[OS] Just Take Care Of My Eyes, Deer

Just Take Care Of My Eyes, Deer

Author : Park Chae Rin ( @FirDaralinggg )
Cast :
– Im Yoon Ah
– Choi Si Won
– Lee Dong Hae
– Kwon Yu Ri
– Choi Min Ho
And other cast
Genre : Romance, Sad, Oneshoot
* haiiii readersdeul and United… Ada yg masih inget ama author ? author yg paling unyu itu lohh *plak* #abaikan. Author kembali membawa ff yoonwon dan LAGI – LAGI ONESHOOT + SAD ROMANCE. Kenapa harus oneshoot ? soalnya author ga suka ngutang ff kya bikin ff chapter. Karena banyak yang protes gara – gara ff author yang sebelumnya terlalu pendek, maka author bikin ff ini, ntah ini panjang atau nggak menurut readersdeul semua xD. Mian kalo cerita ff ini udah pasaran, tapi ini murni hasil imajinasi author, ff ini seluruh POVnya Yoona. Mohon RCL nya. Okay, happy reading~~~ ^_^*
*Yoona POV*
Seusai pesta pernikahan eomma dan Choi Ahjussi *oh tidak, mulai sekarang dia sudah menjadi appaku* aku merasa lelah sekali. Segera aku menutup pintu kamar, berganti baju, membasuh wajah dan kaki dan langsung menghempaskan tubuhku ke ranjang. Tak kupedulikan lagi teriakan – teriakan jahil si simba jelek itu =.=

————————————————1 years later——————————————————

Aigooo, sesak sekali, ada apa ini? Kucoba membuka kedua mataku yang masih amat sangat mengantuk. Kurasakan seseorang sedang tertidur di sampingku dan memelukku dengan tangan kekarnya. Nafasnya bisa kurasakan di tengkukku. Dengan sekuat tenaga aku berbalik dan mendorong orang itu. “YA! SIAPA KAU? KENAPA KAU BISA MENYUSUP KE KAMARKU? EOMMA!!!! ADA PENYUSUP!!!”, teriakku sambil bangkit dari tempat tidur dan mengambil senter untuk bersiap memukul kepala penyusup tersebut.
“Mian, mian, YAK! Saeng! Aku minta ampun, aku mohon, ini aku oppa mu, turunkan senter itu”. Kuturunkan tanganku dan mendekati orang yang sedang menelungkup di bawah ranjang. “Ya!!! Apa yang kau lakukan di kamarku?”
Orang yang kuteriaki tadi bangun dan tersenyum jahil padaku. “Jawab!!” pintaku. “Siapa yang kau suruh jawab?” katanya santai dan kembali tidur di atas ranjangku.
“Neo! Jawab!!” pintaku lagi. “Aku? Bisakah kau panggil aku dengan sebutan oppa, dongsaeng ‘deer’ku yang cantik?” Aku menghela napas dan mengatakan kata-kata yang sudah kurang lebih dua bulan tidak pernah aku ucapkankan. Kami memang tidak pernah akur, jadi dua bulan yang lalu itu aku memutuskan haram untuk memanggilnya oppa. “Siwon oppa, dongsaeng deermu yang cantik ini ingin bertanya sedang apa kau di sini?”. Dengan sangat terpaksa aku bertingkah aegyo di hadapannya.
“Hentikan tingkahmu itu, aku mual melihatnya”, ucapnya lantang.
PLETAK
Dalam sekejap senter yang tadinya ada di atas meja melayang ke atas kepalanya. “Ya! Bisakah kau bersikap sopan sedikit padaku? Biar begini aku ini oppamu” . “Kau bukan oppa kandungku! Cepat jawab!!!”. Siwon oppa bangkit sambil mengelus-elus kepalanya yang mungkin benjol akibat pukulan senterku tadi. “Tapi sejak 1 tahun lalu saat eomma ku dan appa mu mengucap janji setia aku resmi jadi oppa mu, kau ingat?”
“Bisakah kau jawab sekarang pertanyaanku, Simba Jelek?” geramku.
“Nae, nae, sebenarnya aku ke sini dengan maksud baik, aku cuma ingin membangunkanmu”.
“Membangunkan apanya? Jelas-jelas kau tadi tidur sambil memelukku…” kataku curiga.
“Jangan bilang kau ingin berbuat yang tidak – tidak ?”
“Jangan sembarangan ! Tadinya aku memang ingin membangunkanmu, hanya saja saat melihatmu tidur sangat pulas begitu aku jadi ngantuk dan memutuskan untuk tidur lagi…” jawabnya santai. Ia bangun dan mengacak rambutku. “Sebaiknya kau mandi, setengah jam lagi bel masuk akan berbunyi, Eomma dan Appa sudah menunggu di bawah, aku mau mengambil tasku dulu, sekaligus merapikan seragamku yang berantakan karena doronganmu tadi”.
Jantungku berdetak dua kali lebih cepat. Entah sejak kapan hal ini selalu terjadi saat Siwon oppa menyentuhku dengan lembut seperti tadi, jangankan begitu, berdua dengannya dalam satu ruangan saja bisa membuat ‘penyakit jantung’ ku ini kumat. Yuri pernah bilang ini tandanya aku jatuh cinta. Tapi, halo, yang benar saja, aku tidak mungkin jatuh cinta pada oppa ku sendiri, walaupun ia hanya oppa tiriku.
“YA! Im Yoon Ah! Sampai kapan kau mau melamun begitu saja? Cepat mandi! Aku tidak mau terlambat karenamu!!”
“Nae…”
**********
“Yoona-ya, kau mau ikut makan siang tidak?” tanya Yuri, teman sebangku sekaligus sahabat baikku.
“Tentu saja, aku sudah sangat lapar…” jawabku sambil mengelus perut dan membuka tas mencari bekal makan siang yang Eomma buat tadi pagi. “Yah, Yuri, kau lihat bekal ku gak?” tanyaku sambil mencoba mencari lagi bekal itu dengan teliti.
“Mana mungkin, alangkah rajinnya jika aku periksa – periksa tasmu cuma untuk melihat bekal, sudahlah, mungkin kau lupa, kau kan pelupa tingkat akut,  jajan saja di kantin…” jawab Yuri sekenanya. Dia merebut tasku dan mengeluarkan semua isinya.
“Kau lupa aku dihukum tidak dikasih uang jajan sebulan gara-gara kemarin kita belanja gila-gilaan ?”. Aku terduduk lemas, sekarang aku benar-benar lapar. Energiku sudah terkuras saat pelajaran olahraga tadi. Tiba-tiba aku melihat dua kotak bekal di atas meja Yuri.
“Ya! Yuri! Kau bawa dua bekal kan? Aku boleh minta satu tidak? Jebal…”mohonku.
Yurii melotot ke arahku. “Aniyo, bekal ini sengaja kubuat untuk Minho Oppa. Kami mau makan siang bersama hari ini…”.
“Ya ampun, kau tega membiarkan sahabatmu kelaparan demi makan bersama dengan pacarmu ?” tanyaku tidak percaya.
Yuri mengangguk pasti. “Kenapa kau tidak minta makan ke oppa tirimu saja?” usul Yuri.
“Ya! Tumben kau pintar” sorakku. Dalam sekejap aku sudah mengirim ke sms ke sebuah kontak di handphoneku.
“Simba Menyebalkan ? Ckckck, kau ini tidak ada hormat-hormatnya sama sekali dengan oppa mu” ucap Yuri.
“Ehm, kalau mau aku mau membagi bekalku ini denganmu…” kata seseorang di belakang kami.
“Eh, tidak usah, gomawo , Donghae sunbae. Aku sudah mendapatkan supplier makanan sekarang kok, hehehehe…” tolakku sambil mencoba bercanda.
Donghae sunbae atau Lee Donghae adalah murid baru pindahan dari Mokpo seminggu yang lalu dan dalam beberapa hari sudah menjadi trending topic di kalangan siswi di sekolahku karena ketampanannya. “Tidak apa-apa, ambil saja bekalku. Daritadi kulihat kau ribut kelaparan” katanya sambil berusaha menyembunyikan tawa. Pipiku memerah mendengarnya.
“Auw…”. Yuri mencubit pinggulku. “Ehm, terimakasih Sunbae. Tapi sebentar lagi oppa ku akan datang mengantarkan makanan untukku…” jawabku sambil mencoba memberikan senyum termanisku.
“Benarkah? Wah, sayang sekali, aku kehilangan kesempatan makan siang bersama nona cantik ini. Omong-omong, kau tidak usah memanggilku dengan embel-embel sunbae lagi. Panggil saja aku oppa”
“Ne, Donghae Oppa…”
“Ya sudah, aku pergi ke kantin dulu ya, annyeong…”
Sepeninggal Donghae oppa, Yuri kembali mencubit pinggulku. “Ya! Babo! Bisa-bisanya kau menolak ajakannya! Yeoja lain berusaha keras untuk bisa makan siang dengannya. Kau malah seenaknya begitu menolak tawarannya. Aku rasa dia tertarik padamu”.
“Mwo? Apa kau bilang tadi?” tanyaku sambil mengguncang bahu Yuri.
“Kau ini memang bodoh, tidak peka, atau apa? Jelas kan Donghae sunbae dari awal masuk sudah tertarik padamu. Dan kau juga memang sudah suka padanya dari awal kan?”tanya Yuri sewot.
“Eh, aku suka padanya? Siapa bilang?”
“Kau kan pernah tanya padaku soal jantung yang berdetak lebih cepat itu. Pasti jantungmu berdetak lebih cepat saat melihat Donghae sunbae, benar kan?”
“Eh, soal itu, bukan Donghae sunbae, tapi…”. Belum sempat aku melanjutkan kata-kataku, handphone di sakuku sudah bergetar. “Tunggu sebentar…” kataku pada Yuri.
From : Simba Menyebalkan
 
“Cepat datang ke taman belakang sekolah kalau kau ingin minta bekalku”.
“Ehm, Yuri-ya, aku duluan ya, oppa sudah membalas sms ku, hehehe, annyeong….”
Dengan cepat aku berputar dan menuruni tangga secepat yang ku bisa. Begitu sampai di lantai 1 aku segera berlari ke belakang dan mencoba mencari orang baik hati yang mau membagi bekalnya.
“Ya!  Kau lama sekali datangnya! Aku sudah lapar menunggumu…”, ucapnya sebal.
“Omo, Simba, eh oppa, kau mengagetkanku saja…”
Siwon oppa langsung menggandeng tanganku dan menarikku ke arah taman yang sepi dan mengajakku duduk di bawah sebuah pohon. “Kau pintar dengan menggunakan kata-kata itu, deer. Kalau saja kau tidak meralat perkataanmu tadi, mungkin bekal  ini sudah ku habiskan sendiri.”
Aku merebut bungkusan bekal dari tangannya dan membuka ikatannya. “Ayam goreng, makanan kesukaanku, selamat makan…”. Belum sempat aku memasukkan satu suapan, Siwon oppa meraih genggamanku dan memasukkan sendok berisi ayam goreng tersebut ke mulutnya. “Kau boleh meminta bekalku dengan satu syarat…”
“Apa? Cepat sebutkan! Cacing di perutku sudah tidak bisa diam…” rengekku.
Orang itu hanya tersenyum dan merebahkan badannya di rumput dengan kepala di pangkuanku.
“Suapi aku…”
Mataku melebar. “Mwoya? Apa aku tidak salah dengar?”
Siwon oppa menggelengkan kepala dan memejamkan matanya.
Akhirnya setelah berpikir cukup lama dan menyuap sesendok ke mulutku, dengan canggung aku menyuapkan sepotong ayam goreng ke mulut Siwon oppa. Di bayanganku sekarang, yang biasanya melakukan hal ini adalah sepasang kekasih, bukan kakak – adik.  Jantungku kembali berdetak kencang. Kucoba menundukkan wajahku dalam-dalam dan memakan bekal tersebut lebih cepat karena pandangan aneh dari orang-orang yang lewat.
“Chagi! Tidak bisakah kita bersikap romantis seperti pasangan di sana itu?” tanya seorang pria dari kejauhan.
“Ya! Bangun, bekalnya sudah habis. Aku mau ke kelas sekarang…” kataku pelan.
“Tunggu sebentar lagi saja, bel masuk masih lama kan?”
“Pasangan yang mana?” tanya yeojachingu pria tadi.
“Aku mohon, aku ada tugas, biarkan aku kembali ke kelas sekarang…” mohonku.
Akhirnya Siwon oppa bangun dan mengambil kotak bekal dari tanganku. “Cerewet, kembali ke kelas sana…”
“Yoona ! Aigoo, ke sini kau! Chagi, aku ada urusan sebentar dengan temanku, jadi aku akan ke kelas sendiri, annyeong!!!”
Baru saja aku mau bangkit teriakan itu terdengar. Ternyata pria tadi adalah Minho Oppa dan tentu saja yeoja nya Yuri. Dengan malas aku berjalan ke arahnya. “Tidak perlu teriak-teriak, Yuri, kau tau suaramu cempreng sekali, ada apa sih?”
“Kau tidak normal ya? Apa yang kau lakukan tadi dengan oppa mu? Astaga, asal kau tau ya, kalian terlihat persis seperti sepasang kekasih tau! Sadar, Yoona, dia itu oppa mu. Oh ya ampun, sepertinya aku memang harus membantu Donghae sunbae mendekatimu…”ocehnya sambil menarikku ke kelas.
“Santai sedikit bisa tidak? Dia itu oppa ku, wajar kami makan berdua, tidak usah melebih-lebihkan ah…”
Yuri membalikkan badannya. “Makan berdua wajar, makan berdua dengan suap-suapan, agak tidak wajar kecuali kalau oppa mu itu sedang sakit. Nah, makan berdua, suap-suapan dengan posisi seperti tadi, amat sangat tidak wajar. Sadar nak, pria itu oppa mu, kau tidak bisa pacaran dengannya”.
Sambil menunggu Yuri menyelesaikan kata-katanya aku mencoba menyerap pidatonya itu dalam-dalam ke otak ku. Itu lah masalahku sekarang. Aku tidak boleh menyukai oppa ku sendiri. “Tapi dia oppa tiri ku, Yuri…”. Tiba-tiba saja perkataan itu terlontar dari mulutku.
Yuri langsung menutup mulutnya. “Jangan bilang kau menyukai oppa mu…” katanya sambil memicingkan mata.
“A…Ani…Bukan begitu, hanya saja, yah, aku cuma mau tanya…” jawabku gugup.
“Aku pikir tetap tidak boleh…”jawabnya ragu.
“Wae?”
“Saranku, daripada kau terus memikirkan hal bodoh ini, lebih baik kau coba dekati Donghae sunbae. Dia benar-benar suka padamu…”
**********
Hari demi hari berlalu. Sejak hari itu, Yuri benar-benar membuktikan kata-katanya. Dia memaksa Donghae Oppa dan aku, ikut kencannya dengan Minho Oppa lalu meninggalkan kami berdua, sungguh konyol. Entah apalagi yang sedang ia rencanakan sekarang.
“Yoona-ya, bagaimana kalau sepulang sekolah nanti kita mampir dulu di kedai pancake yang baru buka?” kata Donghae oppa mengagetkanku.
“Kedai pancake baru? Yang di depan stasiun maksudmu?”
Donghae oppa mengangguk sambil memamerkan senyum mautnya. “Kudengar dari Yuri hari ini kau terus-terusan memintanya menemanimu di rumah karena orangtuamu sedang di luar kota dan kau merasa sepi sendirian di rumah, jadi daripada kau bosan di rumah, lebih baik kita jalan-jalan saja” jelasnya.
Aku hanya menghela napas. Lagi-lagi, Yuri.
“Mian Donghae Oppa, tapi oppa ku…”
“Sebaiknya kau jalan sama haeppa saja. Oppa mu hari ini akan pulang telat. Dia ada janji main basket sama Minho oppa, Henry, Leeteuk sunbae, dan Eunhyuk sunbae…” potong Yuri yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampingku.
Aku langsung melotot padanya. “Mian oppa, tapi kurasa aku tidak bisa jalan denganmu sekarang…”, kataku sambil merapikan buku-buku yang ada di atas meja secepat mungkin sebelum Yuri bisa mencegahku pergi.
Donghae oppa menahan tanganku. “Kumohon, sebentar saja…”tambahnya.
“Tega sekali kau menolak permintaan Donghae sunbae. Sudah, sana pergi saja. Annyeong! Jaga dia baik-baik ya Donghae oppa!!!” kata Yuri sambil mendorongku dan Donghae.
Dengan terpaksa aku menghabiskan sore itu berdua dengan Donghae oppa seperti yang sudah Yuri rencanakan. Sebenarnya, aku menikmati saat-saat itu, Donghae oppa adalah pria yang menyenangkan. Hanya saja, perasaanku pada Donghae oppa tidak bisa mengalahkan perasaan anehku pada Siwon oppa.
“Nah, kita sudah sampai…”kata Donghae oppa saat mobilnya berhenti di depan pagar rumahku. Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam dan hujan turun dengan derasnya di luar.
“Gomawoyo oppa…”
“Yoona-ya, jamkamman…”. Tiba-tiba Donghae Oppa mendekatkan wajahnya ke wajahku hingga bisa kurasakan napasnya di pipiku. Pipiku memanas. Biasanya bila di film seorang namja melakukan hal ini detik berikutnya namja itu akan mencium yeoja nya.
Saat kucoba untuk memalingkan wajah, kulihat seseorang sedang duduk dengan tatapan tajam di depan pintu. “OMO, OPPA…”pekikku.
Donghae Oppa terkejut dan menjauhkan wajahnya. “Mwoya ? Siwon oppa mu ? Bagaimana bisa ? Marga kalian kan berbeda…”
“Eomma ku dan Appa nya menikah satu tahun lalu. Walaupun Choi ahjusshi sangat baik padaku tapi aku tetap tidak bisa melupakan almarhum Appa dan memutuskan tetap memakai marga Appa ku….”jelasku singkat. Aku langsung membuka pintu mobil Donghae oppa dan berlari ke arah orang tersebut.
“Apa yang kau lakukan di tengah hujan deras begini? Kenapa kau tidak masuk rumah saja? Omo, kau basah kuyup begini. Bisa-bisa kau sakit, babo…” teriakku mencoba mengalahkan suara hujan.
“Bagaimana aku bisa masuk kalau kunci rumah ini kau yang pegang?” katanya dingin.
Aku tersadar dengan perkataannya dan merogoh saku rokku untuk mencari kunci rumah. “Bukankah hari ini kau ada janji main basket sama Minho sunbae dan teman-temanmu yang lain?”tanyaku.
“Aku sengaja membatalkannya. Tadinya aku mau menemanimu di rumah, kukira kau kesepian. Ternyata kau malah berkencan…”, katanya sambil tersenyum kecut.
Begitu kunci rumah sudah ada di genggamanku, aku langsung membuka pintu dan masuk ke ruang makan. “Tunggu di situ, aku akan mengambil handuk dan membuatkan coklat hangat untukmu,” kataku sambil menunjuk salah satu kursi di ruangan tersebut. Dengan tergesa-gesa kuambil handuk kering di kamar mandi dan membuatkan coklat hangat untuknya.
“Minum ini…” kataku sambil menyerahkan segelas coklat hangat padanya. Perlahan, aku mulai mengeringkan kepalanya yang basah dengan handuk kecil yang kupegang dan memberikan handuk besar padanya agar dia bisa mengeringkan tubuhnya.
“Donghae namjachingumu?”, tanya Siwon Oppa dingin.
“Aniyo…”
“Kalau begitu jangan pergi berduaan dengannya lagi, jangan pulang dengannya, jangan menciumnya lagi….”
Kegiatanku terhenti saat mendengarnya. “Kenapa kau begitu peduli?”
“Saranghae….”kata Siwon oppa sambil memeluk pinggangku erat.
Jantungku serasa berhenti berdetak saat mendengarnya.
“Jeongmal saranghaeyo, mungkin kau berpikir aku adalah seseorang dengan gangguan jiwa akut, tapi aku serius mengatakannya. Aku juga heran kenapa aku bisa mencintaimu…”
“Aku adalah dongsaengmu. Wajar kau mencintaiku…”, kataku mencoba menutupi kesalahpahaman ini.
“Aniyo, aku mencintaimu sebagai seorang pria mencintai seorang wanita.”
“…..”
“Nado saranghae…” bisikku pelan.
Siwon oppa langsung melepaskan pelukannya dan mundur beberapa langkah. “Jangan main-main kali ini. Aku serius mengatakannya…”
“Aku juga serius…”
Perlahan Siwon oppa kembali mendekat dan memelukku sangat erat. Wajahnya mendekat seperti Donghae oppa tadi. Nafas hangatnya menyapu permukaan wajahku. Aku memejamkan mata, dan takut membayangkan apa yang selanjutnya akan terjadi. Chu~ benar perkiraanku. Tiba – tiba bibir lembutnya menyentuh lembut bibirku. Terasa begitu manis.
Dia menggiringku ke kamar dan berbaring di ranjang. Memelukku erat seakan takut aku meninggalkannya. “Biarkan seperti ini. Aku butuh kehangatan darimu”, gumamnya sambil menghembuskan nafas hangat ke tengkukku.
Air mataku mulai turun. “Ini gila. Kita tidak seharusnya begini. Kita kakak adik….” kataku sambil melepaskan pelukannya.
Siwon oppa mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. “Yah, aku tidak tau apa yang akan Appa lakukan bila mengetahui hal ini.”
“Bagaimana kalau kita berpacaran diam-diam?”, usulku.
“Aku rasa itu jalan yang terbaik”, dia menyetujuinya. Kami terlelap masih dengan posisi dia yang memelukku.
**********
Singkat cerita, kami pun berpacaran diam-diam, hubunganku dengan Donghae oppa mulai menjauh. Kami sering berkencan diam-diam tanpa sepengetahuan siapapun. Hingga suatu hari Appa mengetahui hubungan kami dan marah besar. Appa menghajar Siwon oppa sampai meninggalkan beberapa lebam di pipinya. Eomma terus-terusan menginterogasiku mengenai apa yang ada di pikiranku sampai-sampai aku memacari oppa ku sendiri. Yuri yang mengetahui hal itu mencoba menghiburku dan memaksaku berpacaran dengan Donghae oppa yang beberapa hari setelah kejadian itu menembakku.
Begitu Siwon oppa lulus, Appa langsung menyuruhnya kuliah Amerika dan hanya memperbolehkan ia pulang begitu menyelesaikan kuliahnya. Sepeninggal Siwon oppa, akhirnya aku memutuskan untuk menerima Donghae oppa, tentu saja Eomma dan Appa amat senang begitu aku memperkenalkan ia sebagai pacarku.
**********
“Eomma, Appa, aku pulang…”
Aku, Donghae oppa, Eomma, dan Appa yang sedang makan malam langsung berpandangan mendengarnya. Appa adalah orang pertama yang langsung bergegas membukakan pintu.
“YAK ! Choi Siwon! Apa yang kau lakukan? Appa sudah bilang kau baru boleh pulang kalau kau sudah lulus!” bentak Appa.
“Beginikah sambutanmu pada anak yang 4 tahun meninggalkan rumah? Tenang saja Appa. Anakmu ini sudah lulus kok…”, kata Siwon dengan senyum khasnya.
Jantungku berdetak kencang. Sesuatu yang selama 3 tahun ini tak pernah kurasakan. Aku baru sadar kalau aku amat merindukannya selama ini. Merindukan suaranya, wajahnya, senyumnya, gesture khasnya, kelakuan jahilnya, semua tentangnya.
“Hey dongsaeng, biarkan oppa mu yang tampan ini memelukmu…”
“Siapa yang datang?”
Belum sempat Siwon oppa memelukku, Donghae oppa muncul dari arah ruang makan bersama Eomma.
“Donghae ? Sedang apa kau di sini?” tanya Siwon oppa heran.
“Dia sedang ikut makan malam sekaligus membicarakan tentang pernikahannya dan dongsaengmu yang akan diadakan bulan depan,” jawab Appa mantap. Sorot mata Siwon oppa pun berubah drastis. Dari yang tadinya berbinar – binar sekarang berubah menjadi tatapan kosong.
**********
“Aku tidak bisa melihat. Gelap. Apa yang terjadi dengan mataku?”
Seluruh orang yang ada di ruangan itu terdiam. Kecelakaan itu sudah membutakan mataku. Tepat seminggu sebelum pernikahanku dengan Donghae oppa. Aku bisa mendengar isak tangis Eomma dan kata-kata Appa yang berusaha menenangkannya. Donghae oppa langsung memelukku. Dan aku tahu, Siwon oppa sedang berdiri di samping ranjang, menggenggam tanganku erat, berpura – pura tak acuh, padahal memikirkan apa yang ia bisa lakukan untuk menolongku, itulah yang selalu ia lakukan setiap aku dihukum Eomma dulu, hanya saja, tak ada satu hal pun yang bisa ia lakukan sekarang. Tangisku pecah saat itu juga.
**********
“Chukkhae atas pernikahanmu ya, chingu…”
“Ne, gomawo Yuri-ya. Kapan kau akan menyusul?”
“Tanyakan itu pada orang ini…” kata Yuri sambil menyenggol Minho sunbae.
“Eomma, ngomong-ngomong mana Siwon oppa? Aku tidak melihatnya dari kemarin…”
“Kita akan membicarakannya nanti, sekarang kau bersenang-senang saja dulu…”. Ekspresi Eomma tidak biasa. Seharusnya aku sudah tahu apa yang terjadi.
Begitu resepsi selesai, aku dan Donghae oppa masuk ke kamar yang sudah disiapkan untuk kami. “Kau suka pestanya, chagi?” tanya Donghae oppa sambil memelukku dari belakang.
“Ne, yeobo. Tapi apakah kau tau dimana Siwon oppa ? Aku belum melihatnya sejak operasi cangkok mata beberapa hari yang lalu.”
Donghae Oppa terdiam sesaat lalu menceritakan apa yang terjadi sebenarnya padaku dengan perlahan. Detik berikutnya, aku sadar aku tidak akan pernah bisa melihatnya lagi. Donghae oppa tak lupa memberiku sebuah kotak musik. Ketika kubuka penutupnya dan kunyalakan, musik berbunyi juga ada sebuah boneka kecil yang menari dan keluarlah lampu – lampu yang berbentuk sebuah kalimat seperti ini, “Just take care of my eyes, deer”
Dadaku terasa sesak. Air mataku tumpah ruah seketika. Aku tak sanggup menahan kesedihan ini. Aku mengusap air mataku, aku pun teringat semua kata – katanya sebelum ia meninggal.
“Bogoshippoyo. Sudah 1 tahun kita tak bertemu. Kenapa kau bisa menabrak truk itu? Kau mabuk saat menyetir ya? Babo!”. Air mata kembali turun membasahi pipiku.
“Gomawo untuk matanya. Tapi asal kau tau, Tuan Choi. Aku tidak butuh mata ini. Mata ini tidak berguna bila tidak bisa dipakai untuk melihat wajah mu, senyum mu, gesture khas mu. Bisa-bisanya di saat sekarat kau memaksa dokter untuk mendonorkan matamu untukku. You’re the best oppa I’ve ever had. Meskipun aku berharap kau bukanlah oppa ku. Kau tau, aku sempat menyalahkan keadaan yang menjadikan kita kakak-adik, menyalahkan Eomma dan Appa yang melarang hubungan kita. Seharusnya kita bisa bersama. Kau hanyalah oppa tiriku. Kita bukan saudara sedarah. Tapi akhirnya aku sadar, mungkin ini lah takdir ku. Kuharap kita bisa bertemu di alam sana nanti. Cepatlah jemput aku…”
Aku membalikkan tubuh menatap Donghae oppa yang sedang duduk menungguku sambil menggenggam tanganku dan melemparkan senyum khasnya. Lama aku merenung dan terus berpikir apa yang harus aku lakukan. Donghae oppa adalah satu-satunya namja yang paling sabar padaku sekarang. Aku tahu aku mungkin jahat dengan bersikap kurang menyenangkan padanya selama ini. Tetapi semakin aku mencoba mencintainya, semakin aku merindukan Siwon oppa. Aku tidak mau egois. Aku tidak mau membuatnya sakit hati terus menerus. Lebih baik aku berpisah saja dengannya.
“Oppa, mianhae. Aku akui kalau diriku memang yeoja yang paling jahat dimatamu. Aku tidak mau menyakiti hatimu terus menerus. Kau tahu oppa, kau adalah namja yang sangat sangatlah baik. Alangkah baiknya jika kau mendapatkan yeoja yang lebih baik dariku. Mulailah hidupmu dengan yeoja lain.”
Dia nampak sangat terkejut. “Kau bercanda kan Yoona ? Kau tidak serius kan ?”, ia terus mengguncang tubuhku. “Aku serius oppa”, gumamku. Sesaat kemudian semuanya meredup dan aku pun sudah berada di alam bawah sadar. Kulihat Siwon oppa melambai kearahku. Dan aku pun menyambut tangannya. Kami berdua bergandengan tangan dan berjalan tenang menaiki tangga menuju sebuah pintu suci itu.
-The End-
Iklan
Tinggalkan komentar

87 Komentar

  1. yeonta

     /  September 23, 2012

    yoona bunuh diri ya…. buat lg, buat yg happy ending dong….

    Balas
  2. Kereeennnn….. Tpi bner memang membingungkan???? Yoona bunuh diri atw sakit sih….????
    Tp gpp sih yg penting YonnWon bersatuu…. Yippiii… ^^

    Balas
  3. Huahahaaa .. Hampir nangis .. Sebenarnya agak gk rela .. Bingung ama endingnya .. Yoona kenapa bisa nyusul wonpa ?? Tp gkpp yang penting Yoonwon .. 🙂

    Balas
  4. Maksudnya yoona bunuh diri atau apa thor ? Tapi bagus thor , keren ceritanya. Agak bosan juga kalo baca ujung”nya yoona yg pergi.

    Balas
  5. very very sad sad…
    ;(

    Balas
  6. @euiscutee

     /  Januari 16, 2013

    Hwaaaaa,,,
    Ternyata YoonWon couple ditakdirkan untuk bersatu di akhirat ,,,

    Balas
  7. hania

     /  April 14, 2013

    Bingung sama endingnya
    yoona bunuh diri ya atau tidak
    Tapi selebihnya bagus kok
    ditunggu OS atau ff chapter lainnya
    gomawo

    Balas
  8. aat yoonwon

     /  Juni 23, 2013

    Yoona ikut siwon y?

    Balas
  9. aaaaa… endingnya bikin histeris+gregetan sendiri tp rada bingung pas bagiannya Yoona, Yoong ngapain sampe bisa mati? huhuu.. tapi senengnya YoonWon bisa bahagia kekal & abadi di akhirat :’) daebakk^^

    Balas
  10. miyoon

     /  Juli 4, 2013

    Sad ending? Tapi gimaba yah ttp keren {}

    Balas
  11. dina

     /  Juli 30, 2013

    So sad…tp mrka akhirnya bersatu walau bersatu di alam baka

    Balas
  12. dina

     /  Januari 5, 2014

    Sad ending..

    Balas
  13. anita

     /  Januari 5, 2014

    Ya, meskipun akhirnya bersama
    Tetapi jalan ceritanya menyedihkan
    Buat air mata ngalir mulus….
    Daebak
    Ya rada bingung yoong bunuh diri ya
    Siwon oppa meninggal kah?

    Balas
  14. Anita harahap

     /  Januari 7, 2014

    Endingny yg penting..
    Pada akhirnya tetep bersatu..
    Heheheheheh

    Balas
  15. Anita harahap

     /  Januari 7, 2014

    Endingny yg penting..
    Pada akhirnya tetep bersatu..
    Heheheheheh
    tp mwny jgn sad ending..
    Hehehehe

    Balas
  16. Sedih!
    Akhirnya sad ending..
    Harusnya mereka bisa bersama di dunia.
    Tapi mereka malah bersama di dunia lain hks 😦

    Balas
  17. tia risjat

     /  Februari 15, 2014

    wonpa, pengorbananmu begitu besar pada yoona. tapi kenapa mereka bersatunya di dunia lain???

    Balas
  18. ayu dian pratiwi

     /  Februari 19, 2014

    Keren meskipun agak kurang jelas ama ending nya. Di tunggu karya lainnya

    Balas
  19. Kim Eun Kyo

     /  April 9, 2014

    Ahhhhh ffnya bikin aku nangissss kasiann wonppa nya

    Balas
  20. Hiks hiks.
    Kok kek gini sh?

    Balas
  21. Mia

     /  Juli 14, 2014

    Cinta memang sulit di tebak.

    Balas
  22. Evi

     /  Agustus 2, 2014

    Walaupun sad ending tpi mereka bhagia di surga

    Balas
  23. choi han ki

     /  Oktober 10, 2014

    Yoona meninggal kenapa itu ? Serangan jantung kah ?? Trus gimana yoona dan siwon kecelakaan hingga siwon donorin matanya ke yoona

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: