[3S] Hello Baby (My Dad with Your Mom are Mate) 2

[3S] Hello Baby (My Dad with Your Mom are Mate) 2

GEE Storyline

***

Chapter 2

“Eonnie, sebaiknya kau istirahat saja. Biar aku dan Minho oppa yang mencari Leo”, ucap Soojung sesudah membantu merebahkan tubuh Yoona ditempat tidur.

“Aku tak bisa tenang jika harus berdiam seperti ini. Aku juga akan mencari Leo”, ucap Yoona sambil berusaha berdiri.

“Dengarkan aku eonnie. Dalam keadaanmu seperti ini bukannya bisa menemukan leo malah akan semakin mempersulit keadaan, jika eonnie pingsan ditengah jalan bagaimana. Sudahlah, turuti perkataanku”.

Yoona menangis, yang dikatakan Soojung memang ada benarnya.

Soojung dan Minho pun meninggalkan Yoona diapartementnya seorang diri, sementara mereka melanjutkan kembali mencari Leo.

Matahari sudah tak menampakkan dirinya lagi, namun Leo masih juga belum ditemukan.

Sampai akhirnya seseorang menekan bel apartementnya. Dengan perasaan penuh harap Yoona membuka pintu dan…

“Annyeong”, sapa seseorang dengan senyuman lebarnya seraya menuntun dua anak kecil.

Yoona terhentak, ia berdiri mematung melihat ketiganya dengan tatapan terbelalak. Beberapa detik kemudian tiba-tiba Yoona terjatuh pingsan.

“Im Yoona, kau sudah sadar?”.

Perlahan Yoona membuka matanya, terlihat dengan samar kepala dua pria [?] berada disampingnya sambil memperhatikannya lekat.

“Eomma sudah bangun”, ucap anak laki-laki itu.

Yoona segera mengubah posisi duduknya sambil memegang kepalanya yang masih terasa pusing.

“Tadi kau kenapa? mengapa tiba-tiba pingsan?”, tanya pria itu lagi.

PLETAK~

Tak disangka dalam hitungan detik Yoona melempar bantal kearah orang itu. “Kau! Choi Siwon! Berniat menculik anakku hah? Dasar pria tak tahu diri, aku hampir mati karna ulah mu”, beberapa kali Yoona memukul-mukul Siwon dengan bantal.

Membuat Siwon meringis kesakitan, “ya! Im Yoona, hentikan. Kau ini kenapa?”.

“Masih bertanya kenapa? Aku hampir dibuat jantungan mencari putraku yang kau culik ini”.

“Eomma, Siwon ahjussi tidak menculik Leo. Malah Leo diajak jalan-jalan ke Lotte World bersama Lauren”, celetuk Leo dengan polosnya.

“Dengarkan itu, lagipula siapa suruh kau membiarkan Leo menunggu disekolah sendirian tadi. Aku sudah berbaik hati membawanya dan mengajaknya jalan-jalan. Kau malah memukulku seperti ini”, gerutu Siwon bergelayut manja sambil memegang pundaknya yang sama sekali tak terasa sakit itu. “Bahkan kau tak mengucapkan terimakasih padaku”.

“Sudah gila!”, geram Yoona meremas tangannya sendiri mencoba menahan-nahan amarahnya.

Siwon terdiam kaku, sepertinya Yoona memang benar-benar marah. “Ya baiklah, aku salah.. aku minta maaf. Seharusnya tadi ku beritahu kau dulu”. Yoona tetap terdiam menatapnya dengan tatapan yang menyeramkan. “Hey, jangan seperti itu. Lagipula aku tak sengaja melakukan ini, tadi saat akan menghubungimu tiba-tiba aku baru ingat jika ponselku habis batre. Jadi ya.. tak ada pilihan lain”.

“Aku tak ingin mendengar alasanmu. Sekarang kau pergi dari rumahku sekarang juga”, bentak Yoona dengan nada yang lebih tinggi membuat Siwon kaget. Baru kali ini ia melihat seorang wanita mengamuk.

Yoona menggendong Leo lalu mendorong tubuh Siwon agar segera keluar dari kamarnya.

Setelah berhasil mengeluarkan Siwon, Yoona kembali menutup pintu kamar dan menguncinya rapat-rapat.

BLUK‼

Siwon mengerjapkan matanya kaget, ia pegang dadanya yang berdetak hebat. “Huh.. wanita menyeramkan ini…”.

Ia balikkan tubuhnya dan berjalan kearah sofa yang berada diruang tengah. Lauren sudah tertidur pulas dari setengah jam yang lalu disana, perlahan Siwon berjongkok sambil mengelus-elus kepala putrinya yang terlihat damai itu. Senyuman tersungging dibibirnya lalu meninggalkan kecupan singkat di pipi kirinya.

Siwon berdiri sambil melihat jam yang terpasang didinding. Pukul 11? Tak sadar waktu berjalan begitu cepat.

Ia kembali alihkan pandangannya pada Lauren.

“Saengi, Leo sudah pulang… Semuanya akan kuceritakan besok, sebaiknya kau dan Minho segera pulang… Ya, aku baik-baik saja…. Hmm.. selamat malam”.

“Eomma, masih marah pada Leo?”, tanya Leo berdongak kepala menatap pada ibunya.

“Eomma tak marah, hanya saja lain kali Leo mesti lebih berhati-hati. Hari ini Leo dibawa oleh Siwon ahjussi, tapi jika suatu hari nanti ada penculik yang membawa kabur Leo bagaimana, Leo tak mau kan?”.

Dengan cepat Leo menggeleng-gelengkan kepalanya. Sementara Yoona lanjut berkata, “Maka dari itu, jika bukan eomma atau Soojung imo yang menjemput Leo, Leo jangan ikut. Tunggu saja dulu disekolah bersama Nam Sonsaengnim. Ara?”.

“Arata”, Leo mengangguk menurut. “Tapi eomma, jika Siwon ahjussi menjemput Leo lagi boleh kan Leo ikut?”, dengan polosnya Leo melontarkan pertanyaan itu.

“Sudah eomma bilang, selain eomma atau Soojung imo yang menjemput, Leo tidak boleh ikut”.

“Tapi Siwon ahjussi kan orang yang baik. Eomma, tadi di Lotte World sangat menyenangkan sekali. Siwon ahjussi juga membelikan Leo ice cream. Katanya jika liburan sekolah Siwon ahjussi akan mengajak Leo dan Lauren bermain lagi”, tutur Leo bercerita panjang pada eommanya.

Sementara Yoona hanya tersenyum kecil mendengarnya.

***

Yoona menguap saat barusaja keluar dari kamarnya. Rambutnya ia ikat asal dengan mata yang membengkak karna barusaja terjaga dari tidur.

Lantas ia berjalan kearah dapur untuk mengambil air minum. Setelah itu ia membuka lemari es sambil berpikir-pikir menu apa yang akan ia buat untuk sarapan pagi ini.

“Nasi goreng omelette sepertinya enak”. Yoona pun mulai memulai aksinya.

Tak membutuhkan waktu lama, nasi goreng omelette pun sudah siap dihidangkan. Ia tata semuanya diatas meja makan.

BUG!

Pandangan Yoona teralihkan seketika saat mendengar seseorang menutup pintu. Ia berjalan dari arah dapur, sepertinya Leo sudah bangun.

“Pagi sayaaang..”, sapa Yoona sambil memberikan senyum terbaiknya.

Namun beberapa detik kemudian senyumannya lenyap seketika saat sadar bahwa orang itu bukanlah Leo, namun.. “Choi Siwon, apa yang kau lakukan disini?”, pekik Yoona kaget bercampur heran melihat Siwon yang yang baru keluar dari kamar Leo.

Yang ditanya malah diam sambil menggaruk-garukkan tengkuknya dengan mata yang sepertinya masih belum terbuka sempurna dan rambut yang acak-acakkan.

“Heuuu?? Toilet dimana? Aku mau buang air”.

Yoona berkacak pinggang tak habis pikir, kenapa orang itu senang sekali membuatnya kesal setengah mati.

Karna sudah tak kuat menahan sesuatu yang ada didalam sana ingin segera dikeluarkan [?] Siwon berjalan sedikit gontai memutuskan untuk mencari sendiri letak toiletnya dengan mengira-ngira.

Namun dengan sigap Yoona menahannya.

“Dasar pria tak tahu diri. Sudah kukatakan kau seharusnya segera pergi dari rumahku. Apa yang akan kau lakukan lagi disini hah?”.

“Sudahlah marah-marahnya nanti saja. Aku benar-benar sudah tak kuat”.

Akhirnya Siwon berhasil masuk kedalam toilet. Sementara dibalik pintu Yoona terus menggerutu kesal.

Tak lama dari itu terdengar suara.. “EOMMA/APPA”.

Yoona membalikkan badan, terlihat Leo dan Lauren yang keluar dari kamar yang berbeda secara bersamaan.

“Cepat ya, habiskan sarapannya. Setelah itu susu nya diminum”, ucap Yoona mendampingi Leo dan Lauren sarapan di meja makan.

“Ah! Perutku!”, ringis seseorang sambil berjalan menghampiri ketiganya kemudian mendudukkan diri disamping Leo.

“Kau ini kenapa? Sudah beberapa kali kau bolak balik dari toilet”, ujar Yoona.

“Entahlah, kurasa aku tak salah makan kemarin. Hhh appo..”, keluh Siwon lagi menahan sakit.

Yoona menyipitkan mata, kemudian berdiri dan membuka pintu lemari paling atas mengambil kotak P3K.

“Minumlah”, Yoona menaruh segelas air putih dan satu tablet berwarna orange tepat dihadapan Siwon. “Ini obat diare, kau akan merasa lebih baik jika sudah meminumnya”, tambahnya kembali duduk diantara kursi Leo dan Lauren.

Siwon meraih tablet itu, namun Yoona menahan tangannya. Siwon berdongak, mengernyitkan dahinya dengan tatapan tak mengerti kearah Yoona.

“Sebelum meminum obatnya kau harus makan dulu”.

“Ah benar”, Siwon terdiam sambil menutup matanya. Menghela nafas sambil bersender di kepala kursi dan menyilangkan tangan didada. Lama ia dalam posisi seperti itu, sampai akhirnya ia membuka mata kembali dan alisnya terangkat. “Mana sarapan untukku?”.

“Apa? Mengapa bertanya padaku? Kau ambil saja sendiri”, timpal Yoona dingin.

“hey, berjalanpun aku masih lemas. Jangan seperti itu pada orang yang sedang sakit”.

Yoona menggerutu, “Hanya sakit diare saja sudah mengeluh”. Dengan terpaksa ia berdiri untuk mengambil piring di lemari kemudian ia simpan diatas meja.

Namun kembali Siwon memberikan tatapan manja padanya. Merasa mengerti—untuk kesekian kalinya Yoona menghela nafas sambil menaruh nasi goreng omelette buatannya tadi diatas piring milik Siwon.

Seketika senyuman merekah dibibir Siwon, “Terimakasih yeobeo”, candanya.

“Apa kau berani-beraninya memanggilku yeobeo?!”, teriak Yoona tak terima.

Yang dimarahi dibuat terkekeh dan malah memberikan Yoona sebuah kedipan sebelah mata diiringi smirk nya membuat Yoona bergidik jijik.

Setelah selesai sarapan, kini Leo dan Lauren tengah asyik menonton film animasi kesukaan mereka, Pororo. Leo yang susah diam saja sekarang bisa terduduk manis dengan tenang.

Siwon yang barusaja mengangkat panggilan dari orang kantor ikut tersenyum melihat keduanya yang begitu serius menonton seekor pinguin lucu di layar televisi sana.

Kemudian kakinya ia langkahkan kearah dapur, Siwon berdiri diambang pintu dapur sambil menyenderkan tubuh di tembok dan menyilangkan tangan didada. Terus memperhatikan Yoona yang tengah mencuci piring-piring bekas mereka sarapan tadi. Senyuman tersinggung dibibirnya, ternyata wanita ini terlihat sangat lembut jika dilihat dari sisi yang lain, pikirnya dalam hati.

PRANG~

Satu piring tiba-tiba jatuh membuat potongan-potongan kaca berserakan kemana-mana.

“Ish”, Siwon berjalan menghampiri.

“Aw”, Yoona yang mencoba memungut kaca-kaca itu malah membuat jari telunjuk sebelah kanannya terluka. Darah segar mulai bercucuran keluar.

“Kau ini ceroboh sekali”, suara Siwon membuat Yoona sedikit kaget.

Ia berdongak, menatap Siwon yang kini tengah mengulum jari telunjuknya.

Jantungnya berdetak tak karuan lagi, ada apa ini? Kenapa ia harus merasakan detakan jantung yang terasa berdetak tak normal seperti ini ‘lagi’.

“Betapa kasihannya anakmu, sudah kubilang lebih baik kau segera mencari pria lain lalu menikah”

“Kau tidak tapi tetap saja Leo membutuhkan sesosok ayah”

“Kau perhatikan dia baik-baik, buka matamu lebar-lebar.  Dibalik semua sikap buruknya, kukira Siwon juga tak terlalu buruk. Lihatlah, wajahnya, postur tubuhnya, senyumnya, dan karismanya… dia tampan bukan?”

Ditengah tengah lamunannya tiba-tiba Yoona teringat akan kata-kata Yuri. Apa benar sekarang sudah saatnya untuk Yoona mencari ayah baru untuk Leo? Apa benar ia sudah menemukan pria pengganti suaminya? Apa benar sekarang ia sedang jatuh cinta pada seorang pria selain suaminya terdahulu?

“Kotak P3K tadi kau taruh dimana?”, tanya Siwon membuyarkan lamunannya.

“Euh.. ada dilemari paling atas”, jawab Yoona sedikit salah tingkah.

 

Disaat Siwon tengah membalut jari Yoona, Yoona malah tak bisa mengalihkan perhatiannya dari Siwon. Ia ingin tetap seperti ini, semuanya terasa jadi begitu tenang saat melihat wajah nya.

“Selesai, berhati-hatilah jangan sampai terkena air dulu”, ucap Siwon lalu balas menatap Yoona.

Seketika Yoona kaget dan mengalihkan pandangannya. Gugup, wajahnya benar-benar bak kepiting rebus sekarang. Yang lebih membuat suasana semakin kaku adalah saat Siwon terus memperhatikan wajahnya dengan jeli dan mulai menggerakkan kepalanya semakin mendekat, bahkan sekarang tangannya mengelus rambut Yoona.

‘Tuhan, apa secepat ini? Aku belum siap’, jerit Yoona dalam hati sambil memejamkan matanya. ‘Oh Tuhan, nafasnya semakin terasa hangat, ouch.. ini terasa…’, batinnya lagi.

“Apa ini? Astaga, percikan kecap saja sampai terkena ke pipimu”.

Heuh? Kecap?

Yoona membuka matanya sambil mengernyitkan dahi. “Apa?”.

“Ini lihatlah”, Siwon memperlihatkan jarinya yang ia pakai untuk membersihkan kecap dari pipi Yoona. “Lain kali belajarlah untuk tidak ceroboh, Im Yoona”, setelah berdiri Siwon langsung mengacak-acak rambut Yoona lalu berjalan kearah ruang tengah.

Sementara Yoona yang masih berada didapur malah menggetok-getokkan kepalanya sendiri dengan bodoh. “Apa yang sedang aku pikirkan!! Oh Tuhan, Memalukaaaan”.

***

“Eomma… Euuuuhhh… Eommaaaaa… ayo kita membeli mainan…. Eomma… palliiii…”.

Disaat Yoona tengah sibuk berbelanja untuk kebutuhan bulanan sambil mendorong kereta belanjaan, Leo malah terus merengek sedari tadi seraya menarik-narik blazer Yoona.

Yoona menghentikan langkahnya sambil menghela nafas, kemudian berjongkok untuk menyamakan tinggi badannya dengan Leo. “Ingat tadi sebelum berangkat? Leo berjanji tidak akan minta yang macam-macam pada eomma jika dibolehkan ikut menemani belanja. Kenapa sekarang malah rewel minta dibelikan mainan. Bukankah mainan dirumah juga sudah terlalu banyak”.

Leo semakin memajukan bibirnya sambil menggelengkan kepala beberapa kali. “Hajiman eomma, Leo ingin membeli helikopter yang bisa dimainkan dengan remote seperti milik Jinsang. Eommaaaa… ayo kita beliii”, lagi-lagi Leo menarik tangan Yoona. tapi apalah daya, tubuh Yoona tak sebanding dengannya. Yoona masih berdiri kokoh tanpa bergerak, mencoba menghiraukan permintaan dari putranya itu.

“Eomma.. Palliiii…”, kali ini Leo menjerit menangis. Tatapan orang-orang yang berada di supermarket hampir tertuju pada mereka sekarang.

Yoona berjongkok kembali, kali ini sambil memegang kedua pundak Leo. “Leo-ya, berhenti menangis. Leo tidak malu menangis di depan banyak orang?”, ujar Yoona lembut mencoba menenangkan.

Sekali lagi Leo menggeleng masih belum menghentikan tangisnya. “Ani, aku ingin helikopter”.

Yoona semakin dibuat kewalahan sendiri, ia belum selesai berbelanja semua kubutuhan pokok. mana mungkin akan ditinggalkan begitu saja. Seharusnya tadi Leo ku titipkan pada Soojung, pikirnya.

“Kenapa Leo menangis?”, tanya seseorang yang refleks membuat pandangan Yoona dan Leo teralihkan.

“Siwon ahjussi? Lauren?”, tanya Leo menatap kedua orang itu secara bergantian.

“Sedang apa kalian disini?”, tanya Yoona dengan tatapan bingung.

Siwon menggenggam tangan Lauren sambil tersenyum, “Tentu saja berbelanja”.

Yoona menoleh pada kereta belanjaan milik Siwon, disana begitu banyak makanan siap saji yang ia beli. “Kau membeli semua itu.. untuk apa?”.

“Tentu saja untuk makan”, jawab Siwon polos. Yoona memberikan sebuah tatapan seaakan mengakatan, aku-juga-sudah-tahu-jika-semua-makanan-itu-untuk-dimakan.

Mengalihkan pembicaraan, Siwon kembali menoleh kearah Leo dengan mata bintitnya.

“jagoan, kenapa kau menangis hah?”, tanya Siwon mengelus kepala Leo.

“Eomma jahat”, jawabnya.

Siwon berdongak menatap Yoona, lalu kembali mengalihkan pandangannya pada Leo. “Apa yang sudah eomma mu lakukan sampai membuat ultraman ini menangis?”.

“Eomma tak ingin membelikan Leo mainan, ahjussi”, adu nya dengan manja.

“Benarkan? Ah.. buruk sekali. Membelikan mainan saja masa tidak mau”.

Yoona segera memberikan tatapan mengutuk pada Siwon. Siwon terkekeh dibuatnya. “Leo-ya, bagaimana jika ahjussi ajak mencari mainan? Ahjussi tahu dimana tempat toko mainan yang bagus”.

“Benarkah?”, tanya Leo yang seketika wajahnya cerah kembali. Siwon mengangguk mengatakan ‘ya’. Leo pun dengan cepatnya menghampiri Siwon sambil memegang tangan kanannya, sementara tangan kiri Siwon masih digenggam oleh putrinya, Lauren.

“Ya, Choi Siwon-ssi, kemana lagi kau akan membawa pergi anakku?”, gertak Yoona menahan mereka.

“Sebaiknya kau ikut aku saja”, setelah berkata itu Siwon memberikan sebuah ‘wink’ genit padanya sambil tersenyum.

DAG!DIG!DUG!BANG!

Yoona memegang dadanya, terdiam kaku merasakan getaran yang timbul dari jantungnya lagi. “Apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi padaku?”, gumamnya masih berdiam ditempat dengan pikiran melayang.

Menyadari Siwon serta Leo dan Lauren sudah mulai berjalan menjauh Yoona pun berteriak memanggil ketiganya sambil mendorong kereta belanjaan dengan susah payah.

Dari tadi sorot mata Yoona tak pernah ia alihkan sedetikpun dari pria itu, pria yang sekarang tengah menemani putranya memilih-milih mainan, keduanya terlihat begitu nyaman berjalan bersama. Jika orang-orang melihat mereka sekilas, pasti akan beranggapan bahwa mereka seperti pasangan ayah dan anak sungguhan.

Sepertinya baru kali ini Leo merasakan kasih sayang dari sesosok ayah. Saat itu umur Leo masih berusia satu tahun, saat-saat dimana ayah nya meninggalkan kehidupannya dan lebih dulu pergi. leo masih tak ingat apa-apa, mungkin hanya photo yang dapat memperlihatkan bagaimana wajah ayahnya.

Perhatian Yoona langsung teralihkan saat mendengar seseorang terjatuh. Dengan cepat ia segera menghampiri anak itu.

“Lauren-ah, gwaenchana?”, tanya Yoona seraya membantu membangunkannya yang sudah terduduk dilantai. “Apa ada yang sakit?”.

Lauren menggeleng, “tidak ahjumma, Lauren hanya terpeleset”.

“Ah baguslah jika seperti itu”, ujar Yoona bernafas lega. “Kenapa Lauren tidak bergabung bersama appa mu dan Leo?”.

“Lauren bosan ahjumma, appa sudah sangat sering membawa Lauren ke tempat ini”.

“Begitukah..”, Yoona mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. “Lauren-ah, mau tidak berbelanja baju dengan ahjumma?”.

“Berbelanja baju ahjumma? Lauren tentu mau”, jawabnya tanpa berpikir ulang.

Mereka berdua pun berbelanja bersama di toko pakaian khusus anak-anak yang tepat bersebelahan dengan toko mainan.

“Kita coba dulu yang ini ya”, ujar Yoona saat memilihkan dress berwarna ungu untuk Lauren. Lauren hanya menurut dan masuk kedalam ruang ganti tentu bersama Yoona.

“Huwaa.. yepputaaa.. ini sangat pas di tubuh Lauren”, puji Yoona berdecak kagum.

Tak beda jauh dengan Lauren, ia pun senyum-senyum sendiri dibuatnya saat melihat dirinya dari bayangan di cermin.

“Lauren menyukainya?”.

“Tentu, ahjumma pandai memilih”.

Yoona tersenyum mendengarnya seraya mengelus puncak kepalanya sayang, terlihat ia begitu menyukai Lauren. Jujur saja, sebenarnya ia begitu menginginkan anak perempuan, jika Tuhan bisa memberikannya anak lagi. Tapi tentu tidak sekarang, sudah sangat jelas tak ada yang bisa membuatnya punya anak xD haha.

“Lauren-ah, kita mencari pakaian yang lain ne? Kajja”, Yoona dengan semangatnya menarik tangan Lauren yang disambut welcome oleh Lauren.

Lama mereka menghabiskan waktu di sana, sampai akhirnya mereka baru teringat.

“Leo dan ayahmu sudah selesai belum ya? Kenapa mereka belum mencari kita”, bingung Yoona seraya mengotak-atik ponselnya untuk menghubungi Siwon. Sementara Lauren hanya duduk dengan manis memperhatikan Yoona.

“Aish, tidak diangkat”, gerutu Yoona memaki layar ponselnya lalu kembali memasukkannya kedalam tas. “Lauren-ah, lebih baik kita kembali saja ke toko mainan. Mereka ini sebenarnya kemana?”, Yoona terus saja menggerutu sambil menuntun tangan Lauren dan berjalan keluar butik.

“Ahjumma”, disaat mereka tengah mencari Leo dan Siwon tiba-tiba Lauren menarik-narik tangan Yoona.

Yoona menunduk, menatap pada Lauren dengan kening terkerut samar. “Ada apa?”.

“Appa dan Leo ada disana!”, tunjuk Lauren kearah gamezone yang berada dalam satu mall yang sama.

Saat itu juga Yoona langsung dibuat kesal ketika melihat keduanya tengah asyik bermain game tanpa beban dari kejauhan. Bahkan seorang Choi Siwon yang sudah berkepala tiga itu kelihatan seperti anak kecil saat berhadapan dengan monitor balapan mobil disana.

Tanpa berpikir dua kali Yoona segera menarik tangan Lauren kembali dan bergegas menghampiri keduanya.

“Choi Siwon-ssi!!”, panggil Yoona menatap geram.

Namun Siwon tak juga menyauti dan tetap serius dengan arena balapan di layar sana.

“Eomma”, panggil Leo segera menghampiri ibunya.

“Leo-ya, ayo kita pulang sayang”.

Leo mengggeleng. “Shireo eomma. Leo masih ingin bermain dengan Siwon ahjussi”.

Yoona berusaha memaksa Leo agar bergegas pulang, namun nihil.. hasilnya Leo tetap merengek ingin tetap berada disana bersama Siwon.

Yoona menghela nafas mencoba menahan diri, sekali lagi ia memanggil Siwon yang masih asyik bermain. “Choi Siwon-ssi! Sebelum kesabaranku habis cepat berhenti bermain!”, kali ini Yoona tak main-main. Ia menutupi layar dengan tangannya.

Membuat Siwon berhasil mengalihkan pandangan padanya. “Yah Yoona-ssi, singkirkan tanganmu, aku tak bisa lihat”.

Yoona tetap diam, mengisyaratkan bahwa ia serius. Siwon pun lagi-lagi menatap Yoona sambil menghela. “Ya baiklah, baiklah, aku berhenti bermain”, ia berdiri dan berjalan kesisi Lauren sambil digendongnya keatas pundak.

“Daritadi kalian berada disini hah? Siwon-ssi, kau benar-benar kekanak-kanakkan sekali. Kau tahu bagaimana aku pusing mencari kalian berdua”, gerutu Yoona yang sudah kehilangan kesabaran.

“Kau jangan marah-marah terus, lagipula aku sudah berniat baik untuk mengajak anakmu bermain”, timpal Siwon beralasan.

“Terserah lah. Leo-ya, sekarang Siwon ahjussi sudah tidak bermain lagi, sebaiknya kita segera pulang”.

Mau tak mau Leo pun mesti menurut.

Tanpa berpamitan Yoona langsung menarik tangan Leo dan meninggalkan keduanya.

Namun tak berhenti disana, Siwon malah membuntuti keduanya  masih mengangkat tubuh Lauren diatas pundaknya.

“Yoona-ssi, ku lihat tadi kau belanja begitu banyak. Sepertinya kau perlu bantuan untuk membawanya”, ucap Siwon mencoba mengsejajarkan langkahnya dengan Yoona yang tetap bersikap acuh padanya. “Hey, tak usah sungkan seperti itu. Bukankah sudah sepantasnya aku membantu rekan kerjaku, bukan?”.

Untuk kesekian kalinya Yoona tetap diam dan menatap lurus kedepan.

Siwon mengerucutkan bibirnya dengan alis yang terangkat.

“Leo-ya, kalian membawa mobil tidak?”, tanya Siwon kali ini mengarah pada Leo.

Dengan polosnya Leo menjawab, “Tidak ahjussi”.

“Jinjja? Wah, sepertinya kalian juga perlu tumpangan. Hari ini aku benar-benar akan berbaik hati, jika kau mau kau bisa ikut ke mobilku. Tenang saja, lagi pula aku tak akan…”.

“Choi Siwon-ssi, bisa kau berhenti bicara”, potong Yoona yang sudah kelewat pusing.

“Aku kan hanya menawari”.

“Kau tak perlu khawatir, aku membawa mobil sendiri”.

“Eomma bohong, bukankah eomma bilang mobil kita sedang berada di bengkel”, celetuk Leo membuat Yoona menghela pasrah.

Sementara Siwon tersenyum menyeringai terlihat begitu puas.

***

Saat diperjalanan, Leo dan Lauren tak berhenti berbicara di kursi belakang sana. Sesekali mereka tertawa dan menyanyi bersama.

Siwon hanya tesenyum geleng-geleng memperhatikan tingkah keduanya dari kaca spion.

“Yoona-ssi”, Siwon menatap kearah sampingnya. Ups.. pantas daritadi terdiam terus, ternyata Yoona sudah tertidur.

Entah kenapa tiba-tiba senyuman tersinggung dari bibir Siwon saat melihatnya tengah tertidur begitu terlelap seperti itu. Sepertinya ia begitu kelelahan, pikir Siwon dalam hati.

Mobilpun terhenti, Siwon keluar dari mobil dan membantu Leo untuk keluar. “Leo-ya, lihatlah eommamu masih tertidur”.

“Eomma pasti capek, semalam ia tak tidur”, ucap Leo.

“Appa, biar Lauren yang membangunkan Yoona ahjumma, ne?”, pinta Lauren.

“Oh tentu saja sayang”.

Perlahan lauren pun bergegas kekursi pengemudi. Ia mengahadap kearah Yoona yang sampai saat itu tak bergeming sedikitpun.

“Ahjumma, kita sudah sampai”, ucap Lauren menepuk-nepuk pundak Yoona lembut.

Akhirnya Yoona pun terbangun, ia melengguh sambil menguap. “Oh Lauren-ah”.

“Kita sudah sampai ahjumma”.

Yoona menatap kearah sekitar, “Ya Tuhan, aku sampai tak sadar. Appa mu dan Leo kemana?”, tanya Yoona menatap heran saat menyadari bahwa yang berada di mobil hanya mereka berdua.

“Euh.. appa. Eodiya?”, tanya Lauren yang sepertinya juga baru tersadar.

Yoona dan Lauren berjalan beriringan menuju apartement, pintu dibiarkan terbuka. Terlihat didalam sana Siwon dan Leo yang tengah melihat-lihat mainan hasil belanja mereka tadi.

“Ahjussi, gomawo.. mainan ini benar-benar sangat bagus. Nan chuwayeo”, ucap Leo.

Siwon mengacak-acak rambutnya gemas. “Nanti kita main lagi ya”, ujarnya yang dibalas oleh anggukan semangat dari Leo.

Diambang pintu, Yoona memperhatikan keduanya. Kelihatannya Leo dan Siwon sudah semakin dekat sekarang. Saat pandangan Yoona terus menjurus pada Siwon, tiba-tiba langsung ia alihkan cepat saat Siwon balik menatapnya. Merah.. wajahnya memerah karna gugup.

“Eo, belanjaanmu sudah aku simpan diatas meja makan”, ujar Siwon sambil berdiri.

Yoona hanya menganggukkan kepalanya sambil menelan ludah.

“Kalau begitu aku pulang”, pamit Siwon.

“Ne, hati-hati dan… terimakasih”.

Siwon tersenyum, kemudian berjalan kearah pintu lalu meraih tangan lauren. Namun Lauren menahannya sebentar, ia berjalan menghampiri Yoona.

Yoona hanya menatap Lauren dengan bingung, ia menarik tangan Yoona mengisyaratkan untuk berjongkok agar bisa mengimbangi tinggi badannya. Yoona pun menurut.

“Waegeurae?”.

“Terimakasih untuk hari ini, ahjumma. Lauren sangat senang”, tak disangka ia mencium pipi Yoona membuat Yoona sendiri maupun Siwon kaget dibuatnya.

Suasana benar-benar dibuat kaku, membuat bibir Yoona terasa kelu.

“Appa, kajja”, Lauren kembali menghampiri Siwon. “Leo, ahjumma, annyeong”, ujarnya sambil melambaikan tangan. Mereka berdua pun berlalu meninggalkan apartement Yoona.

***

Hari ini Yoona terlihat tak fokus bekerja, sedari tadi ia hanya menulis gambar-gambar abstrak di buku catatannya. Sampai seseorang datang memasuki ruangan membuyarkan lamunannya.

“Yoona-ssi”.

Yoona berdongak menatap kearah pintu, “De?”.

“Kau tak keluar? Kita semua akan makan malam bersama dengan presdir Park”, ucap Donghae mengingatkan.

“Oh ya Donghae-ssi, sebentar lagi aku keluar”.

“Baiklah, kami tunggu”.

Yoona mengangguk mengiyakan.

Donghae pun kembali menutup pintu.

Buru-buru Yoona membereskan meja kerjanya. Walau tak benar ia bereskan, karna tak ingin membuat semua orang menunggunya terlalu lama ia segera meraih tas dan ia gantungkan di pundaknya dengan asal sambil berlari keluar ruangan.

Suasana acara makan malam itu cukup menyenangkan, ditambah Presdir Park yang sangat friendly membuat para anak buahnya tak merasa canggung sedikitpun. Sementara Yoona―wanita ini daritadi hanya menggigit sumpit sambil mencuri-curi pandang kearah pria yang bertepatan duduk bersebrangan dengannya.

“Choi Siwon, lihatlah”, ujar Eunhyuk memperlihatkan iPhone nya kehadapan Siwon.

Detik itu juga Siwon langsung terperangah sambil berkata, “Waaaah, seksi”, ucapnya seraya mencoba merebut iPhone itu dari tangan Eunhyuk.

“Aish, tidak boleh”, hadang Eunhyuk menjauhkan ponselnya dari Siwon.

Pandangan kagum dari Yoona langsung hilang digantikan dengan wajah yang berdengus. “Hyaaa, pria maniak”, ucapnya dalam hati. Kembalikan akal sehatmu Im Yoona! mana mungkin kau menyukai pria ini? Bahkan dia sama sekali tak masuk kriteria mu, pikir Yoona memejamkan matanya.

Acara terus berlangsung, sampai sudah selesai makanpun mereka semua lanjut mengobrol kecil.

“Choi Sooyoung-ssi, selamat untuk pernikahanmu. Aku sangat menyesal tak bisa datang ke acara resepsinya”, ujar sang presdir Park.

“Gwaenchanayo sajangnim. Anda sudah memberikan ucapan selamat pun aku sangat senang”, jawab Sooyoung bersikap sopan.

“Lalu kapan kau berniat mengambil cuti untuk berbulan madu dengan suami mu?”, tanyanya menggoda.

Sooyoung menunduk karna malu, “Ah sajangnim, jika memang ditawari mana mungkin aku menolak”, canda balik Sooyoung membuat semua orang tertawa.

“Sajangnim, apa kau tahu di kantor kita sedang ada yang terlihat cinta lokasi?”, ketus Donghae tiba-tiba.

“Mwoya? Cinta.. lokasi?”, tatapan Presdir Park terlihat begitu bingung.

“Ya, si ‘Duda Kece’ dan ‘Janda Manis’ dikantor kita sepertinya sedang terlibat hubungan…”, Eunhyuk membuat tanda hati dengan tangannya disertai tatapan menggoda.

Pada saat itu juga Siwon dan Yoona batuk tersendak oleh minuman, membuat pandangan semua orang teralihkan pada mereka berdua.

“Benarkah itu? Choi Siwon-ssi dan Im Yoona-ssi, kalian berpacaran?”, tanya presdir park dengan wajah penasaran.

“Aniyooo”, teriak keduanya bersamaan.

“Eeeeiiiiiiiiiiiiiii…”, kini bukan Eunhyuk saja yang tersenyum menggoda mereka, tapi semua orang.

“Berhenti memberikan senyuman mengerikan seperti itu. Kami benar-benar tak mempunyai hubungan apa-apa.. sungguh”, elak Yoona. namun sepertinya tak berhasil, wajahnya tak bisa diajak kompromi, sekarang pipi itu sudah berubah memerah seperti tomat matang.

“kau Lee Donghae, Lee Hyuk Jae!! Kalian berdua yang telah menyebarkan gosip tak benar ini.. Ah maafkan kami presdir”, ucap Siwon menundukkan kepalanya.

“kenapa minta maaf? Bahkan jika kalian mengaku juga tak apa-apa”.

“Sajangnim, anda salah paham”, lagi-lagi Siwon dan Yoona berkata bersamaan sambil menghela nafas lemas.

***

Hari itu kembali ke rutinitas mereka, sebelum pulang bekerja pasti Siwon dan Yoona mengantarkan anak masing-masing kesekolah.

“Ah, kebetulan tuan Choi Siwon dan nyonya Im Yoona ada disini. Ada beberapa hal yang ingin saya katakan pada kalian berdua”, ucap Nam sonsaengnim selaku wali kelas Leo dan lauren.

“Sabtu nanti sekolah kita akan mengadakan acara kelulusan”.

“O, tak terasa sekarang putriku sudah akan masuk SD”, ucap Siwon.

“Ne tuan, jadi saya sangat mengharapkan kedatangan kalian untuk hadir mendampingi putra putri anda”.

“Tentu.. tentu saja aku akan datang sonsaengnim”, jawab Yoona tersenyum mengiyakan.

“nanti dihari kelulusan kau akan datang dengan siapa, Minhee-ah?”.

“Tentu saja dengan eomma, appa, dan oppa ku. Kau sendiri?”.

“Aku datang bersama appa, eomma, halmeoni, dan harebojji”.

“Wah, lengkap sekali”.

Sang anak perempuan berkepang dua itu mengangguk sambil tersenyum.

“Lauren-ah”, tanya anak itu kali ini mengarah pada Lauren. “Dihari kelulusan nanti kau akan datang bersama siapa?”.

“Euh… Lauren datang dengan appa dan…”.

“Dan siapa?”.

Tiba-tiba seorang anak laki-laki datang bergabung. “Pasti appa nya hanya datang sendiri, seperti eomma Leo”, ketusnya menunjuk kearah Leo yang tengah diam di bangku nya seorang diri.

“Lauren tidak punya eomma, dan Leo tidak punya appa”.

“Ini pas sekali. Appa Lauren dan eomma Leo bisa berangkat bersama nanti, jadi pasti tak akan datang sendirian kan?”.

“Wah, Jio benar”.

“Tapi bagaimana caranya?”, bingung Lauren menggaruk-garukkan kepalanya.

“Katakan saja pada eomma dan appa kalian. Pasti mereka akan setuju. Lagipula kan nam sonsaengnim katakan semua anggota keluarga kita harus datang. Jika hanya eomma atau appa saja yang datang berarti tidak boleh masuk kan?”, cerocos anak bernama Jio itu kelewat polos.

“Tidak boleh masuk? Kalau begitu eomma tidak akan melihat Leo bermain theater dong?”, ucap Leo.

Jio mengangguk, “Makanya eomma Leo dan appa Lauren harus datang bersama”.

Malam harinya, Lauren dan Leo benar saja mengatakan usulan dari teman-temannya tadi pada Siwon dan Yoona.

Jika Lauren langsung mendapatkan persetujuan dari Siwon dengan gampang, tapi sepertinya Leo sedikit mengalami kesulitan.

“Bukan begitu maksudnya sayang. Nam sonsaengnim bilang harus membawa semua anggota keluarga itu kalo ada. Leo kan sudah tidak punya appa, jadi eomma yang hanya datang pun tidak apa-apa”, ujar Yoona mencoba memberi pengertian.

“Tidak bisa, jika hanya eomma bukan keluarga namanya. Nam sonsangnim tidak akan mengijinkan eomma masuk jika hanya datang sendirian”.

“Aduh Leo.. bukan seperti itu tapi…”.

Leo menyela cepat, “Leo tidak mau tahu. Eomma harus datang bersama Siwon ahjussi”, hentaknya mulai marah.

***

Tak ada pilihan lain, daripada melihat anaknya marah terus-terusan lebih baik Yoona katakan, setuju.

“Tapi tunggu? Pergi bersama? Aaaah… eottae?”, gerutu Yoona mondar mandir tak jelas. “Tidak tidak, hanya pergi bersama.. satu mobil dengannya bukan untuk yang pertama kali kan? Ayolah Im Yoona, releks”.

Yoona menghentikan langkahnya sambil menatap kearah seseorang yang tengah menari-nari tak jelas di balik kaca sana. “Pria idiot!”.

Tahu diperhatikan Yoona, Siwon malah semakin memperlincah gerakan tariannya. Meniru tarian gangnam style sampai Michael Jackson pun ia lakukan.

Yoona sampai dibuat kesakitan menahan tawa..

 

***

Yoona berjalan sambil membaca majalah mingguan dan menyeruput susu yogurt nya tanpa melihat arah jalan. Sampai akhirnya terdengar seseorang memanggil.

“Agassi..”.

Yoona menoleh ke sumber suara. Terlihat seorang wanita dengan dress merah dengan jepitan bunga berukuran sedang di rambut ikalnya tengah berjalan menghampiri. “Ah ne? Waegeurae?”.

“Aku ingin bertanya, disini benar ada pegawai di bagian editing bernama Choi Siwon?”.

‘Siapa wanita ini? Mengapa menanyakan Siwon?’, pikir Yoona dalam hati. “Iya benar. Memangnya ada apa?”.

“Bisa kah tunjukkan dimana ruangannya?”, pinta wanita itu.

Yoona mengangguk sambil mengangkat alisnya. “Ya, tentu”.

***To Be Countinued***

Hehe tepatin janji kan di post hari ini xD walapun sedikit telat.. mianhae.. *bow

Tadi lappy di pake abojji nih, jarang2 numpang pake -_- jadi harus nunggu giliran dulu [?] *malah curhat*

Oke seperti biasa, tinggalkan koment nya :3 bilang ya kalo jelek..

Tinggalkan komentar

213 Komentar

  1. Haha ceritanya lucu n makin penasaran sama kelanjutannya, siapa wanita yg nyari siwon..

    Balas
  2. mia

     /  September 22, 2015

    pasti mantan istri nya siwon opp

    Balas
  3. paris

     /  November 10, 2015

    Wah yoona udah mulai suka sama siwon oppa🙂
    Siapa wanita yang mencari siwon itu?

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: