[FF] Miss, I Love You (Chapter 1)

PicStory-2013-04-29-09-51

Noona, I Love You chapter I by @uchie90  ||  Cast: Choi Siwon, Im Yoona, Choi Hanjoon ( OC ), Kim Yoojin, Moon Joonwon aka Moon Joowon, Kim Youngwoon aka Im Youngwoon ect  ||  Genre: Set By Your Self  ||  Type: Chapter (?)  ||  Rate: PG 15+  ||  Disclaimer: Cerita murni hasil pemikiran saya, bila ada kesamaan cerita itu benar-benar tidak disengaja. Saya hanya meminjam nama idol diatas untuk melengkapi cerita dan berharap Siwon dan Yoona memang berjodoh dikehidupan nyata ( Aamiin )

 

 

Typo(s)? Maafkan…

 

Happy Reading….

 

 

 

>>> Noona, I Love You

 

Dengan langkah cuek seorang yeoja memasuki butik yang cukup terkenal dipusat perbelanjaan di kota Seoul pagi itu. Pandangannya menyapu seluruh isi butik, tampak seorang yeoja lainnya melambaikan tangan dan berjalan menghampirinya.

 

“Yoong, senang akhirnya melihatmu lagi.” Sapa yeoja tadi sambil memeluk Yoona, sepupu yang telah beberapa tahun tak ia jumpai.

 

“Aku juga senang, aku merindukanmu Uee-ya. Kau tiba-tiba saja pulang ke Korea dan meninggalkanku di Paris sendiri.” Cibir Yoona. “Kau kan tahu tiba-tiba Eomma menyuruhku pulang dan melanjutkan kuliahku disini, ah padahal aku sudah nyaman disana denganmu waktu itu.” Uee dan Yoona memang telah sepakat akan berkuliah di Paris dan mengambil jurusan yang sama. Tapi baru beberapa bulan Uee disana Nyonya Kim sudah menyuruhnya pulang alasannya tidak bisa jauh dari putrinya ini.

 

Yoojin meminta salah satu karyawan butiknya membuatkan minuman untuk dirinya dan Yoona, lalu menuntun Yoona duduk disofa yang berhadapan langsung dengan meja kerjanya. “Jangan memanggilku dengan nama Uee lagi Yoong, kita sekarang di Korea, panggil aku Yoojin.” Yoona mengerutkan dahinya, lalu mendudukan dirinya di atas sofa. ” Sejak kapan kau suka dipanggil Yoojin?”

 

“Ah, sudahlah yang penting kau harus memanggilku dengan nama koreaku.” Yoona mengangguk paham tanpa mempertanyakannya lagi. “Oh iya, butikmu ramai sekali. Bolehkah aku melamar kerja disini?”

 

“Mwo? Kau ini! Orangtuamu bisa memodalimu untuk membuka butik sendiri. Kenapa kau malah melamar kerja di butikku ah?” Tatapan bertanya Yoojin membuat Yoona sedikit bingung. Yoona mendesah berat, “aku tidak diperbolehkan membuka butik Yoojin-ah, Appa memintaku segera menikah.”

 

“Mwo? Menikah?” Yoona mengangguk. “Padahal aku kan masih muda, kenapa dia buru-buru memintaku menikah?” kesal Yoona.

 

“Lalu?”

 

“Lalu? Ya aku menolak dan Appa tak mau lagi memberikanku uang saku, kesini saja aku naik bis. Sungguh tega sekali tuan Im itu, apa dia tak khawatir kalau-kalau anak gadisnya ini diculik.” Yoojin terkekeh geli. “Kau bukan gadis kecil lagi Yoong, kau sudah dewasa umurmu saja sudah 22 tahun.”

 

“Tapi tetap saja, masa anak perempuan satu-satunya dibiarkan luntang-lantung seperti ini.” Yoona kembali menatap memohon Yoojin, “Yoojin-ah kumohon.” Yoona tahu Yoojin tak akan bisa menolaknya kalau sudah memasang tampang seperti ini.

 

“Baiklah-baiklah Im Yoona, tapi aku tak mau Samchon nanti memarahiku karena menerimamu bekerja disini. Jadi kau harus memberitahunya dulu arraso!”

 

“Arra, kau tenang saja, Appa tak akan bisa memberhentikanku disini, ini kan butikmu. Lagian kau kan keponakan tersayangnya.”

 

“Aish.. Kau ini, tentu saja aku keponakan tersayangnya. Karena hanya aku keponakan satu-satunya.” Yoona cengengesan mendengar penjelasan Yoojin.

 

Yoona dan Yoojin sudah dekat sedari kecil, ibu Yoojin adalah Kakak dari ayah Yoona. Yoona pribadi yang unik, berpenampilan ala kadarnya walaupun sekarang ia adalah desainer lulusan salah satu universitas di paris, tetap saja itu tak mengubah kepribadiannya. Yoona memiliki kakak laki-laki yang bernama Im Youngwoon, ia kakak yang penyayang dan sangat disayangi Appanya karena bisa mengelola perusahaan keluarga dengan baik.

 

~•~

 

Seorang namja masih betah berada dibawah selimut yang menggulung tubuhnya sempurna. Disampingnya seorang bocah kecil tak jauh beda dengan namja dewasa tadi, matanya masih tertutup damai, nyaman tentunya. Namja tadi beserta bocah tersebut memiliki lekuk wajah yang hampir sama, bisa dibilang mereka seperti pinang dibelah dua, tentunya yang satu versi dewasa dan satunya versi anak-anak.

 

Tak lama sang bocah menggeliat merasakan sinar-sinar yang memaksa masuk dari celah matanya. Sepertinya seseorang secara diam-diam telah masuk dan membuka gorden yang tadinya menghalangi sang mentari masuk. Si bocah tadi perlahan membuka matanya, pandangannya langsung tertuju pada sosok wanita paruh baya yang telah berdiri menyilangkan tangan didada.

 

“Haelmoni….” Sang wanita tadi tersenyum hangat.

 

“Cucuku sudah bangun…” Kemudian berjalan mendekat ke bocah tadi. Mencium pipi mungil cucunya.

 

“Ayo kita mandi, biarkan saja Appamu ini. Dia memang pemalas, kau jangan ikuti kebiasaannya ya Joon…” Bocah yang di panggil Joon itupun mengangguk tersenyum, lalu menggenggam tangan neneknya mengikuti langkah sang nenek menuju kamar mandi.

 

Selang setengah jam kemudian Joon telah rapi dengan kaos dan celana santai ala anak-anak yang menutupi tubuh kecilnya. Ia berjalan keluar kamar mengikuti kemana neneknya pergi, biasanya pagi ini tentunya ke meja makan. “Waktunya sarapan!!” Biasa Joon ucapkan kalau ia akan makan.

 

“Haelmoni, apa tidak sebaiknya kita menunggu Appa?” Tanya Joon polos. Sang nenek pun tersenyum.

 

“Joon mau sarapan dengan Appa??” Joon mengangguk yakin.

 

“Kalau begitu Joon mau membangunkan Appa??” Lagi-lagi Joon mengangguk penuh antusias.

 

“Ya sudah, sekarang cepat bangunkan Appamu, kalau tidak nanti makanan kita keburu dingin loh.” Tanpa babibu lagi Joon berlari menaiki anak tangga yang akan membawanya kekamar dimana ia dan ayahnya tidur semalam.

 

“Appa ayo bangun, kita sarapan bersama ya… Appa!!!” mendengar teriakan sang anak membuat namja tadi mengeluh kecil.

 

“Ough… Joon, Appa masih ngantuk…” Joon yang mendelik kesal, namun matanya menatap ayahnya yang masih bergulung dengan senyuman jahil. Ia beranjak ke kamar sebelah, tepatnya kamar nyonya Choi, mencari-cari apa yang dia butuhkan. Setelah ketemu Joon pun kembali ke kamar ayahnya.

 

“Aku tidak mau tahu, Appa harus bangun.” Gumam Joon. Dengan gerakan perlahan disibakkannya sedikit selimut yang menutupi kaki Ayahnya dan mulai menelusuri telapak kaki appanya dengan kuas blush on milik nyonya Choi yang diambilnya tadi. Tampaknya itu berhasil, Siwon terlihat terganggu dan menggerak-gerakkan kakinya. Joon terus saja menggoda kaki-kaki Siwon dan dapat dipastikan Siwon terbangun dan terduduk matanya menatap kesal sang putra.

 

“Kau benar-benar nakal ya.”

 

“Aku hanya ingin sarapan dengan Appa.” Jawab Joon cuek.

 

“Baiklah-baiklah, Appa mandi dulu.”

 

“Appa, itu terlalu lama, aku sudah sangat lapar, Appa cuci muka saja.” Perintah Joon yang mau tak mau harus namja itu lakukan.

 

~•~

 

“Siwon-ah hari ini apa rencanamu dengan Joon??” Tanya sang Eomma pada putranya. Siwon tampak berpikir lalu mengalihkan pandangannya kepada Joon yang duduk di sampingnya.

 

“Hari ini anak Appa mau kemana? Appa temani…” Siwon dengan antusias bertanya pada putra kecilnya itu, karena memang jarang ia bermain dengan Joon. Siwon pada hari biasa sibuk dengan kerjaan kantornya hingga hanya pada akhir minggu lah ia punya waktu untuk putranya itu.

 

“Aku mau menemui Eomma Appa, bolehkah? Joon merindukan Eomma…” Polos Joon, membuat Siwon dan nyonya Choi tertegun dengan nada bicara Joon. Nadanya sangat tenang dan masih mengandung keceriaan, entah dari mana kekuatan dari anak berumur 6 tahun yang sudah bisa menerima dengan sabar kepergian sang Eommanya ini dua tahun yang lalu.

 

Siwon tersenyum, “Tentu saja Appa mau. Nah, sekarang habiskan sarapanmu Appa akan mandi dulu dan kita langsung pergi menemui Eomma,” senyum Joon pun merekah di kedua sudut bibirnya, semakin memperjelas lubang kecil yang menghiasi pipi mungilnya.

 

~•~

 

“Hai Eomma bagaimana kabar Eomma disana?” Sapa Joon pada gundukan tanah yang berada dihadapannya. Wajah tampannya tersenyum seperti biasa, tak terlihat raut kesedihan disana. “Eomma tahu tidak, Joon semalam tidur bersama Appa. Eomma pasti cemburu kan? Hahaha, Eomma tidak usah cemburu. Eomma disana bersama Tuhan, pasti disana lebih menyenangkan.”

 

Rentetan kalimat yang lagi-lagi membuat Siwon terenyuh, setiap kesana Joon selalu berhasil membuat ayahnya meneteskan airmata dengan ketegaran yang dimilikinya. Semakin Joon terlihat kuat semakin besar perasaan bersalah yang Siwon rasakan.

 

Dua tahun yang lalu, Siwon kehilangan istrinya karena sebuah kecelakaan. Hyena, mendiang istri Siwon rencananya akan menjemput Joon ke sekolahnya dan dia meminta Siwon mengantarkannya. Namun karena sedang sibuk-sibuknya dengan pekerjaan, hingga Siwon lupa menemani Hyena menjemput Joon. Akhirnya kecelakaan itu terjadi lantaran Hyena tidak melihat truk yang melintas didepan sekolah Joon saat ia menyeberang jalan setelah turun dari taksi.

 

Siwon jadi merasa kalau kecelakaan itu akibat dirinya. Ia sempat mengalami keterpurukan tapi karena Joon yang selalu menampakkan wajah tegar dan senyumnya, ia akhirnya bangkit dan berjanji akan menjadi ayah yang baik dan akan menjaga putranya itu dengan sepenuh hati.

 

~•~

 

Yoona berjalan cepat mengejar bis yang akan tiba beberapa menit lagi. Tanpa mempedulikan omelan orang-orang di sekitarnya akibat sikutannya, Yoona terus saja membelah jalan yang ada didepannya. Tepat saat bis datang Yoona pun sudah berada di halte dengan napas terengah-engah. Dia mendahulukan orang lain yang ingin menaiki bis yang sama dengannya sambil menetralkan detak jantungnya, akibat aksi larinya tadi. Yoona berhambur masuk setelah melihat tidak ada lagi yang akan naik bis. Matanya mencari-cari bangku bis yang kosong untuk dia tempati, namun sepertinya tidak ada jadi terpaksa dia berdiri.

 

Dengan kemeja putih dipadu sweeter cokelat dan celana jeans hitam ketat yang melekat ditubuhnya tidak akan ada orang yang mengira kalau dia adalah seorang putri dari pemilik perusahaan konstruksi terbesar di Korea. Dan tidak akan ada juga yang menyangka kalau yeoja ini adalah desainer muda yang baru saja meluluskan studynya di Paris.

 

“Ops, sorry…” Yoona secara tidak sengaja menyenggol namja disebelahnya. Mereka bertatapan, namun kemudian Yoona membuang mukanya dan beralih menatap keluar jendela bis.

 

“Noona?” Yoona yang merasa namja tadi berbicara menolah lagi memastikan pendengarannya. “Nega?”

 

“Hyena-Noona?” Yoona mengerutkan dahinya melihat kesebelah kiri, kanannya serta kebelakang siapa tahu namja ini tidak bicara padanya. Namun tampaknya memang dirinya lah orang yang disapa namja itu.

 

“Maaf, sepertinya Anda salah orang.” Namja itu masih menatapnya intens. Yoona buru-buru melewati namja itu setelah sadar tempat pemberhentiannya sudah dekat. Yoona menuruni bis dengan perasaan tidak enak, ia mempercepat langkahnya menuju butik Yoojin. Ini hari pertamanya bekerja jadi dia tidak boleh terlambat.

 

~•~

 

Yoona sedang merapikan pakaian yang berada di patung-patung pajangan. Sesekali ia terlihat berbicara dengan Yoojin dan mengganti model pakaian yang sebelumnya melekat di patung dengan pakaian pilihannya. Yoona terlihat ahli dalam menata patung-patung tersebut sehingga terlihat lebih menarik, mengundang orang-orang yang berada diluar untuk singgah dan membeli pakaian yang terpajang itu.

 

Saat tengah asyik melayani para pengunjung butik, Yoona menangkap sosok namja yang ia yakin namja yang sama bertemu dengannya di bis tadi pagi. Yoona berjalan ke arah Yoojin dan memberi tahu tentang hal itu. Yoojin yang sudah mendengar cerita lengkap dari Yoona segera berjalan keluar diam-diam dan menghampiri namja tersebut.

 

“Apa yang Ahjussi lakukan disini? Apa Ahjussi ingin membeli sesuatu di butik itu?” Namja tadi kaget mendapati telah ada seseorang yang mengetahui aksinya. Dia hanya tersenyum gugup sambil menggaruk tengkuknya. “Hmm, apa boleh saya bertanya?” Yoojin mengernyitkan dahinya, “Ahjussi ingin menanyakan tentang yeoja disana?.” Tunjuk Yoojin ke arah Yoona yang berada di dalam butik. Namja tadi mengangguk. “Apa Ahjussi menyukainya?”

 

“Mwo? Ah aniyo.” Namja tersebut menggeleng cepat. “Apa kita bisa bicara di tempat lain, sepertinya saya akan banyak bertanya dan saya mungkin juga akan bercerita panjang pada Anda.” Tanpa menunggu persetujuan Yoojin, namja itu sudah menarik tangan Yoojin menuju kafe terdekat. Yoona yang sempat melihat Yoojin ditarik menjadi heran, kepikiran kalau Yoojin mungkin diculik. Tapi kalau memang diculik tidak mungkin Yoojin menurut saja pasti dia berteriak. Jadi Yoona hanya melihat dari jauh dan berdoa supaya tidak terjadi apa-apa dengan sepupunya itu.

 

~•~

 

“Jadi yeoja yang tadi itu mirip dengan mendiang saudara Ahjussi?” Heran Yoojin, “Tunggu-tunggu bagaimana mungkin aku akan percaya.” Sinis Yoojin. “Tapi itu memang benar, mirip tapi sepertinya juga tidak terlalu mirip.” Bingung sang namja.

 

“Ckck… Anda benar-benar plin-plan Ahjussi.”

 

“Kenapa kau terus memanggilku ahjussi? Memang tampangku seperti ahjussi-ahjussi?”

 

“Lalu aku harus memanggil apalagi, Ahjussi?” Tanya Yoojin yang merasa sangat ingin menggoda namja didepannya ini.

 

“Panggil aku Joowon, Moon Joowon. Dan kau sendiri?” Yoojin menyambut uluran tangan Joowon, ” Baiklah, aku Kim Yoojin, panggil saja Yoojin.” Mereka saling melepas uluran tangan mereka.

 

“Aku tahu kau pasti bertanya-tanya kenapa ada orang yang mirip dengan saudaramu. Mungkin hanya kebetulan saja, aku adalah sepupunya dan aku kenal dia sejak kecil. Yoojin melihat mimik sendu di wajah Joowon, ada perasaan tak enak yang dirasakan Yoojin, pasti namja didepannya ini sangat menyayangi saudaranya itu. Joowon menatap Yoojin dan tersenyum lembut, “terimakasih telah menjelaskan semua, aku hanya penasaran tadinya makanya aku mengikutinya sampai disini. Maaf telah mengganggu dan membuang waktumu, aku permisi.” Joowon beranjak dari tempat duduknya dan perlahan meninggalkan Yoojin dengan perasaan tak menentu.

 

~•~

 

“Samchon!” Joon berlari kearah Joowon yang sudah berjongkok menunggu Joon memeluknya. “Bagaimana harimu boy.” Tanya Joowon setelah Joon melepaskan pelukannya.

 

“Menyenangkan Samchon.” Joowon mencubit pipi Joon gemas. Perlahan Joowon berdiri dan membungkukkan badannya ke arah Siwon yang menyusul Joon menemui dirinya. “Apa kabar Hyung.” Joowon tersenyum lega melihat kakak iparnya ini lebih ceria dari biasanya. Tiba-tiba ia teringat akan sosok yeoja yang terlihat mirip dengan kakaknya tadi.

 

“Aku baik, kau sendiri.”

 

“Aku selalu merasa baik setelah melihat keponakanku ini.” Joowon mengacak rambut Joon. “Bagaimana dengan pekerjaanmu? Pasti kau kurang istirahat akhir-akhir ini karena kasus itu.”

 

“Ya itu memang benar Hyung, resiko jadi detektif, hahaha….”

 

“Joon ayo kita berangkat, Halmoni dan Fany-Imo pasti sudah menunggumu. Hyung aku bawa Joon ya, lusa aku akan mengantarkannya ke sekolah seperti biasa.” Siwon mengangguk.

 

“Joon sudah bawa baju sekolah dan buku-buku untuk pelajaran hari senin kan?” Joon mengangguk. Joowon pun berpamitan pada Siwon dan membawa Joon bersamanya.

 

“Bye Appa…. Sampai ketemu hari senin.” Joon melambaikan tangannya kepada Siwon dan dibalas dengan senyuman lembut Siwon.

 

“Hati-hati kalian dijalan.”

 

“Nde…”

 

~•~

 

“Mwo? Jadi hanya karena aku mirip saudaranya jadinya dia mengikutiku? Pantas saja di bis tadi dia memanggilku Noona.” Yoojin mengangguk, “Aku jadi kasihan melihatnya tadi, sepertinya dia sangat menyayangi kakaknya. Dia juga terlihat tampan.” Yoojin menerawang membayangkan wajah Joowon.

 

“Yak! Kau ini baru juga bertemu dengannya sekali sudah membayangkan macam-macam.”

 

“Apa urusanmu ah.”

 

“Ah, sudahlah. Lihat rancanganku ini, bagaimana apa patut kita coba?” Yoona menyodorkan beberapa kertas hasil desainnya pada Yoojin. “Yoong, ini indah sekali! Oke kita akan coba buat dan melihat respon pembeli nantinya.” Yoona tersenyum bangga mendengar pujian Yoojin.

 

“Tapi kau tahu kan, kalau ini laris kau harus membagi separuh keuntungannya denganku. Tentunya diluar gajiku.”

 

“Aish… Dasar perhitungan sekali kau.”

 

~•~

 

Setelah pulang bekerja Siwon sengaja mampir di sebuah mall yang berada di salah satu pusat perbelanjaan di Seoul. Dengan antusiasnya, Siwon memilih hadiah apa yang akan ia berikan untuk Joon. Ini hari senin dan sejak Joon dibawa Joowon sabtu kemarin ia sudah sangat merindukan putranya itu dan ia yakin Joon sudah menunggunya dirumah. Ia ingin memberi kejutan untuk Joon.

 

Selesai memilih dan membayar benda pilihannya tersebut, Siwon bergegas setengah berlari keluar dari toko tersebut sehingga tidak sengaja menabrak seseorang.

 

“Ah, mianhaeyo.”

 

“Ahjussi bisakah kalau berlari matanya dipakai. Jadi berantakan kan kantong belanjaanku.” Gerutu yeoja yang dia tabrak, Siwon membantu membereskan kantong-kantong yang berjatuhan dari tangan yeoja itu. “Maaf.” Yeoja tadi berdiri dan melihat ke arah Siwon dengan pandangan kesal. Tubuh Siwon membeku seketika. Wajah yeoja ini mengingatkannya pada sosok yang pernah sangat berarti dalam hidupnya. ” Yeoja itu memandang heran namja yang berdiri dihadapannya tersebut, akhirnya tak ambil pusing dan melanjutkan langkah kakinya menuju tempat parkir.

 

“Hyena…”

 

~•~

 

“Appa….” Joon berlari ke pintu utama setelah mendengar suara mobil yang terparkir di bagasi rumahnya. Joon membuka pintu dan berlari ke arah Siwon. “Appa, kenapa wajah Appa kusut begitu? Apa Appa tak merindukanku?” Siwon tersenyum geli melihat ekspresi murung yang dikeluarkan Joon.

 

“Aigoo, Appa pasti merindukanmu Joon. Rasanya Appa ingin mati saja karena dua hari ini tak melihatmu.” Joon mempautkan bibirnya mengejek. “Aku tak percaya.” Siwon makin terkekeh geli.

 

“Ya sudah kalau tak percaya, kau tahu apa yang Appa bawakan untukmu?” Siwon mengeluarkan, sebuah kantong dari dalam mobil. “Ini, anak Appa pasti suka.” Joon melihat isi kantong tersebut dan seketika matanya berbinar.

“Alat lukis? Appa membelikannya untukku?” Siwon mengangguk, “tentu saja, memangnya ada berapa anak Appa. Nah sekarang ayo kita masuk, Joon bisa membuka bungkusannya didalam, oke boy.” Siwon menggiring Joon memasuki rumah dan melewati ruang tamu.

 

“Haemoni! Lihat Appa membelikan alat lukis untukku.” Joon berlari menuju nyonya Choi. “Wah Joon akhirnya Appamu membelikannya untukmu.” Nyonya Choi beralih menatap Siwon, ia merasa ada yang aneh dengan putranya itu.

 

“Wonnie…” Siwon yang sepertinya termenung akhirnya tersadar akibat panggilan nyonya Choi. “Nde Eomma.”

 

“Ada apa? Apa ada masalah dikantor?”

 

“Oh, aniyo. Tidak ada apa-apa Eomma. Aku kekamar dulu ya Eomma, Joon Appa mandi dulu oke.” Siwon berlalu dari hadapan nyonya Choi dan Joon, “Ada apa dengan Appamu Joon?” Joon hanya menggelengkan kepalanya dan kemudian asyik lagi dengan alat-alat lukisnya.

 

~•~

 

Siwon membaringkan tubuhnya yang lelah, pikirannya kembali tertuju pada pertemuannya dengan yeoja sore tadi. “Tidak, ia bukan Hyena hanya mirip dan masih banyak perbedaan mereka.” Siwon mengusap wajahnya, “Hyena sudah tenang di alam sana Siwon, jangan berpikiran macam-macam lagi.” Siwon bergumam sendiri. Ia menghela napasnya lalu bangkit dan berjalan menuju kamar mandi membersihkan diri. Selang 30 menit kemudian Siwon sudah terlihat segar dengan kaos putih dan celana pendek bersiap turun menikmati makan malamnya.

 

Tuan dan nyonya Choi, Siwon dan Joon sedang menikmati makan malam mereka. Seperti biasa, acara makan malam mereka dipenuhi gelak tawa karena celoteh Joon. Ada-ada saja yang dia ceritakan, dari mulai guru barunya yang gemuk, hingga teman sekelasnya yang pacaran. Anak kelas dua sekolah dasar sudah mengenal pacaran? Membuat yang ada disana geleng-geleng kepala. “Jangan-jangan Joon juga sudah mempunyai yeojachingu lagi?” Goda tuan Choi pada cucunya itu.

 

“Ani, aku tak punya kok Haraboji. Tidak ada yeoja yang aku sukai di sekolah. Aku sudah punya tipe sendiri.” Jawab Joon polos dan sukses membuat kakek, nenek serta Siwon tercengang mendengarnya.

 

“Kenapa kalian memandangku seperti itu? Apa aku tidak boleh pacaran?”

 

“Yak! Tentu saja anak Appa belum boleh pacaran. Kau baru tujuh tahun Joon, nanti ya kalau sudah di sekolah menengah baru Appa ijinkan.” Joon merespon cemberut nasihat ayahnya.

 

“Tapi kalau aku bertemu dengan tipe idealku sekarang bagaimana Appa? Dan kalau nanti setelah besar aku tak menemukannya kan aku rugi Appa. Ah, aku tak mau. Kalau aku bertemu esok hari aku akan menjadikannya pacarku.”

 

“Mwo??” Siwon tak dapat berkata apa-apa lagi. Entah dari mana putranya ini dapat pikiran seperti itu. Mungkin karena pengaruh lingkungan sekolahnya. Siwon jadi berpikir untuk memindahkan Joon ke sekolah lain.

 

“Jangan berpikir untuk memindahkan sekolah Joon, Siwon. Disekolahnya sekarang itu sudah cukup bagus.” Tuan Choi bicara seperti tahu apa yang terpikir oleh putranya.

 

“Kenapa Appa bisa tahu.” Frustasi Siwon, “Tapi kalau begini hasilnya akan membuat otak putraku tercemar Appa.”

 

“Sudahlah Wonnie, biasa anak-anak punya pikiran seperti itu. Yang penting kita tak boleh lengah dalam mengawasinya.” Siwon akhirnya pasrah dan kembali menatap nanar putranya.

 

‘Apa yang akan terjadi nanti padamu Joon?’

 

~•~

 

Yoona berjalan lunglai melewati ruang keluarga. Seharian mondar-mandir melayani pengunjung butik membuat tubuhnya lelah dan meminta untuk diistirahatkan. Ia tak menyadari tiga pasang mata sedang menatapnya dengan ekspresi yang berbeda. Hampir saja Yoona terjatuh karena tiba-tiba mendengar suara berat yang menyapanya. Yoona menoleh dan mendapati orangtuanya dan kakaknya sedang menatapnya tajam.

 

“Appa, bisakah tak mengejutkanku? Appa bisa membuatku jantungan.” Yoona berdiri menopang tubuhnya di pegangan tangga rumahnya.

 

“Sejak kapan kamu bekerja dengan Yoojin Yoong?” Yoona menepuk keningnya, teringat kalau ia belum mengatakan pada ayahnya itu kalau ia bekerja di butik Yoojin dan ini pasti laporan dari bibinya, ibu Yoojin.

 

“Mianhae Appa, aku lupa. Kemarin aku terburu-buru pergi ke butik jadinya tak sempat mengatakannya pada Appa.” Yoona memasang tampang paling menyesal yang pernah ia miliki berharap Appanya tak mengintrogasinya lagi. Tapi sepertinya usahanya gagal.

 

“Jadi karena Appa mencabut semua fasilitas untukmu, makanya kamu bekerja?” Yoona mengangguk tapi tak tersirat penyesalan di wajahnya. “Jadi kamu benar-benar menolak untuk dijodohkan Yoona-ya?” Lagi, Yoona mengangguk yakin, “Aku sudah bilangkan Appa, aku masih muda, dan aku ingin mengembangkan karirku dulu.” Tuan Im menghela napasnya. “Baiklah terserah padamu, tapi Appa tetap tak mau menanggung biaya hidupmu.”

 

“Appa pelit! Ya sudah yang penting sekarang aku sudah bekerja, jadi Appa tak perlu lagi membiayai hidupku. Tapi Appa tak berniat mengusirku kan?” Tanya Yoona, takut-takut kalau ayahnya memang berencana melakukannya, kalau benar ia akan tinggal dimana? Masa dirumah Yoojin? Youngwoon, kakak Yoona beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Yoona. Ia menyentil kening dongsaengnya itu.

 

“Aw, appoyo. Oppa apa-apaan sih?”

 

“Kau yang apa-apaan kenapa malah menanyakan hal itu, bisa-bisa Appa akan benar-benar melakukannya.” Bisik Youngwoon. Belum sempat tuan Im mengeluarkan suara, Yoona sudah berlari kecil menaiki tangga karena ia pikir yang diperingatkan Youngwoon ada benarnya.

 

“Appa, Eomma dan Oppaku tercinta aku kekamar dulu…”

 

“Ckck dasar anak itu.”

 

“Sudah lah Yeobo biarkan dia mencari pengalaman kerja dulu.”

 

“Bukan itu masalahnya yeobo-ah. Ia terlalu dimanjakan makanya seperti itu, bersikap seenaknya, dan apa kau tak lihat cara dia berpakaian jauh dari kesan gadis anggun.”

 

“Tenang saja Appa, kalau nanti ia menemukan namja pujaannya aku yakin dia akan berubah. Tak mungkin kan ia memikat seorang namja dengan penampilan seperti itu.”

 

“Appa tak yakin…”

 

“Appa mau bertaruh?” Youngwoon menantang ayahnya, sepertinya dia benar-benar yakin dengan pendapatnya itu. “Oke, Appa terima tantanganmu.”

 

“Deal?”

 

“Deal!”

 

Pletak!!

 

“Yak! Appo, kenapa kau memukulku yeobo?” Tuan Im kaget tiba-tiba mendapat jitakan dari istrinya.

 

“Eomma, kenapa Eomma juga memukulku?” Keluh Youngwoon sambil mengelus-elus kepalanya.

 

“Kalian berdua seperti anak kecil saja. Kau juga Yeobo, kenapa mau saja ditantang putramu sendiri ah?”

 

“Memang tidak boleh?”

 

“Mwo??” Belum sempat nyonya Im mengomeli suaminya itu, tuan Im sudah lebih dulu ngacir ke ruang kerjanya. “Yak! Im Jihwan mau kemana kau!” Nyonya Im melangkah menyusul suaminya.

 

“Aisshh dasar orangtua kekanak-kanakan.” Youngwoon menggeleng-gelengkan kepalanya menyaksikan pertengkaran orangtuanya. Sudah biasa memang ia melihat bercekcokan kecil diantara orangtuanya, hanya masalah kecil dan ia yakin itulah yang membuat orangtuanya makin lengket dan masih harmonis sampai saat ini. Ia yakin, nanti ada saatnya ia menemukan seseorang yang seperti ibunya, membangun rumah tangga yang harmonis dengan sosok yang ia impikan itu.

 

~•~

 

Joon menghempaskan tubuhnya kesal. Ia menendang-nendang kaki meja sambil berdecak kesal mengingat kembali ejekan teman-temannya. Nyonya Choi yang melihatnya langsung menghampiri cucu kesayangannya itu.

 

“Waeyo Joon-ah??”

 

“Halmoni, tadi di sekolah aku di ejek.” Joon memasang tampang marahnya, “awas saja mereka, aku akan membuktikan bisa mendapatkan Noona yang sesuai dengan tipe idealku.” Nyonya Choi bingung dengan kalimat yang dilontarkan cucunya.

 

“Apa maksudmu Joon?”

 

“Haemoni, aku di ejek karena memiliki tipe yeoja ideal yang terlalu tinggi.”

 

“Mwo??”

 

“Nde, Halmoni kan tahu aku sudah bertekad menemukannya dan aku tak ingin menunggu lagi. Ayo Haelmoni kita cari noona-noona yang cantik, ya Haelmoni. Please…” Nyonya Choi melongo mendengar permintaan Joon. Bagaimana mungkin bocah seperti ini mengajaknya mencari seorang yeoja?? Apa dunia ini sudah hampir berakhir?

 

“Joon…” Sebelum melanjutkan kata-katanya, Joon keburu menyela, “Aku tahu bukan sekarang waktunya, tapi Haelmoni tidak bisakah kita berjalan-jalan sore ini? Aku merasa bosan dirumah.” Ada-ada saja anak ini, bisa-bisanya mengalihkan pembicaraan. Nyonya Choi menghela napas, “Joon mau kemana?”

 

“Kita jalan-jalan ya Haelmoni, aku ingin cuci mata. Kalau Haelmoni ingin belanja, aku akan dengan senang hati menunggui. Ya ya, haelmoni.”

 

Nyonya Choi seperti biasa tak pernah bisa menolak permintaan Joon, toh ia juga bisa sekalian berbelanja mungkin. Sudah lama rasanya ia tidak berbelanja. Walau hanya ditemani Joon, ia rasa itu bukan ide yang buruk.

 

“Oke, tapi Joon harus menelepon Appa dulu ya lalu ganti pakaian dan makan dulu.”

 

“Haelmoni kita makan diluar saja ya?”

 

“Oke-oke baiklah tapi minta ijin Appamu dulu.” Senyum Joon merekah, “Siap Bos.” Joon teringat sudah lama ia tak melihat-lihat noona-noona cantik yang biasa shopping di pusat perbelanjaan, terakhir dengan ayahnya dan ia merasa bosan kala itu karena ayahnya ternyata juga mengajak teman kantornya. Sehingga tak ada kebebasan untuknya melihat ataupun sekedar menyapa noona-noona yang dianggapnya menarik perhatiannya.

 

~•~

 

Yoona berjalan menyusuri toko-toko yang berjejer disepanjang jalannya menuju butik Yoojin. “Apa yang ia banggakan? Menuduhku yang tidak-tidak. Disekolah dulu saja ia selalu meminta bantuanku dan sekarang ia berani menuduhku mencuri idenya dan mengeluarkan rancangan terbaru itu sebelum dirinya? Dasar kau Chaewon.” Yoona menggerutu sepanjang jalannya. Ia baru saja mengunjungi toko pakaian milik temannya, ani sekarang musuhnya karena mantan temannya itu berani-beraninya menuduh Yoona menyiplak rancangan terbaru miliknya. “Tenang Yoona, ia tak mungkin melaporkanmu, jelas-jelas itu rancanganmu, dan ia juga tak punya bukti kalau itu rancangannya.” Yoona sedikit khawatir sebenarnya dengan ancaman Chaewon padanya tadi, tapi ia yakin Chaewon tak akan berani. Yang ada ia yang akan dilaporkan Yoona.

 

Yoona membuang pikiran buruknya jauh-jauh dan kembali fokus pada langkahnya. Ia melihat kebawah dan baru sadar ternyata tali sepatunya terlepas, Yoona berjongkok dan membenarkannya dan saat ia akan berdiri ia merasakan seseorang menepuk bahunya.

 

“Nde?” Yoona menoleh mendapati seorang bocah menatapnya dengan tatapan yang… Aneh menurut Yoona.

 

“Noona, aku tersesat apa aku boleh ikut denganmu?”

 

“Nde?” Yoona kebingungan, dan perlahan membalikkan tubuhnya dan menyamai tingginya dengan bocah tersebut. “Kau dengan siapa tadi kesini?” Yoona bertanya dengan nada lembut.

 

“Dengan Haemoni, tapi aku tak menemukannya dimanapun.”

 

“Siapa nama Haemonimu sayang?” Bocah tersebut berkaca-kaca mendengar kata-kata lembut Yoona. “Lee kanghee.” Jawabnya bergetar.

 

“Dan namamu siapa?”

 

“Aku Choi Hanjoon”

 

~•~

 

Ditempat lain seorang wanita paruh baya berjalan panik mencari-cari sosok yang sedari tadi menemaninya. Saat ia sedang asyik melihat-lihat pakaian untuk suaminya, cucunya Joon telah menghilang dari pandangannya. Nyonya Choi, wanita paruh baya itu berlari ke arah Siwon yang baru turun dari mobilnya.

 

“Bagaimana Eomma? Apa Joon sudah ketemu?” Nyonya Choi menggeleng, airmatanya perlahan keluar, “ini salah Eomma, tak seharusnya Eomma menuruti keinginannya. Eomma tadi menyuruhnya menunggu di sofa toko pakaian itu, tapi saat Eomma kembali ia sudah tidak ada.” Cerita nyonya Choi histeris.

 

“Sudah Eomma, kita pasti bisa menemukannya. Joon anak yang pintar.” Siwon berusaha menenangkan ibunya, sebenarnya ia juga merasa khawatir yang luar biasa. Ini pertama kalinya Joon pergi tanpa mengatakan apapun, biasanya anak itu selalu mengatakan kemana ia pergi atau setidaknya minja ijin kepada orang yang pergi bersamanya kalau ia ingin pergi kesuatu tempat. ‘Apa ia diculik?’ Terbersit pikiran buruk dari otak Siwon, tapi ia langsung menyangkalnya, ini kawasan aman berbelanja lagian Joon ada didalam toko sebelumnya. Mungkin ia masih disekitar sini. Siwon akan mencari Joon sampai ketemu, putranya harus ditemukan.

 

 

>>> To Be Countinued

 

 

Hai hai hai… Kembali dengan cerita baru. Belum tau ini mau berapa chapter bisa aja cuma 3S atau lebih sesuai permintaan(?) dan ide kayaknya hehehe…

Makasih atas respon positif untuk semua tulisan-tulisanku sebelumnya, komentar kalian semua sangat berharga…

 

Moment YW emang belum ada, sabar ya next part pasti bakalan ada. Kalau ada yang nanya kenapa aku sering memakai nama Joon untuk tokoh anak-anak, itu karena aku suka cara melafal kan nama itu dan mungkin juga ini efek Love Rain yang karakter Joon-nya diperankan Geunsuk. Suka banget karakter Yoona di sana walau aku Nited tapi Yoona cocok kok ma Geunsuk-Oppa *hanya dalam drama jadi jangan marah dulu Nited kkk~

 

Dan untuk ff ini aku mengharapkan komentar dan likenya bagi yang baca. Kritik dan saran sangat dibutuhkan. Jgn lupa follow jg twitterku @uchie90 *promosi -_- …. Aq line 90 jadi Jangan lagi dipanggil author ya… Tungguin chapter berikutnya ya, kalau molor harap maklum okeee… Annyeong #lambai2 tangan

 

To Resty dan New Admin Echa ( yeay!! akhirnya jadi admin tetap^^ ) thanks u so much, gak tau nih yang post siapa, jadi dua-duanya aja yaaa… Love u dongsaeng #bighug kiss^^ (sama2 :) #hugback)

About these ads
Tinggalkan komentar

158 Komentar

  1. Lanjutannya gmna yh? Penasarn

    Balas
  2. ika indra

     /  Juni 24, 2014

    Ceritanya menarik :)

    Balas
  3. sahla1234

     /  Juli 9, 2014

    Wah siwon jadi duren ya haha
    Yoon panggilnya ahjusii ;D
    Daebak thor

    Balas
  4. Cerita nya menarik eonni , gak ngebosenin bru suka bgt ma karekter yoona d’sni ..
    Lnjut baca part berikut nya ya eonni

    Balas
  5. JuHyunLova

     /  Agustus 20, 2014

    Itu si joon kecil2 tp genit jg
    next eonni

    Balas
  6. Any

     /  Agustus 21, 2014

    Siwon jadi Duren???hohohoho mau2 aja aku tetep. Ide ceritanya unik. Joon lucuuu…

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: