[OS] Dear Deer

Cover ff 3

Title                 : Dear Deer

Author            : (@Nurul_Choi3027)

Rating             : PG 15

Lingth             : Oneshoot

Genre             : AU, Romance, Friendship, … *tentukan sendiri*

Main Cast      :

  • Choi Siwon
  • Im YoonA

 

Notes: Annyeong^^ I’m back with oneshoot. Cerita ini ku buat dengan susah payah karna sedikit berbeda dari cerita-cerita sebelumnya(re. FF dalam note facebook ku) menurutku sih tapi kalo menurut reader sama aja yah yeah pendapat orang berbeda-beda. Oh ya mohon maaf untuk 3S-ku ‘Child Detective’ belum dapat dilanjut karna kesibukan saya selaku anak kelas 12^^ jadi oneshoot ini akan menjadi ff terakhir sebelum pertempuranku menuju masa depan (?) yang udah nunggu 3S-ku sabar yah^^  2-3 bulanlah heehe. Tak perlu banyak cincong nyok langsung aja chek this out!

 

ð  Happy reading

 

AUTHOR POV

Bau musim semi terasa menggelitik indra penciuman. Meninggalkan musim dingin beserta kasih di hari natal. Terlihat Sebagian besar penduduk negeri gingseng ini turut bersuka cita menyambut datangnya musim semi. Baru kemarin salju mengguyur kota seoul, menaburkan putih sucinya menyelubungi permukaan bumi seoul. Kali ini langit tersenyum cerah memamerkan putra fajar yang ceria.

“Hei jangan berlarian terus! Hei hei kalian, ku bilang jangan terus bermain!” pekik sebuah suara memeringati segerombol anak yang tengah bermain di tengah lapang lebih tepatnya sebuah halaman luas.

“Aissssh dasar anak-anak! Susah sekali diperingatkan” lagi orang itu kesal karna ucapannya sama sekali tak diindahkan.

“Ada apa sulli-ya?”suara berat terdengar dari arah belakang orang itu. Sulli, gadis itu menoleh kebelakang.

“Ah halmoni. Lihatlah mereka sulit sekali diperingatkan, aku sampai frustasi terus berteriak dan bisa-bisa urat leherku putus jika terus seperti ini” keluh sulli.

Wanita paruh baya itu hanya tersenyum lembut. Dengan bantuan tongkat untuk menjaga keseimbangannya, ia mendudukkan dirinya pada kursi coklat yang ada di beranda rumah.

“Biarkan saja. Merekakan masih kecil” tanggap sang nenek. Sulli menatap tak percaya pada sang nenek.

“Aisssh jika dibiarkan terus mereka akan menjadi anak nakal” imbuh sulli. Dan nenek itu kembali menarik sudut bibirnya. Meski keriput telah menghiasi wajahnya namun tetap saja kesan anggun nan cantik itu masih melekat pada diri wanita paruh baya ini.

“Biarkan mereka berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Ada saat dimana mereka menjadi nakal, disanalah mereka belajar dan juga bila tiba saatnya pasti mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang baik dari kenakalan mereka” kata sang nenek bijak. Sulli meniup poninya beberapa kali. Sang nenek tahu gadis itu merasa kesal. Ia hanya terkekeh pelan melihat kelakuan remaja disampingnya ini.

“Sudahlah jangan kau tiup terus ponimu itu, yang ada nanti mereka rontok karna harus merasakan nafasmu” ledek sang nenek.

“Aisssh halmoni” sulli mengembungkan pipinya. Sang nenek kembali terkekeh dibuatnya. Ia lalu memandang kedepan tepatnya kearah segerombol anak yang masih saja asik bermain kejar kejaran.

“Halmoni” panggil sulli. Sang nenek menoleh dan mendapati sulli telah membawa segelas air putih dan wadah cepuk kecil ditangannya.

“Halmoni, waktunya minum obat” sambung sulli memberikan senyum manisnya. Sang nenek menghela nafas panjang. Selalu saja begini, kehidupan orang yang telah lanjut usia tak pernah lepas dari yang namanya obat dan obat.

“Arraseo. Bawa ke dalam” kata nenek itu dan berjalan menuju kedalam rumah. Nenek itu mendudukkan dirinya di atas sofa empuk ruang utama.

“Sulli-ya” panggilnya.

“Nde” sahut sulli.

“Tinggalkan aku sendiri” sambungnya. Sulli mengerutkan dahi namun sang nenek memberikan tatapan meyakinkan.

“Baiklah tapi berjanjilah halmoni akan meminum obat ini” syarat sulli. Nenek itu mengangguk dan tersenyum mengiyakan. Sulli juga balas tersenyum kemudian berlalu meninggalakan sang nenek.

Sepeninggal sulli wanita paruh baya itu beranjak menuju sebuah kamar. Dibukanya pintu kamar lantas memasukinya. Didudukkan dirinya pada sisi ranjang. Tangan keriputnya terulur membuka sebuah laci. Diambilnya sebuah box sedang berwarna biru. Sejenak ia terdiam, memandang box yang kini telah terbuka itu. Sekuntum mawar merah yang telah mengering. Mini boneka rusa menemani mawar kering itu. Wanita paruh baya itu mengambil boneka itu. Ia tersenyum tipis. Sepucuk surat yang telah usang ikut memadati box itu. Kembali ia mengambil barang dalam box itu.

“Surat terakhir” gumamnya. Diusapnya surat itu, menghirup dalam baunya. Masih sama seperti dulu. Perlahan ia mulai membuka lipatan surat itu.

 

Dear Deer

Pemilik senyum yang memberiku nyawa

Kau yang mengajariku apa itu cinta,

Yang mengajariku mengecap duka,

Ketika menatap matamu ku temui lautan rindu yang hanya kau cipta untukku

Ketika kita bersama waktu mulai berubah, ruang berbunga

Tahukah kau bahwa senyummu adalah upacara penundaan kematian bagiku?

Karna itu teruslah tersenyum walau hidup tak seperti apa yang kau inginkan

 

Deer…

Pernah ku dengar seseorang mengatakan “No Body Perfect”

Tapi ketika kau menggenggam tanganku saat itulah aku merasa sempurna

Namun akankah selamanya cinta itu melekar dihati?

Aku tahu cinta adalah sakit, luka dan bahagia

Tapi aku juga tahu mencintai seseorang butuh keberanian

Hingga aku putuskan untuk terus mencintaimu dengan caraku, dengan kata yang tak seorangpun tahu

…………….

 

Yoona, wanita paruh baya itu tersenyum getir membaca untaian kalimat dalam surat itu. Seperti sebuah dokumenter yang diputar ulang, kilasan flashback itu kembali terngiang dalam benaknya. Tersusun rapi dan tertanam dalam memori. Yah sebuah kenangan. Bernostalgia ia menembus waktu di masa lalu.

 

Flashback

Siang itu hujan masih saja mengguyur bumi seoul. Menimbulkan bunyi gemercik air pada permukaan bumi. Beberapa pejalan kaki terlihat berlarian mencari tempat teduh guna menghindari basah hujan. Halte bus serta pinggiran toko mulai dipadati oleh orang-orang yang tengah berteduh. Agaknya hujan akan turun cukup lama melihat betapa derasnya air langit yang turun.  Angin berhembus pelan menyeruak sampai ke tulang rusuk. Dingin memang lantaran musim dingin baru saja berlalu.

Seorang gadis belia menatap sebal rintik hujan itu. Ia mengumpat beberapa kali.

“Sial! Kenapa harus hujan?! Kenapa hujan tak turun setelah aku pulang saja?! isssshh benar-benar menyebalkan”

Beberapa orang disekitarnya tak mempedulikan umpatan gadis cantik itu. Mereka sibuk dengan lawan bicara masing-masing. Gadis itu sedikit membersihkan rambutnya yang terkena rintikkan hujan. Seragamnya pun terlihat basah. Ia memutar kepalanya mengamati orang-orang yang ada di halte bus tempatnya berteduh itu. Kedua matanya menangkap sosok yang menarik di belakang sana. Sosok namja yang juga mengenakan seragam yang sama dengannya. Gadis itu mengerutkan dahi. Dilihatnya sosok namja itu berdiri tenang di antara orang-orang yang tengah berbincang-bincang. Sosok itu memasukkan kedua tangannya dalam saku celana. Pandangannya lurus kedepan seperti tak peduli dengan udara sekitar. Gadis itu terus mengamati gerak sang namja sesekali ia tersenyum kecil juga mengerutkan dahi melihat sosok itu membuang nafasnya kasar. Gadis itu masih terkikik geli sampai pada akhirnya pandangannya tak sengaja bertemu dengan mata elang namja tadi. Seketika mata gadis itu membulat sempurna. Gadis itu memalingkan pandangannya dari sang namja.

“Babo! babo! babo!” umpatnya pada diri sendiri seraya memukul kepala.

Gadis itu menggigit bibir bawahnya “Eottokae?” gumamnya gusar. Ia melirik sosok namja tadi. Gadis itu sedikit bernafas lega namja itu tak lagi memandangnya. Ada sebuah dorongan besar untuk menghampiri namja itu namun egonya lebih unggul. Pada akhirnya ia hanya menarik sudut bibirnya merasakan sesuatu yang mampu membuat hatinya bergetar.

“Noona kau mau naik atau tidak?” seruan seseorag menyadarkannya. Ah ternyata sudah ada bus yang berhenti. Karna terlalu memikirkan namja tadi hingga membuatnya tak menyadari kehadiran bus yang kini berada di depannya.

‘ah ne ahjussi” gadis itu melangkah masuk ke dalam bus. Ia mencari sebuah bangku kosong namun nihil. Bus ini telah penuh.

“Eh…?” gadis itu bersuara. Seorang namja tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya mengisyaratkan bahwa bangku itu dapat ia duduki.

“Naega?” tanyanya memastikan. Namja itu hanya mengangguk sebagai jawaban.

“Eng.. gomawo” ucap gadis itu kemudian duduk di bangku namja tadi. Gadis itu memperhatikan namja yang kini berdiri di dekatnya. Namja itu berdiri berpegang pada pegangan bus untuk menyeimbangkan tubuhnya. Ia masih saja menatap ke depan. Tak pernah sekalipun matanya menatap ke arah lain. Gadis itu kembali tersenyum sosok namja di dekatnya ini adalah sosok namja yang sama di halte bus tadi.

“Apa kau……..”

“Ngunggg” ketika hendak bersuara tiba-tiba saja suaranya ditelan klakson bus. Gadis itu bahkan sampai menutup kedua telinganya. Sosok namja tadi hanya menatapnya sekilas. Setelahnya matanya kembali menatap kedepan.

“Bukan waktu yang tepat” desis gadis itu mempoutkkan bibirnya.

____(n_n)____

 

“Mwo?! Kau satu bus dengan choi siwon tapi tak melakukan percakapan apapun?! Issshh jinjayo!!”

“Sssstt… kwon yuri pelankan sedikit suaramu! Kau tahu kita tidak sedang berada di lapangan beasball”

“Yak Im YoonA kenapa kau begitu bodoh heuh? Isssshh jinjayo!” gadis yang di panggil kwon yuri itu lagi-lagi mendengus kesal, tak habis pikir dengan sikap sahabatnya.

“Aku… aku….”

“Aku, aku apa?! Tak berani? Berucap satu katapun kau tak berani? Aissshh apa dia akan memakanmu hingga kau tak berani bahkan untuk balas menatapnya” cecar yuri panjang lebar.

“Yak Ahjumma Kwon berhentilah memarahiku” protes gadis yang sedari tadi merasa dipojokan yang diketahui bernama yoona itu.

“Mwoya?!” yuri menatap galak kearah yoona membuat gadis itu sedikit ketakutan.

“Choi Sooyoung-ah! Berhenti mengemil dan berikan cacaranmu pada sahabatmu yang terlalu penakut ini” titah yuri yang terlampau kesal dengan dua sahabatnya. Yang satu terlalu penakut dalam mendekati namja yang disukai dan satunya lagi adalah sosok yang acuh tak acuh yang hanya peduli pada makanan.

“Makanlah yang banyak yoong. Mungkin itu akan menghilangkan rasa takutmu” saran sooyoung yang menurut yuri adalah saran bodoh. Yuri memutar bola matanya. Jengah menghadapi dua sahabatnya ini.

“Sudahlah tak perlu dipikirkan. Jika ia memang jodohku pasti akan datang dengan sendirinya padaku” kata yoona menengahi. Dan sukses mendapat tatapan mengerikan dari yuri.

“Terserah kau sajalah. Jika choi siwon mu di ambil gadis lain maka jangan salahkan sahabatmu ini yang telah ribuan kali mengingatkanmu” yuri menyeruput jus melonnya.

Yoona nampak menelaah kata-kata yuri. Sahabatnya ini memanga ada benarnya juga. Namun apa ia cukup berani dalam mengutarakan perasaannya? Jangankan mengucapkan ‘saranghae’ menatap mata siwon saja ia tak berani lama-lama. Yoona jadi bimbang atas perasaannya. Ada seruan yang menyuarakan ia harus mengutarakan perasaannya yang terpendam selama tiga tahun lebih itu namun apakah ia pantas untuk seorang choi siwon? Namja yang biasa di sebut kutu buku dan ice boy itu, rasa-rasanya ia tak pantas bersanding dengan namja itu.

Yoona sibuk bergulat dengan pikirannya. Satu sisi mengatakan ini dan satu sisi yang lain mengatakan itu. Benar-benar memusingkan. Sambil berpikir ia memutar bola matanya. Dan yup ia menangkap sosok itu lagi. Si penakluk hatinya. Dari tempat duduk yoona, ia dapat melihat namja itu tengah asik bergulat pada buku tebal dalam genggamannya. Duduk di sebuah bangku taman dengan kaca mata yang bertengger di wajahnya menandakan betapa serius ia pada lebaran-lembaran itu.

Yoona menopang dagu memandang sosok namja yang menurutnya begitu penuh pesona. Lihatlah bagaimana cara ia menekuni hobi baca bukunya. Yoona tahu betul kebiasaan siwon. Namja itu senang sekali membaca buku-buku tebal. Jika tidak di perpustakaan pastilah di bangku taman sekolah itu. Duduk manis mengenakan kacamata sambil menikmati semilir angin. Yoona beraagan-angan jika saja ia berada disamping siwon saat ini juga. Bersandar pada bahu lebar itu. Bersama menikmati semilir angin musim semi. Ouhh bukankah itu romantis?

“Yak Im YoonA! kau dengar tidak?!” pekik yuri membangunkan yoona dari alam bawah sadarnya.

“Ah.. eng… mwoya?” tanyanya gelagapan.

“Issssshh anak ini benar-benar harus di cuci otaknya” kesal sooyoung.

“Kau yang harus mencuci mulutmu sooyoungie!” timpal yoona tak terima. Sooyoung melotot membalas ucapan yoona. Namun yoona tak mempedulikannya. Ia kembali pada objek awalnya. Mengamati siwon sang pujaan hati. Sosok itu masih betah bertahan disana.

Choi siwon, choi siwon jika aku jadi gadismu tak ku ijinkan kau membaca buku disana. Karna apa? Kau memperindah pemandangan. Bagaimana bisa semua gadis tak melirikmu jika kau terus menampakkan pesonamu? Ahh~ serasa sebuah mimpi yang takkan mungkin tercapai.

____(n_n)____

 

Jam istirahat telah tiba. Saat-saat yang ditunggu para siswa untuk sekedar merilekskan otak. Di setiap sudut sekolah ini terlihat begitu banyak dipadati siswa siswi yang asik mengobrol. Kantin, taman sekolah, lapangan pun tak luput diserbu para murid. Sekiranya itu ialah tempat yang nyaman untuk bersantai pasti akan ada sosok berseragam disana.

Yoona berlari kecil menyusuri ruas koridor sekolah. Seperti inilah kebiasaannya tiga tahun terakhir. Mengunjungi tempat dimana gudang ilmu berada. Yup perpustakaan. Hari ini ia sedikit terlambat dari biasanya. Jika biasanya setelah bel istirahat ia akan langsung menuju perpustakaan namun kali ini ada sedikit kendala. Ia harus menemani dua sahabatnya itu ke kantin lebih dulu.

Yoona sampai di depan perpustakaan. Terlebih dulu gadis itu menarik nafas dalam-dalam. Menetralkan kembali kerja jantungnya. Setelah merasa lebih tenang dilangkahkan kaki jenjangnnya memasuki tempat yang menyimpan sejarah baginya. Disinilah ia pertama kali bertemu dengan siwon. Disinilah tempat ia jatuh hati pada siwon. Kala itu ia sedang mencoba meraih buku yang tak bisa ia jangkau. Ia benar-benar kesulitan. Ketika tangannya berhasil meraih buku yang ia inginkan tiba-tiba saja buku-buku yang lain ikut terseret. Membuat beberapa buku besar itu hampir menimpanya. Yah hampir, karna tepat saat itu sosok namja menjadikan punggungnya untuk melindungi dirinya. Yoona terperangah. Begitu banyak buku-buku tebal yang mengenai punggung namja itu.

“Kau tak apa? Punggungmu pasti sakit” kata yoona mengkhawatirkan sosok namja di depannya itu.

“Gwanchana” satu kalimat keluar dari mulut namja itu. Ekspressinya datar tak menunjukkan wajah bersahabat sama sekali.

“Tapi….” ucapan yoona terpotong ketika namja itu langsung melenggang pergi. Yoona memandang punggung namja itu. Dan entah mengapa rasa kagum itu perlahan tergantikan menjadi rasa cinta hingga saat ini.

‘Hanya dengan sepersekian detik kau telah mampu meluluhkan hati ini. Menabur bunga menyeruak mengakar begitu kuat dalam jiwa’

Disnilah ia sekarang, berjalan menyusuri rak rak buku yang terjulang tinggi.

“Yoona” panggil sebuah suara. Yoona memutar kepalanya mencari tahu siapa gerangan yang memanggil namanya.

“Ohh guru kim” ucapnya. Gadis itu tersenyum lembut tak lupa membungkukkan badan sebagai salam hormat.

“Kau mencarinya?” tanya guru kim sang penjaga perpustakaan. Semburat kemerahan menghiasi pipi yoona.

“Nde” jawabnya mengangguk. Guru kim tersenyum hangat. Ia cukup tahu kebiasaan murid satunya ini.

“Dia ada disana” tunjuk guru kim pada sebuah rak yang jauh di sudut ruang. Memang ada sebuah bangku disana. Dan yah yoona tahu namja itu pasti tengah duduk asik membaca buku disana, bergulat pada dunia nya sendiri.

“Gomawo guru kim” yoona memberikan senyum terbaiknya kemudian membungkuk memberi hormat. Setelahnya ia berjalan menuju tempat yang di maksud guru kim.

Di bangku itu siwon biasa duduk. Di bawah jendela besar yang menghubungkannya langsung dengan bangunan-bangunan sekolah ini. Perpustakaan ini memang berada di lantai dua.

Yoona mengintip dari balik rak buku. Namja itu masih saja tak bergeming. Rasanya ingin sekali ia bertukar tempat dengan buku yang di pegang oleh namja itu. Melihat bola matanya yang hanya tertuju pada dirinya. Merasakan hangatnya permukaan kulitnya yang selalu menyentuh dirinya. Ahh~ hanya bisa berandai-andai.

Tiada bosan-bosannya gadis itu memperhatikan gerak siwon. Bagaimana mungkin ia akan bosan. Setiap inch dari namja itu adalah yang terbaik. Alis tebalnya, hidung mancungnya, bibir merahnya serta lebat rambutnya menggambarkan betapa tuhan menciptakannya dengan sempurna.

Ketika sedang asik mengagumi ketampanan siwon. Baru ia sadari bahwa namja itu melihat kearahnya. Yoona terlonjak kaget. Bak pencuri yang tertangkap basah.

“Eottokae?” yoona menggigit bibir bawahnya keras. Masih tak berani menengok ke belakang. Ia takut namja itu mengetahui perbuatannya selama ini. Perasaannya gusar namun ada rasa penasaran apakah namja itu masih melihatnya.

“Syukurlah” ia bernafas lega. Siwon kembali bergulat pada buku tebalnya.

“Dorrr!!”

“Im kaget Im kaget Im kaget” latah yoona menepuk dada beberapa kali. Dua gadis yang mengagetkannya kini tertawa lepas. Segera yoona membekap mulut mereka.

“Jangan keras-keras. Ini perpustakaan bukan taman bermain!” bisik yoona. Dua gadis itu mengangguk kemudian yoona melepaskan tangannya dari mulut mereka.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya yuri dengan volume kecil.

“Yak Kwon yuri. Kau ini amnesia atau berlaga lupa?! Seperti tidak tahu kebiasaan gadis ini saja” timpal sooyoung berdecak kesal.

“Ya ya ya kenapa memarahiku?! Aku kan hanya bertanya”

“Ssssttt jika kalian hanya ingin bertengkar sebaiknya kalian pergi dari tempat ini” kata yoona menengahi.

“Kau mengusir kami?” koor YulSoo.

“Terserah” acuh yoona kembali mengarahkan pandangannya pada siwon. Ternyata namja itu masih berada disana.

“Hei hampiri dia sekarang!” seru sooyoung tiba-tiba.

“Mwo? Aniyo!” tolak yoona cepat.

“Sudahlah cepat sana hampiri dia. Sapa dia lalu berbasa-basilah padanya” imbuh yuri mendorong tubuh yoona untuk segera menghampiri siwon.

“Yak aku tak mau!” tolak yoona berusaha melepas tangan yuri dari tubuhnya namun sia-sia saja. Sooyoung ikut membantu mendorong tubuhnya dan sampailah ia di depan siwon. Yoona menelan ludahnya. Ia mengusap tengkuknya menatap sekilas kedua temannya. Dibalik rak buku yuri serta sooyoung memeberikan kepalan tangan menyemangati yoona. Yoona hanya dapat menunjukkan senyum paksanya. Ia mengatur detak jantungnya yang berkerja abnormal. Gadis itu menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya. Ia berdehem sebentar kemudian mulai melangkah kearah siwon. Jantungnya kembali berdetak lebih cepat. Aliran darahnya berdesir lebih kencang.

“Tuhan selamatkan aku. Tuhan selamatkan aku” lirihnya pelan. Langkahnya semakin dekat dengan tempat siwon duduk. Namja itu seperti tak menyadari kehadiran yoona. Ia masih tak melepas pandangannya dari buku yang sedari tadi ia pegang.

Berkali-kali yoona menghembuskan nafas kasar. Sedikit lagi ia sampai pada siwon. Seperti berada dalam arena pertempuran saja. Ketika langkahnya hampir sampai ke tempat namja itu tiba-tiba saja seruan dua temannya mengagetkannya.

“Yoong awass!” yoona mendongak. Terlambat. Ia menutup kedua matanya rapat. Berharap hidungnya masih utuh tak tertimpa runtuhan buku. Namun apa yang ia rasakan? Tak ada rasa sakit sedikitpun. Perlahan gadis itu membuka matanya. Dan betapa terkejutnya ia mendapati lagi-lagi penyelamat hidupnya adalah namja ini. Choi Siwon!

“Si…Won”

“Jika kau terus ceroboh dan tak memperhatikan jalan, bisa-bisa kau akan celaka” tukasnya dingin.

“Eh.. mianhae. Jeongmal mianhaeyo. Aku benar-benar tak bermaksud seperti itu. Sungguh” sesal yoona membungkukkan badannya beberapa kali.

Siwon tak menaggapinya. Namja itu berjongkok memunguti beberapa buku yang terjatuh. Yoona nampak cemas beserta tak enak pada siwon. Ia juga ikut memunguti buku-buku itu dan mengebalikan pada tempatnya.

“Boleh aku duduk disini?” tanya yoona setelah mereka berhasil menata kembali tumpukan buku tadi.

Yang ditanya tidak memberikan respon apapun. Ia masih setia mempertahankan sikap dinginnya. Yoona menjadi tambah kikuk dibuatnya. Gadis itu melirik kearah dua temannya namun yang ada ia tak menemukan siapapun disana. Karna sudah terlanjur basaha akhirnya yoona duduk di bangku dekat siwon. Sebelumnya ia telah mengambil sebuah buku bacaan. Yoona membolak balik buku dalam genggamannya itu. Ia jadi merutuki dirinya sendiri. Seharusnya tadi ia mengambil buku grafis saja dari pada harus melihat tumpukan rumus ini.

Detik telah berganti menit. Yoona melirik namja disebelahnya. Siwon masih saja memfokuskan pandangannya pada buku itu.

“Ouhh kau ingin menjadi dokter?” tanya yoona melihat judul yang siwon baca mengenai kesehatan. Siwon hanya melirik sekilas kemudian mengalihkan kembali pandangannya pada buku.

“Sewaktu kecil aku juga sempat bercita-cita menjadi dokter. Bagiku dokter adalah seorang pahlawan. Mereka banyak menyelamatkan orang, mengobati sakit orang dan….. mereka ramah” cerita yoona dengan senyum bahagianya.

“Aku sangat menyukai dunia kesehatan. Kakek ku seorang dokter. Kakek sangat menyayangiku. Ketika aku ada dalam masalah kakek pasti akan menghibur serta memberikan solusi. Saat aku demam kakeklah yang menjaga serta merawatku. Aku sangat menyayangi kakek” sambungnya masih dengan rona bahagia, tak mempedulikan orang disampingnya mendengarkannya atau tidak.

“Kini semua berubah. Sejak kakek tiada aku merasa kesepian. Ayahku menggantikan kakek sebagai dokter. Aku tak mau lagi menjadi dokter” yoona menunduk lemas. Ia terngiang mendiang sang kakek.

“Wae?”

Bagai sebuah mimpi suara itu terdengar jelas ditelinga yoona. suara itu berasal dari namja disampingnya. Jadi namja ini mendengarkannya? Ouhh andai sekarang ia tak sedang bersama namja ini pasti ia akan loncat-loncat kegirangan.

“Ah.. eng… ehemm”  yoona kembali mengatur nafas sebelum melanjutkan kalimatnya.

“Selepas kepergian kakek ibuku juga pergi meninggalkanku” ceritanya menerawang ke depan.

“Kemana?” kalimat keempat yang yoona dengar dari bibir siwon.

“Menyusul kakek” jawabnya singkat. Gadis itu tersenyum getir.

“Mian” sesal siwon.

“Gwanchana. tak perlu dipikirkan. Itu sudah berlalu” yoona kembali menunjukkan senyum terbaiknya.

Selepasnya mereka mulai membicarakan obralan ringan seputar dunia kesehatan. Sepertinya yoona telah maju satu langkah dalam masa pendekatannya. Ia merasa sosok choi siwon adalah namja yang menarik dan menyenangkan jika diajak bicara.

___(n_n)___

 

“Choi siwon-ssi” siwon menoleh kebelakang mendengar namaya dipanggil. Seorang gadis tersenyum lembut menghampirinya. Yoona duduk disamping siwon. Saat ini mereka tengah duduk disebuah bangku taman belakang sekolah.

“Aku menemukan buku yang kau cari” ungkap yoona sambil menunjukkan buku yang ia maksud. Yoona menyerahkan buku itu pada siwon. Siwon menerimanya.

“Gomawo” ucapnya singkat namun diselingi dengan senyum lembut.

Omona! Yoona serasa ingin pingsan melihat senyum itu. Begitu manis dengan dihiasi dua lesung pipit diwajahnya. Baru kali ini yoona melihat siwon tersenyum. Ia dapat memastikan gadis manapun ketika melihat senyum siwon pasti akan jatuh hati pada namja ini. Tidak tersenyumpun siwon terlihat mempesona apalagi jika ia mau membagi sedikit senyumnya.

“Kau ada acara?”

“Hmm?” yoona menoleh kearah siwon. Sebulan dekat dengan choi siwon membuatnya sedikit tahu namja ini amat sangat hemat dalam mengeluarkan suaranya. Kalaupun bersuara pastilah tak begitu jelas karna ia hanya berbicara seperlunya.

“Minggu ini kau ada acara?” perjelas siwon atas kalimatnya.

“A…aaku? ah aniyo aku tak ada acara” ada sedikit harapan dalam hati yoona. Ia memandang siwon yang masih menatap kedepan.

“Ku jemput jam sembilan” setelah mengatakan itu siwon beranjak dari duduknya kemudian melenggang pergi.

Sementara yoona masih terbengong ditempatnya. Mencerna kalimat siwon yang baru saja ia dengar. Benarkah itu? Benarkah choi siwon mengajaknya berkencan? Kencan? Ahh berkencan dengan choi siwon?

“Kyaaaaaaaaaaa aku akan berkencan dengan choi siwon. Aku akan berkencan dengan choi siwon” girangnya bersuara keras. Tak menghiraukan tatapan aneh yang diberikan orang sekitarnya. Yang penting baginya adalah ia bahagia saat ini.

___(n_n)___

 

“Uhukk uhukk…”

“Hati-hati makannya” yoona menyodorkan dua gelas berisi air mineral pada kedua sahabatnya. Yuri dan sooyoung buru-buru meneguk air mineral itu.

“Benarkah choi siwon mengajakmu berkencan?” tanya yuri usai meneguk air. Yoona hanya memanggutkan kepalanya.

“Dia bilang apa?” kini giliran sooyoung yang bertanya.

“Dia bertanya padaku apa aku ada acara hari minggu lalu ku jawab tidak ada kemudian dia berkata akan menjemputku jam sembilan” kata yoona menceritakan kronologinya.

“Im Yoona paboya! Mana bisa itu disebut dengan kencan? Bisa sajakan dia mengatakan akan menjemputmu untuk mengerjakan PR bersama misalnya, membahas soal-soal ujian atau semacamnyalah yang berhubungan dengan buku”

“Tapi dia tak mengatakan hal itu”

“Lalu apa dia juga mengatakan mengajakmu berkencan?”

Yoona merenungkan ucapan yuri. Memang siwon tak memperjelas ucapannya waktu itu. Dan bodohnya lagi ia tak menanyakan kejelasan dari ucapan siwon.

“Sudahlah yul seharusnya kau mendukung sahabatmu ini agar tetap optimis. Yoong walau bukan kencan percayalah siwon mulai tertarik padamu. Setidaknya kau orang yang dia ajak bukan gadis lain” tutur sooyoung memberi dukungan pada yoona.

“Nde, sooyoung benar. Aku menyetujui siwon mulai tertarik padamu” imbuh yuri kemudian.

“Jinjayo? Ah eottokae? Harus memakai baju apa aku hari minggu besok?” kini yoona jadi bingung sendiri memikirkan harus bagaimana ia esok minggu.

“Yak Im Yoon Ah kau melupakan kedua sahabatmu ini heuh?” seru yuri.

“Nde yoong serahkan pada kami” imbuh sooyoung.

“Arraseo! Aku tahu kalian dapat diandalkan. Gomawo” ungkap yoona. dipeluknya kedua sahabat terbaiknya itu.

___(n_n)___

 

“Yoong berhentilah mondar mandir seperti itu. Kau membuatku pusing” yuri nampak jengah melihat yoona yang sedari tadi gusar. Sesekali gadis itu menggigit bibir bawahnya.

“Duduklah yoong. Kau menghalangiku menonton tv” sooyoung menarik paksa tangan yoona sampai gadis itu terduduk diatas karpet bulu. Saat ini ketiga gadis itu tengah berada di kamar yoona. Seperti inilah kebiasaan mereka tiap malam minggu. Menginap di salah satu rumah ketiganya.

“Eottokae? Apa aku harus mandi bunga tujuh rupa?” yoona masih saja gusar.

“Tenanglah yoong. Dia tak akan melamarmu besok. Kau tak perlu sekhawatir itu” kata yuri sambil mengoleskan masker pada wajahnya.

“Tetap saja aku tak tenang. Seumur-umur aku belum pernah berkencan. Ini kali pertama untukku dan ini juga pasti kali pertama untuknya” yoona kembali berdiri dan mondar mandir.

“Ouhh aku tak bisa membayangkan betapa kakunya kencan pertama kami besok” gumam yoona masih dengan akitivitasnya.

Sooyoung dan yuri memutar bola matanya. Kesal dengan tingkah yoona.

“Terserah kau sajalah. Aku tidur duluan” yuri membaringkan tubuhnya diatas ranjang, menarik selimut dan sudah siap menutup mata.

“Jangan terlalu dipikirkan. Lebih baik sekarang kau tidur saja dulu. Ini sudah larut malam” saran sooyoung kemudian ikut berbaring disamping yuri.

“Nde kau benar soo” yoona juga ikut naik ke atas ranjang. Untungnya tempat tidur yoona cukup luas hingga mampu menampung tiga gadis ini.

___(n_n)___

 

“Kyaaaaa dia sudah datang. Eottokae? Yul apa bedakku terlalu tebal? Apa make up ku terlalu mencolok?”

“Ani yoong. Sudahlah cepat keluar. Dia pasti sudah menunggu” yuri mendorong tubuh yoona keluar dibantu oleh sooyoung.

“Suksess ne” ucap sooyoung.

“Hwaiting!!” koor mereka berdua.

Yoona keluar dari pekarangan rumahnya. Kegugupan masih meneylimuti hatinya.

‘Ayolah im yoona ini hanya jalan biasa tak lebih. Kenapa kau sampai segugup ini? Issssh benar-benar payah!’

“Pakai helm nya” siwon menyerahkan helm pada yoona.

“Pegangan yang erat” kata siwon setelah yoona naik matornya. Yoona sedikit kebingungan. Ia harus melingkarkan tangannya pada pinggang siwon? Haruskah?

Dan mau tak mau ia harus melakukannya. Sebenarnya bukan ia tak mau hanya saja ia terlalu gugup.

Motor sport siwon melaju dengan kecepatan rata-rata menyusuri jalanan kota seoul. Yoona menyandarkan kepalanya pada punggung siwon. Ia mengeratkan tangannya pada pinggang siwon.

Jika ini sebuah mimpi ingin sekali ia tak terjaga. Ingin sekali ia seperti ini terus. Punggung namja ini begitu hangat membuatnya merasakan kenyamanan.

Hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit mereka telah sampai di tempat tujuan. Lotte World, tentu nama itu tak lagi asing terdengar. Yoona hampir tak percaya siwon mengajaknya kemari. Apa siwon benar-benar mengajaknya berkencan?

Dilihatnya siwon telah berjalan lebih dulu. Segera ia menyusul namja itu.

“Untuk apa kita kemari siwon-ssi?” tanya yoona setelah berhasil menyamakan langkahnya dengan siwon. Namja itu menghentikan langkahnya kemudian menatap gadis disampingnya. Siwon memincingkan matanya beberapa saat kemudian tersenyum manis dan melanjutkan langkahnya. Yoona tak percaya dengan apa ayng baru saja ia lihat. Untuk kedua kalinya choi siwon menunjukkan senyum padanya.

‘Plakk!’

“Aww appoyo!” yoona mengusap pipinya yang terasa sakit hasil tamparannya sendiri.

“Ternyata ini nyata” ucapnya masih sedikit tak percaya.

“Dia namja yang susah ditebak”

___(n_n)___

 

Sesekali yoona melirik kearah siwon. Kini mereka berjalan beriringan. Agaknya gadis itu masih tak percaya dengan yang dialaminya. Tak dapat dipungkiri saat ini hatinya bergejolak. Seperti ada yang meledak didalam sana. Tak henti-hentinya yoona mengulum senyum. Bahagia, tentulah yang ia rasakan.

“Tadraaa!!”

“Hyak! Im kaget Im kaget Im kaget” seperti sebuah bom atom yang meledak secara mengejutkan. Tiba-tiba saja yoona dikagetkan dengan seruan seseorang. Gadis itu bahkan sampai melompat-lompat memukul dadanya.

“Aaaaaaaaa” jeritnya begitu mengetahui siapa gerangan yang mengejutkannya secara tiba-tiba. Gadis itu refleks berlindung pada siwon. Dipeluknya lengan namja itu erat.

Siwon yang melihat tingkah aneh yoona menoleh kesamping. Seorang badut berkostum katak tengah membungkukkan badan berkali-kali meminta maaf kepada mereka.

“Mianhae nona, tuan, saya tak bermaksud” sesalnya masih membungkukkan badan.

“Gwanchana” ucap siwon memberikan senyumnya.

“Wae?” siwon mengamati yoona masih saja memeluk lengannya dengan sangat erat serta memejamkan mata. Dapat ia rasakan gadis itu bergetar.

“A….aaku takut badut” katanya dengan suara bergetar.

“Dia sudah pergi” yoona masih saja enggan melepaskan lengan siwon. Dirasakannya sentuhan hangat menyentuh permukaan kulit tangannya. Yoona mendongak. Namja itu mengenggam tangannya. Memberikan senyum menenangkan.

“Tak perlu takut” kata siwon. Dibimbingnya tangan gadis itu kembali meneruskan langkah mereka.

 

“Eng….?” yoona mematung ditempat. Melihat segerombol orang didepannya.

“Ice skating?” tanyanya memastikan. Siwon sudah siap dengan ice skatesnya.

“Nde” siwon menyerahkan ice skates pada yoona. yoona menatapnya ragu.

“Kau….?”

“Ah aniyo! Aku bisa” jawabnya cepat lantas memakai ice skates pemberian siwon.

“Kau yakin?” siwon nampak ragu melihat gelagat gadis itu.

“E-em” angguk yoona memberikan senyum sebaik mungkin. Dalam hati yoona gusar. Sebenarnya ia tak pandai bermain skating. Namun ia tetap memaksakannya. Meyakinkan pada diri sendiri bahwa ia harus bisa. Tak ingin kencan pertamanya bersama siwon hancur begitu saja.

Satu langkah yoona mulai menjajaki ice rink itu. Jantungnya berdetak kencang. Takut, kalau-kalau tubuhnya akan jatuh terhempas ke arena licin itu.

“Oh ayolah yoona! masa begini saja kau tak bisa?! Kau bisa! Yah slow…. slow” ia mulai mencoba selangkah lagi. Geraknya sangat lambat namun ketika hendak melangkah yoona tak dapat menjaga keseimbangannya. Belum sempat tubuhnya berbentur dengan bongkahan-bongkahan es itu. Seseorang telah menarik lengannya.

“Gadis ceroboh” yoona terbelalak terlampau kaget. Pasalnya saat ini jarak antara dirinya dengan siwon sangat dekat. Saking kagetnya ia sampai tak mampu menutup mulutnya. Untuk beberapa detik mata mereka saling beradu. Hingga siwon memutuskan kontak mata diantara mereka.

“Jika memang tak bisa katakan saja. Aku akan mengajarkannya padamu” ucap siwon kemudian memberikan senyumnya.

‘Omona!! Dia memberikan senyum itu lagi? Tuhan tolong jangan katakan ini sebuah mimpi. Dia tersenyum padaku? Senyum yang tak pernah ia tunjukkan pada orang lain. Astaga aku ingin pingsan’

Yoona tersadar dari lamunannya ketika dirasa tangan hangat siwon mengenggam tangannya. Menuntunnya berjalan di arena licin itu. Yoona tak dapat menyembunyikan betapa saat ini ia begitu bahagia. Siwon dengan telaten menuntun gadis itu. Yoona menggenggam erat tangan siwon. Jantungnya berdegup kencang berdebar tak beraturan.

Terus siwon tak melepas genggamannya. Sesekali tawa mewarnai wajah mereka karna siwon yang menggoda yoona dengan melepaskan tangannya membuat tubuh yoona hampir jatuh.

___(n_n)___

 

“Aaaaaaaaaaaahhhkkk” gemuruh riuh kian menggema kala roller coaster menikuk pada tikungan tajam. Tak terkecuali untuk dua sejoli ini. Mengeluarkan suara mereka sekencang-kencangnya. Menikmati roller coaster yang membelah di atas lajunya.

Usai dengan uji nyali siwon dan yoona memutuskan untuk berjalan-jalan.

“Ahh kajja kita kesana” seru yoona tiba-tiba. Ditariknya tangan siwon untuk mengikutinya.

“Wuoahh” takjubnya pada benda yang kini berada di depannya. Yoona menoleh kearah siwon.

“Wae?” tanya siwon tak mengerti.

“Ambilkan aku satu ne” rengeknya bak anak kecil meminta permen. Namja itu tak menjawab melainkan langsung mendekati mesin boneka itu. Dipegangnya tombol penggerak penjapit boneka lalu mulai mengarahkannya ke kanan dan ke kiri.

“Hyah Siwon-ssi Fighting! Fighting! Hoahh sedikit lagi” yoona berseru keras memberi dukungan pada siwon. Namja itu juga terlihat senang dengan semangat yang diberikan yoona.

“Hoahh ya ya ya……” seru siwon kali ini. Mereka jadi dibuat gemas oleh mesin boneka itu. Yoona memandang siwon yang masih berusaha untuk mendapatkan boneka. Diperhatikannya tiap inch paras namja itu. Ia tersenyum. Choi siwon yang dingin itu sekarang berubah menjadi sosok yang  lebih menyenangkan. Lihat bagaiman raut wajahnya saat ini. Benar-benar tak menunjukkan bahwa namja ini adalah iceboy di sekolah. Karna terus memperhatikan siwon, yoona sampai tak sadar bahwa siwon telah mendapatkan sebuah mini boneka.

“Hei terpesona olehku?” katanya dengan memamerkan smirkevil. Yoona terperanjat untuk beberapa saat ia menjadi salah tingkah.

“Yak kenapa kau jadi percaya diri sekali” gadis itu memukul lengan siwon menimbulkan tawa diantara mereka.

“Hoahh boneka? Kau mendapatkannya. Waahh kyeopta” yoona ingin merebut boneka yang dipegang siwon. Namun ditahan oleh siwon.

“Panggil aku oppa” pintanya memberi syarat. Yoona sedikit terkejut dengan permintaan siwon namun pada akhirnya ia mengangguk. Membuat ia mendapatkan boneka itu. Siwon mengamati tingkah gadis disampingnya ini. Seperti anak kecil yang baru mendapatkan permen.

“Dasar rusa”

“Mworago?”

“Nde kau rusa! Rusa jelek. Boneka rusa seperti ini saja kau sampai seperti itu menyukainya”

“Yak bukan begitu. Hanya saja…..” yoona menundukkan kepalanya. Sebenarnya bukan karna bentuk boneka melainkan karna siapa pemberinya.

“Mwo? Hanya apa?” terdengar jelas nada bicara siwon tengah menggoda gadis disampingnya ini.

“Aissshh sudahlah. Kajja kita lanjutkan ken….” yoona membekap mulutnya sendiri. Merutuki kalimat yang hampir lepas landas dari bibirnya.

“Ken….? ken apa?”

‘Babo! benar-benar bodoh!’ rutuk yoona dalam hati.

“Ahh eng… aniyo. Kajja kita lanjutkan perjalanan menjelajahi permainan disini” ajak yoona mengalihkan pembicaraan. Ditariknya kembali tangan siwon. Tiada puas-puasnya mereka menjajaki dari satu permainan ke permainan lain. Yoona merasa hari ini adalah hari dimana Tuhan memberkatinya. Satu hari paling bersejarah dalam hidupnya. Satu hari yang takkan terlupakan. Berada disamping namja yang ia cintai. Melihat senyum yang terlukis indah pada wajahnya. Mengenggam tangannya. Mimpi yang tak mungkin itu kini menjadi nyata baginya. Sebuah hadiah terindah.

Tak terasa waktu berputar dengan cepatnya. Jingga langit telah membungkus awan seoul. Senja sore yang menghangatkan. Sepersekian jam telah mereka lewati bersama. Detik berganti menit berbuahkan hari yang mengesankan. Terlalu manis untuk sekedar mendiskripskannya. Bersama mereka duduk berdampingan diatas hijau rumput. Menerawang kedepan memandang bukit kecil yang menjulang.

“Siwon oppa” panggil gadis itu buka suara.

“Nde”

“Boleh aku tahu sesuatu?” tanyanya mengarah ke pembicaraan yang lebih serius.

“Nde”

“Kenapa kau mengajakku ke ketempat ini?” gadis itu menoleh kearah siwon. Tak terbendung lagi rasa penasaran itupun membuahkan untain kata berupa pertanyaan.

“Apa tidak boleh? Kau tak suka?”

“Ah aniyo. Bukan begitu… em…. sudahlah lupakan saja” yoona mengibaskan tangannya. Merasa malu jika pembicaraan ini diteruskan.

“Kau ingat aku pernah bercerita padamu tentang ketidak tertarikanku lagi pada dunia kesehatan. Saat itu aku masih berumur lima tahun. Ibuku mengidap penyakit kanker. Ibu tak pernah bercerita jika ia menderita. Ibu selalu berkata baik-baik saja. padahal aku tahu ibu sedang tak baik, melihat sebagaimana pucat wajahnya. Tapi aku tak tahu jika ibu sampai mengidap kanker. Ayahku pun baru mengetahuinya ketika penyakit ibu telah menjalar keseluruh tubuh. Sampai detik itu aku masih belum mengetahui penyakit ibu”

“ Ketika ayah mengabarkan ibu telah tiada, itu bagai sebuah mimpi bagiku. Aku tak percaya, tentu saja karna sehari sebelumnya ibu masih memberikan kecupan hangat dikeningku. Ibu masih seperti biasa tak menunjukkan ia sedang sakit. Hingga akhirnya aku harus menelan pil pahait. Fakta yang tak pernah aku inginkan. Ditinggal oleh orang-orang yang ku sayang. Sejak saat itu aku bau obat. Membenci segalanya yang berhubungan dengan rumah sakit. Hal itu mengingatkanku pada kakek dan kematian ibu yang menandak bagiku. Aku……” Terbungkam ia membisu. Yoona mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali. Sesuatu yang basah menyentuh permukaan bibirnya. Setengah tak percaya saat ini siwon tengah memejamkan mata, mengulum bibirnya. Ciuman lembut itu memberikan kesan hangat dibawah teduhnya pohon maple serta terangnya senja sore. Untuk beberapa menit siwon masih mengulum bibir yoona. Hingga perlahan siwon melepas tautan bibir mereka. Yoona masih dengan keterkejutannya. Membuatnya tak dapat membalas ciuman siwon.

“Hari mulai gelap. Kajja kita pulang” namja itu telah berdiri dari duduknya. Berjalan ia selangkah demi selangkah meninggalkan yoona yang masih mematung terdiam.

“Benarkah ini nyata?” gumamnya. Tergerak ia menyentuh bibirnya. Hangat kecupan siwon masih terasa. Senyum manis merekah di bibirnya.

___(n_n)___

 

Yoona memeluk erat pinggang siwon. Malam ini dewi malam tengah benderang memperlihatkan kecantikannya. Berdayangkan ribuan bintang yang menyihir pekat kegelapan menjadi bercahaya dengan terangnya. Disini ia berada. Merasakan kehangatan dibalik punggung sang pangeran. Menghirup dalam aroma tubuhnya. Tak hilang oleh hembusan angin malam. Sungguh sebuah moment terindah.

“Gomawo” kata yoona begitu siwon mengantarkannya sampai di depan rumah. ia masih berdiri disitu. Namja itu terdiam sejenak kemudian turun dari motor sport nya. Berjalan lebih dekat kearah yoona.

‘CHU~’

Sepersekian kali siwon telah berhasil membuat degup jantung berdetak cepat. Menciptakan rangkaian bunga yang memenuhi selubung hati. Memeberikan air untuk bunga itu membuatnya mengakar begitu kuat. Lama siwon mengecup kening yoona. Mengisyaratkan sesuatu yang yoona pahami. Gadis itu memejamkan mata. Menikmati memontum ini. Siwon mulai menjauhkan kepalanya dari yoona. Gadis itu membuka kelopak matanya.

“Sudah sana cepat masuk” titahnya kemudian mengelus lembut pucuk kepala yoona. Siwon berbalik hendak berjalan.

“Oppa”

“Nde”

“Aku…. sebenarnya aku…. aku….” yoona nampak gusar ingin mengungkapkan sesuatu. Digigitnya bibir bawahnya.

“Besok saja. Kita masih bisa bertemu lain kali” siwon memberikan senyum manisnya. Kemudian ia berjalan menuju motornya. Selang beberapa detik motor sport itu telah melenggang dari hadapan yoona.

“Aku ingin mengatakan bahwa aku mencintaimu, choi siwon”

____(n_n)____

 

Sudah seminggu semenjak hari itu yoona tak lagi mendapati pangerannya. Sosok penyejuk jiwanya entah tengah menghilang kemana. Menyisakan bayangan semu yang tak pernah diinginkannya. Telah ribuan kali ia bertanya mengenai keberadaan sosok itu namun nihil.

Kemana gerangan kau penyejuk jiwa? Sedang apa gerangan kau penggetar rasa? Dimana harus ku melangkah agar kembali ku temukan sinarmu? Keresahan mulai menyelimuti hati. Demi tuhan aku merindukanmu, mencemaskanmu, mencintaimu.

Duhai jiwa penghapus lara. Pintaku, jangan kau buat aku melihatmu bagai abu-abu. Jika itu putih jadilah putih dan jika itu hitam maka tetaplah hitam.

Yoona menatap nanar bangku taman belakang sekolah itu. Ada rasa nyeri didalam hati. Ada apa dengan siwon? Kenapa tak pernah muncul seminggu terakhir ini. Setelah berhasil mencuri ciuman pertamanya apa namja itu akan kabur begitu saja? tidakkah itu kejam?

“Hosshhh… hosshh… yoong, siwon….”

“Siwon? Ada apa dengannya?” seru yoona segera. Terlebih dulu yuri mengetur nafasnya.

“Wae yul? Cepat jawab aku!” tak sabar yoona mulai tersulut emosi.

“Siwon akan di oprasi hari ini” yuri melirik jam tangannya.

“Empat puluh lima menit lagi” katanya. Yoona terhenyak. Tak membuang waktu lagi segera ia berlari meninggalkan yuri. Sooyoung tiba dengan nafas tersenggal.

“Dimana yoona?” tanyanya pada yuri. Yuri tak menjawab ditariknya tangan gadis itu ikut berlari mengejar yoona.

___(n_n)___

 

“Yoona tenanglah. Dia akan baik-baik saja”

“Bagaimana aku bisa tenang yul? Dia akan di oprasi, itu berarti selama ini dia sakit dan aku tak mengetahuinya sama sekali. Katakan padaku bagaimana aku bisa tenang?” derai air mata itu tak lagi dapat terbendung. Kecemasan serta kegundahan hatinya menyelubungi rasanya. Tukut akan sesuatu yang buruk terjadi pada pangerannya.

“Ahjussi tambah kecepatan!” titahnya pada sopir taxi.

“Yoong!” koor YulSoo. Pasalnya mereka sudah cukup dengan kecepatan tinggi. Yoona tak menghiraukannya. Namun tiba-tiba saja taxi itu berhenti.

“Wae? Kenapa berhenti!!”

“Terjadi kecelakan di depan sana nona. Kita harus menunggu” jelas sang sopir. Yoona melirik arloji pada pergelangan tangannya. Sudah tak ada waktu lagi. Dibukanya segera pintu belakang taxi.

“Yoong!!” panggil yuri dan sooyoung. Namun yoona telah berlari meninggalkan tempat. Gadis itu berlari dengan kencang sekencang yang ia bisa. Tak peduli bagaiman tatapan orang-orang, yang ada dalam kepalanya saat ini adalah segera menemui sang penyejuk jiwa. Sesekali ia mengusap kristal bening yang membanjiri pipi. Namun tak jua berhenti derai air itu.

“Kumohon bertahanlah oppa. Bertahanlah untukku. Tunggu aku. Aku akan datang sebentar lagi”

Diterobosnya pintu utama rumah sakit. Nafasnya tersenggal. Peluh keringat ikut membanjiri tubuhnya.

“Dimana pasien bernama choi siwon dirawat?” tanyanya pada resepsionis.

“Kamar nomor 3027. Ada pada lantai tiga”

Gadis itu kembali berlari menuju ruang rawat siwon berada. Terlalu lama menunggu lift ia memutuskan naik tangga darurat.

“Masih ada waktu lima menit” desisinya sembari terus berlari.

Sesampainya ia pada lantai tiga. Segera ia mencari nomor kamar rawat siwon. Berbelok ia pada sebuah lorong. Samar-samar dari kejauhan ia melihat kamar bernomor 3027.

“Kumohon bertahanlah untukku”

‘BRAKKK’

“Hosshh… hosshh…hosshh” untuk beberapa menit hanya terdengar deru nafas yoona di ruang itu.

“Hikss…” sebuah suara yang tak ingin didengarnya kini menggema dalam ruangan itu. Yoona mendongak, dilihatnya dua orang tengah membelakanginya. Mereka orangtua siwon. Tn. Choi memeluk pundak istrinya, merengkuhnya mencoba menenangkan.

“A-niyo…” lirih yoona. Tubuhnya bergetar hebat. Matanya masih tertutp oleh genangan air mata.  Berjalan ia melangkah perlahan. Sakit, sesak dadanya seketika kala melihat sosok yang seminggu terakhir ini ia cari kini tengah terbaring lemah di atas ranjang. Wajah pucat pasinya berpantulkan sinar sang surya membuat pisau itu kian merobek hati. Disentuhnya permukaan wajah pucat itu.

“Ireona….” bisiknya tepat pada telinga siwon. Namun namja itu masih saja dalam kebisuannya. Menutup kelopak mata.

“Oppa Ireona palliwa” bisiknya teramat pelan untuk kedua kalinya.

“Hikss…. yeo-bo” Ny. choi tak lagi dapat menyaksikan pemandangan didepannya. Ia bersembunyi pada dada bidang Tn. Choi. Sementara Tn. Choi yang juga tak sanggup segera membawa Ny. Choi menjauh dari tempat itu.

“Kau dengar aku oppa? Buka matamu! Aku ada disini sekarang” mata gadis itu mulai berkaca-kaca. Hening. Tak ada balasan dari namja ini.

“Yoong” dirasakannya sebuah pelukan hangat dari belakang. Yoona tahu itu pasti kedua sahabatnya.

“Kenapa siwon tak juga bangun yul?” tanyannya masih enggan lepas menatap namja itu. Yuri serta sooyoung semakin mendekap tubuh kecil yoona. Mengerti bahwa sahabat mereka ini membutuhkan sandaran.

“Ada apa dengan kalian? Mengapa menangis? Apa yang kalian tangiskan?!” dilepaskannya dekapan kedua sahabatnya secara paksa.

“Yoong, siwon sudah tiada….” yuri kembali merangkul yoona. Buliran air mata itu jatuh memebasahi pipinya.

“Tidak yul. Dia belum meninggal. Dia tak mungkin pergi begitu saja” lirihnya. Suara parau yoona membuat sooyoung semakin terisak.

“Ini kenyataan yoong”

“KUBILANG DIA BELUM MENINGGAL!!” memuncak sudah amarahnya. Sooyoung serta yuri menatap sedih sahabatnya.

“Oppa buka matamu oppa! Jangan buat aku cemas. Katakan pada mereka bahwa kau masih hidup. Oppaaa buka matamu sekarang!!” yoona mengguncang tubuh siwon. Berharap namja ini sudi untuk sekedar menggerakkan kelopak mata. Terisak ia dalam kepiluan. Sebuah kenyataan yang masih enggan ia tela’ah. Sooyoung kembali merengkuh yoona. Memberikan ketenangan meski ia tahu yoona teramat terpukul. Yuri ikut memeluk kedua sahabatnya. Ketiga gadis itu menangis melukiskan kepiluan hati.

“Yoona jangan sepeeti ini. Kumohon” kata sooyoung menatap pilu yoona. dalam tangisnya yoona menggeleng kuat.

“Ini tidak mungkin Soo. Dia tidak mungkin pergi begitu saja in…. hiks…hiks…” menangis ia tersedu-sedu. Merasakan ulu hati yang terlukai.

“Op…ppaaa…hiks….” Suaranya tercekat berpautkan isakan. Tubuhnya lemas terulai. Kakinya tak lagi dapat menopang tubuhnya. Ia terduduk dalam perih yang menyayat hati.

“Aku bahkan belum sempat mengatakan cinta padamu… Belum sempat melihat senyummu untuk terakhir kalinya. Belum sempat mengatakan selamat tinggal untukmu. Kenapa kau tega sekali meninggalkanku dalam diam oppa?” menangis ia dalam kenestapaan yang menjeratnyanya dalam kepedihan yang tak berujung.

Yuri dan sooyoung ikut berjongkok memberikan kekuatan pada yoona. Tak tega melihat betapa hancur gadis ini.

“Uljimayo yoong” ucap sooyoung di tengah isaknya.

“Bukankah dia sungguh kejam? Pergi meninggalkanku tanpa mengatakan sepetah kata! Kau jahat choi siwon! Kau orang jahat!” menjerit ia dalam kepahitan lara. Menderai menaburkan garam pada luka. Yuri serta sooyoung hanya dapat menatap nanar sahabatnya ini.

 

Separuh hatiku pergi,

Pergi begitu saja tanpa ucap

Tanpa memberi kesempatan bibir ini untuk sekedar menyuarakan ‘Saranghae’

Inikah akhir dari kisahku? Seperti inikah diary cintaku?

Tuhan, sebegitu burukkah aku dalam pandangan-Mu hingga Kau menggariskan takdir dalam kenestapaan ini.

____(n_n)____

 

Kenangan hanyalah sebuah kenangan. Sebuah kepingan manis yang tersimpan dan terkuci dalam memori. Kerap kali kesedihan menghampiri. Sedang kebahagiaan dirasa hanya menyapa seolah enggan untuk berlama-lama hinggap dalam kehidupan. Ini hanyalah sebuah sekenario belaka. Memerankan tokoh dalam sebuah drama dimana Dia-lah sang sutradara. Segalanya adalah milik-Nya dan pada akhirnya akan kembali pada-Nya.

Siang itu yoona temangu. Duduk di bangku coklat panjang. Kejadian tujuh tahun silam masih membekas dalam ingatannya. Siwon terkena kanker pankreas, hari itu belum sempat ia dioprasi namun Tuhan berkehendak lain. Kini ia kembali setelah pergi meninggalkan tempat bersejarah ini. Disini biasa ia dan siwon duduk. Sekedar membaca buku atau bercerita. Yoona menghela nafas berat. Semua hanya tinggal kenangan.

“Yoona” panggil sebuah suara. Yoona mendongak. Ia kemudian tersenyum, berdiri lalu membungkukkan badan.

“Annyeonghaseo guru kim” sapanya santun. Guru kim mengangguk tersenyum hangat kemudian duduk memberi isyarat pada yoona untuk ikut duduk.

“Aku senang kau sudah lebih baik dari tujuh tahun yang lalu” kata guru kim memulai pembicaraan. Yoona hanya tersenyum tipis menaggapinya.

“Ada sesuatu yang ingin ku berikan padamu” yoona mengerutkan dahi. Guru kim menyodorkan sebuah box biru berukuran sedang kepada yoona. yoona menerimanya masih dengan ketidak mengertiannya.

“Sehari sebelum siwon dioprasi ia memberikan box itu padaku” guru kim memandang kedepan menghembuskan nafas sejenak. Yoona melihat tak percaya box biru dalam tangannya itu.

“Siwon bilang aku harus memberikannya setelah ia pergi. Sebenarnya aku ingin memberikan ini hari itu tapi kau telah pergi lebih dulu” guru kim menghela nafas berat.

“Gomawo guru kim” yoona menatap sendu box biru itu. Linang air matanya kembali jatuh dari sudut mata. Mengorek luka lama yang terpendam. Luka? Benarkah itu pantas disebut luka? Entahlah. Dibukanya box biru itu. Terdapat setumpuk surat didalamnya. Setangkai bunga mawar dan…… mini boneka rusa.

Flashback End

 

Yoona menyeka bulir air matanya. Enam puluh tahun lamanya siwon tak lagi berada disisinya. Selama itu pula ia hidup dalam kehampaan karna siwon telah membawa separuh jiwanya pergi. Hidup di desa yang jauh dari kebisingan kota. Ia membangun sebuah panti asuhan. Hingga saat ini rasa itu masih saja ada untuknya. Mengekal dalam hati mengakar kuat dalam jiwa. Yoona memandang kembali goresan tinta hitam pada putih kertas dalam genggamannya.

 

Dear Deer…..

Aku tahu, aku mengerti, aku memahami. Betapa engkau kecewa terhadapku. Mianhae, maafkan aku. Bukan maksud hati menoreng luka namun inilah jalan kita. Aku meyakini pertemuan kita ialah sebuah takdir. Aku berterimakasih pada-Nya telah mengirim bidadari cantik dalam hidupku. Tahukah kau betapa rasa ini bergemuruh tiap kali menatapmu? Jantung ini tak henti-hentinya berdetak beratus kali lipat ketika melihat senyummu. Aku tahu kau selalu mengintipku dari balik rak buku. Memperhatikanku tiap kali aku duduk di taman belakang sekolah. Ku biarkan kau dengan kegiatanmu karna aku bahagia. Yah aku bahagia gadis yang ku cintai juga memiliki rasa yang sama denganku. Ketika hujan siang itu bukan karna tak sengaja aku berada di halte bus. Aku mengikutimu. Selalu Im Yoona, Inginku menjadi perisai bagimu meski harus menjadi bayangmu. Tersenyum tiap kali melihat tingkahmu ialah rutinitasku.

Ketika kau datang menghampiriku di perpustakaan. Tahukah kau bahwa aku diderai rasa gugup. Gundah, entah apa yang akan ku katakan padamu nantinya. Kulihat langkahmu semakin dekat. Denyut nadi ini serasa berhenti seketika. Kulirik kembali kau yang masih berjalan mendekat kearahku namun seruan kedua temanmu menyadarkanku akan sesuatu. Segera aku beranjak. Membiarkan tumpukan buku tebal itu mengenai punggungku. Tak apa asalkan kau, rusaku tak mengalami luka sedikitpun. Deer, kau rusaku rusa kecilku karna tingkahmu yang ceroboh.

Dear Deer….

Aku yang sesungguhnya bukanlah orang yang kau lihat selama ini. Aku dingin hanya untuk menutupi kelemahanku. Ku sadari sikapku sangat tak jantan. Aku terlalu takut untuk mendekatimu. Terlalu takut untuk berada disisimu. Takut akan menuai kepedihan dalam hidupmu. Namun hasrat ini telah memuncak. Tak dapat ku kontrol untuk tidak melihatmu sedetik saja. Hingga hari itu tiba. Aku tahu hari itu akan datang cepat atau lambat. Maka ku putuskan untuk menciptakan banyak kenangan manis dalam waktu singkat itu sebelum kepergianku. Mengubah sikap dinginku agar kau dapat bahagia disisiku. Agar kau merasakan getaran jiwa ini.

Kala itu saat kau bercerita mengenai ibumu percayalah bahwa aku ikut menangis. Tak kuasa membayangkan bagaimana jika kau tahu akan hidupku. Aku tak ingin melihat guratan kesedihan itu menghiasi parasmu. Demi tuhan aku ingin merengkuhmu membawamu dalam kehangatan. Kubiarkan hasrat menciummu menyeluak. Mungkin ini akan menjadi ciuman pertama sekaligus terakhir bagi kita. Ku potong kalimatmu malam itu karna aku tahu apa yang akan kau ucapkan. Aku tak ingin kalimat itu akan menjadi belati untukmu karna esok kau tak lagi dapat melihatku. Esok kau akan semakin terluka jika saja kalimat itu berhasil terucap.

Apa kau tahu deer betapa bahagia aku di hari itu? Takkan ku lupakan kenangan indah di hari itu. Terima kasih telah memberikan kesan manis di sisa hidupku. Deer ketika ku toreng tinta hitam ini, aku tengah berada di sebuah kamar bernuansa putih. Bau obat. Aku ingat betul kau sangat tak menyukai bau ini. Hari ini aku akan menjalani oprasi. Disini aku termangu, menatap pintu itu. Berharap sosokmu dapat muncul dibaliknya. Berlari menerjang kepekatan, meraih tanganku mengikutimu. Tersenyum kecut aku dalam diam. Sunyi, hanya suara detak jantungku yang menggema. Tuhan memliki cara bagaimana seharusnya umatnya bahagia. Hari ini kau memang jatuh terpuruk namun detik berikutnya jangan biarkan jatuh melukai tubuhmu.

Aku akan menantimu dikehidupan mendatang. Menggenggam tanganmu, mengajakmu merajuk meraih bahagia kita. Dari tempat-Nya aku akan selalu berdoa untukmu deer. Takkan berhenti untuk mencintaimu. Kelak Tuhan pasti akan menyatukan cinta kita. Dengan cara terindah-Nya tentunya.. Maaf telah lancang menyakitimu. Namun inilah caraku mencintaimu. Menjagamu dari keperihan yang lebih nantinya. Terimakasih telah menyimpan rasa itu dalam hatimu. Kau teramat berharga bagiku.

Saranghaeyo Im YoonA~

_Choi Siwon.

 

Air mata itu mengalir kembali setelah sekian lama bersembunyi. Entah ia harus bagaiman. Tak dapat dipungkiri bahwa ia bahagia, namja itu juga menyimpan rasa padanya. Namun ia juga tak dapat berbohong bahwa kekecewaan itu pun berkecambuk dalam hatinya. Kecewa mengapa namja itu tak memberi kesempatan hanya untuk mengucapkan selamat tinggal. Dan inilah kehidupan, pahit manis memang. Dipeluknya erat lembar berharga itu.

“Nado saranghae Choi Siwon” lirihnya pilu. Matanya perlahan terpejam. Seakan lelah dengan lelehan air mata itu. Gelap pekat membekap. Bagai anak rusa yang tersesa dalam rimba. Mengarah tanpa tujuan. Satu titik terang menyilaukan mata. Hangat ia rasakan pada telapak tangan. Genggaman itu. Aroma itu. Senyum reka ia bahagia. Sosok itu telah kembali. Sosok itu kembali untuk menjemputnya menuju surga-Nya. Inilah akhir yang sesungguhnya.

~FIN~

 

Hohoho…. Bagaiman? Garingkan? Ngeboseninkan? Terlalu berbelitkan? GaJe abiss!! >< Maaf, maaf saya masih banyak kekurangan. Masih author amatiran. Jika banyak menemukan typo saya juga minta maaf karna tak sempat meng-edit.

Flashback dalam cerita ini terinspirasi oleh cerita hasil karya salah satu author tercintaku. Terimakasih banyak ku sampaikan untukmu yang telah bersedia memberi saran, berbagi pengetahuan serta telah menginspirasiku. Terimakasih juga karna ff nya buat saya menemukan sebuah alur flashback dalam cerita ini. Makasih kak Icha/Shineelover14^^ masih berharap banget ff  ‘The Wedding Blind’ ada sequel or epilog nya hehe *padahal udah tau jawabannya-_- yakin deh para nited pecinta ff juga ngarep gitu XXD

Terimakasih untuk Bunda dan Ahjumma (?) telah mensupportku selama ini. Tak lupa juga buat para yeodongsaengku tercinta, Eonnideul yang aku hafal baget mereka suka baca ff^^ dan seluruh YoonWonited dalam grup maupun luar grup yang tak dapat kusebutkan satu persatu, ku ucapkan terimakasih banyak atas dukungannya. I Loph Yu pull :*

Reader tercinta tanpa kalian seorang author takkan menjadi apa-apa, terimakasih telah meluangkan waktu untuk membaca cerita gak jelas ini dan mohon tinggalkan jejak yah^^ dapat pahala loh nyenengin orang kkkk~

Ini nih yang paling penting. Gomawo jeongmal gomawoyo buat Admin GEE^^  beberapa waktu lalu udah mau aku repotin dengan berbagai pertanyaan, meski hiatus tetap inget kami yahh. Sukses buat UN-nya mari berjuang bersama #JiwaAnakKelas12 (?) buat Echa eonni selaku admin sementara ywk, ku ucapkan juga terimakasih telah bersedia ngepost ff ini^^  #Hug, Kiss :*

Jika ada jarum yang patah jangan disimpan dalam kotak. Jika ada kata yang salah jangan dipikir sampai botak😀

Salam manis dari author :* #Kiss reader atu2

Paii Paii ^_______^

 

 

 

Tinggalkan komentar

105 Komentar

  1. aat yoonwon

     /  Oktober 30, 2013

    Cerita yang mengharukan

    Balas
  2. T_T.. Haduhh,, kehilangan orng yg dicintai itu nyesek bget:'( Sadding bget….

    Balas
  3. Chika Choi

     /  November 12, 2013

    nyesek bcax,sumpah menyentuh bgt kta ktax.

    Balas
  4. ayu dian pratiwi

     /  Februari 2, 2014

    Sad ending .😦

    Balas
  5. Salut ma kisah cinta mereka🙂
    daebakKk . .
    Next ff dtnggu unN🙂

    Balas
  6. Anita harahap

     /  Februari 24, 2014

    Banjir air mata…
    Tolong buat ff yg happy ending utk selanjutnya..
    Jgn sad ending lagi..
    Hiks hiks…

    Balas
  7. Rhiiyoonah

     /  April 25, 2014

    Hiks..hiks..hiks…
    Huuaahhh,thor crta’a menyentuh hti pke bgt ..

    Balas
  8. any

     /  Mei 8, 2014

    Oh my god!!! Bagus pokok’e. Kisah cinta jaman sma itu bagus utk diikuti. Krn ini dari cerita yoona jadi aku g nyangka kalo sebenernya siwon juga ada rasa. Seandainya ada serialnya gitu pasti bagus tp tolong serialny jgn sad end. Jadi berimajinasi sendiri hehehe. Biasanya aku suka sebel ada sad end. Tapi setelah baca surat dari siwon aku jadi terharu meneteskan air mata. Apalagi saat yoona dijemput siwon diakhir hidupnya. Romantisssss…

    Balas
  9. Cha'chaicha

     /  Juni 18, 2014

    Keren bgt..

    Balas
  10. kisah cinta sejati.. q trharu bgt baca ff ini.. jd kehabisan kata2.. pokok’y daebak ff’y.

    Balas
  11. Mengharukan dan menyesakkan…. T_T

    Balas
  12. Riissa Icca

     /  Mei 15, 2015

    Ya Ampunn sedih banget😥
    Kenapa sad Ending , kasian yoona eonni nya sendirian sampai hari tua nya😥

    Balas
  13. Shin ra

     /  Juni 7, 2015

    Bikin terharu..:-“

    Balas
  14. Huwaaaaaahhh…..kenapa gini sih??? Sampek menetes air mata di pipi….hmmm…bagus , ke depannya lebih semangat yaaa…

    Balas
  15. melani

     /  April 30, 2016

    Gila sedih bgt waktu baca ceritanya bahkan sampe nangis.. kasihan yoonanya dia baru bisa deket sama siwon tapi akhirnya siwonnya meninggal bahkan walaupun udah puluhan tahun siwon gak ada dia tetep cinta sama siwon..

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: