[FF] My Love (Chapter 3)

MY LOVE

PART 3.

AUTHOR:  ANNELIES  DE  CARLLOS.

GENRE: ROMANCE, FRIENDSHIP.

Part 3 datang.. maaf ya lama part ini.. maklum lebaran banyak kegiatan mudiklah inilah itulah.. jujur mood author waktu nulis part 3 ini naik turun males ga males ga.. tapi akhirnya bisa rampung juga..fiuh.. entahlah hasilnya bagaimana.. dibuat dengan ketidak pastian mood..yaudah.. baca aja deh.. JANGAN LUPA KOMENTAR oke!

Unlike?..

Don’t read..

Don’t bash..

Reader please coment.. make me better okay..?!

CAST: IM YOON AH.

           CHOI SIWON

           SEOHYUN.

           KYUHYUN

          KIM SOOHYUN.

           LEE DONGHAE         

           TIFFANY HWANG    

          HEECHUL.

           TAEYEON, SUZY.

          NY. CHOI.

MY LOVE.

Yoona pov.

Aku terus memantau keadaannya sampai 3 jam berikutnya, keadaannya membaik walaupun dia belum sadarkan diri. Aku mengistirahatkan diriku disofa kamarnya.

‘kenapa aku menyelamatkannya?..’

‘iya ya.. kenapa? Padahal dia selalu bersikap dingin adaku..’

‘selalu tidak menyenangkan.. menyebalkan dan membenci ku..’

‘huh..’

Pertanyaan itu membelit pikiranku saat ku melihatnya tertidur dengan nyaman setelah dia berhasil melewati kondisi kritis, aku bahkan rela berhujan hujanan deminya. Gila!! Berhujan hujanan ditengah tengah flu ku yg sedang meradang.

“aaahhh.. aniya.. tentu kau akan berbuat seperti itu karena dia pasienmu.. kajja keluar membuat makanan lalu makan..”aku meninggalkannya diruangan itu sendiri.

Aku menuju meja makan disana sudah ada seorang pria dan wanita itu. Mereka kompak menoleh kearahku dengan santainya aku duduk dia salah satu kursi.

“bagaimana keadaanya?” tanya sipria donghae.

“jauh lebih baik..” aku menjawab sambil menyendok berberapa centong nasi keatas piringku.

“maafkan aku tadi aku mengajak siwon oppa untuk keluar tanpaizin darimu..” yeoja benama tiffany itu.

“ hmm.. tidak apa apa.. tidak berdampak terlalu buruk..” akupun berlalu dari hadapan mereka.

My love.

naegae geudaega inyeunyi ahnin geutchulum
geujuh seuchinun soonganin geutchulum
sheepgae nal jinacheeneun geudae gyutae
ddoe dagaga han guleumjocha
jae ddel soo upseuljjilado (taeyeon-can you hear me)

nada nada indah itu terus memenuhi seisi ruangan, gadis cantik itu dengan piawai memainkan nada nada untuk merangkai sebuah lagu untuk ujian akhir masuk kedalam sebuah sekolah seni, dia adalah murid baru, ahjjuma itu yg membiayai semua biaya hidupnya kini. Seohyun sudah tersadar dari komanya 1 minggu setelah kepergian yoona.

Perasaannya kini memang tak karuan dia sedang dibalut rindu dan rasa bersalah pada kakak satu satunya itu.

“lagumu sangat bagus.. oppa yakin kau dapat masuk kelas unggulan..” seorang namja memasuki ruangan yg tidak terlalu luas itu dan menghampiri sang gadis.

Senyum indah dan pujian dari sang pria tak digubrisnya sama sekali, dia masih fokus terhadap pikirannya sendiri.

“seohyun gwenchana?” lelaki bernama kyuhyun itu memegang tangan seohyun yg masih berada di atas tuts(gatau tulisannya) piano itu dengan lembut sehingga pemilik tangan indah itu sadar dari lamunannya.

“ah.. oppa.. gwenchana.. aku baik baik saja.. bagaimana lagunya oppa?” tanya gadis itu asal untuk menutupi keadaanya yg sedang dilanda gelisah karena kakaknya.

Kyuhyun tersenyum getir dan lalu membawa seohyun kedalam dekapannya.

“oppa kau kenapa?” seohyun masih pura pura tak tejadi apa apa dan pura pura tidak tahu.

“cukup seohyunie.. cukup.. jangan kau tutupi apapun dari oppa.. jangan!!.. menangislah dekaplah oppa.. jangan pernah kau merasa sendiri didunia ini..” kyuhyun mengucap setiap kalimatnya dengan gemetar dan isakan yang hebat.

“oppa tahu kau merindukan unnie mu yoona.. kau tau unniemu itu keras kepala.. kau jangan menangis dan merasa bersalah karena ini.. buktikan padanya bahwa kau dapat berprestasi.. kau dapat sukses… dan kau dapat membahagiakannya kelak.. arraso?” lanjut kyuhyun.

“arraso…oppa.. mianata.. gomapta..” seohyun terisak dalam dekapan lelaki yang selalu ada untuknya.

“oppa disini untukmu sayang.. jangan buat oppa khawatir terhadapmu lebih dalam..” kyuhyun mendekap seohyun lebih erat.

My love.

Author pov.

Malam ini yoona masih asik untuk mengamati ciptaan luar biasa tuhan dilangit. Dia terduduk ditepi kolam renang menatap lurus kelangit penuh pernik hitam itu.

“sudah memasuki musim semi..” lirihnya.

“iya.. musim semi yang selalu dinanti sebagian orang dan dibenci pula oleh sebagian lainnya..” tiba iba suara itu muncul dari sebelah kiri yoona.

Yoona menoleh ternyata tiffany.

“bagaimana denganmu..?” tanyanya sambil melihat kelangit.

Yoona yang masih menatap tiffany bingung dengan tingkah yeoja satu ini, dia pun mengalihkan pandangan ke kolam.

“entahlah aku hanya sedang terpesona oleh cantiknya malam ini..” yoona menjawab sekedarnya.

“jus melon?” tiffany menawarkan coklat panas untuk yoona.

Yoona menerimanya lalu tersenyum sebagai tanda terima kasih.

“siwon sedang apa?” tanya yoona.

“mengobrol dengan donghae oppa.. kau dokter yang jenius..” tiffany memuji yoona, yoona hanya tersenyum kosong tanpa memandang tiffany.

Siwon sudah sadar 2 jam yg lalu.. yoona jujur sedikit kesal pada siwon, dia hanya menyiapkan obat dan makanan untuk siwon dan lalu memberikannya pada tiffany untuk diberikan kepada siwon, dia enggan bertemu dengan siwon bahkan memeriksanya setelah sadar pun enggan dilakukannya.

“kita belum bekenalan.. walau ku tahu banyak tentangmu dari eomma.. tapi ku pastikan kau tak tahu apapun tentangku..” tiba tiba ocehan tiffany mendarat pada kalimat yang membuat yoona menoleh langsung pada tiffany.

“eomma???” tanya yoona heran penuh selidik.

“ya.. dokter berhenti menatapku seperti itu.. iya namaku Choi hwang miyoung (correct kalo salah ya).. tapi aku terbiasa dengan nama amerikaku tiffany.. aku adik dari siwon oppa.. sejak usiaku 3 th aku sudah tinggal diamerika..” yoona masih menatap tiffany dengan penuh selidik.

“arra arra… aku tadi bilang aku adalah teman dari siwon oppa.. kau tahu bukan seorang yang sedang panik susah berfikir sesuai realita?” bela tiffany, yoona meregangkan tatapan  tajamnya pada tiffany.

“kami selisih 5 tahun.. soal aku diamerika, aku tinggal bersama tanteku disana.. tanteku tak memiliki anak, memang sudah perjanjian mereka aku akan tinggal bersama tanteku setelah aku lahir.. walaupun eomma sangat berat melepasku setelah dia mengetahui aku seorang perempuan.. tapi dia tetap ikhlas, lalu hidupku selanjutnya adalah bolak balik amerika-korea..” tiffany menjelaskan panjang lebar memberikan pengertian pada yoona.

“oh.. begitu aku kira dia tak memiliki adik..” entah ada perasaan senang menyerukan didada yoona dia berusaha menyembunyikannya dengan kembali menatap langit malam.

“aku pikir akan terjadi sebuah kesalah pahaman jika ku tak menjelaskannya makannya kujelaskan padamu.. “ goda tiffany.

“apa yang kau bicarakan?” yoona menyergah.

“bagaimana setelah 3 minggu bersama oppaku?” tanya tiffany.

Yoona mengingat 3 minggu yang ia lalui dengan siwon, siwon banyak menghabiskan waktunya dengan donghae oppa dan temannya yang lain, sosok lelaki dingin yang tempramental 3 minggu ini tak ada percakapan diantara mereka kecuali percakapan percakapan yang memang sangat penting.

“molla… “ yoona menyenderkan tubuhnya pada ayunan kayu yang ia dan fany duduki.

“kau tahu dia memang bersikap dingin pada apapun yang ia tak kehendaki.. ya kau tau kan dia dipaksa oleh eomma” yoona hanya mendengarkan apa yang fany katakan.

“btw.. kau bersikap dingin sekali tadi siang terhadapku.. ku takut kau berpikir yg tidak2”

“itu tidak mungkin..” yoona berkata sambil menyibakan tangannya didepan muka tiffany.

“ya.. baiklah.. besok pagi aku akan kebali keseoul,.. ku harus segera kembali ke amrik..” jelas tiffany.

“singkat sekali kau disini..” yoona berkata datar pada teman barunya ini.

“aku mempunyai segudang pekerjaan dibutik dan segudang tugas dari universitasku.. kau tau teukkie oppa menangis saat tak dapat berkumpul bersama kami disini..” tiffany merasa nyaman mengobrol dengan yoona, selain yoona pendengan yg baik, karena seumur hidupnya dia jarang memiliki  teman seorang yeoja saudaranyapun lelaki semua.

“kalian terlihat sangat dekat..” yoona tersenyum kearah tiffany.

“tentu.. ayo kita tidur.. hari sudah malam” yoona mengangguk akhirnya mereka pun masuk kekamar masing masing.

Malam itu cerah. Sang bulan turut tersenyum untuk kedua gadis cantik itu, sedangkan yoona segera mengakhiri hari ini dengan mimpi indahnya menuju hari esok yg penuh misteri.

My love.

“hati hati.. fany ah..” siwon melambaikan tangan pada sebuah mobil coklat yang merangkak pergi menjauh.

Begitupun dngan yoona, yoona tersenyum melambaikan tangannya.Setelah mobil itu  menghilang dari pengelihatan, tinggalah 2 insan manusia yang berdiri didepan rumah itu.

Siwon berbalik menuju kedalam rumah, matanya bertemu dengan mata indah yoona, entah apa yang terjadi virus gugup segera menyeruak dalam dirinya dia alihkan pandangannya dari sosok dokter muda yang mempesona itu menuju kedalam rumahnya.

Siwon pov.

Aku merebahkan diriku diatas kasurku, niatku untuk mandi tercegah, aku merasa ada yang aneh, bukan karena kepulangan tiffany keseoul. Tapi lalu apa?.

Aku termenung dalam diam, aku berpikir apa sebenarnya yg membuatku merasa ada yang tidak beres?. Yoona? Dokter itu.. tapi kenapa dengan dokter itu. Ah iya.. sifatnya berubah dia tak seramah biasanya bahkan sejak aku pinsan kemaren dia belum menyapaku sama sekali, padahal tiffany bilang dia memberikan pertolongan untukku, ada apa sebenarnya dengannya?.

Setelah selesai mandi, seperti jadwalku biasanya sarapan. Aku masih sibuk memilih kaos yang tepat akhirnya kutemukan juga kaos biru polos panjang dengan dipadu celana jeans panjang. Setelah siap aku berjalan menuju meja makan.

Dimeja makan tak ada siapa siapa hanya piring dengan nasi, semangkuk sop dan satu potong ayam goreng. Kemana dokter itu?,, aiss,, benarkan sifatnya berubah!.

Aku menyantap semua makanan yang tersedia dimeja makan dengan lahap, entah apa yang dokter itu perbuat jika aku telat makan berberapa jam saja aku akan merasa tidak baik, mmm.. seperti kemarin.

Setelah aku selesai makan seperti biasa hari ini aku janjian dengan donghae untuk sekadar bermain main dengannya, aku menunggu anak itu disofa ruang depan bersama ipad ku.

Tiba tiba sesosok wanita melintas dihadapanku, dia menggunakan celana pendek atas lutut dan t-shirt kuning yang ditumpuk dengan celemak tukang kebun, rambutnya pun diikat dua.

“mau apa kau?” karena saking tak tahannya aku bertanya kepada sosok wanita yang sejak kemaren acuh tak acuh padaku.

Dia menoleh kearahku seakan tak percaya aku bertanya padanya seperti itu.

“berkebun..” jawabnya singkat tanpa melihat kearahku.

Dia masih sibuk berkutat dengan barang barang yang akan ia gunakan, sekilas aku memperhatikannya dia tak melirik kearahku sama sekali, dingin sekali sikapnya.

Banyak pertanyaan yang bergelut diotakku mengenai perubahan sikapnya, apa karena aku terlalu dingin? Ah ini sudah biasa aku memang selalu bersikap dingin terhadapnya., apa karena masalah pribadi? Memangnya masalah apa? Kalo iya benar paling mengenai adiknya dan kalau itu sampai terjadi eomma akan memberitahuku,. apa mungkin karena… kejadian kemaren, bukankah aku tak ijin padanya dan langsung nyelonong pergi saja?. Jinjja.. iya benar.

Kini dia mungkin sudah berada dikebun, ada rasa yang menelisik kepada seluruh sarafku, tiba tiba aku mengintipnya dari balik jendela dan kulihat dia sedang bersama lelaki.. ah.. siapa lelaki itu?

Astaga.. dia soohyun.. kim soohyun tadi posisinya membelakangiku sehingga aku tak mengenalinya, dia kim soohyun temanku namun tak sedekat donghae. Dia membantu yoona berkebun, mereka terlihat akrab sakali satu sama lain, terkadang mereka tertawa bersama terkadang hanya mengobrol biasa sambil terus mengotak atik tanaman didepan mereka. Aku tak dapat mendengar apa yang mereka katakan namun mereka terlihat sangat asik bercengkrama.

“wonnie.. heh.. kuda jelek sedang apa kau?” suara seseorang yang cukup kukenal mengaggetkanku yak.. donghae.

“sedang melihat apa sebenarnya kau ini serius sekali..” dia menengok keluar jendela mengikuti arah pandangku.

“ah.. ania..” aku menutup korden jendela itu, dia tersenyum evil.

“sedang mengintip dengan penuh cemburu?” tanyanya evil.

“aniya.. kau ini apa apaan.. oh ya. Bagaimana kau bisa masuk..” kataku mengalihkan pembicaraan sambil duduk disofa ruang itu.

“tentu saja lewat pintu… saking seriusnya memperhatikan mereka berdua kau sampai tak mlihatku.. padahal tadi aku menyapa mereka..” katanya santai sambil duduk disampingku.

“ais.. sudahlah..” kataku menyerah terhadap serangannya sedangkan dia hanya terkikik.

Siwon pov end.

Yoona pov.

Aku berkebun bersama soohyun oppa menyenangkan sekali. Soohyun oppa menurutku sosok lelaki yang supel dan enak diajak bicara.

“apa kau tak menyadari dari tadi siwon terus memperhatikan kita dari jendela?” tanyanya tiba tiba, sontakaku langsung menoleh kearah jendela.

“ah.. yang benar saja oppa.. lihatlah jendelanya ditutup..” sergahku.

“oppa serius.. mungkin karena baru kepergok donghae dia langsung menutup jendelanya..” dia masih membela diri.

“ tidak mungkin.. untuk apa dia mengintip kita..” sergahku masih fokus terhadap tanamanku.

“ tidakkah kau merasa dia menyukaimu?” pertanyaan ini sungguh membuatku terkejut aku langsung melihat kearahnya.

“kau ini bicara apa tentu tidak..” kataku sambil memukul pelan lengannya.

“arraso.. lanjutkanlah pekerjaanmu..” katanya tersenyum manis padaku aku hanya membalas senyumnya sambil melanjtkan pekerjaanku.

MY LOVE.

Memang hari ini sudah 2 minggu sejak kejadian itu… tapi kedua pihak tetap melanjutkan perang dingin mereka..

 

Yoona pov.

Hari hari tampak dengan cepat berlalu berganti dengan hari beikutnya, lelaki hari hari terakhir ini ia habiskan hanya berkutat dengan laptop ipad dan merundingkan suatu berkas dengan temannya itu, sbenarnya itu tak baik namun moodku membuatku malas untuk melarangnya dan menyuruhnya berolahraga. Hari ini 2 minggu setelah kejadian itu dan aku

Ditengah tengah kesibukanku menyiapkan makanan telfonku berdering.

Kringg… choi ahjjuma.

Aku langsung pergi menuju kamarku.

“yeoboseyo?” angkatku.

“yeoboseyo.. yoona ya?”

“ne ahjjuma.. “

“bagaimana keadaanmu?”

15 menit kemudian.

Aku kembali keruang makan, kulihat dirinya sudah berada didepan meja makan.

“benar benar hanya salad? Salad sayur pula?” tanyanya.

Aku hanya mengangguk sebagai jawaban, akupun duduk disalah satu kursinya.

Aku hanya terdiam melihatnya menatap jijik kepada makanan didepannya aku tahu dia benci sekali terhadap sayuran, tapi harus bagaimana sayur itu dapat membuat kondisi seseorang membaik.

MY LOVE.

Author pov.

Malam itu yoona terduduk di pinggir kolam renang mungkin dapat disebut itu tempat favoritenya. Dia memandang kearah kolam renang sambil memegang segelas jus jambu favoritenya terngiang ngiang perktaan seseorang ditelinganya.

“ dokter im.. apakah anda baik baik saja?”

“hmm.. begini.. saya tahu siwon itu anaknya tempramental dan dingin, dia tidak mudah bergaul dengan orang yang baru dia kenal.. oleh sebab itu dokter im saya mohon dokter memaklumi siwon, saya mohon.. saya yakin kalau dokter im sabar dan tetap memaklumi siwon dokter im dapat dekat dan siwon tak lagi bersikap dingin kepada dokter.. saya mohon dokter memaafkan segala kesalahan siwon.. atas nama siwon saya minta maaf yang sebesar besarnya dokter im.. selain tentang sikap dinginnya saya memang tak tahu kesalahan dia lainnya.. tapi mungkin memang ada yang tak terjamah oleh saya saya minta maaf..”

“huh.. dia mengadu pada ibunya dasar anak mami..” dengus yoona sambil meletakan jus itu dimeja sebelahnya.

Dia masuk berlindung terhadap kegelapan malam itu, tak ada bintang bertaburan seperti biasa dan hatinya kini gaduh apa yang harus aku lakukan. Sekiranya itulah pertanyaan didalam otaknya.

Dia memasuki kamarnya betapa kagetnya dia.. melihat seorang lelaki jangkung berdiri memunggunginya menatap kearah jendela.

“kau…” pekik yoona.

Lelaki itu menoleh sebentar lalu kembali melihat kearah pemandangan.

“pemandangan disini jauh lebih indah dari kamarku..” katanya cuek.

“dasar pembual… kamar kita  sama sama menghadap ketimur.. mana mungkin pemandangannya berbeda..” jujur yoona sangat geram, yoona mengatakkannya saat sedang membasuh mukanya didepan wastafel kamarmandi sekedar untuk menyegarkannya oleh apa yang terjadi hari ini.

“kau memang pandai dokter im..” entah pujian atau hinaan yang terlontar dari mulut choi siwon itu, yoona tersenyum kecut sambil mematut dirinya didepan cermin wastafel.

“sudahlah Duke of choi.. katakannlah apa niatmu masuk kedalam kamar ku..” yoona sengaja menambahkan gelar ala bangsawan inggris untuk menambah isyarat tentang kedongkolannya.

“wow.. memang pandai.. bahkan pengetahuanmu pun lebih luas dari pada hanya berbatas dalam lingkaran dunia kesehatan..” yoona yang akan duduk santai disofa tercegah oleh perkataan itu.

Dia rasai mukanya memerah amarahnya tak dapat dibendungnya lagi, tapi ia terus berusaha bersabar dan bersikap tenang. Setelah ia mencapai keadaan tenang ia terduduk pada sofa.

“baiklah duschess of choi.. aku hanya ingin berbicara ditempat yang aman denganmu” siwon membalik kearah yoona.

Yoona mendelikmendengar perkataan siwon.

“ tn.choi aku tentu bukan duschessmu..” uncap yoona berusaha tenang.

“mm.. baiklah.. kita to the point saja.. apakah kau mengadu pada eomma tentang sikapku.. dan meminta padanya untuk menyuruhku meminta maaf padamu?” dia menatap tajam kearah yoona yng duduk disofa tanpa berpindah dari tempatnya.

Yoona nampak kaget dengan apa yang siwon ucapkan.

“persetan.. apa pula yang sedang terjadi ini…” yoona menghela nafas dan merebahkan tubuhnya pada senderan sofa.

Siwon menggrenyit tak tahu apa arti dari ucapan yoona, yang ia lihat hanyalah yoona yang sedang bersender berlebihan pada kursi dengan wajah menghadap langit langit dan mata tertutup.

“tak perlu tahu apa yang sedang terjadi katakan saja iya atau tidak..” jelas siwon dan duduk ditepi ranjang yoona kini mereka berhadap hadapan yoona di sofa siwon didepannya ditepi ranjang.

“tidak mungkin..” yoona membuka matanya dan sedikit terkejut posisi siwon sudah didepannya.

“ibumu berberapa menit lalu menelfonku dan tak jauh beda.. dia menyuruhku memaafkan kesalahanmu dan memintaku berhenti bersikap dingin padamu.. bukankah lebih realistis kalau inikau yang mengadu?” yoona mengeluarkan pendapatnya tanpa cela.

“ini bukan ulahku sama sekali.. untuk apa aku mngadu pada ibuku.. akupun berpikir ini akan semakin runyam bila ibuku ikut campur didalamnnya…” siwon menatap yoona seperti memberitahu sesuatu, yoona mengangkat kakinya dan menyilakan diatas sofa, tanpa menggubris siwon.

“mengapa memandangku seperti itu..” yoona malah risi mendapat pandangan seperti itu dari siwon.

Tik.. siwon menylentik kening yoona.

“yakk.. kau choi siwon..” yoona baru akan menyerang siwon.

“hey hey.. kau boleh membalasnya tapi dengarkan aku dulu..” siwon menyergah dan itu memaksa yoona untuk kembali duduk seperti posisi semula walaupun dengan bibir yang menyun.

“kurasa dirumah ini dipasangi kamera tersembunyi.. kamera pelacak..” kata siwon melirik penuh misteri kearah yoona, yoona yang tadinya acuh tak acuh dipaksa untuk fokus terhadap penjelasan siwon.

“matanya ada dimana mana.. dia dapat memantau semua yang terjadi terhadap kita,,”

“tapi siwon.. saat kau sakit kemaren dia sepertinya tak khawatir atau apapun.. seolah olah dia tak mengetahui apapun.”

“tentu. Karena diantara kita tak ada yang memberitahu.. ia mungkin memperkirakan kau dapat menolongku dan nyatanya aku selamat. Tapi soal sifat dinginmu itu terlah berlangsung lama.. mungkin dia gerah” mereka berdua diam, hanya hening yang mennyelimuti mereka disaat tenggelam dengan fikiran masing masing.

‘jadi dia menyadari sifat dinginku.. apa dia merasa terluka atau tidak nyaman denganku.. tuhan dokter macam apa aku ini..’ yoona bergeliat dengan pikirannya sendiri, sedangkan siwon hanya sibuk mencari jalan keluar.

“mianheyo..” lirih yoona itu membuat siwon tersentak lalu kembali menatap kearah yoona.

“ne.. mianheyo, karena bersifat dingin padamu aku tahu itu bukan cerminan dokter yang baik..” siwon semakin tak taku harus mengatakan apa.

Dia enggan meminta maaf itu bukan tipenya, walaupun yoona pun bukan tipe peminta maaf tapi dia cukup mengenal situasi.

“kita harus bersikap lebih hati hati.. kita harus bersikap biasa saat dirumah ini.. tapi jangan khawatir aku yakin ibuku tak memasang kamera pada ruang ruang pribadi kita.. tolong bersikaplah seperti biasa, aku sudah banyak menyusahkan ibuku, aku tak ingin menyusahkannya lagi.. yasudah aku kekamarku..” karena suasana obrolan siwon rasa sudah tak nyaman karena diserang virus gugup dan diamnya yoona setelah mengucapkan maaf padanya.

Tinggalah yoona dikamarnya sendriri, dia hanya mendengar tanpa mengiakan siwon, tapi ia tahu itu yang terbaik.

Dia membersihkan dirinya untuk hari ini dan segera merangkak kebalik selimut atas ranjangnya itu, dia mencoret lagi satu hari pada tanggalannya, 7 minggu seudah berlalu…

MY LOVE.

Tok tok tok.. yoona mengetuk pintu kamar siwon.

“yak.. choi siwon cepat bangun lah.. palli..” yoona terus mengetuk ngetuk pintu kamar siwon.

Dengan terhuyung huyung siwon bangkit dari tidurnya menuju sumber suara terdengar

“waeyeo..” siwon membuka pintunya lalu bertanya dengan mata tertutup.

“jinjja choi siwon.. ini sudah jam 6 ayo bangun kita harus berolah raga..” yoona bergidik aneh melihat tampang siwon baru bangun tidur.

“aku mengantuk sekali.. sejak kapan ada jadwal olah raga?”

“sejak hari ini.. ayoo cepetan..” yoona mendorong siown kekamar mandi.

“yak kau dokter im.. jangan ikut masuk berbahaya..” dengan senyum jahilnya dia berhasil membuat yoona kesal.

“sudahlah cepat masuk.. aku tak akan ikut masuk..” yoona mendorong siwon kedalam kamar mandi dia menunggu diluar sambil memanyunkan bibirnya

15 menit kemudian.

Yoona dan siwon sudah berada dipelataran bersiap untuk memulai olahraga mereka.

“ugh.. dingin sekali..” keluh siwon dan yoona tak menanggapi masih sibuk memakai sepatunya.

“kajja..” ajak yoona.

Ditengah perjalanan tak banyak yang mereka obrolkan maklum mereka memang belum akrab satu sama lain.

“sebenarnya kita mau kemana?” tanya siwon ditengah tengah lari kecil mereka.

“danau..” yoona menoleh dan tersenyum kearah siwon, entah sihir apa yang yoona berikan siwon seperti tersihir oleh senyum yoona bahkan efeknya amsih setelah yoona kembali melihat lurus kedepan.

“hy.. perhatikan jalanmu..” yoona terkikik saat siwon hampir saja mnabrak tiang listrik.

Siwon kembali fokus kedepan jalannya walau tak dapat fokus sepenuhnya. dia tak mengiakan ataupun menanggapi kata yang keluar dari mulut gadis disampingnya itu, sedangkan yoona sedang cekikikan menertawai siwon yang tadi bermuka sangat konyol walau tidak dijawab dia tetap meneruskan ejekannya.

Pagi ini memang sedikit ramai,ini awal musim semi.. banyak orang yang ingin menjadi saksi indahnya bunga tumbuh bermekaran didesa seasri ini. Berlibur bersama keluarga dan teman, tapi ada pula yang kesini lantaran kepentingan bisnis.

Karena lelah keduanya beristirahat walaupun baru setengah jalan. Banyak anak anak kecil bersepeda lalu lalang dihadapan mereka, tertawa riang saling kejar kejaran seolah tak ada yang namanya masalah dunia.. ya mereka belum merasakannya mungkin.. terlalu berat.

“siwon ayo lanjutkan..” yoona bersiap berdiri tapi siwon mereih tangannya untuk mencegah.

“sebentarlagi.. tunggulah 5 menit lagi..” katanya tanpa fokus kearah yoona.

Yoona merasa heran pun duduk kembali disisi kanan siwon.

“ceria sekali mereka” lirih siwon yg dapat didengar yoona

“hmmm..” yoona mengiakan.

Siwon menoleh yoona pun menoleh.

“mengapa kau mau merawatku..?” tanya siwon menatap yoona, sedangkan yang ditatap memalingkan wajahnya kearah anak anak tadi.

“kau tentu tau.. itu karena adikku..” yoona menjawab sambil memandang dalam anak anak itu.

“kau tahu.. aku ingin melihat dia seperti mereka..” tunjuk yoona pada sekrumunan gadis gadis remaja sedang lari pagi.

“ceria tertawa bergaul.. aku sangat senang mendengarnya bernyanyi.. suaranya indah kala dia memainkan piano pun sangat indah.. dia otodidak siwon.. hebat sekali bukan..” yoona menceritakan dengan semangat tapi sedetik kemudian layu. “hebat sekali jika itu tak terjadi”.

Siwon memandang gadis itu iba entah hatinya kini tergerak untuk mengerahui seluk beluk wanita itu.

“orang tuamu?”

Yoona menoleh. “kau nanti akan mengetahuinya.. ayo lanjutkan perjalanan.. sebelum salju benar benar turun”

Siwon terpaksa mengikuti yoona, mereka berlari kecil berdampingan, hanya 10 menit akhirnya mereka sampai, mereka duduk dibangku tepi danau.

“indah sekali..” yoona lirih siwon tak menanggapi.

“mau teh?” tawar yoona siwon hanya mengangguk.

Yoona segera berlri kecil menuju warung terdekat yang ia ketahui menjual minuman dan makanan.

“ini..” siwon hanya tersenyum menerima gelas teh itu.

“kupikir ibumu itu hebat..” mulai yoona.

“bahkan sangat hebat..” siwon menjawab sambil menyruput teh didalam gelas genggamannya, ia melanjutkan. “dia dapat melakukan sesuatu yang tak pernah terpikir oleh akal sehatku.. contohnya menyuruh wanita sepertimu untuk merawatku.. dokter tak berpengalaman…” katanya sambil melirik jahil menghina wanita bermantel kuning itu.

“aiss.. tentunya itu bukan tanpa alasan… aku itu mendapat beasiswa dan pernah kkn diswiss dan jepang..” yoona menyombongkan diri.

“tapi tak pernah merawat orang sepertiku..” maksud siwon adalah orang sakit HIV.

Tiba tiba yoona terdiam.

“aku pernah tn.choi.. “ dia meneruskan “namun tak seberuntungkau….” dia tetap melanjutkan namun terpisah oleh helaan nafasnya “namun aku mungkin terlambat dalam hal itu..”

Siwon memperhatikan mencerna kata kata pendek yoona, yoona menoleh.

“kau baik?” tanya yoona.

siwon mengalihkan kearah pandang lain.

“lalu apakah dia meninggal?” tanya siwon tanpa memandang yoona.

“hh.. iya..” yoona menjawab dengan berat. “tapi itu karena dia terlambat datang.. terlambat didiagnosa.. itu takkan terjadi bila tepat” yoona buru buru melanjutkan takut menjadi kesalah pahaman pada diri siwon.

“menurutmu aku terlambat?” tanyanya tanpa menoleh, dia memandang lurus dan kosong kearah danau.

“tidak sama sekali..” jawab yoona masih menatap tajam kearah siwon.

“jangan berbohong..” kata siwon memastikan tanpa memandang kearah yoona.

“untuk apa aku berbohong… memang begitu kenyataannya.. kajja pulang kau belum sarapan” yoona berdiri.

“tunggu sebentar” yoona menoleh siwon melanjutkan kalimatnya. “gomapta..” katanya pada yoona, yoona hanya tersenyum tipis.

“baiklah tuan choi.. tapi ayo kita pulang.. perutku meminta sesuatu yang enak..” yoona menarik narik lengan baju siwon supaya berdiri.

“arraso dokter im..” mereka berdua berjalan santai kearah jalan pulang.

Pukul 07.30 kst mereka berdua sudah terduduk di kursi meja makan.

“mengapa kau tak pernah memberi makanan sesuai seleraku.. ya mungkin pernah namun itu sangat jarang 3 hari sekali..” erangnya melihat makanan penuh dengan sayuran dihadapannya hanya ditemani lauk telur dadar.

“itu sudah ada telur..” yoona tak menghiraukan dan terus makan.

“gghrr.. kau ini.. aku ingin daging..” siwon merengek seperti anak tk.

“sudahlah.. kemaren kan sudah.. kolestelor itu tak baik choi siwon..” yoona meneruskan makan tanpa mengindahkan siwon.

Terpaksa sangat terpaksa siwon akhirnya menyantap makanan dihadapanya.

“apa acaramu hari ini?” tanya yoona dengan mulut penuh.

“eomma sebenarnya punya usaha kayu.. hmm.. ladang kayu dan pertenakan … mulai hari ini aku yang mengurusnya..”

“dimana lokasinya?” yoona bertanya lagi.

“dari danau masih jauh kearah barat..” kini giliran siwon yang mulutnya penuh dengan makanan.

“hmm.. itu tentu jauh memangnya kau naik apa kesana? Sepeda?” yoona masih terus menginterview siwon.

“bukan.. aku naik kuda..” yoona yang sedang meminum agak kaget rupanya.

“ada rupanya kuda naik kuda..” yoona mengatakannya dengan ekspresi terkejut.

“yakk kau..” siwon menyeringgai, “tapi kau tahu dari mana?” siwon melanjutkan dia merasa menemukan keganjalan.

“dari adikmu.. tiffany..”

‘yak!! Tiffany..’ siwon mengendus.

“siwon ssi bolehkah aku ikut?” tiba tiba sifat yoona menjadi sangat jauh lebih sopan.

“tidak tidak tidak.. tempat itu bukan tempatmu.. kau hanya akan menggangguku.. andwe..” tolak siwon sambil melambaikan tangan menandakan ketidak setujuannya.

“ayolah.. siwon ssi.. akukan dapat menjadi asistenmu nanti..aku juga pandai berhitung mungkin bisa aku bantu masalah keuanganmu..” yoona menghentikan aktifitas makannya yang sebentar lagi selesai itu.

“tidak tidak.. aku tidak butuh dokter im.. lagian kau ini  apakah bisa berkuda?” siwon bangkit dan menaruh piringnya diwastafel.

“aku? Tentu.. itu kegemaranku sewaktu kecil.. apa kau mau balapan?” yoona menantang.

“ais,. Tetap tidak!!” siwon tetep keukeuh.

“baiklah choi siwon.. lalu bagaimana dengan makan siangmu.. apakah kau mau kejadian itu terulang.. ayollah.. lagian akukan berjanji tak mengganggumu… ” yoona merengek sambil mencuci piring, siwon yang sedang mengambil sesuatu dari kulkas tampak menimbang nimbang.

“baiklah.. asal kau janji tak menggangguku ya!! sudah sana siap siap 30 menit lagi telat 1 menit kau tak jadi kuijinkan..” siwon mnatap minta janji kearah yoona.

“ne.. yakso..” dengan wajah ceria seperti anak berhasil membujuk ayahnya membelikan mainan yoona pergi kekamar untuk siap siap.

Tepat 15 menit kemudian dia keluar kamar. Dia menggunakan celana panjang hitam dan baju biru muda dengan rambut dikucir kuda kebelakang.

“arraso kajja choi siwon..”siwon memandang heran ujung kaki sapai ujung rambut yoona.

Siwon yang saat itu sudah rapi berpakaian berkuda warna biru terlihat gagah dan seolah seorang pemacu kuda profesional, dibandingkan dengan yoona.

“wae..?” yoona merasa heran.

“kau kata mau menjadi asistenku.. client clientku itu kebanyakan orang inggris yang sangat memperhatikan penampilan.. bisa bisa mereka tak jadi investasi karenamu.. pakai gaun berkuda ini..” siwon melempar sebuah gaun biru tua dipadu dengan coklat itu.

“kau yakin??, berkuda dengan gaun..” yoona menjembreng gaun itu.

“ditempat itu tak ada wanita.. jika clientku wanita pun menggunakan gaun seperti itu.. sudah cepat..” siwon emngusir yoona menuju kamar yoona.

“aisshh.. ne.. ne..”

10 menit kemudian yoona keluar dengan gaun berkudanya.

Gaun itu biru tua pada roknya dan atasnya perpaduan biru dan coklat, dipadukan dengan sangat manis. Tubuh yoona yang tinggi semampai barangkali menambah nilai plus, rambutnya pun ia gerai ia ingin menyeimbangi penampilannya saja, siwon melihat tanpa berkedip dengan cara tadi namun maksud yang berbeda.

“wae??” tanya yoona lagi tak pd.

Siwon mengalihkan pandangannya. “kajja.. pakai topi itu..”

Siwon menaiki seekor kuda jantan berwarna hitam sedangkan yoona kuda betina dengan warna coklet muda.

“kau bertenak kuda choi siwon?” tanya yoona saat menggunakan peralatan2nya.

“ia..tapi mereka lain.. kuda yg kita tunggangi itu kuda pacu..” siwon melanjutkan. “kau siap?” yoona mengangguk.

Keduannya memacu kuda masing masing, siwon nampak terkaget kaget dengan kemampuan berkuda yoona yg tak kalah darinya, mereka berjala dengan kecepatan sedang-agak cepat melalui medan medan yang indah dan menantang.

Akhrinya mereka sampai ditempat tujuan. Terlihat ratusan aktifitas pekerja sedang membilah bilah kayu untuk pesanan.

“kau ikuti saja.. tersenyum sajalah bila clientku menyapa biar smua pertanyaan tentang dirimu aku yg jawab..” siwon menerangkan yoona hannya mengangguk kecil.

Mereka melepas topi mereka dan segera menuju gubuk dimana client itu menunggu.

Yoona mengikuti siwon, dia hanya melakukan apa yg siwon perintah, entah mengapa dia tak bosan sama sekali malah asik dia menyimak percakapan antara siwon dan clientnya itu. Yoona pun dapat mengerti dan fasih dalam  berbaha inggris, biar begitu ia tetap tak mengerti istilah istilah bisnis yg tak pernah ia dengar, ia bertekad akan mencari itu dalam tumpukan perpustakaan kecil dirumah.

Dunia bisnis, dunia yg belum pernah ia jamahi. Pernah sekali kafe bersama sahabat2nya itu, tapi yoona disitu bukan pemikir tapi pelaksana dia, melaksanakan apa yg sahabat2nya perintah padanya, dan saat2 siwon mengobrol dengan clientnya itu boleh dibilang dia sedang ‘Menyelam sambil minum air’.

Waktu makan siang pun tiba client client siwon pun telah berhamburan meninggalkan tempat, sedangkan sang mandor memukul lonceng tanda waktu istirahat sudah tiba dan pekerja berhamburan berteduh dan menikmati bekal mereka.

Sedangkan yoona dan siwon berada di sebah gubuk tanpa kursi ataupun meja mereka duduk diatas tikar, ini tempat khusus keluarg choi.

“kau tak bosan?” tanya siwon saat yoona menyiapkan makanan mereka.

“tidak.. tadi sungguh menaarrik.. tapi banya istilah yg tak aku mengerti..” yoona berkata sambil sesekali melihat kearah siwon.

“kau bisa mencarinya diperpustakaan rumah..” siwon hanya mengawasi yoona menyiapkan makannanya setelah itu dipalingkan kearah pemandangan didepannya.

“makanlah..” mereka berdua pun makan, cuaca hari itu cerah, memperindah suasana.

“kau benar benar tertarik?” tanya siwon.

“iya aku tertarik.. siapa tahu berguna besok saat aku ingin mendirikan suatu usaha.. seperti rumah sakit.. haah itu mungkin hanya angan angan” yoona melanjutkan “ tapi angan angan itu adalah pedomanku”.

“kau dapat mengurusi perbukuan.. asisten ketua perbukuan mengundurkan diri bulan lalu.. lagian kau berkata kau pandai berhitung, akan benyak kerjaan menghitung disana…” kata siwon santai sambil mengambil piringnya.

“jeongmal?” yoona memastikan dengan berbinar binar.

“ne.. dari pada kau menganggur tak genah dirumah.. tapi kau harus kerjakan ini dengan benar.. kau akan jadi asisten nyonya kim..” jelas siwon sambil melahap makanannya. “mmm.. tak ada gaji tambahan”.

Walaupun begitu yoona tetap senang dan berbinar, pengalamanlah yg ia cari.

“kapan aku akan mulai?” yoona bertanya masih dengan sangat antusias.

“kau akan bertemu dengan nyonya kim besok.. kau harus memahami semuanya dengan baik, dia akan memberi tahu apa yag harus kau laksanakan.. kau siap bertanggung jawab noona im?” siwon mengulurkan jabat tangan.

“ne.. siap tn.choi” yoona menerima jabat tangan siwon dan kedua tersenyum dengan khasnya masing masing.

Mulailah besoknya yoona datang lagi keperusahaan itu, nyonya kim menjelaskan semuanya pada yoona dengan sangat terinci, yoona menangkap semua penjelasan ny.kim dengan seksama dan tanpa terlewat hanya dengan waktu 5 hari dia dapat memahami seluruh seluk beluk cabang dari hyundai corp itu, cabang kecil didunia perhutanan dan pertenakan.

Yoona melaksanakan dengan sungguh sungguh banyak hal baru yg belum pernah ia dengar kini menjelma sebagai makanan sehari hari, dia berkembang pesat. Yoona sering membaca diperustakaan atau hanya sekedar mencari istilah istilah yg ia tak ketahu, namun jika tak tertemukan juga dia terpaksa bertanya pada siwon. ‘Siwon dalah guru yng baik untuku’ itu yg selalu terlintas diotak yoona ketika siwon menjelaskan semuanya, walau terkadang dengan ogah ogahan.

Disamping itu semua dia tetap menjadi dokter yg baik untuk siwon, tak bisa disangkal mereka samakin dekat satu samalain, tak ada yg tahu ada apa dengan hari esok hanya tuhanlah yg tahu dan berkuasa atas hari esok, dua insan ini sama sekali tak memikirkan ari besok, mereka hanya berusaha dan membiarkan semuanya itu mengalir dengan indah layaknya air jernih dipegunungan.

TO BE CONTINUE.

Hua huah akhirnya selesai.. *dancebarengsoohyunoppa’kalosamasiwonoppanantidimarehinyoona *_*’*

Bagaimana dengan ff gaje ini.. membosankan atau kata katanya ga nyambung..mian mian mian author udah ga sanggup acc lg.. *tetot*

Author jujur terus melakukan evaluasi terhadap author sendiri dari comment coment kalian.. thanks banget buat yg udah comment, ngasihsaran & kritik, honestly itu membangun banget buat author.. author berterimakasih pada semua yoonwonited jjjiaangg..

Walaupun udah author evaluasi, tapi pasti author masih banyak banget salahnya.. author minta maaf yg sebanyak banyaknya ya readers.. tapi author tetap akan berusaha evaluasi .. tetap comment saran dan kritik author butuh banget itu semua..

Ayoo jangan lupa RCL.. coment coment yg banyak ya..

Terimakasih…

Tinggalkan komentar

94 Komentar

  1. Hahh. Akhirnyo mereka mulai dekat, daebakk ceritanya

    Balas
  2. ayu dian pratiwi

     /  Februari 5, 2014

    Baru liat cerita ini bikin penasaran

    Balas
  3. Haissshh , , thor lama kali moment romance yoonwonnya ?😦 hehe😀

    Balas
  4. Choi Han Ki

     /  Desember 23, 2014

    Yey akhirnya yoonwon lama2 makin deket aja…

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: