[FF] The Grudging Code – 2nd Clue

The Grudging Code – 2nd Clue

Author             :           Choi Ara

Type                :           Chapter

Chapter           :           Second

Genre              :           Action, Romance

Rating             :           PG-17

Cast by            :

  • Choi Siwon
  • Im Yoona
  • Lee Min Ho
  • Tiffany Hwang
  • Choi Seunghyun (T.O.P)

Cameo             :

  • Kim Dong Wook
  • Bryan Woo
  • Choi Jiwon

 

CLUE 2 : INNAGURATION

Lama Kim Dong Wook berpikir, membuat keadaan disana cukup tegang. Beberapa waktu kemudian akhirnya kapten itu mulai angkat bicara. “Baiklah. Dengan berat hati aku putuskan, noona Im belum bisa bergabung dengan kami. Mianeyo noona Im” gumam Dong Wook lirih. Sementara Yoona membulatkan matanya seolah-olah tak percaya. Begitu juga Komandan polisi, tapi berbeda dengan Siwon dan Lee Min Ho yang mengamati dari jauh. Mereka menanggapi dengan ekpresi yang biasa, seperti dugaan mereka tak semudah itu dapat bergabung di Track Fast.

Yeoja itu kini tertunduk lemas. Dalam hati mengutuk dirinya sendiri yang begitu bodoh. Mengharapkan ribuan ikan dalam sekali jala, itu sangat tidak mungkin. Memang sangat tak realistis apa yang ia harapkan, tapi keadaanlah yang mendesaknya. Seharusnya ia tak mengatakan permintaan tak tahu diri itu. Dari arah yang berseberangan terlihat seorang pria dengan ekspresi datar menatapnya memahami apa yang terjadi. “Ah gwaencana, joseong haeyo  terlalu lancang mengatakan demikian” Yoona mencoba berbesar hati.

”Bukan berarti aku menolakmu noona Im. Mungkin sekarang, tapi mungkin tidak untuk waktu ke depan. Aku sangat berterima kasih atas prestasimu yang telah membantu tugas kami dengan baik. Sebagai hadiahnya, kami memberimu satu kesempatan untuk belajar di sebuah pelatihan militer di Jepang. Disana kau dapat belajar banyak ruang lingkup pekerjaan kami. Itu sebagai bekal dan persyaratan kau bisa bergabung dengan kami. Jadi terimalah..” dengan santai Dong Wook menyerahkan sebuah amplop.

Rona murung Yoona sekejap berubah. Ia terkejut dengan pemberian Kapten. Sungguh tak terduga, tapi pelatihan di Jepang sangatlah susah. Yoona bingung apakah harus menerima amplop itu “Ah daesang.. Tidak, ini terlalu berlebihan. Saya tak bisa menerima ini” terang Yoona yang jelas malu-malu. Dari kejauhan Siwon menatapnya dengan senyum kelu.

“Bukankah kau menginginkan ini. Ambil saja, daripada melihatmu kesulitan beradaptasi dengan pekerjaan kami, itu penawaran yang sangat bagus. Hanya tiga bulan disana, kuharap kau bisa menerimanya” senyum tanggung tergurat dari paras Dong Wook yang bulat.

“Arraseo, aku terima. Jeongmal gamsahamnida daesang..” ucap gadis itu bahagia seraya membungkukkan setengah badannya.

Komandan polisi yang sedari tadi diam menampakkan suaranya, “Ah sepertinya aku harus kembali ke kantor Kapten Kim. Masih banyak pekerjaan yang tertunda, jadi aku pamit terlebih dulu. Masalah Bryan Woo, aku serahkan pada kalian. Biar kalian yang membawanya ke kepolisian untuk proses selanjutnya. Tapi saranku, selidiki dia terlebih dulu, pasti dia tak bekerja sendiri. Aku pamit terlebih dulu Kapten, annyeoong”

“Ne, terima kasih atas kerja samanya Salyeong gwan” balas Kapten Dong Wook membungkuk mengiringi kepergian Komandan polisi maritim itu. Ia balik menghadap arah ke belakang, ditatapnya Yoona yang sempat melongo (?). “Ikut denganku noona Im, kita urus untuk keberangkatanmu nanti”

“Arasseo daejang”. Kim Dong Wook memasuki ruangan kantor lebih dalam, Yoona mengikutinya dengan perasaan yang campur aduk. Dua orang yang melihatnya dari jauh menampakkan ekspresi yang berbeda. Yang satu tersenyum tipis tapi yang lain hanya menatap beku dan segera meninggalkan tempat itu.

Sejenak Yoona menatap ke belakang dimana Siwon berdiri tadi. Ditatapnya lekat wajah namja itu sampai wajahnya tak kuat untuk tersenyum. Tapi hanya eskpresi datar yang ia terima, membuatnya menarik kembali senyuman itu dan pergi. “Seharusnya kau tak usah senyum, pabo”

Yoona mengikuti Kim Dong Wook untuk mengurus berkas-berkas yang harus ia siapkan guna pelatihan nanti di Jepang. Ia sendiri tak mengerti sedemikian cepatnya mengurus prosedur atau memang Kapten Dong Wook sudah mempersiapkan sebelumnya. Tak masalah memang, yang penting dirinya telah mendapat kesempatan yang sangat langka meski dulu ia sangat membenci tindakan ini.

Siwon menenteng dua gelas espresso dingin. Berada di barisan bangku panjang sudut kantor yang menghadap taman, ia hentikan untuk menikmati kopi sembari menenangkan hatinya yang gusar. “Ia kembali, tapi mengapa hatiku seperti ini. Mengapa tak begitu berani menatap matanya. Ah ada apa denganmu Siwon Choi!!” gumamnya pada diri sendiri. Suaranya cukup terdengar oleh seseorang yang lewat di belakang posisi ia duduk. Orang itu menghentikan langkahnya, lantas mendekat dan duduk di samping Choi Siwon. Tak ada tanggapan yang terdengar, Siwon tahu siapa yang disampingnya kini. Tapi ia sama sekali tak segan untuk menyapa.

“Coffe?!” Siwon menawarkan segelas espresso yang lain pada seseorang di sampingnya. Namun tetap saja, ia tak memiliki hasrat menatap wajah orang itu. Namja itu yang tak lain adalah Lee Min Ho tersenyum menyambut tawarannya. Ia meraih segelas kopi yang Siwon tawarkan,  “Ne, gomapta”. Lee Min Ho meneguk espresso dingin tadi tapi justru suasana hening yang tercipta. Tak saling berpandang arah cukup lama, mata mereka tertuju pada satu titik. ‘Mianeyo..” singkat dari bibir Lee Min Ho memulai pembicaraan .

“Maaf untuk?!” jawab Siwon dengan entengnya tanpa menoleh wajahnya sesenti pun.

“Tak sengaja mendengar ucapanmu” ucapnya. Siwon tak memberi reaksi sedikitpun, matanya masih memandang lurus seraya mengesap minuman kesukaannya itu.

“Maafkan juga, aku sering mencampuri tugasmu, Dan mengenai pembagian wilayah tugas, itu sepenuhnya usulku ke kapten. Aku hanya ingin kita menguji kemampuan masing-masing di situasi yang berbeda. Apa kau marah denganku?!” terka Lee Min Ho pada seorang Choi Siwon yang masih segan untuk saling pandang.

“Aku tahu bagaimana cara seorang rival menguji lawannya. De, terima kasih atas usulanmu, aku memiliki banyak pengalaman bekerja di lokasi yang baru. Tak masalah” Siwon menoleh wajahnya kali ini ia sedikit mengguratkan senyum tipisnya.

Lee Min Ho meneguk espresso yang tersisa. Ditenggaknya cairan itu membanjiri urat tenggorokannya. “Aku hanya ingin menunjukkan sebuah pertemanan denganmu. Itu saja”. Siwon membengkokkan sebagian alis matanya dan sedikit mendenguskan senyuman datar. “Chingu?!”

“De, bekerjasama dalam artian pertemanan itu lebih baik. Mari saling bertukar fikiran, jadilah temanku” Lee Min Ho mengulurkan tangan kanannya tepat di hadapan dada bidang Siwon. Awalnya memang segan, tapi akhirnya Siwon menyambut tangan Lee Min Ho dan keduanya saling berjabat tangan. “Uri chingudeul”

***

“Oppa!!” seorang gadis kecil melepas genggaman tangan yeoja di sampingnya berlari menuju seseorang yang ia kenal. Siwon dengan senyum sumringah menyambut gadis kecil itu dan menggendongnya tinggi-tinggi tertawa lepas. “Oppa kau datang menjemputku?” tanya gadis kecil manja dalam gendongan namja berbadan kekar itu. “De, oppa menjemput princess kecil” senyumnya kemudian mencium pipi bocah kecil itu. Sembari saling bergurau, seorang yeoja yang tadi bersama gadis kecil menghampiri keduanya.

“Fany ah…” sapanya pada yeoja bernama Tiffany Hwang. Dia adalah guru dari bocah kecil itu yang tak lain adalah adik Siwon, Choi Jiwon. “Oppa, annyeong. Lama tak bertemu. Bagaimana kabarmu?” tanyanya.

“Ya beginilah, bisa kau lihat sendiri. Aku masih tampan seperti dulu hehe” jawab namja itu penuh narsis. “Huh oppa?! Aku bertanya bagaimana kabarmu bukan seperti apa wajahmu saat ini. Bagiku kau masih terlihat seperti kuda hfft” desah nafas kesal Tiffany terdengar cukup jelas.

“Aku baik-baik saja Fany ah.. Tak usah cemberut seperti itu, nanti kau akan terlihat cantik kkeke” goda Siwon membuat semburat Tiffany merah merona.

“Oppa, sudah lama tak makan es cream bersama. Sekarang waktunya, palli” rengek Jiwon tiba-tiba. Siwon membulatkan matanya dilanjut dengan memanyunkan ujung bibirnya, “Ooo..My Princess ingin makan es cream?! Arraseo..Kajja kita akan makan es cream yang paling enak di kota ini. Fany ah kau ikut dengan kami”

“Ah, tak usah. Kalian lebih baik pergi berdua saja. Bersenang-senanglah aku akan segera pulang” Tiffany mencoba menolak ajakan Siwon.

“Ya, hanya sekali. Temani sebentar , aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Ikutlah dengan kami” bantah Siwon mengharapkan Tiffany ikut serta.

“Sesuatu? Apa yang ingin kau katakan oppa. Lebih baik katakan disini saja” balasnya agak penasaran. Siwon menolehkan pandangannya ke Jiwon memberi suatu isyarat pada dongsaengnya. Jiwon sepertinya mampu menangkap apa yang Siwon maksud, “Noona ikutlah dengan kami. Kau pernah berjanji akan menemaniku makan es cream kan, ayo temani kami noona”. Dengan polosnya Jiwon membujuk. Sebenarnya tak cukup semangatnya untuk pergi, tapi akhirnya Tiffany mengiyakan ajakan mereka.

“Arasseo. Karena Jiwon yang meminta, aku akan ikut dengan kalian” jawabnya setuju seraya mengedipkan sebelah matanya. Siwon tak mau membuang-buang waktu, segera ia mengajak keduanya untuk masuk ke dalam Porsche Light Silver, mobil kebanggaannya. “Ah geurae, kajja kita pergi. Fany ah, masuklah ke dalam mobilku” senyum nakal Siwon merasa menang. Ketiganya masuk ke dalam kendaraan yang super mewah itu, Tiffany duduk di kursi depan sebelah Siwon yang siap mengemudi. Di kursi belakang, Jiwon asyik sendiri dengan boneka-boneka Panda nya sesekali mengajak bicara benda tak bernyawa itu.

Di kursi depan Siwon menatap jahil paras Tiffany di sebelahnya. “Lama tak bertemu, kau semakin cantik saja Fany ah..” Siwon mulai menggoda tapi bualannya sama sekali tak terdengar oleh Tiffany. Gadis itu masih sibuk memasang sabuk pengaman, “Mwo?! Apa yang kau katakan oppa?!”

“Ani..ah bukan apa-apa” gumam Siwon memanyunkan bibirnya kecewa karena gagal membual yeoja disampingnya. “Baiklah, kita berangkat” ucapnya datar tak memandang Tiffany sekalipun.

“Ne”

***

Di bandara Incheon Yoona tengah memegang nomor penerbangan dan koper pada masing-masing tangannya. Di pandang kertas itu kuat-kuat seraya meyakinkan hatinya yang ragu. Ia tak cukup bersemangat untuk pergi ke pelatihan meski semua yang dibutuhkan telah ia siapkan. Begitu ragu-ragu untuk melangkahkan kaki, pikirannya tertuju pada kejadian tiga tahun yang lalu. Kenangan pahit saat ia berpisah dengan kekasihnya, Siwon, yang membatalkan rencana pernikahan padahal sudah mereka susun matang. Namja itu lebih memilih pergi ke Jepang untuk pelatihan yang sama dibanding mementingkan perasaannya. Ia sangat kecewa dengan keputusan mantan kekasihnya saat itu padahal ia sudah memaksanya untuk tidak pergi.

Sebelumnya, Siwon sama sekali tak berminat dengan penawaran pelatihan militer dari salah satu temannya. Namun karena ada sesuatu hal yang tak ia mengerti, namja itu tiba-tiba saja bersikeras memutuskan untuk pergi dan membatalkan rencana pernikahan mereka. Yoona ingin mengetahui alasannya, namun namja itu bungkam tak ingin berbagi alasan kepadanya. Ia hanya menjelaskan bahwa ia ingin sekali bergabung di sebuah agensi mata-mata. Alasannya tak membuat Yoona puas, ia terus meminta alasan yang jelas mengapa kekasihnya itu lebih memilih pergi meninggalkan dirinya. Siwon tetap bungkam ia tak mau menjelaskan alasan yang sebenarnya.

Dan sejak saat itulah Yoona mulai melepas kepercayaannya pada namja itu. Ia merasa hubungannya tak memiliki keterbukaan antara masing-masing. Yoona yang telah menggantungkan sebagian hidupnya pada namja itu sangat kecewa dengan keputusannya. Ia memutuskan untuk berpisah dan tak ingin lagi mengenal seorang Choi Siwon. Meski Siwon berusaha meyakinkannya bahwa ia pasti kembali, Yoona sudah terlanjur sakit hati pada namja itu. Rencana pernikahan yang sudah mereka siapkan selama satu bulan kandas begitu saja. Sejak itulah hubungan mereka berakhir. Yoona tak mau lagi mengenal Choi Siwon dan sangat membenci dengan sebuah pelatihan militer, janjinya dulu.

Ia terus berusaha membuang pikiran buruknya dari kenangan itu. Dikumpulkan semua semangat dalam dirinya, meyakinkan bahwa apa yang ia lakukan sama sekali tak ada hubungan dengan mantan kekasihnya dulu. Ia mencoba membuang jauh perasaan bencinya terhadap apa yang akan ia jalani. Pelatihan militer, tidak ada alasan lagi baginya untuk menolak. Dengan jalan ini ia dapat memperoleh pekerjaan yang akan menghidupi dirinya. Selain itu, ia dapat memanfaatkan kesempatan ini bagaimana mencari tahu orang yang telah membunuh ayahnya.  “Yakin kan dirimu Im Yoona”

***

Seoul city hari ini tak begitu panas tak seperti biasanya saat Summer tiba. Lee Min Ho memiliki banyak waktu luang untuk istirahat dari segala macam aktivitas di kantornya. Siang ini, ia sempatkan waktunya untuk pergi ke Jjimjilbang merelaksasikan otot-ototnya yang tegang. Hanya mengenakan handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya, ia berjalan ke suatu ruangan dimana saat itu banyak sekali kumpulan gadis remaja dan ahjumma sedang mengobrol. Menunjukkan lekukan tubuhnya yang kekar dan sempurna, membuat gadis-gadis belasan tahun sampai para ahjumma yang disana terpukau dengan keseksian tubuhnya. Banyak diantara gadis remaja itu sengaja bersiul menggodanya. Ada pula beberapa ahjumma yang sengaja mengedipkan matanya genit dan membicarakan kekagumannya. Lee Min Ho hanya tersenyum geleng-geleng melihat perlakuan mereka. Ia memberi senyuman balik pada gadis-gadis dan ahjuma yang membuat mereka teriak histeris.

Ia memasuki ruang sauna yang dipesan khusus untuknya sendiri. Dipijat bagian atas punggungnya yang agak pegal. Sesekali ia stretching melemaskan otot tubuhnya agar tidak kaku. Lee Min Ho mengubah posisinya agak santai. Sejenak ia memejamkan mata supaya rileks menikmati suhu panas ruangan tersebut. Dibiarkan keringat yang semakin banyak mengalir turun ke dadanya. Ia tak menyadari beberapa ahjumma dan para gadis tadi sedang berebut mengintip dirinya dari jendela ruangan.

“Ya ahjumma! Gantian. Kami juga ingin lihat ” seru beberapa gadis mencoba merebut posisi ahjumma yang tengah asyik mengintip dari jendela.

“Hey anak muda. Kalian belum cukup umur melihat ini”.

“Benar, tontonan ini hanya untuk wanita dewasa!!”

“Lebih baik kalian pulang dan belajar di rumah” ujar beberapa ahjumma tak mau geser dari posisinya. Jelas saja membuat gadis-gadis itu kesal dan mendorong tiga ahjumma tadi. Mereka rebut posisi tadi dan mengintip Lee Min Ho yang tengah rileks memejamkan mata dengan bentuk tubuhnya yang sangat sexy. Di antara mereka ada yang berteriak sangat histeris, “Kyeoptaaaaa so sexy…”

“Lihat absnya membuat jantungku berdebar. Aku mimisan, sepertinya ingin pingsan. Freeze..Freeze”

“Dasar anak-anak tidak sopan” bangkit ketiga ahjumma tadi dengan kekuatan penuh balik mendorong para gadis dan berhasil kembali merebut posisinya. “Jangan macam-macam, dia milik kami” ancam beberapa ahjumma tadi. Tak mau kalah, beberapa gadis pun kembali mendorong ketiga ahjumma sampai akhirnya mereka melakukan dorong-dorongan (?) dan terjadilah kericuhan hebat antara kumpulan wanita berbeda usia itu.

***

Di sebuah taman bermain. Siwon dan Tiffany duduk bersama di kursi panjang mengamati Jiwon yang tengah asyik bermain perosotan. “Oppa..Noona aku disini” Jiwon melambaikan tangannya kegirangan. “Bermainlah sepuasnya. Hati-hati” balas Tiffany melambaikan tangan sembari mengeluarkan senyumnya. Sementara Siwon di sampingnya hanya tersenyum manis pada adiknya itu.”Dia terlihat sangat senang” gumam Tiffany.

“De, aku senang melihatnya”

“Oppa, kau mengajakku kesini karena ada yang ingin kau sampaikan. Apa itu sesuatu yang penting? Katakan sekarang saja”

“Ah ne. Sebenarnya aku hanya ingin mengatakan..” jawab Siwon menggantung. “Mwo?!”

“Sebenarnya aku hanya ingin mengatakan kalau dia sudah kembali. Aku bertemu dengannya di kantor” jawab Siwon yang membuat Tiffany penasaran. “Nuguya? Kau bicara setengah-setengah oppa!”

“Im Yoona. Aku bertemu lagi dengannya. Dia akan bergabung dengan Track Fast” ucap Siwon lirih. Tiffany cukup terkejut dengan apa yang Siwon katakan “Geurae? Bagaimana bisa oppa?”.

“Kami bertemu saat aku mengejar seorang buronan narkoba di Hampyeong. Entah saat itu terjadi apa, aku melihat dia sudah dibekap oleh buronanku. Buronan itu memaksaku untuk menjatuhkan pistol yang kupegang dan membiarkannya pergi atau ia akan menembak mati kepala Yoona. Tapi bukan Yoona namanya kalau dia tak bisa melawan dengan bela diri yang ia miliki. Ia berhasil membekuk buronan itu” jawab Siwon menggantung.

“Wow, Yoona benar-benar keren. Aku tak bisa membayangkan bagaimana buronan itu dibekuk habis oleh Yoona. Lantas bagaimana ceritanya ia akan bergabung di agensi oppa?”

“Karena hal itu, ia mendapat sebuah penghargaan dari Komandan Kepolisian dan kapten. Ia meminta pada kapten agar dirinya bisa menjadi bagian dari kami. Tapi kapten menolak untuk saat ini. Ia harus menjalani pelatihan terlebih dulu di Jepang baru boleh bisa bergabung di Track Fast”

“Begitukah? Kupikir itu bagus, bukankah selama ini kau sangat merindukan dia oppa? Jika berada dalam agensi yang sama, kalian bisa lebih sering bertemu. Memperbaiki kesalahan yang dulu dan memulai lagi hubungan yang baru, kurasa itu jalan yang baik”

“Benar pendapatmu, tapi aku tak tahu harus berbuat apa. Bertemu dengannya, aku merasa orang yang paling bersalah di dunia. Apalagi setiap melihat bola matanya, dadaku terasa sesak sulit untuk melangkah. Dia sangat membenciku” jawab Siwon lesu. Tiffany tersenyum memandangnya. Dieratkan telapak tangannya di atas punggung tangan Siwon, ia mencoba memberi solusi masalah namja ini.

“Itu hanya sugestimu oppa. Aku yakin, dia tak mampu menyimpan kebencian selama itu apalagi dulu kau pernah menoreh kenangan indah sebagian hidupnya. Oppa tak usah merasa bersalah, jika dia masih membencimu dia tak mungkin mengambil pelatihan itu. Bersikaplah seperti pertama kali kau mengenalnya. Aku doakan kalian bisa bersama lagi seperti dulu^^”

“Fany ah, gomawo” Siwon tersenyum tergurat dari wajah Siwon. Ia membalas dekapan tangan dari yeoja itu.

***

Cukup kewalahan menenangkan huru-hara yang terjadi di Jjimjilbang. Bukan karena tak kuat, Lee Min Ho mencoba melerai pertengkaran tapi dirinya yang menjadi kambing hitam. Tubuhnya menjadi sasaran empuk untuk rebutan para wanita-wanita yang dibuat gila seketika olehnya. Mereka berebut satu sama lain untuk memeluk bahkan sampai mencoba mencium wajahnya. Kejadian teramat horor (?) yang ia alami sepanjang hidupnya.

Lee Min Ho kini dapat duduk tenang di dalam mobilnya. Nafasnya masih memburu kelelahan atas kejadian tadi. “Beginilah nasib menjadi pria tampan, huft” ia menggembungkan mulutnya menatap kaca spion mobilnya. Ia mencoba menghirup nafas lega, tapi apa yang ia lihat dari balik kaca spion membuatnya kalang kabut. Puluhan wanita yang membuat keributan tadi ternyata mengikuti dirinya sampai ke parkiran mobil. Dengan cepat Lee Min Ho menancap gas sebelum habis diburu wanita-wanita “girang”.

“Apa-apaan ini? Mengapa aku harus menderita punya wajah tampan seperti ini?!” (nikah sama aku aja yuk bang biar ga menderita *plakk #author error)

Sepanjang perjalanan detak jantungnya terus berdegup membayangkan kengerian yang terjadi jika ia diserbu wanita-wanita itu. Diputarnya keras-keras music playlist dalam mobilnya guna menghilangkan pikiran buruknya.

Tenggorokannya agak gatal, kerongkongannya butuh dialiri sesuatu. Ia memarkirkan mobilnya ke pinggiran suatu mini market. Dengan gaya coolnya yang masih tersisa, ia masuk ke market kecil itu. Ia membeli sebotol air mineral dan beberapa cemilan. Entah karena kejadian tadi, perutnya meminta nutrisi yang lebih banyak. Saat ia meraih sebatang coklat, tangan seseorang juga berusaha meraih benda yang sama. Keduanya tersentak kaget dan saling menatap wajah masing-masing. “Oppa..” lirih gadis itu.

“Miyoung ah…” keduanya saling menatap bisu. Lee Min Ho masih memegang tangan mulus yeoja dan coklat yang tadi. “Ah kau ambil saja..” gumam yeoja itu dan mencoba mengalihkan pandangan.

“Ani, buat kau saja. Ambillah..” Lee Min Ho menyerahkan coklatnya. Tanpa disadari ia kembali memegang tangan yeoja itu. Mata keduanya langsung mengarah ke kedua tangan mereka yang saling bersentuhan, tapi tak ada reaksi yang terjadi. Manik mata yeoja itu fokus menatap dalam bola mata Lee Min Ho. Saat itu juga seorang gadis kecil mendatangi mereka menyadarkan keduanya. “Noona, mana coklatku?”. Buru-buru Lee Min Ho melepas pegangannya, “Mianae..”

“Ne, gwaencana” singkat yeoja itu, tak lain adalah Tiffany. “Jiwon, ini untukmu. Kajja kita pergi” Tiffany mengambilkan sebatang coklat untuk Jiwon dan mengajak gadis kecil itu pergi dari market tersebut. Belum kakinya melangkah, tangan Lee Min Ho menahannya untuk berhenti, “Tunggu Miyoung ah…”

Tiffany memutarkan wajahnya menatap sungkan Lee Min Ho, “Gwaencana?!”

“Ani..Aku..” Lee Min Ho ingin mengucapkan sesuatu namun mulutnya tiba-tiba terasa terkunci.

“Mianeyo oppa, aku sudah ditunggu. Aku harus pergi” Tiffany melepaskan pegangan Lee Min Ho dengan pelan kemudian meraih tangan kecil Choi Jiwon. “Kajja, kita pulang”. Buru-buru Tiffany menggandeng Jiwon ke kasir untuk membayar, “Kembaliannya ambil saja noona” Tiffany mempercepat langkahnya, Lee Min Ho yang masih di dalam tak begitu saja tinggal diam. Dia berlari mengejar Tiffany, “Miyoung ah.. I Miss You”.

Tiffany menghentikan langkahnya sejenak mendengar perkataan Lee Min Ho. Ingin sekali menolehkan wajahnya ke belakang dan mengatakan hal yang sama, tapi seseorang dalam mobil sudah menunggunya, “Fany ah..Kajja”. Tiffany mengurungkan niatnya, tanpa menoleh ke arah Lee Min Ho sedikitpun ia masuk ke dalam mobil Porsche Light Silver.

Lee Min Ho memandangnya dengan pilu. Besar keinginannya gadis itu mengucapkan kata yang sama. Ia memperhatikan langkah Tiffany sampai masuk ke sebuah mobil. Lee Min Ho menatap bulat mobil yang Tiffany tumpangi, sepertinya mobil itu sangat familiar dan sering ia temui di kantor. Matanya membelalak saat sang pemilik mobil membuka kaca depan dan tersenyum pada Tiffany. Tak salah lagi ia, Choi Siwon…Apa hubungannya dengan Miyoung?

***

Puluhan security telah berjejer rapi sepanjang pintu keluar Incheon Airport. Para pria berbadan kekar dengan setelan jas hitam sudah siap bertugas mengawal kedatangan seseorang yang cukup penting di negara ini. Jam 2.30 PM waktu KST, untuk sementara sepanjang pintu keluar 1 dinetralisir terlebih dahulu dari orang-orang sipil. Seseorang dengan menggunakan pakaian formal, berkacamata biru dengan gayanya yang necis melenggang santai dikawal beberapa pria bertubuh kekar. Puluhan security serempak memberi hormat saat pria itu lewat dihadapan mereka. Tanpa memberi penghormatan balik, pria itu hanya melambaikan tangan dan menyambut dengan senyumnya. Para pengawal mengiringi sampai orang yang dihormati itu masuk ke sebuah Range Rover yang sudah menunggunya. “Annyeonghaseyo Choi Sajangnim” seseorang pria setengah baya menyambutnya dalam mobil. “Annyeonghaseyo Manager Ban” sapanya kemudian duduk disamping pria setengah baya itu.

“Sudah lama tak bertemu dengan Anda Choi Sajangnim” Manager Ban menjabat tangannya. “Ne, kira-kira setahun lamanya kita tak bertemu. Bagaimana keadaan perusahaan, aku dengar tidak ada masalah sedikit pun”

“De, kami berusaha menjaga perusahaan Anda. Kami sangat mencintai Hyundai dan bekerja dengan sungguh-sungguh, jadi tak ada masalah sedikit pun yang terjadi hehe. O ya, apa Anda sudah makan Choi sajangnim. Kita sudah menyiapkan restoran untuk menyambut kedatangan Anda”

“Gomawo. Tapi aku ingin mampir sebentar ke kantorku terlebih dulu, baru nanti kita bisa makan siang di tempat yang sudah kau siapkan”

“Gwaencana, jarak restoran dan Hyundai tak terlalu jauh. Jadi silakan Anda mampir ke kantor terlebih dulu” senyum Manager Ban menunjukkan rambut kumisnya yang tebal.

“Apakah kalian sudah menyiapkan untuk persiapan kampanye?”

“Ne, semua sudah beres. Bahkan kami sudah menyiapkan beberapa baliho besar yang siap dipasang di beberapa titik kota. Kami sangat mendukung langkah Anda sajangnim”

“Jeongmal gomawo Manager Ban. Semoga saja dengan jalanku masuk ke dunia politik dapat membawa pengaruh  besar untuk perekonomian kita dan negeri ini. Ah bisa kulihat contoh poster baliho ku seperti apa”

“Ne, haseyo..” Manager Ban menyerahkan sebuah PC tablet pada Choi Sajangnim. Raut muka Choi Sajangnim tersenyum saat melihat beberapa contoh poster yang memuat gambarnya. “Ini sangat bagus Manager Ban” kagumnya seraya menggeser touchscreen tablet. Di pandangnya salah satu contoh poster yang paling menarik menurutnya, sebuah tulisan yang membuat ia bangga. “Choi Seunghyun, membawa perubahan untuk Korea”

***

Dalam penjara Track Fast, Bryan Woo tengah dibekap sendiri dan dihakimi oleh seorang algojo. Dua lingkaran lebam telah menghiasi wajah bulatnya. Ujung bibirnya memerah bekas aliran darahnya akibat pukulan algojo. Kesehariannya ia diperlakukan seperti itu jika sesekali ia merusuh dan membuat keributan. Meski kelihatan tidak manusiawi, hanya itu yang bisa algojo lakukan untuk menghentikan aksi kebrutalannya di dalam ruangan yang cukup gelap atau sering disebut penjara.

Kim Dong Wook memasuki ruang  penjara berniat untuk menginterogasi Bryan Woo. Siwon dan Lee Min Ho mengiringinya dari belakang tanpa saling bertukar kata. Kini Dong Wook tepat berada di posisi Bryan Woo yang terkapar akibat pukulan algojo.

“Sebenarnya aku sangat kasihan melihatmu seperti ini. Tapi itu salahmu sendiri, tak ada cara lain selain kekerasan. Coba kau bersikap lebih tenang” ujar Dong Wook. Bryan Woo tertunduk lesu, sama sekali tak segan menatap wajah Dong Wook.

“Aku datang kesini baik-baik. Aku hanya ingin Kau bertindak kooperatif. Jika kau mengatakan yang sebenarnya, hukumanmu akan lebih ringan dibanding seperti yang kau terima saat ini. Jadi berkatalah jujur, kau bekerja untuk siapa?”

Bryan Woo tak mau bergeming. Suara Kim Dong Wook ia abaikan bagaikan angin lalu. “Kau bekerja untuk siapa Bryan Woo?” ujar Dong Wook sekali lagi sembari meletakkan tangannya ke wajah Bryan.

“Ssshit..Kau bekerja untuk siapa hah?!” Kim Dong Wook kehilangan kesabarannya. Ditarik kerah baju Bryan Woo kuat-kuat seraya menatap sangar lelaki itu. “Aku tak mau menggunakan kekerasan, tapi kau yang meminta sendiri. Algojo urus dia, lakukan agar ia angkat bicara”

Tanpa basa-basi algojo menyambut pekerjaannya dengan senang hati. Lagi-lagi Bryan Woo dipukuli sampai babak belur. Meski hampir mati, lelaki itu masih mengunci mulutnya. Dari belakang Siwon dan Lee Min Ho menatapnya cukup prihatin. Mereka tak bisa melakukan apa-apa selain menyaksikan tubuh Bryan Woo yang semakin hancur.

“Cukup, hentikan” Dong Wook mendekati tubuh Bryan yang sudah terkapar di tanah. “Aku tanya sekali lagi, kau bekerja untuk siapa? Jawablah jika tidak, lukamu akan semakin parah”

“Huh, pentingkah aku menjawab?” Bryan mulai mengeluarkan suara.

“Baiklah kau tanggung sendiri akibatnya”

“Aku lebih baik mati daripada harus mengucapkan nama bosku. Dia yang mengayomi kami selama ini. Bodoh kalau aku membocorkan rahasianya” ujar Bryan Woo dengan santai. Kim Dong Wook diam, ditatapnya wajah Bryan lalu ia berbalik untuk pergi. Saat mau melangkah, Bryan Woo menendang kakinya sampai mengenai bekas luka yang ada di betisnya.

Dong Wook langsung membalik arah dan menatapnya tajam. Dihantam kepala Bryan Woo dengan keras. Emosi Kim Dong Wook membara. Ia ambil sepucuk pistol yang bertandang di celananya. Ia hampir menarik pistolnya dan menembak kepala Bryan Woo. Dengan cepat Lee Min Ho mencegah tindakan emosi Dong Wook yang mulai kelewat batas, “Tunggu Kapten, tahan emosimu. Kita tak dapat apa-apa jika bajingan tengik ini mati ” Lee Min Ho langsung membekap tubuh Dong Wook supaya ia tak meluncurkan pelurunya ke kepala Bryan.

“Jangan bertindak gegabah, dia harus tetap hidup supaya kita tahu siapa dalangnya” Lee Min Ho menenangkan emosi Dong Wook. Yang diucapkan Lee Min Ho benar, mereka tak dapat info jika Dong Wook membunuh bajingan itu. “Ne, aku tahu” emosi Kim Dong Wook mereda. Ia meletakkan kembali pistolnya. “Aw..” rengek Dong Wook memegang betisnya yang terluka.

“Sebaiknya kita pergi. Biarkan dia merenungkan nasibnya, kita lihat saja sampai kapan ia bisa bertahan. Lebih baik kita obati lukamu, kajja kapten kita pergi” Lee Min Ho memapah tubuh Dong Wook keluar dari ruangan. Mereka tinggalkan Bryan Woo yang terkapar dengan darahnya yang terus mengalir dari hidungnya. Lee Min Ho dan Dong Wook melewati Siwon yang sedari tadi terdiam. Mereka berlalu tanpa melirik sedikitpun Choi Siwon yang berdiri mematung di depan pintu. Siwon mendatangi tubuh Bryan yang terkapar tak bisa lagi bergerak. Ditatapnya lelaki itu cukup prihatin, “Algojo, bersihkan lukanya. Pastikan ia tak jadi bisu setelah ini” Siwon memanggil algojo yang duduk di tempatnya. “Arraseo..” algojo mengiyakan perintahnya. Siwon tak cukup banyak reaksi, ia langsung pergi meninggalkan ruangan yang seperti neraka.

***

Di pelatihan militer Jepang, Yoona terus berlatih dengan semangatnya. Setiap hari ia dilatih fisiknya dan belajar bagaimana menjadi seorang agen mata-mata. Ia tekuni baik-baik setiap materi yang diberikan oleh pelatih. Siang malam peluh dan lelah yang ia keluarkan tak menggoyahkan sedikit pun semangat belajarnya. Ia hanya tidur kurang lebih 3 jam sehari di kamar barak yang disediakan. Meski jam tidurnya tidak wajar seperti pada umumnya, ia masih kuat menahan kantuk karena setiap hari ia mengonsumsi vitamin yang diberikan oleh Kapten Dong Wook saat keberangkatannya ke Jepang. Semangatnya termotivasi karena ia ingin sekali bergabung dengan Track Fast. Dendam kematian ayahnya yang selama ini ia pendam juga salah satu motivasinya untuk berlatih lebih bersemangat dan tidak mengeluh setiap kali latihan.

3 bulan kemudian

Rasanya baru kemarin Yoona meninggalkan Korea untuk pelatihan di Jepang. Kini kakinya sudah menginjak kembali tanah Korea dengan ilmu yang sudah ia kuasai selama pelatihan. Tiga bulan lamanya ia menunggu waktu yang paling dinantikan seperti sekarang. “Huh lama tak menghirup udara ini” Yoona menghembuskan nafasnya dalam-dalam.

Ia berjalan menuju pintu keluar sambil menenteng kopernya. Dengan santainya ia berjalan seraya mengguratkan senyumnya karena sudah kembali dengan selamat ke tanah Korea yang ia cintai. Langkahnya ia hentikan di ruang tunggu bandara. Kim Dong Wook sudah member tahu, ia akan dijemput seseorang.

Sambil menunggu, ia mengesap botol air mineral. Diambil foto keluarganya dari dalam tas pinggangnya. Ia tatap foto yang sudah lusuh itu dengan senyum. Foto yang memuat gambar kecilnya saat berumur dua tahun bersama ayah dan ibunya. Diambil lagi foto ayahnya yang sendiri dari dalam tas. “Appa, aku kembali ke Korea. Selama tiga bulan di Jepang, aku berlatih dengan semangat agar aku bisa bekerja di Track Fast. Aku ingin sekali bekerja disana. Appa jaga eoma di surga, karena aku sudah di Korea aku akan mencari tahu dimana Choi Wo Bin. Aku akan membayar kematianmu, bersabarlah aku pasti menemukannya” Yoona mencium kedua foto itu.

Yoona menaruh kembali foto tadi ke dalam tas pinggangnya. Dilihatnya sepasang kaki yang ada didepannya terus berlanjut ke bagian tubuh yang paling atas. Ia terkejut saat melihat pemilik tubuh yang kini dihadapannya. “eee…Kau! Sudah lama disini?” tanyanya pada seorang namja di depannya, tak lain tak bukan adalah Siwon.

“Ani, baru saja aku datang”

“Kau yang ditugasi untuk menjemputku?”

“Ne” singkat namja itu yang sedari tadi ekspresi mukanya datar.

“Kajja kita pergi” ajak Yoona. Siwon meraih koper yang Yoona bawa, namun tangannya ditahan oleh gadis itu “Biar aku saja yang bawa”

“Aku saja, kau pasti kelelahan”

“Gwaencana, aku saja yang bawa..” tutur Yoona memaksa namun Siwon langsung menggeret kopernya dan berjalan mendahului. “Sudahlah, ikut aku”

Yoona tak bisa bertindak apa-apa lagi. Ia berjalan menuruti namja itu. Sambil berjalan hatinya terus berperang, “Ya Tuhan mengapa harus dia..”

“Masuklah” perintah Siwon. Yoona membuka pintu belakang mobil namun ia ditahan oleh Siwon. “Jangan di belakang, duduk disini saja” ia membuka pintu mobil depan.

“Biar aku duduk di belakang saja”

“Aku minta duduklah di depan, jangan membantah” Siwon  menutup pintu belakang mobil. Kini ia berdiri berhadapan dengan Yoona. Mata mereka saling memandang. Yoona cepat-cepat mengalihkan dan akhirnya ia menurut duduk di depan samping kemudi. Siwon kembali membuka pintu Porsche Light Silvernya dan duduk di kursi kemudi. Sejenak ia memandang Yoona yang membuang mukanya menatap luar. Tanpa memperhatikan lagi, Siwon mulai menghidupkan mesin dan melajukan mobilnya.

Sepanjang perjalanan, kedua insan itu tak saling menyapa. Hanya menanyakan kabar karena lama tak bertemu sama sekali tak terucap dari kedua bibir mereka. Tapi dalam hati keduanya saling berperang. Rasa canggung dan sebenarnya ingin menanyakan kabar masing-masing mereka pendam dalam-dalam di hati mereka. Siwon sesekali mengamati wajah Yoona yang masih menghadap kaca luar sambil mengemudi. Di dalam hatinya ingin sekali ia berbincang dengan gadis ini. Gugup yang ia rasa terlalu lama ia simpan. Dikumpulkan rasa percaya dirinya untuk mulai bicara dengan Yoona. “Emm lama tak bertemu, bagaimana kabarmu selama ini” tutur Siwon gugup. Yoona masih betah dengan posisinya, belum segan ia menjawab pertanyaan Siwon yang membuat namja itu cemas menunggu.

“Apa kau senang dengan pelatihannya?” tanya Siwon sekali lagi dengan ragu-ragu. Kali ini Yoona balik menatapnya. Wajah mereka kembali bertemu. “Jangan menatapku seperti itu. Fokuslah pada kemudimu” jawab Yoona.

“Ah ne, mianae” Siwon segera memalingkan wajahnya menghadap ke depan. Yoona memandangnya masih dalam diam tanpa ekspresi.

“Yoong..Apa kau masih marah denganku?” tiba-tiba Siwon menanyakan demikian. Bibirnya tak bisa menahan apa yang dirasakan oleh hatinya. Yoona tertegun mendengarnya. Ia tatap wajah pria itu dengan perasaan campur aduk. “Untuk apa aku marah denganmu” jawabnya singkat. Siwon balik menatapnya, sesekali Yoona melirik namun ia segera menghadap ke depan.

“Kalau begitu, mengapa kau seperti ini?”

“Memangnya seperti apa aku sekarang. Aku rasa tidak ada apa-apa, aku biasa saja”

“Kau terlalu kaku bertemu denganku. Kalau kau masih marah, aku minta maaf. Jujur selama ini aku selalu memikirkan hal itu. Aku tak bisa tidur karena memikirkan kesalahanku”

“Sudahlah, tak perlu dibahas lagi. Lagipula aku sudah melupakan semuanya” Siwon terdiam mendengarnya. Ia menghentikan laju mobilnya dan kini menatap Yoona lekat.

Yoona sempat kaget saat Siwon menghentikan mobilnya. Diliriknya namja itu yang kini sudah memandangnya dengan tatapan penuh arti. “Aku mohon maafkan aku Yoong” lirih Siwon masih menatap Yoona. Gadis itu masih tak berpaling wajahnya malah menatap kaca luar.

“Yoong, kumohon jawablah. Tolong terima maafku” ungkap Siwon dengan nadanya yang memelas.

“Sudah kumaafkan. Jangan merengek seperti itu, kau terlihat cengeng” gumam Yoona.

“Gomawo Yoong. Aku tak tahu harus berkata apa lagi”

“Sudahlah, aku juga salah karena memperlakukanmu sangat dingin oppa”. Siwon terperanjat mendengar Yoona memanggilnya “oppa”. Ada rasa bahagia yang terbenak di hatinya. Yoona memalingkan mukanya dan menatap Siwon, “Yang lalu biarlah berlalu” ungkapnya tanpa ia rasa bibirnya menyunggingkan ke Siwon meski tak tergambar jelas. Siwon memperhatikan raut muka Yoona. Ia artikan wajahnya dan sempat menangkap kalau Yoona tersenyum padanya. Siwon membalas senyumnya dengan ragu-ragu. “Yoong, aku merindukanmu”

Yoona tersentak mendengarnya, langsung ia palingkan wajahnya bersikap tidak terjadi apa-apa. Siwon mendekatkan tubuhnya. Telapak tangannya mulai menyentuh tangan Yoona. Gadis itu gusar saat mengetahui ada benda yang menyentuh tangannya. Segera ia melepaskan pegangan Siwon dan menyilangkan kedua tangannya.

“Ah, mianae Yoong” Siwon segera tersadar mengembalikan posisi duduknya. Namun matanya masih tertuju pada Yoona. Gadis itu membetulkan posisinya “Gwaencana” ucapnya tak segan menatap Siwon.

Siwon kembali menyalakan mesin dan melajukan mobilnya. Hatinya terus bergenderang dengan perasaan dilema. Ia terus mencuri-curi pandang menatap Yoona. Merasa di perhatikan terus-menerus Yoona sedikit mengubah posisi duduknya. “Aku mohon fokuslah mengemudi” gumamnya tanpa memandang. Ciiiit!!! Bunyi rem mendadak mobil yang mereka tumpangi. Siwon dengan sengaja menghentikan mobilnya yang membuat Yoona terkejut bukan main.

“Waegurae?”

“Mianae, aku tak bisa fokus mengemudi karena aku terus memikirkanmu”. Yoona memandang wajah Siwon kelu. Ingin sekali ia memarahi Choi Siwon yang hampir membuat jantungnya copot.

“Yoong…” Siwon mengambil tangan Yoona dan ia letakkan di atas dadanya. “Mianae, rasakan detak jantungku. Aku tak bisa fokus karena aku tak bisa berhenti memikirkanmu”. Yoona mencoba melepaskan pegangan kuat tangan Choi Siwon. “Lepaskan tanganku..”

“Tolong rasakan sekali saja detak jantungku. Aku tak bisa menahan semua ini”

“Jangan paksa aku, lepaskan tanganku oppa..” Yoona mulai berontak. Tangan Siwon terlalu kuat memegang tangannya yang lebih kecil. Siwon memegang lebih erat lagi tangan Yoona dan ia letakkan tepat di posisi jantungnya yang berdetak. “Aku mohon rasakan ini sebentar saja Yoong”

“Sebenarnya apa yang kau mau dariku. Aku bukan siapa-siapamu, lepaskan tanganku!!” gertak Yoona masih mencoba melepaskan pegangan erat tangan Siwon.

“Aku masih mencintaimu Yooong…!!” seru Siwon kali ini suaranya lebih keras. Yoona berhenti memberontak sejenak. Ia tertegun dengan apa yang Siwon ucapkan. “Lepaskan tanganku, aku ingin  keluar!!” Yoona kembali memberontak namun Siwon tetap pada pegangannya. “Apa kau masih mencintaiku Yoong?”

Yoona menatap Siwon tajam. Ia terus memberontak. “Lepaskan aku, aku ingin keluar!!”

“Kumohon jawab dulu pertanyaanku” Siwon masih memaksa ia tak mau melepaskan tangan Yoona. PLAAAK!!! Tangan kiri Yoona berhasil mendarat di pipi Siwon. Ia menampar keras wajah namja itu. Siwon terkejut dengan perlakuan Yoona. Saat itu juga ia melepaskan tangan kanan Yoona. “Kau ingin tahu jawabannya?? AKU SANGAT MEMBENCIMUU!!” teriak Yoona langsung memencet tombol otomatis pengunci pintu dan langsung berlari keluar.

Siwon terdiam mendengarnya. Ia tak bisa menghentikan Yoona. Ia biarkan gadis itu pergi dan menatapnya nanar. Kata-kata terakhir yang ia dengar sangat memukul hatinya sampai ia tak bisa berkata-kata apa lagi. Dengan tatapan kosong ia melihat Yoona yang pergi menjauh ke seberang jalan. Ia terus mengikuti arah pandangnya pada yeoja itu yang makin berlalu.

Hatinya bergejolak tak mampu menahan rasa sakit. Siwon membuka pintu mobil dan berlari mengejar Yoona. Gadis itu belum menyadari kalau Siwon berlari mengikutinya. Yoona berhenti di persimpangan jalan. Ia melangkah berjalan ke seberang, namun saat itu juga sebuah motor tengah melaju kencang dari arah yang berlawanan. Siwon yang membelakangi Yoona terkejut saat melihat motor melaju kencang dari arah yang berlawanan dengan Yoona.

“Yoong!!! Awaas….”

To Be Continued

 

Preview next Chapter

“Annyeonghaseyo Im Yoona imnida”

“Selamat bergabung di Track Fast”. “Ne, gamsahamnida, mohon bimbingannya”

“Lee Min Ho imnida”

 

“Senang mengenal Anda”

 

“Dia bukan siapa-siapa lagi, mengapa aku harus cemburu?”

 

“Kau masih menyimpannya?!”

 

“Akhirnya, aku menemukan satu petunjuk”

 

“Im Jaeji……..”

 

Please, leave your comments anymore

Tinggalkan komentar

117 Komentar

  1. lanjuuuut thor makin seru ajaaaaa

    Balas
  2. (ratihfresh)

     /  September 13, 2013

    lanjut dong……, penasaran kelanjutannya……..

    Balas
  3. Raya

     /  September 14, 2013

    iya penasran min pleasee……
    lanjutt….

    Balas
  4. hadoh… knp sih yoona sikpny gitu pd siwon oppa?? oalah…
    itu apa yg trjdi dgn yoona??

    Balas
  5. tambah seru ceritanya…
    tpi kyanya ff ini tdk dlnjutkan sama authornya syang bgt pdhal crritanya keren..

    Balas
  6. relly

     /  Oktober 27, 2013

    Lanjut thor…. Makin penasaran

    Balas
  7. 30im

     /  November 17, 2013

    Kok jiwon.. manggil tiffany noona ya? Bukan eonni? Trs yoona manggil yuri jg gitu… hehehehe
    Trs kayaknya lee minho punya hubungan sama fany yaa?
    Ayoo..ayoo dilanjuut.. penasaraan ini ;p

    Balas
  8. Lanjutttt. Ceritanya seru, pleaseee lanjutt. Sudah lama ceritanya didiemin. Author, kapan lanjutnya? Ceritanya bagussa kok, seruu. Lanjuuutttt. Ditunggu next chapternya

    Balas
  9. Author, kenapa gak dilanjutin sihh!!! Kan sayang ceritanya didiemin padahal ceritanya keren. Gak seru klo tdk dilanjutin.

    Balas
  10. Lanjuuuuuuuutttttttttttt!!!!!!!!!!!

    Balas
  11. ayu dian pratiwi

     /  Januari 26, 2014

    Lanjutan nya udah ada blm eonni. ? Aku baru ketemu ama ni ff .

    Balas
  12. tia risjat

     /  Januari 28, 2014

    itu appanya yoona kan? jadi gimana nich,,
    aigo… kasian banget wonpa dikepret (apa sich) yoona. sini oppa,, aku ucap2 bial ilang atitnya. he2 (ga penting!!!)
    ini harus dilanjutin ya chingu,, pamali loh, ngerjain sesuatu setengah2.. (bilang aja udah pengen baca). fighting!!!

    Balas
  13. Nurul aida

     /  Februari 9, 2014

    Lnjut dong thorr. Ni ak raider baru npang baca ea…

    Balas
  14. depri

     /  Februari 21, 2014

    ditunggu lanjutannya thor

    Balas
  15. depri

     /  Februari 21, 2014

    ditunggu lanjutannya ya thor. semangat

    Balas
  16. any

     /  April 21, 2014

    Wow, kerennnnn…masih banyak pertanyaan yg blm terjawab nih. Maksudku, pertanyaanku sendiri karna agak bingung aja. Penasaran banget….

    Balas
  17. Mia

     /  Juli 3, 2014

    Keren banget ku tunggu kelanjutanxa

    Balas
  18. wulandari

     /  September 6, 2014

    Omo! Apa yoongie tertabrak,,
    oh jngan sampai itu terjadi,,
    tiffany dan min ho,,aa nnereka mnjalin kasih,,,
    maki seru ection’a
    di tunggu next chaapternya,,

    Balas
  19. raratya19

     /  Oktober 23, 2014

    Duh yoona keras kepala, tapi mungkin sekarang emang yoona belum bisa nerima siwon lagi

    Balas
  20. Cha'chaicha

     /  Oktober 24, 2014

    Mulai menegangkan..

    Balas
  21. Anggita Febrianti

     /  Desember 30, 2014

    author ditunggu chapter selanjutnya…

    Balas
  22. nur khayati

     /  Januari 17, 2015

    Trnyata Yoona gk bisa langsung d terima d agensi Track
    Fast, tp dia hrs ngikutin pelatihan d Jepang dulu slma 3
    bulan,, Ada hubungan apa ya antara Tiffany sama Minho?
    Minho jealous tuh sama kdekatan antara Siwon-Tiffany,,
    Siwon ngungkapin ke Yoona kalo dia masih sangat
    mncintai Yoona, tp Yoona kyk udh mati rasa ke Siwon,,
    Semoga next part.a gk trjdi apa2 sama Yoona,,,

    Balas
  23. Kayak.a bakal ada cinta segitiga,, nich…
    Lanjut,, thor…

    Balas
  24. semoga gak terjadi apa-apa dengan yoona , dan yoona bisa memaafkan wonppa … ditunggu kelanjutannya

    Balas
  25. Riissa Icca

     /  Maret 11, 2015

    Chapter 3 nya kemana nih ?

    Balas
  26. Nur

     /  April 18, 2015

    author kapan di lanjutin ceritanya??

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: