[OS] U Make My Life Complete

[OS] U Make My Life Complete

Type: Oneshot

Author: Resty Meidalita Utami/GEE

Genre: Romantic, Family, Comedy

Main Cast: Choi Siwon—Im Yoona

Rating: PG 17+

***

Namaku Im Yoona, umurku genap 30 tahun. Menyandang status sebagai nyonya Choi Siwon sudah 6 tahun lamanya. Menikah dengan pria yang super sibuk sepertinya bukanlah hal yang mudah. Bagaimana tidak, selama kita menjadi pasangan suami-istri, kita hanya bertemu saat aku pergi tidur sampai keesokkan paginya ketika sarapan pagi. Itupun jika ia tak ambil lembur kerja.

Hal itulah yang membuatku memutuskan untuk membuka butik kembali yang sempat kututup dulu, setidaknya aku masih mempunyai kegiatan agar tak selalu berada dirumah. Kalian tahu sebegitu bosannya saat berada didalam rumah yang besar ini seorang diri? Hanya berpenghuni dua orang namun tak pernah ditempati selama 24jam penuh.

Tak ada pembantu dirumah ini, aku lebih suka merawat rumahku sendiri, karna jadwalku menjaga butik hanya dari pukul 9 pagi sampai pukul 3 sore.

Memang terasa begitu hambar, selama 6 tahun hidup bersama, sikapnya padaku tetap saja seperti itu. Maksudku untuk jujurnya, ia adalah pria yang sangat dingin yang pernah kutemui. Setelah menikah tak pernah kudengar dari mulutnya mengatakan ‘I Love You’, atau sekedar memberikan suprise dihari ulangtahunku. Kadang kesal akan sikapnya yang seperti itu, namun entah mengapa cintaku padanya tak pernah berubah.

-You Make My Life Complete-

Pagi ini aku yang masih terlelap diatas tempat tidur menjadi sedikit terganggu saat mendengar suara-suara yang timbul dari lemari pakaian. Perlahan kubuka mataku sedikit demi-sedikit. Terlihat dengan samar tubuh seorang pria jangkung dengan kemeja berwarna putih tengah mengobrak-abrik lemari. Kuubah posisi tidurku menjadi duduk lalu mengeliat, “Yeobeo, apa yang kau lakukan pagi-pagi seperti ini?”.

Ia masih sibuk menggeledah dalam lemari pakaian tanpa menoleh padaku, “Mencari tuxedo hitam yang kupakai kemarin, kau taruh dimana?”.

Kusibakkan rambut lalu kucoba ikat sambil berjalan menghampirinya. Kepalaku masih terasa pusing, aku ikut memasang mataku dengan teliti menyusuri setiap sudut lemari untuk mencari tuxedo yang dimaksud.

“Ini dia”, kutarik tuxedo yang berada diantara tuxedo lainnya lalu kusodori pada suamiku. “Akan pergi kemana?”.

Ia layangkan jas nya dan langsung memakaikan pada tubuh kekarnya. “Hari ini ada rapat penting bersama presdir Jung, aku akan pulang malam lagi”.

Heuh…seperti biasa alasannya selalu membuatku kecewa. Kuhela nafas dengan lemas sambil memperhatikannya.

Ia memang orang yang sangat disiplin dalam hal apapun, dalam keadaan yang masih pagi buta seperti ini saja ia tetap tepat waktu. Padahal kemarin malam dia pulang begitu larut, entah hanya istirahat berapa jam.

“Aku pergi”, pamitnya menatapku sekilas sambil menjingjing tas kerjanya lalu berjalan keluar kamar.

Aku mengikuti dari belakang, “Sudah sarapan belum?”.

“Nanti saja dikantor”, jawabnya enteng masih dengan langkah yang semakin dipercepat.

Kuhentikan langkahku saat sudah berada di teras rumah, kutatapi ia saat masuk kedalam mobil sampai akhirnya melaju dan mulai berlalu.

“Sendiri lagi”, kuhela nafasku dengan berlebihan.

Lagi-lagi aku harus kembali berada didunia yang begitu sepi.

“Nyonya Choi”, panggil seseorang yang membuatku berpaling kearah suara.

“Ah, ahjumma. Selamat pagi”, aku balas menyapa tetanggaku yang tengah menyirami tanaman dihalaman rumahnya sambil ku lanjut membungkukkan kepala.

“Suamimu baru berangkat bekerja ya?”.

Aku mengangguk, “De, seperti biasa dia begitu sibuk”.

“Umm…apa kau tak bosan nyonya Choi? Kuperhatikan setiap hari ia selalu sibuk saja, dihari-hari liburan pun dia masih pergi bekerja”. Ya memang benar, jika ingin jujur… aku bosan sekali dengan hidupku sekarang‼.

Aku tersenyum dengan kaku, “Walaupun begitu dia adalah pria yang begitu romantis, setiap malam ada saja kejutan yang selalu tak kuduga. Sikapnya yang seperti itulah yang membuatku tak bosan padanya”, bohongku seraya menunjukkan senyuman palsu -_-.

“Jinjja? Dia seperti itu? Astaga, benar-benar tak kusangka. Memang benar ya apa yang orang katakan, jangan melihat orang dari luarnya saja. Nyonya Choi, kita patut bersyukur karna memiliki suami yang perhatian”.

Lagi-lagi kuanggukan kepalaku sambil tersenyum, bisakah ia berhenti berceloteh. Kudelikkan mata saat memalingkan wajah dari wanita cerewet itu.

“Yeobeoya, aku berangkat kerja dulu”, ujar seorang pria sekitar 45 tahun menghampiri kami berdua.

Kim ahjumma berbalik dan langsung merapikan dasi suaminya tersebut. “Baiklah. Ingat jangan terlalu lelah, aku tak ingin kau sakit”.

“Ya, akan kuusahakan untuk pulang cepat dan makan malam bersamamu”, jawab Kim ahjussi sambil melontarkan sebuah kecupan di kening Kim ahjumma.

Astaga, bisakah tak menunjukkan adegan lovey dovey padaku di pagi buta seperti ini. Benar-benar membuat cemburu saja.

“Nyonya Choi, annyeonghasimnika?”, sapa Kim ahjussi baru menyapaku. Entah ia baru menyadari daritadi aku berdiri dihadapan mereka.

“Annyeong ahjussi”, jawabku sambil balas membungkukkan kepala. “Sudah akan berangkat bekerja juga ya?”.

“Ye, kalau begitu yeobo, aku berangkat dulu”, pamitnya.

Kim ahjumma mengangguk sambil merapikan pakaian Kim ahjussi untuk terakhir kali, seperti sulit untuk melepas kepergiannya. Sssh… ya Tuhan.

“Hati-hati yeobo”, ucap Kim ahjumma saat Kim ahjussi sudah berada didalam mobil dan siap melaju diantar oleh seorang supir pribadi.

Kim ahjussi membalas dengan lambaian tangan ketika mobil mulai berjalan dan semakin menjauh.

Hhh sungguh iri. Berpamitan untuk pergi bekerja saja sampai begitu romantis seperti itu, pagi yang benar-benar indah ‘untuk mereka’. Padahal usia pernikahan mereka  sudah terjalin berpuluh-puluh tahun, tapi tetap saja masih dapat menjaga keharmonisan rumah tangga. Sedangkan aku yang belum sampai sepuluh tahun menikah saja sudah merasakan dunia yang sangat hambar seperti ini. Andai saja Siwon juga melakukan hal yang sama. Tapi mustahil sekali rasanya, yang ada pria jejadian itu [?] akan tertawa jika aku meminta sebuah ciuman pagi saja darinya -_-.

-You Make My Life Complete-

Sudah pukul setengah 8, selesai mencuci piring aku langsung pergi mandi dan merias diri untuk bersiap-siap pergi ke butik.

“Ah..!”, olesan lipstick ku hampir sana tercoreng kesembarang arah saat mendengar bel rumahku berbunyi secara tiba-tiba. Pagi-pagi seperti ini siapa yang datang?

Dengan berat hati kuturun kelantai bawah untuk membukakan pintu, orang diluar sana benar-benar tidak sabaran. Menekan bel satu kalipun aku masih bisa mendengar.

Aish…

Kutekan tombol hijau dilayar samping pintu untuk melihat orang yang datang.

Astaga! Matilah aku, yang didepan adalah ibu mertuaku yang super jutek itu. Tanpa berpikir panjang lagi dengan sigap kulangsung buka pintu.

“Eommeonim”, ujarku sesaat membukakan pintu dengan senyuman lebar dan penuh penyesalan.

Seperti biasa ibu mertuaku memasang wajah masam dan menolehku dari bawah sampai atas tak terkecuali. “Kau akan pergi kemana?”.

Bodoh, sekarang ini aku sudah berpakaian rapi dengan pakaian kerja, huu… semoga dia tak memarahiku lagi. Lagi-lagi kusinggungkan senyuman kaku, “Tidak akan kemana-mana”, jawabku menggelengkan kepala. Mertuaku masih terlihat ragu. Langsung ku alihkan pembicaraan awal agar tidak semakin lama diintrogasi oleh wanita ini. “Deuro osipsiyo eommonim”, ujarku menuntunnya untuk masuk kedalam rumah.

Kupersilahkan ia untuk duduk diruang tengah. “Siwon kemana?”.

“Dia sudah berangkat kerja eommeonim..”, jelasku seraya membawa air teh dengan nampan lalu duduk disampingnya.

Dia hela nafasnya, “Bagaimana anak itu, kemarin malam ia katakan tak akan pergi bekerja. Kalau begitu untuk apa aku datang kesini?”, ujarnya menggerutu kesal.

Setidaknya eomma bisa menemui aku kan? Ish jeongmal!

“Siwon oppa sepertinya ada meeting mendadak. Tadi dia berangkat pagi-pagi sekali”, ucapku mencoba menjelaskan.

“Seharusnya kau beritahu dia untuk lebih bisa membagi waktu, kapan harus bekerja dan untuk istirahat. Bagaimana jika dia sakit? Sebagai istri kau juga harus menasehatinya”.

Kenapa malah menyalahkanku? Bukankah itu kemauan anakmu sendiri. Oh Tuhan.

“Inginku juga dia selalu dirumah, tapi aku pun tak dapat berbuat apa-apa. Siwon oppa memang sudah terlalu mencintai pekerjaannya”.

Eommonim terdiam, huh apa yang harus aku lakukan sekarang.

“Eommeonim, sudah makan?”.

“Sebelum datang kesini tentu saja aku sarapan dulu”.

“Ah begitu”.

Kupalingkan wajahku darinya lalu mengendus lemas.

Kulihat ia mulai bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju halaman belakang rumah kami.

Huh… untung saja. Tanpa berpiir panjang langsung kuraih ponselku untuk memanggil Kim Soeun, salah satu karyawan di butikku.

“Yeobeoseyo.. Ada apa agassi?”, sapanya dijalur lain.

“Kim Soeun-ssi, hari ini sepertinya aku akan datang lebih siang, tiba-tiba ada tamu penting yang datang kerumah. Jadi bisakah kau gantikan aku untuk membereskan semua berkas dan dokumen yang ada diruanganku?”.

“Tentu saja agassi, dengan senang hati”.

“Baiklah, aku percayakan semuanya padamu Kim Soeun-ssi. Kamsahamnida”.

“Cheonmanemalseumnida Agassi”.

Kututup flap ponselku sambil menghela nafas lega.

“Yoongie‼”, panggil eommeoni dari halaman.

Aku berdiri, “De eommoni, aku kesana?”, kulangkahkan kakiku sedikit dipercepat menghampirinya.

-You Make My Life Complete-

“Tahu tidak, ibumu tadi datang kesini! Mengapa tak memberitahuku sebelumnya, bagaimana jika dia datang disaat aku sudah pergi”, celotehku duduk disamping suamiku yang tengah membaca koran diatas tempat tidur. Malam ini benar-benar kulampiaskan semua kekesalanku dan tak berhenti bercerita sepanjang waktu.

Namun seperti biasa ia hanya menjawab dengan perkataan yang singkat dan tentu itu tak bisa membuat keadaanku semakin membaik. “Tapi tadi kau belum pergi kan? Yasudah, yang penting eomma datang saat kau ada”, jawabnya dengan nada enteng.

Bukannya meminta maaf malah membuatku semakin kesal saja. “Setidaknya kau memberitahuku dulu, tadipagi keadaan rumah sedikit berantakan. Dan aku lagi-lagi mendapatkan komentar pedas dari ibumu. Ia tak berhenti memarahiku dengan alasan aku bukanlah istri yang baik. Istri yang tidak becus mengurusi pekerjaan rumah tangga. Seharusnya kau juga mengerti posisiku seperti apa”, runtukku memasang wajah marah lalu kubaringkan tubuhku sambil membelakanginya.

Siwon malah menyinggungkan senyumannya lalu berkata, “Baiklah maafkan aku”.

Pagi ini aku berhasil bangun lebih awal daripada suamiku. Langsung ku bergegas menuju dapur untuk membuat sarapan seperti biasa, walaupun sedikit kemungkinan Siwon akan sarapan disini. Jika salah satu staf sudah memanggilnya tanpa memikirkan adanya aku ia pasti akan segera pergi menuju kantor.

“Hhh…pusing sekali”, tiba-tiba terdengar suara Siwon berjalan kearah dapur. Ia mengambil gelas bersih dari lemari lalu menaruh air dingin kedalamnya dari botol air di lemari es.

Namun aku tetap tak mengubrisnya, biarkan saja. Dia harus tahu jika saat ini aku masih marah padanya karna kejadian semalam. Tak kualihkan sedikitpun mataku dari masakan yang sedang ku buat ini.

“Masak apa?”, tanyanya yang sudah saja berdiri tepat disisi kananku.

Jika hari biasa mana ada dia menghampiriku ketika sedang masak seperti ini. Pertanyaannya tak kujawab! Biar tahu rasa.

“Yeobeo, Nanti siang ada acara tidak?”, tanyanya lagi yang menurutku itu adalah pertanyaan yang paling aneh yang pernah ia lontarkan padaku.

“nanti siang? Memangnya ada apa?”, kujawab tanpa menoleh padanya.

“Temani aku untuk datang diacara pernikahan manager Song ya”.

Aku berpaling padanya dengan mata terbelalak dan mulut termanga-manga. “Kau berkata serius?”. Lagi-lagi ia anggukan kepala untuk meyakinkanku. Hah entahlah, kali ini aku tak bisa berpura-pura. Senang sekali rasanya.

“Tentu saja aku mau. Pukul berapa? Nanti siang kan? Kalau begitu aku akan pergi ke butik terlebih dahulu, setelah itu nanti kau jemput aku disana araso?”, kulingkarkan tanganku dilengannya dengan senyuman yang mereka diwajahku dengan lebar.

Tebakanku benar, jika begini ia akan lebih perhatian padaku. Walaupun memang tak seberapa.

-You Make My Life Complete-

“Agassi, anda terlihat begitu ceria hari ini. Ada apa?”, tanya Soeun menghampiriku saat aku tengah terduduk diruanganku berhadapan dengan layar laptopku.

Kuangkat daguku untuk menolehnya, “Terimakasih”, ujarku saat ia menyuguhiku secangkir kopi yang ia simpan diatas meja. “Apa seperti itukah? Terlalu kelihatan ya?”, lanjutku sembari memegangi kedua pipiku yang hampir bewarna semu merah.

“Nona, kau semakin terlihat lucu dengan raut wajah yang seperti itu”.

“Aish jangan berlebihan”, kukibaskan tanganku kearahnya. “Soeun-ssi, hari ini aku tak bisa berlama-lama berada disini karna ada acara”.

Dia mengerutkan kening samar, “Ah baiklah nona”, angguknya mengiyakan saja perintahku.

“Umm…ngomong-ngomong. Gaun yang berwarna biru itu kau simpan dimana?”, tanyaku berdiri sambil memasang mataku kesetiap arah.

“Gaun biru? Ah yang itu… ada di gudang nona. Memangnya ada apa?”.

“Ingin kupakai untuk acara bersama suamiku sore nanti”.

“Benarkah? Sepertinya acara yang begitu penting, kalau begitu sekarang juga gaun yang anda minta akan segera kusiapkan. Jika diperbolehkan aku juga ingin meriasmu secantik mungkin nona. Keahlianku juga tak kalah dengan penata rias terkenal lainnya”, candanya.

“Ide bagus. Kau memang selalu bisa diandalkan Soeun-ssi”, timpalku dan kami tertawa bersama.

“Daaaan… sudah selesai”, ucap Soeun saat merapikan olesan terakhir diwajahku lalu berdiri tepat dibelakangku. “Bagaimana nona? Tak terlalu buruk bukan?”, ujarnya didepan cermin.

Aku menyinggungkan senyuman, “Ya, aku beri dua jempol untukmu”. Mataku masih terkagum-kagum melihat diriku sendiri dicermin.

“Nona, kau bilang suami nona akan menjemput tepat pukul 1 siang bukan? Sekarang sudah pukul 12.30. sebaiknya kau bersiap-siap”, usul Soeun. Ah benar juga, bisa kena omel nanti jika aku tak tepat waktu.

Daritadi aku sudah seperti sebuah setrika baju yang terus saja mondar mandir sana sini sambil memegangi ponsel dengan berharap seseorang yang tengah kunanti saat ini memberi kabar padaku.

Kuhentikan langkah kaki lalu menatap arloji yang terlingkar ditangan kiriku sambil menghela nafas berat. Sekarang sudah pukul 2. Astaga, kemana pria itu?

“Nona, suami anda belum datang juga ya?”, tanya Soeun dari arah belakang.

Kuputar kepalaku, tepatnya kearah Soeun. “De? Ah ternyata dia tidak akan menjemputku. Dia malah menyuruhku untuk datang kekantornya. Kalau begitu aku pergi dulu, ku titipkan semuanya padamu”.

“Nona tidak usah memikirkan tentang hal itu, aku akan berusaha melakukan yang terbaik”.

Aku tersenyum hambar, kemudian berjalan lemas keluar butik dengan perasaan yang tak karuan.

BLUK!

Kututup pintu mobil taxi dengan keras lalu menyenderkan kepalaku dikursi. Kesal… kesal…kesal… kemana orang itu? Kucoba hubungi pun selalu diluar jangkauan. Pasti akan telat lagi, kenapa pria itu selalu tepat waktu saat bertemu dengan oranglain sedangkan untukku tidak. Sepertinya aku memang perlu datang ke kantornya‼ Awas saja Choi Siwon!

“Jangan bercanda, sekarang kutanyakan padamu dengan benar dan kau harus jawab dengan jujur. Tuan Choi Siwon ada dimana?”, tanyaku sigap kearah nona Lee, tepatnya ia adalah sekretaris suamiku.

“Josonghamnida agassi, tapi yang saya katakan tadi memang benar. Tuan Choi Siwon tepat pukul 13.30 tadi sudah pergi ke Incheon bersama presdir Jung dan tuan Han mendatangi acara pernikahan manager Song. Jika anda tidak percaya anda bisa langsung menghubungi….”.

Amarahku sudah tak terkendali lagi, aku menyela ucapannya dengan cepat. “Begitukah? Kalau begitu terimakasih untuk informasinya…”. Kulangkahkan kaki ini pergi berlalu.

Pria jahat! Selalu saja seperti ini!

Diluar kendaliku, tiba-tiba air mata ini sudah membasahi pipi.

-You Make My Life Complete-

Disaat aku tengah berbaring diatas tempat tidur tiba-tiba dibalik pintu sana seseorang mengetuk pintu kamar diikuti suara yang membuatku semakin kesal.

“Yeobeo… sudah tidurkah?”.

Aku tak mengubrisnya sama sekali, tak keluar satu suarapun dari mulutku ini. Namun tetap saja tak membuatnya berhenti mengetuk-ngetuk pintu kamar yang sengaja ku kunci itu. Coba kita lihat, akan tidur dimana dia malam ini. Apa kembali ke kantor dan tidur bersama dokumen-dokumen serta lembaran kerjanya? Atau pergi kerumah eomonim?

Sungguh, aku tak ingin memperdulikan dia lagi. Aku tak peduliiiiiiiiiiiiii.

CLEK~

Terdengar pintu terbuka, aish bagaimana caranya.

Langsung kututup tubuhku dengan selimut dan berpura-pura untuk memejamkan mata.

“Kau harus ingat aku masih punya kunci cadangan”, suara itu yang tiba-tiba membuat darahku naik seketika. Hhh… jangan menangis lagi!

“Belum tidur kan?”, kali ini ia sudah berbaring tepat disampingku. Heu… Im Yoona, tahan air matamu, tahaaaaan.

“Marah padaku ya?”.

Kuubah posisi tubuhku dan menghadap padanya dengan mata yang sepertinya sudah hampir merah, perasaan marah, kesal, dan sedih sudah begitu tercampur aduk disini (hati).

Tak bisa kutahan lagi sekarang, “Dasar menyebalkan! Kau pria jahat, aku benci padamu”, kupukuli tubuhnya tanpa berhenti lalu kembali melanjutkan, “Kau tahu tidak, awalnya aku senang akhirnya sudah beberapa lama kita tak pernah pergi bersama dan saat tadi pagi kau tiba-tiba mengajakku pergi. Tadi siang aku sudah bersiap-siap dan menunggumu dibutik. Semuanya sudah siap tanpa pengecualian sesuai dengan perintahmu, aku sudah berusaha tepat waktu. Tapi tiba-tiba kau membatalkannya tanpa memberitahuku sebelumnya? Jika memang akan seperti ini jadinya sebaiknya kau jangan mengajakku saja dari awal”. Aku menangis, aku benar-benar kecewa.

“Maafkan aku, lagipula aku pergi kesana sambil membereskan proyek perusahaan dan…”.

“Ya, terserah apa alasanmu. Tapi kali ini kau benar-benar sudah keterlaluan. Sekarang aku tanyakan padamu, apa pernah aku semarah ini karna pekerjaanmu yang tak mengenal waktu itu? Tidak, selama ini aku berusaha untuk mengerti. tapi sekarang lain cerita, kau menjanjikan sesuatu padaku tapi kau tak menepatinya. Apa kau mengerti seberapa kesalnya aku sekarang? Kau keterlaluan, aku…”.

Hhh… ini… bisakah ia tak melakukan hal ini sekarang.

Kupejamkan mataku cepat. Bibirnya kini sudah mulai melumat semua bagian bibirku tanpa terkecuali. Dan bodohnya aku tak menolak ciumannya tersebut. Aku hanya diam dan malah menikmati. Jujur aku tak bisa mengelaknya, aku memang rindu sentuhan ini.

Tangannya kini mulai bergerak, ia mengitari setiap lekuk tubuhku dengan lembut. Sampai akhirnya ia membopongku untuk tidur dengan benar masih tak berhenti mencium bibirku.

Sekarang tubuhnya menindih tubuhku dan terus saja membuat sentuhan-sentuhan yang membuat bulukuduk berdiri dan semakin menggugah gairahku. Kali ini ia memang hampir membuatku jadi gila.

Beberapa saat ia menghentikan ciumannya. Kami saling bertatapan sambil mengambil nafas terlebih dahulu.

Perlahan tangannya semakin mendekat kearah dadaku. Namun saat ia akan membuka kancing baju tidurku aku menahan tangannya seakan mengatakan ‘tidak untuk sekarang’.

Ia masih terdiam. Akutahu ia mengerti. kudorong tubuhnya agar menjauh dariku dan ia tak menolaknya.

Dengan dingin aku turun dari tempat tidur lalu berjalan keluar kamar.

Sedikit menyakitkan memang, tapi aku belum bisa memaafkannya untuk sekarang.

Malam ini aku memutuskan untuk tidur di sofa ruang tengah.

-You Make My Life Complete-

Mataku tergerak saat matahari mulai menyinari setiap sudut ruangan melalui ventilasi kamar.

Aku berada dikamarku? Apa semalam dia sengaja memindahkan aku?

Kurentangkan tanganku sejenak sambil menguap. Setelah mencuci mukaku aku turun ke lantai bawah rumah.

Terlihat dengan jelas, suamiku yang sedang berada dihalaman belakang tengah berbincang dengan asyik bersama teman telephone-nya. Entah siapa, aku merasa masa bodoh dengan itu.

Aku berjalan keluar rumah tepat saat sebuah sepeda motor dengan bingkisan bunga mawar merah yang besar berhenti didepan gerbang rumah kami. Kusimak terus orang itu, sepertinya memang akan kesini.

“Agassi, ada sebuah kiriman bunga dari suami anda”, ucap pria asing itu seraya menyerahkan sebuket bunga tersebut beserta sebuah kertas yang perlu aku tandatangan.

Aku masih terdiam. Benarkah Siwon memberikannya untukku?

Melihat gelagatku yang terlihat kaget, pria itu kembali berujar. “Agassi, apa anda tak ingat? Hari ini adalah hari valentine”.

Astaga. Benarkah itu? Valentine? Hari ini? Dia memberikanku kejutan seperti ini?

“Jeongmal? Ah aku hampir tak ingat sama sekali jika hari ini adalah hari valentine”, ucapku basabasi. Tapi ini terlalu aneh untukku, dia tak pernah seperti ini sebelumnya.

“Ha nona, anda ini”, ia ikut menertawai. “Baiklah nona silahkan tandatangan disini”, untuk kedua kalinya ia menyerahkan sebuah kertas.

Aku meraihnya dan sesaat membacanya tiba-tiba saja keningku terkerut samar. “Kim Hye Sun?”.

Pria itu menjadi ikut mengerutkan alis saat melihat keherananku. “Ada apa agassi? Anda nona Kim Hye Sun bukan?”.

Huuu ingin menangis rasanya.

Aku mendongakkan kepala dan tersenyum masam pada pria tersebut. “Tuan, Ini bukan rumah Kim Hye Sun-ssi. Kim Hye Sun-ssi tinggal tepat disebelah rumah kami. Aku adalah Im Yoona, kau salah alamat”.

Kuhela nafasku berlebihan. Rasa kecewaku bertambah lagi hari ini. Hhh… sudah kuduga dari awal. Mana mungkin dia akan memberikan ku kejutan yang selalu ia anggap sebagai hal yang konyol.

“Begitukah? Ah maafkan aku agassi, jeongmal josonghamnida! Aku benar-benar menyesal”, ia berjalan menjauh sesaat membungkukkan kepala kearahku.

Aku berdecak frustasi sambil duduk dikursi yang berada diteras.

Benar-benar malas untuk melakukan sesuatu hari ini.

Valentine tahun ini? Apa specialnya?

“Akhirnya datang juga, terimakasih sudah mengirimkannya cepat”.

Mendengar teriakan seseorang aku langsung mengalihkan pandangan kearah suara.

Kim ahjumma ternyata, ia baru menerima karangan bunga tadi. Senyuman yang lebar terus mengembang dari wajahnya, ia hirup wangi bunga mawar tersebut.

Iri sekali… fuih

“Annyeonghaseyo nyonya Choi”, sapanya tiba-tiba membuatku menoleh padanya kembali.

“Waaa ahjumma, pagi-pagi seperti ini kau sudah mendapatkan kejutan saja”.

“Haha iya, suamiku itu memang paling bisa kan? Nyonya Choi, aku pergi kedalam dulu ya, sekarang sedang sibuk mempersiapkan acara untuk nanti malam sebelum suamiku pulang”.

Aku menjawab hanya dengan sebuah anggukan.

-You Make My Life Complete-

“Jika untuk bekerja aku malas ikut”.

“Dua hari saja, itupun hanya merapatkan tentang proyek disana. Mumpung tuan Han memeperbolehkan untuk membawa salah satu anggota keluarga, apa kau tak akan menemaniku”.

“Ya itu salahmu sendiri”.

“Sudahlah, jangan marah lagi. Sekarang cepat bersiap-siap. Kita akan pergi 1 jam lagi”. Dengan seenaknya suamiku mendorong tubuhku kearah kamar mandi.

Aku menggerutu, “Ish, kau memang selalu serba mendadak”.

Sore ini aku, suamiku, dan beberapa karyawan kantor lainnya sedang melakukan perjalanan menuju pulau Jeju dengan memakai bus perusahaan.

Mulutku mengembung kesal sambil menatap kosong kearah jendela yang berada tepat disisi kiriku. Aku terduduk sendiri, seseorang yang tadinya berada disampingku sekarang hanya menjadi tempat duduk yang kosong.

Kini pria itu malah tengah bercengkrama dengan karyawan lainnya dikursi panjang paling belakang. Oh tuhan, apa ia tak mengerti jika daritadi aku sangat bosan. Tahu akan seperti ini lebih baik aku tak ikut saja.

Choi Siwooooon…. Kau! Sungguh menyebalkaaaaaan.

“Yeoreobun, kalian semua ingat bukan. Hari ini hari apa?”, ucap seorang MC yang memandu perjalanan kami saat didalam bus. Ia berdiri didepan dan berbicara tentu dibantu dengan sebuah microphone.

“Valentine’s Day!”, jawab semuanya kompak. Namun sepertinya hanya kami berdua yang terdengar hening.

Aku mendongakkan kepala, tepatnya kearah Siwon. Ia hanya menatap kedepan dengan tenang. Wajahnya benar-benar datar…. Ya neo! Mana kejutan valentine untukku? -_- aish.

“Aku tahu banyak pasangan kekasih atau suami-istri disini. Untuk para pria, adakah disini yang ingin mempertunjukkan sesuatu untuk pasangannya?”, lanjut MC itu.

Begitu banyak yang ingin kedepan untuk mengutarakan kasih sayangnya pada orang terkasih masing-masing.

Seperti pria ini yang memberikan sebuket bunga mawar yang indah pada istrinya.

Seorang pemuda yang memberikan sebuah kalung pada neneknya.

Pasangan suami-istri yang memberikan kejutan ulangtahun untuk anaknya yang bertepatan dihari ini.

Bus ini benar-benar sudah terpenuhi oleh ribuan cinta.

“Wah, kalian semua sudah membuatku iri saja. Baiklah, apa masih ada yang mau?”, tutur sang MC kembali.

Seseorang dari bangku depan mengangkat tangannya dan berteriak dengan sigap. “Aku!”.

“Ah anda Kim Soohyun-ssi, mari kedepan”, ia mempersilahkan sambil memberikan microphone nya.

Pria bernama Kim Soohyun itu meraihnya lalu berdiri didepan. Sepertinya ia tengah gugup sekarang. Ia menghela nafasnya beberapa kali sambil menelan ludahnya lalu mulai berkata… “Umm… aku.. Kim Soohyun, ingin mengutarakan sesuatu pada gadis yang tengah berada didepanku sekarang ini”, ia menundukkan kepalanya untuk melihat seseorang yang dimaksud. Dari tempatku duduk wanita itu tak terlalu jelas terlihat.

“Chagi… sudah 4 tahun lamanya kita menjalin suatu hubungan. Selama bersamamu aku benar-benar bahagia, namun sekarang aku ingin lebih melengkapi lagi kebahagiaanku ini. Suzy-ya, will u marry me?”, dia meraih tangan kekasihnya dengan tatapan penuh kasih sayang.

Gadis itu perlahan mengganggukkan kepalanya, matanya mulai berkaca-kaca. Sepertinya ia memang sangat terharu akan kejantanan kekasihnya itu [?].

Kim Soohyun tersenyum. Ya, kebahagiannya benar-benar terasa sempurna sekarang. Ia meraih cincin dari saku jacketnya lalu memasangkan ke jari manis milik sang kekasih.

Aku yang melihatnya benar-benar sampai merinding, ingat dulu saat Siwon melamarku. Kulingkarkan tangan di lengannya dan menyenderkan kepalaku dipundak suamiku. Dia menatap padaku dan hanya membiarkanku untuk mengistirahatkan diri dipundaknya yang kurasakan sangat hangat.

-You Make My Life Complete-

“Yeobeo, yang benar saja. Sudah kukatakan aku kesini untuk bersenang-senang. Bukan untuk ditinggal-tinggal terus olehmu”, pekikku kesal.

“Aku hanya pergi sebentar saja, setelah rapat aku akan segera kembali aku janji”.

“Terserah apa maumu, pergi saja jauh-jauh. Tinggalkan aku sendiri”, kututup pintu kamar hotel yang kami tempati.

Hhh apa setiap hari aku harus selalu marah padanya? Ya Tuhan, mengapa dia senang sekali mencari gara-gara.

15 menit aku terdiam diruangan ini seorang diri, mulai merasa bosan. Kuputuskan untuk keluar, biarkan aku pergi tanpanya. Aku benar-benar muak!

Sudah lama aku berjalan seorang diri disekitar pantai. Langkah kaki ini semakin menghantarkanku kesebuah batu karang yang besar. Ku terduduk diatasnya seraya menatap keindahan dari pemandangan laut yang begitu menakjubkan. Kututup kedua mataku seraya menarik nafas dan menghirup udara tanpa polusi ini.

Kesepian lagi dan lagi… aku sungguh bosan. Apa perlu aku berselingkuh dengan seorang pengangguran saja agar tak pernah ditinggal-tinggal lagi seperti ini? Aish sepertinya aku sudah kehilangan akal sehat ku.

“Bercerai? Apa harus aku menggugat cerai ia saja?”.

Ouw‼ Im Yoona gila, jangan melakukan hal sembarangan.

“Tapi apa kehidupan kita tetap akan seperti ini saja? Bahkan sampai sekarang kita belum mempunyai seorang anak. Semua wanita didunia ini juga akan melakukan hal yang sama denganku jika diperlakukan seperti ini oleh suaminya”.

“Gggah benar-benar frustasi”, kubangkit dari dudukku seraya memegang kedua kepalaku dan berjalan kembali ketempat lain.

***

Tak terasa, sudah hampir seharian aku berjalan-jalan disekitar pulau ini. Dan bagus sekali, suamiku tak satu kalipun menanyakan keadaanku. Dia itu… hhh… apa ia tak khawatir, bagaimana jika terjadi apa-apa padaku? Jangan-jangan sekarang ia memang sudah tak peduli padaku lagi?

Baiklah baiklah… jika itu maunya. Dia tak peduli padaku, aku akan lebih tak peduli lagi padanya!

Selesai mandi kukeringkan rambutku dengan handuk didepan cermin rias. Ini sudah pukul 7, kenapa sampai sekarang ia belum kembali. Apa jangan-jangan dia tenggelam di laut? Atau di makan oleh ikan paus? Oh tidak tidak… aku yakin dia baik-baik saja.

Ku coba buang rasa khawatir ini, tapi tetap saja sebagai istri normal mana mungkin aku tak peduli padanya.

Kuraih ponsel dimeja rias… tapi tiba-tiba terhenti sejenak. “Dia tak menghubungiku lalu kenapa jadi harus aku yang menghubunginya duluan?”. Ku simpan kembali ponselku di meja. Jangan berpikiran yang macam-macam, sekarang ini ia pasti sedang bersenang-senang dengan rekan-rekan kerjanya.

TOK~ TOK~

Terdengar suara ketukan pintu. Dia datang? Oh akhirnya

Ku berlari dengan semangat kearah pintu, dan sesaat membukanya aku langsung berteriak. “YEOBEO!”, sapaku tersenyum lebar.

Namun seseorang dibalik pintu menatapku aneh dengan alis terangkat. Oh bodoh, aku salah orang.

“Maaf, ku kira kau suamiku”, ucapku tersenyum kikuk. Ternyata seorang pelayan hotel yang datang.

“Ye gwaenchanseumnida. Agassi, tadi ada seseorang yang menyuruh saya untuk memberikan ini pada anda”, ucapnya sopan lalu menyodoriku sebuah kotak berukuran sedang.

“Ah? De, gomapta”.

Sesaat kemudian ia berpamitan pergi lalu kututup kembali pintu kamar.

“Apa ini?”. Tanpa berpikir panjang ku buka kotak berwarna coklat tua ini. Gaun? Oh ini gaun yang sungguh indah. “bagus sekali”, ku coba pas kan di tubuhku lalu ku putar-putar didepan cermin. “Akan sangat cantik jika aku pakai”.

Setelah ku perhatikan lagi ternyata didalam kotak tadi terdapat sebuah surat. Kubuka kertas yang berada didalam amplop itu dan membacanya.

Yeobeo, malam ini ada acara makan malam bersama semua karyawan. Kau datang ya dan pakai gaun yang sudah ku beri. Jika saat keluar hotel kau melihat sebuah kapal laut besar, kau berjalan saja kesana. Aku berada disana.

Suamimu, Siwon

“Ish, kenapa tidak dia jemput saja aku? Masa iya aku harus datang sendiri”. Ku hentak-hentakkan kaki lalu bergegas berganti pakaian sesuai perintahnya. Choi Siwon, aku masih menghormatimu sebagai suamiku ya!

-You Make My Life Complete-

Sesaat ku keluar dari hotel tempat kami menginap mataku langsung menangkap sebuah kapal laut diujung sana. Apa kapal ini yang tadi ia maksud.

Di malam yang hening kulangkahkan kakiku semakin mendekat kearahnya.

“Kenapa benar-benar sepi?”, gumamku saat sudah sampai di kapal laut itu. “Apa betul ini tempatnya?”, ku edarkan mataku kesetiap arah. Tapi disekitar sini memang sudah tak ada kapal laut lain lagi selain ini.

Tanpa berpikir ulang ku naik saja ke atas dan berdiri dibagian depan kapal. Hembusan anginnya lumayan kencang, benar-benar dingin jika berdiam disini, aku lupa tak membawa mantelku.

Tiba-tiba tubuhku berubah hangat saat seseorang memeluk tubuhku dari belakang. “Yeobeo?”, kuputar kepalaku untuk menatap sedikit wajahnya yang tengah tersenyum kearahku masih dengan posisi yang seperti tadi.

“Dingin ya?”, tanyanya lembut. Oh aku benar-benar terbuai, ini sangat jarang sekali terjadi.

Kuanggukan kepalaku dengan manja. “Baiklah, untuk sementara waktu aku akan menjadi jacket penghangatmu”, ia tundukkan kepalanya dan mencium pundakku dan terus mengitarinya sampai jengjang leherku.

Ah semakin hangat. Hembusan nafasnya benar-benar merangsangku. Ku pejamkan mataku dan menikmati apa yang tengah ia lakukan.

Cukup lama kami dalam posisi seperti ini, sampai akhirnya ia menghentikan aktifitasnya lalu memutarkan tubuhku untuk berbalik kearahnya.

Saat kudapati wajahnya ia tersenyum begitu manis padaku. Namun aku masih memasang wajah bingung tak mengerti.

“kau sudah lapar? Aku sudah menyiapkan makan malam untukmu”, ucapnya lalu merangkul pinggangku.

Namun aku menahannya sejenak, “yeobeo, kau bilang kita akan makan malam bersama yang lain, tapi mana mereka”.

Lagi-lagi ia tersenyum, kyaaa apa yang terjadi padanya?

“Aku hanya ingin memberikan kejutan untukmu”.

“Yeobeo, kau yakin baik-baik saja?”, ku sentuh keningnya.

Kali ini ia tertawa, “Waeyo?”.

“Sepanjang sejarah hubungan kita kau tak pernah melakukan ini. Aku merasa tak tenang, kau yakin baik-baik saja?”, tanyaku dengan nada khawatir. Entahlah, tapi sepertinya aku sudah melebih-lebihkan.

“Kau bilang ingin aku lebih romantis lagi? Sekarang aku sudah melakukannya, lalu apa yang salah?”.

Ku gelengkan kepala masih dengan tatapan cengo [?], “Aniya, hajiman… aku merasa aneh saja. Ini membuatku tak biasa”.

Ia menatap geli kearahku dan mengacak-acak rambutku. “Sudahlah, kau membuatku jadi serba salah saja”.

Ia tarik tanganku menuju tempat yang sudah disediakan lalu mempersilahkanku untuk duduk sementara ia duduk di sisi satunya bersebrangan denganku.

Diatas meja sudah tertata dengan rapi makanan-makanan seafood yang menggugah selera setiap orang yang melihatnya termasuk aku sendiri yang tanpa berpikir panjang lagi langsung menyantap semua makanan yang ada. Suamiku tertawa melihatku yang memang setengah shikshin.

Mataku tak beralih darinya, kuperhatikan ia terus menerus. Dan ia balik menatapku dan bertopang dagu dengan sebelah tangannya sambil mencondongkan tubuh kearahku. “Waeyo? Aku terlihat sangat tampan?”.

“Ya, kau tampan. Sangat tampan”, jawabku lurus.

Ia bersender dikepala kursi, “Jadi kalau seperti itu kau tak jadi untuk menceraikanku?”, candanya.

DEG!

“Mwoya? Neo? Yeobeo… kau mengikutiku”, ucapku gelagatan. Ia hanya tersenyum geli menatapku. “Masalah itu bisa ku jelaskan, aku berkata seperti itu karna sudah kelewat sabar saja. Kau sering meninggalkanku jadi aku tentu sudah kebal. Mana mungkin aku akan menceraikanmu, itu tak mungkin”, ku kibaskibaskan tanganku dengan senyuman kaku.

“Ya, aku tahu itu. Karna kau sangat mencintaiku”, ujarnya.

Kudongakkan kepalaku kearahnya, “Ya, kau benar. Aku sangat mencintaimu. Lalu bagaimana denganmu?”.

“Apa perlu aku mengatakannya? Lagipula aku yakin kau bisa merasakannya sendiri dan mengetahui jawabannya tanpa aku jawab”.

“Aku masih butuh lebih bukti darimu”, timpalku yang sepertinya semakin menantang.

Ia mendorong kursinya kebelakang dan tergerak berdiri lalu berjalan kearahku. Oh aku gugup… apa yang akan ia lakukan.

Jantungku berdetak hebat… ah, dia mulai membungkukkan badannya.

Aku tahu ini… kupejamkan mataku dan sedetik kemudian sesuatu menyentuh bibirku.

Bibir manis nya mencium bibirku hebat. Aku tak ingin tinggal diam, kubuat bibirku sedikit lebih terbuka lagi membuat bibirnya lebih leluasa lagi merajai milikku. Saliva kami kini sudah bercampur jadi satu, lidah kami pun saling terpaut didalam sana. Tanganku melingkar di jengjang lehernya.

Sementara tangan miliknya tak pernah diam mengitari setiap lekuk tubuhku.

Beberapa detik kemudian kami hentikan sejenak ciuman ini karna nafasku yang sudah mulai sesak, begitupun dirinya.

Ia tersenyum lalu mengusap-usap rambutku yang sedikit mulai tak rapi. Aku balik tersenyum dan meraih pipinya.

“Ada sesuatu yang kau lupakan”, ucapnya tiba-tiba. Kuangkat alisku dengan kening yang berkerut samar tak mengerti. tanpa ku perintah ia melanjutkan kembali kata-katanya. “Satu yang membuatku belum puas adalah aku yang belum bisa membuatmu….”, ia membisiki sesuatu di telingaku. Mendengarnya wajahku berubah merah, oh sungguh aku benar-benar malu. Apa dia memang mengikutiku sepanjang hari tadi.

Flash Back

“Bercerai? Apa harus aku menggugat cerai ia saja?”.

Ouw‼ Im Yoona gila, jangan melakukan hal sembarangan.

“Tapi apa kehidupan kita tetap akan seperti ini saja? Bahkan sampai sekarang kita belum mempunyai seorang anak. Semua wanita didunia ini juga akan melakukan hal yang sama denganku jika diperlakukan seperti ini oleh suaminya”.

“Gggah benar-benar frustasi”, kubangkit dari dudukku seraya memegang kedua kepalaku dan berjalan kembali ketempat lain.

End of Flash Back

“Waeyo? Mengapa hanya berdiam diri saja?”.

Kutundukkan kepalaku, namun segera kuangkat kembali dan menatap matanya. “Baiklah”, kali ini aku sedikit berubah menjadi nakal.

Perlahan ku lepas tuxedo hitam yang terpasang di tubuh kekar suamiku dan melemparnya kesembarang arah. Melepas dasinya dan….

Lagi-lagi ia menyerbu bibirku dan menciumku, kali ini seraya membopong tubuhku lalu membawaku kedalam kamar yang berada didalam kapal itu.

Ia merebahkan tubuhku sementara kami masih asyik berciuman dengan posisi ia yang menindih tubuhku. Kali ini ciumannya lebih hebat dibanding tadi, aku merasakan kehangatan yang luar biasa. Suamiku memang yang paling bisa.

Kami berhenti sejenak, lalu ia berkata. “Kali ini tak boleh gagal lagi”, ucapnya tersenyum menyeringai nakal.

Aku mengangguk paham dan dia menarik selimut untuk menutupi tubuh kami.

***The End***

Huahaha yakin deh semuanya pasti kesel baca kata the end? Maunya masih pengen baca lanjutannya kan? Maaf maaf, belum ahli bikin yang begituan, malah suka jadi geli sendiri bener [?] :p lanjutkan dengan imajinasi masing-masing aja ya xD haha

Awalnya FF ini mau di publish tepat valentine kemaren, tapi ternyata baru kelar sekarang2. Jadi yaudah, ini dijadiin FF special birthday nya Wonnie, walaupun ga ada hubungannya ama birthday wowon, anggep aja sebagai gift aku buat united^^ sekaligus permintaan maaf aku karna belum bisa publish cepet ELL chapter 7 nya. Sedikit stress juga dengan tugas disekolah nih, mohon dimaklum ya readers. Tapi sekarang sedang dikerjakan juga kok, aku minta kesabarannya. Tinggal sedikit lagi menuju titik keberesan [?] janji minggu ini publish..

Dan kayaknya ga akan di protect lagi. Kasian ama readers yang masih belum tahu caranya dapet PW, padahal menurutku itu udah gampang banget. Tapi ada juga beberapa yang katanya pas kirim sms ga aku bales.. sungguh kok, semua sms yang masuk aku selalu bales. Udah dipastiin numbernya bener ga? Hehe takutnya ada kesalahan karna itu. Tapi yasudahlah..

Untuk terakhir kali, dimohon untuk meninggalkan komentarnya.. gapake siders-siders-an ya! Wajib loh ini.. nanti Siwon oppa kasih potongan kue ultahnya.. xD wahaha Siwon oppa yang ngasih ya, jadi jangan tagih2 ke aku :p

Sekali lagi maaf jika kurang memuaskan^^ *bow

Tinggalkan komentar

170 Komentar

  1. Ffnya Bagus eon~
    tapi aku Gregetan sm sikap yoona, aturan tuh harus ada ribut”nya dulu smpe siwon menyesal #aaaaakk *maaf thor😀

    Balas
  2. aat yoonwon

     /  Maret 1, 2014

    Gk pernah bosan sama yang namanya ff yoonwon keren

    Balas
  3. ayu dian pratiwi

     /  Maret 9, 2014

    Bagus ff nya. Tapi gak ada konfliknya hehe

    Balas
  4. Dwifumi

     /  Maret 29, 2014

    aaa nanggung bgt thor itu …
    baru mau mulai udh udahan aja hahah …😀

    bikin geregetan … aishhh …

    Balas
  5. Cius dech kereenn ff’y, ada lucu’y ada romantis’y… tak ksih jempol 5 dech klo bs. Hehehe

    Balas
  6. meninggalkn jejak :v

    Balas
  7. wahh happy ending krain bkal sad ending🙂 kasian bgt yoong eonni gra” skap wonppa😦 tp wonppa romantis jga c’😀

    Balas
  8. Kyyaaa romantis

    Balas
  9. any

     /  Mei 6, 2014

    Singkat banget. Diakhir chapt. Kirain dilanjutin ternyata lanjutkan sendiri2 hehehe. Tuh siwon udah tobat beneran g yaa… apa cuma malem itu aja.

    Balas
  10. Romantis bgt ya
    tak sangka wonppa benar2 mencintai istrinya ku pikir tadi gk

    Balas
  11. Aduh.nih couple bener2 deh

    Balas
  12. Ffx bner” bwt gregetan ,,oppa siwon jgn jutek” sama onni yoona ,kasihan😦 onni yoonax . .#sukses selalu utk author

    Balas
  13. Anggun YoonAddict SY

     /  Oktober 27, 2014

    Keren…………

    Balas
  14. utycoyumy

     /  Desember 4, 2014

    greget baca ff ini awalnya sih kesel pas ending haha senyum gak jelas.. pokoknya keren😉

    Balas
  15. Iiihh greget deh sama siwon masa istri secantik yoona sering ditinggalin.untung aja cpt sadar jd bs romantic2an lg hehe… ^_^

    Balas
  16. aldiana elf

     /  Januari 6, 2015

    ff disini keren-keren

    Balas
  17. Dsni kesabaran yoona di uji bgt menghadapi sikap wonppa
    tpi aku suka akhirnya so sweet bgt ,, yoona dpt kjtn tak terduga dri wonppa🙂

    Balas
  18. marsiah

     /  Maret 13, 2015

    Yoona sabar banget ngahadapin sikap siwon oppa yg terlalu cuwek gak ada pethatian2nya sama sekali untuk istrinya.siwon oppa romantin klo ada maunya aja.

    Balas
  19. Ff nya bagus

    Balas
  20. park ra chan

     /  Desember 23, 2015

    Ya…min kok end sih…

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: