[FF] The Grudging Code – 1st Clue

The Grudging Code – 1st Clue

 (posternya menyusul.. koneksi lagi cacat)

Author             :           Choi Ara

Type                :           Chapter

Chapter           :           One

Genre              :           Action, Romance

Rating             :           PG-17

Cast by            :

  • Choi Siwon
  • Im Yoona
  • Lee Min Ho

Cameo             :

  • Kwon Yuri
  • Choi Wo Bin
  • Im Jae Ji
  • Kim Dong Wook
  • Oh Bang In
  • Bryan Woo
  • Chang Eun Hee

 

Annyeonghaseyo haebaragi..

Welcome back, with author Choi Ara. I changed my Korean name from Choi Yoon Ah to Choi Ara^^ Aku bawain FF yang agak berbeda nih genre Action!!

Ini FF Yoonwon genre action ku yang pertama. Jadi harap maklum kalo kurang greget. Aku juga minta maaf kalo ada beberapa kata yang kurang layak disini, karena menyesuaikan dialog dan setting.

Untuk preview bisa dilihat di blog ku http:// foreveryoonwon.wordpress.com

Langsung aja, happy reading^^..

 

CLUE 1 : ROUND-UP

 

BRAKKK! Pintu terdobrak sangat keras. “Aku tak mau basa-basi. Cepat katakan apa yang kau mau”. Seorang pria jangkung tengah menerawang pemandangan kota Seoul dari atas. Ia sempat melirik kedatangan pria tanggung dari balik kaca mata hitamnya.

Pria tanggung itu mendekat dan kini berdiri di samping persis pria berkaca mata. “Aku tak mengira akhirnya kau datang juga” ujar pria jangkung usai menghela nafas.

“Selama tujuh tahun lebih dan tindakan seperti ini yang kau balas untukku?” nada pria tanggung emosi.

Pria berkaca mata tersenyum seperti meledek. “Heeh..Itu lah yang sering kita sebut karma. Kau lebih dulu mengusik kehidupanku. Bukankah kita mendapatkan yang setara” entengnya. Ia meneguk segelas wine di tangannya. Dengan santai menawarkan segelas yang lain pada pria tanggung itu. “Minumlah terlebih dulu kawan”

“Kau anggap aku apa hah? Dengan bodohnya kau percaya apa yang mereka perbuat mengatas namakan aku? Dimana posisi otakmu selama ini!!” gertak si pria tanggung. Ia tak tahan lagi menahan emosi yang membakar tubuhnya. Gelas yang ditawarkan jatuh ke lantai dan pecah, hasil ekpresi kemarahannya pada pria berkaca mata.

“Sekarang siapa yang berubah? Apa susahnya mengontrol emosi. Kita sudah menerima hal yang sama, mengapa kau terus mengeluh tentang keadilan” ungkap pria jangkung tanpa emosi. Ia malah menyambut kemarahan pria di depannya dengan santai.

“Keadilan katamu? Kau telah membuang putriku entah kemana. Dia telah kehilangan ibunya tapi kau tega memisahkan aku darinya sedangkan dia masih berumur 5 tahun. Apa itu kau sebut keadilan? Bersikaplah secara manusiawi!!”

“Lalu bagaimana dengan istriku yang sampai saat ini masih terbaring koma? Bukankah itu perbuatanmu hah.. Kau tahu betapa sakitnya aku melihat status hidup istriku menggantung seperti itu! Apa yang kulakukan jauh lebih terpuji dibanding perbuatanmu yang amat keji!!” bantah pria jangkung tersulut emosinya.

“Sudah berulang kali kubilang, aku dijebak. Ini bukan perbuatanku. Mereka sengaja memakai mobilku untuk menabrak istrimu. Ada orang yang ingin mengadu domba kita. Tolonglah percaya, Wo Bin!!

“Bagaimana aku harus percaya. Sedangkan aku melihat dengan kepala mataku sendiri, kau memakai baju yang sama waktu itu dengan si pelaku. Kau tahu betapa sakitnya saat kau menusukku dari belakang. Inikah tujuanmu dari dulu?”

“Wo Bin, percayalah aku bukan pelakunya. Aku yakin istrimu akan cepat sembuh, tapi bagaimana dengan anakku? Dia sendirian tanpa orang tua dan pasti sangat ketakutan. Kumohon beri tahu aku dimana kau membawanya” ujar Im Jae Ji, pria tanggung itu memelas.

“Dasar egois. Kau tahu, aku sudah menembak kepala anakmu!! Kau puas?”

“Apa maksudmu?! Kau telah membunuh anakku. Bajingan kau!!”. Sepertinya emosi sudah tak bisa dibendung oleh Im Jae Ji yang lebih temperamental itu. Kegeramannya memuncak hingga ia menarik kerah baju Wo Bin. Matanya menyeringai sangat dekat dengan wajah lawannya. “Cepat katakan, kalau kau benar-benar tidak membunuh putriku. Dia masih hidup kan hah..Cepat katakan atau..”

“Atau apa hah, kau akan membunuhku juga? Silakan. Itu akan membuktikan bahwa kau yang lebih keparat dari aku” balas Choi Wo Bin enteng.

“Kau…”

DOR! Sebuah timah panas dengan kecepatan tinggi kini tepat bersarang di Im Jae Ji. Matanya membulat mengerikan. Darah segar mengalir dari dada sebelah kirinya. Dari mulutnya juga keluar cairan hangat yang sangat kental. Ia jatuh tersungkur di dekapan Choi Wo Bin.

Sementara, Choi Wo Bin panik dengan apa yang terjadi di hadapannya. Kejadian itu sangat cepat melintas dari pandangannya. Dengan sigap ia meraih tubuh orang di depannya yang kini tersungkur di lumuri darah. Sebuah tembakan berasal dari arah belakang membuatnya kalang kabut. Ia melihat seorang tersenyum licik padanya seraya menarik revolvernya. “Bodoh, kau tak percaya dengan sahabatmu sendiri” katanya kemudian pergi. Choi Wo Bin terbakar emosinya. Ia tahu betul pemilik wajah bajingan yang telah menembak sahabatnya itu. Ingin sekali mengejar dan membalas, tapi ia teringat dengan Im Jae Ji yang tengah sekarat. Ia tak ingin meninggalkan sahabatnya sendiri terkapar mengenaskan. Mata hatinya sudah dibukakan, ia tahu semuanya sekarang. Benar kata Im Jae Ji, mereka dijebak.

“Im Jae Ji, kau tak boleh mati. Aku sudah tahu semuanya, tolong jangan pergi. Kasihan putrimu” rengek Choi Wo Bin memeluk tubuh Im Jae Ji yang sekarat. “Benarkah? Putriku masih hidup”

“Ne, aku benar-benar tak membunuhnya. Ia ku kirim ke sebuah panti asuhan. Kumohon kau jangan mati. Aku telah menyadari kesalahanku, kita memang dijebak. Maafkan aku”

“Terlambat Wo Bin. Aku sudah berada di ambang pintu kematian. Aku hanya minta bantuanmu. Temukan kembali putriku dan rawat baik-baik. Aku percaya padamu” lirih Im Jae Ji.

“Aku akan melakukan apapun yang kau mau, tapi bertahanlah Jae Ji. Kau harus tetap hidup!!” erang Wo Bin.

“Choi Wo Bin, kau satu-satunya sahabat terbaikku. Di dunia ini hanya kau yang kupercaya. Terima kasih karena kau telah menyadari semuanya. Tapi kumohon, penuhi satu permintaanku. Jaga putriku baik-baik. Sudah tak ada waktu untukku bertemu dengannya”

“Jangan bicara bodoh. Kau tak akan mati dengan cara seperti ini!!” erang Choi Wo Bin menarik tubuh Im  Jae Ji. Air matanya tak sengaja mengalir mengenai muka  orang yang terbaring dalam dekapannya.

“Jangan menangis, Wo Bin yang ku kenal bukanlah pria cengeng. Kelak kita akan bertemu di dunia yang berbeda, jadi tetaplah menjadi sahabatku. Choi Wo Biiin” itulah kata-kata terakhir yang terucap dari mulut Im Jae Ji sebelum menghembuskan nafas terakhir. Tangannya yang mulai kaku sempat menyentuh pipi Choi Wo Bin untuk menyeka air matanya.

Sangat terpukul, kini yang dirasakan Choi Wo Bin. Ribuan penyesalan kini bergelanyut di hatinya. Ia masih berpikir mengapa dengan teganya ia melukai hati sahabatnya sendiri. Begitu bodohnya ia dijebak, tak percaya dengan Im Jae Ji yang sudah menjadi sahabatnya selama tujuh tahun ini. Mengapa ia begitu bodoh? Kini ia tersadar dengan semua yang telah terjadi. Ia sudah mengetahui dalang dibalik kesalah pahaman ini. Semuanya sudah jelas, Choi Wo Bin harus membalas apa yang dilakukan si brengsek itu.

“Brengsek ternyata kau dalang di balik semua ini. Aku tak bisa menerima apa yang kau lakukan” gerang Choi Wo Bin. Emosinya terbakar. Bayangan seorang bajingan kini terngiang di otaknya. Ia meraih sebuah revolver sebelum ia melakukan penghormatan terhadap jasad sahabatnya. “Im Jae Ji, maafkan aku. Semoga kau tenang di alam sana” Choi Wo Bin membaringkan jasad Im Jae Ji dengan hati-hati kemudian bergegas pergi untuk menemui bajingan yang telah membunuh Im Jae Ji. “Aku menyaksikan sendiri di depan mata, sahabatku terbunuh dengan cara yang sangat keji. Apapun itu akan kubalas semua perbuatanmu dan bersiaplah kukirim kau ke neraka”

Sangat terburu-buru Choi Wo Bin menuruni tangga, ia tak sabar untuk menghantam peluru dari revolvernya di kepala bajingan tengik itu. Sesampainya di sebuah ruangan, ia mendobrak keras pintu ruangan tersebut. “Kurang ajar, terkutuk kau brengsek. Pergilah ke nerakaaaa…” Clek! Choi Wo Bin langsung mengarahkan pucuk revolvernya ke wajah seorang pria di depannya. Tapi apa yang terjadi, lima kali ia menekan trigger revolvernya tak satu pun peluru yang keluar mengenai tubuh pria tengik itu.

Wajahnya kini berubah pucat pasi. Sontak saja membuat pria tengik itu menertawakannya sangat keras. “Hahaha kau datang menyerahkan nyawamu juga bodoh?” ejek pria itu seraya menepukkan tangan. Ia berjalan mendekat ke arah Choi Wo Bin dan kini kedua wajah mereka terpaut sangat dekat.

“Kau ingin bermain-main denganku bos?” bisik pria itu tepat di telinga Choi Wo Bin. Yang tadinya bermuka ganas, kini wajah Choi Wo Bin berubah kemerahan. Bibirnya sangat pucat dan keringat dingin mengalir membasahi sebagian tubuhnya. Ia terasa mati kutu tak mampu berkutik sama sekali. “Hmm baiklah tuan, kau sudah tahu semuanya. Jika itu yang kau mau, mari kita mulai permainan dari sekarang”  ejek pria tengik itu. Kali ini betul-betul memperlihatkan sikap brengseknya.

“Sssh..Mati kau!” Choi Wo Bin berhasil melempar revolver di tangannya dan menendang lutut pria tengik tadi. Ia merasa telah berhasil melumpuhkan titik pertahanan bajingan itu.

“Doggy.. Kau telah memulainya”

DEP! Semua cahaya di ruangan itu mati. Tak ada berkas sinar sedikit pun yang terlihat dari mata Choi Wo Bin. Ia gelagapan mencari penyangga untuk berjalan. Situasi tersebut jelas saja ia sembunyikan. Ia berpura-pura untuk tetap berani melawan si keparat meski ia tak dapat melihat dan hatinya sangat cemas. Tak sengaja ia menabrak sebuah meja sampai menimbulkan suara kreek..

“Hahaha dalam kegelapan kau terlihat sangat hina. Bodohnya kau ingin bermain-main denganku dan berani menantang untuk melakukannya. Baiklah jika itu maumu akan kumulai sekarang”

“Brengsek! Dimana kau sekarang hah!?”  geram  Choi Wo Bin masih gelagapan untuk berjalan.

“Aku disini baby. Tada….” Senyum yang menjijikkan terpancar dari raut muka bajingan tengik itu.

“Aaark…” beberapa detik Choi Wo Bin mampu melihat cahaya yang bersinar sangat terang. Namun sedetik kemudian ia menemukan keadaan yang sangat gelap membaringkan tubuhnya ke lantai. “Im Jae Ji..” dan akhirnya ruangan itu tak terlihat sama sekali dari pandangan matanya..

 

17 tahun kemudian

 

“Jaringan penyelundupan narkoba?” tanya Lee Min Ho menidikkan mata pada Kapten Dong Wook.

“Ne, kepolisian Korea meminta kita untuk bekerja sama menguak kasus ini. Kita akan menyusuri kasus ini di kota Gwangju. Disinilah pusat mereka bertransaksi menyelundupkan barang haram itu ke negeri ini.”

“Siapa target utama kita?” tanya Choi Siwon.

“Han Sang Woo, ketua dari mafia ini. Namanya sudah diubah menjadi Bryan Woo. Dia merupakan target pencarian utama kepolisian Korea selama tiga tahun terakhir. Ciri-cirinya bisa dilihat disini. Yang paling mudah diidentifikasi, ada tato bergambar naga kepala empat di bagian pundaknya. Semua anggota geng mafia ini juga memiliki tato yang sama” jelas Kapten Dong Wook seraya mendeskripsikan sebuah gambar target utama di proyektor.

“Apa rencana kita untuk menangkap semua pelakunya?” tanya Lee Min Ho sekali lagi.

“Kita akan melakukan jaringan Operasi Segitiga. Kita akan terbagi menjadi tiga kelompok yang akan berpatroli di tiga titik. Masing-masing kelompok berjumlah 7 orang. Kelompok pertama dipimpin saya sendiri yang akan berjaga di bandara Gwansang-Gu. Kelompok kedua dipimpin oleh agen Lee Min Ho yang akan berjaga di Gyeongsangnam-do karena kemungkinan besar mereka datang dari Busan, dan kelompok ketiga dipimpin agen Choi Siwon yang akan berjaga di Kepulauan Hampyeong, satu-satunya pelabuhan yang menghubungkan ke kota Gwangju. Kita akan melakukan taktik segitiga untuk mempersempit laju pergerakan mereka”

“Instruksi, bagaimana aku harus bertugas di kepulauan Hampyeong. Bukankah agen Lee lebih ahli di bidang maritim? Mengapa harus aku yang turun kesana Kapten?” protes Choi Siwon. Ia tak setuju ditugasi di daerah pelabuhan Hampyeong karena dirasa tugasnya lah yang paling berat. Sangat tidak adil menurutnya, Lee Min Ho yang bertahun-tahun berhasil menguak illegal logging di wilayah pesisir kini harus bertugas di perbatasan kota. Sedangkan dirinya sudah terbiasa bertugas di daerah kasus bandara, harus menyusuri tiap titik sepanjang garis pantai Hampyeong. Seperti ada yang tersembunyi di balik rencana  Kapten Dong Wook untuknya.

“Agen Choi. Meski kau belum memiliki pengalaman, kau memiliki kinerja yang sangat bagus. Ini saatnya untuk memulai dunia baru. Kau akan mendapat pengalaman baru bertugas disana, begitu juga dengan agen Lee”

“Tapi Kapten..”

“Keputusan sudah final. Rencana sudah cukup matang. Terima Kasih. Pertemuan kali ini cukup. Untuk misi kali ini mohon dikerjakan sebaik mungkin. Selamat bertugas” ujar Kapten Dong Wook mengakhiri pertemuan kemudian pergi meninggalkan mimbar ketua.

“Aish.. Tak masuk akal, seharusnya dia yang berpatroli di wilayah pantai. Kenapa musti aku, benar-benar seperti ingin mempermainkan” rungut Choi Siwon yang terdengar oleh Lee Min Ho. Agen Lee hanya tersenyum kecut mendengar celotehnya, ia mengeluarkan sepatah kata untuk agen Choi tanpa memandang wajahnya, “Hmm dunia baru yang sangat menantang. Selamat bertugas” ledeknya meninggalkan ruangan itu.

Siwon menidikkan matanya tajam ke arahnya. Emosinya agak tersulut dengan ledekan Lee Min Ho tadi, “Awas kau. Akan kubuktikan siapa yang lebih hebat” gerutunya dalam hati.

*TGC*

“Dengan terpaksa kau harus dihentikan dalam kelas ballet ini” ujar Kwon Yuri, instruktur kelas ballet Dancing Queen Sang Nam pada Im Yoona.

“Waegurae? Aku berlatih tiap hari untuk pertunjukan ini Yuri ssi” ungkap Yoona kaget mendengar dirinya dicoret dari daftar penari ballet untuk festival Gang Nam musim panas ini. Ia juga dikeluarkan dari kelas ballet, entah tak mengerti alasannya.

“Kau memang rajin berlatih. Tapi sayang, kuperhatikan gayamu sangat kaku. Datang terlambat dan sama sekali tidak serius di setiap latihan. Aku hanya membutuhkan orang-orang loyal yang mau bekerja keras untuk pertunjukan ini. Ku dengar kau juga sedang tersangkut masalah perdata. Aku tak berani mengambil keputusan jika kau masih berada dalam kelas ballet ini. Segeralah berhenti dari kelas ini”

“Tapi.. masalah itu tidak berpengaruh dengan pertunjukan ini. Aku akan berlatih keras dan sungguh-sungguh untuk festival nanti. Kumohon beri aku kesempatan” pinta Yoona sedikit memelas. Kwon Yuri tersenyum picik padanya, agak sulit baginya memberi kesempatan lagi pada Im Yoona.

“Ini sudah menjadi keputusan. Kuharap kau mengerti, terima kasih pernah bergabung di Dancing Queen Sang Nam” ucapnya singkat kemudian berlalu. Yoona mengejarnya tapi ia abaikan begitu saja, “Yuri ssi kumohon beri aku satu kesempatan lagi. Yuri ssi..” seru Yoona selagi mengejar Yuri. Langkahnya terhenti diikuti matanya yang sayu. Raut kekecewaan tergambar jelas di parasnya. “Berakhir sudah..”

Yoona kembali ke penginapan kecilnya di pinggiran kota Hampyeong. Daerah kumuh yang seharusnya tidak layak untuk dijadikan tempat tinggal. Langkahnya gontai menaiki pintu rumah bertingkat semacam rumah susun.

“Kupikir kau mencoba untuk lari” seru Oh Bang In, ahjumma pemilik penginapan mengagetkan lamunannya.

“Nyonya Oh.. Ah, anda” Yoona membalas dengan gugupnya. Ia tahu betul tujuan nyonya Oh Bang In datang ke tempat tinggalnya.

“Aku tak mau basa-basi. Serahkan uang sewamu sekarang juga. Aku tak mau mendengar alasanmu lagi”

“Tapi nyonya Oh..aku” lirih Yoona yang dipotong oleh teriakan Oh Bang In ahjumma, “Sudah enam bulan kau tak membayar uang sewa! Kau pikir ini penginapan gratis. Aku sudah terlalu sabar menunggu. Aku tak mau tahu, serahkan uang sewamu sekarang juga, cepat!” serunya galak.

“Aku sama sekali belum memiliki uang yang cukup nyonya Oh. Aku akan membayarnya setelah semua terkumpul. Berjanji minggu depan akan kulunasi semuanya, percaya padaku”

“Apa yang menjadi jaminan aku harus percaya padamu. Dasar gadis tidak tahu diri, aku minta sekarang, cepatlah kalau tidak kau harus enyah dari sini..” suara Oh Bang In semakin galak menggema.

“Nyonya Oh, kumohon beri aku satu minggu lagi untuk melunasi semuanya” rengek Yoona memegang tangan Oh Bang In. Namun dibuangnya sia-sia.

“Omong kosong” Oh Bang In masuk ke kamar penginapan Yoona. Ia mengambil seluruh baju Yoona dan memasukkannya ke dalam  tas. Yoona kaget dengan perlakuan Oh Bang In, “nyonya Oh. Kumohon hentikan, beri aku waktu satu minggu saja”. Oh Bang In menatap Yoona tajam. Ia mendelikkan matanya memancarkan keganasan. Di lemparnya tas Yoona yang berisi pakaian keluar ruangan itu. “Cepat pergi, kalau tidak aku akan berteriak memanggil anak buahku”

“Nyonya Oh kumohon beri aku..” belum sempat Yoona meneruskan perkataannya, kaki tangan nyonya Oh datang dan menyeret Yoona pergi dari penginapan kecil itu. “Pergi kau gadis miskin” dilemparnya tubuh Yoona ke pelataran.

“Cepat pergi, aku sudah muak melihat wajahmu. Pergii…” seru Oh Bang In diikuti kaki tangannya yang kemudian membawa jauh Im Yoona dari penginapan kumuh itu.

“Lepaskan, aku akan membayar semuanya. Aku tak mau meninggalkan rumah itu. Lepaskan, AW!” ia terlempar jatuh di tengah jalan oleh dua orang kaki tangan Oh Bang In. Ingin sekali ia membalas tapi diurungkan niat jahatnya itu. Air matanya mengalir tak cukup deras, ia bangkit dan merapikan baju dan barang dalam tasnya. Yoona mengambil nafas dalam-dalam menenangkan emosinya sendiri. “Aku tak boleh lemah. Aku harus kuat” bisiknya menyemangati diri. “Im Yoona, rumah itu tak pantas untukmu. Rumah kecil, bau, kumuh, sempit kau harus rela meninggalkan tempat itu. Tempatmu bukan disana, kau lebih layak tinggal di apartemen mewah” bisiknya lagi. “Baiklah Im Yoona mulai sekarang kau harus berusaha mendapatkan tempat tinggal yang lebih mewah dari rumah busuk itu….!!!” teriaknya menyeringai kemudian memandang sengit Oh Bang In yang terlihat dari kejauhan. “Lihat saja nanti..”

*TGC*

Operasi Segitiga siap dijalankan. Seluruh agensi mata-mata Track Fast sudah siap beroperasi di masing-masing titik seperti yang direncanakan. Mereka bekerja sama dengan satuan kepolisian Korea untuk menangkap bandar narkoba  yang menggerahkan negara ginseng itu.

“Kalian siap?” seru Choi Siwon sebagai ketua kelompok, “Ne!!” serempak anggota kelompok. Disampingnya pasukan kepolisian mendampingi bertugas. “Kapten, mari bekerja sama” ucap Siwon menjabat tangan pemimpin tertinggi kesatuan polisi maritim itu. Semuanya siap berpatroli, kabarnya bos dari mafia itu akan bertransaksi di Gwangju hari ini juga. Mengenai datangnya darimana, mereka belum tahu pasti. Di beberapa titik kota Gwangju, juga sudah dikerahkan puluhan anggota polisi siap berjaga dalam Operasi Segitiga ini.

Choi Siwon yang memimpin agen Track Fast beserta anggota kepolisian lain memeriksa tiap awak kapal yang berlabuh di pelabuhan Hampyeong. Sudah sekitar dua belas kapal yang melabuh, tapi belum ada tanda-tanda yang berarti. Siwon dan kawan-kawan harus bersabar menunggu Bryan Woo bersama anteknya dan menangkapnya, membuat mereka jera. Terik matahari kian menyengat, tepat tengah hari semua pasukan berkumpul untuk istirahat.

Siwon meraih sebotol softdrink dan meneguknya dengan cepat.

“Kau yakin mereka akan datang hari ini?” tanya kapten polisi maritim padanya. “Ne, kami mendapat kabar mereka akan bertransaksi di Gwangju sore ini juga. Pastinya mereka akan datang hari ini atau..” jawab Siwon menggantung. “Atau apa?” seru kapten polisi maritim itu memotong pembicaraan.

“Atau mungkin kemarin..Tapi aku yakin, mereka datang siang ini juga” jawab Siwon penuh yakin tapi jelas meragukan kapten itu. “Bagaimana bisa kalian berandai-andai. Ini bukan tugas yang sepele. Jangan main-main dengan waktu” ucap kapten agak kesal. Siwon mengabaikan perkataan kapten yang kesal itu. Matanya mengarah pada seseorang, dibuka kaca mata hitamnya lalu dengan tiba-tiba ia membuang botol softdrink ke sembarang arah. “Brengsek, mereka ternyata disini..” ucapnya singkat kemudian berlari. Kapten tak mengerti yang ia maksud. Sempat kesal dan heran pada tindak tanduk Choi Siwon, namun saat Siwon berlari ia pergi mengikuti “Hey tunggu, mau kemana kau!?”

Siwon menyalakan sinyal radiophone yang terhubung dengan semua anggota lain yang bertugas. Sinyal tersebut juga sampai ke tangan kapten Dong Wook dan Lee Min Ho beserta anggota kelompoknya. Sinyal itu menandakan bahwa target utama sudah ditemukan oleh si pengirim sinyal, dalam hal ini adalah Choi Siwon. Dengan santai Siwon berjalan di antara rombongan mencurigakan yang memakai seragam nahkoda. Salah satu diantara mereka ada yang di pundaknya terlihat tato naga kepala empat, sehingga membuat Siwon yakin telah menemukan targetnya. Dengan setelan kaos polos dan celana pendek, Siwon berpura-pura mendekat rombongan tersebut. Ia menyamar sebagai turis yang tengah berlibur di pantai Hampyeong.

“Anyeong haseyo ahjussi. Boleh bertanya sebentar” sapanya pada salah satu nahkoda yang di depan. Sebenarnya yang ditanya adalah Bryan Woo, Siwon tahu akan hal itu.

“Wae? Ah.. Silakan” ucap Bryan Woo agak gugup karena dikagetkan kedatangan Siwon yang tiba-tiba.

“Aku seorang turis dari Seoul yang sedang berlibur di pantai ini. Aku datang bersama rombongan tapi mereka menghilang entah kemana. Aku tersesat dan tak tahu jalan sekitar sini. Kata mereka aku harus pergi ke Sangcho terlebih dulu agar bisa bertemu mereka. Boleh aku bertanya dimana Sangcho? Dengan apa aku harus kesana ahjussi. Kau seorang nahkoda mugkin lebih mengetahui daerah ini” kata Siwon berpura-pura.

“Sangcho? Ah itu adalah jalur menuju kota Gwangju. Kau bisa berjalan ke arah sana lalu belok kiri. Disana banyak bus pemberhentian menuju kota Gwangju” jawab Bryan Woo menunjuk arah.

“Gwangju?”

“Ne, Gwangju. Waeyo? ” singkat Bryan Woo.

“Gwaaang-Ju. Boleh aku menumpang kalian?!” Siwon kembali mengeja. Dibalik kacamata, jelas dua bola mata itu terlihat mengejek. Ia melihat anggota kelompoknya dan satuan kepolisian maritim sudah pasang siaga mengepung mereka. “Gwang-Ju? Kau mau ikut?” seru Bryan Woo menaruh curiga. Perasaannya mulai was-was, sepertinya tahu ia sedang dikepung. Matanya melirik tajam pada anak buahnya. Sejenak ia tersenyum pada Choi Siwon, “Baiklah ikuti kami”

“Ne” singkat Siwon berjalan mengiringi Bryan Woo. Mafia itu tahu apa yang akan dilakukan Siwon, jadi mereka terlebih dulu menyerang. Siwon dengan tanggap menyambut serangan antek mafia itu. Ia keluarkan semua kemampuan taekwondo nya untuk membekuk kawanan mafia yang masih berpakaian nahkoda itu. Semua anggota dan satuan kepolisian tak tinggal diam, mereka serempak maju menyerang lawan, membantu Choi Siwon. Sementara anak buahnya bertarung, Bryan Woo mengendap-endap dan berhasil kabur diikuti dua orang bawahannya. Mereka yang disana belum menyadari ketua mafia itu sudah kabur karena sengitnya baku hantam antara kedua kubu. Siwon berhasil menekuk lima orang sekaligus antek mafia tersebut hingga jatuh terkapar. Matanya memendar mencari sosok Bryan Woo, tapi yang ia cari sudah kabur melarikan diri. “Ssshhit..” serunya lantas berlari secepat kuda mengejar Bryan Woo dan dua orang anteknya.

Bryan Woo lari sempoyongan bersama kedua bawahannya. Sedari tadi berlari sambil menghadap ke belakang memastikan bahwa ia lolos dari polisi maritim yang akan menangkapnya. Mereka berhenti sejenak mengambil nafas karena sesak. Baru beberapa detik menghembuskan nafas segar, anak buahnya berteriak “Bos, mereka mengejar kita”. Mereka kembali berlari tetapi dari belakang Siwon masih mengeluarkan kecepatan penuh mengejarnya. Anak buah Bryan mengacungkan tembakan ke arah Siwon, namun tak ada satu peluru pun yang menembus pemuda itu. Siwon tak mau kalah, ia juga menarik trigger revolvernya mengarah ketiga orang yang dikejarnya, namun belum sama sekali peluru yang menyentuh buronan itu. Terjadilah saling tembak saat mereka tengah berlari.

Di jalanan sempit kawasan pertokoan, Yoona masih melangkah gontai tak tahu arah tujuannya. Ia masih memikirkan dimana ia harus tinggal untuk sementara waktu. Menyewa penginapan jelas tak mungkin, uangnya hanya tersisa 20 won, paling hanya bisa bertahan untuk makan. Sangat menyedihkan memang. Hari ini ia ditimpa bertubi-tubi kesialan. Ia dipecat dari kelas ballet dan diusir dari penginapan. Sebelumnya ia memiliki pekerjaan tetap di sebuah restoran Cina. Namun karena kecerobohannya ketika memasak, api kompor yang ia tinggalkan sebentar berhasil menghanguskan ruang dapur tersebut. Ia memang tak dituntut untuk mengganti rugi. Tapi ia harus meninggalkan satu-satunya sumber pendapatannya untuk bertahan hidup. Kini ia bingung kakinya akan melangkah kemana. Saudara  tak punya, orang tua pun sudah tak ada. Ia tak punya siapa-siapa lagi. Akankah ia kembali ke panti asuhan neraka itu? Hmm lebih baik hidup di jalanan daripada tiap hari musti mendapat hukuman.

Flashback

“Yoona hentikan!!” seru Eun Hee noona, seorang suster di panti asuhan Mokpo. “Lagi-lagi kau berbuat nakal, kemari ikut aku” Eun Hee noona menjewer telinga Yoona kecil.

“Noona, bukan aku yang memulai. Dia terlebih dulu menjambak rambutku” tunjuk Yoona pada salah satu anak seumuran dengannya, Missil tengah berpura-pura menangis sekencang-kencangnya.

“Kau tiap hari berbuat ulah. Bukan hanya Missil, kemarin kau memukul Min Ju, dua hari yang lalu kau menendang kaki Jun Pyo sampai ia susah berjalan. Kau ini anak perempuan sebaiknya menjaga sikap” seru Eun Hee memarahi. Yoona tak terima, ia yang dijebak sehingga terbakar emosinya “Mereka terlebih dulu memulai. Aku sakit hati pada mereka” serunya

“Sakit hati? Kau masih berumur 10 tahun sudah menyimpan sakit hati?! Itu sangat mengerikan. Sebagai pelajaran, siang ini kau tak mendapat jatah makananmu dan bersihkan seluruh ruangan kamar mandi”

“Tapi nooona” sela Yoona tapi dipotong oleh suster evil itu, “Cepat lakukan atau kuberi hukuman yang lebih berat agar kau jera”. Yoona terdiam pilu tak berani menatap Eun Hee noona. Dengan terpaksa ia menurut segala macam hukuman yang ia terima setiap hari di panti asuhan itu. Saat Yoona berjalan melaksanakan tugasnya, Missil, Min Ju, Jun Pyo dan anak-anak yang lain mencibir menertawakannya. Sebenarnya Yoona ingin memukul mereka satu persatu, tapi mungkin akan membuat hukumannya bertambah berat.

Yoona tak tahan tinggal di tempat yang seperti neraka itu. Tak punya teman sama sekali. Dulu masih ada Bibi Ahn yang selalu merawat dan mengerti dirinya dengan baik. Sayang, ia terlalu cepat meninggalkan dunia ini sama halnya dengan kedua orang tuanya. Saat berumur 14 tahun, Yoona nekat untuk kabur dari panti asuhan itu dan bebas hidup di dunia luar. Saat  itu juga, ia bertemu dengan seorang kakek, Taepong haraboji yang bersedia menawarkan tempat tinggal untuknya. Taepong haraboji sangat mengasihi Yoona. Ia sudah menganggap Yoona cucu kandungnya sendiri. Tapi Taepong haraboji pun pergi begitu cepat, ia meninggalkannya di dunia yang sangat keras ini saat Yoona berumur 19 tahun. Dan datanglah kesengsaraan kembali mengukir sebagian hidupnya.

End of Flashback

Sembari melangkah Yoona berjalan memandangi foto kedua orang tuanya yang sudah lusuh. Gambar itu ia dapat saat bibi Ahn masih hidup. Bibi Ahn pernah bercerita tentang jalan kehidupan appa dan eomanya sampai harus mengakhiri hidup di dunia. Yoona menangis memegang erat gambar lusuh itu. Ia menghentikan langkahnya dan menangis sejadinya. Pikirannya kosong melihat wajah appanya. Ia sudah mengetahui seperti apa rangkaian cerita kematian appanya. Perlahan ia mengusap kedua kelopak matanya dan berhenti menangis. Sedetik kemudian, matanya menyeringai, tangannya meremas erat ujung baju yang ia kenakan. “Choi Wo Bin, tunggu pembalasanku” bisiknya memancarkan aura iblis.

Yoona terdiam dari posisinya seperti tadi. Tiba-tiba dari arah belakang seseorang menabraknya diikuti dua orang tergopoh-gopoh berlari membuatnya terjatuh ke tanah. Tanpa sengaja salah satu dari mereka menginjak foto lusuh yang tadi ia pegang. Matanya membelalak saat melihat gambar kedua orang tuanya tertempel dengan sepatu dan kotor. “Hey!” seru seseorang dari belakang menarik revolvernya membiarkan pelurunya terbang ke atas. Sosok itu tengah mengejar ketiga orang di depannya tadi dan sedang memperingatkan mereka untuk berhenti. Sepertinya Yoona mengetahui ketiga orang ini dikejar karena mereka adalah buronan polisi. Yoona meraih foto yang terinjak tadi. Dilihatnya arah belakang, dan kembali maju ke depan. Saat ketiga orang tadi hendak berlari lagi, Yoona berhasil menendang salah satu lutut dari mereka yang tak lain adalah ketua mafianya, Bryan Woo.

“Brengsek. Kau tak usah ikut campur” seru kedua anak buahnya mengacungkan pistol. Dengan kemampuan bela diri yang ia miliki, Yoona menendang jauh kedua pistol itu dari tangan keduanya. Bryan Woo kalang kabut terlihat Siwon semakin berlari mendekat, diarahkan pucuk revolvernya namun Yoona dengan tanggap menendang pistol itu terlempar dari tangannya. Dua orang anteknya kembali menyerang Yoona. Namun gadis pemilik sabuk hitam taekwondo itu menyambutnya dengan santai. Yoona berhasil membekuk dua orang berlevel rendahan di bidang bela diri itu.

Bryan Woo semakin gelagapan. Lututnya yang sakit semakin bergetar. Terlebih-lebih Siwon semakin dekat dengan jaraknya. Diambil sepucuk pistol di dekatnya, dan membekap Yoona dengan cepat. Siwon kaget menghentikan langkahnya. “Yoong…”

“Jangan mendekat, atau kepala gadis ini akan pecah!”. Mata Yoona membelalak melihat sosok yang datang. Begitu pula Choi Siwon menatap lirih gadis yang kini dibekap Bryan Woo itu.

“Turunkan pistolmu atau gadis ini akan mati!!” teriak Bryan Woo sekali lagi. Siwon menatap nanar yeoja yang di depannya. Pistolnya terlepas begitu saja dari genggamannya. Bukan karena takut ancaman Bryan Woo, namun ia teringat kejadian tiga tahun yang lalu.

Flashback

“Jepang?” tanya Yoona menatap wajah kekasihnya pilu. Siwon tak mampu melihat wajah kekasihnya itu. Ia hanya menunduk memberi jawaban.

“Kau telah membuat keputusan pergi ke Jepang? Mengapa begitu tega oppa?!” suara Yoona parau mulai menitikkan air mata. Siwon tak tega melihat air matanya, dipeluk kekasihnya itu dengan erat. Namun pelukan yang tak cukup kuat itu berhasil Yoona singkirkan dari tubuhnya.

“Baik, jika itu keputusanmu. Pergilah, tapi jangan pernah kembali padaku” Yoona mulai mengusap air matanya mencoba untuk tegar. “Maaf Yoong aku harus mengambil keputusan ini” lirih Siwon.

“Ya, pergilah. Silakan pergi. Semoga di pelatihan nanti kau akan menjadi pria yang semakin kuat. Tanpaku, aku yakin kau bisa bertahan hidup lebih lama. Tapi jika kau mati aku sama sekali tak akan peduli”

“Yoong.. Ini hanya tiga tahun, kumohon kau harus bisa menunggu” Siwon memelas menangkap telapak tangan kekasihnya, namun lagi-lagi dihempas oleh Yoona. “Cukup. Jika kau ingin pergi. Pergi saja tanpa harus merengek memintaku untuk menunggu. Aku menghargai keputusanmu tapi tolong setelah ini hapus semua kenangan saat kita bersama” erang Yoona.

“Ini hanya sebentar..” belas Siwon mulai menaikkan nada tinggi. Mata Yoona membelalak dibuatnya, “Aku bilang pergilah. Terserah kau akan pergi sebentar atau lama, hidup atau mati aku sama sekali tak peduli. Cukup hubungan kita sampai disini. Jangan datang padaku lagi, aku akan pergi” seru Yoona mulai melangkahkan kakinya namun tangannya dihentikan oleh Siwon. “Yoong..”

“Lepaskan!! Hubungan kita berhenti sampai disini..” erangnya menghempas dan kemudian benar-benar pergi meninggalkan Siwon seorang diri.

Waktu itu Siwon berjanji akan menikahi Im Yoona meski umur mereka masih sangat muda. Namun ia membatalkan keputusannya dan berniat pergi mengikuti pelatihan militer di Jepang. Yoona kecewa dengan keputusan Siwon. Ia sakit hati karena sudah menggantungkan hidupnya pada lelaki itu.

End of Flashback

Siwon masih menatap Yoona kelu. Sementara Bryan Woo mengarahkan pucuk pistolnya di kepala Yoona. Gadis itu juga menatap nanar pria yang di depannya. Namun ia cepat tersadar. Sekejap ia mengeluarkan jurusnya memukul perut Bryan Woo. Ditendangnya kuat daerah paling terlarang dari lelaki itu dan ia lempar pistol yang ditangannya menjauh. Lelaki tengik itu sudah tak bisa berkutik. Ia mengerang kesakitan sebagian titik penting anggota tubuhnya terpukul oleh Yoona. Siwon menatap sayu kejadian itu. Ia terdiam tak melakukan apapun melihat Yoona berhasil menekuk Bryan Woo begitu cepat. Mata keduanya saling menatap kelu. Namun Yoona terlebih dulu membuang muka, dan berkata sesingkatnya “Ini buronanmu”

Siwon masih bingung apa yang harus ia lakukan, pikirannya membuyar kemana-kemana. Tapi Yoona mendekat dan menyerahkan Bryan Woo kepadanya. Saat itu juga rombongan satuan kepolisian dan anggota kelompoknya datang ke tempat kejadian perkara.

*TGC*

At Track Fast Agency

“Gomawo” Siwon menyerahkan sebotol softdrink pada Yoona dan duduk di sebelah gadis itu.

“Ternyata kau masih hidup, kupikir kau pulang tinggal sebuah nama” celoteh Yoona meneguk air berbusa itu membasahi tenggorokannya.

“Kau masih marah padaku. Sebegitu besarkah dosaku terhadapmu?” ujar Siwon. Keduanya tak salin memandang. Dari belakang, Lee Min Ho memperhatikan keduanya.

“Tak perlu dibicarakan lagi. Gomawo atas soft drinknya” Yoona bangkit dari tempat duduknya. Saat itu juga Kapten Dong Wook menyambutnya antusias. Siwon tetap berada di posisi semula, arah matanya menatap ke depan. Kalimat terakhir yang Yoona ucapkan berulang kali terngiang-ngiang di telinganya.

“Noona Im, kami mengucapkan banyak terima kasih atas bantuanmu. Kau berhasil membantu menangkap buronan kami” ucap salah satu komandan kepolisian.

“Ne, kau telah banyak membantu tugas kami. Gamsa hamnida noona Im” turut Kapten Dong Wook mengucap terima kasih pada Yoona.

“Ah, ini bukan apa-apa. Kebetulan mereka lewat di depanku. Jadi aku bekuk saja. Mereka juga menyakiti aku sebelumnya” ujar Yoona malu-malu.

“Kau telah membuat prestasi dalam kasus ini. Sekali lagi kuucapkan terima kasih telah membantu tugas kami. Kami pamit terlebih dulu” ucap Kapten Dong Wook. Kedua pemimpin itu membungkuk pada Yoona, dengan cepat gadis itu membalasnya. Lantas kedua pemimpin tersebut hendak pergi meninggalkan Yoona. Baru beberapa langkah, Yoona menahan keduanya. “Tunggu kapten..”

Komandan kepolisian menghentikan langkahnya. Di belakangnya kapten Dong Wook turut berhenti. “Waeyo noona Im?”

Yoona bingung apa yang ingin ia katakan. Ia berdiri terpaku seraya menelan air ludahnya sendiri. Ia ragu ingin mengucapkan sesuatu. “Noona Im, ada yang ingin kau sampaikan?” tanya Kapten Dong Wook.

Yoona mengambil nafas dalam-dalam mengumpulkan seluruh tenaganya. Ia memberanikan diri mulai berbicara “Kapten, bolehkah aku bergabung dengan agensimu?” ucapnya agak gugup. Kapten Dong Wook menatapnya dalam. Diikuti Lee Min Ho dan komandan polisi itu. Siwon yag sedari tak peduli, matanya terkejut mendengar ucapan Yoona dengan segera menatap kaget gadis itu juga.

Dengan santai Kapten Dong Wook menanyakan sekali lagi pada Yoona, “Bisa kau ulang kembali ucapanmu tadi noona Im?”. Yoona terdiam sekali lagi. Ia ragu dan mulai takut Kapten Dong Wook akan menolaknya. Yang tadi ia ucapkan seperti main-main saja, anggapnya. Semudah itukah bergabung menjadi agensi mata-mata? Tapi Yoona harus berani mengucapkan sekali lagi. Ia harus siap  mendegar keputusan jika Kapten Dong Wook akan menolaknya mentah-mentah. Ya jangan berhenti sebelum mencoba, benaknya.

“Kapten, bolehkah saya bergabung dalam agensi Anda?” ujar Yoona mengeja namun dengan penuh keyakinan. Kapten Dong Wook terdiam berpikir. Ia sedang menimbang-nimbang keputusannya. Dari belakang komandan polisi itu menyentuh pundaknya. Kapten Dong Wook menoleh ke arahnya, komandan polisi itu tersenyum mengangguk pertanda agar Kapten Dong Wook mau menerima gadis itu bergabung ke agensinya.

Kapten Dong Wook berpikir keras dengan keputusannya. Semua anggota Track Fast mengikuti alur pelatihan militer dan melalui berbagai proses seleksi. Apakah ia yakin akan menerima gadis ini begitu saja tanpa proses seleksi. Memang dalam hal ini ia telah berhasil membantu misinya. Gadis ini juga memiliki kemampuan beladiri yang tak bisa diremehkan, Kapten Dong Wook terus berpikir keras.

Siwon harap-harap cemas menunggu keputusan Kapten Dong Wook. Demikian pula Yoona, besar harapannya agar bisa diterima di agensi Track Fast. Lee Min Ho melihat mereka dengan santai, ia tersenyum memiliki maksud tertentu.

Lama Kapten Dong Wook berpikir, membuat keadaan disana cukup tegang. Beberapa waktu kemudian, akhirnya Kapten Dong Wook mulai angkat bicara. “Setelah aku pikir-pikir noona Im…” ucapnya menggantung. Yoona, Siwon dan Lee Min Ho harap-harap cemas menunggu keputusan Kapten Dong Wook.

To Be Continued

 

 

 

Preview next chapter :

“Kau bekerja untuk siapa?” seru Kapten Dong Wook menghakimi Bryan Woo. Di belakangnya, Siwon dan Lee Min Ho ikut menatap bandar narkoba itu. Algojo terus memukuli Bryan Woo agar angkat bicara, namun pria yang sudah babak belur itu terus mengunci mulutnya.

“Kau mau mati dengan cara kekerasan hah?” bentak Kapten Dong Wook mulai tak sabar. Bryan Woo menatapnya sengit, tapi hanya senyuman licik yang ia tampakkan dari wajahnya.

“Bodoh, kalian menangkap orang yang salah. Aku bukan satu-satunya pemimpin bandar narkoba. Ketahui, ada yang lebih tinggi dari aku dan dia tengah melancarkan bisnisnya menyebarkan narkoba ke negeri terkutuk ini. Dialah bos kami haha” ledek Bryan Woo tertawa keras.

Kapten Dong Wook, Siwon, dan Lee Min Ho terbelalak mendengar ucapannya. “Cepat katakan siapa dia!!” gertak Kapten Dong Wook. Bryan Woo membungkam mulutnya tak mau bicara sepatah katapun. Ditarik kerah bajunya, Kapten Dong Wook semakin menggertak Bryan Woo tepat di depan wajah bandar narkoba itu. “Cepat katakan atau kau akan..”

“Aku lebih baik mati daripada harus mengucapkan nama bosku. Dia lah yang mengayomi kami selama ini. Jadi aku tak mau membocorkan rahasianya” ujar Bryan Woo dengan santai.

Kapten Dong Wook semakin tersulut emosinya. Dihantam kepala Bryan Woo dengan keras. Emosi kapten mulai membabi buta, ia hampir menarik pistolnya dan menembak kepala Bryan Woo. Dengan cepat Lee Min Ho mencegah tindakan emosi kapten yang kelewat batas, “Tunggu Kapten, tahan emosimu. Kita tak dapat apa-apa jika bajingan tengik ini mati….”

Wait in next chapter…..

 

Note : Beberapa chapter berikutnya akan aku protect

Jadi segeralah meninggalkan comment dari awal jika membutuhkan password

Thanks^^

Pos Sebelumnya
Tinggalkan komentar

125 Komentar

  1. lee cha

     /  Februari 9, 2015

    Seru…

    Balas
  2. keren (y) menurutku ceritanya sangat menegangkan .. ditunggu kelanjutannya

    Balas
  3. Rizkaamiliyal _

     /  April 15, 2015

    keren🙂 lnjut moment yoonwon.nya

    Balas
  4. Zhahra

     /  Mei 17, 2015

    Waaaaah daebak unn…
    Sebelumnya salam kenal ya unn
    sebenarnya aku dah lama baca FF di YWK tpi baru nemu ini FF baru sekarang
    izin baca ya unn
    wonpa sma min ho oppa jdi polisi waaaah keren banget daaaah

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: