[3S] Time Machine Part 3 / Rising in Love

[3S] Time Machine Part 3 / Rising in Love

 

Title                 :   Time Machine

Author             :   Choi Yoon Ah /  Aprilia Sintha Fiwara

Type                :   Threeshoot [3S]

Genre              :   Sad, Romance, Happy

Rating             :   General

Main Cast        :

  • Im Yoona
  • Choi Siwon

Other Cast       :

  • Im Seulong
  • Ahn So Hee
  • Stella Kim
  • Hangeng

 

Salju terus menggulung

Dingin dan kaku

Cahaya yang tak pernah padam

Datanglah pada jemari hatiku

Detik selamanya akan terus berpacu

Tidak sebaliknya

Tapi Kuasa Tuhan berkata

Ada banyak celah di lorong waktu

Dimana aku bisa kembali

 

“Jangan dekati kami gadis sial. Pergilah, jauhkan kami dari aura keburukanmu” Yoona terus dicaci oleh sebayanya. Ia hanya menatap bumi penuh pilu, matanya bengkak tapi sama sekali tak menitikkan air mata. Perasaannya yang tak karuan membuatnya mulai ragu akan keberadaan penguasa alam. Benarkah begitu, mengapa aku seperti ini?

Satu, dua, tiga dan seterusnya ia mendapat lemparan gulungan kertas dari teman temannya. Pasrah, ia tak bisa melakukan apapun selain menerima meski menyakitkan.

“Ibumu saja pergi tanpa sebab, bagaimana bisa kami berteman dengan keluarga yang berantakan”

“Ya, ayahnya saja kecelakaan saat pergi menjemputnya”

“Terakhir kali aku lihat kau bersama Sunny, dan lihatlah sekarang ia terbujur mengerikan”

Dunia terasa begitu kejam, bagaimana bisa di usia yang masih 10 tahun ia mendapat cobaan sedemikian rupa.

“Pergi, kalau kalian masih berani akan kupukul kalian!”

“Coba saja kalau berani..”

PRAK! Puluhan telur beterbangan mengenai seorang namja yang terus memeluknya, “Jangan lepaskan aku” Sekejap punggung namja itu dipenuhi lumuran bau amis yang amat menjijikkan. Namja itu membawa pergi tubuh mungilnya setelah semua kekacauan pergi. “Oppa..”

“Jangan dengarkan mereka. Aku akan selalu disampingmu, tenanglah” ucapnya senyum dengan sekujur tubuh yang tak karuan bau anyirnya.

Waktu terus berputar. Semakin hari keadaan pun berubah. Ia tak menerima lagi perlakuan buruk dari sebayanya. Tuhan memang adil, takkan selamanya menghukum hamba-Nya yang lemah. Ia terus memancarkan senyum ketulusan. Kebahagiaan terus menyambutnya setiap pagi. Lantas apakah kebahagiaan itu akan bertahan lama? Sepertinya tidak, sampai waktu yang ditentukan.

Yoona POV

Apakah kemalangan itu datang kembali? Mengapa kesedihan selalu menemani disaat aku tak bisa menopang tubuhku. Kesekian kali dan mungkin seterusnya, mengapa cobaan terus menerpa. Tahukah bahwa hatiku tak sekuat tameng baja?

“Oppa..” aku terus menatap nisan bertuliskan Choi Siwon itu. Menangis? Tidak. Syaraf mataku telah kehilangan kemampuan produksinya. Air mataku sudah terkuras habis sama sekali. Beribu ribu jarum telah menusuk naluriku hingga membuatku kaku. Deru tangisan selalu terdengar di antara orang sekelilingku. Eomma Siwon, dialah yang menangis paling hebat. Beliau sama seperti aku, tak bisa melepas putra tunggalnya pergi. Diam, yang kulakukan setiap mendengar caciannya. Gadis pembawa sial lah atau apapun yang terus menusuk telingaku kuterima apa adanya dengan pasrah. Gelap, aku mulai kehilangan kesadaran tak mampu lagi menatap keindahan dunia. Tuhan, bisakah membawaku ke alam dimana orang-orang yang kucintai berada?

Flashback

“Ayo ikut aku. Kajja!” Siwon oppa menarik tubuhku ke sebuah tempat yang dipenuhi pohon maple. Taman Musim Gugur, sejuk udaranya dan sedap dipandang mata.

“Oppa, tempat ini begitu indah” aku terus menatap takjub ciptaan Tuhan yang tiada tara indahnya. Kuambil udara kuat kuat sampai paru paruku puas menikmati gumpalan oksigen yang masih segar.

“Kau bisa tenang sekarang? Lupakan sejenak, mari saling bertukar masalah kita” ia memasang senyum di wajahnya yang mulai beranjak tampan.

Disanalah kami saling bertukar cerita. Semua yang terjadi pada kami dibagi tanpa ada kerahasiaan. Kami sudah saling percaya satu sama lain, dan masalah pun terasa enteng sesudahnya. Entah, ikatan batin kami terasa kuat. Bahkan disaat kami sedih, bahagia, kecewa, wajah kami tak mampu menyembunyikan satu sama lain. Tapi semuanya mulai berlalu saat ia berpamit untuk pergi.

“Yoong” tangannya memegang erat pundakku dengan tatapannya yang tajam membelah.

“De oppa. Gwaencana yo?”

“Mungkin lima tahun ke depan aku tidak bisa meluangkan hari hariku bersama kamu. Aku akan melanjutkan studi ke USA. Ini memang keputusan berat, mau tidak mau aku harus menyanggupi permintaan appaku. Ini juga keinginanku untuk memajukan negeri ini setelah aku kembali. Gwaencana yo Yoong? Kuharap kau mengerti”

Sulit rasanya lidahku untuk bergerak. Benar saja aku sama sekali tidak rela melepasnya pergi. Tapi begitu egoiskah aku jika memaksanya untuk tidak pergi. Ia juga memiliki kehidupan sendiri. Sadarlah Yoong, jangan memaksanya untuk terus menemanimu. Dia sudah terlalu sering disampingmu, saatnya bagimu untuk tidak lagi menggantungkan hidup padanya. Terus kupaksakan hati ini untuk menerima, meski teramat tidak rela.

“Gwaencana oppa. Pergi dan kembalilah. Aku akan selalu menunggumu” senyumku tergurat tidak ikhlas. Ia membalas penuh girang, sampai tubuhku pun tenggelam dalam pelukannya yang hangat. Sesuatu yang lembut menyentuh dahiku dan terukir manis disana.

“Gomawo Yoong, tunggu aku lima tahun lagi. Aku berjanji akan datang menemuimu, sampai hari yang menentukan bahwa kita akan seterusnya bersama”

Diam dan terus mematung. Lima tahun? Selama itukah. Hatiku berkata demikian bahwa aku pasti kuat. akan selalu kutunggu kehadiranmu oppa.

Semenjak kepergiannya, hariku benar benar sepi. Hambar dan berantakan. Sesekali aku frustasi dan berusaha untuk bangkit. Mengapa kau begini Yoong? Jangan seperti ini. Kau adalah Yoona yang kuat. Aku terus berusaha beranjak dari keadaan seperti ini. Ku luangkan waktuku bersama orang orang baru, sampai pada saatnya aku bertemu Seohyun yang lama lama menjadi sahabat terbaikku. Dari sanalah aku menemukan titik kecerahan, hingga aku bergelut di dunia fashion untuk menghilangkan kebosanan. Tak membutuhkan waktu yang lama, temanku pun bertambah banyak. Sampai suatu hari aku menemui seorang namja disaat aku benar benar kesepian merindukan Choi Siwon. Lee Donghae namanya. Entah hatiku begitu saja menerima kedatangannya. Intensitas pertemuan kami pun bertambah, sampai suatu hari ia menyatakan perasaanya dan kuterima begitu saja. Sekedar kamuflase atau bukan, sosoknya mengingatkanku pada Choi Siwon yang tak kunjung datang. Dan akhirnya ia berhasil menyeretku pergi untuk melupakan perasaanku terhadap Choi  Siwon. Aku terjatuh dalam lembah cintanya yang luar biasa.

End of flashback

“Kau sudah sadar nak” senyum appa menyambut kedua kelopak mataku. Raut wajahnya nanar memancarkan kecemasan.

“Siwon oppa.. Appa, aku bertemu dengannya. Kita akan menikah” balasku. Appa hanya bisa terdiam dan hening. Sejenak kemudian perasaanku kambuh dan membuat keadaan berubah kacau. Aku terus berontak, berkata bahwa aku ingin menemui Siwon oppa. Benar benar kehilangan kesadaran bahwa aku masih tak rela dengan kepergiannya. Tapi berbeda dengan naluri kecilku yang jauh berada disana. Ia berkata padaku, bahwa Siwon oppa masih hidup dan aku harus percaya itu. Keadaan yang menyedihkan terus berangsur angsur. Dengan cepat dokter pun datang dan berhasil menyuntikkan Diazepam masuk ke aliran darahku. Sejenak dunia terasa gelap dan aku meraih ketenangan.

“Sekarang kau bisa membuka matamu Yoong”

Kedua kelopak mataku mulai menatap suatu tempat yang indah dan tak asing lagi bagiku. Tangannya melingkarkan sebuah kalung di leher jenjangku. Benda berbentuk “Y” kini melekat di leherku. “Gomawo oppa” ku peluk tubuhnya reflex. Aku sangat bahagia menerima pemberiannya. Meski sederhana, aku percaya bahwa perhatiannya jauh lebih besar sekadar kalung ini.

“Jika kau sedang tak tenang. Peganglah kalung itu dan ingatlah semua tentangku. Hatiku akan datang secepatnya membawamu dalam ketenangan” jemarinya mengelus pangkal rambutku. Rasa nyaman yang tak terkira saat kepalaku menyentuh dadanya. Kehangatan yang ia beri membuatku melepas semua kesedihan yang tersisa dalam hati…….

*****

“Ah, ternyata kau memiliki sebuah kalung” gumam Lee Donghae saat akan memasangkan kalung juga di leherku.

“Wae? Ah..aku bisa melepasnya oppa” tuturku seraya memegang kalung “Y” ini untuk melepasnya.

“Andwae.. Biarlah ia melingkar indah di lehermu. Itu pasti sangat berharga bagimu”

“Ani.. ini hanya benda biasa” ucapku menyangkal menghilangkan perasaan tidak enaknya. Padahal hatiku berkata demikian, aku tak bisa melepas benda ini begitu saja.

“Kalung itu membuatmu aura kecantikanmu terpancar. Jangan kau lepaskan, biar nanti aku tukar kalung ini dengan benda lain” senyumnya meyakinkanku hingga aku terus terjatuh mencintai namja ini…..

*****

“Yoong” suara yang tak asing lagi masuk menemui saraf pendengaranku.

“Yoong….” Ia terus berkata demikian.

Aku memasang pandangan ke semua arah. Nampak hanya pemandangan yang biasa kami kunjungi. Mataku terus mencari sosok keberadaannya yang terus memanggilku. Jangan bersembunyi oppa

“Yoong aku disini” arah suaranya datang dari balik pohon besar itu. “Kemarilah..” ia merentangkan tangannya membujukku.

Tak kuasa dan kudatangi sosoknya. Ingin sekali aku memeluknya. “Oppa..” aku terus berlari mengarah keberadaanya. Ia masih tersenyum merlentangkan tangannya. Baru saja jarak kami sudah begitu dekat, sebuah petir entah datang dari mana menyambar tubuhnya. Hangus seketika badannya, membuatku berteriak histeris. “Oppaaa..” aku tak percaya mendekap tubuhnya yang sudah hitam kelam. Ia mencoba mengucap beberapa patah kata yang tak kudengar jelas. Aku hanya bisa menangisi dan hancur. Perlahan tubuhnya menjadi bentuk yang sangat halus dan semakin lama menghilang dari dekapanku. “Oppaa.. jangan tinggalkan aku..”

Deg! Aku pun tersadar dari nightmareku namun tak berhenti berteriak memanggil namanya. Inilah klimaks kehidupanku, menangisi kepergiannya tiap hari membuatku menjadi gadis gila. Tiap hari Diazepam, Valerian, Triazolam dan sejenisnya terus mengalir dalam aliran darahku membuat appa semakin terpuruk melihat keadaanku seperti ini. Sadarlah Im Yoona..

Stella POV

Aku tak mampu berada pada situasi seperti ini. Aku terus menangisi wajah yang terpampang dalam bingkai foto. Senyumnya membuatku semakin perih mengingatnya. Siwon oppa, begitu cepat kau pergi meninggalkan dunia ini. Kau tahu? Aku sangat kehilangan dirimu. Mengapa kemalangan menimpa hidupmu. Di saat waktu yang paling indah datang menghampiri, Tuhan malah memerintahkan malaikatnya untuk datang menjemputmu. Tak seharusnya kau pergi. Kau belum siap untuk tinggal meski disana kau menempati tempat yang teramat baik. Siwon oppa, bisakah kau datang kembali?

Drrrt..sebuah pesan singkat masuk, Hangeng oppa

From : Hangeng oppa

Jangan terus menangis. Ia sudah tenang di alam sana. Aku sama sepertimu, masih tak percaya dengan kepergiannya yang begitu cepat. Haruskah kita terus menangis meratapi kepergiannya? Lebih baik kita berdoa supaya dia ditempatkan di sisi terbaik-Nya. Mari kita sama sama hilangkan kesedihan. At Gangnam Park City, aku menunggumu

Kuhela nafas sejenak. Otakku mulai mengendalikan saraf untuk beranjak. Hangeng oppa, ia begitu perhatian padaku. Tak lama setelah berpikir, aku pun bergegas untuk pergi ke suatu tempat, Gangnam Park City.

“Anyeoonghaseyo Stella” Hangeng oppa berdiri dari tempat duduknya menyambut kedatanganku.

“Anyeoong Hangeng oppa” balasku dan ia mempersilakan untuk duduk disampingnya.

Kami saling duduk bersebelahan memandangi air mancur yang terus membawa hawa kesejukan. Lama kami tak bertukar percakapan, sampai ia yang mengawali.

“Keadaanmu sudah membaik?” ia menolehkan wajahnya ke arahku. Wajahku menatapnya sendu.

“Ne, waktu yang memberi tahu aku untuk secepatnya bangkit” senyumku agar membuang kecemasannya. Senyum indahnya membalas membuat detak jantungku berubah tak beraturan.

“Kita tahu, ia pergi begitu cepat. Ia pergi disaat orang orang yang menyayanginya belum siap melepas kepergiannya. Mungkin takdir berkata lain, bahwa ia meninggalkan kita bukan suatu kenestapaan melainkan sebuah perjalanan hidupnya untuk mencapai kebahagiaan selanjutnya. Aku juga sangat kehilangan sosoknya. Ia sahabat terbaikku dan kami sudah seperti saudara kandung. Tapi apa daya, kita hanya bisa mendoakannya dari sini. Semoga saja ia damai di alam sana”

Aku terus berpikir, memang ucapannya benar. Kesedihan tak mampu membuatnya kembali. Sudah menjadi takdirnya dan mungkin ini rencana Tuhan yang terbaik bagi dirinya.

“Stella…Kau tahu aku semakin sedih jika melihatmu terus terpuruk. Aku tak kuasa melihat air matamu mengalir setiap hari. Ingin rasanya kuhapus semua rasa kesedihanmu”

Sama sekali tak bergeming, aku mendengarkan tiap lantunan yang keluar dari bibirnya.

“Aku tahu kau kesepiaan. Maka dari itu, ingin sekali aku masuk dalam kehidupanmu. Kau tahu hatiku juga merasa teramat sakit jika melihatmu menangis”

“Oppa, maksudmu?” Hangeng oppa memegang tanganku erat. Ia mencium punggung telapak tanganku yang jelas saja membuatku kaget dengan perlakuannya.

“Mungkin aku bukan Choi Siwon yang bisa membuatmu jatuh cinta. Aku tak sehangat seperti sosoknya. Aku begitu kaku dan terkadang tak bisa mengendalikan situasi. Saat pertama kali aku bertemu wajahmu, jantungku bergemuruh hebat. Entah, aku tak mengerti semua itu. Sebelumnya, aku sama sekali tak pernah merasakan dan terbuai dalam keadaan demikian. Aku mencoba mengartikan perasaanku. Lama aku gali dan terus bertanya. Sampai kudapatkan sebuah jawaban bahwa inilah yang dinamakan cinta. Sepertinya aku jatuh cinta padamu. Ijinkan aku untuk mengisi hatimu dan menghilangkan semua kesedihan yang ada dalam dirimu. Benakku berkata, bahwa aku harus melindungimu”

Aku terbuai dengan ucapannya. Sulit dipercaya! Ia mengatakan cinta padaku. Mengapa hatiku bergetar hebat sedemikian? Aku merasakan sebuah perasaan yang sama. Jujur aku tak bisa mengelak lagi bahwa aku pun tertarik padanya saat pertama kali bertemu. Tatapannya memberi kekuatan magnet membuatku tak tenang acap kali mengingat namanya. Dan inilah perasaanku, aku pun jatuh cinta padanya. Aku tak bisa membohongi perasaanku.

“Saranghae Stella”

“Nado saranghae oppa” Hangeng oppa pun meraih tubuhku dan tak lama bibir kami pun saling bertemu. Inilah pertama kalinya kami berciuman sepanjang hidup kami.

Stella POV end

“Putri anda sedang berada di masa yang begitu sulit. Tiap hari keadaannya terus memburuk. Sebagai tim medis, kami tidak tega memberinya obat penenang tiap hari yang jelas tak baik bagi tubuhnya. Bukan kami tidak bisa menolongnya, tapi kami membutuhkan beberapa orang atau memori yang mampu membangkitkan semangatnya. Ia akan mengalami progress jika beberapa dari itu mampu membuatnya tersenyum” jelas dokter Kang kepada tuan Im.

Mendengar hal itu, tuan Im semakin sedih. Harapannya terhadap putrinya seperti telah pupus sejalan dengan beberapa permintaan dokter yang mungkin saja tak bisa ia sanggupi. Yoona sudah kehilangan banyak orang yang ia cintai. Memori indah pun sepertinya sulit membuatnya bangkit. Hanya sebuah memori, takkan pernah bisa menjawab kenyataan. Lantas apa yang harus tuan Im lakukan untuk membuat putrinya kembali? Ia merasa gagal menjadi ayah. Ia sudah tak mampu memberinya kasih sayang seorang ibu, dan kini ia tak tahu harus berbuat apa. Sekarang hanya mengandalkan mukjizat Tuhan untuk membuat Im Yoona secerah dulu.

*****

“Makanlah dulu, kondisimu sangat buruk tuan”

“Jangan memanggilku tuan. Aku hanya pemuda biasa” senyum namja itu yang masih terbujur lemah pada halmoni.

“Ah baiklah, makanlah terlebih dahulu. Setelah itu baru kita bisa bicara”

Jika kau masih percaya, aku akan datang menemuimu

Waktu akan terus berbicara

Janganlah menangis, aku ada disampingmu

Aku percaya, kebahagiaan kelak akan berada diantara kita selamanya

*****

Yoona sudah diijinkan untuk dirawat dirumahnya sendiri. Lima bulan lamanya ia mendekam di rumah sakit yang membuat hari harinya tersiksa. Kini keadaannya sudah mulai membaik, ia sudah mau merespons orang orang disekitarnya meski mulutnya terkunci untuk bicara. Hal ini tentu membuat tuan Im bahagia, ia percaya suatu saat putrinya pasti kembali. Hanya waktu yang menentukan.

“Eomma..eomma.. Jangan tinggalkan aku” Yoona terus mengigau. Suara paraunya terdengar oleh tuan Im yang sedari tadi berkonsultasi mengenai kesehatan putrinya dengan dokter Kang.

“Yoona..” tuan Im langsung menghampiri kamar Yoona. Di sentuhnya wajah putrinya yang sudah pucat pasi. Ada banyak kekhawatiran yang terpancar dari wajah ahjussi yang kini berumur lebih dari setengah abad itu.

“Sepertinya mimpi buruk lagi. Aku akan memberi sedikit Diazepam, ia memiliki depresi yang cukup kuat” usul dokter Kang. Tuan Im mendelik dengan apa yang diucapkan dokter itu, “Obat penenang lagi?”

“Hanya sementara. Aku hanya memberinya dosis rendah. Tak akan memberi efek buruk baginya”. Tuan Im menyetujui dengan pasrah usulan dokter Kang. Ia tak sanggup melihat putrinya kian hari dimasuki obat penenang yang bisa saja malah mendatangkan efek buruk terhadap putri semata wayangnya. Setelah Yoona pulas tertidur, dokter Kang pun pamit kembali ke tempat kerjanya.

*****

Tuan Im baru saja menyelesaikan pekerjaannya di kantor. Meski usianya kian lanjut, ia masih semangat untuk membangun perusahaan yang dirintisnya 20 tahun yang lalu. Bersama supir Han, ia pulang menuju tempat tinggalnya.

“Pak Han, tolong putar arah kemudimu”

“Baik tuan. Apa ada sesuatu yang tertinggal?”

“Aniya. Antarkan aku ke suatu tempat”

“Baik tuan”

*****

Di jembatan gantung itu, tuan Im menatap aliran sungai menyendiri. Ia seperti merindukan sesosok orang yang sangat ia cintai. Entah takdir atau apa, tempat ini menjadi favorit antara orang tua dan putrinya untuk menghilangkan penat. Di sanalah mereka sama-sama menyatakan cinta dengan pasangan masing-masing. Tuan Im masih menerawang jauh, sementara supir Han cukup memandangi tuannya yang sepertinya tak ingin diganggu. Sekilas suara batuk seseorang terdengar oleh tuan Im. Seorang wanita paruh baya kini berdiri tidak jauh dari tempat ia berdiri. Tuan Im menyapa senyum yang kemudian dibalas oleh ahjumma berumur 45 tahunan itu. Wajahnya masih tampak muda, terlihat sedikit kerutan dari sisi kulitnya.

“Anyeoong..Anda suka menikmati pemandangan sungai Han juga?” sapa tuan Im.

“Ne, dari sini saya dapat melihat aliran sungai Han begitu indah. Terlebih dengan udaranya yang begitu segar, aku sangat merindukan tempat ini lebih dari 20 tahun”

“Hmm, sepertinya dulu anda sering menghabiskan waktu disini. Tak jauh berbeda, ini adalah tempat favorit saya di masa muda saat saya mengalami kepenatan”

“Etteoke? Tak banyak orang yang suka berkunjung kesini. Ah saya jadi merindukan sesuatu”

“Ya, mungkin kita sama. Disini banyak meninggalkan kenangan manis saat saya muda dulu” mereka sama sama menerawang jauh aliran indah Sungai Han.

“Anda benar, kita banyak memiliki kesamaan, sudah lama saya tak menghirup udara sesegar ini. Oh ya, kalau boleh tahu siapa nama Anda tuan. Saya berpikir, sepertinya kita pernah bertemu”

“Ah, benarkah? Perkenalkan Im Seulong Imnida. Bagaimana dengan Anda madam?”

Wanita paruh baya itu kaget setengah mati. Wajahnya dipenuhi tanda tanya (?) sehingga tuan Im pun bingung untuk mengartikan.

Flashback

“Sohee. Apa kau yakin dengan keputusan ini?” Seulong menatap tajam mata Sohee yang sedari tadi lebam mengeluarkan cairan bening.

“Sangat yakin oppa. Apa kau ragu?”

“Aniya..Aku hanya terharu dengan keputusanmu itu. Aku sangat mencintaimu Sohee, saranghae” Seulong memeluk Sohee erat dan bibir lembutnya kini telah menempel pada kening indah gadis itu.

*****

“Kalian sudah berjanji di hadapan Tuhan, sekarang kalian sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Silakan berciuman, jika berkenan” ucap pastor yang menikahkan keduanya tanpa beberapa kerabat atau hadirin yang datang. Senyum bahagia terpancar dari keduanya, mereka tak dapat berkata apapun lagi setelah melewati masa masa sulit, yang akhirnya kebahagiaan pun kini mereka raih.

“Kau bahagia Ahn Sohee?” tanya Seulong dengan senyum tampannya.

“Sungguh, masih sulit dipercaya oppa. Kebahagiaan yang tak terkira” Sohee membalas senyumnya dengan bola bola cairan kini menggenang di pelupuk matanya.

“Mari kita memulai kehidupan yang baru. Kau dan aku adalah satu keluarga, tak ada yang bisa memisahkan cinta kita”. Bibir mereka kini mendarat satu sama lain. Keduanya terbuai dalam permainan cinta yang luar biasa. Malam itu, rumah kecil Im Seulong menjadi saksi kedahsyatan kekuatan cinta mereka. Dinding-dinding ikut bergetar disertai desahan suara yang menggema di setiap ruangan.

*****

“Lepaskan. Jangan bawa istriku!!” Buk buk buk! Rentetan tinju sukses mengenai tubuh kekar Im Seulong. Ia terus melawan, tapi naas sebuah kursi melayang mengenai punggungnya hingga ia jatuh tersungkur tak sadarkan diri. Ia sempat melihat Sohee yang terus berontak melepaskan diri dari gerombolan pria berkaca mata.

Dua bulan lamanya, Im Seulong menjalani perawatan intensif karena operasi sumsum tulang belakang yang dijalaninya akibat peristiwa itu. Ia sama sekali tak mendapat kabar tentang istrinya, Ahn Sohee. Jiwanya sangat kesepian. Rasanya ingin sekali ia cepat pulih dari keadaan yang begitu menyedihkan itu dan segera mencari keberadaan Ahn Sohee.

“Cih! Untuk apa kau datang pemuda rendahan?” ujar ny. Ahn dengan sinisnya menatap Im Seulong. Matanya menyeringai penuh kejijian terhadap pemuda yang di depannya.

“Aku mohon, aku hanya ingin menemui Ahn Sohee” Seulong meringis menyedihkan.

“Huh! Berhentilah bermimpi. Berkacalah pada dirimu, kau ini siapa? Apa kau layak mendampingi putriku. Kau, pria rendahan tak tahu diri” umpat ny. Ahn.

“Tapi putrimu sangat mencintaiku nyonya. Kita tak bisa hidup berpisah, aku yakin putri anda pasti sedang terluka”

“Atas dasar apa kau berbicara itu hah? Cinta? Benarkah begitu apa hanya akal-akalanmu saja untuk menjalankan rencana busukmu”

“Apa maksud nyonya. Aku sama sekali tak mengerti apa yang anda bicarakan”

“Hhh, berhentilah bersikap bodoh. Aku tahu watak pemuda rendahan sepertimu. Kau takkan bisa mempermainkan Sohee hanya untuk rencana busukmu. Kau hanya ingin harta keluarga kami bukan? Lebih baik kau pergi sebelum aku muak dengan wajahmu yang menjijikan itu”

“Ani, maafkan aku. Aku bukanlah orang yang seperti itu. Sungguh, aku sangat mencintai putrimu apa adanya. Tak pernah sedikit pun hatiku terbesit untuk berencana jahat seperti apa yang anda katakan”

“Munafik! Jangan berkata lagi. Sudah aku peringatkan, segeralah pergi sebelum aku benar benar muak melihatmu..” ny. Ahn berpaling dan pergi meninggalkan Seulong. Tak mungkin begitu saja Seulong melepasakan ny. Ahn. Ia harus tahu keberadaan Sohee sekarang.

“Nyonya, kumohon. Tolong katakan dimana putri anda sekarang. Kita saling mencintai dan tak dapat dipisahkan satu sama lain”

“Hahaha kau sedang mendramatisir sebuah cerita. Sangat konyol, sekali lagi jangan berkata apapun lagi padaku. Sudah ku peringatkan, aku muak melihat wajahmu”

“Tapi nyonya..aku hanya ingin tahu keberadaan putri…Aw!” Tanpa sengaja, Seulong mematahkan heels sepatu ny. Ahn

“Dasar kau pria tak tahu diri. Sekarang kau bisa lihat, sepatuku rusak karena ulahmu. Kau tahu, harga sepatu ini jauh lebih mahal dari harga dirimu. Cepat pergi!!”

Dalam hati Seulong, sebenarnya ia naik pitam dengan apa yang diucapkan ny. Ahn. Namun ia terima dengan tabah hinaan wanita itu yang sangat mengiris hati demi mengetahui keberadaan Ahn Sohee.

“Nyonya..tunggu jangan pergi. Tolong katakan dimana Ahn Sohee” Seulong menahan tangan wanita paruh baya berpakaian nyentrik itu. Dihempaskan eratannya penuh kasar, ahjumma itu pun kehilangan kontrol. Aliran darahnya naik menuju otak dan mengimpulskan tangannya untuk memukul wajah pemuda di depannya.

“Kau ingin tahu jawabannya? Aku sudah mengirim Sohee ke USA dengan pengawalan yang sangat ketat. Dan kupastikan kau tak akan bisa menemui putriku lagi. Sekarang kau puas? Minggir jauhkan tubuhmu yang bau itu dari hadapanku”. Dengan arogannya ny. Ahn melangkah melewati Seulong yang masih berdiri dengan tatapan kosong. Ia masih tak percaya dengan apa yang dikatakan ny. Ahn.

*****

“Jadi Ahn Sohee benar benar di Amerika?” lirih Seulong setelah menginvestigasi beberapa teman dekat Sohee.

Sohee POV

Hidup di Amerika, sangat membuat batinku tersiksa. Im Seulong suamiku, tahukah kamu bahwa aku tersiksa disini merindukanmu. Setiap hari aku amati pengawasan pengawal suruhan eomma. Ku perhatikan gerak-gerik mereka yang sudah mulai bosan mengawasi. Tiba waktunya mereka lengah, aku berhasil kabur untuk kembali ke Korea.

“Tak mungkin…Tak mungkin suamiku pergi begitu cepat meninggalkan fana ini. Tuhan.. sadarkan aku dari mimpi buruk ini” aku tak dapat lagi menopang tubuhku setelah melihat pusara Im Seulong dan pengakuan beberapa orang terdekatnya. Aku masih sangsi dengan kejanggalan yang mereka katakan, tapi aku bisa berbuat apa?

End of Flashback

“Yeobo….” Aku langsung meraih tubuhnya yang sudah tak kokoh lagi. Kurasakan sudah sangat berbeda struktur tubuhnya yang dulu begitu atletis. Aku menyandarkan tubuhku dan kupecahkan tangis dalam pelukannya.

*****

Tuan Im kaget dengan pelukan tiba-tiba wanita paruh baya di hadapannya. Ia masih tak mengerti sikap ahjumma ini. Yeobo? Apa dia istriku? Benarkah ia Ahn Sohee, hatinya terus bertanya.

“Benarkah kau Ahn Sohee, istriku?”

Wanita paruh baya itu mendongakkan kepala dan menganggukkan kepalanya tanpa jawaban. Ia terus memeluk suaminya, lebih dari dua dekade ia tak bertemu dengan pria yang menjadi tulang dadanya itu.

*****

“Oppa, besok kita akan menikah. Restui kami semoga kami dapat bahagia selamanya. Kami terus berdoa semoga kau di surga menatap kami dengan senyum kebahagiaan yang tak pernah hilang dari sosokmu itu” ujar Stella di damping Hangeng yang erat memegang pundak kekasihnya.

*****

Tuan Im menuntun istrinya masuk ke dalam istana besarnya. Rasa kagum terpasang dari wajah ny. Sohee melihat hasil kerja keras suaminya yang dulu hanya pemuda biasa yang tak jelas pekerjaannya. Mereka menyusuri istana bergaya Western itu dan mendekat ke sebuah ambang pintu. Dibukanya pintu kamar tersebut pelan-pelan agar empunya tidak terbangun. Ny. Sohee melirik wajah suaminya seolah-olah bertanya, itu anakku?

Flashback

Sembilan bulan lamanya sejak pernikahan, perut Sohee terus membesar. Ia terus menjaga bakal bayi yang menempati rahim kokohnya. Malaikat kecil, buah hasil cintanya dengan Im Seulong selalu ia nanti keberadaanya di bumi. Tiba waktunya saat ia melahirkan. Tanpa kendala, ia melahirkan dengan proses secara normal. Ia sempat menggendong bayi mungilnya itu setelah  tersadar. Rona bahagia ia pancarkan. Tiga tahun lamanya ia merawat buah hatinya sendiri, sampai suatu saat sebuah kendali memerintah untuk memisahkan keduanya.

Di Korea, Im Seulong bertemu dengn ny. Ahn yang tengah bermain dengan cucunya. Ia curiga dengan putri kecil yang bersamanya. Usai peristiwa itu, Im Seulong terus menyelidiki siapa jati diri putri kecil yang bersama ny. Ahn. Setelah mengetahui semuanya, ia pun berhasil merebut putrinya dengan jalur hukum dari tangan ny. Ahn. Tapi sayang, ia masih tak mengetahui keberadaan Ahn Sohee. Bahkan ia percaya bahwa istri yang sangat ia cintai sudah damai di alam sana. Dibantu oleh beberapa pelayan, ia mampu membesarkan putrinya yang kini berubah menjadi gadis yang sangat cantik.

End of Flashback

****

“Terima kasih halmoni sudah merawatku” ucap seorang namja memasang senyum.

Lima bulan lamanya namja itu dirawat oleh seorang halmoni berkehidupan sederhana di sebuah desa terpencil.

Kini kondisi namja tersebut sudah mulai membaik akibat suatu kecelakaan yang sangat tragis. Lehernya sudah mampu bergerak bebas, setelah lama tertahan oleh perawatan tabib setempat. Jika ditangani menggunakan medis, cukup dua minggu saja keretakan leher namja tersebut sudah mampu digerakkan bebas. Setelah kesembuhannya, namja itu tak berniat untuk langsung pergi kembali ke asalnya. Ia ingin tinggal lebih lama untuk membalas budi jasa halmoni yang hidup sebatang kara. Kesehariannya ia membantu halmoni untuk mencari ginseng gunung dan merawat tanaman sayur. Ia sangat suka disaat ia tengah bermain dengan sapi sapi penduduk. Suatu pengalaman baru dan ia sangat antusias menjalaninya.

****

“Putriku..” ny. Sohee mengelus wajah Im Yoona yang masih pulas tertidur dengan genangan air mata. Di sampingnya, tuan Im terus menopang setia pundak istrinya yang kini tengah terpuruk melihat kondisi putri mereka. Ny. Sohee mencium kening Yoona lembut, dibisikkan sebuah doa disamping telinganya. Ketika seorang ibu tengah mendoakan anaknya sebuah kebaikan, mungkin akan mengetuk kuasa Tuhan untuk mengabulkan doa sang ibu. Disampingnya, tuan Im menuntun istrinya untuk mendoakan bersama kesembuhan putrinya.

“Tunggu sebentar yeobo.. Aku akan memanggil dokter Kang untuk mengecek keadaannya”

“Baiklah, hati-hati yeobo” ucap ny. Sohee disambut kecupan manis di keningnya dari bibir tuan Im.

Ny. Sohee terus menatap Yoona penuh sendu. Ia tak bisa membayangkan kondisi putrinya dapat seperti demikian. Ia juga menagisi kisah hidup putrinya yang begitu menyedihkan jauh menyedihkan dibanding kisah hidupnya. Air matanya terus membasahi wajahnya yang sudah semakin menua. Tak disadari air matanya jatuh membasahi kening Yoona, hingga putrinya tergerak sadarkan diri.

Pelan Yoona membuka kedua kelopak matanya. Ia masih mengumpulkan kesadaran untuk dapat memahami apa yang terjadi dihadapannya. Dilihatnya seorang ahjumma yang tengah menangis tak menyadari kesadarannya. Siapa wanita ini, benak Yoona penuh tanya.

Ny. Sohee tersadar bahwa putrinya sudah terbangun dari tidur panjangnya. Disambutnya dengan senyum istimewa. Tanpa berpikir panjang, ia langsung meraih tubuh Yoona. “Putriku…”

Yoona heran dengan tindakan ahjumma ini. Ia tak bisa berpikir mengapa memanggil dirinya, “putriku..”. Ia masih terdiam dalam pelukan ny. Sohee dan terus terkubur dengan pemikirannya tentang sosok yang dihadapannya. Dengan cepat ia melepas pelukan ny. Sohee, “Anda siapa?”

“Aku ibumu, putriku. Kau sudah besar. Aku sangat rindu pdamu” ny. Sohee kembali ingin memeluk Yoona. Tapi dihempas tangannya begitu cepat, “Ibu? Benarkah kau ibuku? Mengapa kau baru muncul sekarang?” tanya Yoona memasang wajah sinis dan tidak sopan.

Ny. Sohee menatap wajah putrinya lekat. Ia memastikan bahwa dirinya lah memang benar ibu kandung Im Yoona. “Ya aku ibu yang mengandung kamu selama sembilan bulan. Maafkan aku jika selama ini aku tak pernah menemuimu” jawab ny. Sohee parau.

“Hhh.. Janganlah mencoba mengelabuhi aku. Ibuku sudah pergi selamanya sejak aku kecil” kekeuh Yoona menampilkan sikap garangnya.

“Tapi benar, aku adalah ibumu. Ibu yang pernah merawatmu selama tiga tahun lebih”

“Dan kemudian kau pergi meninggalkan kami” potong Yoona seraya mendelikkan matanya. Ny. Sohee ngeri melihat tatapan Yoona yang menyeringai, ia merasa sangat bersalah mengapa baru sekarang ia bisa bertemu putrinya.

“Tolong pergi dari kamarku” ujar Yoona tanpa memandang ahjumma dihadapannya.

“Putriku, percayalah aku ini ibu yang melahirkan kamu” Ny. Sohee merangkul wajah Yoona tapi dihempasnya cepat olehnya. Yoona berlari membuka gagang pintu, dan kini ia tengah berdiri sambil memegang gagang pintu yang terbuka.

“Ku mohon, cepatlah pergi. Sebelum aku bertindak kasar” ancam Yoona yang kini sifatnya berubah 180 derajat.

“Putriku…”

“Cepat pergi!!!” Yoona menarik ny. Sohee dan dihempasnya keluar pintu. Ia langsung menutup pintu dengan keras dan menguncinya.

Ny. Sohee tak percaya dengan perlakuan putrinya. Ia terus memanggil nama Yoona mengetuk untuk dibukakan pintu, “Im Yoona putriku..Aku adalah ibu kandungmu. Bukakan pintu sebentar nak..” ny. Sohee terus mengetuk pintu dipenuhi cairan bening dari matanya yang turun begitu deras.

Sementara Yoona duduk terlemas menelungkupkan badannya. Ia tak mengerti dengan sikapnya tadi. Pikirannya begitu kacau, dibenaknya ia masih trauma dengan ibu kandungnya sejak mendengar isu bahwa ibunya meninggalkan dirinya dan tuan Im tanpa alasan. Ia percaya begitu saja isu yang ia terima dari teman-teman kecilnya yang jelas-jelas sangat membenci Yoona kecil. Ia masih tak yakin bahwa yang dilakukannya tadi benar-benar pantas untuk dirinya, meski ribuan penyesalan kini bergelanyut sesak di dadanya.

Tuan Im datang dengan dokter Kang. Ia kaget melihat ny. Sohee yang terus mendobrak pintu kamar Yoona. Setelah mendengar pengakuan istrinya, ia pun mendobrak pintu kamar Yoona dibantu dokter Kang.

“Yoona..” tuan Im mendekati putrinya yang kini bertelungkup di ranjang. Ia memeluknya erat, sementara ny. Sohee terus melihat pemandangan yang membuat dadanya sesak.

“Yoona putriku, jangan seperti itu. Dia adalah ibu kandungmu. Bukankah kau sangat merindukan sesosok ibu?” ucap tuan Im lembut.

Yoona bergeming melepaskan dekapan appanya, “Aku tak punya ibu”

Hati ny. Sohee semakin teriris mendengar perkataan Yoona, ia tak kuasa menahan emosinya dan langsung memeluk Yoona. Dipeluknya dengan erat putrinya itu, tapi Yoona mengerang dan berhasil menghempas tubuh ahjumma itu. “Sudah kubilang, kau bukan ibuku. Sekalipun kau adalah ibu kandungku, percayalah bahwa aku sama sekali tak menganggap ibuku ada di dunia” bentak Yoona yang kemudian pergi meninggalkan kamarnya.

Tuan Im langsung memerintahkan seluruh pelayannya untuk menahan Yoona pergi. Ditariknya dengan paksa putrinya tersebut. Dengan hati yang teriris ia merelakan sebuah suntikan obat bius mengalir di pembuluh darahnya. Kini ia sedikit tenang dengan putrinya yang sudah tak berontak lagi.

Tuan Im memeluk ny. Sohee erat. Ia tahu betul apa yang kini dirasakan istrinya. Ia terus menenangkan perasaan istrinya. Agar keadaan membaik, ia menuntun isrrinya keluar dari kamar Yoona.

****

Namja itu memeluk halmoni erat. Ia tak kuasa untuk pergi meninggalkan ia seorang diri.

“Halmoni, lebih baik kau ikut saja. Aku tak tega meninggalkanmu seperti ini”

Halmoni  hanya terkekeh mendengar ucapan namja itu, “Kkkeke sebelum bertemu kau. Aku juga sudah menjalani kehidupan seorang diri lebih dari 10 tahun. Jadi janganlah kau menganggap bahwa jika kau pergi aku akan kesepian”

“Tapi halmoni, usiamu terus bertambah. Siapa yang akan merawatmu sementara tubuhmu sudah mulai tak kuat untuk bekerja keras”

“Apa kau sedang menghinaku” tatapan halmoni menyeringai, namja itu langsung salah tingkah. Ia langsung minta maaf takut yang diucapkannya menyinggung perasaan halmoni.

“Mian hamnida. Aniya..Bukan seperti itu maksudku. Tapi jujur aku ingin kau ikut denganku, aku sangat merindukan seorang nenek”

“Kkkeke, wajahmu langsung memerah. Tapi aku tetap bersikeras untuk tidak ikut denganmu. Ini adalah tempat tinggalku, sejak kecil aku tinggal disini dan aku juga ingin menutup usiaku disini. Kalau kau terus memaksa aku akan memanggil seluruh warga jika kau akan menculikku”

Namja itu senyum kecil dengan ucapan konyol halmoni. Akhirnya ia pun menyerah, ia tak bisa memaksa halmoni untuk pergi bersamanya.

“Baiklah. Tapi aku akan sering berkunjung kesini. Aku minta halmoni tidak menolak jika kelak apa yang akan aku bawa”

“Tentu saja. Aku akan selalu menunggumu disini membawa seorang istri dan anak-anak yang lucu, kkeke” canda halmoni. Namja itu memeluk halmoni erat, kemudian ia pamit untuk pergi.

****

“Yeobo, mengapa jadi seperti ini. Aku tak tahu apa yang terjadi, aku sangat merindukan anakku. Berpuluh puluh tahun aku hidup di negara orang tanpa seorang suami dan anakku. Bahkan aku tak mengenali keduanya. Bodohnya aku pernah percaya dengan kabar yang memberi tahu aku bahwa kalian telah pergi meninggalkan dunia. Hatiku sangat teriris, ingin sekali ku akhiri hidupku kala itu. Tapi Tuhan tak berkehendak jika aku mati saat itu” jelas ny. Sohee sesenggukan masih dalam pelukan tuan Im.

“Aku mengerti yeobo.. Sudahlah, keadaan akan baik baik saja” tuan Im menenangkan istrinya penuh sabar.

“Mengapa hidup kita seperti ini. Banyak sekali orang yang ingin memisahkan kita. Aku tak sanggup jika selamanya seperti ini. Putriku, aku merasa sangat bersalah padanya hiks..” sedak ny. Sohee

“Berhentilah menangis yeobo. Kau tak sendiri lagi, sekarang ada aku disini. Yoona hanya salah paham. Suatu saat ia pasti tahu kebenarannya, bahwa kau tak pergi meninggalkan kami. Kau hanya dipisahkan oleh beberapa orang dari kami. Sejujurnya selama 20 tahun lebih aku merindukanmu, dan aku tak ingin saat ini kau menangis di hadapanku”

Dari belakang, seseorang tengah mendengar percakapan keduanya. Matanya mulai menggenang, ia pasang kedua telinganya untuk mendengarkan keduanya dengan jelas.

“Begitu banyak ujian cinta kita, percayalah akan semakin besar membangun kekuatan cinta kita. Kau percaya dengan kuasa Tuhan bukan? Meski bertubi-tubi mengirim cobaan tapi pada akhirnya kita dipertemukan kembali. Aku percaya bahwa inilah kebahagiaan sesungguhnya yang diberikan Tuhan pada hamba-Nya yang telah berhasil melewati masa-masa sulit” terang tuan Im.

Ny. Sohee tak berhenti menangis, ucapannya sesenggukan. Ia pun memeluk tubuh tuan Im erat, “Gomawo masih tetap setia mencintai aku. Ya, aku percaya kuasa Tuhan pasti akan datang memberi kita kebahagiaan” isaknya.

Dibalik pintu, seseorang sudah tak kuat menahan air mata. Ia tak percaya melihat pemandangan di depannya, jika ia memang meninggalkan kami mengapa appa masih peduli dengannya. Benarkah yang dikatakannya? Ia melangkah mendekati kedua sosok yang berumur itu. Dorongan dari mana, kini membuatnya memeluk kedua orang tua yang tengah tenggelam dalam pelukan masing-masing.

“Eomma…Maafkan aku” tangis Yoona pecah memeluk ny. Sohee

Ny. Sohee segera membalas pelukan putrinya erat. Ia juga tak kuasa menahan apa yang ingin keluar dari hatinya. Semua perasaan ketiganya tumpah disana. Dari tiap sudut istana tuan Im terpancar senyum kebahagiaan, melihat ketiganya tengah menangis melepas rindu.

“Putriku…Im Yoona”

*****

Kini keadaan Yoona sudah membaik. Rasa depresinya mulai sirna dengan kedatangan eommanya di tengah-tengah keluarga. Ia merasakan kebahagiaan yang hampir sempurna. Meski tak bisa dipungkiri lagi, ia masih merindukan sosok Choi Siwon. Ia telah bekerja keras untuk menyadari kenyataan yang ada bahwa sosok namja yang dicintainya kini telah damai berada di alam sana. Sore ini ia mengunjungi makam Choi Siwon. Ny. Sohee tadinya ingin ikut mengantar, tapi ia memaksa untuk pergi sendiri. Ia memastikan bahwa ia akan baik-baik saja.

“Selamat sore oppa. Bagaimana kabarmu? Maaf baru kali ini aku datang menemuimu. Jujur aku sangat merindukanmu oppa, tapi mengapa begitu bodohnya aku terus melawan kenyataan. Lihatlah oppa, aku masih menyimpan “Y” ini. Terima Kasih oppa, ini sangat indah. Oh iya, kau tahu ini musim gugur. Biasanya kita pergi piknik bersama. Aku sangat merindukan momen itu. Oppa, ku harap kau mendengar ku disana. Sampai kapanpun aku tetap mencintaimu, jika kita tak jodoh di dunia percayalah bahwa kau lah jodohku di surga nanti. Oppa, saranghae” Yoona tak kuat menahan air matanya. Ia terus mengingat semua kenangannya bersama Choi Siwon.

Setelah dari pemakaman, ia tak berniat langsung pulang. Hatinya ingin pergi ke suatu tempat. Taman Musim Gugur yang dipenuhi pohon maple, kesanalah ia pergi. Ia dapat pulang sewaktu-waktu karena ia pergi sendiri tanpa ditemani supir Han.

Ditatapnya mahakarya Tuhan didepannya yang luar biasa indah. Ia duduk di bawah pohon maple besar yang biasa ia tempati saat bersama Siwon. Udara sore yang begitu sejuk dan angin sepoi-sepoi mampu menyibakkan rambut indahnya. Wajah cantiknya kini dapat terlihat leluasa jika ada seseorang yang tengah berada disana. Ia menutupkan mata, di pegangnya “Y” dengan erat. Ia menunduk memanjatkan beberapa doa penuh khidmat.

Tuhan, aku percaya akan kuasa-Mu yang datang tak terduga. Manis pahitnya kehidupan, aku yakin itu sebuah jalan yang diberikan oleh-Mu untuk menguji sebesar mana kekuatan hamba-Mu. Tak akan selamanya kesedihan menerpa, dibalik semua itu akan ada kebahagiaan hakiki yang setia menunggu. Aku yakin, semua yang kau beri padaku adalah sebuah jalan untuk meraih kebahagiaan yang sesungguhnya. Tuhan, jika kau berkenan, aku ingin hidup bersama orang-orang yang kucintai. Kumohon, kabulkan doaku pertemukan aku lagi dengannya…..

“Yoong…” suara kecil terdengar dari belakang. Yoona tak bergeming, ia masih khidmat dengan doanya.

“Yoong…aku disini” sejenak Yoona berhenti berdoa. Ia menyadari ada seseorang yang memanggilnya. Dan sepertinya ia tahu betul pemegang suara tersebut. Ia mengambil nafas dalam-dalam bahwa ia tidak sedang berhalusinasi. Dicubit pipinya kecil, benar ia sedang tak bermimipi.

“Yoong, ini yang terakhir. Jika kau tak datang kemari, aku benar benar akan pergi”

Yoona membalikkan badannya. Ia begitu kaget luar biasa, ditatapnya seorang namja tengah tersenyum lebar seraya merentangkan tangan minta dipeluk.

“Siwon oppa….” Yoona berlari dan langsung meraih tubuh namja di depannya.

Flashback

Hari pernikahan itu datang kembali. Siwon tampak begitu semangat menyambut hari yang sangat penting di kehidupannya itu. Ia tak mau kehilangan kesempatan untuk yang kedua kali, jadi ia persiapkan semuanya dengan baik. Sepanjang perjalanan ia terus memancarkan rona kebahagiaan, ia tak sabar ingin menatap calon pengantin wanitanya. Dengan iseng, ia meraih ponselnya dan mengetikkan sebuah pesan ke nomor seseorang

Apa kau sudah siap tuan putri? Sebentar lagi kita akan menikah. Sedari tadi aku mengulang janji suci, aku benar benar gugup. Aku akan menjemputmu, jangan kabur lagi ya^^ Saranghae

Siwon geli sendiri dengan pesan yang dikirimnya. Ia tak dapat membayangkan wajah Yoona pasti malu membaca pesan ini. Dengan tuxedo putih, ia mengemudi Black Lamborghini Aventandor kesayangannya. Ia masih sibuk dengan ponselnya, huh ayolah Yoong balas pesanku. Tanpa sadar sebuah truk pengangkut bahan bakar dari arah yang berlawanan sudah berada di mulut mobilnya. Ia tak bisa mengambil langkah cepat hingga akhirnya mobilnya terpelanting jatuh ke sebuah jurang bersama truk pengangkut bahan bakar tadi. Siwon masih sempat sadar dengan sekujur tubuhnya yang terluka, ia bergegas menyelamatkan diri sebelum kedua kendaraan tersebut…. BOOM!! Ledakan besar dari kedua kendaraan berhasil membakar sebagian hutan disana. Siwon terkena sedikit percikan api, ia tak bisa mengendalikan tubuhnya sampai akhirnya aliran sungai menyambutnya. Ia masih tersadar untuk menyelamatkan diri saat hanyut di sungai yang sangat deras. Siwon meminggirkan tubuhnya tapi sayang saat di tepi kepalanya menghantam batu besar samapi ia tak sadarkan diri. Untunglah seorang halmoni tengah mencuci kaki di sungai melihat tubuhnya yang penuh luka. Dibawanya pulang dan ia rawat menggunakan pengobatan seadanya sampai Siwon pun sembuh total.

End of Flashback

Kini mereka saling berpelukan. Hantaman angin sepoi-sepoi membuat mereka semakin mengeratkan dekapannya. Gejolak cinta yang mereka rindukan kini sudah tak bisa ditahan, dua bibir sudah saling bertemu. Melumat dan terus melumat. Hasrat yang selama ini terpendam kini menjadikan dua lidah seorang insane tengah bermain dengan hebatnya. Saliva kini menjadi satu, bibir mereka basah saling memberi kehangatan. Sampai senja beranjak, mereka belum melepas gelora asmara mereka yang begitu dahsyat.

*****

 

Kali ini aku berjanji, ini hari pernikahanku yang terakhir. Siwon menatap cermin dengan gagah. Tuxedo putihnya memancarkan aura bangsawan bak pangeran di negeri dongeng. Senyumnya terus bergelut dengan bayangannya. Sebelum pergi, sejenak ia melakukan suatu aktivitas yang ia lupakan saat hari penting yang sama. Dengan khidmat Siwon berdoa, Tuhan dia jantung hatiku. Perkenankan aku bisa hidup bahagia bersama Im Yoona selamanya..

Kini Yoona tengah menatap wajah cantiknya di hadapan cermin. Ny. Sohee dari belakang menyapa senyum bahagia.

“Putriku kau sangat cantik” puji Ny. Sohee memandang paras Yoona saat ini. Kecantikan natural tanpa diimbuhi make up yang berlebihan. Ditambah sebuah mahkota indah kini bersarang di puncak kepalanya. Dialah Snow White masa kini.

Yoona merangkul tubuh Ny. Sohee yang masih terlihat menawan di usianya yang hampir setengah abad. “Eomma…doakan aku” senyumnya menggelora.

Semua hadirin kini sudah terkumpul menempati posisi duduknya masing-masing dengan tertib. Mereka luar biasa takjub menyaksikan dua orang insane bak dari negeri dongeng siap melafalkan janji ikatan suci.

“Pangeran dan Putri salju.. Kisah cinta yang sangat manis”

“Aku tak bisa berpikir bahwa cerita di negeri dongeng muncul di kehidupan nyata”

“Pangeran tampan akan meminang bidadari..Iri sekali”

Seperti biasa, dari beberapa hadirin ada yang menggosip. Mereka takjub dengan penampilan calon pengantin.

“Choi Siwon, di hadapan Tuhan apakah kau berjanji akan menjadi suami dari Im Yoona dan akan menemaninya baik dalam keadaan suka dan duka?”

“Ne, aku berjanji. Aku akan menjadi suaminya yang akan menemaninya baik dalam keadaan suka dan duka”

“Im Yoona, dihadapan Tuhan apakah kau berjanji akan menjadi istri dari Choi Siwon dan akan menemaninya baik dalam keadaan suka dan duka?”

Ne, aku berjanji. Aku akan menjadi istrinya yang akan menemaninya baik dalam keadaan suka dan duka”

“Sekarang dihadapan Tuhan kalian resmi menjadi pasangan suami istri. Selamat silakan berciuman jika berkenan” senyum Pastor Jaeson Ma.

Hadirin yang datang riuh ingin melihat sang pengantin berciuman di depan public. Sementara kedua orang tua dari masing-masing mempelai saling member senyum kebahagiaan tak percaya. Eomma Siwon, sudah luluh hatinya untuk menerima Yoona apa adanya.

“Ayo keluarkan jurus ciumanmu yang paling maut hyung” teriak Kyuhyun di sela sela hadirin. Seohyun mencubit suaminya. “Yeobo, apa yang kau lakukan” ujar Seohyun malu.

Sementara Stella melingkarkan tangannya di badan Hangeng. Mereka saling menyumbar senyum bahagia, “Lihatlah, Kisah cinta mereka sangat dramatis. Aku iri dengan mereka, semoga mereka bahagia selamanya”

Mendengar hadirin yang mulai gaduh, Siwon pun melirik wajah Yoona seakan akan bertanya, kau siap?

Yoona hanya mengedipkan mata bahwa ia siap memuaskan hadirin yang datang. Dan bibir Siwon kini menyapu indah bibir lembut Im Yoona. Pasangan pengantin baru kini tengah asyik mempertunjukkan kehebatan kekuatan cinta mereka di tengah-tengah publik. Saling melumat, saliva bersatu dan basah, tak segan mereka pertontonkan di depan hadirin.

“Hyung, kau terlau erotis. Simpan dulu ciumanmu, ada saatnya kau melakukan itu bukan di depan public seperti ini” cerocos Kyuhyun, sementara Seohyun tengah menutup kedua mata anaknya untuk tidak menonton adengan NC tersebut. “Eonie.. Cepatlah aku tak tahan” tuturnya menggelikan.

Siwon melepaskan ciuman. Kini wajah mereka saling bertatapan lekat. Dengan manja, Siwon memperlihatkan kemesraanya di depan hadirin yang terus riuh dibuatnya. Siwon dan Yoona kini tengah tersenyum member senyum kebahagiaan.

Anyeoong haseyo..

“Ah, apa tidak salah. Kau Choi Siwon?”

“Ne halmoni, perkenalkan ini istriku”

“Anyeoong haseyo halmoni. Nonuen Ima Yoona imnida”

“Kau pandai memilih istri, ia sangat cantik” goda Halmoni.

“Aku sudah menepati janjiku untuk membawa sesuatu, dan inilah yang kubawa kkekke”

“Apa kau sudah memiliki anak, dimana dia?”

“Oppa.. Minho?! Kemana dia” ujar Yoona cemas.

“Aniya, aku tak tahu bukankah sedari tadi disampingmu”

“Eomma..Appa..Lihat aku begitu gagah”

“Minho….!!” Serentak mereka bersamaan mendapati putranya kini belepotan di atas punggung sapi.

THE END

Anyeoong, gimana readers 23 pages? Hmm mian kalo endingnya lama dan kurang greget. Abis UTS dan tugas banyak banget. RCL ya^^

Aku punya blog baru, kalian bisa mampir disana dan nemuin lebih banyak FFku. Tapi belum di post, blog masih dalam proses perombakan hehe^^

Visit me at http: http://foreveryoonwon.wordpress.com/

Kamsahamnida^^

Tinggalkan komentar

137 Komentar

  1. YOONWONLOVERS

     /  Juni 7, 2014

    Sumpah thor,aq baca ini sampe nangis kaga berhenti2
    Ahhhh terharu bngt thorrrrr
    Smngt terus ya thor!!

    Balas
  2. yoonwon

     /  Juli 11, 2014

    oh udh sedih tdinya kasian bgt yoona..
    tp endingnya bagus ^^

    Balas
  3. Smpatt nangiss bacanyaa…😂

    Balas
  4. Tadinya aku udh menangis baca FF ini habis Yoona selalu gagal dgn pernikahannya bahkan cinta mereka di uji, aku pkir tadi wonppa benar2 meninggal ternyata msh hidup di tambah lgi dgn cerita org tua Yoona benar2 cinta yg rumit. Ternyata ke sabaran emang membuahkan hasil, chingu FF mu benar2 daebak, inspirasinya benar2 membuatku terhanyut bacanya

    Balas
  5. Choi Han Ki

     /  Oktober 30, 2014

    Sempat kaget pas tadi siwon di kira meninggal, eh ternyata dia selamat.. Bersyukur bgtt dan akhirnya bisa kembali ke yoona dan yoona juga mendapatkan kebahagiaan bersama keluarganya

    Balas
  6. Cha'chaicha

     /  November 7, 2014

    Dramatis, ku kira akan sad ending mskipun yoonwon moment’y cuma sdkt, tapi keseluruhan bgs crita’y..

    Balas
  7. ending nya keren

    Balas
  8. tiffany

     /  Desember 20, 2014

    Terharu…kalau Tuhan sudah menuliskan takdir jodoh untuk kita..kita akan disatukan walau berbagai rintangan yang menghadang

    Balas
  9. Bikin nangis org Ga baik loh eonnitp makasih udah bikin kita nangis bahagia jg. Daebak bikin ceritanya.

    Balas
  10. ahahah hampir shck

    Balas
  11. sdhifakhri

     /  Mei 11, 2015

    Endingnya lucu, meskipun dichapt awalnya sedih. Gomawo halmoni yg udh rawat siwon smpe sembuh, aigoo minho baru dtg kerumah halmoni aja udh langsung naik sapi, haha😀

    Balas
  12. susi

     /  Juni 8, 2015

    Tadi nya udah engga mau baca karna pas awal baca siwon nya meninggal, tapi pas ngelirik comenan nya ternyata Happy ending jadi di terusin deh bacanya,,😉
    Thanks thor atas ff nya yang mampu mengubek-ngubek perasaan saya, jangan bosen buat nulis ff yoonwon ya..😘
    Bener-bener kisah cinta yang dramatis mengharu biru..😂
    Akhirnya pernikahan mereka dapat terlaksana..😂
    Aku ikut bahagia setelah semua kepiluan yang di alami yoona dia bisa juga dapatin kebahagiaan…😂😂

    Balas
  13. Awalnya sempat bgg tp akhirnya ngerti jg.dan yoona akhirnya bnr bahagia krn bs bertemu dgn eommanya lagi

    Balas
  14. Park Liana

     /  Juli 1, 2015

    happy ending aaaa minho lucu😀

    Balas
  15. Awal bacanya sampe nangis gara” kisaj cinta mereka tragis bgt, aku pikir bakal sad ending tapi akhirnya happy ending mereka bersatu dan hidup bahagia..

    Balas
  16. Elizabeth Veroni

     /  November 16, 2015

    Ffnya daebak thor
    Aku kira siwon udah meninggal gara gara gak dibahas sama sekali awalnya
    Tapi endingnya bagus thor
    Cuma, aku mau kaosh saran, mungkin lebih bagus lagi kalo Yoonwon moment nya ditambahin
    Tapi udah buagus thor

    Balas
  1. Time Machine | YoonG-fanfic

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: