[FF] Y Saranghae (Chapter 9 – 7 Years of Love)

ys yoonWON-ES

[FF] Y Saranghae (Chapter 9 – 7 Years of Love)

Title : Y Saranghae – 7 Years of Love

Type : Sequel

Author : Choi Hyun Mi/Twitter: @Nita_Rahayu22

Main Cast :Choi Siwon, Im Yoon Ah, Lee Donghae

Other Cast :Kwon Yuri,Cho Kyuhyun, Etc……

Genre: Romance , Sad,

Rating : PG 15+

Backsound: 7 Years Of Love By Kyuhyun Super Junior

Kami bersama selama tujuh tahun

Kembali kepada kenangan kita yang takkan pernah aku hapus dari kenangan dan ingatanku

Setiap kali aku sedih aku akan memanggil mu tanpa kata hanya air mata yang terjatuh

Tak ada yang tahu kita akan mengucapkan selamat tinggal ini dengan mudah

Dengan kenangan yang telah kita bangun dalam waktu yang tak singkat, sekarang hilang

Waktu berlalu dan itu memberikanku kerinduan yang mendalam

Kau harus bertemu seseorang yang baik

Sering aku merasakan kau bersifat dingin pada ku

Tapi sekarang aku tahu kau tidak bisa meminta apa-apa

“Aku akan menikah” itulah yang kau katakanpadaku

Setelah itu untuk waktu yang lama aku terdiam

Untuk kata-kata terakhir saja, aku ingin mendengar kau mencintaiku.

 

Y Saranghae

Jika memang bintang selalu setia menemani langit, jika memang bintang tak pernah meninggalkan langit. Lalu kenapa ada bintang jatuh? Bukankah itu artinya bintang juga bisa meninggalkan langit? Bukankah itu artinya, bintang tak bisa setia pada langit?

 

Author POV

Tepat pukul 11.00 KST pesawat yang membawa Yoona dan Siwon mendarat di bandara Internasional Incheon Korea Selatan. Para penumpang yang lain, begitu pula dengan Siwon dan Yoona segera turun.

“Kau mau langsung pulang ke rumah….?” Tanya Siwon yang berjalan beriringin bersama Yoona.

“Ne, aku langsung pulang saja ke rumah…” jawab Yoona yang memang sudah merasa lelah.

“Kalau begitu aku antar…” ujar Siwon lalu mengambil alih koper yang Yoona bawa.

Mereka berdua kembali berjalan menuju mobil yang sudah menunggu luar.

End of Author POV

 

Donghae POV

Sejak Dokter memvonis jika aku mengidap kanker otak, jujur saja sebenarnya tak ada lagi semangat dalam hidup ku untuk melanjutkan hidup.  Rasanya percuma saja, sekuat apapun aku berusaha tetap saja penyakit ini akan menggorogoti diri ku sekaligus usia ku. Tapi, hanya ada satu nama yang membuatsetidaknya semangatku kembali bangkit yaitu Yoona. Setiap kali aku mengingat namanya, rasanya aku mempunyai sebuah kekuatan. Ini terlalu berlebihan atau memang perasaan ku saja, entahlah yang jelas untuk saat ini Yoona adalah penyemangat ku.Tak perduli siapa yang Yoona cintai saat ini. Aku hanya membutuhkan dirinya sekarang, setidaknya dia berada disisiku untuk menemani sisa hidup ku saja.

Aku berjalan di lorong rumah sakit ini, terasa sunyi itulah yang ku rasakan. Hanya ada beberapa orang suster yang berpapasan dengan ku itu juga mereka membawa pasien-pasien yang sepertinya sama seperti diri ku. Ada rasa iba melihat seorang anak kecil yang di dorong suster itu, tubuhnya begitu kurus dan kepalanya botak. Sepertinya dia menderita penyakit Leukimia, sehingga rambutnya rontok. Dan yang lebih meyakinkan lagi adalah dia keluar dari ruangan kemo terapi untuk penderita Leukimia. Tapi, yang membuat aku kagum adalah dia tersenyum. Aku sama sekali tak melihat mimik kesakitan, apalagi kesedihan dari mata polosnya. Justru dia terlihat tegar, aku merasa malu. Dia saja begitu tenang menghadapi penyakit yang sama mematikannya, tapi aku? Aku merasa akulah yang paling menderita, tapi ternyata dugaan ku salah. Ternyata di luar sana masih banyak orang yang kurang beruntung dari pada diri ku.

Sembari menunggu hasil pemeriksaan yang sepertinya belum juga selesai, ku putuskan untuk duduk disalah satu bangku. Ku lihat orang-orang berlalu lalang, tapi lama-kelamaan orang-orang itu menjadi tak jelas dimata ku. Sejak kapan aku menderita cacat mata? Kenapa tiba-tiba aku tak bisa melihat mereka dengan jelas, mereka semua buram dimata ku. Segera ku singkirkan pikiran buruk yang tiba-tiba saja menghantui ku, mungkin ini hanya perasaan ku saja.

Tiba-tiba sebuah jeritan histeris ku dengar di sebuah ruang perawatan, aku tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Maka, aku segera bangkit lalu berjalan lebih mendekat pada sumber suara itu.

“Tidak, Ma Joon tidak meninggal. Dokter selamatkan putra ku, ku mohon….”

“Maaf, kami sudah berusaha…”

“Tapi Dokter…”

Ku lihat melalui kaca jendela, seorang wanita paruh baya menangis. Aku bisa merasakan dia begitu kehilangan putranya yang sepertinya baru meninggal. Namun, yang menjadi pertanyaan ku, meninggalkan karena apa dia? Pintu ruangan pun terbuka, seorang suster keluar dari dalam. Aku segera mendekat lalu bertanya padanya.

“Suster, boleh saya tahu pasien itu meninggal karena apa?”

“Pasien itu meninggal karena kanker otak?”

Jawabnya, entah  kenapa aku merasa jika jawaban suster ini, begitu menyesakan ku.

“Kenapa bisa dia meninggal?”

“Satu jam yang lalu pasien melakukan operasi, tapi ternyata pasien tidak bisa di selamatkan..”

“Begitu, terimakasih…”

Kembali kulangkahkan kaki ku perlahan menuju tempat semula, ku dudukan kembali diri ku sambil terus mengingat kata-kata suster tadi. Tubuhku melemas, jika mengingat perkataan suster tadi apakah hal seperti itu juga akan ku alami?

End of Donghae POV

 

Siwon POV

Ku antar Yoona sampai rumah, sudah lama sekali aku tak kemari. Sejak aku pergi, baru sekarang aku kembali menginjikan kaki ke rumah ini lagi, rumah yang bisa dibilang menyimpan banyak kenangan antara aku dan juga keluarga Jung. Ku lihat dekorasi ruang tamu ini, tak ada yang berubah sama sekali masih tampak seperti dulu. Sofa yang sekarang ku duduki juga masih sama, mungkin hanya warnanya saja yang tampak sedikit memudar, mungkin karena sudah lama termakan oleh waktu.

Dulu, jika aku sedang menunggu Yoona seperti ini paman Jung selalu menamani ku, aku masih ingat jelas wajahnya yang sendu yang selalu tersenyum ramah serta menyambutku dengan sangat  baik jika aku datang kemari. Menunggu Yoona, sambil menemaninya bermain catur, rasanya semua itu masih sangat jelas diingatan ku. Tapi, sekarang sosok itu sudah menghilang untuk selamanya, setelah aku tahu dari Yoona jika paman Jung meninggal setelah aku pergi, ada penyesalan dalam diri ku. Aku pergi tanpa pamit padanya, padahal dia sosok yang sangat menghangatkan bahkan aku selalu merasa nyaman berada di dekatnya, dia-paman Jung sudah ku anggap sebagai ayah ku sendiri.

“Maaf lama menunggu…”

Lamunan ku buyar sudah tak kala suara itu ku dengar, ku lihat Yoona yang sudah berdiri dengan penampilan yang lebih terlihat segar. Dia tersenyum padaku, senyum yang begitu cantik dimataku.

“Apa Oppa mau makan dulu?” Tanyanya sembari duduk di sampingku.

“Aku tidak lapar, oh yah bibi mana? Aku juga tidak melihat Krystal?’

“Sepertinya bibi sedang ke pasar, Krystal biasanya jam segini dia les…”

Aku hanya tersenyum merespon ucapannya, tiba-tiba terlintas sesuatu di benak ku.

“Yoona…”

“Euh ada apa Oppa?”

“Kapan kau akan mengatakannya pada Donghae?’ Tanya ku menatap kedua bola mata hitamnya. Ku lihat Yoona sedikit menundukan kepalanya.

“Secepatnya Oppa…” jawabnya pelan tapi masih dapat ku dengar dengan jelas.

“Baiklah, aku juga akan segera mengatakannya pada Jessica..” jawab ku. Yoona tersenyum sambil menganggukan kepalanya. Ku rengkuh tubuhnya, lalu mendekapnya. Entah kenapa aku merasa akan terjadi sesuatu sehingga aku ingin memeluknya dan tak mau melepaskannya. Apa yang sebenarnya akan terjadi?”

End of Siwon POV

 

Author POV

Yoona duduk di sebuah bangku yang berada di tepi sungai han, saat ini dia sedang menunggu Donghae yang tak kunjung datang. Cuaca sudah mulai terasa dingin, Yoona mengeratkan jaketnya untuk sedikit menghalau dingin yang ia rasakan.

“Yoona..” panggil seseorang.

Yoona melihat Donghae yang tak jauh dari tempatnya berada sekarang, dia berdiri lalu menampakan sebuah senyum pada namja itu. Perlahan Donghae berjalan lebih mendekat lagi pada Yoona. sampai akhirnya mereka berdiri berhadapan, tak menunggu lama Donghae segera memeluk Yoona. Mata namja ini memanas sepertinya Donghae akan segera menangis.

“Oppa…”

“Bogoshipo..jeongmal bogoshipo Yoona-yaa….” Ucap Donghae. Dia menyeka air matanya yang sudah terjatuh.

Yoona hanya diam, tak membalas pelukan namja ini. Ada perasaan bersalah yang menyelimuti hati dan pikirannya, sampai-sampai Yoona tak dapat membuka bibirnya untuk bersuara. Donghae melepaskan pelukannya lalu menarik Yoona supaya duduk.

“Kapan kau tiba di Seoul?’ Tanya Donghae menatap Yoona dengan wajah yang berbinar.

“Tadi siang Oppa?” jawab Yoona tersenyum.

“Jinjja? Kenapa kau tak menelpon ku, mungkin aku akan menjemput mu di bandara?”

“Tadi….aku langsung ke kantor..” jawab Yoona berbohong untuk kesekian kalinya.

End of Author POV

 

Yoona POV

“Tadi….aku langsung ke kantor..”

Lagi-lagi aku berbohong padanya, kenapa kau begitu tega Im Yoona. Kenapa kau begitu tega membohonginya? Aku tak tahu harus menjawab apa, tak mungkin rasanya jika aku jawab tadi aku pulang bersama Siwon. Bukankah itu akan melukai hatinya?

Melukai hatinya? Bukankah kau sudah melukai hatinya secara tidak langsung Im Yoona? Kau menghianati cinta tulus yang sudah Donghae berikan selama 7 tahun lamanya, kau sudah menghianati kesetian yang Donghae berikan selama 7 tahun lamanya? Bukankah aku ini seorang penjahat?

Ku tatap wajah sendunya dari samping, dia terlihat pucat meskipun saat ini dia sedang tersenyum tapi tetap saja aku melihat ada yang sedikit berbeda dari wajahnya. Apa ini perasaan ku saja? Apa karena cuaca dingin dia jadi seperti ini? Lama aku menatap wajahnya dari samping, itu semakin membuat ku merasa bersalah. Tapi apapun itu, aku harus bisa mengatakannya. Bagaimana pun juga, Donghae harus tahu jika aku ternyata lebih mencintai Siwon. Lebih mencintai Siwon? Berarti aku juga mencintainya? Setiap kali pertanyaan itu muncul di benak ku, jujur saja aku tak bisa menjawabnya.

Siwon, wajah pria itu terlintas begitu saja di benak ku. Ku tahu saat ini dia sedang menanti ku, aku sudah berjanji padanya. Untuk hidup dengannya, dan meninggalkan pria yang saat ini duduk bersama ku.

“Donghae Oppa…” panggil ku. Dia menoleh dengan senyuman yang selalu seperti itu pada ku.

“Waeyo…?” Tanyanya terlihat heran.

Ku tatap mata sendunya, tatapan itu membuat ku membeku. Rasanya sarap-sarap ku tak berfungsi, bahkan sekarang aku kaku tak tahu harus melakukan apa. Ku coba gerekan bibir ini untuk bicara, tapi apa daya ternyata aku tetap tak bisa. Donghae tersenyum lalu mengusap kepala ku.

“Kau ini, ku kira ada apa…” ucapnya lembut lalu kembali menatap tenangnya air sungai Han.

“Oppa kita putus…” entah mendapat keberanian dari mana sehingga aku mengucapkan kalimat itu, kalimat yang aku yakini dapat melukai hatinya. Aku masih menatapnya, menunggu jawaban darinya.

“Oppa, apa kau mendengar ku….?” ucap ku lagi. Donghae masih diam tak merespon ucapan ku. benarkah dia tak mendengar ku, atau dia pura-pura tak mendengar ku.

“Oppa…” ku tepuk lenganya. Dia terperanjat kaget lalu menoleh melihat ku.

“Ada apa Yoong?” tanyanya seperti orang kelimpungan. Ku lihat Donghae dengan seksama, benarkah dia tak mendengar perkataan ku tadi?

“Apa tadi Oppa mendengar ucapan ku?’

Donghae diam, sepertinya dia sedang mencerna pertanyaan ku ini.

“Memangnya apa yang kau katakan pada ku?” jawabnya.

Benarkah dia tak mendengar apa yang ku katakan? Atau dia pura-pura tak mendengarnya? Tapi aku sudah mengatakan itu dengan sangat jelas, apalagi disini hanya ada kita berdua. Ku lihat Donghae, dia memasang wajah yang benar-benar bingung seperti menunggu ku untuk menjawab pertanyaannya.

“Apa kau yakin tidak mendengarnya Oppa?”

Donghae menggeleng sebagai jawaban lalu dia berkata “Aku tidak dengar apa yang kau katakan tadi..” jawabnya kembali tersenyum.

Ini aneh, dia tak mendengar apa yang ku ucapkan. Padahal kami hanya berdua disini, disini tak bising sama sekali, apalagi kami duduk bersama. Apa terjadi sesuatu denganya?

 

End of Yoona POV

 

Author POV

Siwon melangkahkan kakinya memasuki gedung tempatnya bekerja, pagi ini dia terlihat berbeda. Seperti ada sebuah pancaran cahaya diwajahnya sehingga membuat dia semakin terlihat lebih tampan saja, para karyawan yang berpapasan dengannya heran melihat atasannya itu yang terlihat sedikit berbeda dari biasanya.

“Selamat pagi Yuri-ssi Kyuhyun-ssi…” sapa Siwon pada Yuri dan Kyuhyun yang mematung melihatnya.

“Selamat pagi Presdir..” ucap Yuri terbata.

Setelah Siwon menyapa kedua karyawannya itu, dia kemudian masuk kedalam lift meninggalkan Yuri dan Kyuhyun yang masih terkesima padanya.

“Sejak dia menggantikan Presdir Park, baru kali ini dia menyapa ku..” ujar Kyuhyun setelah pintu lift tertutup.

“Nde, kau benar. Sejak dia menggantikan Presdir Park, baru kali ini dia tersenyum pada kita Kyu….” Timpal Yuri menanggapi.

“Yoona, apa dia sudah datang…” Kyuhyun melihat Yuri seperti teringat akan sesuatu hal.

“Kita temui dia..” Yuri segera menekan tombol lift, setelah pintu lift terbuka mereka berdua segera berhambur masuk kedalam.

Setelah lift berhenti dilantai 7 mereka berdua segera berhambur keluar untuk mencari sosok Yoona, yang pagi ini belum kelihatan sama sekali batang hidungnya.

“Apa dia masuk kerja Yul…” suara Kyuhyun sedikit berat, mungkin karena sekarang mereka berjalan tergesa-gesa.

“Molla, eh Yoona…..” teriak Yuri ketika matanya menangkap seorang yeoja berpakaian rapi yang akan masuk kedalam ruangan Siwon.

Yuri menarik tangan Kyuhyun mendekati Yoona, yang melihat kedunya bingung.

“Ada apa?” Tanya Yoona menatap kedua sahabatnya itu bergantian.

“Kami ingin menanyakan sesuatu pada mu, ikut aku..” Yuri langsung menarik tangan Yoona, Kyuhyun menghela nafas lalu ikut mengekori kedua gadis itu kemana akan pergi.

“Kau ingin bicara apa Yul, cepat katakan. Aku harus menyerahkan laporan pada Presdir..” tutur Yoona terlihat sebal akan tingkah Yuri kali ini.

Yuri menghentikan langkah kakinya, di depan sebuah gudang. Disini takada seorang pun, hanya ada mereka bertiga.

“Apa terjadi sesuatu selama kalian di Pulau Jeju?” Tanya Yuri langsung pada tujuan utamanya menarik Yoona.

“Makasud mu?”

“Kami melihat keanehan pada Siwon pagi ini, sekarang jelaskan pada kami berdua. Apa terjadi sesuatu diantara kalian?” kini Kyuhyun yang bersuara.

Yoona menghela nafas, pasti kedua sahabatnya ini akan menanyakan tentang dia dan Siwon. Sebenarnya, Yoona sudah menduga ini sejak dia pulang kemarin dari Jeju.

“Ayo…” tuntut Yuri tak sabar.

“Ayo Yoong beri tahu kami…” Kyuhyun juga ikut menuntut Yoona.

Yoona mengangkat kepalanya memandang bergantian kedua sahabatnya ini. Yuri dan Kyuhyun masih sabar menunggu jawaban dari Yoona.

“Aku dan Siwon……kami..memulainya dari awal…”

Yuri dan Kyuhyun langsung saling pandang, mereka bisa menangkap maksud dari perkataan Yoona ini.

“Kau serius?” Tanya Yuri.

“Kau tidak bercanda?” Tanya Kyuhyun.

“Aku serius, dan aku tidak becanda…” jawab Yoona lemah.

“Lalu bagaimana dengan Donghae, bagaimana juga dengan Jessica bukankah Jessica dan Siwon sudah….”

“Aku tahu itu Kyu, mereka sudah bertunangan. Aku juga sadar, aku sudah punya Donghae, tapi…aku tak bisa terus-terusan membohongi perasaan ku. Ternyata selama ini aku masih mencintai Siwon, ternyata selama 7 tahun ini aku tak pernah bisa melupakannya…” Yoona menunduk setelah mengatakan itu, ada rasa legayang ia rasakan. Pasalnya kini ia tak harus membohongi kedua sahabatnya lagi, tentang perasaannya pada Siwon.

“Lalu bagaimana dengan Donghae Oppa?’ Tanya Yuri .

Yoona menggelang “Aku tak tahu Yul, ini semua terlalu berat untuk ku. Aku tak sanggup memutuskannya, aku tak sanggup melukai hatinya. Maukah kalian membantu ku, bantu aku untuk mengatakan semua ini pada Donghae”

Kyuhyun menghela nafas panjang, lalu ikut bersandar di tembok.

“Aku tak bisa menolong mu Im Yoona….” ujar Kyuhyun datar. Yoona menoleh menatap namja berkulit putih susu itu.

“Kyu…”

“Im Yoona, ini masalah hati. Bagaimana pun juga aku adalah laki-laki, aku bisa merasakan perasaan Donghae. Aku memang sahabat mu, tapi maaf untuk masalah ini aku benar-benar tak bisa membantu mu…”

Yoona menunduk, dia sedikit kecewa karena Kyuhyun tak mau membantunya. Kini Yoona hanya punya satu orang, yaitu Yuri. Yoona menolah melihat Yuri, seakan mengerti arti dari tatapan mata Yoona, Yuri menggelang. Dan itu membuat air mata Yoona jatuh pada akhirnya.

“Kyuhyun benar, ini masalah perasaan. Mianhae Yoona, aku juga tak bisa membantu mu. Aku tak tega mengatakannya pada Donghae Oppa..Mianhae..”

“Jadi kalian berdua tak mau membantu ku……?”

Yuri dan Kyuhyun mengangguk, Yoona menyeka air matanya lalu bersiap pergi. Namun, ia menghentikan langkah kakinya.

“Terima kasih telah menjadi teman ku, pilihan kalian memang tepat kalian tak seharusnya membantu ku. Aku tak pantas berteman lagi dengan kalian, aku seorang wanita jahat, aku wanita yang egois. Aku yang selalu menyakiti hati Donghae, terima kasih terima kasih…”

Dengan langkah cepat, Yoona pergi meninggalkan Yuri dan Kyuhyun dengan linangan air mata di pipinya, karena cinta Yoona harus kehilangan dua orang sahabat yang selalu menamani hari-harinya.

Yuri menatap iba punggung Yoona, yang perlahan mulai tak terlihat dari pandangannya. Sementara Kyuhyun masih menundukan kepalanya, suasana kini hening mereka berdua sama-sama diam, tiba-tiba sebuah isakan terdengar. Yuri mengalihkan perhatiannya pada Kyuhyun, Yuri menyadari jika isakan itu berasal dari Kyuhyun.

“Kyuhyun…”

“Kenapa disaat seperti ini kita tak menolong Yoona, justru saat ini dia sedang membutuhkan kita Yul…”

Perlahan air mata Yuri turun, dia ikut menyandarkan tubuhnya pada tembok.

“Kau benar Kyu, kita bukan teman yang baik…” ucap Yuri pelan.

Yoona masuk ke ruangannya, disana sudah ada Siwon yang sepertinya kaget akan kedatangan Yoona yang tiba-tiba.

“Maaf…” Yoona menunduk merasa bersalah. Siwon tersenyum lalu berjalan menuju Yoona.

“Tidak usah seformal itu…” tutur Siwon sembari memegang bahu Yoona.

“Kau menangis?” Tanya Siwontak kala melihat Yoona yang terlihat sembab.

“A..ani…aku tidak menangis…” jawab Yoona berusaha menutupi.

“Siapa yang telah membuat ku manangis, katakan…?” Siwon tak mudah percaya begitu saja, dia tahu betul jika Yoona memang sudah menangis.

“Aku tidak apa-apa Oppa…” jawab Yoona tersenyum meyakinkan Siwon.

Siwon menyerah, meskipun dia tahu jika Yoona sudah menangis. Tapi, Siwon pura-pura percaya saja.

“Ya sudah, oh yah Yoona aku sudah punya tiket untuk keberangkatan kita ke Jerman..” ujar Siwon terlihat senang.

“Benarkah?”

“Hemm, secepatnya aku akan mengundurkan diri dari perusahaan ini. Kita segera pergi, bagaimana?”

“Terserah kau saja, tapi aku belum mengatakannya pada dia..” Yoona tertunduk, dia takut Siwon akan marah.

“Tidak apa-apa, aku juga belum mengatakannya pada Jessica. Malam ini aku akan ke rumah, sekalian aku akan bilang semuanya pada Jessica…”

“Oppa, kau yakin kita bisa melakukan ini semua?” Tanya Yoona terdengar nada keraguan.

Siwon diam, sebenaranya dia juga tak tahu apa rencana ini akan berhasil atau tidak. Mungkin pada awalanya Siwon yakin, tapi setelah kembali ke Seoul ada sedikit ketakutan dalam diri namja ini. Tapi, entah apa itu Siwon pun tak mengerti. Siwon tersenyum, lalu membelai sayang kepala Yoona.

“Ini semua harus berhasil, yakinlah..” ujar Siwon meyakinkan Yoona, sekaligus dirinya sendiri.

Donghae menerima amplop berwarna cokelat berukuran sedikit besar, perlahan dia membuka amplop tersebut lalu mengeluarkan isinya. Ternyata, itu adalah hasil ronsenan pada bagian kepalanya.

“Untuk saat ini, penyebaran kankernya tidak terlalu aktif. Tapi, bagaimana pun juga harus tetap di waspadai, dengan cara hidup sehat dan tetap jalanai pengobatan…” ujar Dokter Jung.

“Tapi Dokter setiap pagi aku masih selalu muntah tiba-tiba, di sertai sakit di kepala ku….” keluh Donghae.

“Semua penderita kanker juga begitu Donghae, apa kau merasa ada yang aneh pada diri mu lagi…”

Donghae berusaha mengingat kejadian-kejadian yang aneh beberapa hari kebelakang tentang dirinya.

“Ada, euh kadang kala aku tidak bisa melihat dengan jelas Dokter. Padahal aku tidak mengalami cacat mata, pandangan ku akan buram lalu normal lagi seperti biasa…” cerita Donghae.

“Ada lagi…”

“Lalu….pendengaran ku, aku kadang-kadang tak bisa mendengar suara-suara di sekitarku, atau suara lawan bicara ku, yah kemarin aku mengalami itu…” tutur Donghae lagi.

“Donghae, otak adalah pusat organ tubuh manusia. Semua pusatnya berada di otak, ,meskipun penyebaran kanker yang berada di otak mu masih bisa di atasi tapi untuk gejala-gejala seperti itu akan terus terjadi…..”

“Maksud Dokter…”

“Semakin lama kanker itu bersarang di otak mu, maka perlahan seluruh organ tubuh mu melemah. Penglihatan mu, pendengaran mu, bahkan kau akan tak bisa menopang tubuh mu sendiri…”

Deg….

Tubuh Donghae melemas seketika, jantungnya berdetak tak karuan dan matanya memanas. Donghae menyadari jika perlahan tapi pasti penyakit ini akan membunuhnya secara pelan-pelan. Meski itu disadari tapi Donghae tak mau melakukan operasi. Donghae tak mau mengambil resiko yang akan menghilangkan nyawanya.

“Cara untuk mencegah agar penyebaran kanker sedikit tersendat adalah, kau harus memakan makanan yang banyak bawang putih. Kau juga harus menjauhi alkohol, itu semua demi ksehatan mu…” ucap Dokter Jung lagi..

“Baiklah Dokter terima kasih, kalau begitu aku permisi dulu….”

Donghae berdiri dari duduknya, lalu keluar dari ruangan Dokter Jung. Dia berjalan pelan, menelusuri lorong-lorong rumah sakit yang terlihat lengan.

“Tuhan, berikan aku kesempatan hidup…..”

Siwon menghentikan mobilnya tepat di depan rumah keluarga Jung, dia keluar terlebih dahulu lalu membukakan pintu untuk Yoona.

“Apa Oppa mau masuk dulu…?’ Tanya Yoona setelah keluar dari dalam mobil Siwon.

“Ini sudah malam kapan-kapan saja…” jawab Siwon tersenyum.

“Tidak apa-apa, lagian di tumah aku hanya sendiri..”

“Sendiri, memangnya Ahjumma dan Krystal kemana?”

“Mereka berdua pergi ke Mokpo, menemui ibu Donghae Oppa..” jawab Yoona pelan saat menyebut Donghae Oppa…

“Oh, ya sudah aku pulang dulu. Jaga diri mu, kalau ada apa-apa cepat hubungi aku. Mengerti?’

“Aku mengerti Oppa…” jawab Yoona. Siwon pergi, namun sebelum pergi tak lupa dia mengecup kening Yoona lalu masuk kedalam mobilnya.

Yoona melihat kepergian mobil Audi putih itu, setelah hilang Yoona membalikan tubuhnya lalu berjalan menuju rumahnya.

Siwon keluar dari mobilnya, kali ini dia pulang kerumahnya. Memang dia sudah berniat untuk pulang kerumah malamini. Siwon melihat ada sebuah mobul berwarna biru, Siwon tahu betul jika mobil itu adalah milik Jessica Jung. Siwon tersenyum acuh melihat mobil itu, lalu kembali melangkahkan kakinya memasuki rumahnya itu.

Siwon terus berjalan dia berniat untuk naik kelantai 2 tapi sayang, suara ibunya membuat dia harus dengan terpaksa menghentikan langkah kakinya.

“Putra ku kemarilah..” ujar Ny Choi terdengar lembut. Sebenarnya Siwon enggan untuk berhadapan dengan ibunya itu, tapi karena tak mau bermasalah lagi dengan ibunya, Siwon pun menurut duduk di sebelah Jessica.

“Ada apa Eomma aku lelah..” ujar Siwon datar.

Ny Choi mengembil sebuah majalah dari nakas yang berada di sebelahnya lalu menyerahkannya pada Siwon.

“Apa ini?”

“Ambil saja..” jawab Ny Choi tersenyum. Dengan berat hati Siwon mengambil majalah tersebut, lalu membuka halaman demi halaman majalah tersebut. Namun, Siwon masih belum mengerti apa maksud semua ini.

“Apa maksudnya ini…” ujar Siwon masih membuka-buka halaman demi halaman majalah itu.

“Itu dekorasi untuk pesta pernikahan, kau mau yang mana..”

Siwon mengangkat kepala menatap Ny Choi dengan mata terbelalak kaget, dia berusaha mencerna apa yang ibunya itu katakan. Tapi, Siwon tak tuli dia mendengar jelas apa yang Ny Choi katakan.

“Maksud ibu..?”

“Choi Siwon putra ku, tanggal pernikahan mu dan Jessica sudah di depan mata, ini undangannya sudah jadi dan sudah tersebar…”

Siwon diam, dia terlalu kaget sekaligus tak menyangka dengan apa yang sekarang ini terjadi. Ketakutan yang Siwon rasakan kemarin dan juga tadi pagi, akhirnya terjawab sudah. Siwon menolah menatap gadis yang duduk di sampingnya, takada perkataan yang Siwon ucapkan. Tapi Jessica bisa melihat bahwa Siwon sangat marah padanya itu terbukti dari sorot mata Siwon.

“Aku tak mau…” Siwon bangkit dari duduknya.

“Kau mau menolak ini semua?” Tanya Ny Choi terdengar tajam.

“Ibu, aku bukan boneka. Jadi tolong berhentilah mengatur kehidupan ku, sudah cukup selama ini ibu mengatur ku…dan sekarang apalagi ini, aku tak mau menikah dengannya..”

Ucap Siwon, jelas dia sangat menolak pernikahan ini. Sampai-sampai sekarang dia harus kembali bersihtegang dengan ibunya lagi.

“Aku tak peduli apa yang kau katakan, yang jelas undangan sudah di sebar. Gereja untuk pemberkatan sudah di pesan, hotel untuk resepsi sudah di siapkan. Jadi, kau harus mau melakukan ini semua Choi Siwon…”

“Aku tidak mau…”

Siwon berteriak, nafasnya memburu akibat menahan emosinya. Siwon berjalan meninggalkan Ny Choi yang juga terlihat kesal, meninggalkan Jessica yang  menunduk karena sikap Siwon yang secara terang-terangan menolaknya.

Siwon membanting pintu kamarnya, lalu berjalan dan duduk di tepi ranjang.

“ARGHHHHHH” Siwon berteriak, dia terlalu prustasi dengan sikap ibunya yang seperti itu. Sebenarnya bukan hanya itu saja, tapi dia merasa semua rencanaya gagal. Bagaimana jika Yoona tahu tentang ini? Itulah yang saat ini Siwon khawatirkan sekarang, dia takut wanitanya itu akan pergi jika mengetahui tentang pernikahan dirinya dengan Jessica. Siwon belum siap kehilangan Yoona, dia tak mau kehilangan Yoona.

Siwon berdiri lalu berjalan menuju pintu, dia berniat untuk menemui Yoona malam ini, tapi sayang Jessica masuk kedalam kamarnya. Spontan saja, Siwon menghentikan langkah kakinya tak kala melihat gadis berambut pirang itu. Siwon membuang muka, rasanya dia benar-benar sudah sangat tak menyukai gadis ini.

“Kita perlu bicara…” ujar Jessica memohon.

“Tak ada yang perlu kita bicarakan…” jawab Siwon begitu dingin, dia kembali berjalan melewati Jessica.

“Aku mencintai mu, ku mohon menikahlah dengan ku..” Langkah Siwon tertahan karena Jessica memeluknya dari belakang.

“Aku tahu, kau tak mencintai ku, tapi percayalah cinta akan tumbuh jika kau berusaha menerima kehadiaran ku….” Jessica terisak, gadis itu kini menangis di punggung Siwon.

“Siwon, ku mohon. Menikahlah dengan ku,…”

“Tidak, sampai kapan pun aku tak akan menikah dengan mu…” Siwon melepasakan kedua tangan Jessica secara paksa lalu melanjutkan langkahnya, meninggalkan Jessica yang masih menangis.

“Sampai kapan sikap dingin mu itu berakhir…?”

Pagi menjelang, matahari mulai merangkak naik di ufuk timur. Meski masih tampak malu-malu bersembunyi di balik awan, tapi sinarnya tetap saja bisa menghangatkan bumi Kota Seoul pagi ini. Pagi ini juga terjadi kegemparan di perusahaan yang di pimpin oleh Presdir muda Choi Siwon, apalagi kalau bukan soal kabar pernikahan antara Siwon dan tunangannya Jessica Jung, entah siapa yang menyebarkan berita ini. Yang jelas pagi ini, para karyawan terlihat sibuk. Bukan sibuk pada pekerjaannya, tapi sibuk bergosip mengenai berita ini.

Yoona berjalan di lorong menuju ruangan Choi Siwon, gadis ini tampak berlinang air mata di kedua pipinya. Dia berjalan dengan tergesa-gesa sembari mencengkrang sebuah undangan berwarna merah marunyang berdesain sangat mewah. Para karyawan yang berpapasan dengan Yoona memasang wajah bingung, tapi mereka semua takada satu pun yang berani bertanya pada Yoona.

Yoona membuka pintu itu secara kasar, masuk lalu mencari orang yang memang ingin ia temuai. Choi Siwon, namja itu terlihat sedang melamun di meja kerjanya. Dia menyadari kedatangan Yoona, karena suara pintu yang di buka kasar.

“Yoona…” Siwon tertahan, dia tahu jika Yoona pasti sudah mengetahui tentang kabar pernikahannya dengan Jessica.

“Apa ini? Kau membohongi ku lagi…?” Yoona menyerahkan undangan pernikahan, Siwon melihat undangan itu dan ternyata di sana tertara nama Yoona. sebagai tamu undangan.

“Yoona, ini semua bisa ku jelaskan…”

“Apa lagi? Kau mau menjelaskan apa lagi, kau memang pembohong. Seharusnya kau tidak usah berjanji akan menikahi ku jika ternyata….” Yoona tak bisa melanjutkan perkataannya karena air matanya yang sudah terjatuh.

“Aku membenci mu, aku benar-benar membenci mu Choi Siwon…”

Yoona keluar sambil berlari dari ruangan Siwon, Siwon tak tinggal diam dia berlari mengejar Yoona.

“Yoona aku bisa jelaskan semuanya, Yoona tunggu aku…”

Yoona sama sekali tak menghiraukan teriakan Siwon, juga tatapan aneh dari para karyawan yang melihatnya. Dia terus berlari, sampai akhirnya dia menghentikan sebuah taxi. Lalu masuk kedalam taxi tersebut, tak berselang lama taxi itu pun sudah pergi membawa Yoona. Siwon hanya bisa menghelas nafas penuh kekecewan, melihat Yoona yang salah paham padanya.

Tak jauh disana, Kyuhyun dan Yuri berdiri menyaksikan semuanya. Mereka berdua bisa merasakan perasaan yang Yoona rasakan saat ini, tapi sayang saat ini hubungan mereka berdua dengan Yoona sedang renggang. Jadi, mereka hanya bisa melihat sahabatnya itu terpuruk dalam kesedihan.

“Kenapa jadi seperti ini” keluh Yuri iba. Kyuhyun mangangguk menyetujui. Dia juga sama seperti Yuri tak bisa melakukan apa-apa, apalagi saat ini Kyuhyun dan Yuri merasa bersalah karena tak mau menolong Yoona.

Hari ini Yoona tak bekerja, seharian ini dia hanya murung di dalam kamarnya. Deringan ponselnya, yang menandakan telpon masuk ia hiraukan, Yoona tak mau mengangkat telpon itu karena itu dari Siwon. Namun, saat ada telpon dari Donghae Yoona mengangkatnya, setelah percakapan dengan Donghae ia akhiri. Yoona segera bangkit dari ranjangnya, lalu keluar dari kamarnya.

Ternyata Donghae datang ke rumah Yoona, saat ini mereka berada di beranda rumah. Tak banyak pembicaraan di anatar keduanya, mereka sama-sama melamun dengan pikiran masing-masing.

“Yoona, boleh aku tanya sesuatu pada mu?” Donghae berbicara pelan.

“Nde Oppa, katakan saja..” jawab Yoona.

“Jika aku di ciptakan kembali, tapi aku ingin menjadi langit. Kau ingin menjadi apa?” Donghae menolah saat bertanya seperti itu.

Yoona menengadahkan kepalanya keatas, melihat langit malam yang hitam pekat tanpa ada bintang satu pun.

“Aku ingin menjadi bintangnya Oppa…” jawab Yoona akhirnya.

“Alasannya?’

“Karena bintang tak akan pernah meninggalkan langit, karena bintang selalu setia menemani langit. Buktinya, meskipun malamini takada bintang. Tapi aku yakin, mereka bersembunyi dibalik awan…”

“Tapi aku tak mau kau menjadi bintang….”

Yoona menolah, dia heran atas ucapan Donghae.

“Maksud Oppa?”

“Jika memang bintang selalu setia menemani langit, jika memang bintang tak pernah meninggalkan langit. Lalu kenapa ada bintang jatuh? Bukankah itu artinya bintang juga bisa meninggalkan langit? Bukankah itu artinya, bintang tak bisa setia pada langit?

Yoona menatap dalam mata Donghae, dia merasa bersalah saat Donghae mengatakan itu. Mungkin, ini karena dosanya telah membohongi sekaligus menghianati perasaan namja ini.

“Aku ingin kau menjadi matahari Im Yoona…”

“Karena matahari tak akan pernah meninggalkan langit, karena matahari selalu setia menemani langit. Meskipun pada malam hari matahari tak ada, tapi sebenarnya matahari bersembunyi di balik awan yang hitam. Saat pagi hari, matahari akan muncul dari ufuk timur memberikan cahaya yang menghangatkan, matahari juga membuat langit menjadi lebih indah. Saat sore hari, matahari akan menghilang di ufuk barat, kembali bersembunyi untuk menyongsong esok hari. Tapi, mungkin matahari akan meninggalkan langit itu juga jika dunia ini hancur…”

Yoonatak dapat lagi berkata. Dia bisa merasakan arti ketulusan dari setiap kata yang Donghae ucapkan, Yoona tahu apa maksud dari ucapan Donghae ini. Donghae memintanya untuk tetap berada di sampingnya, menemaninya hingga mautlah yang memisahkan mereka.

“Yoona, mau kah menjadi matahari hidup ku? Menjadi semangatku,  dan menerangi hidup ku?”

Yoona mengangguk, hatinya luluh sudah. Dia bisa merasakan ketulusan cinta dari Donghae untuknya, Donghae merengkuh tubuh Yoona memeluk gadisnya ini dengan penuh cinta. Seketika air mata Yoona tumpah sudah, Yoona menangis karena merasa bersalah pada Donghae, Yoona menangis karena merasa begitu bodohnya dia jika dia menyakiti perasaan tulus bak malaikat yang di miliki Donghae, tapi jauh dari itu Yoona menangisi Siwon juga. Yah, Siwon yang sudah membuatnya merasakan seperti ini. Tapi, Yoona sedikit bersyukur karena dia belum sama sekali mengatakan yang sebenarnya pada Donghae.

“Tuhan, benarkah dia bukan milik ku. Benarkah laki-laki yang sekarang memeluk ku ini adalah yang tepat untuk ku, bisakah aku mencintainya seperti aku mencintai Siwon?”

“Mungkin hidup ku tak lama lagi, tapi setidaknya izinkan aku memiliki Yoona. Hanya sebentar saja, izinkan aku memberikan kebahagiaan padanya, sebelum aku pergi untuk selamanya.”

Sejak hari ini, hubungan Siwon dan Yoona kembali renggang. Meskipun Yoona sudah masuk kerja seperti biasanya, tapi hubungan mereka kembali dingin. Siwon berusaha menjelaskan semuanya pada Yoona, tapi Yoona selalu menolak. Yoona sudah benar-benar tak mau mendengarkan penjelasan Siwon, karena bagi Yoona itu sama sekali tak ada gunanya.

Malam tiba, malamini kota Seoul kembali bersalju. Semakin malam, salju pun semakin turun ke bumi Korea Selatan. Saat ini Yoona sedang mengerjakan pekerjaanya untuk esok hari, suasana di rumah sangat sunyi karena hanya ada dirinya seorang. Ahjumma Jung dan Krystal masih di mokpo belum pulang padahal sudah sekitar 4 hari.

Saat sedang sibuk membaca beberapa lembar document, konsentrasi Yoona buyar karena ponselnya bergetar menandakan satu pesan masuk. Yoona segera meraih ponselnya itu, lalu membuka pesannya.

“Temui aku, aku ada di depan rumah mu sekarang..”

Itulah isi pesan yang Yoona baca, pesan itu dari Siwon. Yoona berdiri dari duduknya, lalu melangkahkan kakinya menuju pintu utama rumah. Berniat untuk menghampiri Siwon.

Yoona membuka pintu, seketika saja dia sudah bisa melihat Siwon yang sedang bersandar di depan mobilnya. Perlahan Yoona berjalan lebih dekat pada Siwon.

“Ada apa? kau ingin bicara apa lagi..?” nada bicara Yoona begitu dingin.

“Im Yoona, ku mohon dengarkan penjelasan ku…” mohon Siwon.

“Tidak ada yang perlu untuk di jelaskan lagi, semuanya sudah jelas”

“Tapi Yoona…”

“Menikahlah denganya, mungkin ini yang terbaik untuk kita. Aku juga tak bisa berpisah dengannya, jadi sebaiknya sekarang kita jalan masing-masing saja…”

Yoona membalikan badannya untuk meninggalkan Siwon.

“Aku tidak akan pergi sebelum kau mendengarkan penjelasan ku…”

Langkah Yoona terhenti, Siwon mengatakan tidak akan pergi. Padahal saat ini salju turun, dan udaranya sangat dingin.

“Aku tak perduli…” ujar Yoona lalu kembali melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah.

Siwon kembali menyandarkan badannya pada mobil, dia menghela nafas begitu terdengar berat. Sampai sekarang pun Siwon belum bisa mengatakan yang sebanarnya pada Im Yoona.

Waktu sudah menunjukan pukul 22.00 KST, tapi Yoona masih belum bisa tidur, dari tadi dia hanya memutar-mutar badannya. Tapi, tetap saja Yoona tak bisa tertidur. Sementara salju di luar semakin lebat turun, Siwon ternyata dia masih di tempat semula. Dia berdiri di depan rumah Yoona, tubuhnya menggigil hebat wajahnya pucat menahan dingin. Tapi Siwon tak perduli, saat ini dia ingin Yoona mendengarkan penjelasaanya. Siwon mungkin akan melakukan ini sampai pagi jika Yoona tak kunjung keluar.

Yoona turun dari ranjangnya, dia membuka gordeng kamarnya. Dia melihat Siwon yang masih berdiri di luar di tengah lebatnya salju. Yoona menghelas nafas kasar, lalu menyambar payung yang tergantung di dekatnya.

Yoona membuka payung yang ia bawa saat sudah sampai di luar, dia berjalan pelan menuju Siwon berdiri. Sepertinya Siwon tak menyadari keberadaanya, karena Siwon menundukan kepalanya. Bahkan saat sudah Yoona berada di depan Siwon, Siwon juga belum menyadarinya. Yoona memayungi Siwon, Siwon pun baru tersadar lalu secara perlahan mengangkat kepalanya.

Wajah Siwon tampak begitu pucat sekali, tubuhnya menggigil menahan hawa dingin yang sudah beberapa jam ia rasakan.

“Kenapa kau lakukan ini?” suara Yoona serak saat mengatakan ini.

“Apa kau bodoh? Sekarang salju sedang turun. Kenapa kau masih disini, seharusnya kau pulang….” jatuh sudah air mata Yoona, sebenarnya dia sangat khawatir melihat keadaan Siwon saat ini.

“Aku tidak akan pergi sebelum kau mendengarkan penjelasan ku dulu…” ucap Siwon bergetar.

“Sudahlah, mungkin ini yang terbaik untuk kita. Memang seharusnya kita tak bersama lagi, semuanya sudah berakhir sejak 7 tahun yang lalu…”

“Tapi aku mencintai mu Yoona, aku rela kehilangan semuanya. Tapi ku mohon kembalilah pada ku….”

Yoona melangkah, melepaskan payung yang berada di genggamannya lalu memeluk Siwon. Keduanya, sama-sama menumpahkan air mata, mungkin inilah akan menjadi pelukan mereka untuk terakhir kalinya. Karena setelah ini, mungkin moment seperti ini tak akan pernah terjadi lagi..

“Aku seperti memeluk balok es, tubuh mu dingin sekali…” ucap Yoona di sela-sela isakannya.

“Aku mencintai mu, aku tidak ingin berpisah dengan mu..”

Yoona diam, dia masih menangis tak menanggapi perkataan Siwon. Malah sekarang, tangisnya semakin pecah di pelukan Siwon, begitu pula sebaliknya.

Bunga mawar merah itu jatuh ke tanah yang kini berwarna putih karena salju, kelopak-kelopaknya pun hancur. Mungkin inilah gambaran dari hati seorang Lee Donghae, melihat sang pujaan hati berpelukan dengan laki-laki lain. Donghae tak bisa berbuat apa-apa, dia hanya bisa melihat kedua insan itu dengan hati hancur. Rasanya, dia tak punya tenaga untuk melngkahkan kakinya, hanya untuk sekedar menghampiri keduanya. Perlahan, Donghae tak dapat melihat mereka dengan jelas karena matanya terhalang oleh gumpalan krystal-krystal yang siap terjun membasahi kedua pipinya. Hati Donghae hancur melihat ini, meskipun ini bukan yang pertama kali dia melihat yang seperti ini. Namun, rasanya kali ini lebih menyakitkan bagi Donghae.

Donghae membalikan badannya, perlahan dia melangkahkan kakinya menjauh dari tempat itu. Pergi dengan membawa luka dihatinya, menyaksikan wanita yang dicintai berpelukan dengan laki-laki lain.

“Im Yoona…..”

 

To Be Continued

Beres juga ini chapter…:)

Oh yah meskipun FF ini kurang sekali responnya dari para Nited, tapi aku harus tetap melanjutkan FF ini ampe akhir. Untuk itu, aku mau mengucapkan terimakasih bagi pembaca setia FF ini, ku akui FF ini galau, penuh liku (?) dan ceritanya rumit -_-…

Untuk chapter 9 ini, mungkin kembali menggalau lagi. Bukannya aku tega, tapi apa daya hati dan tangan inilah yang menyuruhku untuk membuat cerita seperti ini.

Kalau boleh aku bilang yah, aku juga sebanarnya gak tega baca ff yang seperti ini. Tapi kan ini hanya FF, heheheh…

Udah dulu curhatnya, silahkan berikan tanggapan kalian untuk chapter ini. Kalau nemu typo tolong di maafkan yah…:)

Sampai berjumpa di chapter 10 Nited….*BOW.

Tinggalkan komentar

130 Komentar

  1. any

     /  Mei 18, 2014

    Sampe tengah2 chapt. ini aku agak sebel sama yoonwon disini lelet bgt. Tapi mau gimana lagi namanya cerita pasti berliku2. Baca curhatan author aku pengun ngucapin terima kasih (meski telat baca ff ini) karna mau lanjutin ff ini meski kurangnya dr readers. Karna aku suka sama ff ini.

    Balas
  2. umu salaamah

     /  Juni 30, 2014

    Sulit dipercaya -_-

    Balas
  3. Wah…kasian banet…baru2 muai dah pisah lagi,ya kasihan banget donghae,itu ibu siwon jahat banget…

    Balas
  4. Dahlia GaemGyu

     /  Juli 31, 2014

    galau lg ceritanya…..

    Balas
  5. Mia

     /  Agustus 2, 2014

    Kasian sekali donghae oppa

    Balas
  6. anas irwandi

     /  Agustus 19, 2014

    aku sih gak sebel sih ama yoonwon tapi kasian ama donghae oppa

    Balas
  7. marsiah

     /  Februari 28, 2015

    Yoonwon terlaluh lemah tuk ambil keputusan,klo mau pisa ya pisa aja dan klo mau bersatu tuk jadi sepasang kekadi ya berkencan aja jangan pikirkan orang lain,pikirkan kebahagiaan diri sendiri,emang si egois tapi kan ini menyangkut hidup dan kebahagiaan dimasa depan untuk apa harus di korbanka untuk orang lain yg gak kita cintain dan hanyamembrikan harapan palsu untuk orang lain.

    Balas
  8. cinta tulus dari seorang Donghae mmang trlihat bgitu besar :’)

    Balas
  9. Huwaaaa YoonA eonni pilih siapa ya? Pernah sih berada di posisi yooma eonni dan itu benar-benar membingungkan. Tapi aku harap YoonA eonni menuruti apa kata hatinya.

    Balas
  10. raratya19

     /  Oktober 20, 2015

    ch ini galau banget, aku kira semuanya bakaln berjalan mulus, tapi trnyata tidak

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: