[FF] Destiny’s Game

 

Author : anissa hartanti aka ana-park

Genre : Romance

Rating : PG15

Main Cast :

–       Im Yoona

–       Choi Siwon

 Cast tambahan, :

–       Kwon Yuri

–       Kim Jongwoon a.ka Yesung

–       Lee Minho (disini author ngubah marganya jadi Choi, jadi Choi Minho disini tu bukan SHINee Minho ya ^^)

–       Victoria Song

A/N :ini ff saya yang pertama, tapi meskipun ini ff pertama, ff ini bebas dari unsur-unsur tindak plagiat. jadi maklum kalau bahasanya agak aneh kaku dan belum terlalu bagus. Ff ini sebenarnya terinspirasi dari banyak film, drama, novel dan beberapa pengalaman pribadi saya. Disini belum ada moment yoonwon-nya dan agak kepanjangan soalnya disini saya ingin mengenalkan dulu tokoh-tokohnya. Semoga chingudeul menyukainya. Selamat membaca ^^

*****

Paris, France

Kenapa bunyi itu begitu menusuk telinga?

Yoona mengerang pelan lalu menutupi sekujur tubuhnya dengan selimut putih tebalnya. Pagi hari di tengah musim dingin di Perancis benar-benar membuat warga Paris memilih untuk tetap berada di kasur empuk nan hangat di balut selimut tebal untuk mengurangi dingin yang begitu menusuk kulit. Tapi, bagaimana ia  bisa tenang menikmati kehangatan kasur dan selimutnya jika bunyi itu terlalu bising? Dengan mata yang masih belum terbuka seutuhnya, Yoona menjulurkan tangannya untuk mengaambil jam weker yang ada diatas meja di samping kasurnya lantas melemparkannya ke lantai.

Kenapa bunyi itu tidak berhenti juga? Demi Tuhan, akhir pekan dengan udara yang sangat dingin, bahkan ujian pun sudah selesai, tidak bisakah aku menikmati tidurku dengan kedamaian?

Dengan wajah yang kesal Yoona bangun dari kasurnya.  Masih dengan selimut yang membalut tubuh kurusnya, ia menuju meja belajar yang terletak di pojok kamar untuk mengambil ponselnya.

“Yooobseyoooooooooo” ia menjawab telpon dengan kening yang berkerut sambil berusaha mengumpulkan kesadarannya.

“Akhirnya kau mengangkat telepon eomma nak. eomma sudah berkali-kali berusaha menghubungimu.” Jawab orang diseberang sana.

“Maafkan aku eomma, aku benar-benar merasa lelah, beberapa hari terakhir ini aku kurang tidur karena ujian akhir semester, disamping itu cuaca benar-benar tak bersahabat. Ada apa eomma? Tumben eomma meneleponku sampi berkali-kali, di pagi buta seperti ini pula” jawab Yoona dengan tampang yang begitu kusut.

Eomma Yoona hanya cekikikan mendengar suara anaknya yang begitu parau. “tidak  ada apa nak, eomma hanya ingin memastikan hari senin jam berapa kamu medarat di Korea, agar ibu bisa menjemputmu”

“aaaah itu, kira-kira jam 2 sore aku tiba di Incheon ”

“begitukah? Baiklah kalau begitu. eomma hanya ingin memastikan itu saja. Sebaiknya eomma menutup telepon, dan kamu beristirahatlah dulu, anyyeong”

“hhmm aaahh……nyeooooong” jawabnya sambil menguap lebar.

Tidakkah itu konyol, menganggu tidur indahku hanya untuk satu pertanyaan sepele?

Apa aku akan tidur lagi? Tidak. Bahkan niatku untuk tidur benar-benar sudah hilang.

Yoona menuju meja riasnya dan mulai menatap bayangan dirinya di depan cermin. Begitu kacau. Mungkin itu adalah satu kata yang dapat mendeskripsikan semua hal yang tergambar pada dirinya pagi itu. Dia mulai mengambil sisir dan menyisir rambut panjang dan lurus miliknya. Setelah helaian-helaian rambutnya nampak rapi, diambilnya sebuah karet rambut hitam lalu ia gunakan untuk mengikat rambutnya. Tak lupa setelah itu, ia mengoleskan wajahnya dengan krim pembersih muka lalu menggosoknya dengan kapas putih.

*****

Seoul, South Korea

Sinar matahari menembus ventilasi serta jendela rumah keluarga Choi. Choi Siwon yang menyadari terik matahari mulai menusuk kulit putihnya melalui ventilasi kamarnya langsung terbangun dari tidur nyenyaknya. Setelah mengumpulkan semua kesadarannya, ditutuntunnya badannya ke sebuah pintu kaca dengan jendela kaca disisi kanan dan kiri pintu kaca itu. Ditariknya gorden yang menutupi pintu dan jendela itu. Seketika sinar matahari yang tadinya hanya bisa mengintip dari balik ventilasi langsung menghambur masuk menembus kaca jendela dan pintu kaca itu. Tak lupa ia buka pintu kaca yang menghubungkan kamarnya dengan balkon yng menghadap taman belakang rumah keluarga choi.

“Sejuknya” ia mendesah kecil saat merasakan angin musim dingin seoul menerpanya berkolaborasi dengan sinar matahari. Setelah menikmati angin pagi, ia kembali masuk ke dalam kamarnya lalu menuju ke sebuah ruangan. Ruangan itu berisi segala keperluan berpakaian seorang Choi Siwon, dari Kaos Casual, Celana, Kemeja, Jas, Sepatu, Sandal, Blazer, Hoodie, Pakaian Dalam, Kacamata, jam tangan, tas, dasi, dan pakaian lainnya. Tak perlu waktu lama untuknya memilih pakaian yang akan ia gunakan pagi itu. Tanpa ragu ia mengambil sebuah kemeja lengan panjang berwarna Putih Polos dan sebuah celana Panjang Hitam. Tak lupa ia juga mengambil kaos dalam dan Jam tangan swatch favoritnya. Setelah selesai memilih pakaian, diletakannya barang-barang pilihannya itu diatas tempat tidur, lalu ditinggalkannya mandi.

Beberapa menit kemudian, Siwon sudah rapi dengan pakaian pilihannya. Disisir rambut hitamnya dengan rapi, lalu tak lupa ia menyemprotkan parfum Polo Blue ke lehernya. Setelah semuanya selesai ia pun turun ke ruang makan. Di ruang makan, ayah, ibu dan kakak laki-lakinya sudah duduk manis sambil menikmati secangkir kopi di pagi hari dan croissant asin yang sudah disipakan oleh Baek Ahjumma. Tanpa basa-basi ia langsung mengambil posisi disamping kakak laki-lakinya. Dituangkannya kopi hitam ke dalam cangkirnya lalu mengambil sepotong croissant lalu melahapnya dengan begitu bersemangat.

“Croissant buatanmu begitu enakk ahjumma” Puji Siwon, sedangkan yang dipuji hanya bisa menyunggingkan senyuman.

“Jadi, apa rencanamu hari ini?” Tanya kakak siwon, Choi Minho.

“Aku hanya akan ke proyek sebentar lalu…..” Ucapannya terputus ketika Minho menyela kalimat siwon.

“Berkencan bukan.”

                “Begitulah.. Yuri memintaku untuk mengantarnya memilih wallpaper untuk apartmennya. Dia bilang dia sudah bosan dengan tembok apartmen yang makin hari makin mengelupas” jawab Siwon sembari menyeruput kopinya.

“Berbahagialah kau yang memiliki kekasih, huuuh, aku rindu masa pacaranku” cemberut Minho.

“Kau memang harus pacaran hyung, jika kau tak ingin menjadi bujang lapuk seumur hidupmu .” Seru Siwon disertai seringaian jahil.

“Ah.. Appa lupa memberitahumu Minho-ah, Appa dan eomma ingin mengenalkanmu dengan anak rekan bisnis kami. Ujar tuan Choi.

“Apa appa dan eomma sedang bermaksud merancang “Arranged Marriage” untukku? Hahaahahh… Lucu sekali, ini bukan dinasti Joseon dimana para calon Raja harus menikah dengan seorang Putri agar ia bisa menjadi penerus kerajaan.” Seru Minho jengkel.

“Bukan begitu maksud Eomma dan Appa nak. Kami pada tahap awal ini hanya bermaksud mengenalkan. Memang akan lebih baik jika kalian bisa berpacaran lantas menikah. Tapi kami tidak bisa memaksakannya. Yang terpenting bertemulah dulu dengan gadis itu, jadilah teman terlebih dahulu. Kalau kau menyukainya kau bisa melanjutkan ke tahap selanjutnya, jika tidak tetaplah berteman.

“Singkatnya, Kencan Buta.” Ujar Siwon menambahkan disertai seringaian jahil.

“Arraso, aku akan mencoba menemui gadis itu.” Jawab Minho dengan sedikit ragu  dan mendapat sambutan hangat dari kedua orang tuanya dan adik laki-lakinya itu.

*****

                Seorang gadis dengan postur tubuh tinggi dan kurus. Rambut hitam panjang nan mengkilap miliknya diikat asal-asalan menampakkan leher jenjangnya,  memberi kesan seksi pada gadis itu. Ia menggunakan celana selutut berwarna creme dan baju kaos hijau Olive dan wedges yang senada dengan warna celana dan kaosnya.

“Selamat pagi nona Kwon.” sapa salah seorang penjaga perpustakaan ketika wanita bernama Kwon Yuri itu masuk ke dalam sebuah perpustakaan kecil di distrik Apgujeong. Yuri adalah pemilik perpustakaan kecil itu. Perpustakaan itu  memiliki berbagai macam buku yang ia dapatkan dari kakeknya serta kerabat kakeknya yang sebagian besar berprofesi sebagai guru. Selain itu, kakeknya sendiri adalah bekas kepala sekolah di salah satu kepala sekolah di Busan, namun sayang karena suatu hal dan lain-lain sekolah itu harus ditutup.

“Pagi Sooyoung-ssi. Apa kau sudah mengganti vas bunganya Sooyoung-ssi?” balas Yuri lantas bertanya.

“Sudah nona Kwon,saya baru saja mengganti vas bunganya. Hari ini saya merangkai vasnya dengan mawar putih sesuai keinginan anda nona.”

“Jinjja, baguslah kalau begitu.” Jawabnya disertai senyuman cerianya.

Kriiiiing Kriiiing

Dentingan lonceng kecil yang bergantung diatas pintu perpustakaan berdenting, menandakan ada seseorang yang masuk ke dalam perpustakaan.

“Anyyeong Haseyo.” sapa Yuri ramah

Seorang anak kecil yang wajahnya tampak asing baru saja mendapat sambutan dari sang penjaga perpustakaan. Tapi bocah tu hanya diam.

“Apa kau tak sekolah nak?”Tanya Yuri.

“Ayahku masih mencarikanku sekolah.” sahut bocah itu disertai gelengan kepala bocah itu.

Aaaa mungkin dia dan keluarganya warga baru disini. Tidak heran wajah anak ini tampak asing dan nampak gugup serta bingung pula. Gumam Yuri dalam hati.

“Kalau begitu silakan masuk dan pilihlah buku yang kau suka.” ujar Yuri.

Bomi oneun sori teu-llimyeon..

Sebuah lagu terlantun dengan manisnya dari handphone Yuri. Segera si pemilik Handphone membuka tasnya dan mengangkat teleponnya ketika berhasil mendapatkan ponselnya.

“YAA…. Yuri-aa, kau dimana? Bisakah kau mengantarku ke Poliklinik di Rumah Sakit? Aku merasa ada yang tidak beres pada saraf-saraf wajahku.” Belum sempat Yuri menyambut manis telepon itu untuk sekedar berkata “Yobseyo” tapi sepertinya si penelepon begitu tak sabaran, sehingga langsung “to the point” kepada Yuri.

“Aku tau kau sangat merindukanku, Fanny-ah, tapi bisakah kau sabar sedikit.”

“Aku sudah tidak bisa berbasa-basi lagi Yuri-ah, beberapa titik diwajahku serasa bergerak-gerak tanpa perintahku.”

“Aaah, begitukah? Arasso, aku akan ke cafe-mu sekarang, bersiap-siaplah, aku tutup telepon.” Sahut Yuri sembari memutuskan sambungan teleponnya dengan sang sepupu. Tiffany adalah sepupu Yuri dari pihak Ibu. Sejak kecil Yuri tinggal dengan Ibu, serta Kakek dan Neneknya di Seoul, namun ketika ia mulai menginjak bangku kuliah, ia memilih untuk tinggal di Seoul dengan sepupunya, Tiffany Hwang, sementara Ibu serta Kakek Neneknya memilih untuk tinggal di Busan.

“Sooyoung-ah, sepertinya hari ini kau harus menjaga perpustakaan sendirian, Nona Troublemaker memintaku untuk mengantarnya ke rumah sakit, hhh~”

*****

                Pesawat Korean Air baru saja mendarat dengan mulus di Incheon Internasional Airport. Yoona  sedari tadi sudah tidak begitu sabar untuk menginjakkan kakinya di Korea. Sepanjang penerbangan dari Paris ke Seoul, tidak bosan-bosannya dia memandang keluar Jendela.

“YAAA, Kyunnie, bangunlah!” Seru Yoona kepada sahabatnya yang sedang tertidur di sebelahnya, sembari menggoncang-goncangkan tubuh Kyuhyun.

“Hmmm, ada apa?” Kyuhyun melengguh dari tidurnya.

“Bangun pemalas, kita sudah mendarat di Korea” ujar Yoona dengan semangatnya. Kyuhyun dan Yoona sudah bersahabat selama 9 tahun terakhir. Mungkin jika orang-orang melihat secara sekilas, mereka tampak seperti sepasang kekasih. Namun semuanya di luar dugaan. Yoona menganggap Kyuhyun sebagai sahabatnya, karena sejak awal kepindahannya ke Paris, Kyuhyunlah yang setia menemaninya. Awalnya ia mengira dirinya akan terkucilkan dan sulit mendapat teman. Ternyata dugaannya salah, ia malah memiliki banyak teman, dan yang paling mengesankan adalah ia memiliki teman dekat orang Korea di tengah teman-temannya yang sebagian besar orang eropa. Tapi baik diantara Yoona dan Kyuhyun, sama sekali tak terpikirkan untuk melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih intim. Mereka hanya menganggap sahabat satu sama lain. Yoona mengerti sifat Kyuhyun yang mudah bosan dengan wanita, dan tak jarang bergonta-ganti kekasih. Begitu pula dengan Kyuhyun yang mengerti kisah cinta menyedihkan yang dialami Yoona sebelum ia pindah ke Paris. Tapi sungguh, hati mereka sama sekali tidak tertarik satu sama lain.

Setelah Yoona dan Kyuhyun turun dari pesawat, mereka segera mengurus visa dan mengambil bagasi mereka. Setelah semuanya selesai, mereka langsung keluar dari pintu kedatangan.

“Eomaaaa….!” Seru Yoona ketika mendapati Ibu dan Appanya berdiri di depan pintu kedatangan dan langsung   mendekati mereka. “Eomma, jeongmal bogoshipoyo.. ” Ujar Yoona sembari memeluk ibunya.

“Nado chagi.” Balas ibunya sambil membalas pelukan anaknya.

“Anyyeong ahjumma, ahjussi.” Sapa Kyuhyun sopan.

“Anyyeong Kyuhyun-ssi, apa orang tuamu tak menjemputmu nak? Kalau tidak ayo pulang bersama kami, kami akan mengantarmu.” Tawar Tuan Im ramah.

“Ahh kamsahanida tuan Im, tapi saya akan dijemput sepupu saya, dan saya akan tinggal di rumahnya dulu, karena kebetulan keluarga saya sedang di Jepang.” Jawab Kyu sopan.

“Ahh arasso, kalau begitu kami duluan ya Kyuhyun-ssi.” Lanjut tuan I’m. “Anyyeong.”

“Jangan lupa telpon temanmu ini ya!” Seru Yoona sambil mengedipkan mata sebelahnya, dan Kyuhyun hanya membalas dengan senyuman.

****

                “Masuklah dulu ke kamarmu, eomma sudah meminta bibi Jung untuk membersihkan kamarmu. Kami juga mengganti beberapa furniture dan wallpaper kamarmu. Beristirahatlah dulu, eomma yakin kamu masih “jet lag” eomma akan menyiapkan makan malam. Setelah makan eomma dan appa ingin mengobrol sesuatu yang penting denganmu.” Saran Nyonya Im ketika Yoona dan kedua orang tuanya telah tiba di rumah.

“Nee eomma.” Balas Yoona sopan.

Yoona mulai naik ke lantai atas tepatnya ke kamarnya. Ia sengaja tidak mempercepat langkahnya, karena ia ingin mencermati detil demi detil rumahnya yang tak pernah ia kunjungi selama 9 tahun. Selama 9 tahun ia sekolah ke Paris tidak pernah sekalipun ia pulang ke Seoul. Biasanya hanya Appa, Eomma serta adik laki-lakinya saja yang mengunjunginya di Paris.

Tidak banyak yang berubah, eomma dan appa benar-benar mempertahankan keaslian rumah ini. Ujar Yoona dalam hati.

“Hhh~.” Desah Yoona ketika menghempaskan dirinya ke kasur. “Sepertinya aku harus menghubungi Tiffany dulu.” Ucapnya pada diri sendiri. Diraihnya ponsel yang sedari tadi ia letakkan di dalam tas jinjingnya.

“Yeobseyo”

“Yeobseyo, maaf dengan siapa?” Balas tiffany sopan diseberang sana

“Kau benar-benar tak mengenali suara sahabatmu ini? Baru 2 minggu yang lalu kita telponan.” Sahut Yoona gemas.

Tiffany menjauhkan ponselnyaa dari telinganya lalu melihat nomor yang muncul di layar ponselnya. “Yoona-ah, apakah ini kau? Tapi bukannya kau ada di Paris? Kenapa kau bisa menggunakan nomor Korea? Pantas aku tak mengenali nomormu.” Balas tiffany bertubi-tubi.

“Hahahaha, aku sudah pulang Tiff. Aku sudah di Korea. Baru saja aku sampai.”

“HAH? Kau serius? Kyaaaaa!!! Kenapa kau tidak bilang kau akan pulang? Aku jadi tak menyiapkan apa-apa untukmu. Selain itu sekarang aku sedang di klinik, ada yang tak beres dengan wajahku” seru Tiffany.

“Hahaah, nee aku sudah di Korea? Apa kau sedang sakit tiff?” Tanya Yoona khawatir.

“Aaa hanya sedikit tak beres, nanti aku akan mengundangmu untuk ke coffee and bake shop milikku, sekalian kita kumpul- kumpul. Oh ya aku tutup telepon ya, nanti aku hubungi. Anyyeong…”

*****

                Yuri sedang menunggu Tiffany yang sedari tadi meninggalkan dirinya sendiri di lobby.

“Lihatlah, sebenarnya siapa yang perlu? Kamu atau aku, fanny-ah cepatlah, aku ada janji dengan siwon oppa.” Omel Yuri dengan gusar pada dirinya sendiri. Aku cari aja ya ke toilet? Usul Yuri dalam hati pada dirinya sendiri.

Yuri mulai meninggalkan lobby rumah sakit dan berniat menyusul tiffany ke toilet. Dia tak henti-hentinya melirik arloji yang terlingkar manis di pergelangan tangan kananya, bahkan mungkin ia lupa bahwa tangan kirinya sedang menggengam segelas kopi saking gusarnya.

Di tengah perjalanannya menuju toilet, tiba-tiba ia mendengar sebuah dentingan khas. Ya itu adalah bunyi dari ponselnya, dan bunyi itu menandakan bahwa ada sebuah pesan untuk Yuri.

Tangannya mulai sibuk mengaduk-aduk isi tasnya untuk mencari ponselnya itu. Sibuk mencari ponsel membuatnya tak memperhatikan jalan dan….

Kreeeekkk…

Yuri menabrak seorang pria yang ada di depannya. Minuman yang ia bawa bersentuhan dengan baju sang pria menyebabkan gelas plastik itu penyok serta membuat es cappucino itu menghambur ke baju sang pria. Dan sukses membuat kemeja biru muda sang pria jadi terhiasi bercak kopi.

“Mi-mi-miah-ha-hae…” Ucap Yuri terbat-bata.

“…….” Pria itu hanya diam dan menatap tajam ke arah Yuri. Yuri yang merasa dirinya diperhatikan langsung bingung dan gugup.

“Mianhae, jeongmal mi-miaaanh-hae…” Ucapnya lagi sambil mencakupkan kedua tangannya.

“Hhhh.” Pria itu hanya mendesah. Tak lama kemudian pria itu mulai berbicara. “Gwenchana, lain kali berhati-hatilah.” Ucap pria itu sembari memberikan senyuman datar lalu berjalan meninggalkan Yuri yang berdiri diam dalam keheranan.

Setelah beberapa detik tercengang dengan respon pria itu, Yuri kembali mengecek ponselnya. Dan benar saja, ternyata 1 pesan masih menunggu untuk dibaca.

From : Siwon Oppa

Kau dimana Yuri-ah? Apakah kita jadi pergi membeli wallpaper?

Setelah membaca pesan itu, Yuri langsung menuliskaan balasan lalu menekan tombol send.

To : Siwon Oppa

Miahae oppa, aku masih mengantar fanny ke klinik, mungkin lain kali. L

Tak lama kemudian, pesan dari Siwon kembali masuk. Dengan sigap Yuri langsung membukanya dan membacanya.

From : Siwon Oppa

Aaah, Gwenchana. Katakan pada fanny aku menitipkannya salam cepat sembuh. Dan kau jaga dirimu baik-baik. J

Setelah membaca pesan dari Siwon, Yuri kembali meneruskan langkahnya ke toilet, yang tadi sempat tertuda karena insiden kopi tadi.

*****

                “Yesung oppa…” Seru seorang wanita tinggi dengan rambut panjang lurus yang dicat cokelat. Wanita itu menggunakan kemeja merah, rok hitam dan Jas putih yang membuat semua orang dapat menduga dengan mudah bahwa ia seorang dokter.

“Hmm-.” Pria yang dipanggil langsung menoleh ke belakang, tepatnya ke arah gadis itu.

“Oppa, mana jasmu? Kenakan jasmu, kau sudah mulai bekerja hari ini.” Seru gadis itu. Seketika gadis itu menangkap sebuah bercak cokelat di kemeja Yesung. “Apa yang terjadi pada bajumu Oppa?”

“Aaah, tadi aku tidak sengaja menumpahkan kopi yang aku minum.” Dusta Yesung.

“Tapi itu nampak jorok dan….” Ucapan gadis itu terputus.

“Gwencana Victoria-ssi, aku akan memakai jasku, itu akan membantuku menutupi noda ini.” Ucap Yesung pada gadis bernama Victoria itu.

Awalnya Victoria nampak tak yakin, namun tak lama kemudian, mata besar gadis itu menampakkan ekspresi riang diikuti dengan perubahan bentuk bibirnya, yang tadinya agak mengerucut lalu tertarik menjadi sebuah senyuman manis. “Baiklah kalu begitu, cepatlah ke ruanganmu, ada pasien yang sudah menunggumu dari tadi, Fighting oppa.”

“Gomawoyo, Victoria-ssi…”

*****

                Yesung mulai melangkahkan kakinya ke ruang prakteknya. Dia merasa agak gugup hari ini. Memang, ini bukan kali pertama buatnya duduk di belakang meja untuk mendengarkan keluhan pasien mengenai saraf-saraf mereka lalu memberikan solusi baik berupa saran, obat ataupun operasi. Ini kali pertamanya bekerja di Korea. Sejak beberapa tahun belakangan ini, ia pindah ke Kanada. Ia menjalani masa pengobatan, dan tentunya melanjutkan sekolah kedokterannya untuk mengambil spesialis saraf. Ia juga bekerja disana beberapa tahun belakangan.

“Jeogiyo,…. Chonenun Kim Taeyeon imnida. Saya yang akan membantu anda selama jam praktek anda.” Ucap seorang suster disertai dengan hormat ketika Yesung memasuki ruang prakteknya.

“Aaa, Kim Jongwoon imnida, tapi panggil saja aku Yesung. Bangeupsamida.” Balas yesung sembari mengenakan jas putih dengan logo rumah sakit tempat ia bekerja pada bagian saku jasnya.

“Jadi, kau bisa memanggilkan pasien sekarang Suster Kim.” Ucap Yesung ketika dia sudah mengambil posisi duduk manis di belakang mejanya.

“Neee.”

*****

                Setelah menemukan Tiffany, Yuri bersama Tiffany menuju ruang praktek yang dituju. Selama perjalanan ke ruang praktek, Yuri tidak henti-hentinya mengomel pada Tiffany, karenanya ia tidak jadi pergi bersama Siwon.

Setibanya didepan ruang praktek, seorang suster langsung menyuruh mereka masuk ke dalam ruang praktik, karena kebetulan itu adalah giliraan Tiffany.

Saat memasuki ruang praktek, betapa terkejutnya Yuri melihat sosok yang duduk di belakang meja sambil menulis sesuatu. Menyadari pasiennya telah memasuki ruang praktek, Yesung menyelesaikan aktifitas menulisnya dan mengangkat wajahnya dari kertas tempat ia menulis. Seketika matanya bertemu dengan gadis itu, gadis yang menumpahkan kopi diatas kemejanya. Awalnya ia sempat terdiam, tapi tak lama kemudian ia tersadar dan menyambut pasiennya lalu mempersilakan pasiennya dan pendamping pasiennya duduk.

“Jadi apa keluhan anda Nona Hwang?” Tanya Yesung kepada Tiffany sambil memeriksa data kesehatan Tiffany.

“Aa, dokter, aku merasakan sesuatu yang aneh pada wajahku, beberapa titik seperti bergerak-gerak tanpa sepintaku.” jawab Tiffany sambil memegangi mukanya.

Setelah tiffany menyampaikan keluhannya, Yesung meminta Tiffany untuk berbaring di tempat tidur pasien. Yesung mulai memeriksa saraf-saraf tiffany dengan alat-alat yang baik tiffany ataupun Yuri tak mengerti sama sekali. Di sisi lain, Yuri hanya terdiam sambil menatap ke arah Yesung yang sedang memeriksa Fanny, ia benar-benar tidak menyangka bahwa orang yang ia tadi tumpahkan kopi diatas kemejanya adalah seorang dokter.

Sungguh aku yak menyangka ia adalah seoramg dokter. Ia menjadi dokter di usianya yang begitu muda, aku yakin ia adalah tipikal orang yang akselerasi selama ia bersekolah, hingga saat ini dengan usianya yang begitu muda ia sudah menjadi dokter spesialis saraf.

Gumam Yuri dalam hati. Kemudian, matanya menangkap sesuatu diatas meja Yesung, sebuah papan nama bertuliskan Kim Jongwoon.

Aaa namanya Kim Jongwoon, atau tepatnya Dokter Kim.

Setelah pemeriksaan selesai, baik Fanny maupun Yesung kembali ke kursi masing-masing. “Tidak ada sesuatu yang salah pada sarafmu nona Hwang, kau hanya kurang beristirahat dan kurang mengkonsumsi sayur, buah dan vitamin. Selain itu kau juga harus berolahraga dengan teratur, itu akan menstabilkan sistem sarafmu. Aku akan memberikan kau beberappa butir vitamin yang akan dapat menguatkan sarafmu, aku juga akan memberikan obat penguat saraf, kemungkinan obat ini akan menyebabkan kantuk.” Ucap Yesung seraya memberikan diagnosa kepada Tiffany.

“Aah begitukah dokter, kalau begitu syukurlah tidak ada hal-hal yang berakibat fatal pada sarafku.” Ucap Tiffany lega.

“Iya, sekarang ambilah obatmu, ini resepnya, dan pastikan kau istirahat yang teratur.” Balas Yesung lagi, sambil memberikan resep kepada Tiffany, dengan senyuman yang tak pernah lepas dari bibirnya.

“Aaaa, kamsahanida dokter.” Ucap Tiffany sembari berdiri dari kurisinya.

Yuri yang sedari tadi hanya diam mengamati, mengikuti Tiffany bangun dari kursinya lalu menuju ke pintu. Ketika sampai didepan pintu, setelah Tiffany keluar dari ruang praktek, Yuri masih terdiam di depan pintu sambil memegangi kenop pintu. Ditolehkannya kepalanya pelan menghadap Yesung. Bahkan ia masih dapat melihat bercak kopi diatas kemeja Yesung yang tadi disebabkan olehnya. Merasakan dirinya diperhatikan, Yesung mengangkat kepalanya dari berkas-berkas yang dari tadi sibuk ia kerjakan.

“Waeyo?” Tanya Yesung sambil mengernyitkan sebelah alisnya.

“Aaa, ti-tidak ada apa-apa, aku hanya ingin mengatakan, maaf sekali lagi untuk bercak kopi diatas kemejamu” jawab Yuri gugup sambil membungkukkan badannya.

“Gwenchana, yang penting anda harus ingat untuk berhati-hati lain kali.” Balas Yesung diiringi dengan senyumannya yang begitu manis.

*****

Malam itu keluarga Im berkumpul di ruang makan untuk santap malam bersama. Nyonya I’m sengaja memasakkan Jajangmyeon kesukaan putrinya untuk merayakan kepulangan Yoona.

“Aigoooo, eomma, kau tak pernah berubah, masakanmu selalu lezat. Pantas saja aku tak pernah bosan dengan masakanmu.” Puji Yoona kepada ibunya.

“Kalau begitu makanlah yang banyak, ibu sengaja masak banyak untukmu nak.”

“Selama aku di Paris, aku sempat memiliki tetangga blasteran Perancis dan Korea, pernah ia coba memasakanku makanan korea, tapi sungguhh rasanya sangat a-uhuk uhuukk-neh-ehek-ehek.” Cerita Yoona diikuti dengan sedakan di krongkongannya.

“Kau tak berubah noona, kau selalu makan terburu-buru dan ujung-ujungnya tersedak, hahahaha.” Adik Yoona, Im Seulong menertawakan Yoona.

“Kau ini, bicara saja, lebih baik selesaikan makanmu.” Kesal Yoona setelah berhasil mengatasi sedakannya dengan menegak segelas besar air putih.

“Hahaahah, sudah-sudah, makan dulu, jangan bertengkar.” Nasihat tuan Im dengan bijaksana.

*****

                Setelah makan malam bersama berakhir, Yoona dan keluarganya berkumpul di ruang tengah. Yoona duduk di belakang sebuah piano putih dan mulai melantunkan lagu-lagu indah untuk kedua orangtuanya.

Usai memainkan lagu dengan pianonya, Yoona duduk di sofa putih yang berhadapan dengan sofa yang diduduki kedua orangtuanya. “Tadi siang eomma mengatakan ada sesuatu yang appa dan eomma ingin bicarakan, jadi… Apa yang ingin appa dan eomma bicarakan?” Ujar Yoona membuka percakapan.

“Apa kau sudah memiliki kekasih nak?”

“Mwo?”

“Apa kau sudah memiliki namjachingu?” Ujar Tuan I’m memperjelas pertanyaannya.

“Haahahahah… Aku? Memiliki Namjachingu?  Tentu tidak appa.” Jawab Yoona disertai tawa bingung sekalipun gemas.

“Aaaa baguslah kalau begitu.” Tambah nyonya Im.

“Bagus? Apanya yang bagus eomma? Apa eomma ingin aku menghabiskan hidupku sebagai perawan lapuk ?” Tanya Yoona bingung.

“Appa dan eomma ingin mengenalkanmu pada putra rekan bisnis kami. Tak usah terburu-buru untuk berkencan, bertunangan lantas menikah, kalian bisa pendekatan dulu.” Jelas Tuan Im.

“Hah? Kencan buta? Tapi appa……” Ucap Yoona terputus.

“Tolong jangan membantah dulu nak, kau berkenalan saja dulu dengannya. Kami mohon, ini untuk keberlangsungan kerja sama perusahaan kedua belah pihak. Tapi jika kau memang tidak bisa membuka hatimu, appa dan eomma takkan memaksamu.” Ujar ibu Yoona disertai nada memohon.

Sekalipun orangtuanya menekankan pada kata “takkan memaksamu”, tapi Yoona sadar betul, tujuan dan harapan orangtuanya mengenalkannya dengan anak rekan bisnis orangtuanya adalah untuk menikah lantas mempererat sekaligus mempertahankan kerjasama kedua perusahaan. Tapi sungguh ia begitu tidak tega jika harus menolak, terlebih ia menyadari orangtuanya melakukan ini semua untuk kebaikan hidupnya juga.

“B-baikla-aah kalau begitu, akan kucoba untuk menemui pria itu dulu. Appa, Eomma aku ke kamar dulu, aku ingin beristirahat.” Ucap Yoona dengan sangat terpaksa, lalu  berdiri meninggalkan kedua orangtuanya di ruang kelurga.

Yoona langsung menghempaskan tubuhnya di kasur ukuran queen size di kamarnya. Dipejamkan matanya, seketika butiran-butiran bening mengalir perlahan dari kedua kelopak matanya. Entah mengapa ketika kedua orangtuanya memintanya untuk berkenalan dengan pria pilihan mereka, membuatnya ingat  kisah cintanya di masa lalu, yang membuatnya masih enggan untuk membuka hati untuk pria lain sampai saat ini. Tapi dengan seiring kepindahannya ke Paris, ia harus melepaskan sosok itu, dan sejak saat itu, ia tidak pernah mendengar kabar dari sosok yang ia dambakan untuk beberapa tahun pada saat itu.

*****

                Pagi itu Yoona sudah selesai mandi dan duduk manis di depan meja riasnya. Diusapkannya pelembab lalu bedak tabur yang menyatu dengan kulit putihnya. Lalu ia mengenakan eyeliner dan sedikit maskara. Tak lupa sedikit sentuhan Lip Gloss Pink favouritenya.

Setelah selesai berdandan, ia mengenakan Blouse biru tua yang ia padukan dengan celana pendek hitam di atas lutut.

Hhhh….haruskah aku menemui pria itu? Sejenak ia meyakinkan dirinya. Sungguh ia tak mau dijodohkan seperti ini. Tapi, bukankah tidak baik melawan permintaan orang tua?

*****

                Sudah 15 menit Minho  duduk berdiam diri menunggu sosok yang bahkan ia tak tahu. Matanya tak pernah lepas dari dinding kaca yang menampakan pemandangan di luar cafe tempat ia berada. Perlahan ia menyesap cappucino yang ia pesan sembari menghirup aroma yang dihasilkan cappucino itu. Tiba-tiba matanya menatap sosok wanita jangkung yang baru saja turun dari mobil sedan putih yang terpakir di pinggiran jalan. Wanita itu memasuki cafe tempat ia berada.

Sampai gadis itu sudah memasukin cafe, mata Minho masih belum lepas dari gadis itu. Tiba-tiba suatu hal yang tak disangka Minho terjadi. Gadis itu berjalan, ya gadis itu melangkahkan kakinya menuju meja yang ditempati Minho.

Tak perlu waktu lama, gadis itu sudah berdiri di depan Minho, dan tampaknya gadis itu masih ngos-ngosan.”Apa anda tuan Choi? Maksud saya apa anda Choi Minho?” Tanya gadis itu dengan nada agak ragu pada Minho.

Awalnya Minho hanya memandangnya, sampai ia mendapatkan kesadarannya ia membalas. “Duduklah dulu, kau nampak kelelahan.”

Gadis itu nampak ragu. Namun beberapa detik kemudian ia duduk di kursi yang berhadapan dengan Minho. “Mianhe, Jeongmal Mianhe, karena keterlambatanku.” Kata gadis sambil menundukkan kepalanya beberapa kali menandakan ia menyesal.

“Gwenchana, kau tak ingin minum dulu?” Jawab Minho.

“Aaa, kamsahanida, tapi aku masih sangat kenyang, jadi bisa kita to the point saja?”

“sebenarnya, ketika kau memintaku untuk to the point, aku bingung harus memulai dari mana.” Jawab Minho sekenanya.

“Kau sudah tau kan alasan kita bertemu?” tanya Yoona berusaha membuka percakapan.

“Nee, aku sudah tau, orang tuaku sudah memberitahukannya. Bagaimana kalau kita memulai dengan saling memperkenalkan diri masing-masing?” Usul Minho.

“Baiklah, aku akan memulai. namaku Im Yoona, umurku 22 tahun, aku baru saja menyelesaikan kuliahku. Sejak SMA kelas 1 aku pindah ke Paris karena aku mendapat beasiswa. Aku kuliah di jurusan teknik arsitektur dan interior. Aku bisa bermain piano. Aku juga sangat suka memasak dan makan. Lalu bagaimana denganmu?” Jelas Yoona panjang Lebar.

“Namaku Choi Minho, umurku 27 tahun. Persis sepertimu aku adalah seorang arsitek. Aku bekerja sama dengan adikku membuat bisnis arsitektur dan interior. Aku memiliki hobi membaca. Sejak umur 5 tahun aku tinggal dengan kakek dan nenekku di Jepang, baru saat umurku 22 tahun aku kembali ke Korea dan tinggal dengan Keluargaku. Aku rasa hanya itu yang bisa aku sampaikan tentang diriku.” Jelas Minho dengan ekspresi gugup.

“aaaaah, arasoo……” Jawab Yoona disertai anggukan.

Suasana menjadi hening sejenak. Keduanya terlalu canggung dan malu untuk membuka pembicaraan.

“apa kau sudah bekerja?” tanya Minho mencoba mencairkan suasana.

“Hmmm, belum. Tapi rencananya aku akan mencari pekerjaaan. Aku tidak mau menghabiskan waktuku selama d Korea hanya untuk berdiam diri dan menghamburkan uang.”

“Berapa lama kau akan menetap di Korea? Tanya Minho lagi.

“Entahlah, mungkin satu tahun ini aku ingin beristirahat dulu sebelum aku melanjutkannya untuk meraih gelar master. Untuk apa kau menanyakan hal itu? Yoona menjawab dengan bingung.

“Ah tidak… Awalnya aku hanya berniat menawarimu pekerjaan di kantorku. Hitung-hitung bisa menambah pengalaman dan kita bisa jadi lebih akrab.”Minho menjawab dengan salah tingkah.

“Apa kau serius? Aku boleh bekerja di kantormu?” Sambut Yoona dengan antusias.

“itu pun jika kau mau, aku tak memaksa. Tapi jika kau memang tak keberatan, kau bisa membawa lamaranmu ke kantorku secepatnya. Kau bisa menemuiku atau adikku untuk menyerahkan lamaranmu.” Jawab Minho sembari mengeluarkan kartu nama dari saku kemejanya dan menyerahkannya kepada Yoona.

“The Chois Design.” Ujar Yoona membaca kartu nama yang diberikan Minho. “Baiklah aku akan membawa lamaran pekerjaanku ke kantormu. Kamsahanida.” Jawab Yoona sembari menundukkan kepalanya.

“Hmm, aku tunggu. Semoga dikedepannya kita bisa lebih akrab.” Ujar Minho sambil tersenyum.

 

 

 

Tinggalkan komentar

88 Komentar

  1. daebak,, bener2 bikin penasaran…
    kira2 gmna nanti yoonwon ketemunya ya…
    author lanjutnya cepet ya..
    hwaetaeng!!

    Balas
  2. di tunggu part selanjut’a,,
    jgn lma² thor penasaran nih,,,hehe

    Balas
  3. Fia

     /  April 19, 2012

    Saya suka dengan gaya tulisan authornya. Tulisan jadi lebh asik dibaca, jadi ceritanya mengalir dan mudah dicerna. Terus cara-cara membuat penasaran pembacanya juga bagus. Penasaran kapan Yoona ketemu Siwon.
    Ditunggu lanjutannya ^^

    Balas
  4. mantep! lanjutttt

    Balas
  5. seru-seru lanjut yah🙂

    Balas
  6. krisnha

     /  April 29, 2012

    penasaran sama kelanjutannya !!!!!!!!!! di tunggu kelanjutannya . fighting !!!

    Balas
  7. rina_nizs

     /  April 30, 2012

    penasaran ma crtnya blm da lanjutan nya ya….

    ditunggu lanjutan nya🙂

    Balas
  8. rhein

     /  Mei 4, 2012

    like like like ma ceritanya,,jd g sbar nunggu next part’y…jgn lma2 yah chingu…:)

    Balas
  9. santi

     /  Mei 7, 2012

    penasaran ama crtnya…….di tunggu lanjutanya…….

    Balas
  10. critanya keren,
    bru part 1 aja aq udh pnsaran bnget,,

    aq tnggu ea part slnjutnya…

    Balas
  11. santi

     /  Mei 15, 2012

    crtanya bkn pnsaran…..bnyk teka tekinya…..sp yang nyakitin yoona oenni dl…
    di tunggu part lnjtnya thor…jngn lm ya….

    Balas
  12. Iroh

     /  Juni 2, 2012

    Iih kmana ya autor yg punya ini ff kok ngak di post2 part 2 udah penasaran nih udah lama bnaget di tngguin oh ya kan wonpa udah ama yuri jdi nti gmana bsa jdian ama yoona ya sedangkan yoona mau di jodoin ama kk siwon hi cpetan di post dong penasaran

    Balas
  13. laksmidewi

     /  Juni 3, 2012

    lanjut ya thorrr

    Balas
  14. ooooouuuwwww lanjut ya…. kirain td cuman oneshot….
    kyx kurang cocok minho jadi kknya siwon, lbh cocok jd adiknya. alnx mukax imut… kekekekeke….

    Balas
  15. Lanjutanx mana Author ??? pnasaran tingkat tingi nihhh…….

    Balas
  16. Zary Yana

     /  September 22, 2012

    Lanjut…..thor

    Balas
  17. nana

     /  September 23, 2012

    wah, t’ptus critany..
    ni chapter y? sya kira oneshoot…

    tp ttep daebak… pnasaran ma crita slnjtny…

    Balas
  18. seokyu yoonwon

     /  September 30, 2012

    Daebak thor cepet lanjut ya
    Penasaran nih

    Balas
  19. Seru Min..
    Aku sk alurnya..
    Kira2 gmn ya pertemuannya yoonwon..
    Cepetan ya min..
    Bikin penasaran

    Balas
  20. Aiko55

     /  Februari 5, 2013

    Authoorr~
    Ceritanya bagusss~
    Lanjutin yaaa ;;)😛

    Balas
  21. hania

     /  April 8, 2013

    Ceritanya bagus lanjut ya thor penasaran bgt

    Balas
  22. deka

     /  April 17, 2013

    yak author apa lanjutannya ada, ko aku baru baca ini ya hehe🙂 gomawo

    Balas
  23. aat yoonwon

     /  Juli 18, 2013

    Kayaknya seru ne

    Balas
  24. weny

     /  Juli 18, 2013

    ditunggu cerita selanjutnya

    Balas
  25. kadek

     /  Juli 19, 2013

    masih bingung ma ceritanya,tp tetep tnggu next chaperx

    Balas
  26. ayu dian pratiwi

     /  Februari 9, 2014

    Next
    Z

    Balas
  27. ayu dian pratiwi

     /  April 6, 2014

    gantung ceritanya

    Balas
  28. gantung ya kyk jemuran…..

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: