorasi sebagaimana mestinya ruang duka, dengan karangan bunga berjejer panjang menambah kesan duka mendalam suasana disekitarnya. Aku kembali melihatnya, Im Yoona. Dengan setelan serba hitam duduk termenung disebelah seorang wanita berambut pirang, sepertinya dia adalah wanita yang sama di pesta topeng tempat aku pertama kali bertemu dengan Yoona setahun yang lalu. Wanita pirang itu terlihat tak hentinya mecoba memberi ketenangan pada Yoona yang sudah terlihat pucat.

 

Yoona, air matanya seperti telah mengering. Tak sedikitpun senyum terpatri diwajahnya. Entah kenapa hatiku mencelos melihat keadaannya seperti itu. Aku ingin sekali menggantikan posisi wanita pirang itu duduk disebelahnya. Aku ingin menyentuhnya walau hanya seujung kuku, aku ingin membelai rambutnya walau hanya sehelai, dan aku ingin memberinya ketenangan walau hanya dari satu kata.

 

Aku rasa aku sudah gila, lama tak melihatnya seakan membangkitkan lagi gairah kekagumanku padanya. Bahkan wanita-wanita asing yang kutemui di Amerika tak sedikitpun mengurangi kegilaanku saat aku melihatnya kembali. Im Yoona, apa yang sudah kau lakukan padaku? Aku butuh jawaban itu segera!

 

Beberapa bulan setelah kejadian duka yang menyelimuti keluarga Im, semua seolah berjalan kembali pada tempatnya. Kesepakatan kerjasama antara Hyundai dan Imsan yang awalnya sedikit molor karena pengaruh meninggalnya Presdir Im sudah mulai berjalan lagi, kali ini karena inisiatif ayahku yang tak ingin proyek itu terkatung-katung.

 

Suatu ketika ayah melontarkan satu pertanyaan padaku yang membuatku kembali kepada kegundahan dan kebimbangan. “Apa kau masih ingin melanjutkan perjodohan itu?” Untuk sementara aku menutup mulutku, mencoba mempertimbangkan segala hal dan mencerna baik-baik tiap ide yang mungkin muncul di kepalaku. Aku tak mau ayah menganggapku memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan pada apapun keputusanku nanti. “kalau kau ingin tahu pendapatku, tentu saja aku ingin meneruskannya. Tapi justru aku ingin menetapkan satu kondisi padamu?”

 

“Kondisi? Apa maksud ayah? Mengapa aku harus menjadi pihak yang mendapat tekanan?” Ayah menatapku dalam, tatapan itu tidak main-main dan tidak sedikitpun mengisyaratkan kelembutan. “Aku tidak peduli ketertarikanmu terhadap putri Im suatu ketulusan atau hanya sebuah nafsu semata, yang aku ingin agar kau bisa bersikap layaknya seorang pria gentle, bukan pria yang gemar memainkan perasaan wanita. Yang aku tahu, calon istrimu adalah wanita berbudi dan bermartabat, dialah yang akan melahirkan penerus keluarga Choi.”

 

Ayah memang tak sedikitpun membuat kesalahan dengan semua kata-katanya, dan aku merasa terpojok karenanya. Tapi aku yakin bahwa ketertarikanku pada Yoona bukanlah nafsu sesaat yang bahkan telah membuatku keluar dari lintasan pikiranku sebelumnya. “Aku akan buktikan, kalau untuk urusan penerus keluarga aku bukanlah seorang pecundang. Tapi untuk urusan hati dan perasaan sangat sulit untuk menjaminnya hingga waktulah yang bisa menjawabnya. Karena itu berikan aku kesempatan untuk membuat wanita itu berada pada trek yang tepat dan sesuai keinginanmu.” Aku menjawab sesuai kata-kata yang sudah kususun rapi dalam kepalaku.

 

“Bukan untuk keinginanku, tapi semua untuk kebahagiannya dan tentunya kebahagianmu, Nak!” Ini pertama kalinya ayah begitu keras menekanku ketika berbicara soal wanita. Keputusan ayah untuk membuat perjodohan itu pasti tidak diambil dalam tempo singkat, tapi dengan pertimbangan yang cukup panjang. Yoona… apa yang telah kau lakukan pada hidupku. Bahkan mengobrol panjang lebar saja kita tak pernah, tapi justru kau telah menjadi penyebab ketidakwarasanku.

 

-0-

 

Hari ini aku akan bertemu pertama kalinya dengan Yoona secara resmi. Yang ada di pikiranku saat ini adalah bagaimana nanti ekspresinya bila dia melihatku lebih dekat. Mungkinkah ia akan mengenaliku seperti apa yang dikatakan orang lain, sebagai pria arogan dan seorang player.

 

Aku melihatnya duduk di meja restoran di tempat yang telah dipesan sebelumnya. Dia memakai gaun berwarna biru tosca dengan tatanan rambut sederhana. Dia berdiri menyambutku dengan ekspresi datar, tanpa aba-aba aku langsung duduk di kursi tepat di hadapannya. Aku meletakkan kacamata hitamku di meja, hendak menatapnya langsung. Dia terdiam sesaat sebelum aku mempersilahkannya duduk. “Jadi kau nona Im… yang akan dijodohkan denganku?” Pertanyaan yang bodoh, padahal aku tahu dengan jelas hal itu.

 

“Ne, Im Yoona imnida,” dia tersenyum kecil, itu adalah senyuman pertamanya untukku. “Choi Siwon imnida. Kau pasti sudah pernah melihatku di televisi atau di majalah-majalah bisnis. Jadi pasti sudah banyak yang mengungkapkan profile ku.” Aku dengan sangat percaya diri memperkenalkan diriku padanya, Yoona hanya mengangguk mengerti.

 

“Ternyata kau adalah yeoja yang sangat cantik, Yoona-ssi. Aku yakin kau adalah yeoja baik-baik yang dididik super ketat menjadi seorang Lady dimasa depan. Aku juga yakin kau adalah seorang yeoja yang selalu menikmati kemudahan dalam hidupmu bila melihat latar belakang keluargamu yang masih keturunan ningrat.” Aku mencoba memprovokasinya. Aku tahu semua wanita dari keluarga kaya mendapat pendidikan moral sangat tinggi, walau mungkin ada beberapa yang menolak keras hal itu. Tapi wanita yang ada dihadapanku jelas terlihat bagaikan seorang tuan putri yang sangat terawat. Aku melihat senyuman sinis dari wajahnya, terlihat sedang menahan emosi.

 

“Benarkah? Aku pikir kau adalah orang yang sangat pintar menilai buku dari sampulnya, Siwon-ssi. Aku sungguh terkesan dengan penilaianmu terhadapku,” Wanita ini ternyata berbakat menyerang pendapat orang dengan begitu dingin. Pembicaraan berlanjut dengan berbagai tanya jawab soal kehidupan pribadi dan perdebatan tak bisa dihindari. Pertama kali bertatap muka, kami telah mampu membangun benteng masing-masing di medan perang. Aku penasaran, mungkin Yoona terlatih untuk mencari berbagai solusi guna menekel keras pendapat orang. Mungkin juga ia dulunya tergabung dalam tim debat politik hingga mampu berkelit dari isu paling pelik sekalipun.

 

-0-

 

“aku dengar kemarin kau telah bertemu dengan calon istrimu. Bagaimana rupanya, apa dia cantik? Bila dibandingkan dengan wanita-wanita yang kau kencani mana yang lebih menarik?” Jung Soo hyung sungguh-sungguh ingin membuatku tersudut dihadapannya dan Changmin.

 

“Biasa saja” jawabku singkat. “Benarkah? Bukankah dia wanita yang pernah menolakmu?” sangkalannya membuatku kaget. “Aku tidak pernah ditolak wanita, hyung! Akulah yang menolak wanita.” Jung Soo hyung malah menatapku curiga. “kau tidak perlu berbohong, Siwon-ah. Aku hapal betul wajahmu yang sedang mencoba menutupi kerisauanmu itu.” Tawa Changmin mengiringi ejekan Jung Soo padaku.

 

“Yak! Kalian ini bukannya memberiku support malah bersekongkol menyudutkanku. Asal kalian tahu, wanita itu sangat berbeda denganku. Pasti sangat sulit bagiku dan wanita itu bisa beriringan, yang ada hanya perang dingin.” Sahutku kesal. “Hah? Sejak kapan seorang Choi Siwon pesimis menghadapi wanita? Jangan bilang kau sudah jatuh cinta padanya?” Pertanyaan Changmin membuatku ternganga. Mereka tidak boleh tahu kalau aku sudah cukup kacau sebelum ini hanya karena seorang Im Yoona. Bisa jadi pamorku akan jatuh dengan sindiran mereka terkait diriku yang tertarik pada wanita tanpa bisa menjangkaunya. Aku tersenyum lebar memperlihatkan kedua lesung pipiku, “Kata siapa aku pesimis. Jangan sebut aku Choi Siwon kalau aku tak bisa menaklukannya. Besok aku akan mengundangnya makan bersama kita. Aku akan tunjukkan bagaimana gaya hidup orang-orang seperti kita yang seharusnya.”

 

“Semua terserah padamu. Aku berharap wanita itu tidak akan mudah untuk kau taklukkan. Aku ingin lihat bagaimana seorang Choi Siwon yang arogan dan playboy terkenal dibuat tak berdaya oleh seorang wanita biasa. Mungkin kau akan menjadi seperti Jung Soo hyung nantinya, bertekuk lutut pada istrimu sendiri.” Changmin mendapat satu jitakan di kepalanya karena Jung Soo hyung yang sedikit kesal dengan perkataannya barusan. Pertanyaan itu juga terlintas di kepalaku. Kata-kata Changmin ada benarnya, sebelum ini aku sudah nyaris kalah bisa jadi kedepannya aku bertekuk lutut padanya.

 

Aku sedikit memaksa ketika mengundangnya makan bersama di restoran mewah milik Jung Soo hyung. Dia juga membawa istrinya, Taeyeon – wanita yang telah membuatnya pensiun dari dunia para Cassanova. Sedangkan Changmin masih menikmati hidup sebagai lajang favorit wanita-wanita paruh baya. Tidak, aku hanya bercanda… Changmin patutnya juga menyandang gelar yang sama denganku, hanya saja dia tidak terlalu antusias dengan wanita yang masih polos.

 

Saat dia datang, kesan kaku begitu melekat pada dirinya. Aku yakin Yoona berpikir bahwa undangan makan ini akan dikelilingi orang-orang dengan ego dan kebanggaan diri di atas rata-rata. Harusnya dia tak perlu bersikap seperti itu karena aku tahu kedua sahabatku tidak akan sedikitpun berusaha memojokkannya, justru akulah yang menjadi pihak incaran semua serangan dan sindiran kedua orang itu.

 

Dengan begitu cueknya aku menyampirkan lenganku di bahunya, skinship pertama setelah perkenalan resmi. Aku mendapat tatapan protes darinya yang seolah berkata ‘apa yang kau lakukan? Segera singkirkan tanganmu karena aku tak suka!’ Jadi aku langsung menyingkirkan tanganku darinya, tak mau membuat suasana semakin tegang.

 

Selama acara makan bersama itu, aku tak pernah lepas memperhatikannya melalui ekor mataku. Kelihatannya Yoona merasa nyaman dengan sahabat-sahabatku, terutama Taeyeon, mungkin karena mereka sama-sama wanita dan sama-sama memiliki sikap yang bertolak belakang layaknya aku dan Jung Soo hyung. Namun, aku juga mendapati pandangannya yang sering terarah pada Changmin, seperti menyimpan sesuatu hingga ia begitu penasaran padanya. Aku tak menyukai prasangka itu, melihat Yoona memberikan tatapan khusus pada Changmin membuatku kesal. Aku yakin Changmin paham betul situasi ini, dia tidak akan begitu mudahnya menyalipku mengambil kesempatan untuk mendekati tunanganku.

 

Aku sempat menginterogasi Changmin setelah tak sengaja aku mendapatinya duduk berdua dengan Yoona di sebuah café dekat kantor Yoona bekerja. Mereka saling tersenyum dan tertawa membuatku merasa terkhianati oleh sahabatku sendiri. Saat aku menanyakannya pada Changmin, dia malah menertawaiku, dia heran melihatku yang biasanya begitu santai tiba-tiba seperti kebakaran jenggot memarahinya tanpa alasan yang jelas. “Jadi kau sudah mulai cemburu pada tunanganmu, eoh?” aku sempat ingin memukulnya saat Changmin mengatakan hal itu dengan nada amat sinis yang pernah kudengar darinya. Namun, niat itu urung terjadi karena Changmin menjelaskan perihal perkenalannya dengan Yoona tiga tahun lalu di Paris. Jujur aku merasa iri dengannya bisa begitu akrab dengan Yoona padahal mereka juga baru beberapa kali bertemu.

 

Ternyata satu rasa yang bernama cemburu itu tak hanya ada ketika kau mendapati orang yang kau sukai bersama orang lain. Tetapi ketika semua mata tertuju padanya tapi dia tak sedikitpun melihatmu, maka hal itu menjadi satu hal paling menjengkelkan di dunia. Begitupun dengan Yoona, aku menantangnya datang ke sebuah pesta di klub malam dengan tujuan membuatnya memahami kehidupanku yang populer dikalangan wanita penggoda tapi malah aku yang dibuat panas dengan pandangan setiap pria padanya. Ingin sekali aku menyembunyikannya dengan aman hanya untukku sendiri, dan hanya aku yang boleh memandangnya. Hanya saja aku terlalu dini mengharapkan hal itu karena Yoona adalah wanita paling keras kepala yang pernah kutemui, tak sedikitpun ia memandang lebih pada diriku – seolah tak ada yang istimewa dengan diriku.

 

Aku merasa menjadi orang bodoh yang selalu berpikiran sempit. Aku seperti selalu mengambil langkah yang salah bila berkaitan dengan Yoona. Wanita itu begitu ingin tahu motif dibalik ancamanku yang ingin mengawasi gerak-geriknya 24 jam. Tentu saja aku ingin dia selalu aman dari tindakannya yang ceroboh, yang bahkan tidak menyadari hampir berurusan dengan mafia. Tapi tentu saja aku tak bisa mengatakan maksud lainnya bahwa aku tak ingin melihatnya berdekatan dengan pria asing di luar sana. Malah pernyataan gila justru keluar dari mulutku yang menganggap dirinya sebagai aset untuk melahirkan pewarisku kelak. Dengan begitu murka ia memandangku dan nyaris menyiramku dengan segelas air. Aku sempat khawatir amarahnya meledak, tapi diluar dugaan ia mampu mencegahnya.

 

Aku melihat seperti ada jalan yang terbuka lebar bagiku untuk mendekatkan diri pada Yoona saat ibuku tiba-tiba kembali dari pengobatannya di Amerika hanya untuk melihat calon menantunya. Mau tak mau aku harus mengantar ibu mengunjungi rumah keluarga Im untuk bertemu dengan Yoona. Aku memanfaatkan momen yang tepat untuk membangun citra yang baik dimata ibu Yoona dan ibuku sendiri. Aku meminta maaf padanya walau aku rasa itu kurang tulus, tapi aku tahu saat itu ia mulai luluh padaku. Ternyata Yoona bukanlah gunung es yang tak bisa meleleh, dengan sedikit perlakuan romantis ia bisa juga terpukau. Bahkan aku mulai memanggilnya dengan sebutan princess.

 

Jung Soo hyung dan Changmin semakin sering menanyai hal apa yang sudah terjadi padaku bila aku mulai terlihat gusar dan mudah sekali marah. Aku sendiri sebenarnya tak ingin uring-uringan seperti ini, hanya saja semua tentang Yoona membuatku tak bisa bernapas lega bila tak melihat langsung bahwa wanita itu baik-baik saja. Aku merasakan seolah ada seseorang yang memukulku tepat dibagian sekat rongga dada dan perut, rasanya begitu sesak melihatnya terluka dan menderita. Seakan aku ingin melenyapkan semua orang yang menjadi penyebabnya.

 

Aku mendapati diriku semakin larut dalam perasaan yang tercampur aduk bila semua ada kaitannya dengan Yoona. Kegilaan semakin menjadi setelah aku berhasil mencuri ciuman pertama antara aku dan dirinya. Aku jadi ingin selalu menyentuhnya, merasakan kelembutan dan kehangatan kulitnya, serta melihat rona merah di pipinya. Lebih bodoh lagi saat aku meminta kesediaanya naik ke ranjangku sebagai ganti bantuanku pada masalahnya. Dan satu tamparan keras sukses mendarat di pipiku. Tapi bagaimanapun aku tak bisa marah, ia pantas tersinggung dengan ucapanku, aku saja yang sok lupa pada kenyataan bahwa Yoona bukanlah wanita sembarangan yang begitu mudahnya menerima ajakan tidur dari seorang pria yang tak dikenalnya.

 

Yoona tidak pernah tahu bahwa aku sudah jatuh cinta padanya. Aku tidak bisa mengelak lagi dari kenyataan bahwa kegilaan dan ketidakwarasan yang menimpaku beberapa bulan belakangan karenanya telah menyeretku untuk masuk ke dalam jerat cintanya. Aku tak bisa lagi melepaskan diri dari belenggu cinta yang seolah terbuat dari baja. Aku tak sanggup berjauhan dengannya, aku begitu menyayanginya hingga waktu dan jarak yang memisahkan terasa begitu menyiksa.

 

Keinginanku untuk memiliki Yoona seutuhnya seakan telah sampai ke ubun-ubun. Sulit sekali menghalau berbagai ide miring yang bisa aku gunakan untuk menjatuhkannya ke dalam jeratku. Hal yang buruk memang selalu mengikuti ketika kau lebih memilih untuk meninggalkan akal sehatmu dan cenderung berpihak pada nafsu, maka seketika kau akan kerasukan oleh ratusan iblis yang siap menyesatkanmu. Aku saja telah menjadi seorang pencuri licik, yang memanfaatkan kondisi menyedihkan dan merisaukan wanita yang kucintai hingga menyeretnya ke dalam jurang kenistaan. Bayangkan saja, aku memaksakan diri untuk menidurinya di saat pikirannya sedang kacau dan kalut. Aku dengan tamak mengambil apa yang seharusnya belum pantas untuk kumiliki saat itu. Tapi sekali lagi iblis itu masih tertinggal dipikiranku hingga aku tak sedikitpun menyesalinya.

 

Aku semakin mengagumi dirinya, melihat wajahnya yang polos ketika pagi hari, masih di atas ranjang dimana aku bercinta dengannya beberapa saat yang lalu. Dia begitu damai, indah, dan sangat memukau. Aku merasa sangat beruntung karena menjadi pria pertama yang menyentuhnya dan aku tak akan membiarkan pria manapun berusaha mendekatinya karena dia telah menjadi milikku. Kalau perlu aku akan mengerahkan semua sikap arogan dan congkak yang kumiliki untuk menjaga harta paling berharga yang kumiliki, Im Yoona.

 

Semua hal akan ku atur sedemikian rupa dengan baiknya sesuai keinginanku. Aku tak peduli orang akan menganggapku terlalu angkuh dengan seluruh keputusan yang ku buat. Keluargaku sendiri tak memprotes keinginanku untuk segera menikahi wanitaku, Yoona. Aku telah menyatakan cintaku padanya. Walau ia belum memberi balasan padaku, aku tak akan memaksanya. Aku ingin hatinya yang berbicara sendiri, karena hati tak akan pernah berbohong. Sikapnya padaku memang sudah tak sedingin es lagi – perlahan-lahan mulai terasa hangat. Aku ingin membuang semua kenangan buruk tentangku dalam pikirannya. Aku ingin hanya ada diriku yang baru dalam setiap laju otaknya. Dan aku ingin dirinya yang menjadi pelabuhan cintaku yang pertama dan terakhir, tiada keraguan dan prasangka, sampai ajal menjemput. Aku ingin bahagia, bukan hanya aku tapi juga dirinya. Aku ingin semua yang telah kualami karenanya, akan membawaku pada satu tempat terindah dimana hanya akan ada cerita yang indah sepanjang masa sehingga menjadi begitu berharga untuk dikenang. Karena aku memang tak kehilangan apa-apa, justru kini aku mendapat segalanya. Nothing to lose, but I can get everything… It’s because of you my lady, my love, my everything, Im Yoona.

 

FIN

 

Bagaimana ceritanya? Mian.. kalo ga bagus secara buatnya dalam tempo singkat disela-sela kesibukan kerja (ga ada yang tanya) dan dipaksa cepat-cepat oleh beberapa kolega untuk segera publish (say “Peace” to Trio Kalong, wkwkwkwk).

Oh ya, yang pasti jangan lupa kasih komentarnya yaaa… kalo bisa jangan sekedar kasih komentar ‘lanjut’ atau ‘next’ karena kayak ga berkesan gituuu… hehehe ^^. Buat yang maksa dibikinin sekuel atau Final Story dari Intrigue harap bersabar… karena inspirasi belum datang. Kalo sudah selesai pasti akan dipublish walau kemungkinan besar bakal diprotect dulu…. (just kidding!!!)

Kamsahamida…..

Tinggalkan komentar

116 Komentar

  1. dely

     /  April 5, 2013

    like

    Balas
  2. hania

     /  April 27, 2013

    Semoga yoong membalas cintanya wonppa
    Makanya sikapnya wonppa jangan arogan didepan yoong biar yoong lebih menyukai wonppa
    YOONWON 4. EVER

    Balas
  3. ohhh siwon udah suka sama yoong sebelum mereka ketemuan toh ckckckck

    Balas
  4. Bagus dan menarik,kesannya siwon yang cerita tentang perjalanan hidup dan cintanya untuk mendapatkan yoona.,.,

    Balas
  5. kimy

     /  Juni 29, 2013

    kata-katanya ya ampun bagus banget. sweet bgt ternyata cerita sebenernya dari siwon

    Balas
  6. KieWonkyu

     /  Juli 23, 2013

    trnyta siwon mncntai yoona udh lama bgt ,, n playboy tpi gx smpai bwa yeoja k rnjang ,, itu trjdi hnya pda yoona sja .. daebakk ..🙂

    Balas
  7. siyoon11

     /  Juli 25, 2013

    ooohh,, jadi gitu sebenernya,, our simba emg the sweetest simba ever, deh!!

    Balas
  8. chingem86

     /  Juli 29, 2013

    won pa ternyata diam2 sudah suka dengan yoona dari awal. pantas dia selalu ada disaat yoona berada dalam kesulitan. so sweet amat ya.

    Balas
  9. arahajeng

     /  Agustus 1, 2013

    Test, reader ini ninggalin jejak!
    Ini versi Siwon ya :^)
    Oh, ternyata Siwon & Yoona pernah ketemu sebelumnya pas reunian😮
    Jadi, Siwon falling in love at first sight nih haha😀

    Balas
  10. mutiarananda

     /  Agustus 1, 2013

    Aku jd kangen ff ini hehehe ;D

    Balas
  11. Unhibitedly

     /  Agustus 18, 2013

    ternyata siwon udah suka ma yoona jauh sebelum siwon tau tentang adanya perjodohan,,
    keren ceritanya,,,hoho

    Balas
  12. ternyata ini toh flashback pertama kali YoonWon bertemu, pertemuan yang tidak terduga berakhir dalam kebersamaan…
    hwaa bner” takdir yang bejo..

    Balas
  13. aat yoonwon

     /  Oktober 30, 2013

    Ternyata wonppa naksir duluan tapi sok angkuh diawal perkenalan cinta memang membuat orang jadi gila

    Balas
  14. aigooo wonppa begitu tergila” nya kau ternyata ma yoong eonni sungguh mngagumkan yoona eonni mnaklukan orang seperti siwon oppa tanpa harus menggodanya,,,keren,daebak,kasih 10000 jmpol untuk author bhkan lebih,,,fell nya bner” dpet,,

    Balas
  15. Semakin mengerti setelah membaca siwon side-nya. Whaaaa lumayan panjang juga yah eonni, tp suka deh sama karakter siwon disini. Yah walaupun gak bisa nahan hasratnya untuk memiliki yoona dan terkesan mencari kesempatan dalam kesempitan untuk meniduri yoona tp mungkin itu yg terbaik sehingga yoona hamil. Yeyyyy baby choi akan segera lahir ckckck.
    Lanjut baca sequelnya ah..heheh

    Balas
  16. Rosiie

     /  November 29, 2013

    Baru kali ini baca.a bener2 serius, keren bgt,. Ah,, bingung hrus komen apah, pokok.a ini bener2 Keren,keren,kereeeen

    Balas
  17. Mengharukan bngt

    Balas
  18. dede

     /  Maret 10, 2014

    ceritanya sangat menarik.yoona sebat bisa bikin siwon berubah.

    Balas
  19. zahrania

     /  April 2, 2014

    kata2nya nggak ngbosenin,
    cuma aq jg pngen tau dri sdut pndang yoonni mengenai wonppa…

    Balas
  20. azzryia noer hayyati

     /  Mei 8, 2014

    Baguuss bgt thor tp kurang jelas jln ceritanya karena terlalu cepat alurnya(sorry thor g maksud nyinggung ya) ditunggu ya sequelnya….

    Balas
  21. any

     /  Mei 12, 2014

    Baca ff ini seperti baca buku dairy Siwon. Berhub. Udah pernah baca scuel intrique jd pengen baca lagi krn udah tau ternyata siwon duluan yg cinta mati sama yoona. Baca intrique lagi aja ahhj. G papa y thor…

    Balas
  22. Dede

     /  Mei 15, 2014

    Wah seru banget.kiran yoona akan langsung suka sm siwon eh ternyata engga segampang itu.siwon emng harus dkasih pelajaran karna engga semua wanita bisa dia permainkan.apa yg akan terjadi yah setelah mereka tidur bersama?

    Balas
  23. Wah… Romantisnya
    meskipun agak membingungkan

    Balas
  24. Ough…. Jadi ini awal mula cerita wonppa, benar2 suka ni FF
    tapi aku suka bgt semua inspirasi yg author buat. Benar2 menarik dan idenya rapi bgt

    Balas
  25. Daebak thorrr!! Kerennn bgt ffnyaa

    Balas
  26. melani

     /  Februari 6, 2016

    Jd siwon udah mulai tertarik sama yoona sejak lama bahkan siwon udah nyari tau semua ttg yoona tanpa sepengetahuan yoona..

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: