[3S] Intrigue (Chapter 3-END)

Poster FF Intrigue

Author                                     : misskangen

Length                                     : 3 Shots

Genre                                      : Romance, Drama

Rating                                     : PG 17

Main Cast                                : Im Yoon Ah (SNSD), Choi Siwon (Super Junior)

Support Cast                           : Im Seulong (2AM), Shim Changmin (TVXQ), Im Sung Han (OC), other casts.

Disclaimer                               : Cerita ini adalah fiktif dan murni karangan penulis. Bila terdapat kesamaan cerita dengan kehidupan nyata maka itu suatu kebetulan semata.

 

Hurray…. Akhirnya bagian terakhir dari FF 3 shots ini tampil juga. Setelah melalui beberapa proses penyuntingan akhirnya aku berani untuk menerbitkan cerita akhirnya. Terima kasih untuk semua komentar yang sudah diberikan oleh readers di bagian sebelumnya. Lagi-lagi aku merasa sedikit terbebani tapi tak juga menyurutkan motivasi dan semangat untuk menghadirkan satu cerita yang bagus, walau pada kenyataannya jadi sedikit sulit karena ingin menyesuaikan dengan selera pembaca.

 

Dari pada kebanyakan curhat ga jelas, mendingan langsung pantengin ceritanya ya…

Happy Reading!!!!

 

INTRIGUE 3 : HURT BY THE CONSPIRACY

 

 

Pintu itu terbanting memperdengarkan bunyi debum yang cukup mengagetkan orang yang berada dalam ruangan itu. Seorang namja mendongakkan kepalanya, menatap aneh pada seorang yeoja yang muncul di depannya.

“Aku sudah tak tahan lagi dengan semua ini!” teriak yeoja itu. “Yoong, kau ini sedang galau tingkat tinggi ya? Kenapa wajahmu kusam bergitu, seperti orang yang berpenyakit kronis saja.”

“Oppa, ini bahkan lebih dari sekedar penyakit kronis. Tahukah kau kalau perusahaan sedang terancam?”

 

“Apa maksudmu perusahaan sedang terancam? Sejauh ini baik-baik saja!” sanggah Seulong. “untuk saat ini memang baik-baik saja, dan tunggulah kehancurannya sampai Sung Han berhasil menggadaikannya pada mafia.”

“Mafia? Sung Han? Kau yakin??”

 

“Aku melihatnya dan mendengar percakapannya langsung dengan para mafia itu! Aku kesal setengah mati, aku membencinya. Aku akan pastikan dia membusuk di penjara!” suara Yoona terdengar penuh emosi. “Ya Tuhan, kau serius dengan kenekatanmu kembali menguntitnya. Kau ini benar-benar keras kepala! Lagi pula tidak ada cukup bukti untuk menjebloskannya ke penjara.” Seulong berbicara dengan nada tinggi.

 

“Oppa, kenapa kau begitu meremehkanku, aku tidak menyukai sikapmu yang seperti itu!” sahut Yoona sama tinggi. “Aku tahu kau terlibat keributan dengan beberapa namja kemarin malam kan! Jangan mengelak, bahkan luka di wajahmu masih cukup jelas untuk ku lihat.” Yoona terperanjat, dari mana kakaknya mengetahui kejadian itu.

“Apa Choi Siwon yang memberitahumu? Pria itu sungguh tak bisa dipercaya!”

 

“Tapi justru aku percaya padanya dan aku berterima kasih padanya. Kalau saja dia tidak disana, aku tidak tahu bagaimana keadaanmu sekarang.” Yoona menjadi semakin kesal pada kakaknya. ”Aku yakin aku bisa mengumpulkan bukti-bukti itu. Aku tidak akan menyerah sampai aku bisa menyingkirkan Sung Han dari kehidupan keluarga kita!” Yoona meninggalkan ruang kerja Seulong dengan perasaan dongkol, dan semakin bertambah ketika mendapati Sung Han berdiri di depan pintu ruang kerja Seulong.

 

“Apa yang kau lakukan disini?” tatapan Yoona pada Sung Han terasa begitu angker. “Aku tidak melakukan apa-apa.” Jawab Sung Han sambil mengedikkan bahunya. “Aku tahu kau mendengar banyak hal. Jadi sekalian saja aku memperingatkanmu, ku harap kau nikmati saja kebebasanmu untuk detik-detik terakhir. Karena sebentar lagi aku pastikan kau akan meringkuk di penjara!”

 

“Benarkah? Memangnya kau yakin bisa?” jelas Sung Han sedang memprovokasi Yoona. “Kau menantangku? Kau tunggu saja tanggal mainnya!!”  Alis sebelah kanan Yoona tertarik ke atas, semakin menguatkan ekspresi sangar di wajahnya.

 

-0-

Yoona sengaja datang ke rumah keluarga Choi, berniat membuat perhitungan dengan tunangannya karena sulitnya namja itu menutup mulut atas kejadian perkelahian di klub kemarin malam. Yoona tak menyangka kakaknya begitu murka karena kejadian itu hingga tak bisa diajak berunding soal perusahaan.

 

“Aku ingin bertemu dengan Choi Siwon.” Kata Yoona setelah mendapat sapaan dari seorang pelayan rumah. “Ne, Tuan muda sudah menunggu anda, Nona. Silahkan ikuti saya lewat sini,” pelayan itu berjalan menunjukkan arah dimana Siwon berada, Yoona mengikutinya dari belakang. Jadi Siwon sudah memprediksi kalau aku akan datang menemuinya, batin Yoona.

 

Rumah itu sangat besar, indah dan mewah. Di setiap sudut ruangan memiliki hiasan maupun ornamen-ornamen antik dan pasti harganya sangat mahal. Yoona tak dapat mencegah pikirannya yang melayang jauh, inikah rumah yang akan aku tempati setelah resmi menjadi Nyonya Choi? Sungguh mengagumkan!

 

Mereka sampai di sebuah kolam renang di bagian belakang rumah. Siwon terlihat sedang berbaring santai di atas sebuah kursi malas. Namja itu bertelanjang dada, hanya mengenakan celana pendek selutut dan kaca mata hitam. Sepertinya namja itu sedang menikmati waktu santainya sambil menunggu kedatangan sang calon istri yang sudah siap menghujaninya dengan makian.

 

“Bos besar sepertimu ternyata punya banyak waktu santai di siang hari, Oppa.” Sindir Yoona begitu sampai di dekat Siwon. Siwon menoleh pada Yoona, senyumnya yang sungguh menawan memberikan efek pada kepala Yoona sehingga terasa begitu ringan. O..o.. Yoona terlanjur terpesona lagi. Siwon kemudian berdiri menghadap Yoona, memperlihat tubuhnya yang shirtless. Yoona dapat melihat tubuh namja itu yang bagaikan pahatan, didukung perut six packs dengan abs chocolate nya yang menggoda.

 

Tanpa sadar Yoona menelan salivanya dan langsung membuang muka. Sengaja menghindari bertatapan dengan namja itu, meskipun ia sedang menggunakan kaca mata hitam.

 

Hello, dear. You look so excited to find me here. Is there anything you wanna talk to me?” Yoona menoleh kepada Siwon kembali, mengerucutkan bibirnya dan mulai mengeluarkan unek-uneknya pada Siwon. “Oh, stop trying to make you look so good in my eyes. I know you very well when you try to seduce me!” Siwon terus saja melebarkan senyumnya.

 

Then you just need to look so mesmerized in my charm, sweet heart.” Kata Siwon sambil menyelipkan rambut ke belakang telinga Yoona. “Kau tahu, kau memiliki dahi yang begitu indah sehingga membuatku ingin selalu menyentuhnya dan mengecupnya,” Siwon menyentil pelan dahi Yoona dan memajukan wajahnya hendak mencium kening Yoona.

 

Don’t even dare to touch me, Mr. Choi!! Kau masih berhutang satu kata maaf padaku.” Siwon terkikik, dia sudah menyangka Yoona akan membahas itu. “kalau kata maaf yang kau maksud untuk kebaikanku memberikan laporan tindakanmu yang nekad pada kakakmu, kau tidak akan mendapatkannya. Aku tidak merasa melakukan kesalahan untuk itu.” Jawab Siwon enteng.

 

“Tentu saja, sudah kuduga kau akan bersikap seperti itu. Lelaki sepertimu yang memiliki segalanya dan selalu bisa mengatur semua hal sesuai keinginanmu sampai kapanpun tidak akan pernah bisa mencoba berempati dengan orang lain.” Siwon terdiam, seketika ekspresi wajahnya berubah. Kini paras tampan itu terlihat menahan amarah dan kekecewaan, tapi sepertinya Yoona belum puas dengan hal itu.

 

Siwon memutar tubuhnya, sedikit membungkuk mengambil handuk kimono yang tersampir di kepala kursi malas yang tadi dia duduki. Tanpa menoleh sedikitpun ke arah Yoona, Siwon mulai berjalan pelan meninggalkan gadis itu yang merasa heran dengan sikap yang ditunjukkannya.

 

Yoona POV

 

Sampai kapanpun aku tidak boleh lagi lengah dengan beragam perubahan situasi dan kondisi mendadak yang ada di hadapanku bila berkaitan dengan Choi Siwon. Kebodohanku karena mulai memiliki perasaan pada namja itu mulai membuatku terdesak antara mempertahankan prinsipku dan keinginan untuk menerima kehadiran rasa itu untuknya.

 

Aku ingin bisa memberikan satu kesan padanya bahwa aku bukanlah tipe wanita yang akan berbalik menyerang dengan begitu dingin bila seseorang mencoba menerobos pertahanan egoku. Tapi sekali lagi rasanya begitu sulit bila aku berhadapan dengan namja itu. Tatapan matanya, senyumnya, aroma tubuhnya, sentuhannya, bahkan seringaiannya sekalipun membuat segala hal yang telah ku tata rapi dalam pikiranku menjadi porak poranda. Dan aku merasa kesulitan mengendalikan emosi yang bercampur kegugupan sehingga aku terbiasa mengeluarkan kata-kata pedas padanya.

 

Melihat punggungnya yang mulai menjauhiku menimbulkan satu rasa khawatir dalam hati, mungkinkah kali ini dia tersinggung dengan ucapanku, padahal selama ini menurutku dia adalah orang dengan intensitas kecuekan tertinggi di dunia. “Yang aku katakan benar kan? Kau bahkan tidak mencoba menyangkalnya!” teriakanku membuatnya berhenti sesaat, tapi tak sedikitpun dia menoleh melihatku yang berdiri agak jauh dibelakangnya.

 

“Ya, kau benar. Berempati adalah hal yang sangat sulit aku lakukan karena seumur hidup aku tak pernah berada dilingkungan yang tepat untuk mencoba hal yang satu itu. Aku memang tak bisa mencegahmu menilaiku sebagai pria paling egois dan paling pantas untuk dibenci. Tapi apapun yang kulakukan untukmu semua itu demi kebaikanmu karena aku peduli padamu. Terserah kau mau percaya atau tidak dengan yang aku ucapkan.” Aku mendengar nada kecewa dalam suaranya. Apakah sikapku sudah kelewatan padanya? Semoga saja tidak.

 

Aku mengikutinya berjalan masuk ke dalam ruangan, rasa bersalah tiba-tiba memenuhi pikiranku. Aku tak begitu memperhatikan ruangan demi ruangan yang kulalui ketika mengikuti langkahnya, yang aku lihat sekarang dia telah duduk menghadapku di sebuah sofa single dengan posisi arogan yang biasa diperlihatkannya. Aku menghentikan langkahku, mulai memperhatikan sekeliling. Ruangan itu terasa hangat, memiliki ornamen yang sangat memanjakan mata. Sekarang saja aku sedang menginjak karpet bercorak emas yang pasti sangat nyaman kalaupun ada seseorang yang mencoba berbaring di atasnya.

 

“aku tidak pernah membencimu, hanya saja entah kenapa sulit sekali bagiku untuk bersikap manis padamu.” Kalimat itu yang pertama muncul dalam pikiranku dan langsung kulemparkan padanya. Dia tersenyum, senyum separuh yang selalu berhasil membuat jantungku berdetak lebih cepat. Kumohon hentikan sekarang juga, aku tak mau jatuh ke dalam pesona itu lagi.

 

“Aku tahu. Kau bukannya tidak bisa, hanya saja kau terlalu gengsi untuk mencoba melakukannya.”  Aku rasa kau benar, aku memang terlalu gengsi untuk menunjukkan kelemahanku padamu. Sekarang saja aku sangat ragu untuk menjawabmu. “Maafkan aku kalau kau sangat membenci ideku memberitahu kakakmu soal kejadian kemarin malam.” Akhirnya seorang Choi Siwon bisa mengeluarkan kata maaf yang tulus dari mulutnya, satu kemajuan yang baik.

 

“Sudahlah lupakan soal itu. Dari pada kedatanganmu kesini menjadi sia-sia, bagaimana bila aku menawarkanmu bantuan untuk menemukan bukti-bukti kecurangan Im Sung Han. Kau sangat ingin mendapatkannya sehingga kau bisa mengirim Sung Han ke penjara, bukan?”

 

“Dari mana kau tahu soal Sung Han? Aku tak pernah mengungkapkan semua itu padamu! Ah… pasti Seulong Oppa yang memberitahumu.” Dia mengedikkan bahunya, memutar bola matanya. “Kau masih saja meremehkan kemampuanku mengendalikan banyak situasi, bahkan sekarang kakakmu sangat percaya padaku..” Kemudian ia bangkit dan berdiri dihadapanku, aku sedikit mendongakkan kepala memandangnya karena tingginya yang melebihi kepalaku.

 

“Tahukah kau bahwa hidupmu sudah berada dalam genggamanku?” Siwon menunjukkan satu tangannya yang terkepal tepat di depan wajahku. Aku menyeringai, mencoba mencari canda dalam tatapan matanya tapi aku tak mendapatkannya. “Benarkah kau akan membantuku? Aku yakin itu tidak gratis. Cepat katakan apa yang kau inginkan!” Aku sangat ingin tahu motif apa dibalik tawarannya yang menggiurkan itu.

“Sepertinya kau bisa membaca pikiranku. Aku akan membantumu sampai tuntas, sebagai gantinya kau harus tidur denganku!” Aku melebarkan mataku, menatapnya nanar. Aku melayangkan satu tamparan keras di pipi kirinya. Tanganku terasa panas, begitu pula pipiku yang sekarang memerah menahan amarah dan rasa malu.

 

“Sudah kuduga kau punya motif menjijikkan di balik kesedianmu membantuku.” Aku tidak tahu ekspresi apa yang ditunjukkannya saat ini, dia bahkan tidak marah aku sudah menamparnya dengan begitu keras. “Cepat atau lambat tetap saja aku akan menidurimu. Kalau tidak dalam waktu dekat, maka hal itu akan terjadi di malam pengantinmu.” Napasku mulai memburu, kata-katanya membuat telingaku panas. Dengan emosi aku memukul-mukul dadanya menggunakan kedua tanganku. “Dasar namja tidak punya perasaan! Kau memperlakukanku seperti wanita murahan!!”

 

Dia mencoba menghalau tanganku yang semakin keras memukulnya, karena satu dorongan yang kuat kami berdua jatuh di atas sofa dan tubuhku berada di atas tubuhnya. “Yaakk!! Aku hanya bercanda. Kenapa kau semarah itu… kau ini mengerikan sekali. Lagi pula dengan posisi seperti ini apa kau ingin curi start eoh?? ” Dia tersenyum jahil sambil memeluk pinggangku erat.

 

“Candaanmu tak lucu! Sekarang lepaskan aku. You’re such a pervert!!!” Aku berusaha bangkit, tapi Siwon malah semakin mempererat pelukannya. “Tidak, sampai kau berjanji akan tetap aman. Kau ikuti saja permainanku, maka Sung Han berada di bawah kuasamu.” Aku memandangnya tak percaya. Dengan jarak wajah sedekat itu aku mulai merasa pipiku memanas, pasti rona wajahku berubah merah lagi. “Baiklah, kali ini aku akan ikuti instruksimu. Aku akan mencoba percaya padamu.” Siwon tersenyum, aku tahu pasti dia bisa mendengar degup jantungku yang kencang.

 

“Gomawo, jagiya” satu tangannya membelai rambutku dan tanpa aba-aba Siwon langsung memagut bibirku. Ciumannya terasa begitu manis hingga lututku jadi lemas. Tamatlah, aku jatuh lagi ke dalam pesonanya. Aku tak lagi punya imunitas untuk menolaknya.

-0-

 

Ketika aku masih belajar di Eropa, aku pernah mendengar seorang dosen yang memberiku wejangan satu kalimat bijak yang berbunyi “A second distraction on the road can kill you” . Pada saat itu aku tak mengerti apa maksudnya. Aku mencoba menafsirkannya kata demi kata, tapi tak ada yang ku dapat – hanya jalan buntu. Sekarang aku mulai memahaminya setelah aku mengalami beberapa kejadian. Aku mencoba menyelesaikan satu masalah dengan memberi fokus pada masalah tersebut, dan di saat yang sama aku mengabaikan gangguan dari berbagai pihak tanpa memprediksi akibat dari kelengahanku untuk mengahalaunya. Maka, yang hadir adalah jalan terjal yang semakin menghambat lajuku. Mau tak mau aku harus mengakui kekalahan sebagai akibat aku telah meremehkan satu masalah kecil.

 

Seperti itulah yang ku alami saat ini. Aku tak menyangka Choi Siwon akan menjadi dewa penyelamat di saat aku berusaha menyingkirkan perannya dalam drama hidupku. Bahkan kehadirannya kini tak lagi menjadi duri dalam daging, malah sekarang lebih seperti oase di tengah padang pasir.

 

“kau sedang memikirkan seseorang?” suara seorang namja membuatku tersentak dan menyeretku keluar dari lamunanku. “Wasseo… “ hanya anggukan yang diperlihatkan Changmin padaku. Aku mengerutkan dahi pada tatapannya yang terkesan menyelidik. Sudah jelas bila keinginannya bertemu denganku pasti ingin membahas sesuatu yang penting, apalagi kalau bukan soal Choi Siwon, sahabat yang divonisnya memiliki penyakit playboy kronis.

 

“Mengapa kau melihatku dengan tatapan curiga seperti itu?” aku berlagak sok cuek. “Apa yang sudah kau lakukan pada Siwon?” aku mengerutkan kening. “Aku melakukan apa padanya, apa maksudmu Changmin-ssi? Aku tidak mengerti…”

 

“kau tahu belakangan Siwon bersikap sedikit aneh, dia beberapa kali terlihat uring-uringan bila sudah berurusan denganmu. Berita bagusnya, dia mulai tak punya waktu bertemu dan berpesta dengan wanita-wanita di luar sana. Justru sekarang dia lebih sering sok sibuk dengan pekerjaannya. Aku tak percaya dia bisa bersikap 180 derajat berbeda dari biasanya.” Mwo?? Aku rasa Changmin sedang bergurau, mana mungkin Siwon menjadi seperti itu.

 

“Paling juga sebentar lagi penyakitnya akan kumat lagi. Memangnya kau yakin dia jadi seperti itu sekarang?” aku jadi penasaran ingin melihat Siwon yang uring-uringan, karena biasanya dia bersikap terlalu calm dan cold bila berurusan dengan wanita.

 

“Lalu bagaimana dengan bodyguardmu itu?? Kau masih ingin menyangkal tidak terjadi sesuatu antara kau dan Siwon?’ Ah, aku baru sadar sekarang aku sudah punya pengawal khusus yang diperintahkan Siwon. Memang hanya ada dua orang, tapi itu aku dapat setelah mati-matian berdebat dengannya yang berniat memberiku enam pengawal. Dasar gila! Aku bisa dikira putri presiden yang sedang keliling kota. “Emm… kalau soal itu aku sedang terlibat satu masalah dan dia hanya mengkhawatirkan keselamatanku. Itu saja, aku memang merasa dia sudah berlebihan.”

 

“Daebak…. Good job, Yoona-ssi. Kau sudah berhasil sedikit demi sedikit memaksa Siwon untuk keluar dari hidupnya yang dinahkodai nafsu semata. Melihat betapa khawatirnya Siwon padamu, artinya kau sudah menjadi harta yang berharga baginya. Ternyata kau tidak butuh bantuanku untuk menaklukkan seorang Choi Siwon, kau benar-benar wanita yang sangat spesial!” Aku tergelak mendengar Changmin tentang perumpamaan kehidupan Siwon yang diungkapkannya.

Chukkae…

“Mwo?? Kau berlebihan Changmin-ssi…” setelah itu kami tertawa bersama, sepertinya Changmin memang sosok yang sangat fleksibel dan menyenangkan untuk dijadikan sahabat. Siwon beruntung memiliki Changmin di sisinya.

 

-0-

Beberapa kali eomma menginterogasiku soal dua orang pria aneh yang kerap muncul di rumahku. Aku selalu pelan-pelan memberi penjelasan pada eomma soal pengawal pribadiku, aku tahu eomma tidak menyukai beragam bentuk kekerasan seperti apapun bentuknya. Bodyguard atau apapun namanya tetap jadi sosok yang tak biasa di mata eomma. Suatu ketika eomma menertawaiku ketika dengan kesal aku berteriak di telepon pada Siwon karena berniat menambah pasukan pengawalnya.

 

“Yoona-yah, calon suamimu sungguh protektif sampai-sampai dia menyiapkan sekompi tentara untuk menjagamu ketika dia tidak ada di sampingmu. Sepertinya kehidupanmu sebagai the next Mrs. Choi sudah dimulai, sayang!” Eomma mengucapkan kalimat itu dengan riangnya. Aku merasa eomma sedang mengejekku atas benteng yang berniat dibangun oleh Siwon di rumahku sendiri.

 

Kedua kakakku pun setali tiga uang. Mereka mulai suka menggodaku setiap kali ada kesempatan. Jin Ah eonni misalnya, dia masih terus mengingatkanku soal prinsip wanita yang dicekokinya padaku, “Yoona-yah, ingatlah kau tidak boleh terlalu berada di bawah kuasa pria. Tunjukkan bahwa kau juga bisa mengendalikannya. Aku yakin jika kau mau berusaha lebih keras lagi, maka Choi Siwon sepenuhnya akan menuruti semua keinginanmu. Sekarang saja kau sudah diperlakukannya seperti seorang princess, pasti ke depannya posisi sebagai ratu tak akan lari dari genggamanmu.” Aku memutar bola mata mendengar Jin Ah eonni punya motivasi seperti itu untuk diajukan padaku. Bagaimana mungkin aku akan memaksakan kehendak pada Choi Siwon bila aku selalu kehilangan kekuatan bila berhadapan dengannya.

 

Sedangkan Seulong Oppa, dia memberi nasehat panjang lebar soal bagaimana aku harus bersikap kepada calon suamiku, tidak seperti sikap yang kutunjukkan selama ini. “Oppa yakin Siwon akan  menjagamu dengan baik. Kau harus bahagia bersamanya,” Mungkinkah kebahagiaan itu akan datang kepadaku? Dari beberapa sifat yang dimiliki Siwon, banyak yang tak kusukai. Lantas apakah aku bisa menerimanya atau tidak, biarlah waktu yang menjawab.  Ya Tuhan… sepertinya nama Choi Siwon sudah memenuhi setiap sudut ruang di rumahku.

 

Jagiya, semua bukti sudah ada di tanganku. Sebentar lagi apa yang kau inginkan akan segera terwujud, Im Sung Han bisa segera kau jebloskan ke penjara.” Suaranya dari seberang telepon membangkitkan semangatku, terlebih karena berita yang disampaikannya.

Jinja?? Oppa kau tidak bercanda kan?? Oppa, gomawo…” Aku bisa tersenyum lebar sekarang, akhirnya penantianku terjawab sudah. Aku sungguh beruntung mendapat bantuan dari calon suamiku itu.

 

Aku segera memberitahu Seulong Oppa soal kabar gembira ini. Oppa cukup kaget dengan prosesnya yang cepat. Tapi kemudian ia justru melayangkan pujian untuk Siwon yang telah bersedia melakukan banyak hal untukku dan keluargaku, termasuk melacak kaitan Sung Han dengan para mafia. Sempat terlintas di kepalaku berapa banyak uang yang sudah dikeluarkan olehnya untuk mendapat semua informasi dan bukti-bukti mengingat tidaklah mudah masuk ke dalam jaringan mafia.

 

“Nona Im…” aku dikejutkan dengan sapaan salah satu bodyguard yang biasanya menjagaku. “Ne.. ada apa?” aku merasa ada gelagat yang tidak menyenangkan sudah terjadi. “Kami baru mendapat informasi kalau Im Sung Han sudah tahu bahwa kejahatannya telah diketahui oleh anda, dia mencoba melarikan diri ke luar negeri. Sekarang beberapa rekan kami sedang berusaha mencegahnya.”

“Mwo??!! Sialan, jadi dia berusaha kabur! Bawa aku ke tempatnya berada sekarang!” perintahku padanya. “Tapi Tuan Choi tidak akan mengizinkan, Nona.” Ch, tidak masuk akal kalau aku membiarkannya lolos lagi. “Yaak, bukankah sekarang atasanmu adalah aku? Jadi sebaiknya kau turuti saja apa mauku, aku yang akan bertanggung jawab pada Tuan Choi-mu itu!” Akhirnya aku berhasil memaksa bodyguard itu untuk membawaku ke tempat Sung Han berada.

 

Aku tak sempat berganti pakaian atau apapun. Aku masih menggunakan dress yang tadinya kupakai untuk pergi ke rumah Jessica, karena malam ini kami berniat mengadakan pesta piyama walau prakiraan cuaca memprediksi malam ini akan terjadi hujan deras sampai badai kecil. Sepertinya aku tak bisa bergabung dengannya, jadi buru-buru aku harus membatalkan janjiku. Jessica sempat protes, tapi aku berjanji akan menjelaskannya esok hari.

 

“Yoong, kenapa terburu-buru begitu? Kau nekad mau menginap di rumah Jessica? Malam ini akan terjadi hujan deras. Lebih baik kalau kau tetap di rumah,” hardik Eomma yang melihatku berlari menuruni tangga rumah. “Yaahhh eomma, itukan hanya prediksi, belum tentu benar-benar ada badai kan! Aku langsung berangkat, aku sudah ditunggu.” Ditunggu?? Ya, aku ditunggu saat-saat yang tepat untuk menangkap Im Sung Han. Aku tak boleh kehilangan jejaknya lagi, atau aku akan gagal untuk selamanya.

 

Aku mengecup singkat pipi kanan eomma kemudian berjalan cepat menuju mobil yang sudah disiapkan oleh kedua bodyguardku. Kata terakhir itu sepertinya menunjukkan bahwa aku mulai menikmati dan mensyukuri kehadiran mereka. Ucapan terima kasih sungguh pantas diterima Choi Siwon, setidaknya aku merasa cukup aman dengan situasi ini. Bahkan aku tak pernah membayangkan memiliki pengawal pribadi yang senantiasa menjagaku dan memastikan aku tetap aman dimanapun aku berada.

 

Mobil yang kutumpangi berhenti di tempat parkir sebuah gedung apartemen. Aku kenal tempat itu, apartemen yang dibeli oleh Sung Han beberapa waktu lalu. Aku juga pernah mengikutinya kesini. Aku hanya pernah sekali datang kesini, perkataan Siwon soal mafia yang sering datang ke tempat ini membuat nyaliku ciut. Apalagi Siwon juga melarang keras aku datang kesini lagi, jadi secara diam-diam aku hanya menyuruh detektif swasta untuk mengawasi tempat ini.

 

Aku mengerutkan dahi, merasa heran dengan para bodyguard yang membawaku kesini. “Kenapa kalian membawaku kesini? Apa Sung Han masih berada disini?” aku menanyai salah satu bodyguard yang membukakan pintu mobil untukku. “Sung Han memang ada disini, Nona. Rekan kami menyergapnya ketika dia berada di bandara dan mencoba melarikan diri ke luar negeri. Tuan Choi yang memerintahkan kami untuk sementara menahannya di apartemen ini.” Aku menganggukkan kepala tanda mengerti, jadi Siwon sudah mengatur sedemikian rupa agar aku bisa menemui Sung Han sebelum aku menjebloskannya ke penjara.

 

Aku masuk ke dalam apartemennya yang kelihatan sepi. Tak ada suara yang terdengar meskipun terdapat beberapa bodyguard di dalam sana. Aku melihat Sung Han duduk terpaku di salah satu sofa di ruang tamu. Kepalanya menunduk dan di samping kanan kirinya terdapat pengawal yang siap sedia mengawasinya selama 24 jam. Sung Han mendongakkan kepalanya saat mendengar langkahku yang datang mendekatinya. Aku berdiri tepat di depannya dengan sedikit jarak yang diatur oleh pengawalku. Dia tersenyum padaku, senyuman licik dan aku membalasnya dengan tatapan jijik.

 

“Bisa kalian tinggalkan kami sebentar? Aku ingin bicara empat mata dengannya…” perintahku kepada seluruh bodyguard yang ada. “Maaf Nona, kami mendapat perintah tak boleh sedektikpun kehilangan pengawasan terhadap anda.” Aku mengerti, Siwon jelas tak akan membiarkan itu terjadi. Aku menghela napas, setidaknya aku akan selalu aman bila suatu ketika Sung Han mencoba macam-macam denganku.

 

“Sepertinya kau beruntung sekali memiliki calon suami yang sangat kaya raya, Yoona. Bahkan dia mau melakukan apa saja untukmu. Kau pasti senang sekali sebentar lagi menjadi Nyonya Choi yang hidupnya bergelimang kemewahan.” Sung Han mulai mengeluarkan unek-uneknya padaku. “Tutup mulutmu, aku tak tanya pendapatmu tentang kehidupan pribadiku. Sekarang kau hanya perlu menjelaskan semua kebusukanmu sebelum aku melemparmu ke dalam penjara!” suaraku langsung keluar dengan nada tinggi.

 

“Aku tahu kau sudah punya bukti semua kejahatanku, lantas mengapa kau masih menanyakannya lagi?”

“Aku ingin kau mengakui tujuanmu sesungguhnya masuk ke keluargaku dan mencoba menghancurkan segala yang kami miliki. Aku yakin ini bukan sekedar harta dan perusahaan, kau pasti memiliki maksud tersembunyi. Memangnya tidak cukup selama ini ayahku dengan begitu baik hatinya mengangkatmu dari jalanan hingga kau hidup berlebihan seperti ini tapi kau malah berkonspirasi ingin merusak segalanya?”

 

“Ah… ternyata aku tak salah menilaimu sebagai orang nomor satu yang harus diwaspadai. Kau jauh lebih teliti dan lebih berbahaya dari kedua saudaramu. Tentu saja aku punya maksud sendiri dan ini ada kaitannya dengan masa lalu ayahmu. Tapi sayang, aku sama sekali tak berniat memberitahumu,” Aku menyipitkan mata menelaah kalimat demi kalimat yang diucapkannya. “Tak usah berasalan, cepat kau katakan semuanya atau kau akan menyesal karena aku tak akan membiarkanmu hidup tenang!”

 

“Oh baiklah kalau begitu. Aku tidak akan rugi juga melihat salah satu putri Tuan Im yang sangat terhormat menangis darah bila tahu perbuatan keji ayahnya,” dengan susah payah aku menelan salivaku melihat ekspresi wajahnya yang tiba-tiba mengeras. “Sesungguhnya balas dendamku sudah nyaris berhasil jika kau tak mencampuri dan menggagalkan semua rencanaku.”

 

“Balas dendam. Apa maksudmu??” Aku mulai tidak sabar dan sedikit demi sedikit aku merasakan emosiku semakin tinggi. “Yahh aku ingin balas dendam dengan perbuatan ayahmu di masa lalu yang sudah menyia-nyiakan ibuku hingga ibuku terus hidup dalam kesusahan dan aib. Dan aku menjadi anak haram paling sial di dunia dengan kehidupanku yang seperti itu. Asal kau tahu, walaupun Tuan Im sudah memiliki keluarga sendiri ia masih sering mendatangi ibuku, mencoba memberikan perhatian untuk menghapus rasa bersalahnya. Bahkan ia rela berbohong pada istrinya mengenai keberadaan ibuku, ia menipu semua anak-anaknya bahwa ia juga memiliki anak sepertiku.” Sekarang dia berdiri dan menatapku dengan tatapan nanar.

 

Maldo andwe! Ayahku bukan orang seperti itu. Kau hanya mengarang cerita untuk memprovokasiku sehingga aku membenci ayahku sendiri.” Aku bereriak dan mataku terasa sangat panas. “Lihatlah, betapa pintarnya ayahmu membentuk citra diri di hadapan keluarganya. Semua tak akan percaya bahwa Tuan Im yang baik hati adalah seorang pendusta!”

 

“Diamlah, hentikan kebohonganmu. Dasar kau penipu! Kau yang telah menipu keluarga kami, kau dan ibumu yang telah menjebak ayahku hanya demi kehidupan layak yang kalian inginkan!!” Satu tinju kulayangkan ke wajahnya begitu keras hingga ia terjatuh kembali ke sofa di belakangnya. Dengan satu ibu jari Sung Han menghapus darah yang keluar dari sudut bibirnya. Dia menoleh dan menatapku dengan sangar. “Kalaupun kau membunuhku tetap saja kau tidak akan dapat menyangkalnya. Kau tahu, aku merasa cukup puas telah membuat Tuan Im kolaps hingga ia menjemput kematian. Aku jadi lebih mudah melakukan konspirasi untuk mendapatkan sebagian besar perusahaan maupun harta keluargamu karena Seulong adalah orang dengan pikiran paling positif yang aku kenal di dunia ini. Dia bahkan tak sedikitpun mencium gelagat kecuranganku.”

 

“Apa kau bilang, kau adalah penyebab kematian ayahku?” Aku membungkuk di atas tubuhnya dan menarik kera bajunya, meremasnya dengan penuh emosi. “Ya! Aku lah yang membunuh ayahmu yang sok suci itu. Aku sungguh beruntung bisa menjadi penyebab kematiannya!” Sung Han bahkan tak sedikitpun menyesali perbuatannya. Sedangkan aku, emosiku sudah naik sampai ke ubun-ubun dan aku kalap. Dengan begitu marahnya aku menghujani Sung Han pukulan demi pukulan. Sung Han bukannya tak mencoba melawanku ataupun mendorongku. Beberapa bodyguard memeganginya sehingga dengan leluasa aku terus menerus memukulinya, menendangnya, dan terbesit satu pikiran untuk membunuhnya.

 

Tak dipungkiri darah pun mulai bercucuran dari setiap luka akibat pukulanku di wajahnya. Kini wajahnya sudah lebam, dan aku masih seperti kerasukan setan memberinya pukulan demi pukulan. “Sialan, kau memang brengsek! Kau orang yang tak tahu terima kasih. Aku tidak akan pernah memaafkanmu, kau memang pantas mati membusuk di penjara!! Arrrggghhh!!!” makian dan sumpah serapah terus keluar dari mulutku. Air mata keluar dari mataku seiring dengan emosi yang memenuhi diriku.

 

Aku merasa tubuhku ditarik oleh seseorang yang menghentikan aksiku. Dengan sedikit kasar ia menghadapkan tubuhku padanya. “Yoona, Sayang… Hentikan!! Kau bisa membunuhnya!! Sudah cukup.. Sudah cukup…” ternyata Siwon yang muncul dihadapanku. Aku menatapnya masih dengan amarahku yang menggebu-gebu. “Tidak Oppa, aku ingin membunuhnya… dia telah membunuh ayahku!!” aku mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Siwon, tapi tak berhasil. “Tidak sayang, bukan seperti itu cara menyelesaikannya.. tenanglah, semua akan baik-baik saja.” Dia membawaku ke dalam pelukannya. Aku menangis meraung-raung di dadanya, bahkan kini kemejanya sudah hancur karena air mataku yang membasahinya.

-0-

Kata orang salah satu jalan terbaik untuk mengurangi stress adalah berusaha melupakan masalah yang berat itu walau untuk sesaat. Aku juga ingin mencobanya. Segala sesuatu tentang Sung Han dan segala yang dikatakannya telah berhasil membuat kepalaku serasa akan pecah. Aku ingin sekali melupakan segala kalimat yang keluar dari mulutnya, tapi kebenaran yang diakuinya bahwa dialah penyebab kematian ayahku sungguh membuatku tak berdaya. Jantungku seakan ditusuk oleh ribuan pisau. Aku ingin sekali kehilangan kesadaranku walau hanya untuk 5 menit, untuk sejenak melupakan kesedihanku. Segala yang kudengar saat kejadian tadi telah menghancurkan banyak hal, termasuk kepercayaanku pada mendiang ayahku maupun pada diriku sendiri.

 

Aku meminta waktu sendirian kepada Siwon, tapi dia menolak meninggalkanku. Dia khawatir aku akan melakukan hal-hal bodoh. Terserah padanya mau bilang apa, aku sedang tak ingin berdebat dengannya. Dia duduk dengan sabar di depanku, menungguku yang asyik menenggak Soju di sebuah kedai dipinggir jalan tanpa sekalipun berusaha menghalangiku. Aku bukan orang yang kuat minum, bahkan tiga gelas kecil saja sudah membuatku pusing. Dengan sedikit sisa kekuatan aku bangkit berdiri, berjalan meninggalkan kedai itu dengan langkah lunglai dan sempoyongan. Hujan mulai turun disertai angin yang cukup kencang, mungkin badai sudah datang sesuai prediksi. Tapi aku masih saja berjalan tak tentu arah, aku tahu Siwon masih setia mengikutiku. Hujan pun semakin deras, sekarang gaunku sudah basah kuyup karena bahannya yang cukup tipis. Akhirnya Siwon kehilangan kesabarannya, dia memaksaku naik kepunggungnya dan menggendongku ala piggy back menuju mobilnya.

 

Aku memandang keluar jendela kamar yg terbuat dari kaca bening, hujan turun begitu deras dan badai memang telah datang walau hanya badai kecil. Beberapa kali suara petir terdengar menggelegar memekakkan telinga. Kilatan demi kilatan tertangkap retina mataku membuatku buru-buru menutup gorden kamar yang sangat besar dan indah itu. Aku berada di salah satu kamar tamu di rumah keluarga Choi. Siwon sengaja membawaku ke rumahnya karena jaraknya yang lebih dekat dari tempat terakhir kami berada, mengingat badai telah datang jadi sangat beresiko mengantarkanku pulang ke rumah.

 

Aku duduk terpaku mengingat kejadian yang ku alami, kejadian yang begitu menyesakkan hati, kejadian yang sekarang membuatku kembali menangis tersedu-sedu. Aku duduk sambil menekuk lutut dan memeluk tubuhku sendiri yang berbalut handuk kimono karena gaunku yang basah total, sedangkan gaun tidur yang diantarkan pelayan masih tergantung rapi di sisi lemari. “Tidakkah kau lelah terus menerus menangis seperti itu. Lebih baik kau istirahat, aku takut kau kelelahan hingga jatuh sakit.” Aku mendongakkan kepala dan mendapati Siwon sudah berdiri di hadapanku. Mabukku memang sudah hampir hilang tapi rasa gundahku tak juga berkurang, malah semakin memburuk.

 

“Oppa, tidak bisakah kau belajar berempati sedikit padaku? Ini bukan waktu yang tepat untuk bertengkar.” Siwon membungkukkan badannya dan mensejajarkan wajahnya denganku. “Maafkan aku bila kau tersinggung. Tapi tak sedikitpun aku berniat menyudutkanmu atau apapun. Tahukah kau, aku pikir aku mulai bisa merasakan apa itu empati. Melihat keadaanmu seperti ini membuatku tidak bisa tenang, pikiranku juga kacau. Aku takut melihatmu dengan wajah murung. Aku akan lebih senang bila kau memperlihatkan wajah galak dan kata-katamu yang pedas padaku daripada melihat wujudmu yang seperti zombie.” Dia tersenyum memperlihatkan kedua lesung pipinya, sedangkan tangannya menangkup wajahku, menyentuh kedua pipiku dan rasanya begitu hangat.

 

“Aku juga mulai bisa berempati dengan wanita-wanita yang sering kau goda dengan kata-kata manis dan perlakuan romantismu, Oppa.” Seketika moodku yang jelek mulai berubah lebih baik, mungkin kalimat gombal yang dilontarkan Siwon memberikan efek yang cukup signifikan bagiku. Mendengar ucapanku Siwon menggeleng, kemudian ia kembali berdiri tegak.

 

“Kau harus tahu, Sayang. Aku tak pernah memperlakukan wanita di luar sana seperti aku memperlakukanmu. Aku tak peduli hal apa yang menimpa mereka seburuk apapun itu. Tapi dirimu, aku merasa kau adalah wanita paling rapuh yang harus selalu kujaga dengan begitu ketat sehingga aku tak akan kehilanganmu.”

 

“kau takut kehilangan diriku?” aku melebarkan kedua mataku menatapnya. “Ya, aku takut kehilanganmu karena aku mencintaimu. Aku mencintaimu… Im Yoona.” Aku kaget, kata itu begitu saja meluncur dari mulutnya. Tidak… Yoona kau tidak boleh percaya begitu saja, ingatlah siapa Choi Siwon. Aku buru-buru berdiri dan mendekatinya, aku menatapnya penuh kecurigaan. “Jangan bercanda Oppa, apalagi dengan kata cinta. Aku tak ingin merasa diberi harapan.”

 

“Aku tidak sedang bercanda. Aku berani bersumpah kalau kau adalah wanita pertama yang mendengar kata itu keluar dari mulutku. Dan aku tak sedang mencoba memberimu harapan, karena kenyataan sudah ada di depan matamu. Aku akan selalu ada untukmu.” Ya Tuhan, aku harap ini bukan mimpi. Tiba-tiba saja rasa bahagia membuncah dari dalam dadaku, kepalaku pun terasa begitu ringan. Aku mulai merasakan sentuhan Siwon kembali ditubuhku dan masih terasa sama – hangat. Untuk kesekian kalinya ia menciumku, melumat bibirku dan aku tak kuasa untuk menolaknya. Tak berapa lama, aku terkesiap karena aku merasakan dia berusaha menarik simpul handuk kimonoku, memaksanya untuk terbuka. Aku melepaskan ciuman kami dan menatapnya, “Oppa, jangan lakukan itu, kita belum menikah. Aku berjanji akan memberikan semuanya padamu bila saatnya telah tepat,” kini salah satu tangannya telah berada ditengkukku. “Please, aku menginginkanmu malam ini. Aku sungguh menginginkanmu, Yoona.” Dia kembali melumat bibirku, kali ini lebih menuntut dan semakin panas. Aku menyerah padanya ketika ia berhasil memaksa kimono itu terlepas dari tubuhku dan mendorongku ke ranjang tanpa melepas ciumannya. Akhirnya Siwon mendapatkan apa yang diinginkannya malam itu, ditengah hujan badai yang melanda kota. So easily, I have fallen into the devil’s trap and got enjoy it like it was a sweet sin.

-0-

 

Suara kicauan burung terdengar begitu merdu, rupanya badai semalam telah berakhir berganti dengan hari yang cerah. Aku membuka mataku yang terpejam, memaksa retinaku menerima cahaya dari ruangan itu. Ruangan yang terasa sangat asing tapi justru aku telah semalaman berada di dalamnya. Aku merasa tubuhku seperti terasa remuk dan juga merasakan selimut tebal yang menutupi tubuhku yang polos dibawahnya. Aku mendapati Siwon berada disampingku, dibawah selimut yang sama, sedang menopang tubuhnya pada salah satu siku dan menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan. Otakku langsung memutar kembali kejadian yang berlaku semalam. Kata demi kata maupun sentuhan demi sentuhan, saat-saat pertama kalinya aku begitu intim dengan seorang pria bahkan bercinta dengannya. Seketika pipiku terasa panas karena malu, aku pun tak berani menatapnya.

 

“apa kau senang telah mendapatkan apa yang kau inginkan, Oppa?” tanyaku begitu skeptis. Dia tersenyum dan masih menatapku intens. “aku bahagia. Sangaatt… bahagia. Aku tahu aku adalah yang pertama bagimu dan akan menjadi satu-satunya untukmu. Jagiya, kau adalah wanita yang paling sempurna bagiku dan kau adalah milikku. Hanya untukku..” Tangannya membelai rambutku begitu lembut, kemudian memberi satu kecupan panjang di keningku. Aku tersenyum singkat sebagai reaksi atas perlakuannya padaku. Aku tak tahu harus bersikap bagaimana, haruskah aku juga turut bahagia atau justru aku harus menyesalinya.

 

Setelah selesai sarapan bersama dengan berbagai hidangan yang menggugah selera – tapi tak juga membuat selera makanku meningkat – Siwon mengantarkanku pulang ke rumah. Selama perjalanan tak sepatah katapun keluar dari mulutku, aku terlarut dengan pikiranku sendiri. Siwon juga terlihat enggan menginterupsi lamunanku. Biarlah dia menduga-duga bahkan mungkin salah paham dengan apa yang sedang aku pikirkan. Eomma sempat terlihat kaget dengan ekspresi tak percaya mendapatiku pulang bersama Siwon, tapi tak sedikitpun eomma mencoba menginterogasiku di depan Siwon.

 

Aku langsung masuk ke dalam kamarku, berbaring telungkup dan menangkupkan wajahku di ranjang. Kata-kata Sung Han kembali menghantuiku, terus terngiang di telingaku. Aku menutup kedua telinga dengan tanganku. Aku mengentakkan kakiku ke ranjang berulang-ulang, mencoba mengeluarkan emosi sesaat. Aku seperti orang sinting yang terlupa meminum obatnya.

 

“Yoona-yah, apa yang terjadi, Nak? Mengapa kondisimu sangat kacau seperti ini, apa kau bertengkar dengan Siwon?” ternyata eomma sudah berada di dalam kamarku. Raut wajahnya begitu khawatir dengan keadaanku. Aku menggeleng menjawab pertanyaan eomma. “eomma, aku ingin bertanya sesuatu. Tapi aku mohon jangan pernah memberikan keterangan palsu untuk setiap pertanyaanku. “Soal apa? Tanyakanlah, eomma akan menjawab sebanyak yang eomma tahu.”

 

“Ada hubungan apa antara Appa dengan ibu Sung Han? Eomma pasti tahu sesuatu soal itu…”

“Tidak ada hubungan apa-apa, sayang. Mengapa kau menanyakan itu?” jawab eomma begitu tenang. “lalu apakah eomma tahu bahwa diam-diam appa sering menemui wanita itu?’

“Tentu saja eomma tahu. Tidak ada rahasia antara eomma dan Appamu, Nak. Kau ini kenapa bertanya hal yang aneh seperti itu sih?”

“Lantas mengapa Sung Han mengatakan kalau Appa sering menemui ibunya seolah memberikan perhatian dan ingin menebus rasa bersalah?”

“mwo? Sung Han bicara begitu? Itu tidak benar. Ayah hanya memenuhi pesan terakhir sahabatnya, Song Dong Hyuk, kau kenal dia kan?”

“Song Ahjussi?”  Eomma mengangguk. “Ne, Song Ahjussi meninggal karena kecelakaan lalu lintas beberapa tahun yang lalu. Sebelum meninggal ia meminta Appamu untuk merawat seorang wanita yang memiliki seorang anak laki-laki. Ternyata anak itu adalah anak Song Dong Hyuk, tapi dia tak pernah menikahi wanita itu. Dia merasa sangat bersalah karena itu ia meminta bantuan ayahmu sebagai keinginan terakhirnya sebelum meninggal.”

“lantas mengapa Appa tidak pernah memberitahu pada Sung Han kenyataan yang sebenarnya??” air mata sudah membanjiri mataku, dan sudah membuat pandanganku mengabur karenanya. “Ini semua karena Song Dong Hyuk tidak ingin Sung Han membencinya dan menganggapnya ayah yang tak bertanggung jawab serta menyalahkan ibunya. Jadi dia memaksa Appamu untuk tetap merahasiakan semua itu.”

 

Tiba-tiba dadaku terasa sakit, keterangan eomma sudah menjawab semuanya. Sung Han telah salah sasaran, Appa sama sekali tak bersalah karena memang tak ada hubungannya dengan ibunya. Jadi Appaku meninggal karena usaha konspirasi seorang anak yang sudah larut dalam kesalahpahaman selama hidupnya. Kenyataan itu membuatku kembali menangis.

“Hiks..hiks… Appa….”

“Yoona, apa yang terjadi. Katakan pada eomma, palli…” eomma terdengar mulai panik.

“Eomma, Sung Han… dia penyebab kematian Appa. Dia mengira Appa telah menyia-nyiakan hidupnya dan ibunya. Eomma, Appa tidak bersalah…” tangisku semakin keras dan sekarang eomma ikut menangis bersamaku. “Tidak mungkin, anak itu melakukannya. Yeobo….hiks hiks” eomma meratapi kematian Appa yang sangat disayangkan akibat dendam salah sasaran seorang anak pada orangtuanya. Tangisan eomma bahkan sekarang lebih keras dariku.

 

Begitulah, sebuah konspirasi tak selalu berjalan seperti yang diinginkan. Tak selalu apa yang menjadi tujuannya adalah hal terbaik untuk si pelaku maupun bagi korbannya. Hidup memang penuh dengan warna, baik terang maupun gelap. Terkadang ada hal-hal yang tak bisa dihindari terjadi begitu saja tanpa ada persiapan untuk menghadapinya sehingga mau tak mau seseorang harus melakukan intrik untuk terus mempertahankan apa yang ia inginkan dan apa yang seharusnya ia miliki.

 

Beberapa minggu setelah penangkapan Sung Han, kasusnya sudah mulai diselidiki lebih dalam dan hampir sampai ke meja hijau. Eomma yang biasanya bersikap baik pada Sung Han, kini berbalik begitu membencinya. Bahkan eomma menyiapkan pengacara handal untuk menuntut hukuman berat bagi Sung Han. Siwon juga memberikan dukungan moril bagiku dan keluargaku. Aku cukup senang melihat perubahan sedikit demi sedikit terjadi pada dirinya. Dia tak lagi begitu senang mengumbar kecongkakannya pada orang lain dan mulai bisa berempati dengan orang lain. Sepertinya, usaha kerasnya untuk beradaptasi dengan hidupku cukup membuahkan hasil.

 

Begitupun dengan diriku, aku rasa aku sudah mengakui kalau aku mulai bisa menerima dan mencoba mengerti pada semua hal tentang Siwon, apalagi aku telah lebih dulu jatuh dalam pesonanya padahal dengan jelas aku tahu bahwa dia adalah pria yang paling ahli dalam hal tebar pesona. Dia sudah pernah mengatakan bahwa dia mencintaiku dan entah kenapa aku yakin bahwa dia tidak mempermainkanku. Tapi justru sekarang aku menjadi begitu tolol karena tak bisa memahami perasaanku sendiri padanya. Aku ingin mengakui kalau aku juga mencintainya, namun aku takut kalau perasaan itu masih absurd – dengan kata lain aku masih meragukan hatiku sendiri. Aku yakin suatu saat semua akan menjadi jelas seiring intensitas kebersamaanku dengannya, dan aku akan menemukan jawaban yang sesungguhnya.

 

Sudah hampir dua bulan Siwon berada di Amerika, bertemu dengan orangtuanya sekaligus membereskan beberapa urusan bisnis disana. Dia sudah mengatur segala persiapan pernikahan pada sebuah Wedding Organizer ternama di Korea, tapi tak keberatan dengan berbagai keinginanku untuk ditambahkan dalam acara pernikahan itu, termasuk soal design gaun dan warna dekorasi, semuanya aku yang memilih. Aku sempat tak percaya dengan keinginannya sendiri untuk mempercepat pernikahan, dan aku juga tak bisa berbuat apa-apa bila itu sudah menjadi keputusannya. Aku berpikir bahwa memang lebih baik jika pernikahannya dilaksanakan secepat mungkin.

 

Beberapa minggu tak bertemu aku jadi sangat merindukannya. Kerinduanku semakin besar setelah aku mendapati diriku sedang hamil lima minggu. Ya… aku sedang mengandung anaknya, setelah aku menjadi begitu bodoh tak mampu menolak pesonanya dan dengan mudah menuruti keinginannya untuk bercinta di malam itu. Tapi aku belum memberitahunya. Aku akan menunggu saat kepulangannya sekitar seminggu lagi dan memberikan kejutan baginya. Aku berharap semua ini adalah awal dari kebahagiaanku. Bahagia bersama pilihanku dan orang-orang disampingku.

 

 

FIN

 

Haduuuhhhh… ending macam apa ini??!!!

Kenapa jadi begini?? Maafkan aku wahai para pembaca setia… aku bingung menentukan cerita akhirnya. Inspirasinya payah banget… ide yang ditunggupun tak kunjung mau berbaik hati datang menghampiri. Sekali lagi Jeongmal Mianhae… bila readers ga suka sama akhir ceritanya. *bow*

Ditunggu komentar-komentar dari pada reader, ga menutup kemungkinan menerima komentar pedas juga… Semoga readers ga kapok baca FF ku yang lainnya….

 

 

 

 

Tinggalkan komentar

142 Komentar

  1. yeyeyeye lalalalala #nyanyi gaje..
    akhirnya happy ending juga…
    YoonWon memang benar” serasi, I like it ^^

    Balas
  2. aat yoonwon

     /  Oktober 30, 2013

    Yoong Hamil duluan?

    Balas
  3. Eonni harusnya bagian NC-nya di lanjutkan kkkkk readers yadong. Wah aku gak bisa ngebayangin pesona siwon itu gimana di ff ini, aku aja ampe jatuh cinta hahahah
    Ending yang cukup memuaskan eonni :^) kalau gak salah ini ada sequelnya yah????
    Ah aku mau baca ah,
    Eonni ff ini keren. Aku tunggu karya selanjutnya,🙂

    Balas
  4. Rosiie

     /  November 29, 2013

    Ko ending nya gtu doank si, kirain bkal di critain gmana mereka menikh trus pnya anak

    Balas
  5. Knpa endingnya gtu sh?
    Tpp bgus kok…daebbakk

    Balas
  6. any

     /  April 2, 2014

    Kok endingny cuma gt aja.hikhikhik

    Balas
  7. Whhahahahahahhahahaha endingnya kereen

    Balas
  8. azzryia noer hayyati

     /  Mei 8, 2014

    Tuh kan yoong jd hamil…. Siwon oppa sih ‘nakal’ tp bagus deh happy ending….daebbakk thor…

    Balas
  9. Endingnya keren…..pake sequel dong…please…aku pengen lihat reaksi yoona yg rindu banget dengan siwon…

    Balas
  10. wah, yoona hamil, gimana ya reaksi siwon ?? semoga mereka jadi keluarga bahagia setelah pernikahan yang direncanain

    Balas
  11. JuHyunLova

     /  Juli 30, 2014

    Keren tp blm puas thor, sequel dong

    Balas
  12. ending’y agk gantung.. kirain smpe yoonwon menikah, ada sequel’y gk ya?

    Balas
  13. Cha'chaicha

     /  September 12, 2014

    Yey happy ending, daebak crita’y…

    Balas
  14. im yoo ra

     /  September 14, 2014

    I like this ..

    Balas
  15. wiwin

     /  September 21, 2014

    Yae kok endingx gantung,maunya itu mreka nikah trus pnya anak trus bahagia gtu#maunya sih,ytp gk pp suka kok.

    Balas
  16. Happy ending.. Ahh,, selesai juga.. Gk nyangka ending nya gini.. Namun kan eon,, menurutku, yoona hrs ttp mempertahankannya, sampai ia menikah.. Aku rasa itu akan menjadi lebih romantis.. Yah,.. Biar dri website ini juga, yg baik yg menjadi hasil.. Kan mendingan.. Dri pada udh hamil 5 minggu??

    Hehe.. Sip deh.. Tetap buat FF Yoonwon yah eon.. Ditunggu..

    Balas
  17. Happy ending, semua ke jahatan Sung Han sudah terbukti.
    Yoona Hamil, jadi penasaran ni cerita tentang Yoonwon menikah

    Balas
  18. Endingnya terlalu biasa sih klo menurutku, tp tetep keren kok.
    Semangat eonni… Bikin FF yg keren lg yaa

    Balas
  19. mia rachma

     /  Januari 9, 2015

    koq endingnyaaaa belomm nikahhhh? tapiiiii bagus koq eon

    Balas
  20. yah endingnya.. Tp gpp eonn aku ttp suka wkwk

    Balas
  21. melani

     /  Februari 6, 2016

    Akhirnya kejahatan sung han keungkap juga n yoona juga udah mulai suka sama siwon bahkan sampe mau tidur dg siwon n sekarang lagi hamil..
    Di tunggu ff yg lainnya yg lebih keren lagi..

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: