[OS] More Hurt

 

 

Title: More Hurt

Author: Uchie (uchijefry90) /  @uchie90(follow yaa)

Genre : Romance, Sad

Length : OneShoot (OS)

Rating : PG – 13

Cast : Im Yoona , Choi Siwon , Joon , Im Yoora , kwon Yuri

 

»

 

Ting-tong….

Suara bel memecahkan keheningan sebuah rumah mewah. Rumah yang terkesan klasik memberikan suasana nyaman bagi pemilik. Dengan terburu-buru sang pemilik berjalan ke arah pintu bersiap membukakannya.

 

Kini di hadapan sang pemilik telah berdiri seorang perempuan muda berusia 20an tahunan disampingnya menggandeng seorang bocah laki-laki berusia kira-kira 4 tahun.

 

“Anyeonghaseo, maaf mengganggu apa ini kediaman tuan Choi Siwon?” Ujar sang wanita bertanya.

 

“Iya benar, kalau boleh tahu anda siapa?” Sang pemilik bertanya ramah.

 

“Im Yoora imnida, bolehkah aku bertemu dengan tuan choi siwon? Ada hal penting yang akan ku sampaikan padanya” ujar yoora.

“Baiklah, silahkan masuk. Akan ku panggilkan anak ku. Anda tunggu disini sebentar ya, oh iya silahkan duduk dulu” ucap wanita paruh baya itu yang ternyata nyonya Choi, eomma siwon.

 

Tak lama, suara derap langkah kaki terdengar mulai mendekat. Siwon disusul sang eomma kini telah berada diruang tamu tempat yoora menunggu.

 

Pandangan siwon tertuju pada yoora, dia merasa pernah mengenal wajah itu. Tapi ia susah mengingatnya. Dan anak kecil disamping yoora pun dia merasa sangat familiar dengan bentuk wajahnya.

 

“Anda choi siwon?” Suara yoora memecahkan lamunan siwon.

 

“Ya, saya siwon. Anda siapa? Wajah anda begitu familiar. Apa kita pernah bertemu?”

 

“Perkenalkan saya Im Yoora, kakak yoona. Dan ini Joon” ujar yoora sambil melihat kearah joon.

 

“Yoona? Im yoona teman SMA ku? Bagaimana kabar dia sekarang noona?” Tanya siwon yang terdengar sangat antusias.

 

Yoora hanya menghela nafas panjang. Tangannya beralih ke dalam tas tangannya dan mengeluarkan sebuah buku dengan sampul boneka beruang.

 

“Bacalah, anda akan tahu setelah membaca buku ini” jawab yoora tanpa menjelaskan lebih lanjut.

 

Siwon pun mulai membuka buku tersebut. Lembaran-lembaran pertama diisi dengan tempelan foto-foto kebersamaannya dengan yoona ketika masih SMA. Siwon yang melihatnya hanya tersenyum geli sambil mengingat moment-moment kebersamaanya dengan yoona.

 

Lembaran-lembaran foto mereka kini berganti dengan foto-foto yoona dengan seorang bayi, selanjutnya dengan seorang balita dan terakhir dengan seorang bocah yang dapat dikenali siwon yaitu bocah yang ada dihadapannya saat ini. Siwon yang penasaran apa maksud dari buku ini pun beralih ke lembaran berikutnya….

 

 

September 2012

Letter of diary

 

Bolehkah aku bertanya? Pantaskah kau kutangisi? Pantaskah kau kurindukan? Setelah semua yang telah kau lakukan? Aku masih tetap disini, berkutat dengan perasaan kecewa dan sakit. Ya sakit yang menghujam ulu hati, sakit yang membuat dada ini sesak bila mengingat semua tentangmu. SAKIT, satu kata itu yang bisa menjelaskan kondisiku saat ini.

 

Entah kenapa semenjak hari itu, dimana aku masih gadis SMA biasa yang sedang menikmati masa-masa remaja. Bermain bersama, belajar bersama, bolos bersama. Mungkin kata Bersama ini lah yang membuatku perlahan-lahan mempunyai perasaan lebih padamu.

 

Tak ku hiraukan tatapan sinis, ejekan serta cibiran para penggemarmu yang kutahu tak bisa ku hitung dengan jari. Apa aku tak tahu malu? Entahlah…. Berteman bahkan bersahabat denganmu mungkin adalah anugrah bagiku saat itu.

 

Aku tak tahu dirimu menganggapku apa. Yang jelas kebersamaan itu membuatku nyaman, membuatku senang dan bahagia. Sampai suatu ketika….

 

“Oppa aku menyukaimu, jadilah kekasihku” ucap seorang gadis yang samar-samar terdengar olehku saat aku melintas didepan kelasmu. Ya seperti biasa, saat jam istirahat aku terbiasa menjemputmu kan??

 

Rasa penasaran ku yang tinggi membuatku melakukan hal yang seharusnya tak ku lakukan. Mencoba mengintip dibalik jendela mencari tahu siapa namja dan yeoja yang sedang mengadakan acara penembakan itu.

 

Mataku mulai memanas, siap mengeluarkan air mata. Adegan yang diperlihatkan yeoja dan namja yang ada dihadapanku ini sukses membuat hatiku hancur ditusuk beribu-ribu pisau tajam.

 

Sesaat aku tersadar, aku membalikkan pandanganku dan bersandar didinding. Tak sadar air mata ku turun perlahan saat itu. Apa yang aku tangisi? Aku bukan siapa-siapamu kan? apa aku punya hak untuk cemburu? Aku cuma temanmu kan?

 

 

“Hei… Im yoona!! Kenapa kau tidak menjemputku aahh??” suara yang amat sangat kukenal menyadarkanku dari lamunku. Airmata yang tersisa buru-buru kuhapus. Aku tak mau dirimu melihatnya dan bertanya macam-macam padaku.

 

Engkau pun duduk tepat disampingku, walau berat aku tetap menoleh padamu dan memberikan senyum terbaikku.

 

“Maaf, aku merasa sangat lapar tadi jadi aku langsung saja kesini” jawabku bohong. Kulihat wajah tampanmu lebih ceria dari biasanya, dan warna pipimu tidak putih namun sedikit merona. Ya Tuhan…. Apa hatimu sesenang itu??

 

Sakit!!!

 

Melihat ketidakbiasaanmu itu akupun memberanikan diri bertanya. Walaupun aku tahu jawabanmu akan membuat hati ini makin hancur.

 

“Siwon-ssi, kau kelihatan ceria sekali hari ini, apa ada hal menyenangkan terjadi?”

 

Bisa kulihat engkau menatapku sambil tersenyum, senyum yang membuat hatiku dikuasai olehmu. Tapi senyum itu juga yang membuatku sakit….

 

“Apa terlihat jelas diwajahku? Padahal aku ingin merahasiakannya darimu. Tapi karena sudah ketahuan, baiklah akan ku ceritakan.”

 

Kaupun mulai menceritakan apa yang engkau alami tadi. Dan dapat dipastikan, perkiraanku memang tepat. Sahabat yang telah membuatku jatuh cinta, menemukan tambatan hati. Wanita yang kulihat dikelasmu tadi sekarang berstatus menjadi kekasihmu.

 

“Kau tahu kan aku memang sejak lama telah menyukainya, tak kusangka dia pun menyukai ku…heheheh”

 

Memang benar kau sudah lama menyukai yuri, wanita yang bisa dibilang sempurna. Cantik, sexy, lumayan pintar dan berasal dari keluarga terpandang. Sangat cocok bila disandingkan dengan mu.

 

“Yoong, kau harus memberi selamat padaku” lanjut mu sambil mengerlingkan sebelah matamu.

 

“Chukae siwon-ssi, semoga hubunganmu langgeng dengan yul-eonni.” Ucapku memberi selamat pada mu. Tetap tenang, memberikan senyum terbaikku walau dada ini sesak ingin mengeluarkan sesuatu sebagai pelampiasan, sakit mendengar cerita indah mu.

 

“Yaaakk!!! Sudah kubilang panggil aku oppa. Kau benar-benar membuatku kesal!! Untung hari ini mood ku sedang baik kalau tidak kau akan habis olehku”

 

Aku hanya tertawa getir mendengar ucapanmu. Tawa yang terlihat real dihadapanmu, tapi menyimpan arti lain…

 

 

Mulai menjaga jarak, membiarkan mu lebih dekat dengan kekasihmu itu. Aku bersikap benarkan?? Aku yakin kekasihmu itu juga tak akan suka bila ku tetap dekat dengan mu. Lagipula ku rasa kaupun tidak memerlukan ku lagi. Tempatku tak lagi penting saat ini.

 

Enam bulan sudah status ku denganmu cuma teman biasa, bukan lagi teman bermain bersama, bukan lagi teman belajar bersama ataupun bolos bersama. Hanya teman biasa, teman tegur sapa yang sangat biasa. Miris memang tapi apa daya ku.

 

Sempat terbersit keinginan untuk memulai mendekatimu lagi, walaupun cuma sahabat seperti sebelum kau menyandang status kekasih Kwon Yuri. Tapi keinginan itu ku urungkan, setelah….

 

“Yoona cuma teman ku, tidak lebih. Malah sekarang aku jarang bicara dengannya. Dulu aku memang bersahabat dengannya, tapi setelah ada kamu, dia bukan siapa-siapa lagi bagi ku. Kau jangan cemburu lagi ya, chagi….”

 

Bagai disambar petir tubuh ini. Ingin rasanya menghilang saja dari kehidupanmu, tidak lebih baik hilang dari kehidupan ini. Apa memang aku ini tidak berarti sedikitpun bagimu?

 

Aku harus kuat, bukankah aku sudah merasakan sakit yang lebih dari ini?. Aku sadar perasaan ini salah, aku yang bodoh. Seharusnya aku lebih tahu diri. Kesalahan tidak padamu, tapi aku…. Aku hanya aku…..

 

 

Fokus ku kini pada ujian akhir. Rasa sakit masih tetap bergelayut dihati ini, tapi hidup harus terus berlanjut kan?

Walau hati ini masih sakit, tapi entah kenapa perasaanku padamu tidak pernah berkurang. Diam-diam aku masih memperhatikanmu, apa yang sedang kau kerjakan, apa yang sedang kau makan atau apa yang sedang kau lakukan dengan yuri, aku tahu.

 

Bodoh memang…. Tapi entah kenapa tubuh ini selalu mengikuti kemanapun kau pergi, tidak mau mengerti dengan hati yang berulang kali berkata ‘jangan pernah ikuti dia lagi’, ‘kemana harga dirimu Im yoona, bodoh!!‘….. Tapi tetap saja tubuh ini lebih menang dari pada hati ini.

 

Hasil ujian yang memuaskan membuatku sedikit melupakakan rasa sakit yang kualami. Sekarang tinggal menyusun rencana kemana aku akan melanjutkan study ku ini.

 

Pesta perpisahan sekolah pun sudah menanti didepan mata. Sebenarnya aku malas pergi mengingat disana dapat dipastikan aku akan disuguhi adegan lovely dovey para teman-teman angkatanku, tapi bukan itu yang aku malaskan. Aku malas karena disana ada kau dan juga kekasihmu. Apa aku tidak usah datang saja….

 

Dress merah dengan renda hitam dibagian bawah membungkus tubuh kurusku. Make up natural, lipstik merah muda dengan rambut terurai.

 

Aku merasa cantik saat itu, mematut diri didepan cermin. Saat itu aku berpikir kau benar-benar bodoh telah mengacuhkan ku. Kau lihatkan aku tidak sejelek yang kau kira. Malah aku lebih cantik dari kekasihmu itu, ya kan??

 

Memasuki ruang aula dimana acara prom berlangsung. Agak risih memang, semua mata tertuju padaku. Tapi aku tetap tenang dalam melangkahkan kaki ku masuk menuju kerumunan teman sekelasku.

 

Aku melihatmu, mata kita bertemu pandang… Tapi buru-buru ku alihkan pandanganku. Beberapa saat akupun kembali melirik ke arah dimana kau berada. Dapat terlihat jelas kau sedang kesal, yuri disampingmu berbicara tanpa henti atau dia marah?? Entahlah….

Dan diapun menamparmu, dia menamparmu didepan banyak orang!! Bisa kulihat malu terpampang jelas diwajahmu.

 

Kau pergi meninggalkan yuri, aku yang merasa iba padamu pun langsung mengikutimu. Berjalan gontai tak tentu arah. Apa yang ia lakukan padamu sampai membuatmu linglung saat itu? Aku merasa tak mengenalmu lagi saat itu. Sebegitu kah yuri mempengaruhi hidupmu?

 

Kenapa kedai minuman menjadi pelampiasanmu? Aku duduk tepat didepanmu kau pun menoleh dan tersedak mengetahui aku mengikutimu. Aku bertanya bolehkah aku menemanimu. Walau kau tak menjawab aku tetap duduk didepanmu.

 

“Ternyata wajah cantiknya berbanding terbalik dengan sikapnya padaku, aku terus bertahan karena aku mencintainya.” Kau mulai bercerita.

 

Aku tahu rasa sakit yang kau rasakan saat itu, tapi apa kau tahu rasa sakitku melebihi rasa sakitmu itu?

 

Ocehan-ocehanmu masih kudengar sambil menemanimu menenggak soju-soju yang ada dihadapan kita. Saat kurasa kau sudah sangat mabuk, dan akupun sudah mulai mabuk, aku pun berpikir untuk mencari taksi untukmu dan mengantarmu pulang.

 

Aku masih tahu persis dimana letak apartementmu, password nya pun masih ku ingat. Dengan kekuatan yg kumiliki aku tertatih berjalan sambil menahan tubuh kekarmu itu agar tidak terjatuh. Membawamu ke sebuah kamar yang sangat aku hafal letaknya. Kembali aku telusuri sudut kamarmu. Masih tetap sama seperti saat terakhir kali ku kesini.

 

Ku baringkan tubuhmu diatas kasur berukuran king sizemu dan ku pun menyelimutimu. Entah kenapa saat itu jari-jari ku telah menelisik tiap inci wajahmu. Alis yang lebat, mata tajam yang sedang tertutup rapat, hidung mancung..

 

Kau Benar-benar tampan choi siwon…

 

Apa aku bisa melupakanmu, lirihku saat itu. Tiba-tiba kau membuka matamu, menahan tanganku dan mendorong tubuhku kesamping.

Entah sadar atau tidak kau mulai menciumku, menciumku penuh nafsu. Aku berusaha memelepas ciumanmu itu, tapi kekuatanku masih kalah dengan kekuatanmu walaupun kau sedang mabuk.

 

Aku mulai meronta, tapi apa yang terjadi…

Dirimu malah dengan beringasnya menggerayangi tubuhku. Hanya kepada Tuhan ku berserah, aku pasrah…

 

Menangis….

Hanya itu yang bisa ku lakukan saat itu. Hidupku hancur, harta yang paling berharga bagiku telah di renggut paksa.

Kenapa kau jahat sekali choi siwon, kenapa??

Kenapa kau berani melakukan hal sebejat itu padaku??

 

Aku memang mencintaimu, tapi aku masih punya harga diri. Lebih baik aku menghilang saja dari hidupmu. Menghilang tanpa jejak….

 

5 tahun sejak kejadian malam itu, tepat nya saat ini. Apa kau tau SAKIT apa sebenarnya yang sekarang kurasa?

Sakit melihat senyuman tulus seorang anak kecil yang selalu mengingatkan ku akan dirimu.

Sakit mendengar pertanyaan-pertanyaan polos dari bibirnya, ‘ siapa appa ku eomma? , dimana dia sekarang?, kenapa appa tak bersama kita?’….

 

Ya Choi siwon, dia anakmu…

Anak yang kulahirkan dari rahimku akibat perbuatanmu 5 tahun yang lalu. Aku tidak memberitahumu?? Ya, karena aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk menghilang dari hidupmu, bukan?

 

Pada akhirnya aku tahu bahwa aku hamil, tapi aku tetap menutupinya. Tetap bertahan, walau rencana untuk mengakhiri hiduppun sempat hampir kulakukan. Tapi appaku yang menyadarkanku. Anak dalam rahimku tidak tahu apa-apa. Apa pantas dia mati menggenaskan bersama eommanya yang bodoh ini?

 

Suara isak tangis bayi yang baru lahir kedunia menyelimuti ruangan dimana aku berada saat itu. Keharuan yang kurasa, akhirnya aku berhasil bertahan sampai anak kita lahir. Pantaskah aku mengatakan “anak kita”?? Apa aku bahagia karena memiliki anak dengan orang yang ku cintai?

 

Ya aku bahagia, tapi bukankah cara mendapatkannya salah? Malahan begitu tragis untuk ku. Ternyata SAKIT itu masih terasa amat besar bagiku. SAKIT yang dirimu torehkan mungkin tak dapat ku maafkan, tapi rasa cinta ku pun tak bisa ku hapus….

 

Sekarang aku hidup hanya untuk pangeran kecilku, Joon. Berusaha membesarkannya sebaik mungkin. Wajahnya bagaikan replika dirimu sewaktu kecil, aku ingat kau pernah memperlihatkan foto kecilmu padaku.

 

Harapanku, semoga bisa bertahan membesarkan putra kita, tanpa harus mengusik hidupmu. Semoga kau bahagia disana….

Aku disini masih amat membencimu sekaligus juga mencintaimu….

 

~Yoona~

 

 

 

Siwon tak dapat lagi membendung air matanya, dia harus menerima kenyataan bahwa ternyata selama ini yoona mencintainya. Bahwa ternyata ia telah menyakiti yoona dan membuat hidup sahabatnya itu hancur. Ia sekarang merasa dirinya benar-benar bodoh. Tak tahu apa-apa tentang perasaan sahabatnya itu.

 

Nyonya choi yang sedari tadi berada disamping siwonpun berusaha menenangkan anak nya, mengusap-ucap punggung sang anak. Walaupun dia belum mengerti apa sebenarnya isi buku yang dipegang anaknya saat ini.

 

“Noona, dimana yoona sekarang. Aku ingin bertemu dengannya. Aku ingin menebus kesalahanku. Ku mohon beri tahu aku” pinta siwon di sela-sela isak tangisnya.

 

“Dia…” Ucapan yoora terhenti karena menahan tangis.

“Yoona, telah pergi. Pergi untuk selamanya”

 

Bagaikan disambar petir, siwon pun kembali menangis, tapi lebih kepada ratapan. Ia merasa dirinya benar-benar bajingan. Menyia-nyiakan dan menghancurkan hidup seorang wanita dan kini semua sudah terlambat. Tiada kesempatan untuknya memohon maaf dan membayar perbuatan buruknya tersebut.

 

~

 

Udara sejuk musim gugur menghiasi suasana tenang di sebuah komplek pemakaman. Siwon kini tengah berdiri mematung memandangi nisan yang bertuliskan nama seseorang yang amat dia kenal. Joon berada disampingnya saat ini. Dia tahu bahwa itu nisan ibunya, tapi nampaknya dia sudah mengerti dan terbiasa tegar dihadapan nisan itu.

 

‘Yoong… Bagaimana kabarmu. Maaf baru sekarang aku mengunjungimu. Aku baru mengetahuinya dari yoora-noona. Aku begitu bodoh yoong, tidak menyadari keberadaanmu saat itu. Aku bodoh, karena telah menyakiti dan menghancurkan hidupmu. Mohon maafkan aku yoong…. Maaf….. Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau hamil, kenapa kau menghilang? Aku mencarimu yoong, aku berusaha menemukanmu tapi nihil. Kau menghilang tanpa jejak. Kau tahu, semenjak dirimu menghilang aku merasa hampa. Dan baru kusadari aku mencintaimu. Saranghe yoong… Jeongmal saranghe…. Aku berjanji akan menjaga joon untukmu, kau telah membesarkannya dengan baik. Sekarang giliranku, kumohon bantu aku menjaganya dari sana’ Batin siwon. Siwonpun menghapus airmata yang sedari tadi terus turun dari pelupuk matanya itu dan beralih menatap joon.

 

“Joon tidak merindukan eomma?” Tanya siwon lirih.

 

“Sangat appa, tapi eomma selalu berkata kalau joon harus kuat dan tegar. Apapun yang terjadi joon tidak boleh menangis. Karena kalau joon menangis eomma juga akan menangis. Joon tidak mau eomma menangis disana” jawaban joon membuat siwon terharu, yoona telah membesarkan anak mereka dengan baik.

 

“Disana eomma pasti bahagia kan appa??” Tanya joon polos.

 

“Ya, eomma pasti bahagia disana”

 

 

End

 

Huaaaaaa, aku ikut hanyut nih…. Boleh nangis ngak??#plak…kecepetan? Mianhe ide cuma kayak gitu…walau gaje dan gak berbobot tetap dimohon RCL nya ya, bagi yang udah baca….

Buat Gee, thanks a lot yaaaa….

Pos Sebelumnya
Tinggalkan komentar

100 Komentar

  1. simoppa

     /  Oktober 13, 2014

    aaaaaaaaaaa kebawa suasana nih thor.. *nangis beneran* joon polos bgt omo… daebak ffnya.. top bgt lahhh

    Balas
  2. T_T …… Sedih banget kasian yoona eonni… FF nya bener2 keren

    Balas
  3. mia rachma

     /  Januari 10, 2015

    sad ending… yoona kasiannnn,

    Balas
  4. Hiks hiksss benerr2 menyedihkann T.T

    Balas
  5. Astaga eonni
    ne ffx sdieh bget
    smpae gak berasa air mata ngalir terus

    Balas
  6. Viana

     /  Juli 11, 2015

    Sumpah sedih bgt,jadi ikkutan nangis gini,;(

    Balas
  7. Cha'chaicha

     /  Juli 25, 2015

    Hua knpa sedih bgt ini ending’y..

    Balas
  8. Sediiiiih😥 aku ikut sakit merasakan apa yang yoong rasakan😥
    siwon oppa terlambat😦 tapi dia bisa menebusnya dengan merawat joon
    ini cerita nguras air mata😀

    Balas
  9. Jd terharu sampe nangis waktu bacanya karna kasihan sama yoonanya..
    Tapi ceritanya bagus walaupun sad ending..

    Balas
  10. Nur Khayati

     /  Oktober 13, 2015

    Kasian bgt Y00na.a, gara2 Siw0n yg gk peka., Tapi salut jg buat Y00na bisa ngerawat J00n sndiri mskipun tanpa kehadiran se0rang suami d sisi.a .,;-(

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: