[FF] Thank You for Your Love

Thank You for Your Love

 (Sequel Still Loving You)

By Uchie / @uchie90||Cast: Im Yoona, Choi Siwon, Im Yunho, Choi Sooyoung, Han Jihye||Type: OS/Sequel||Genre: Romance, Sad||Rating:PG-13||Disclaimer: Siwon milik Yoona, Yoona milik Siwon. Mereka berdua milik keluarga mereka, SME, dan para penggemar mereka. Aku hanya meminjam nama mereka, berharap YoonWon menjadi pasangan REAL. Cerita murni pemikiran saya, bila ada kesamaan itu benar-benar tidak disengaja.

 

Maaaaaafffff…. Sepertinya aku menarik kembali kata-kataku pada ff Still Loving You kemarin. Aku bilang tidak akan membuat sequelnya kan? Tapi lihat, ntah kenapa jari-jariku malah lancar mengetik lanjutan cerita ini, dibandingkan mengetik lanjutan Sajangnim!! -_- …. Tapi sepertinya cerita ini gak sesuai harapan para readers deh… Ini link cerita sebelumnya

 

https://yoonwonitedkingdomstory.wordpress.com/2013/01/18/drabble-break-up/

 

http://

yoonwonitedkingdomstory.wordpress.com/2013/02/

05/2s-still-loving-you-chapter-1

 

yoonwonitedkingdomstory.wordpress.com/2013/02/09/2s-still-loving-you-sequel-break-up-part-ii-end/

 

Typo mohon dimaafkan… Happy reading^^

 

Thank You For Your Love

Yoona POV

Angin musim semi mengeluarkan aroma khas yang membuat semua orang ingin berlama-lama duduk menikmatinya. Tak terkecuali aku yang baru beberapa menit yang lalu sudah duduk tenang ditaman ini. Sedikit berbeda memang, seharusnya aku duduk ditaman yang dipenuhi bunga-bunga bermekaran dan disana dialiri sungai kecil yang indah. Tapi sekarang aku sedang duduk di taman sebuah rumah sakit walau angin musim semi ini sama tapi tetap saja suasana dan kondisinya berbeda. Tapi aku tetap bersyukur masih diberi umur menikmatinya sampai saat ini.

“Yoong!!” Aku mendengar seseorang memanggil namaku, segera ku menoleh ke asal suara. Jihye, sahabat ku berlari menghampiriku. Aku tersenyum melihat cara ia berlari. Dia benar-benar sahabat yang unik menurutku.

“Bisa-bisanya kau kabur dari kamar saat aku ke toilet?” Ujarnya sedikit kesal kepadaku.

“Aku tidak kabur kok, tadi aku sudah minta ijin pada perawat, ia mengijinkan ku dan akhirnya menemaniku ke sini.” Jihye mendudukkan dirinya disampingku. Suasana kembali tenang, sampai akhirnya aku mendengar isakan tangis Jihye disampingku. Ia menggenggam tanganku.

“Kau harus kuat Yoong, kau pasti sembuh…” Ucapnya tulus. Aku tersenyum menatapnya.

“Aigoo Jihye, kenapa kau menangis? Kau pikir aku selemah itu? Aku pasti bisa menjalani pengobatan ini. Sudah, hapus air matamu, sejak kapan kau jadi cengeng begini.” Ujarku dengan nada sedikit bercanda. Aku tahu dia pasti sangat menyayangiku, dan aku tak ingin membuatnya khawatir dengan kondisiku dengan menampakkan keceriaan di wajahku.

“Tolong aku dengan doamu.” Lanjutku, ia pun mengangguk dengan seulas senyum sedih menghiasi wajah cantiknya.

~•~

Aku merasakan sedikit tak nyaman dengan tenggorokanku. Mungkin pengaruh dari obat-obatan yang ku minum. Aku memang harus melakukan operasi pembedahan untuk mengangkat sel kanker yang bertengger di otak ku ini. Jadwal operasi ku sekitar 1 minggu lagi dan dalam jangka waktu itu aku harus tetap memakan obat-obatan serta menjalani radiasi untuk meminimalisasi sel kanker yang sudah menyebar. Aku harus siap dengan apapun yang terjadi nanti.

“Oppa… Sudah ya makannya, rasanya benar-benar tidak enak.” Memang baru beberapa sendok aku memakan bubur yang disajikan pihak rumah sakit ini, tapi sudah membuat perutku mual karena mencium aroma bubur ini dan tentu saja rasanya tidak enak menurut ku.

“Ayolah Yoong, sedikit lagi….” Aku menutup rapat mulutku sebelum sendok yang dipegang Siwon-oppa menerobos memasukinya.

“Oke, aku menyerah. Setidaknya kau sudah makan beberapa sendok. Padahal aromanya sangat menggugah selera menurut ku.”

“Kalau begitu Oppa saja yang makan.” Ucapku sedikit kesal. Siwon-oppa mencubit pipi tirusku gemas sambil tertawa. Tawa yang pasti akan kurindukan nantinya.

“Aigo… Kau lucu sekali tahu….” Ujar Siwon-oppa. Aku mempautkan bibirku tanda tak suka. Tanpa ku tahu Siwon-oppa tiba-tiba mencium bibir ku singkat. Aku terperangah dengan perlakuannya.

“Itu hukuman karena kau tak menghabiskan makananmu.” Ia lagi-lagi tertawa. Aku memukulnya dengan bantal yang berada didekatku.

“Kau curang Oppa…” Teriakku sambil terus menghantam tubuhnya dengan bantal yang ku pegang. Kami akhirnya tertawa bersama, kebersamaan yang akan terukir dihati.

~•~

3 hari sebelum aku di operasi. Dari pagi tadi aku tak melihat Siwon-oppa dikamar ku. Ini aneh, biasanya ia akan muncul di hadapanku siang ini kalau memang pada pagi hari ia sibuk dikantor. Tapi dari pagi tadi hingga sore ini ia belum juga menampakkan dirinya. Yunho-oppa yang aku tanya pun hanya menggelengkan kepalanya tanda tak tahu.

“Oppa… Cobalah telepon Siwon-oppa lagi, aku takut dia kenapa-napa.” Pintaku pada Yunho-oppa.

“Yoong, Siwon bukan anak kecil. Kenapa kau jadi khawatir begitu. Mungkin dia sedang sibuk dikantornya. Kan ada Oppa yang menemanimu. Apa kau tak membutuhkan Oppa lagi ah? Dasar Choi Siwon ia telah merebut tempatku disisimu.” Geram Yunho-oppa. Aku cekikikan melihat raut wajah cemberut kakak ku ini, seperti anak kecil saja.

“Oppa…. Tak ada yang bisa menggantikan peranmu dihidup ku. Aku merasa beruntung menjadi adikmu Oppa. Sejak orang tua kita meninggal, Oppa selalu berusaha memberikan kasih sayang seperti kasih sayang yang eomma dan appa berikan padaku. Walaupun kita mempunyai Halmoni, tapi Oppa lah yang selalu ada melindungiku. Gomawo Oppa…” Tanpa sadar aku meneteskan air mata. Segera ku hapus air mata itu sebelum Yunho-oppa melihatnya. Yunho-oppa mendekat ke arahku dan memelukku, bisa ku mendengar isakan tangis yang ia tahan.

“Kenapa lagi-lagi Oppa menangis. Oppa bilang aku harus kuat, tapi kenapa malah Oppa yang lemah begini.” Kudengar isakannya makin menjadi-jadi. Aku tak dapat lagi membendung air mataku. Ya, dia kakak yang sangat menyayangiku, jadi bagaimana mungkin ia tidak sedih melihat adiknya ini menderita menahan penyakit parah ini .

~•~

“Yoong… Yoona….” Perlahan aku membuka mataku. Kulihat Jihye bersama dengan seorang wanita yang aku kenal pasti, tapi aku tak mengetahui namanya. Aku heran karena mereka berdua mengenakan gaun, apa mereka tadi pergi ke pesta sebelum kerumah sakit ini? Wanita tinggi semampai itu tersenyum dan membantuku mendudukan diri. Ia mengulurkan tangannya padaku.

“Sooyoung, Choi Sooyoung. Kita pernah bertemu waktu itu direstoran. Aku sahabat Siwon-oppa.” Aku menyambut uluran tangannya.

“Maaf telah salah sangka padamu saat itu.” Ucap ku sedikit malu. Ia hanya menanggapi ucapanku dengan senyuman.

“Teman??” Aku sedikit kaget dengan ucapannya yang tiba-tiba dan mengulurkan kelingkingnya. Akupun menyambutnya dengan senang hati.

“Teman….” Kamipun tertawa bersama-sama.

“Omoo, Soo ayo kita dandani Yoona sekarang. Nanti kita terlambat.” Ujar Jihye tiba-tiba. Sooyoung mengangguk. Aku jadi bingung dengan kalimatnya itu. Dandan?? Aku didandani? Mereka menyuruhku untuk berdiri dan memakai gaun yang tadi mereka bawa. Aku terperangah melihat gaun cantik itu. Gaun putih yang panjangnya dibawah lutut. Terdapat hiasan manik-manik cantik di bagian dadanya. Bagian bahu yang sedikit terbuka, membuat tulang selangka ku sedikit mengekspos.

“Kau cantik Yoong….” Ujar Jihye. Aku tersenyum mendengarnya.

“Ayo aku rias wajahmu.” Sooyoung menarikku untuk duduk di atas tempat tidur dan mulai bermain dengan alat rias yang ia bawa. Aku masih bingung dengan apa yang mereka lakukan. Dan jelas itu terlihat dari raut wajahku.

“Aku tahu kau pasti penasaran dengan yang kami lakukan terhadapmu? Jangan khawatir kami tak akan macam-macam kok. Kau hanya perlu diam, dan lihat apa yang akan terjadi nanti.” Jelas Jihye penuh semangat. Sooyoung masih berkonsentrasi meriasku. Dia memang wanita yang cantik dan pasti juga baik, aku akan senang kalau dialah yang menggantikanku untuk mendampingi Siwon-oppa. Oh Tuhan… Apa yang kau pikirkan Im Yoona…

Sooyoung menyisir rambutku, aku merasa ia menghentikan kegiatannya menyisir rambutku. Aku tahu ia pasti kaget karena rambutku yang rontok.

“Itu akibat obat-obatan yang ku konsumsi Soo, tidak apa-apa kok.” Ujarku tersenyum padanya. Ia pun kembali menyisir rambutku. Aku merasakan tetesan air diatas tanganku. Tetesan air mata Sooyoung.

“Selesai….” Sooyoung membalikkan cepat tubuhnya membelakangiku. Aku tahu dia sedang mati-matian menahan air matanya. Ia menangis, menangisi ku mungkin.

“Ayo, acaranya akan segera dimulai.” Kata Jihye mengingatkan. Sooyoung yang sepertinya sudah berhenti menangis itupun menggandeng tangan kananku dan jihye mengandeng tangan kiriku. Mereka membawaku ke jalan menuju taman rumah sakit.

Aku terpesona dengan suasana malam ditaman. Sepertinya seseorang sudah menyulapnya dengan dekorasi yang indah dan special. Tak berhenti disitu, kulihat beberapa perawat duduk dideretan bangku yang tersusun menghadap tempat yang mirip altar kurasa. Mereka tersenyum kearahku. Tunggu…. Altar? Dan siapa itu? Apa itu seorang pastur??

“Yoong…” Suara seorang namja yang menggetarkan hatiku. Aku menoleh, Siwon-oppa yang terlihat tampan dengan tuxedo putihnya tersenyum padaku, aku sedikit kesal sebenarnya kenapa ia baru menampakkan diri pada saat ini, kemana saja dia seharian. Ia berjalan mendekat ke arahku. Jihye dan sooyoung melepaskan gandengan mereka ditangan ku dan berjalan menjauh.

Siwon-oppa menggenggam tanganku dan berlutut di hadapanku. Aku masih bingung dengan situasi ini. Sebenarnya apa yang akan dia lakukan.

“Yoong, maukah kau menikah denganku…”

Bluss….

Kalimat yang membuatku merinding, aku tak percaya ia melakukan ini sekarang. Disaat aku sedang berjuang melawan penyakit mematikan ini. Air mataku tak terbendung lagi. Aku mengarahkan pandanganku ke Yunho-oppa yang berdiri tak jauh dariku. Ia mengangguk yang berarti keputusan ada ditanganku. Aku pun kembali menatap Siwon-oppa.

“Aku mau Oppa…” Lirihku. Seketika tepuk tangan orang-orang yang hadir disana menghiasi malam indah ini. Siwon-oppa kembali berdiri dan menuntun tanganku berjalan ke atas altar. Aku masih belum mengerti akan hal ini, apa ia akan menikahiku saat ini juga? Ku rasa wajahku sudah seperti orang yang kebingungan sekarang. Setelah menaiki altar dan berdiri dihadapan seorang pria yang mirip seorang pastur ini, Siwon-oppa seperti memberi tanda kepada pria itu, pria itu pun mulai mengeluarkan suaranya. Aku sedikit tercegat, yang ia baca adalah ayat-ayat yang ada dalam alkitab, tidak salah lagi kalau pria ini adalah seorang pastur. Sekarang aku baru mengerti kalau Siwon-oppa memang merencana kan ini. Rasa kesal yang sempat hadir dihati kini berganti dengan perasaan bahagia dan haru. Hari ini aku resmi menikah dengan pria yang kucintai, hari ini aku resmi menjadi istri seorang Choi Siwon.

~•~

Aku menyandarkan kepalaku kebahu Siwon-oppa. Ia merangkulku, memelukku lembut. Kami masih berada ditaman rumah sakit, tempat yang menjadi saksi janji pernikahan yang kami ucapkan beberapa saat yang lalu. Suasana hening, karena semua orang yang hadir telah kembali ke aktifitas mereka masing-masing, termasuk Jihye dan Sooyoung. Sedangkan Yunho-oppa, ia mengantarkan Jihye pulang sepertinya. Aku rasa mereka mulai akrab tanpa bantuanku.

“Oppa…”

“Ne…..”

“Apa Oppa tak menyesal menikah denganku?” Entahlah, pertanyaan ini tiba-tiba muncul dikepalaku.

“Apa kau berharap Oppa menyesalinya Yoong?”

“Aku hanya takut kau akan menderita bersamaku Oppa…” Lirihku. Aku bahagia, malah sangat bahagia sekarang karena telah menikah dengan namja ini. Tapi hati kecil ku merasa sakit, mengingat apa bisa aku mendampingi Siwon-oppa dalam jangka waktu yang lama. Aku merasa waktu ku tak akan lama lagi….

“Yoong, kau tahu apa yang Oppa rasakan saat ini?” Aku menggeleng dan ku yakin Siwon-oppa merasakan gelengan kepalaku.

“Aku merasa lega dan sangat bahagia akhirnya aku menikahi gadis impianku.” Kalimat yang membuat hatiku berbunga-bunga. Aku mengerti seberapa besar ia mencintaiku sejak dulu. Usahanya dalam mencuri hatiku saat kami terikat bertunangan 3 tahun yang lalu. Ia dengan sabarnya selama 6 bulan menghadapi sikap dingin ku. Masa-masa membahagiakan sebenarnya, kalau saja kesalahpahaman itu tak terjadi saat ini mungkin kami sudah memiliki seorang buah hati. Ya, buah hati bukti cinta kami. Apa mungkin itu bisa diwujudkan saat ini? Disaat aku dalam kondisi seperti ini? Ya Tuhan, kumohon beri aku waktu lebih lama lagi untuk hidup bersama namja ini…

“Kau lelah?? Ayo kita kekamar rawatmu…” Aku mengangguk. Siwon-oppa menggandeng mesra tanganku, kami berjalan beriringan.

Aku membaringkan tubuhku setelah lebih dahulu mengganti gaun tadi dengan piyama rumah sakit. Kulihat Siwon Oppa juga telah mengganti tuxedo nya dengan pakaian santai. Ia membaringkan tubuhnya di atas sofa. Aku tergerak untuk memanggilnya mendekat kearahku.

“Oppa…. Maukah Oppa tidur disampingku?” Entah keberanian dari mana yang ku peroleh meminta Siwon-oppa tidur satu ranjang denganku. Tapi bukankah kami sudah menikah seharusnya itu hal biasa bukan? Aku yakin saat ini wajahku sudah seperti kepiting rebus.

“Bolehkah??” Aku hanya mengangguk mengiyakan pertanyaannya. Siwon-oppa pun tersenyum melangkah ke arahku. Aku menggeser tubuhku sedikit memberi tempat yang lebih lebar untuk Siwon-oppa berbaring. Aku memiringkan tubuhku membelakanginya. Tak sanggup rasanya melihat wajah tampannya itu.

“Kenapa kau malah membelakangi Oppa Yoong?”

“Aku mau Oppa memelukku.”Dan dapat kurasakan tangan kekar itu memelukku dari belakang. Memelukku hangat, tanpa sadar air mata ini kembali mengalir. Apa aku masih punya waktu untuk merasakan pelukan ini lagi? Pelukan orang yang kucintai…. Air mata ku makin mengalir deras. Ku harap Siwon-oppa tak menyadari airmata ini….

~•~

Besok adalah hari dimana aku akan menjalani operasi pembedahan. Diriku merasa belum siap dengan hal itu, tapi aku tetap akan berusaha tegar dan kuat didepan orang-orang yang kusayangi. Jihye, sahabat terdekatku. Yunho-oppa, kakak terbaikku. Sooyoung, teman yang sangat perhatian walau kami baru memulai hubungan ini. Kenapa aku bilang ia perhatian? Karena sejak hari itu ia datang membesukku setiap hari. Dan Siwon-oppa, orang yang amat sangat kucintai yang baru beberapa hari ini menjadi suamiku.

Sooyoung menggandeng hangat tanganku menuju kursi kosong di taman rumah sakit. Ia selalu memperlihatkan senyum tulusnya padaku. Dia sangat cantik dan sangat baik. Alangkah cocoknya kalau ia disandingkan dengan Siwon-oppa. Bukan dengan wanita sepertiku yang penyakitan ini…. Entah kenapa aku menjadi rendah diri begini bila bersama Sooyoung. Ia terlalu sempurna.

“Kau siap kan Yoong untuk operasi besok? Kau harus kuat dan bertahan demi Siwon-oppa. Ia sangat mencintaimu.” Aku merasa kalimat terakhir yang Sooyoung ucapkan terdengar bergetar. Apa benar wanita ini hanya sahabat suamiku?

“Soo, bolehkah aku meminta tolong padamu…”

“Apa Yoong??”

“Kalau terjadi sesuatu hal yang tak diinginkan padaku, berjanjilah kau akan selalu ada disamping Siwon-oppa untuk menguatkannya. Aku yakin hanya kau yang bisa berada disisinya.” Ada rasa tak rela mengucapkan kalimat-kalimat ini, tapi aku merasa kalau aku memang harus mengatakannya pada Sooyoung. Bibir Sooyoung bergetar, aku tahu sebentar lagi ia akan menangis. Aku meraih tangannya menggenggamnya erat.

“Berjanjilah padaku kalau kau akan melakukannya….” Sooyoung menggeleng, tangisnya pecah sudah. Ia memelukku erat…

“Aku tak mau, kau yang harus berjanji kalau kau akan berjuang sekuat tenaga dalam operasi itu Yoong. Semua orang yang menyayangimu akan sangat menderita kalau kau sampai kenapa-napa.” Isak Sooyoung.

“Aku janji akan berusaha sekuat tenagaku Soo, tapi kalau takdir berkata lain maukah kau melakukan apa yang aku minta? Kumohon…” Kurasakan anggukan kepalanya di bahuku. Aku tersenyum lega. Setidaknya kalau memang umurku sampai disini, aku bisa tenang meninggalkan Siwon-oppa dengan seseorang yang aku yakin tepat untuknya. Kami masih saling berpelukan sambil menangis. Aku tak tahu kalau perasaanku bisa sepercaya ini pada Sooyoung, mungkin memang jalan Tuhan membuatku mempercayainya.

~•~

Siwon Oppa mendekapku dalam tidurnya. Aku tersenyum memandangi wajahnya yang sedang tertidur. Kutelisik lagi tiap inci karya Tuhan yang sempurna ini. Alis yang tebal, mata tajam yang sedang tertutup sempurna, hidung mancung yang khas dan bibir yang selalu mencium ku tanpa ijin. Butiran bening itu kembali jatuh membasahi pipiku. Apa aku sanggup menjalani operasi esok hari kalau pada kenyataannya tak membuatku perasaanku tenang sedikitpun malam ini. Hati ku sesak, aku berusaha menahan isakan tangisku agar tak mengganggu tidur suamiku ini. Oh Tuhan…. Berikan aku kekuatan untuk menghadapi hari esok. Apapun yang terjadi aku berharap itu jalan yang terbaik untukku. Perlahan aku menutup mataku, lelah, tubuh ini memerlukan istirahat sepertinya.

~•~

Aku sekarang berada di sebuah ruangan dimana tubuhku dibersihkan dan dipakaikan pakaian operasi. Rambutku dicukur habis, tak rela tapi aku memang harus mengikuti prosedur rumah sakit, karena dikepala ini lah pembedahan akan dilakukan. Setelah selesai, akupun dibawa keluar menuju ruang operasi. Kulihat Yunho-oppa, Jihye, Sooyoung dan suamiku Choi Siwon mengiringiku. Tanganku digenggam erat oleh Siwon-oppa. Jelas gurat kekhawatiran disana. Aku tersenyum mencoba menghilangkan rasa khawatirnya itu.

Akhirnya aku tiba didepan ruang operasi. Suster pun memberi waktu untuk kami berbicara sebelum aku memasuki ruang yang menentukan hidup dan mati ku.

“Yoong, kau harus kuat… Kalau kau sembuh aku akan menemanimu kemana saja kau mau.” Ucap Jihye. Aku tersenyum mengangguk.

“Yoong… Kau ingatkan janjimu. Aku akan menunggumu keluar dari ruangan ini dan kita pasti menjadi sahabat dekat nantinya. Aku iri dengan kedekatanmu dengan Jihye, aku juga ingin bersahabat dekat dengan kalian.” Jihye mendekati Sooyoung dan memeluknya.

“Ya… Kita bertiga pasti akan jadi sahabat yang sempurna…”Lirih Jihye. Aku mengangguk. Aku beralih menatap Yunho-oppa.

“Oppa kau tak mau memberi kekuatanmu padaku?” Yunho-oppa pun memelukku. Aku tahu dia mati-matian menahan tangisnya.

“Gomawo Oppa, terima kasih atas semua….”Gumamku.

Siwon-oppa menatap ku sendu, ia tersenyun perih. Aku membalas senyumannya semanis mungkin. Ia tetap menggenggam tanganku erat.

“Kau berjanjikan akan terus menemani Oppa?” Aku mengangguk. Perlahan air mataku turun.

“Jadikan itu kekuatan untukmu nanti. Kau harus keluar dari ruangan itu dengan utuh dan kembali menjadi Im Yoona yang ceria dan sehat. Saranghae…” Siwon-oppa mencium keningku lembut.

“Na do….” Perasaan berat menghiasi relung hati ini meninggalkan orang-orang yang ku sayang. Siwon-oppa yang tadinya menggenggam tanganku kini harus melepaskan tangannya. Dapat ku dengar isakan Jihye dan Sooyoung…. Aku meninggalkan mereka memasuki ruang operasi. Seorang suster membiusku dan memasangkan alat bantu pernafasan disela-sela kesadaranku yang mulai hilang. Perlahan mata ini tertutup sempurna. Gelap, mati rasa, aku tak tahu apa yang akan menjadi takdirku nantinya. Semua ku serahkan pada-nya.

Jiwa ku terasa dingin, tapi aku merasa tubuhku sangat ringan. Apa aku sudah selesai dioperasi? Tapi dimana ini? Ini bukan ruang operasi bukan?…Aku menurut kemana langkah kakiku membawaku. Bukankah itu ruang operasiku? Siwon-oppa, Yunho-oppa, Jihye dan Sooyoung terlihat duduk dengan gelisah. Apa mereka tak tahu kalau aku telah selesai di operasi? Aku akan menyapanya dan memberikan kejutan. Dengan riang aku berlari kecil ke arah mereka. Aku memanggil Yunho-oppa, tapi ia tak menoleh padahal jarak kami tak terlalu jauh.

Pintu ruang operasi terbuka, dapat kulihat semua yang ada disana berdiri dari tempat duduk mereka. Seorang dokter yang keluar dari ruang tersebut membuka masker yang melekat diwajahnya. Ia menggelengkan kepalanya….

Seketika tangis Sooyoung dan Jihye pecah, aku bingung. Siapa yang mereka tangisi, bukankah aku ada disini? Siwon-oppa mendadak terduduk lemas, pandangannya kosong matanya berkaca-kaca. Yunho-oppa mengusap frustasi wajahnya, meninju dinding yang ada didepannya. Situasi apa ini, apa yang mereka tangisi?

Aku lebih mendekat ke arah Sooyoung dan Jihye yang sedang berpelukan.

“Apa yang kalian tangisi chingu-ya??” Mereka tak menoleh sedikitpun. Aku menyentuh bahu mereka….

Degg….

Seperti menembus angin…. Tanganku menembus tubuh mereka, aku melihat tanganku…. Sekali lagi ku coba menyentuh mereka, masih sama… Aku berjalan ke arah Yunho-oppa, memanggil namanya. Nihil, ia tak mendengarku. Akupun terjatuh, kenapa bisa begini? Apa aku telah meninggal? Aku mendekat ke arah Siwon-oppa meneriakkan namanya, sia-sia. Ia telah sesegukan menahan tangisnya. Pakaianku, rambutku? Kenapa rambutku jadi panjang begini? Bukankah tadi sudah dicukur habis?? Apa benar aku telah mati?? Apa benar aku telah meninggal??

Ruang operasi kembali terbuka, terlihat dua orang perawat menggiring tempat tidur rumah sakit. Aku menatap tubuh yang berada diatasnya, Itu aku bukan? Itu tubuhku…..

“Yoona….. Hikss…hikss… Kenapa kau tak bertahan Yoong? Kenapa??” Teriak Yunho-oppa…

Oppa… Maafkan aku….

Siwon-oppa diam menatap dalam wajahku. Ia mencium keningku, dan lagi-lagi ia meneteskan air matanya….

Maaf, tak bisa mendampingimu lebih lama Oppa, terima kasih atas cinta yang Oppa berikan untukku, Saranghae….

“Noona… Waktumu telah tiba….” Suara seseorang membuatku menoleh ke belakang. Ia tersenyum, aku mengerti. Ini lah waktuku meninggalkan dunia ini, meninggalkan orang-orang yang ku sayangi…. Selamat tinggal semua…. Terima kasih atas cinta tulus kalian…

 

 

~END~

 

Tissue mana tissue#plak

 

Curcol dikit

Sangat-sangat kecewa melihat komentar SLY part 2 karena jumlah komentnya merosot tajam. Apa masih banyak disini yang jadi SiDers?? Atau emang ceritanya gak menarik ya?? T.T

Bagi yang baca dimohon dengan sangat untuk meninggalkan jejaknya, kritik dan saran akan membuat aku semangat buat bikin ff yang lebih baik lagi.

Aku kepikiran membuat Siwon’s side cerita ini, ada yang menginginkannya kah??

Lagi-lagi ngingetin aku line 90 jangan dipanggil author atau thor, kalian bisa manggil nama, eonni, atau kakak.

Untuk dongsaengku Gee (@restytamy) makasih udah nampung ff ku yang gak mutu ini…. Love u sist… (love u too :***)

Tinggalkan komentar

94 Komentar

  1. Nyesek banget…. Keren nih FF nya… Sad endingnya dpt bgt

    Balas
  2. Aniqoh rosita

     /  Februari 15, 2015

    Bagus Eonni tapi kok Sad Ending ??

    Balas
  3. Endingnya ga kuattt😥 huhuhh sad ending :”(

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: