[FF] Who Is The Beloved (Chapter 9)

Annyeong adakah yang menunggu FF ini??? Tak terasa sekali yah FF ini sudah menginjak usia 9 *apadeh* author hanya ingin mengucapkan terimakasih buat para YoonWonited yang sudah memberikan komentar buat FF ini. Jujur lho, kementar kalian semua membuat author semangat buat ngelanjutin ni FF geje hahah, dan semoga di chapter ini para YoonWonited puas dengan YoonWon momentnya..

Oke deh langsung aja yah…….

Happy Reading….

 

[FF] Who Is The Beloved (Chapter 9)

Title : Who Is The Beloved

Author : Choi Hyun Mi a.k.a Nita Rahayu

Main Cast :

  • Choi Siwon (Super Junior)
  • Im Yoon Ah (SNSD)

Other Cast :

  • Lee Donghae (Super Junior)
  • Jessica Jung (SNSD)
  • Stella Kim
  • Lee Sungmin (Super Junior)

Genre: Romantic

Rating : General

 

“Aku mencintai mu. Tapi aku lebih mencintainya. Jadi biarkan aku hidup bersamanya. Dan  kejarlah cinta sejati mu. Karena cinta sejati mu bukanlah aku, melainkan orang lain”

 

Author POV

Tangis Yoona semakin deras saat melihat laki-laki yang di cintainya sekaligus calon suaminya berciuman dengan wanita lain dengan keadaan seperti itu. Yoona tak dapat lagi menahan tangisnya dengan segera dia meninggalkan tempat itu dan berlari keluar rumah. Siwon yang melihatnya tiba-tiba ada Yoona yang dia yakini menyaksikan semua kejadiannya segera akan mengejar wanita yang di cintainya itu. Namun, kembali tangan Stella menghalangi kepergiannya.

“Kau jangan mengejarnya” lirih Stella.

“Kau jangan ikut campur, semua ini karena mu”

Raut wajah Siwon berubah menjadi cemas lalu menghempaskan tangan Stella dan berlari mengejar Yoona. Siwon mengambil handuk putihnya yang tergeletak di atas kursi lalu segera mengerjar Yoona. Tangis Stella semakin pecah melihat kepergian Siwon yang meninggalkannya begitu saja.

Yoona berjalan dengan agak sedikit berlari sambil terus matanya mengeluarkan cairan bening. Tanpa Yoona sadari, dia menabrak salah seorang pelayan yang sedang membawa minuman di nampannya.

Brakkk~~~~

“Mianhae, jeongmal mianhae aku tidak sengaja” lirih Yoona menundukan kepalanya.

“Gwanchanayo Nona, Nona anda kenapa? Kenapa anda menangis?” seru sang pelayan khawatir.

“Aku tidak apa-apa, permisi” dengan segera Yoona kembali melangkahkan kakinya.

Tak lama Siwon datang dari arah halaman belakang.

“Yoona mana?” Tanya Siwon dengan raut wajah panik.

“Tuan muda, Nona baru saja pergi mungkin sekarang masih di luar”

Mendengar pernyataan dari pelayannya dengan segera Siwon melangkahkan kakinya keluar mengejar Yoona. Siwon sampai di luar rumah, tapi dia tak menemukan sosok Yoona.

“Ahhhhh, semua ini gara-gara kau” Siwon prustasi lalu kembali melangkah kan kakinya kedalam rumah.

***

Stella masih menangis di tepi kolam renang, marah, sedih, kecewa bercampur menjadi satu. Lama Stella dalam keadaan seperti itu, sampai akhirnya dia menghapus sisa-sisa air mata di pipinya dan mengambil kimono yang tergeletak di lantai dan segera memakainya.

Saat Stella sudah mengenakan kimononya, dia kembali menghapus sisa-sisa air mata di pipinya dan segera beranjak pergi. Tapi, tiba-tiba Siwon menghampirinya yang kini sudah mengenakan baju.

“Siwon” ucap Stella kaget dengan kedatangan Siwon.

“Puas kau, setelah kau membuat Yoona menjadi salah paham padaku” ujar Siwon menatap Stella tajam.

“Aku melakukan ini, karena aku ingin mendapatkan mu, aku ingin memiliki mu seutuhnya. Apa itu salah?” air mata Stella kembali keluar.

“Tentu saja itu salah, sekarang aku sudah berbeda. Aku akan menikah Stella aku bukan Siwon yang dulu kau kenal saat di Amerika” ujar Siwon menahan emosinya.

“Pulanglah, aku ingin menyelesaikan masalah ku dengan Yoona. aku tidak ingin berurusan lagi dengan mu, dan….” Siwon menggantung kata-katanya.

“Dan apa?” lirih Stella di sela-sela tangisannya.

“Dan aku tidak mau bertemu dengan mu lagi” ujar Siwon enteng lalu pergi meninggalkan Stella.

Kembali Stella menangis mendengar pernyataan dari laki-laki yang sangat ia cintai itu.

Yoona berjalan sempoyongan di tepi jalanan kota Seoul yang ramai, dia tak tahu harus melangkahkan kakinya kemana lagi. Jalan untuk pulang ke rumahnya pun sudah terlewati, sepanjang jalan Yoona terus menangis tak perduli semua orang melihatnya aneh. Yoona terus berjalan dengan linangan air mata di pipinya.

 

Siwon POV

Ku ambil kunci mobil dan segera bergegas keluar untuk mencari Yoona.

Kulajukan mobilku sedikit pelan, untuk mencarinya. Karena, pelayan di rumah ku bilang Yoona datang ke rumah ku menggunakan taxi, jadi pikiran ku Yoona masih berada di sekitar sini. Satu jam aku menelusuri jalanan malam kota Seoul, hanya kekecewaan yang ku dapat kan. Yoona tak ku temukan. Sudah beberapa kali ku hubungi ponselnya, tapi hanya suara seorang wanita operator yang terdengar. Ku lirik arloji yang melingkar di tangan kiri ku, ternyata sudah menunjukan pukul 23.05 KST.

“Mungkin dia sudah pulang ke rumah, sebaiknya besok pagi saja aku menemuinya” ucap ku pelan lalu ku injak gas untuk mempercepat laju mobil ku.

End of Siwon POV

 

 

 

Yoona POV

Hatiku bagai tertusuk ribuan jarum yang sangat runcing, melihat kejadian tadi membuat seluruh tubuh ku rasanya lemas. Ku langkahkan kaki ku entah tak tahu harus kemana, sepanjang perjalanan aku terus menangis tak dapat ku tahan air mata ini. Sungguh sakit rasanya, ini lebih sakit dari pada sebelumnya. Ternyata pirasat ku benar, wanita itu adalah Stella Kim. Wanita yang bertemu dengan ku di pesta ulang tahun Key.

“Benarkah kau tega pada ku Siwon, benarkah kau membohongi ku” lirih ku dalam hati.

Angin malam rasanya menembus ke dalam tubuh ku, ku eratkan blazer pemberian dari Siwon untuk sedikit menghangatkan tubuhku dari terpaannya. Kaki ku terus melangkah tak tahu arah, sampai akhirnya kaki ku berhenti di sebuah apartement.

Ku tekan bel untuk memanggil sang pemilik apartement. Lama aku menunggu, jelas saja ini  sudah pukul 00.15 KST. Mungkin sang pemilik apartement sudah tertidur pulas.

Lama aku berdiri di depan pintu, ku putuskan untuk pergi. Tapi, langkah ku terhenti saat mendengar suara pintu terbuka.

“Siapa…” sambut sang pemilik apartement dengan rambut yang acak-acakan dan mata yang masih tertutup.

“Annyeong Eonni, maaf aku mengganggu mu” sapa ku berusaha tersenyum pada Jessica Eonni.

Mendengar suara ku reflex Jessica Eonni membuka matanya.

“Yoona, ada apa malam-malam kemari?”tanyanya sembari merapikan rambutnya yang berantakan.

“Eonni, boleh aku masuk. Di luar dingin sekali” pinta ku yang mendapat anggukan dari Jessica Eonni lalu mempersilahkan aku masuk.

Jessica Eonni duduk di salah satu sofa lalu aku mengikutinya.

“Yoong, kau kenapa? Kau habis menangis?” Tanya Jessica Eonni khawatir.

“Aku tidak apa-apa Eonni, Eonni bolehkan aku tidur di sini?” tanyaku ragu.

“ Tidur di sini, tentu saja boleh. Tapi kau kenapa Yoong, apa kau bertengkar dengan….”

“Tidak, hanya saja terjadi sesuatu yang membuat aku menangis. Dan aku tidak bisa pulang ke rumah sekarang, kau ijinkan aku menginap di sinikan Eonni?” bohongku berusaha tersenyum.

“Baiklah aku mengerti, mari ikut aku” Jessica Eonni bangkit dari duduknya dan berjalan menuju sebuah kamar.

“Ini kamarnya, kau istirahatlah. Kalau ada sesuatu yang kau butuhkan kau panggil saja aku, arra” ucap. Jessica Eonni tersenyum lembut padaku lalu meninggalkan ku.

Ku tutup pintu kamar secara perlahan, lalu berjalan mendekati ranjang. Ku rebahkan tubuh ku yang terasa sangat lemas dan lelah ini. ku pejamkan mata ku, dan kembali air mataku keluar membasahi kedua pipi ku.

End of Yoona POV

 

Author POV

Siwon kembali kerumahnya dengan raut wajah penyesalan dan rasa bersalah kerena telah membuat Yoona menangis. Dilangkahkan kakinya menuju kolam renang untuk melihat Stella, tapi tiba-tiba mata Siwon menangkap sebuah kotak berwarna pink. Siwon segera mengambil kotak tersebut dan membukanya. Dia menghela nafas melihat isi dari kotak berwarna pink itu yang ternyata adalah coklat dari berbagai bentuk. Siwon menutup kotak tersebut dan membawanya ke kamar setelah memastikan Stella sudah pergi dari rumahnya.

Siwon menjatuhkan diri di ranjang menatap langit kamaranya yang remang-remang, lalu pandangannya ia alihkan pada kotak coklat yang ada di sebelahnya.

“Maaf aku Yoona, sungguh maaf kan aku” lirih Siwon pelan.

***

Jessica masuk ke kamar Yoona dengan langkah pelan, di dapatinya seorang wanita yang sedang terduduk di depan cermin rias.

“Kau sudah bangun ayo kita sarapan sama-sama” seru Jessica sedikit menepuk pundak Yoona yang membuat Yoona menoleh ke arahnya.

“Eonni” sambut Yoona dengan seulas senyum manisnya.

“Ya Tuhan Yoong kau kenapa, kenapa mata mu sembab? Apa semalam kau terus menangis” tanya Jessica khawir melihat keadaan Yoona yang memprihatinkan.

“Aku tidak apa-apa Eonni hanya saja semalam aku kurang tidur, ayo kita makan” Yoona beranjak dari duduknya.

“Tapi Yoong, kau ini kenapa. Cepat ceritakan pada Eonni, apa yang terjadi dengan mu” desak Jessica namun Yoona hanya tersenyum.

“Eonni, aku tidak apa-apa ayo makan aku sudah lapar” bohong Yoona. Jessica menghela nafas berat lalu menganggukan kepalanya.

Saat makan hanya terdengar suara sendok dan garpu yang saling beradu. Yoona berusaha menyembunyikan kesedihannya di hadapan Jessica, dengan berpura-pura berselera makan. Sementara itu Jessica sudah mengetahuinya bahwa Yoona sedang mempunyai masalah hingga membuatnya seperti ini.

“Yoong” suara lembut Jessica memecahkan keheningan.

“Ne, Eonni” jawab Yoona lalu menatap gadis berambut pirang itu.

“Katakanlah apa masalah mu Yoong, mungkin Eonni bisa membantu mu” ujar Jessica lembut lalu meletakan sendok dan garpu di piringnya.

“Eonni, aku..aku”

“Yoong, aku sudah lama mengenal mu. Jadi aku tahu saat ini kau sedang mengalami sesuatu hal cepat katakan” kambali Jessica mendesak Yoona.

“Eonni, Siwon Eonni Siwon…..” Yoona tak dapat melanjutkan kata-katanya kerena air matanya kembali keluar. Yoona menundukan kepala menutupi tangisnya dari Jessica yang duduk berhadapan dengannya. Jessica iba melihat Yoona seperti ini, lalu dia mulai bangkit dari duduknya dan duduk di sebelah Yoona. Jessica mengelus punggung Yoona untuk menenangkan nya.

“Eonni mengerti perasaan mu, walaupun  Eonni tidak tahu apa masalah mu. Tapi percayalah Yoong, ini semua adalah ujian bagi kalian berdua. Tuhan sedang menguji kekuatan cinta kalian, jadi bersabarlah. Eonni yakin Siwon sangat mencintai mu, dia tidak mungkin menyakiti perasaan mu. Percaya lah” suara lembut Jessica membuat tangis Yoona semakin pecah, Jessica iba dan membawa Yoona ke dalam pelukannya.

“Menangislah Yoong, kalau ini bisa membuat mu tenang” ucap Jessica lembut sembari membelai rambut Yoona.

***

Siwon memberhentikan mobilnya di pekarangan rumah Yoona, tak berapa lama Siwon berjalan sedikit cepat dan menekan bel beberapa kali. Tak lama menunggu pintu pun terbuka, dan sebuah senyuman hangat menyambut kedatangannya.

“Siwon, kau rupanya” sapa Ny Im menyambut kedatangan calon menantunya itu.

“Annyeong Eomma” sapa Siwon lalu membungkuk kan badannya.

“Ayo masuk” ajak Ny Im sembari berjalan mendahui Siwon.

“Tumben sekali pagi-pagi sudah ke sini, oh yah mana Yoona?” ucap Ny Im lalu duduk di sofa.

Siwon gelapan harus mengatakan apa pada ibu Yoona, karena Siwon mengira Yoona sudah pulang ke rumahnya sejak kejadian tadi malam.

“Siwonie, ghanchanayo?” tanya Ny Im heran karena Siwon terlihat sedang memikirkan sesuatu.

“Eomma, Yoona..Yoona. justru aku kesini untuk mencari Yoona, apa semalam Yoona tidak pulang?”  tanya Siwon sedikit ragu.

“Yoona semalam tidak pulang, bukannya semalam Yoona pergi kerumah mu. Katanya dia ingin memberikan coklat buatannya padamu, apa kau tidak bertemu dengannya” tanya Ny Im yang kembali membuat Siwon terdiam.

“Yoona menginap di rumah Jessica” seru Sungmin tiba-tiba.

“Sungmin” ujar Ny Im tak mengerti.

“Eomma, semalam Jessica menghubungi ku, katanya Yoona menginap di apartement Jessica” lanjut Sungmin lalu duduk bersebelahan dengan Ny Im.

“Benarkah, kenapa Yoona tidak bilang pada Eomma” heran Ny Im.

“Eumm mungkin…ahh Eomma Yoona kan bukan anak kecil lagi” seru Sungmin sedikit gugup.

“Yah sudah Eomma ke dapur dulu, kau temani dulu Siwon” Ny Im bangkit dari duduknya dan segera meninggalkan keduanya.

“Huhhh hampir saja ketahuan” ucap Sungmin menghela nafas lega.

“Hyung, apa benar Yoona ada di apartemant Jessica” tanya Siwon tiba-tiba.

“Iya, semalam Jessica menghubungi ku. Kalian berdua bertengkar ya? Jessica bilang, tadi malam Yoona menangis” ucap Sungmin menatap Siwon.

“Itu, hanya salah paham saja Hyung” ucap Siwon pelan.

“Eumm baiklah, aku juga tidak mau ikut campur dengan hubungan kalian, cepat selesaikan jangan sampai aku berbohong lagi pada Eomma, ara” ujar Sungmin menasehati Siwon.

“Ne Hyung, terima kasih” jawab Siwon lalu tersenyum.

“Yah sudah aku ke kamar dulu, kau tunggu saja Eomma di sini” ujar Sungmin yang mendapat anggukan dari Siwon.

Siwon menundukan kepalanya dalam-dalam, karena merasa bersalah pada Yoona dan telah membuatnya kembali menangis.

“Maaf aku Yoong” lirih Siwon dalam hati.

Yoona POV

Setelah selesai sarapan ku putus kan untuk pulang dari aparteman Jessica Eonni, kulangkah kan kaki ku menuju halte bis. Namun, tiba-tiba sebuah mobil berwarna hitam berhenti di depan ku. Tak berapa lama keluarlah sosok laki-laki menggunakan kacamata hitam dan berjalan kearah ku.

“Donghae Oppa” ujar ku kaget melihat sosok namja tersebut.

“Hai Yoong, bisa kita bicara sebentar” ujarnya lalu melepas kacamata hitamnya.

Aku terdiam beberapa saat untuk menimbang-menimbang ajakan Donghae Oppa, sampai pada akhirnya ku anggukan kepalaku sebagai jawabannya. Dongahe Oppa tersenyum lalu membuka kan pintu mobil untuk ku, tanpa menunggu lama segera aku masuk kedalam mobilnya itu.

Sungguh aku tak tahu Donghae Oppa akan membawa ku kemana, selama di perjalanan mataku hanya memandang ke luar dari kaca mobil begitu pula dengan Donghae Oppa, pandangannya juga sibuk pada jalan sambil mengemudi dengan fokus.

Tiba-tiba Donghae Oppa memberhentikan mobilnya dan turun mendahului ku. Dia membuka kan pintu untuk ku, segera aku keluar dan berusaha tersenyum padanya.

“Ayo Yoong” ajak Dongahe Oppa lalu menarik tangan ku.

“Kau masih ingat tempat ini?” serunya saat kita sudah berada di tepi danau yang pemandangannya indah dan terasa sepi, karena tidak ada seorang pun di sini selain kita. Aku hanya menganggukan kepala sebagai jawaban tanpa menoleh menatapnya. Kulihat air danau yang tampak berkilauan karena tersinari matahari di pagi hari yang membuat siapa saja akan merasakan ketenangan yang luar biasa.

Tiba-tiba terjadi keheningan diantara kami….

“Yoong, apakah kau masih mencintai ku?” suara berat Donghae Oppa menyadarkan ku dari lamunan. Ku tolehkan kepalaku untuk menatapnya.

“Yoong, jawab aku. Apa kau masih mencintai ku?” lirih Donghae Oppa menatap kedua mataku menunggu jawaban.

“Oppa” lirih ku pelan.

“Cepat katakan Yoong”

“Apa kau masih mencintai ku?” tanya ku balik.

Donghae Oppa tersenyum mendengar pertanyaan ku.

“Tentu saja Yoong, tentu aku masih mencintai mu. Bahkan aku sangat mencintai mu Yoong, kau juga begitu kan?” jawab Donghae Oppa memegang kedua bahu ku menunggu jawaban.

“Kalau begitu aku juga masih mencintai mu”

End Of Yoona POV

 

Jessica POV

Kulangkah kan kaki ku menuju lemari pakaian untuk membereskan semua pakaianku yang akan ku bawa ke Amerika. Sudah ku putuskan, aku akan kembali ke Amerika untuk melanjutkan Study ku. Aku memang ingin seperti ayahku, menjadi seorang sutradara handal dan terkenal. Mungkin dengan kepergian ku ke Amerika, aku bisa melupakan Donghae Oppa dan menemukan sosok pria yang mencintai ku disana. Ku buka amplop berwarna coklat, terlihat paspor dan tiket pesawat yang sudah tercantum tanggal pemberangkatannya.

“Selamat tinggal Korea, mungkin aku tidak akan kembali lagi. Aku akan menetap di Negara tempat ku dilahirkan, aku pasti akan sangat merindukan Korea” ucap ku tersenyum penuh kegetiran.

End of Jessica POV

 

Author POV

“Apa kau masih mencintai ku?” Tanya Yoona balik pada Donghae.

Kedua sudut bibir Donghae tertarik mendengar pertanyaan dari gadis yang ada di depannya saat ini..

“Tentu saja Yoong, tentu aku masih mencintai mu. Bahkan aku sangat mencintai mu Yoong, kau juga begitu kan?” jawab Donghae  memegang kedua bahu Yoona  menunggu jawaban.

“Kalau begitu aku juga masih mencintai mu”ucap Yoona pelan.

Dongahe terkejut tak percaya mendengar pernyataan dari gadis yang ada di hadapannya saat ini. Kembali kedua sudut bibir Donghae tertarik menampakan senyum kebahagiaan.

“Aku akan selalu mencintai mu Oppa. Tapi, jika Oppa merelakan ku bersama Siwon” ucap Yoona tiba-tiba yang perlahan membuat senyum Donghae lenyap.

“Yoong, k-kau” ucap Donghae terbata-bata.

“Oppa” lirih Yoona pelan. Cairan bening kini sudah berada di pelupuk matanya.

“Aku tidak pernah menyesal bertemu dengan mu atau pun menyesal pernah masuk dalam kehidupan mu Oppa. Sejujurnya aku masih mengingat kenangan itu, kenangan dimana saat-saat kita bersama, sekalipun aku tidak pernah melupakannya Oppa. Karena bagiku, tak kan ada masa depan jika tak ada masa lalu. Oppa, jika kau memang tulus mencintai ku ijinkan aku hidup bersama orang yang ku cintai, ijinkan aku hidup bersama Siwon”

Yoona tak dapat menahan tangisnya lagi, air matanya tumpah sudah di depan laki-laki yang mencintainya.

“Oppa, kau jangan takut. Meskipun aku memilih Siwon, tapi di hati ku masih ada ruang yang tersisa untuk menyimpan namu mu. Aku tidak mungkin melupakan mu yang pernah mengisi kehidupan ku selama beberapa tahun. Meskipun kita tak di takdirkan hidup bersama tapi percaya lah, kau masih ada di hatiku. Tapi, bukan sebagai laki-laki yang ku cintai melainkan sebagai teman dan kakak yang aku sayangi”

Yoona lalu memegang tangan dingin Donghae. Donghae tak kuasa menahan air matanya mendengar penuturan dari gadis yang amat di cintainya ini. Kini rasanya Dongahe tak dapat lagi menopang tubuhnya sendiri, Donghae menundukan kepalanya berusaha menahan air matanya.

“Oppa, kejarlah cinta mu yang sesungguhnya. Kejarlah Jessica Eonni, dia sangat mencintai mu Oppa. Jessica Eonni adalah cinta sejatimu” ucap Yoona di sela-sela tangisannya.

Donghae menyeka air mata di pipinya dan mengangkat kepalanya perlahan. Di tatapnya manik mata Yoona yang berlinang air mata.

“Benar kau mencintainya? Apa kau tulus mencintai Siwon?”  jelas Donghae menatap Yoona.

Yoona menundukan kepalanya tangisnya semakin pecah mendengar pertanyaan dari laki-laki yang kini memegang bahunya. Mulut Yoona masih terkunci rapat, entah apa yang harus ia katakan. Hati kecilnya mengatakan bahwa dia mencintai Siwon. Tapi, mengingat kejadian tadi malam yang membuatnya sulit untuk mengatakan yang sebenarnya.

Dengan sabar Dongahe menunggu jawaban dari Yoona, tak lama Yoona pun mulai membuka mulutnya.

“Aku sangat mencintainya Oppa, aku benar-benar mencintainya. Aku tidak mau kehilangannya”

Air mata Yoona kembali deras keluar membasahi pipinya. Ada rasa sakit di hatinya saat mengucapkan kata-kata itu setelah melihat kejadian tadi malam. Yoona tak dapat lagi menahan rasa sakit hatinya, seluruh kesedihannya dia tumpahkan pada Donghae yang tersenyum lirih. Donghae membawa Yoona kedalam dekapannya hangatnya, seketika tangis Yoona semakin pecah.

“Aku merelakan kau bersamanya, dan aku akan mengejar cinta sejati ku. Tapi, berjanjilah kau harus hidup bahagia bersamanya kau harus tepati itu Yoong, kalau tidak aku tidak akan memaafkan mu seumur hidup ku”

Yoona hanya mengangguk sebagai jawabannya.

“Kau harus hidup bahagia bersamanya Yoong” lirih Donghae lalu kembali air matanya keluar membasahi kedua pipinya.

Tak jauh dari tempat Donghae dan Yoona, seorang laki-laki yang bersembunyi di balik pohon besar menangis mendengar semua pembicaraan yang di dengarnya. Siwon tak dapat lagi menahan air matanya saat mendengar bahwa Yoona sangat mencintainya bahkan melebihi cintanya pada Yoona.

“Maaf Yoong, maafkan aku” lirih Siwon lalu menyeka air mata di pipinya.

 

Donghae POV

Setelah mengantarkan Yoona pulang, ku putuskan untuk menemui Jessica di apartementnya. Namun, kekecewaan yang ku dapatkan. Jessica tak ada di apartmentnya, lalu putuskan untuk pulang ke apartement ku. Namun, saat aku menuju apartement ku tiba-tiba di jalan aku berpapasan dengan Stella.

“Stella sedang apa kau disini” tanya ku bingung.

“Kebetulan sekali kita bertemu, aku ingin bicara sebentar dengan mu apa kau bisa?” tanyanya sedikit ragu.

“Baiklah” jawab ku lalu berjalan menuju apartemant ku.

Ku buka pintu apartement dan mempersilahkan Stella masuk.

“Duduklah, aku ambil minuman dulu” ujar ku lalu berjalan ke arah dapur. Tak berapa lama aku kembali ke ruang tengah dengan membawa dua botol soft drink di tangan ku. Ku buka tutup botol lalu menyerahkannya pada Stella.

“Minumlah dulu” ujarku lalu Stella mengangguk dan mengambilnya.

“Tumben sekali kau ingin bertemu dengan ku, ada apa?” tanya ku memulai pembicaraan.

Stella terdiam sesaat lalu menyimpan botol soft drink di meja.

“Donghae mau kah kau bekerja sama dengan ku?” ujarnya yang membuat aku mengerutkan dahi.

“Kerjasama? Kerjasama apa?” tanya ku heran.

“Kau kan mencintai Yoona, aku juga mencintai Siwon. Bagaimana kalau kita bekerja sama untuk menghalangi pernikahan mereka” ujarnya sedikit berbisik.

“Maksud mu, kita bekerja sama untuk menghancurkan hubungan mereka, dengan begitu aku dapatkan Yoona dan kau dapatkan Siwon?”  tanya ku yang membuatnya tersenyum.

“Bagaimana, kalau kita bekerja sama pasti itu lebih mudah” ujarnya menyakinkan ku.

“Penawaran yang menarik, tapi maaf Stella aku tidak tertarik dengan ide mu itu” ujar ku yang membuatnya menatap ku heran.

“Sebagai teman dan kakak untuk Yoona, aku tak mau menghancurkan hubungan teman ku  sekaligus adik ku, dan sepertinya kau salah orang untuk meminta kerja sama” jawab ku santai.

“Kau ini bicara apa Donghae, apa kau salah bicara? Bukankah kau juga menginginkan Yoona, kau mencintainya kan?” tanyanya menatap ku heran.

“Sekarang aku tanya padamu, apa cinta bisa di paksakan? Sekalipun aku berhasil merebut Yoona dari Siwon, tapi aku tidak akan tersenyum bahagia. Karena orang yang aku cintai ternyata malah menderita hidup bersama ku. Dan coba kau pikir, apakah Siwon juga akan bahagia bila hidup bersama mu?” tanya ku menatapnya yang terlihat sangat kesal.

Stella tersenyum kecut mendengar penuturan ku, lalu tak lama dia bangkit dari duduknya.

“Cinta tidak harus memiliki, bagi ku itu suatu pernyataan yang sangat konyol dan hanya orang-orang pengecut yang percaya akan hal itu. Meraka pengecut karena takut dan tidak bisa mengggapai cintanya . Termasuk dirimu Donghae-ssi, terimakasih atas soft drink nya” ketusnya lalu pergi dari hadapan ku.

Aku tersenyum tak percaya mendengar penuturannya itu.

“Cinta tak harus memiliki? Hanya orang pengecut yang percaya akan hal itu?” ucap ku pelan lalu beranjak dari duduk ku.

Ku patut diriku di cermin lalu membasuh wajah ku beberapa kali. Perkataan Stella masih terngiang-ngiang di telinga ku.

“Cinta tidak harus memiliki, bagi ku itu suatu pernyataan yang sangat konyol dan hanya otang-orang pengecut yang percaya akan hal itu. Meraka pengecut karena takut dan tidak bisa menggapai cintanya . Termasuk dirimu Donghae-ssi”

“Orang pengecut? Benarkah kau orang yang seperti itu Lee Donghae?” tanya ku pada diri sendiri.

Lalu kata-kata Yoona tiba-tiba terlintas di benak ku.

“Aku sangat mencintainya Oppa, aku benar-benar mencintainya. Aku tidak mau kehilangannya”

“Lee Donghae kau bukan orang pengecut, kau hebat Donghae karena kau telah merelakan wanita yang kau cintai hidup dengan orang lain. Ini yang terbaik, biarkan Yoona hidup bahagia bersama Siwon dan kau, kejarlah Jessica dia adalah cinta mu yang sesungguhnya” ucapku pada diri sendiri.

“Cinta tak harus memiliki? Aku rasa itu benar, kerena aku tak bisa memaksakan perasaan orang lain sekeras apapun aku berusaha mendapatkan cinta itu, dan Tuhan tidak mentakdirkan cinta itu hidup bersama ku. Yoong, ku relakan kau bersama Siwon. Aku yakin kau bahagia bersamanya” lirihku pada diri sendiri.

End of Donghae POV

 

Siwon POV

Setelah melihat dan mendengar apa yang Yoona dan Donghae katakan membuat ku terdiam cukup lama di dalam mobil. Sungguh bodohnya aku yang lengah membiarkan Stella melakukan hal itu, padalah aku sudah berjanji pada diri ku sendiri bahwa aku tak akan membuat Yoona menangis lagi. Apa yang kudengar tadi membuat ku tahu bahwa sekarang Donghae sudah melepaskan Yoona untuk ku, dan Yoona ternyata dia memang tulus mencintai ku bahkan melebihi cintaku padanya. “Ya Tuhan, apa kau sedang menguji cinta kami” gumam ku pelan.

End of Siwon POV

 

Author POV

Setelah Donghae mengantarkan Yoona pulang, tak berapa lama Yoona kembali ke luar dan melangkahkan kakinya. Angin sore menerpa wajah sendunya yang terlihat sangat tidak bersemangat, Yoona melangkahkan kakinya pelan membiarkan angin yang sepoi-sepoi itu menerpa rambut panjangnya. Setelah berjalan cukup lama akhirnya kakinya berhenti di sebuah halte bis, Yoona duduk di salah satu kursi kosong menunggu kedatangan bis datang. Sekitar 15 menit menunngu, bis yang di tunggu pun datang. Dengan langkah pelan Yoona masuk kedalam bis dan duduk di salah satu kursi kosong. Di sandarkan kepalnya pada kursi sambil melihat keindahan kota Seoul dari balik kaca.

Sekitar 30 menit bis melaju, akhirnya Yoona turun di salah satu halte. Kembali dia melangkahkan kakinya menuju sebuah jalan yang terlihat ramai lalu lalang orang. Tak lama langkah kakinya sudah berada di kawasan apartement mewah. Dengan segera Yoona melangkahkan kakinya masuk kedalam.

Yoona keluar dari lift dengan langkah pelannya lalu menuju sebuah pintu apartement.

Yoona menghentikan langkah kakinya tepat di depan pintu apartement berwarna silver. Lalu di tekannya bel untuk memanggil sang penghungi apartement. Tak lama menunggu pintu pun terbuka sebuah senyum hangat menyambut kedatangannya.

“Yoong, kau rupanya ayo masuk” sapa Jessica sambil menunjukan senyum hangatnya.

“Ne Eonni” Yoona membalas senyumannya lalu masuk ke dalam mengikuti Jessica.

“Eonni apa aku menggangu mu?” tanya Yoona seraya duduk di sofa.

“Emm tidak Yoong kebetulan Eonni baru pulang dari rumah Appa” jawab Jessica kembali dengan senyuman hangatnya.

“Eonni apa kau yakin dengan keputusan mu, kau akan kembali ke Amerika?” tanya Yoona menatap gadis yang duduk di sebelahnya itu dengan cemas.

Seulas senyum terpancar dari wajah cantik Jessica.

“Iya Yoong sudah ku putuskan, aku akan kembali ke Amerika. Kenapa Yoong, kau takut kehilangan ku?” tanya Jessica terkikik geli.

“Bukan begitu Eonni, hanya saja aku takut Eonni menyesal dengan keputusan ini” ujar Yoona lalu memegang kedua tangan Jessica penuh harap.

“Yoong sudahlah, ini semua sudah ku pikirkan matang-matang aku tidak akan menyesal, lagi pula aku ingin mencari kehidupan baru dan tentunya lebih baik dari saat ini, kau tidak usah takut kalau kau merindukan ku hubungi saja aku, atau kita bisa saling kirim e-mail” ucap Jessica tersenyum manis pada Yoona.

Yoona terdiam menatap mata gadis berambut pirang itu dengan tatapan penuh harap bahwa Jessica tidak akan pergi. Yoona tahu betul bagaimana jadinya kalau Jessica kembali ke Amerika, pasti Donghae akan sangat terpukul dengan hal ini sebab Donghae sudah mulai menerima Jessica. Sementara itu Yoona masih bungkam pada Jessica tentang Donghae yang sudah merelakannya untuk Siwon.

“Apa yang harus ku lakukan” batin Yoona dalam hati.

***

Stella mematut dirinya di cermin kali ini rencananya untuk mendapatkan Siwon semakin tertutup. Pasalnya, Donghae yang Stella yakini bisa di ajak kerja sama ternyata malah menolak ajakannya dan memilih untuk merelakan Yoona pada Siwon.

“Kau pikir aku akan menyerah begitu saja, aku yakin bisa mendapatkan Siwon” bisiknya percaya diri.

***

Malam menjelang Siwon masih di rumah Yoona menunggu kepulangannya, ponselnya tak aktif membuat Siwon khawatir di buatnya. Apalagi semua pelayan rumah tak mengetahui dia pergi kemana, di tambah kedua orang tuanya yang sedang pergi ke luar negeri dan kakaknya Sungmin sedang sibuk mengurus keperluan untuk hari pernikahannya.

“Pak Kim apa Yoona tidak bilang dia pergi kemana” tanya Siwon pada kepala pelayan rumah Yoona.

Laki-laki paruh baya tersebut tersenyum tipis lalu menjawab pertanyaan dari Siwon.

“Tidak Tuan, tadi setelah Nona pulang di antar Tuan Donghae. Nona kembali ke luar lagi”

“Apa dia bawa mobil?” tanya Siwon lagi.

“Nona tidak bawa mobil, kebetulan mobilnya sedang di perbaiki” jawab pelayan Kim penuh hormat.

“Baiklah, terimakasih Pak Kim” ujar Siwon lalu tersenyum pada laki-laki paruh baya tersebut.

“Baiklah Tuan muda, kalau begitu saya permisi dulu” Pelayan Kim membungkuk hormat lalu pergi meninggalkan Siwon yang masih duduk di sofa.

Siwon terdiam seperti memikirkan sesuatu tak lama dia bergumam pelan.

“Apa dia bersama Donghae, ahh tidak tadi aku sudah mendengarnya sendiri. Tapi, kemana Yoona” Siwon menyandarkan tubuhnya ke sofa lalu mengusap wajah lelahnya.

***

Yoona memutuskan untuk pulang dari apartement Jessica. Dengan langkah lambat, dia berjalan pelan menikmati hembusan angin yang menyibakan rambutnya. Setelah berjalan di tengah lalu lalang orang yang cukup ramai di malam hari, akhirnya Yoona menghentikan langkah kakinya di depan sebuah butik. Yoona melihat gaun pengantin yang terpangpang jelas di depan butik dengan tatapan nanar. Dia menghela nafas berat, lalu kembali berjalan di tengah-tengah lalu-lalang orang. Tiba-tiba air turun mengenai rambutnya, Yoona tersadar bahwa kini semua orang sudah berlarian untuk mencari tempat berteduh karena hujan mulai turun.

“Hujan, kenapa harus hujan” lirihnya lalu kembali melangkahkan kakinya namun kali ini sedikit cepat.

Hujan mulai deras membashi setiap sudut kota Seoul di malam hari, Yoona telat mencari tempat untuk berteduh sehingga kini tubuhnya sudah basah kuyup. Dia berlari cepat menuju sebuah halte bis yang hanya ada dia seorang.

“Ahhh bis terakhir tadi sudah berangkat, bagaimana ini” runtuknya sedikit kesal. Lalu melihat arloji yang melingkar manis di tangan kirinya.

Yoona mengembuskan nafasnya dalam-dalam untuk memberi rasa hangat pada tubuhnya, dia masih duduk sendiri di halte bis menunggu hujan yang kini mengguyur kota Seoul sangat deras.

 

“Pak Kim, saya pulang dulu. Nanti kalau Yoona sudah pulang, tolong hubungi saya”

Pamit Siwon lalu berjalan menuju teras rumah Yoona.

“Baik Tuan saya mengerti, oh yah ini payungnya. Mobil anda kan tidak di masukan ke gerbang, pasti kalau anda kesana anda akan basah kuyup. Jadi ambil lah ini” laki-laki paruh baya itu menyerahkan payung hitam pada Siwon dengan senyum hangat.

Siwon tersenyum manis, lalu mengambil payung tersebut.

“Terima kasih Pak Kim” sambut Siwon lalu membuka payung tersebut dan sedetik kemudian berjalan menuju mobilnya yang terparkir di depan gerbang rumah Yoona.

***

Stella menginjak gas dalam-dalam supaya sedikit mempercepat laju mobilnya, mobil merahnya membelah jalanan kota Seoul yang licin dan terlihat sedikit lengang itu.

“Aku tidak mau kehilangan Siwon, jadi biarkan aku merembutnya dari wanita itu” gumamnya sambil terus fokus pada kemudinya.

***

Yoona sudah merasa bosan menunggu hujan reda, sampai akhirnya dia bangkit dari duduknya dan kembali menghembuskan nafas.

“Bosan sekali di sini, lebih baik aku pergi saja” umpatnya lalu melangkahkan kaki meneroboh derasnya hujan.

Siwon menjalankan mobilnya dengan sedikit kecepatan karena dia sadar jalanan terlalu licin dan itu sangat membahayakan untuknya menjalankan mobil dengan cepat.

“Yoona, kau dimana? Kau dimana? Ponsel mu tak aktif?

Siwon bergumam sambil fokus memperhatikan jalanan yang basah kerena hujan. Tapi, mata Siwon menangkap seorang yeoja yang sedang berjalan di tengah-tengah derasnya hujan. Siwon mengijak rem dan melihat yeoja tersebut dari kaca spion.

“Bukan kah itu Yoona?” Siwon menggosok-gosok matanya melihat yeoja yang sedang berjalan pelan sambil menundukan kepalanya.

Dengan segera Siwon mengambil payung yang tadi di berikan Pak Kim dan membuka pintu mobilnya untuk menghampiri wanita tersebut. Siwon berjalan cepat, sampai akhirnya dia berada tepat di depan gadis tersebut yang tak lain adalah Yoona. Yoona yang melangkahkan kakinya pelan, langsung menghentikan langkah kakinya melihat sepasang sepatu berwarna hitam yang ada di depannya lalu perlahan dia mulai mendongak kan kepalanya.

“Siwon”

***

Cekitt…….

Stella menginjak rem tiba-tiba saat melihat sebuah mobil berwarna putih terparkir di pinggir jalan.

“Bukan kah itu mobil Siwon, sedang apa dia di sini?” ucapnya bingung. Lalu tak jauh dari mobilnya dia melihat dua orang yang sedang berhadapan.

“Siwon, Yoona….” ujarnya kaget.

***

“Siwon” Yoona menatap namja yang kini sedang memandangnya dengan tatapan bersalah.

Siwon kembali melangkahkan kakinya mendekati Yoona dan memayungi(?) tubuh Yoona yang sudah basah kuyup.

“Kenapa kau seperti ini, kau marah padaku?” tanya Siwon yang membuat mata Yoona kembali memerah menahan tangis.

“Chagi, percayalah padaku. Aku dan dia tidak ada hubungan apa-apa, aku hanya mencintai mu seorang” ujar Siwon lembut lalu mengusap pipi Yoona karena Siwon menyadari bahwa air yang kini membasahi wajah cantik kekasihnya itu bukanlah air hujan melainkan air matanya yang sudah keluar.

“Chagiya” lirih Siwon namun Yoona masih menatapnya dengan air mata yang terus mengalir.

“Benarkah kau tidak membohongiku? Hati ku sakit Siwon saat melihat kau dengannya, kau tidak bohongkan?” kini Yoona terisak sambil mengucapakan kata-kata itu.

“Tidak, Chagi percayalah padaku, coba kau tatap mataku apa aku berhohong padamu?” tanya Siwon dengan nada lembut.

Yoona menatap kedua bola mata Siwon dengan lekat, mencari sebuah kebohongan yang mungkin terselip di dalamnya. Tapi, Yoona sama sekali tak menemukan sebuah kebohongan yang mungkin Siwon sembunyikan. Kembali Yoona terisak lalu menundukan kepalanya.

“Maaf, maaf aku sudah menuduh mu” lirihnya di sela-sela isak tangisnya.

Siwon tersenyum lalu membawa Yoona kedalam dekapannya.

“Kau tidak harus minta maaf Chagi, ini semua bukan kesalahan mu. Aku yang harus minta maaf, terimakasih karena kau telah mempercayai ku”

Siwon membelai sayang rambut Yoona lalu mencium puncak kepala kekasihnya itu dengan penuh kasih sayang.

Siwon melepaskan pelukannya, lalu tangan kanannya menghapus air mata di pipi Yoona.

“Yoona-ahh kau tahu aku sangat merindukan mu?” ucap Siwon lembut.

Namun Yoona hanya diam tak meresponnya. Siwon tersenyum manis, lalu tangan kirinya yang dari tadi memegang pegangan(?) payung langsung melepaskan dan seketika payung berwarna hitam tersebut pun jatuh ke aspal. Semula tubuh Siwon yang tak basah sedikit pun kali ini menjadi basah kuyup karena payung yang dia pakai di jatuhkannya ke aspal. Kembali sebuah senyum tertarik di kedua sudut bibir Siwon, tangannya mulai menyingkirkan helai demi helai rambut yang menghalangi wajah cantik kekasihnya. Siwon tersenyum manis pada Yoona lalu memiringkan kepalanya dan mencium Yoona sekilas. Yoona sedikit terkejut dengan perlakuan dari laki-laki yang kini berada tepat di depannya yang hanya menyisakan beberapa senti saja. Keduanya saling menatap satu sama lain, tak lama kembali Siwon mencium bibir kekasihnya itu dengan sangat lembut. Perlahan Yoona mulai memejamkan mata indahnya mendapat perlakuan yang ia rindukan dari laki-laki yang sangat di cintainya ini. Siwon melumat bibir kekasihnya itu dengan irama yang pelan, sesekali di hisapnya bibir merah itu secara perlahan. Yoona tak mau Siwon menguasai permainan ini, segera dia membalas ciuman hangat yang Siwon berikan dengan irama yang sama. Kini bibir mereka saling pagut memberikan kenikmatan kepada orang yang mereka cintai. Siwon menarik tubuh Yoona supaya tidak ada jarak sedikit pun di antara mereka, begitu pun Yoona tangannya mulai naik ke leher Siwon suapaya Siwon semakin memperdalam ciumannya.

Hujan deras semakin mengguyur kota Seoul di malam hari, angin malam mulai datang yang menyebabkan dingin menusuk ke dalam tubuh. Namun, tidak bagi kedua insan manusia yang sedang menikmati sebuah ciuman yang berdurasi cukup lama di tengah-tengah derasnya hujan. Mereka justru menikmati moment seperti ini, ciuman yang sangat pelan tanpa di dasari nafsu membuat mereka lama dalam melakukan hal tersebut. Yoona terus membalas ciuman Siwon, namun tetap saja Siwon yang menguasai permainannya. Kini lidah Siwon mulia menjelajahi rongga mulut Yoona yang basah, sesekali Yoona mendesah saat lidah mereka berperang di dalam mulutnya. Siwon kembali mengeluarkan lidahnya dan kini kembali fokus pada bibir Yoona, hal yang sama kembali Siwon lakukan mengemut bibir Yoona pelan, begitupun Yoona melakukan hal yang sama.

Mereka berdua seakan terlarut dalam permainan yang mereka ciptakan membuat rasa dingin yang menyerang tubuh keduannya sedikit hangat. Tapi, mereka masih enggan untuk melepaskan setidaknya sedetik pun moment berharga ini.

Angin semakin berhembus kencang, di tambah hujan yang terus mengguyur Kota Seoul semakin menambah dinginnya malam. Tapi, tidak bagi seorang wanita yang dari tadi menyaksikan dua insan manusia yang sedang asik berciuman dengan tatapan merah, kecewa, dan sedih semua bercampur menjadi satu. Stella Kim yang berada tak jauh dari Yoona dan Siwon menyaksikan pertunjukan yang sampai saat ini pun masih berlangsung. Air matanya mulai keluar membasahi kedua pipi merahnya, kini seluruh tubuhnya tak merasakan dingin lagi yang ada kini seluruh tubuhnya berubah menjadi panas karena api kemarahan yang sudah keluar dari dalam dirinya.

“Akhhhhhh” Stella mengeluarkan kemarahannya lalu terisak menangis di dalam mobilnya.

 

To Be Countinued

Puaskah dengan chapter ini?? Belum nikah YoonWon udah maen Kisseu-kisseu mulu ahh…*Ditabok YoonWon*

Oke deh buat YoonWonited ku sayang jangan lupa RCL yah. Sampai jumpa di chapter 10 *Lambai tangan bareng YoonWon*

Kamsahamnida….

Tinggalkan komentar

244 Komentar

  1. park ra chan

     /  Desember 30, 2015

    Ya ga di temukan kebohongan di mata siwon ya emang siwon ga boong kok

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: